commit to user 71
BAB III
TUJUAN PELANGGARAN MAKSIM PRINSIP KERJA SAMA DALAM NASKAH DRAMA HA>RU>T WA MA>RU>T
KARYA ALI ACHMAD BA>KATSI>R
Pelanggaran dengan cara mencemooh/mempermainkan maksim (flouting maxim) adalah suatu bentuk pelanggaran terhadap prinsip kerja sama yang
disengaja sehingga memiliki maksud dan tujuan. Seorang penutur tidak akan melanggar maksim tanpa disertai suatu alasan. Pelanggaran terhadap maksim dilakukan dengan tujuan untuk menyampaikan makna tertentu kepada mitra tutur.
Jika pelanggaran tidak dilakukan, maka informasi yang disampaikan penutur akan memiliki makna yang berbeda.
Para tokoh dalam naskah drama Ha>ru>t wa Ma>ru>t melakukan seratus lima belas (115) pelanggaran maksim. Pelanggaran maksim tersebut dipengaruhi oleh konteks yang meliputi suatu percakapan. Setiap pelanggaran terhadap maksim mempunyai tujuan. Tujuan pelanggaran maksim yang ditemukan dalam naskah drama ini antara lain untuk menentang/menyanggah, menunjukkan kemarahan, memperjelas informasi, menyarankan, mengelabui, menggoda, menunjukkan kekhawatiran, menunjukkan keheranan, membuat penasaran, mempengaruhi, mengejek, pengandaian, membuktikan, mengajak, memperingatkan, mengancam, memerintah, dan bergurau.
A. Menentang/Menyanggah
Pelanggaran terhadap maksim-maksim prinsip kerjasama dilakukan untuk menentang atau menyanggah pernyataan mitra tutur. Dalam naskah drama Ha>ru>t wa Ma>ru>t terdapat delapan belas (18) data yang menunjukkan para tokoh sengaja
commit to user
melanggar maksim untuk tujuan tersebut. Lima (5) sampel data dipaparkan untuk mewakili data lain.
(29) NDHM/2/46/73/KL
Ha>ru>t : Idza> chabasaha> maradhun au ....
Ma>ru>t : La> samacha’l-La>h. Ala> yajidu ‘Azza wa Jalla imraatan ukhra>
yushi>buha> bil-maradhil-yauma ghaira sha>chibatina> Tamara?
Ha>ru>t : “Jika dia sakit atau ....”
Ma>ru>t : “Allah tidak boleh membuatnya sakit. Apakah tidak ada wanita lain selain teman kita, Tamara, untuk ditimpakan sakit?”
Pada penggalan dialog di atas, percakapan terjadi antara Ha>ru>t dan Ma>ru>t.
Mereka sedang gelisah karena teman kencan mereka, Tamara, tidak kunjung datang. Ha>ru>t mengira Tamara mungkin tidak datang karena alasan tertentu. Dia berkata, “Idza> chabasaha> maradhun au” „Jika dia sakit atau‟ Namun, sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, Ma>ru>t menyela “La> samacha’l-La>h. Ala> yajidu
‘Azza wa Jalla imraatan ukhra> yushi>buha> bil-maradhil-yauma ghaira sha>chibatina>
Tamara?” „Tidak, Allah tidak boleh membuatnya sakit. Apakah tidak ada wanita lain selain Tamara untuk ditimpakan sakit pada mereka?‟ Tuturan Ma>ru>t mengingkari firman Tuhannya dalam Al-Qur‟an surat At-Tagha>bun ayat 11: “Ma>
asha>ba min mushi>batin illa> biidzni’l-La>hi” „Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah‟. Ayat ini menunjukkan bahwa jika Allah hendak menimpakan musibah pada seseorang, maka tidak ada seorangpun yang bisa melarangnya termasuk Ma>ru>t. Adapun tuturan Ma>ru>t di atas hanya berupa asumsi yang tidak masuk akal karena menolak kebenaran dari Tuhannya sehingga dianggap melanggar maksim kualitas. Tujuan Ma>ru>t melakukan pelanggaran maksim kualitas untuk menentang perkataan Ha>ru>t.
commit to user
Pertentangan itu ditunjukkan dengan menggunakan partikel “la>” „tidak‟. Partikel
“la>” dalam kalimat tersebut bertemu dengan “fi’l ma>dhi” „verba lampau‟
“samacha” „memberi‟ sehingga maknanya adalah “an taku>na nafiyatan” „untuk menafikan‟ (Majma‟ Al-Lughah, 2004: 810). Ma>ru>t menggunakan partikel “la>”
untuk melarang Allah memberikan sakit pada Tamara. Tuturan tersebut digunakan untuk menolak atau menentang pernyataan Ha>ru>t “idza chabasaha> maradhun”
„jika dia sakit‟.
(30) NDHM/1/21/37/KL
Hermes : Waila Ba>bil min biladin ya’budu fi>hal-jama>la min du>ni’l-Lah.
Wa ta’budu fi>ha‘sy-syahwah min du>ni’l-Lah, wa ta’budu fi>hal- ashna>m min du>ni’l-Lah
Ellat : Likay ta’dzira>ni> anta wa Ba’l.
Hermes : Kalla, hadza la> yu’affi>ki ya I>la>t mina‘t-tabi’ah. Laisa laki an tuba>ri>ha fi> hadza‘dh-dhala>lil-mubi>n.
Ellat : Ma> anta idzan bi‘n-na>shihil-a>mi>n.
Hermes : “Celakalah Babilonia, negara penyembah kecantikan, syahwat, dan berhala, bukan menyembah Tuhan.”
Ellat : “Semoga engkau dan Ba‟l memaafkanku.”
Hermes : “Tidak, itu tidak menghapuskan tanggungjawabmu. Paduka tidak seharusnya masuk ke dalam kesesatannya.”
Ellat : “Kalau begitu engkau bukan penasehat yang baik.”
