• Tidak ada hasil yang ditemukan

H. Menunjukkan Keheranan

I. Membuat Penasaran

Selain tujuan-tujuan di atas, pelanggaran-pelanggaran terhadap maksim prinsip kerja sama digunakan untuk membuat mitra tutur penasaran. Penasaran adalah ketika seseorang sangat ingin hendak mengetahui sesuatu (KBBI, 2007:

848). Penutur seharusnya memberikan informasi yang jelas kepada mitra tutur.

Akan tetapi karena hal-hal tertentu, penutur justru dengan sengaja menanggapi mitra tutur dengan tuturan yang memunculkan rasa penasaran. Peneliti menemukan empat (4) data yang menunjukkan bahwa pelanggaran maksim dilakukan untuk tujuan tersebut. Salah satu contohnya adalah berikut:

commit to user (57) NDHM/2/60/80/KT

Ma>ru>t : Kaifa ‘arafta?

Ha>ru>t : Min tajribati>‘s-sa>’ah.

Ma>ru>t : Ma’a tilkal-qahri Manat al-khasyinah?

Ha>ru>t : Wama’a ghairiha.

Ma>ru>t : Ghairuha? Auaqad ‘arafta achadan ghairaha?

Ha>ru>t : (Tahannada fi> ightiba>th) Fi> sinnil-cha>diyati wal-‘isyri>n.

Ma>ru>t : “Bagaimana kau bisa tahu?”

Ha>ru>t : “Dari pengalamanku sebelumnya.”

Ma>ru>t : “Bersama Manat si wanita rusak itu?”

Ha>ru>t : “Bersama yang lain juga.”

Ma>ru>t : “Yang lain? Apa kau benar-benar kenal wanita selain dia?”

Ha>ru>t : (Berkata dengan gembira) “Usianya 21 tahun.”

Pada percakapan di atas, Ha>ru>t sedang menasehati Ma>ru>t perihal penampilan yang disukai wanita-wanita Babilonia. Ma>ru>t merasa heran kenapa Ha>ru>t bisa tahu begitu banyak tentang wanita sementara dia tidak tahu apa-apa.

Dia mengira Ha>ru>t tahu hal-hal seperti itu dari Manat, wanita perusak yang dibenci Ma>ru>t. Namun, ternyata dia tahu dari wanita selain Manat juga. Ma>ru>t semakin heran kemudian bertanya apakah Ha>ru>t benar-benar mengenal wanita lain selain Manat. Melihat Ma>ru>t heran akan hal itu, Ha>ru>t sengaja mengatakan

“fi> sinnil-cha>diyati wal-‘isyri>n” „Usianya 21 tahun.‟ Di dalam tuturan Ha>ru>t memang terkandung jawaban bahwa dia memang mengenal wanita selain Manat.

Namun, Ha>ru>t memberikan informasi lebih dari yang dibutuhkan Ma>ru>t. Pada Tahapan itu, Ma>ru>t belum membutuhkan informasi tentang usia wanita yang dikenal Ha>ru>t. Tujuan Ha>ru>t melakukan pelanggaran itu adalah membuat Ma>ru>t

commit to user

penasaran. Selama ini Ma>ru>t tidak tertarik pada Manat karena usianya tua dan dia adalah wanit penggoda. Ha>ru>t sengaja hanya memberikan informasi usia karena dia mengetahui latar belakang Ma>ru>t yang sangat menginginkan wanita muda.

Sebenarnya dia dapat memberikan informasi tentang nama, wajah, tubuh, dan lain-lain tetapi lebih memilih memberikan keterangan usia wanita tersebut untuk lebih membuat Ma>ru>t tertarik dan penasaran. Selain itu, Ha>ru>t menuturkannya dengan ekspresi senang yang ditunjukkan dalam kramagung “tahannada fi>

ightiba>th” „berkata dengan gembira‟ sehingga berharap Ma>ru>t akan memberikan penilaian yang bagus terhadap wanita itu. Jika menuturkannya dengan ekspresi biasa, maka Ma>ru>t akan berpikir bahwa wanita yang dikenal Ha>ru>t bukan seseorang yang istimewa.

(58) NDHM/1/39/63/PL

Ellat : (Tanzhuru ila>l-qahri Mana>t) Khabbiri>ni> ya Mana>t wa ashdiqi>ni>:

Hal laki bi Ba’l yauji> ma’rifah?