Ratu Ellat dalam dialog di atas melakukan pelanggaran terhadap maksim kualitas. Dari awal dia sangat tidak setuju dengan pendapat Hermes bahwa dia tidak perlu menyaingi Uzza dalam hal memamerkan kecantikan dan kemolekan tubuhnya di hadapan rakyat Babilonia. Dia melakukan hal ini karena tahu bahwa Uzza mengincar tahta dan singgasananya sebagai Ratu Babilonia. Hermes prihatin
commit to user
dengan kondisi Babilonia saat itu sehingga selalu berusaha untuk menasehati Ratu Ellat dengan kebaikan. Hal itu terbukti dalam tuturannya “Laisa laki an tuba>ri>ha fi>
hadza‘dh-dhala>lil-mubi>n” „Paduka tidak seharusnya masuk ke dalam kesesatan ini‟ Namun, ego Ratu Ellat untuk selalu unggul atas Uzza membuat nasehat Hermes tidak lagi dihargai. Dia melanggar maksim kualitas yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya berdasar kebenaran faktual dan proporsional dengan mengatakan, “Ma> anta idzan bi‘n-na>shihil-a>mi>n.” „Kalau begitu engkau bukan penasehat yang baik‟ untuk menjawab Hermes. Tujuan pelanggaran tersebut untuk menentang tuturan Hermes. Ellat menggunakan partikel “ma>” „bukan‟
untuk mengingkari kalimat “anta bi‘n-na>shihil-a>mi>n” „kau adalah penasehat yang baik‟. Hal ini sesuai dengan fungsi “ma>” yang digunakan untuk menafikan jika bertemu dengan “jumlah ismiyah” „kalimat nomina‟ (Majma‟ Al-Lughah, 2004:
851). Penggunaan ma> nafi tersebut didukung kata “idzan” „jika demikian‟
sehingga menunjukkan bahwa pertentangan ini dikaitkan dengan tuturan Hermes sebelumnya.
(31) NDHM/1/6/3/KL
:
Al-Muwazhaf : Qad taqaddama laki chattal-an miatu wa khamsu>na rija>lan, laisa bainahum man cha>za ridha>`aki. Falau tasa>halti qali>lan ya> sayyidati> fi> syuru>thiki.
Manat : Kalla lan atasa>hal fi> syuru>thi>, innal-manshibul-qadha>’
manshibun rafi>’un la> yanbaghi an yatawala>hu illa man tatawaffiru fi>hi maqa>yi>sal-jama>l.
Pejabat Kerajaan
: “Sudah 150 laki-laki yang diajukan di hadapan paduka, tapi tidak ada satupun di antara mereka yang paduka terima. Seandainya paduka berkenan memperingan syarat yang diajukan.”
commit to user
Manat : “Tidak, aku tidak akan memperingan syaratku.
Sesungguhnya jabatan hakim adalah jabatan yang mulia.
Jabatan ini tidak bisa dipegang oleh orang yang tidak memenuhi standar ketampanan.”
Percakapan di atas terjadi antara Manat dan seorang pejabat kerajaan Babilonia. Babilonia sedang mencari seseorang untuk menduduki jabatan hakim kerajaan. Semua kandidat yang diajukan tidak mampu memenuhi persyaratan sehingga pejabat kerajaan menyarankan agar Manat menurunkan kriteria dan syaratnya. Namun, tanggapan Manat atas saran dari pejabatnya justru melanggar maksim kualitas. Hal ini ditunjukkan dalam kalimat “Kalla lan atasa>hal fi>
syuru>thi>, innal-manshibul-qadha>’ manshibun rafi>’un la> yanbaghi an yatawala>hu illa man tatawaffiru fi>hi maqa>yi>sal-jama>l” „Tidak, aku tidak akan memperingan syaratku. Sesungguhnya jabatan hakim adalah jabatan yang mulia. Jabatan ini tidak bisa dipegang oleh orang yang tidak memenuhi standar ketampanan.”
Maksim kualitas mengatur agar peserta tutur selalu memberikan tuturan yang benar. Jika mengacu pada kebenaran faktual, seorang hakim harusnya dipilih berdasarkan sifat adil dan ilmu yang dimilikinya. Bahkan, pernyataan Manat itu juga tidak bisa memenuhi kebenaran proporsional karena untuk menduduki jabatan hakim kerajaan harus berdasarkan ketampanan sangat tidak logis. Oleh karena itu, tuturan Manat tersebut melanggar maksim kualitas karena mengatakan sesuatu yang tidak benar dan tidak disertai bukti yang memadai.Manat sengaja melakukan pelanggaran maksim kualitas untuk menentang pernyataan pejabat kerajaan yang menyarankannya untuk memperingan syarat hakim. Dia menggunakan partikel “kalla>” yang bermakna “certainly not” „benar-benar tidak‟
(Baalbaki, 1995: 898) untuk menentang saran dari pejabat kerajaan. Artinya, partikel “kalla>” dalam bahasa Arab memiliki makna negasi yang lebih kuat
commit to user
daripada partikel “la>‛ ‘tidak’. Bahkan, setelah itu dia memberikan kalimat yang disertai partikel “inna” „sesungguhnya‟ yang merupakan salah satu charfu lita`ki>d
„partikel untuk menguatkan‟ (Majma‟ Al-Lughah, 2004: 31). Manat memperkuat penentangannya dengan memberikan alasan pendukung yang diawali dengan partikel inna tersebut.
(32) NDHM/1/6/6/RL
Al-Muwazhaf : Ma> ka>na na’rifu ‘anhum syai`an, fala’allahum la>
yashlachuna lil-qadha>`i.
Manat : Alam taqu>lu> inna wuju>hahum kal-aqma>ri?
Pejabat Kerajaan : “Kami sama sekali tidak tahu siapa mereka, selain itu mereka tidak layak menduduki jabatan hakim.”
Manat : “Bukankah kalian mengatakan bahwa wajah mereka seperti rembulan?”
Pada penggalan dialog di atas, terdapat pelanggaran terhadap maksim relevansi. Pelanggaran tersebut ditunjukkan dalam tuturan Manat. Dialog terjadi ketika pejabat kerajaan tidak setuju dengan pemikiran Manat yang ingin mengangkat orang asing yang belum diketahui latar belakangnya menjadi hakim kerajaan. Hal tersebut terlihat dari tuturannya “Ma> ka>na na’rifu ‘anhum syai>an, fala’allahum la> yashlachuna lil-qadha>i” „Kita sama sekali tidak tahu siapa mereka, jadi mereka tidak layak menduduki jabatan hakim.‟ Menanggapi hal itu, Manat membantahnya dengan mengatakan “Alam taqu>lu> inna wuju>hahum kal-aqma>ri?”
„Bukankah kalian mengatakan bahwa wajah mereka seperti rembulan?‟ Tuturan inilah yang menunjukkan pelanggaran terhadap maksim relevansi.
Tujuan Manat menggunakan tuturan yang tidak relevan dengan topik yang dibicarakan untuk menentang pernyataan pejabat kerajaan itu. Dia menggunakan charful-istifham „partikel tanya‟ hamzah ( ) dalam kalimat “alam taqu>lu>”
commit to user
„bukankah kalian mengatakan‟. Pertanyaan tersebut berfungsi untuk a’t-tashdi>q yaitu untuk menanyakan benar atau tidaknya hal yang dipertanyakan (Al- Ha>syimi, 1999:79). Adapun makna dari penggunaan hamzah tersebut adalah al- inka>ru yaitu untuk menyatakan pengingkaran terhadap pernyataan mitra tutur (Al-
Ha>syimi, 1999: 83). Manat menentang pejabat kerajaan dalam bentuk pertanyaan dengan tujuan agar tidak ada pertentangan lagi karena Manat mengambil keputusan ini atas dasar perkataan mereka sebelumnya.
(33) NDHM/1/23/41/KT
Ba’l : Al-ladzi> chabbaba tilkal-chaya>ta ila> nufu>sihim. Inna mitslaki ya>
Manat la> tastathi>’u al-‘aisyu bainahum.
Manat : Liannal-mauta khairun minha> alfa marrah.
Ba’l : Qad yaku>nul-mauta khairan minha> ‘indaki, walakin adz-dzilu laisa khairan minha> ‘indahum.
Ba‟l : “Kehidupan yang menumbuhkan cinta bagi penduduknya.
Sesungguhnya wanita sepertimu tidak akan bisa hidup di antara rakyatku.”
Manat : “Karena kematian jauh lebih baik dari itu.”
Ba‟l : “Mungkin kematian memang lebih baik bagimu. Tetapi bagi mereka hidup dalam kehinaan lebih buruk dari itu.”
Perdebatan tentang kehidupan yang terbaik terjadi antara Manat dan Ba‟l.
Menurut Ba‟l, kehidupan terbaik adalah kehidupan yang dipenuhi cinta dan kedamaian. Adapun menurut Manat, kehidupan terbaik adalah jika Babilonia mampu menaklukan seluruh dunia sehingga semua orang tunduk padanya. Dia lebih memilih mati daripada harus hidup di antara kaum Ariya, tempat asal Ba‟l.
Dia menganggap kehidupan dengan cinta kasih hanya akan membawa suatu kaum dalam kelemahan dan penindasan.
commit to user
Ba‟l menanggapi pernyataan Manat dengan mengatakan bahwa Manat memang lebih pantas untuk mati. Artinya, dia setuju dengan hal yang disampaikan Manat. Namun, setelah itu dia menambahkan kalimat “walakin adz- dzilu laisa khairan minha> ‘indahum” „tetapi bagi mereka hidup dalam kehinaan lebih buruk dari itu.‟ Tambahan kalimat ini menunjukkan pelanggaran terhadap maksim kuantitas. Ba‟l sengaja melakukannya dengan tujuan untuk menentang pendapat Manat. Maksud perkataan Ba‟l adalah kehidupan dengan dipenuhi rasa cinta jauh lebih baik dibanding hidup dalam kehinaan seperti pemikiran Manat tersebut. Dalam kalimat tersebut, Ba‟l menggunakan kata “lakin” „tetapi‟. Kalimat pertama Ba‟l “qad yaku>nul-mauta khairan minha> ‘indaki” „mungkin kematian memang lebih baik bagimu” menunjukkan bahwa dia setuju dengan pendapat Manat sebelumnya “Liannal-mauta khairun minha> alfa marrah” „Karena kematian jauh lebih baik dari itu.‟ Namun pada kalimat kedua, Ba‟l menggunakan kata
“lakin” untuk memberikan batasan antara pendapat menyetujui dan menentang.
B. Menunjukkan Kemarahan
Beberapa tokoh dalam drama Ha>ru>t wa Ma>ru>t sengaja melakukan pelanggaran terhadap maksim prinsip kerja sama untuk menunjukkan ekspresi marah. Tuturan semacam ini terdapat dalam empat belas (14) data dengan bentuk yang berbeda-beda. Lima (5) sampel data dipaparkan untuk mewakili data lain.
(34) NDHM/2/76/115/RL
Ba’l : La> yumkinani> an uqbila hadza>l-chukm.
commit to user
Ellat : Fahaanadza> amzuquhu baina yadaik. (Tamzuku‘r-ruq wa tarmi>
bihi fi>l-ardh)
Ba’l : (Farchan) Syukran ya> Ellat. Sa>michini> fi>ma> badara minni> fi>
chaqiki.
Ellat : La> tata’ajjal bisyukri>. Innama> mazaqtu hadza>l-chukma lianni> lam ya’uddu yahummuni> ridha>ka au sukhthuka.
Ba’l : Ellat!
Ba‟l : “Aku tidak bisa menerima keputusan hukum ini.”
Ellat : “Lihat, aku akan menyobeknya di hadapanmu.” (Dia menyobek kertas itu kemudian melemparkannya ke tanah)
Ba‟l : (Senang) “Terimakasih Ellat. Maafkan aku karena telah merampas hakmu.”
Ellat : “Jangan buru-buru berterimakasih padaku. Aku menyobek berkas hukum itu karena aku tidak peduli pada keridhaan atau kemarahanmu.”
Ba‟l : “Ellat!”
Penggalan dialog di atas menunjukkan adanya pelanggaran terhadap maksim relevansi. Pelanggaran tersebut ditunjukkan dalam tuturan Ba‟l. Hal ini terjadi ketika Ba‟l tidak setuju dengan surat keputusan pengadilan yang dibuat oleh Ha>ru>t dan Ma>ru>t tentang kasus perceraian seorang warga Babilonia. Ratu Ellat kemudian merobek surat tersebut. Ba‟l berterimakasih karena mengira Ellat melakukan itu demi dirinya. Namun, ternyata Ellat merobek surat itu karena dia sudah tidak peduli dan tidak menghormati suaminya sama sekali.
Mengetahui hal itu, emosi Ba‟l bercampur aduk antara rasa sayang pada istrinya, rasa kecewa, dan marah. Perasaan itu ia tunjukkan dengan hanya mengatakan “Ellat!” Hal ini melanggar maksim relevansi karena tidak berhubungan dengan topik yang sedang dibicarakan mitra tuturnya (Ellat).
Namun, Ba‟l melakukan pelanggaran tersebut dengan tujuan untuk menunjukkan kemarahannya. Pelanggaran itu juga terjadi karena Ba‟l tidak menyangka istrinya sudah berubah sangat jauh dari pribadinya yang dulu ramah dan penyayang.
Kemarahan Ba‟l ditunjukkan dengan penggunaan nada tinggi. Dalam tulisan, hal
commit to user
tersebut digantingan dengan tanda seru (!). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebutkan bahwa tanda seru (!) dipakai sesudah ungkapan dan pernyataan yang berupa seruan atau perintah, yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat. Tanda seru tersebut menunjukkan emosi marah yang kuat dari dalam diri Ba‟l. Selain itu, dia sengaja membentak dengan hanya menyebut nama Ellat tanpa tambahan kata-kata lain. Hal ini menunjukkan bahwa kemarahannnya sudah sangat besar dan tidak butuh perdebatan lebih panjang lagi.