Ma>nat : Ya lahu min sua>lin muchrijin.

Ellat : (Memandang Manat dengan sedih) “Manat, beritahu aku dengan jujur, apakah kau juga pernah menggoda Ba‟l?”

Manat : “Ini adalah pertanyaan yang sulit.”

Penggalan dialog di atas menunjukkan adanya pelanggaran terhadap maksim pelaksanaan yang bertujuan untuk membuat mitra tutur penasaran. Hal itu ditunjukan dalam tuturan Manat ketika berbincang dengan Ratu Ellat. Ellat tahu bahwa Manat adalah seorang wanita penggoda yang sangat ahli menaklukan pria di Babilonia. Ellat bertanya pada Manat apakah dia juga pernah menggoda Ba‟l.

Ellat ingin tahu apakah suaminya juga pernah terjerat rayuan Manat. Mendapat pertanyaan seperti itu, Manat menjawab singkat “Ya lahu min sua>lin muchrijin.”

commit to user

„Ini adalah pertanyaan yang sulit.‟ Tuturan Manat ini melanggar maksim pelaksanaan karena maknanya kabur dan membingungkan. Dia tidak menjawab pertanyaan Ellat secara langsung karena ingin membuatnya semakin penasaran dengan kenyataan yang sebenarnya. Jika Manat menjawab secara langsung dengan „ya, pernah‟ atau „tidak, tidak pernah‟, maka itu akan langsung memberikan kejelaasn informasi bagi Ellat. Artinya, pelanggaran maksim tersebut sengaja dilakukan Manat agar Ellat tidak mendapat kejelasan informasi sehingga rasa penasarannya semakin besar.

J. Memengaruhi

Tujuan lain seorang penutur melanggar maksim prinsip kerja sama adalah memengaruhi mitra tutur. Tuturan yang sesuai dengan maksim biasanya hanya sekedar tuturan untuk saling menyampaikan pesan dan informasi secukupnya.

Namun, dengan melakukan pelanggaran, penutur dapat mencoba untuk memengaruhi mitra tuturnya. Memengaruhi bisa diartikan sebagai kegiatan untuk membentuk atau merubah pemikiran, kepercayaan, atau perbuatan seseorang atas suatu hal (KBBI, 2007: 849).

Pelanggaran yang paling banyak digunakan untuk memengaruhi mitra tutur adalah pelanggaran terhadap maksim kuantitas karena keefektifannya. Hal ini tidak terlepas dari informasi yang sengaja diberikan lebih banyak dari apa yang dibutuhkan mitra tutur. Peneliti menemukan lima (5) data yang menunjukkan pelanggaran dengan tujuan tersebut. Salah satunya adalah berikut ini:

(59) NDHM/1/10/14/KT

commit to user Ellat : ‘Ala ayyihim waqa’a‘khtiyariki?

Manat : ‘Alaihim jami>’an ya Maulati>.

Ellat : Alaisa yakfi> qa>dhun wa>chidun?

Manat : La> ya> Maulati>, innal-chayyal-jadi>da qad ittasa’at athrafahu wa tudha>’ifu sukka>nuhu. Wa qad ka>na wa>lidukil-marchumu yanwi> an yazi>da fi> ‘adadin qadha>tihi lau lam yu’a>jilhul-qadha>’ulmachtu>m.

Unzhuri> Ya Maulati>, innahum ajmalu min ba’dh.

Ellat : “Mana yang kau pilih?”

Manat : “Ketiganya Yang Mulia.”

Ellat : “Bukankah satu hakim sudah cukup?”

Manat : “Tidak Yang Mulia, kerajaan kita semakin luas dan penduduknya semakin banyak. Sebenarnya almarhum ayah Ratu telah berniat menambah jumlah hakim jika kematian tidak menjemputnya.

Lihatlah Paduka, mereka adalah orang-orang paling tampan.”

Dialog di atas terjadi antara Manat dan Ratu Ellat. Manat telah menemukan calon hakim baru kerajaan Babilonia. Dia telah menyeleksi lebih dari 150 orang kemudian memutuskan menunjuk tiga orang yaitu Ha>ru>t, Ma>ru>t dan Uzrayail menjadi hakim. Namun, pemilihan hakim itu harus atas persetujuan Ratu Ellat.