(35) NDHM/1/16/31/RL
Ba’l : Kaifa yabqa> li> chubbuki, wa jasaduki nahaba li’uyu>ni‘n-na>s?.
Ellat : Ayyu ba’sin fi> dzalik? Al-‘uyu>n lan ta’kul min jasadi> syai'`an.
Fasayabqa> jasadi> bal kulli> waqfan ‘alaik>.
Ba’l : Kullu hadza> min Manat. Hiya’l-lati> afsadat ‘alaiki amriki.
Hadzihil-khali>’atul-fa>siqah!
Ba‟l : “Bagaimana mungkin tersisa cintamu padaku sementara tubuhmu menjadi santapan mata-mata manusia?”
Ellat : “Apa masalahnya? Mata mereka tidak memakan suatu apapun dari tubuhku. Tubuhku ini, bahkan seluruhnya adalah tetap milikmu.”
Ba‟l : “Ini semua gara-gara Manat. Dia yang merusakmu. Dasar wanita pengumbar nafsu dan fasik!”
Pada penggalan dialog di atas, terdapat pelanggaran terhadap maksim relevansi. Hal tersebut ditunjukkan dalam tuturan Ba‟l ketika berbicara dengan Ellat. Dia mulai mempertanyakan cinta yang ada di dalam diri Ellat pada dirinya.
Namun, dia sama sekali tidak merasa bersalah dan menganggap dirinya masih tetap sama seperti dulu. Dia bangga orang-orang menatap dirinya berpakaian seperti telanjang. Dia merasa bahwa tubuhnya tetep milik Ba‟l seutuhnya.
commit to user
Menanggapi hal tersebut, Ba‟l mengatakan “Kullu hadza> min Manat. Hiya’l-lati>
afsadat ‘alaiki amriki. Hadzihil-khali>’atul-fa>siqah!” „Ini semua gara-gara Manat.
Dia yang merusakmu. Dasar wanita pengumbar nafsu dan fasik!‟ Tuturan tersebut sama sekali tidak relevan dengan yang sedang dibicarakan oleh Ellat. Ba‟l mengambil kesimpulan bahwa semua yang membuat istrinya seperti ini adalah Manat. Hal ini dipengaruhi latar belakang pengetahuan Ba‟l bahwa Manat adalah orang terdekat Ellat yang selalu mempengaruhinya berbuat keburukan.
Ba‟l melakukan pelanggaran maksim relevansi karena dia ingin menunjukkan emosi marahnya pada wanita yang merusak istrinya. Dia menggunaan kata-kata bermakna negatif yaitu “Al-khali>’atu” „wanita pengumbar nafsu‟ dan “Al-fa>siqah” „wanita fasik‟. Dia mencela Manat dengan dua kata tersebut, tetapi dalam kasus ini celaan itu digunakan untuk menunjukkan rasa marahnya di depan Ellat. Selain itu, tanda seru (!) di akhir kalimat menunjukkan bahwa Ba‟l menggunakan intonasi tinggi yang berarti emosi yang ditunjukkan kuat.
(36) NDHM/2/45/69/KT
Ma>ru>t : Bal kunta ma’ana> tadri> kulla syai`in. Laqad cha>walta sa>’atan qudu>maha an taqu>daha> ila> makhda’ik, walakinnaha a’radhat ‘anka wa dakhalat ma’i>, walidzalik intaqamta minni>.
Ha>ru>t : Ma> raaita ya> Ma>ru>t? Araita kulla hadza> fi> chilmik>
Ma>ru>t : La> tataja>hal ma> fa’alta!
Ma>ru>t : “Tadi engkau bersama kami jadi engkau tahu semuanya. Selama satu jam engkau memintanya untuk menghabiskan waktu di kamarmu. Tapi dia menolak dan masuk ke kamarku. Karena itu kau ingin balas dendam padaku.”
Ha>ru>t : “Apa yang kau lihat Ma>ru>t? Kau melihat semua itu dalam
commit to user mimpimu?”
Ma>ru>t : “Jangan pura-pura bodoh atas semua yang telah kau lakukan!”
Dialog di atas menunjukkan adanya pelanggaran terhadap maksim kuantitas.
Hal itu ditunjukkan dalam tuturan Ma>ru>t. Dia bermimpi sedang bermesraan dengan Tamara ketika Ha>ru>t membangunkannya dari tidur. Dia menceritakan apa yang barusan dia alami. Namun dia tidak tahu perbedaan mimpi dan kenyataan sehingga dia menuduh Ha>ru>t telah merebut wanita yang tengah bersamanya.
Ha>ru>t heran karena tidak tahu sama sekali tentang apa yang dikatakan Ma>ru>t. Dia bertanya apa yang sebenarnya Ma>ru>t lihat dalam mimpi hingga dia menuduh sahabatnya sendiri. Pertanyaan Ha>ru>t menunjukkan bahwa dia telah membutuhkan informasi tentang apa yang dilihat Ma>ru>t dalam mimpinya. Ma>ru>t menjawab, “La> tataja>hal ma> fa’alta!” „Jangan pura-pura bodoh atas semua yang telah kau lakukan!‟ Ma>ru>t menganggap Ha>ru>t sudah tahu semua yang dia lihat dalam mimpi. Oleh karena itu, dia sengaja tidak memberikan informasi sesuai kadar yang dibutuhkan Ha>ru>t sehingga melanggar maksim kuantitas. Ma>ru>t menggunakan kalimat “la> tataja>hal” „jangan pura-pura tidak tahu‟ untuk menunjukkan kemarahannya. Partikel “la>” dalam kalimat tersebut termasuk la>
a’n-nahiyah yaitu untuk menyuruh orang meninggalkan sesuatu (Majma‟ Al- Lughah, 2004: 810). Partikel tersebut diikuti fi’l mudhar>ri’ majzum „verba bentuk kini jusif‟ yaitu “tataja>hal” „berpura-pura‟. Artinya, Ma>ru>t melarang Ha>ru>t untuk melakukan kepura-puraan. Namun, dalam konteks percakapan ini, larangan tersebut digunakan untuk menunjukkan rasa marah kepada mitra tutur (Ha>ru>t).
(37) NDHM/4/106/110/KT
Ha>ru>t : Ashich ala> tasma’u hadzihil-jalbata huna>k?
commit to user
Ma>ru>t : (Gha>dhiban) Ma> sya`nu ana> bidza>lik? Tabban laka athartuha minni>.
Ha>ru>t : “Bangun, apa kau tidak mendengar suara berisik itu?”
Ma>ru>t : (Marah) “Apa urusanku dengan itu? Celakalah kamu merebutnya dariku.”