Ratu Ellat heran kenapa Manat memilih tiga orang sekaligus sebagai hakim. Dia masih meragukan apakah memang kerajaan membutuhkan hakim sebanyak itu sehingga dia bertanya pada Manat, “Alaisa yakfi> qa>dhun wa>chidun?” „Bukankah satu hakim sudah cukup?‟ Manat menjawab “La> ya> Maulati>, innal-chayyal-jadi>da qad ittasa’at athrafahu wa tudha>’ifu sukka>nuhu. Wa qad ka>na wa>lidukil-marchumu yanwi> an yazi>da fi> ‘adadin qadha>tihi lau lam yu’a>jilhul-qadha>’ulmachtu>m” „Tidak Yang Mulia, kerajaan kita semakin luas dan penduduknya semakin banyak. Sebenarnya almarhum ayah Ratu telah berniat menambah jumlah hakim jika kematian tidak menjemputnya.‟ Manat menjelaskan bahwa tiga hakim sangat dibutuhkan dengan alasan-alasan yang logis. Hal ini

commit to user

sudah memenuhi kadar informasi yang dibutuhkan mitar tutur (Ellat). Namun, di bagian akhir dia menambahkan kalimat “Unzhuri> ya> Maulati>, innahum ajmalu min ba’dh” „lihatlah Paduka, mereka adalah orang-orang paling tampan.‟ Hal ini menyebabkan terjadinya pelanggaran terhadap maksim kuantitas. Manat sengaja menambahkan kalimat yang sebenarnya belum dibutuhkan Ratu Ellat dengan tujuan untuk mempengaruhinya. Manat menggunakan alasan yang sekiranya akan disukai oleh Ratu Ellat yaitu ketampanan tiga pria itu. Meskipun ketampanan tidak memiliki hubungan dengan kelayakan seseorang menjadi hakim apalagi tiga orang sekaligus, tetapi Manat tahu bahwa Ratu Ellat juga orang yang mengagumi ketampanan. Selain itu, permintaannya dalam kalimat “Unzhuri> ya> Maulati”

„lihatlah Paduka” digunakan oleh Manat agar Ratu Ellat benar-benar mau memperhatikan ketampanan mereka secara seksama sehingga pikirannya akan terpengaruh hal tersebut.

Contoh lain pelanggaran maksim dengan tujuan memengaruhi adalah berikut ini:

(60) NDHM/2/47/74/KL

Ma>ru>t : Ala> takhsya‘l-La>ha ya> Ha>ru>t?

Ha>ru>t : Madza> tanfa’una> khasyatul-an ba’da ma> tawassathna>

lujjatal-‘ishya>n?

Ma>ru>t : “Wahai Ha>ru>t, apa kamu tidak takut pada Allah?”

Ha>ru>t : “Apa gunanya ketakutan sekarang setelah kita memasuki lautan maksiat?”

Ma>ru>t bertanya pada Ha>ru>t “Ala> takhsya‘l-Laha ya> Ha>ru>t?” „Apa kamu tidak takut pada Allah?‟ Dia masih ragu apakah harus melanjutkan kemaksiatan-kemaksiatan. Namun, di sisi lain dia sangat ingin merasakan kenikmatan nafsu

commit to user

dunia. Mendengar pertanyaan tersebut, Ha>ru>t menjawab, “Madza> tanfa’una>

khasyatul-an ba’da ma> tawassathna> lujjatal-‘ishya>n?” „Apa gunanya ketakutan sekarang setelah kita memasuki lautan maksiat?” Tuturan Ha>ru>t melanggar maksim kualitas karena salah dan tidak disertai bukti memadai. Mereka berdua adalah malaikat yang dalam Al-Qur‟an dikatakan “Yakha>fu>na Rabbahum min fauqihim wa yaf’alu>na ma> yu`maru>n” „Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka‟ (QS.

An-Nahl 16: 50). Jadi, tuturan Ha>ru>t tentang ketakutan pada Allah sudah tidak diperlukan saat itu adalah suatu kesalahan. Dia mengatakan hal tersebut karena ingin mencoba memengaruhi pikiran Ma>ru>t. Penggunaan kalimat “madza tanfa’una>” „apa gunanya bagi kita‟ menunjukkan bahwa pemikiran Ma>ru>t tidak perlu digunakan lagi karena tidak bermanfaat bagi tujuan mereka saat ini. Selain itu, Ha>ru>t menjawab pertanyaan Ma>ru>t dengan sebuat tuturan berbentuk kalimat interogatif. Hal ini menunjukkan bahwa isi pertanyaan Ma>ru>t sudah tidak perlu dipedulikan lagi. Dengan kalimat tersebut, Ha>ru>t berharap Ma>ru>t menghilangkan keraguannya dan terpengaruh untuk mendapatkan kenikmatan dunia.

K. Mengejek

Salah satu tujuan dilakukannya pelanggaran terhadap maksim-maksim prinsip kerja sama adalah mengejek mitra tutur. Dalam naskah drama ini ditemukan lima (5) data pelanggaran maksim untuk tujuan ini. Salah satu contohnya adalah sebagai berikut:

(61) NDHM/1/22/40/KT

commit to user

Ba’l : Kalla, nachnu la> nakhdhu’u liachadin. Inna qaumi> ya’tsuru>nal-mauta ‘ala> chaya>ti‘dz-dzilli wa‘l-isti’ba>di.

Manat : (Fi> sakhriyah) Ya sayyidil-ami>r, ayyu chaya>tin tilka’l-lati>

yachya>ha> qaumuk?

Ba’l : Al-ladzi> chabbaba tilkal-chaya>ta ila> nufu>sihim. Inna mitslaki ya>

Manat la> tastathi>’i>nal-‘aisyu bainahum.

Ba‟l : “Tidak akan. Kami tidak tunduk pada siapapun. Kaumku lebih memilih mati daripada hidup terhina dan terjajah.”

Manat : (Menghina) “Yang Mulia Raja, kehidupan seperti apa yang diinginkan kaum Paduka?”

Ba‟l : “Kehidupan yang menumbuhkan cinta bagi penduduknya.

Sesungguhnya wanita sepertimu tidak akan bisa hidup di antara rakyatku.”

Percakapan di atas terjadi antara Ba‟l dan Manat. Mereka berdebat tentang kehidupan yang paling mulia di dunia ini. Menurut Ba‟l, hidup dalam penjajahan dan kehinaan adalah hal paling buruk di dunia ini. Mendengar hal tersebut, Manat mengejek Ba‟l dan menanyakan kehidupan seperti apa yang diinginkan olehnya.

Ba‟l menjawab “Al-ladzi> chabbaba tilkal-chaya>ta ila> nufu>sihim” „(kehidupan) yang menumbuhkan cinta bagi penduduknya.‟ Jawaban Ba‟l tersebut sudah mencukupi kadar informasi yang dibutuhkan Manat. Namun, Ba‟l melanjutkan jawabannya sehingga melanggar maksim kuantitas karena memberikan informasi lebih banyak dari yang dibutuhkan mitra tuturnya (Manat). Hal ini ditunjukkan pada kalimat “Inna mitslaki ya> Manat la> tastathi>’i>nal-‘aisyu bainahum”

„Sesungguhnya wanita sepertimu tidak akan bisa hidup di antara rakyatku.‟ Dia sengaja melakukannya dengan tujuan untuk mengejek Manat. Ejekan Ba‟l ditunjukkan dengan penggunaan kata “la> tastathi>’i>na” „kamu tidak bisa‟ pada tuturannya. Dia menganggap Manat tidak memiliki kemampuan untuk melakukan suatu hal yang baik. Kata tersebut menunjukkan bahwa Ba‟l sedang meremehkan Manat. Menurut Ba‟l, Manat adalah wanita rusak yang tidak memiliki rasa cinta

commit to user

sehingga dia tidak akan mampu bertahan hidup dalam dunia yang dipenuhi cinta kasih. Pemikiran Ba‟l ini tidak terlepas dari latar belakang Manat yang merupakan wanita penggoda para pria Babilonia. Selain itu dia juga merusak kepribadian istri Ba‟l, Ratu Ellat, dengan berbagai pemikiran yang hanya mementingkan nafsu dan syahwat.