Pelanggaran terhadap maksim kuantitas ditemukan dalam penggalan dialog di atas. Hal tersebut terjadi ketika Ha>ru>t dan Ma>ru>t berada di penjara. Ha>ru>t penasaran dengan suara berisik di luar penjara sehingga dia membangunkan Ma>ru>t sambil bertanya “ala> tasma’u hadzihil-jalbata huna>k?” „apa kau tidak mendengar suara berisik itu?‟ Ma>ru>t menanggapi dengan mengatakan “Ma> sya`nu ana> bidza>lik? Tabban laka athartuha minni>.” „Apa urusanku dengan itu?
Celakalah kamu merebutnya dariku.” Tuturan tersebut melanggar maksim kuantitas karena bagian “tabban laka athartuha minni>” tidak termasuk informasi yang dibutuhkan mitra tutur (Ha>ru>t). Ma>ru>t sengaja melanggar maksim kuantitas untuk menunjukkan kemarahan karena dia merasa terganggu dalam tidurnya sedang menikmati mimpi bersama wanita Babilonia. Kemarahan itu terlihat dari penggunaan kata “tabban laka” „celakalah kamu‟ untuk mencela Ha>ru>t. Selain itu konteks percakapan menunjukkan bahwa Ha>ru>t menuturkan kalimat tersebut dalam kondisi marah dan tidak senang dengan apa yang dilakukan Ha>ru>t. Hal ini didukung petunjuk laku atau kramagung bagi tokoh drama yaitu catatan pinggir berisi penjelasan kepada pembaca atau para pendukung pementasan mengenai keadaan, suasana, peristiwa, atau perbuatan, tokoh, dan unsur-unsur cerita lainnya (Nurgiyantoro, 1995). Petunjuk laku tersebut terdapat dalam kata “(Gha>dhiban)”
„(marah)‟ yang berarti menunjukkan suasana hatinya sedang marah.
(38) NDHM/1/15/25/PL
commit to user
Ellat : Al-an ya Ba’l ba’da ma> aqsamtu yami>na ‘l-ikhla>shi li’arsyi Ba>bil wa syu’bi Ba>bil?
Ba’l : Ukhtuki Uzza satakhlufuki.
Ellat : (Fi ghadhabin) Wailak aturi>duha> an tasyammat bi> wa tu’lina intisha>raha> ‘alayya? Innaha> tahsuduniy wa tas’a> likhal’i>.
Afaachna> laha> ra’si> wa aqu>lu lah> ha> huwa dza>‘t-ta>ju falabbisi>hi, wa ha> huwa dza>l-‘arsyu fajlisi> ‘alaihi?
Ellat : “Sekarang Ba‟l, setelah aku bersumpah menerima tahta dan singgasana Babilonia?”
Ba‟l : “Adikmu, Uzza, akan menggantikanmu.”
Ellat : (Marah) “Celakalah kamu, apa kamu ingin dia membuatku kecewa dan mengumumkan kemanangannya dari diriku? Dia benar-benar iri dan ingin mencabut tahtaku. Apa aku harus menyerahkan tahtaku kemudian berkata padanya ini tahtaku silahkan kamu pakai dan ini singgasanaku silahkan kamu duduki?”
Pada penggalan dialog di atas, ditemukan pelanggaran terhadap maksim pelaksanaan. Pelanggaran itu ditunjukkan pada tuturan Ratu Ellat “Wailak aturi>duha> an tasyammat bi> wa tu’lina intisha>raha> ‘alayya? Innaha> tahsuduni> wa tas’a> likhal’iy. Afaachna> laha> ra’si> wa aqu>lu lah> ha> huwa dza>‘t-ta>ju falabbisi>hi, wa ha> huwa dza>l-‘arsyu fajlisi> ‘alaihi?” „Celakalah kamu, apa kamu ingin dia membuatku kecewa dan mengumumkan kemanangannya dari diriku? Dia benar- benar iri dan ingin mencabut tahtaku. Apa aku harus menyerahkan tahtaku kemudian berkata ini tahtaku silahkan kamu pakai dan ini singgasanaku silahkan kamu duduki?‟ Dia sengaja melanggar maksim pelaksanaan dengan menuturkan tuturan panjang. Hal ini menunjukkan bahwa dia tidak berusaha mematuhi aturan maksim pelaksanaan “be brief (avoid unnecessary prolixity)” „Buatlah singkat (hindari tuturan panjang lebar)‟. Namun, dia sengaja melanggar maksim untuk menunjukkan kemarahannya pada Ba‟l, suaminya. Kemarahan Ellat didukung
commit to user
dengan adanya kramagung “fi ghadhbi” „dalam kemarahan‟ yang menunjukkan bahwa dia dalam kondisi marah. Selain itu, dia menggunakan kata “wailak”
„celakalah kamu‟. Kata “wailun” dalam bahasa Arab digunakan untuk mencela seseorang dengan mendoakan siksa dan kesengsaraan atasnya (Majma‟ Al- Lughah, 2004: 1061). Pada konteks percakapan ini, celaan tersebut digunakan untuk menunjukkan bahwa Ellat sangat marah pada mitra tuturnya (Ba‟l).
C. Memperjelas Informasi
Suatu tuturan pasti mengandung pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh penutur kepada mitra tutur. Informasi akan bisa diterima oleh mitra tutur jika kedua penutur mematuhi prinsip kerja sama. Akan tetapi, terkadang pelanggaran terhadap maksim-maksim prinsip kerja sama justru mampu membuat suatu informasi dapat diterima lebih baik dan lebih banyak. Hal ini bisa menjadikan suatu perbincangan lebih komunikatif.
Pelanggaran dengan tujuan memperjelas informasi ini ditemukan dalam tiga belas (13) data. Tujuan memperjelas informasi paling banyak terdapat dalam pelanggaran maksim kuantitas dengan cara memberikan informasi lebih dari yang dibutuhkan mitra tutur. Akan tetapi beberapa tokoh juga melanggar maksim relevansi dan maksim pelaksanaan dengan tujuan tersebut. Empat (4) sampel data dipaparkan dalam analisis ini untuk mewakili data lain.
(39) NDHM/1/7/7/KT
.
commit to user
Manat : (Tanzhuru ama>maha na>chiyatal-madkhul) Ha> huma>
zami>la>k qad aqbala.
Al-Muwazhaf : (Yahtifu farchan) Wa ma’ahuma> a’r-rija>l a’ts-tsalatsah.
Chamdan lil-A>lihah.
(Yadchulu rajula>ni min mawa>zhifi>l-qashri. Wa khalafahum tsala>tsatu rija>lin thuwa>lil-qudu>di chisa>nil-wuju>h.
Fatandzuru Mana>t ilaihim fi> dahsyin wa i’ja>bin) Chamdan lil A>lihah. Aina wajadtuma>hum?
Ar-Rajula>ni : Fi> achadi athra>fil-madi>nah. ‘Inda fala>chi adha>fahum fi>
ku>khihi
Manat : (Melihat ke arah orang masuk di depannya) “Itu dia kedua temanmu telah datang.”
Pejabat Kerajaan
: (Berteriak senang) “Mereka membawa ketiga laki-laki itu, syukurlah.”
(Dua orang Pejabat Kerajaan masuk dari salah satu sudut istana. Ada tiga laki-laki berbadan besar dan wajah rupawan di belakang mereka. Manat melihat ke arah mereka dengan heran dan takjub)
“Syukurlah, di mana kalian menemukannya?”
Dua Pengawal : “Di salah satu sudut kota. Seorang petani sedang menjamu mereka sebagai tamu di gubuknya.”
Pada penggalan dialog di atas, terdapat pelanggaran terhadap maksim kuantitas. Pelanggaran itu dilakukan oleh dua orang pengawal yang baru masuk ke dalam istana setelah berhasil menyelesaikan tugasnya untuk mencari tiga pria asing yang masuk ke wilayah Babilonia.
Percakapan ini berawal ketika Manat, orang kepercayaan Ratu Babilonia, sedang mencari kandidat hakim kerajaan. Setelah semua kandidat habis dan tidak tersisa satupun dari warga Babilonia, Manat teringat tiga orang asing yang sebelumnya telah diceritakan oleh pengawalnya. Dia ingin melihat ketiga pria tersebut apakah pantas atau tidak untuk dijadikan hakim kerajaan sesuai kriterianya. Oleh karena itu, dia memaksa pengawalnya untuk menemukan dan membawa tiga orang itu ke hadapannya. Bahkan Manat akan menghukum pengawalnya jika tidak bisa melaksanakan perintahnya. Pejabat kerajaan yang
commit to user
membawahi pengawal secara langsung juga khawatir jika anak buahnya tidak berhasil melaksanakan tugas tersebut.
Manat sangat senang ketika para pengawal berhasil menemukan dan membawa orang asing yang dimaksud ke hadapannya. Dia sangat takjub dengan sosok tiga pria tersebut. Begitu pula pejabat kerajaan sangat bersyukur mereka berhasil. Dia bertanya di mana mereka menemukan tiga orang itu. Kedua pengawal itu menjawab, “Fi> achadi athra>fil-madi>nah. ‘Inda fala>chi adha>fahum fi>
ku>khihi” „Di salah satu sudut kota. Seorang petani sedang menjamu mereka sebagai tamu di gubuknya.” Namun, jawaban tersebut melanggar maksim kuantitas karena memberikan tambahan informasi tentang kegiatan yang sedang dilakukan tiga pria tersebut. Jika mengacu pada maksim kuantitas, maka pejabat keraajan belum pada tahap membutuhkan informasi tersebut.
Kedua pengawal itu sengaja melakukan pelanggaran maksim kuantitas bukan tanpa sebab dan alasan. Keduanya mampu membaca situasi pada saat itu.
Mereka sadar bahwa pencariannya terlalu lama sehingga membuat pejabat kerajaan tidak sabar dan penasaran. Mereka sengaja menambahkan informasi pada tahap yang belum dibutuhkan. Hal ini bertujuan untuk memberikan penjelasan yang lebih detail sehingga informasi yang diterima pejabat kerajaan dan Manat lebih jelas.
(40) NDHM/1/31/49/KT
Ma>nat : Ats-tsa>litsu ikhtafa> ya> Maulati>.
Ellat : Ikhtafa>? Kaifa ikhtafa>?
Ma>nat : La> achada yadri> ya> Maulati>. Bachatsu> ‘anhu fi> kulli ruknin min
commit to user
arka>nil-qashri falam yaqifu> lahu ‘ala> atsarin.
Manat : “Yang ketiga pergi, Yang Mulia.”
Ellat : “Pergi? Bagaimana bisa pergi?”
Manat : “Tidak ada seorangpun yang tahu, Yang Mulia. Mereka telah mencari ke setiap sudut istana dan tidak menemukan jejaknya sama sekali.”
Tuturan Manat pada penggalan dialog di atas menunjukkan adanya pelanggaran terhadap maksim kuantitas dalam bentuk penambahan informasi lebih dari yang dibutuhkan mitra tutur. Pelanggaran tersebut dilakukan untuk menanggapi pertanyaan Ratu Ellat tentang calon hakim yang kabur.
Percakapan ini terjadi ketika Manat melapor bahwa dia sudah menemukan tiga orang calon hakim kerajaan Babilonia. Akan tetapi satu dari tiga calon tersebut kabur. Ratu Ellat heran kemudian bertanya “Ikhtafa>? Kaifa ikhtafa>?”
„Pergi? Bagaimana bisa pergi?‟ Manat yang memang tidak tahu proses kaburnya orang itu sebenarnya sudah menjawab dengan cukup ketika mengatakan “La>
achada yadri> ya> Maulati>” „Tidak ada seorangpun yang tahu, Yang Mulia.‟
Namun, Manat justru menambahkan kalimat “Bachatsu> ‘anhu fi> kulli ruknin min arka>nil-qashri falam yaqfu> lahu ‘ala> atsarin.” „Mereka telah mencari ke setiap sudut istana dan tidak menemukan jejaknya sama sekali.‟ Kalimat tersebut menunjukkan bahwa Manat memberikan informasi tentang apa yang dilakukan para pengawal kerajaan untuk menindaklanjuti menghilangnya salah satu kandidat hakim kerajaan. Jika mengacu pada kaidah maksim kuantitas pada prinsip kerja sama, Ratu Ellat belum membutuhkan informasi tersebut. Namun, Manat sengaja menambah informasi tentang tindak lanjut yang dilakukan setelah orang itu menghilang. Meskipun tidak merusak komunikasi dan dilakukan untuk memperjelas informasi, hal tersebut melanggar kaidah maksim kuantitas.
commit to user (41) NDHM/4/107/111/KT
Ha>ru>t : Qad dzuqtu ya> Ma>ru>t.
Ma>ru>t : Marratan wa>chidah! Khairun minha lau lam adzuqha> qath.
Ha>ru>t : “Kau telah merasakannya wahai Ma>ru>t.”
Ma>ru>t : “Hanya sekali. Lebih baik daripada tidak sama sekali.”
Dalam contoh (41), Ha>ru>t mengatakan “Kau telah merasakannya wahai Ma>ru>t” untuk menenangkan Ma>ru>t yang masih penasaran dengan kenikmatan dunia. Jawaban Ma>ru>t “marratan wa>chidah” „hanya sekali‟ sudah cukup untuk merespon tuturan Ha>ru>t sebelumnya. Namun dia menambahkan penilain yang tidak dibutuhkan menurut kaidah maksim kuantitas dalam kalimat “khairun minha>
lau lam adzuqha> qath” „lebih baik daripada tidak sama sekali.‟ Tuturan ini melanggar maksim kuantitas karena informasi yang diberikan lebih dari yang dibutuhkan mitra tutur (Ha>ru>t).