Contoh lain yang menunjukkan pelanggaran maksim dilakukan untuk mengejek terdapat dalam dialog berikut:

(62) NDHM/2/45/71/KT

Ma>ru>t : La> tataja>hal ma> fa’alta!

Ha>ru>t : Wa jala>li Rabbil-‘Izzah ma> ka>na minni> syai`un ma> taqu>l.

Walau sami’aka achadun min bani> Adam taqu>lu hadza>

ladhachika minka wa sakhara.

Ma>ru>t : “Jangan pura-pura tidak tahu apa yang telah kau lakukan!”

Ha>ru>t : “Demi Rabbil „Izzah, aku tidak melakukan apapun yang kamu sebutkan tadi. Jika ada seorang manusia yang mendengar perkataanmu tadi pasti dia akan sangat menertawakan dan mengejekmu.”

Ma>ru>t sedang marah karena dia pikir Ha>ru>t merebut Tamara darinya. Dia semakin kesal karena Ha>ru>t seolah tidak paham dengan apa yang dibicarakannya.

Ha>ru>t menanggapi kemarahan Ma>ru>t dengan cara melanggar maksim kuantitas.

Hal itu ditunjukkan pada kalimat “Walau sami’aka achadun min bani> Adam taqu>lu hadza> ladhachika minka wa sakhara” „Jika ada seorang manusia yang mendengar perkataanmu tadi pasti dia akan sangat menertawakan dan mengejekmu.‟ Pelanggaran tersebut dia lakukan untuk mengejek Ma>ru>t karena dia tidak paham bahwa apa yang dialaminya adalah mimpi bukan kenyataan. Saat itu yang mendengarkan cerita Ma>ru>t hanyalah Ha>ru>t sendiri sehingga hanya dia yang

commit to user

tertawa dan mengejeknya. Ha>ru>t memberikan gambaran pada Ma>ru>t, jika ada seorang manusia yang mendengar ceritanya, maka dapat dipastikan dia akan menertawakan dan mengejeknya. Ha>ru>t ingin menunjukkan bahwa pemikiran Ma>ru>t yang tidak bisa membedakan mimpi dan kenyataan adalah suatu kekonyolan sehingga dia mengejeknya.

L. Pengandaian

Beberapa pelanggaran terhadap maksim prinsip kerja sama dalam drama ini memiliki tujuan untuk pengandaian. Para penutur sengaja melanggar maksim untuk mengharapkan suatu peristiwa bisa terjadi. Dalam kasus ini peneliti menemukan empat (4) data. Salah satu contohnya adalah berikut:

(63) NDHM/1/41/67/KT

.

Ellat : Kalla lan aslamaha> lahu, wa illa‘sytadda ghadhabahu idza> ‘alima annana> nusriqu rasa>`ilahu.

Manat : La> ya’ni>ki ya Maulati> illa> ghadhabahu?

Ellat : Ma>dza> ashna’u ya> Manat? Inni> uchibbuhu. Laitani> ajidu sa>chiran yakhlushuni> min chubbihi!

Ellat : “Aku tidak akan menyerahkannya. Dia pasti akan sangat marah jika tahu kita mencuri surat-suratnya.”

Manat : “Tidak adakah yang Paduka takutkan selain kemarahannya?”

Ellat : “Apa yang harus aku lakukan Manat? Aku sangat mencintainya.

Seandainya aku bisa menemukan penyihir yang bisa membersihkanku dari cintanya!”

Pada penggalan dialog di atas, terdapat pelanggaran terhadap maksim kuantitas yang dilakukan oleh Ratu Ellat. Dia merasa sedih karena cintanya pada suaminya, Ba‟l, terlalu dalam sehingga susah untuk dihilangkan begitu saja. Dia ingin membuang rasa cinta itu ketika mengetahui bahwa Ba‟l dan ayahnya sering

commit to user

berbalas surat untuk membahas pemberontakan terhadap Babilonia. Ellat sangat kecewa dan tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, di balik kekecewaan tersebut, dia juga takut Ba‟l akan marah jika dia tahu surat untuknya dibuka oleh orang lain.