Ma>ru>t sengaja melanggar maksim kuantitas untuk memperjelas informasi yang disampaikan. Dia ingin menunjukkan meskipun hanya satu kali merasakan kenikmatan itu, dia masih memiliki pemikiran bahwa itu lebih baik daripada tidak pernah sama sekali.
(42) NDHM/1/27/47/PL
Ellat : Wa mata> yablughu ‘l-insa>nu rusydahu wa chikmatahu?
commit to user
Hermes : Yaumun la> yusaithiru sufaha>uhu ‘ala> chukama>ihi. Wa la>
yabghi> aqwiya>uhu ‘ala> dhu’afa>ihi. Yaumun yas’a> zu’ama>uhu fi> khidmati afra>dihi. Wa la> yusa>qu afra>duhu fi> khidmati zu’ama>ihi. Yaumun yasy’urul-masa` anna isa>’atahu tartaddu ilaihi qabla an tashiba akha>hu. Wa yasy’uru ‘l-muchsinu anna ihsa>nahu ya’udu ‘alaihi qabla an ya’u>du ‘ala> sawa>hu.
Yaumun tushbichu syu’u>bul-ardhi fi> taqa>rubiha> wa tar>chumiha> wa ta’a>wuniha> kaannaha> syu’bun wa>chid.
Ya’i>syu fi> baladin wa>chidin wa yajmauahu mashirun wa>chid.
Ellat : “Kapan manusia akan mendapat petunjuk dan hikmah-Nya?”
Hermes : “Hari ketika orang bodoh tidak menguasai orang bijak. Orang kuat tidak sewenang-wenang terhadap yang lemah. Ketika para pemimpin berusaha melayani rakyatnya dan rakyat mau membantu pemimpinnya. Ketika pelaku kejahatan merasa perbuatannya hanya akan mencelakai dirinya dan saudaranya sendiri dan orang melakukan kebaikan karena mengetahui perbuatannya bermanfaat bagi dirinya sendiri sebelum untuk orang lain. Ketika bangsa-bangsa di bumi saling bersaudara, menyayangi, dan membantu seakan mereka satu kesatuan.
Hidup berdampingan dalam satu negara dan dipersatukan oleh seorang penolong.”
Pelanggaran terhadap maksim pelaksanaan yang dilakukan oleh Hermes memiliki tujuan untuk memperjelas informasi. Hal ini terjadi ketika Hermes berdebat dengan Manat dan Ratu Ellat tentang hikmah dan hidayah Tuhan.
Hermes adalah seorang shalih yang taat dan yakin pada Allah. Dia berbanding terbalik dengan Manat yang tidak percaya pada Tuhan. Adapun Ratu Ellat adalah orang yang sebenarnya mencari kebenaran dan sering mendengarkan nasehat Hermes.
Ratu Ellat bertanya kapan seseorang bisa mendapatkan hikmah dan hidayah dari Tuhan. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Hermes mengatakan, “Yaumun la> yusaithiru sufaha>uhu ‘ala> chukama>ihi. Wa la> yabghi> aqwiya>uhu ‘ala>
dhu’afa>ihi. Yaumun yas’a> zu’ama>uhu fi> khidmati afra>dihi. Wa la> yusa>qu afra>duhu fi> khidmati zu’ama>ihi. Yaumun yasy’urul-masa` anna isa>’atahu tartaddu ilaihi qabla an tashiba akha>hu. Wa yasy’uru ‘l-muchsinu anna ihsa>nahu
commit to user
ya’udu ‘alaihi qabla an ya’u>du ‘ala> sawa>hu. Yaumun tushbichu syu’u>bul-ardhi fi>
taqa>rubiha> wa tar>chumiha> wa ta’a>wuniha> kaannaha> syu’bun wa>chid. Ya’i>syu fi>
baladin wa>chidin wa yajma’uhu mashirun wa>chid.” „Hari ketika orang bodoh tidak menguasai orang bijak. Orang kuat tidak sewenang-wenang terhadap yang lemah. Ketika para pemimpin berusaha melayani rakyatnya dan rakyat mau membantu pemimpinnya. Ketika pelaku kejahatan merasa perbuatannya hanya akan mencelakai dirinya dan saudaranya sendiri dan orang melakukan kebaikan karena mengetahui perbuatannya bermanfaat bagi dirinya sendiri sebelum untuk orang lain. Ketika bangsa-bangsa di bumi saling bersaudara, menyayangi, dan membantu seakan mereka satu kesatuan. Hidup berdampingan dalam satu negara dan dipersatukan oleh seorang penolong.‟ Padahal untuk menjawab pertanyaan
“mata>” „kapan‟ dari Ratu Ellat, sebenarnya Hermes dapat mengatakan “ketika manusia bisa menempatkan hal baik dan buruk sesuai posisinya.” Babilonia saat itu adalah kerajaan yang masih diselimuti kebodohan sehingga hal yang benar dianggap salah, dan yang salah dianggap benar. Namun, jawaban yang diberikan Hermes justru terlalu panjang atau tidak singkat sehingga melanggar maksim pelaksanaan. Pelanggaran yang dilakukan Hermes tersebut memiliki tujuan agar informasi yang dia sampaikan lebih detail dan jelas sehingga bisa dipahami oleh Ratu Ellat dengan baik.
D. Menyarankan
Pelanggaran terhadap maksim prinsip kerja sama juga bertujuan untuk memberikan saran bagi mitra tutur. Menyarankan dapat diartikan memberikan usul, anjuran, atau arahan (KBBI, 2007: 999). Hal ini biasanya ditujukan pada seseorang agar melakukan hal baru yang belum terpikirkan olehnya.
commit to user
Tujuan tersebut ditemukan dalam dua belas (12) data. Pola yang paling banyak digunakan adalah menanggapi mitra tutur dengan informasi yang dibutuhkan kemudian menambahkan informasi lain berupa saran. Artinya, penutur harus melanggar maksim kuantitas. Dalam penyajian hasil analisis ini dipaparkan empat (4) sampel data untuk mewakili data lain.
(43) NDHM/1/50/77/KT
Ha>ru>t : Lau istajabta linida>iha> kama> istajabtu lakuntal-an misli>.
Ma>ru>t : Kalla la> arabu li> fi> tilkal-kahlatil-mustahlikah.
Ha>ru>t : (Kal-cha>lim) Kahlatun chaqqan walakinnaha> mumti’ah. Jarrib ya akhi> lata’rif.