Manat heran kenapa Ratu Ellat masih tetap takut dimarahi oleh Ba‟l padahal dia tahu apa yang telah dilakukan ayah suaminya. Manat bertanya, “La> ya’ni>ki ya Maulati> illa> ghadhbahu!” „Tidak adakah yang Paduka takutkan selain kemarahannya?‟ Pertanyaan Manat ditanggapi dengan kebingungan oleh Ratu Ellat. Dia mengatakan “Ma>dza> ashna’ ya> Manat? Inni> uchibbuhu.” „Apa yang harus aku lakukan Manat? Aku sangat mencintainya.‟ Kalimat tersebut sudah cukup memberikan penjelasan tentang informasi yang dibutuhkan Manat. Alasan ketekutan Ellat pada Ba‟l adalah rasa cintanya yang sudah terlalu dalam. Namun, setelah itu Ratu Ellat menambahkan kalimat “Laitani> ajidu sa>chiran yakhlushuni>

min chubbihi!” „Seandainya aku bisa menemukan penyihir yang bisa membersihkanku dari cintanya!‟ Kalimat inilah yang menunjukkan terjadinya pelanggaran terhadap maksim kuantitas karena informasi tersebut belum dibutuhkan oleh mitra tuturnya (Manat) pada tahap tersebut. Pada kalimat tersebut, Ellat menggunakan partikel “laitani>” „seandainya aku‟. Artinya, Ellat sengaja melanggar maksim kuantitas untuk berandai-andai dapat menemukan seseorang yang bisa membantunya menghilangkan rasa cinta pada suaminya.

Partikel “laita” dalam bahasa Arab digunakan untuk tamanni yaitu pengharapan yang kemungkinan berhasilnya kecil atau hampir mustahil (Majma‟ Al-Lughah, 2004: 849).

Pelanggaran dengan tujuan pengandaian juga terdapat dalam data berikut:

commit to user (64) NDHM/1/15/24/KL

Ba’l : Innama> radhi>tul-maqa>ma fi> Ba>bil min ajliki anti. Walau syi’tu lichamiltuki ila> diya>ri qaumi>.

Manat : Ya> laitaka kuntu fa’altu, idzan la’isytu sa’i>datan ma’aka fi>l-ba>di’ah.

Ba‟l : “Aku rela berada di Babilonia demi engkau, meskipun aku dulu ingin membawamu hidup bersama kaumku.”

Manat : “Seandainya dulu aku melakukannya, pasti aku hidup bahagia bersamamu di tempatmu.”

Percakapan di atas terjadi antara Ba‟l dan Ellat. Ba‟l mengatakan, “Innama>

radhi>tul-maqa>ma fi> Ba>bil min ajliki anti. Walau syi’tu lichamiltuki ila> diya>ri qaumi>” „Aku rela berada di Babilonia demi engkau, meskipun aku dulu ingin membawamu hidup bersama kaumku.‟ Hal ini menunjukkan bahwa dia berkorban dan mengalah untuk tinggal di Babilonia demi Ellat. Ellat merespon pernyataan Ba‟l dengan mengatakan “Ya> laitaka kuntu fa’altu, idzan la’isytu sa’i>datan ma’aka fi>’l-ba>di’ah.” „Seandainya dulu aku melakukannya, pasti aku hidup bahagia bersamamu di tempatmu.‟ Tuturan tersebut melanggar maksim kualitas karena tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Tempat yang dipilih untuk tinggal tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Tujuan pengandaian tersebut untuk pengandaian. Hal ini diperjelas dengan penggunaan partikel “laita” „seandainya‟

dalam tuturannya. Meskipun bermakna mustahil, partikel “laita” digunakan untuk pengandaian dalam bahasa Arab (Majma‟ Al-Lughah, 2004: 849).

M. Membuktikan

Salah satu tujuan penutur melakukan pelanggaran terhadap maksim dalam prinsip kerja sama yaitu membuktikan suatu hal tertentu pada mitra tutur. Tujuan ini ditemukan dalam dua (2) data. Salah satu contohnya adalah sebagai berikut:

commit to user (65) NDHM/2/72/93/KT

:

(Taghraqu Tamara fi> fikrin ‘ami>q)

Tamara : Kalla la> ushaddiquka chatta> ara> mishda>qa dzalika bi’aini> ra’si>.

Arini> kaifa tash’udu ila>‘s-sama>`i.

Ma>ru>t : Ila> ayyi kaukabin turi>di>na?

Ma>ru>t : Ila> ayyi kaukabin turi>di>na?

Dokumen terkait