Ha>ru>t : “Seandainya kau menerima ajakannya sepertiku maka saat ini kamu akan sama denganku.”
Ma>ru>t : “Tidak, aku tidak akan memerlukan wanita tua rusak seperti dia.”
Ha>ru>t : (Seperti orang dewasa) “Dia memang agak tua, tapi tetap menyenangkan. Cobalah, saudaraku, kau akan benar-benar tahu.”
Ha>ru>t dan Ma>ru>t sedang membicaran kemampuan dan pengetahuan mereka dalam mendekati dan menggoda wanita. Ha>ru>t lebih berpengalaman karena sudah mempraktekannya dengan Manat. Ma>ru>t menganggap Manat bukanlah wanita yang tepat untuk dirayu karena dia adalah wanita perusak. Tanggapan Ha>ru>t
“Kahlatun chaqqan walakinnaha> mumti’ah” „Dia memang agak tua, tapi tetap menyenangkan‟ menunjukkan bahwa dia setuju dengan pendapat mitra tuturnya (Ma>ru>t). Namun, setelah itu dia menambahkan kalimat “Jarrib ya akhi> lata’rif”
„Cobalah, saudaraku, kau akan benar-benar tahu.‟ Tambahan informasi tersebut sebenarnya belum dibutuhkan Ma>ru>t sehingga termasuk ke dalam pelanggaran terhadap maksim kuantitas. Pelanggaran itu sengaja dilakukan Ha>ru>t untuk
commit to user
memberikan saran pada Ma>ru>t agar mau mencoba mendekati wanita-wanita Babilonia termasuk Manat. Ha>ru>t menggunakan bentuk fi’l amr „verba imperatif‟
pada kata “jarrib” „cobalah.‟ Makna yang terkandung di dalamnya bukan memerintah secara langsung tetapi untuk menyarankan. Ha>ru>t juga menggunakan kata “lata’rif” „kau akan benar-benar mengetahui‟. Hal ini menunjukkan bahwa Ha>ru>t menyarankan Ma>ru>t secara sungguh-sungguh dengan disertai alasan penguat saran tersebut. Selain itu, kramagung “kal-cha>lim” „seperti orang dewasa‟
semakin mendukung bahwa tujuan Ha>ru>t melakukan pelanggaran maksim untuk menyarankan karena dia bertutur layaknya orang dewasa memberi saran pada yang lebih muda dan kalah pengalaman darinya.
(44) NDHM/2/63/87/KT
Tamara : Ana> im-ra`atu dza>tu kara>matin fayajibu an tucha>fizha ‘ala>
kara>mati>.
Ha>ru>t : Ma’lumun ya> Maulati> ma’lu>m. (Yadunnu> minha>) Hal li> ya>
sayyidati> an usa>’iduki fi> khal’i mi’thafiki? (Khala’a mi’thafuha> fi lathfin).
Tamara : Syukran. Haandza> qad chadhartu ilaikuma wachdi>.
Tamara : “Aku wanita yang punya harga diri. Jadi kalian harus menjaga kehormatanku.”
Ha>ru>t : “Maaf Paduka, maaf.” (Mendekatinya) “Bolehkah hamba membantu melepaskan jubah luar Tuan Putri?” (Jubah luar lepas dengan lembut)
Tamara : Terimakasih. Lihat aku datang sendiri.
Pada contoh dialog (44) di atas, Tamara marah karena Ma>ru>t berlaku tidak sopan ketika dia memasuki rumah mereka. Untuk menjaga kondisi tetap kondusif, Ha>ru>t meminta maaf. Namun, dia menambahkan kalimat “Hal li> ya> sayyidati> an usa>’iduki fi> khal’i mi’thafiki?” „Bolehkah hamba membantu melepaskan jubah
commit to user
luar Tuan Putri?‟ Hal ini melanggar maksim kuantitas karena mitra tutur (Tamara) tidak membutuhkan informasi tersebut. Ha>ru>t sengaja melakukannya untuk menyarankan agar Tamara melepas jubah luarnya. Dia memberikan saran dengan menggunakan kalimat interogatif karena terdapat ada>tul istifham „partikel tanya‟
berupa partikel hal „apakah‟ dan disertai tanda tanya (?) di bagian akhir. Namun, makna yang terkandung dalam kalimat tersebut adalah a’t-tasywi>q yaitu makna yang ditujukan untuk mendorong mitra tutur agar mengikuti atau melakukan sesuatu (Al-Ha>syimi, 1999: 83). Pada kasus ini, Ha>ru>t mendorong Tamara untuk melakukan apa yang ia sarankan yaitu melepas jubah. Saran tersebut sekaligus dapat digunakan untuk mencairkan suasana dengan cara menunjukkan kebaikan dan kerendahan hati bersedia membantu Tamara sehingga kemarahannya perlahan hilang. Meskipun pada kenyataannya, Ha>ru>t memberi saran untuk membuka jubah luar Tamara agar dia bisa lebih mudah menikmati keindahan tubuhnya.
(45) NDHM/1/8/10/RL
Al-Muwadhaf : Ats-tsala>tsatu jami>’an?
Mana>t : Na’am .. La> yanbaghi an nafruthu fi> wa>chidin min ha>ula>`i, aina najidu mislahum?
Al-Muwadhaf : Ala> tas`ali>na ya> sayyidati> ‘an muahhila>tihim?
Pejabat Kerajaan : “Ketiganya?”
Manat : “Ya, kita tidak bisa menyia-nyiakan salah satu dari mereka, di mana lagi kita bisa mendapatkannya?”
Pejabat Kerajaan : “Apakah Yang Mulia tidak ingin menanyakan keahlian mereka dulu?”
Dialog di atas terjadi saat Manat sedang mencari hakim baru untuk kerajaan Babilonia. Ketika menemukan tiga pria asing tampan yang bukan warga Babilonia, dia langsung memutuskan untuk menjadi mereka hakim kerajaan.
commit to user
Fokus Manat bukan lagi pada apakah pria tersebut mampu menjadi hakim kerajaan atau tidak. Menurutnya pria seperti mereka akan sangat sulit ditemukan di tempat lain. Dia tidak boleh menyia-nyiakan pria-pria tampan yang ada di depannya. Namun, pejabat kerajaan tidak menanggapi topik yang sedang dibicarakan Manat. Hal ini terlihat dalam tuturannya “Ala> tas`ali>na ya> sayyidati>
‘an muahhila>tihim?” „Apakah Yang Mulia tidak ingin menanyakan keahlian mereka dulu?‟ Dia sengaja melanggar maksim relevansi dengan tujuan untuk memberikan saran pada Manat agar kembali fokus pada pemilihan calon hakim kerajaan bukan hanya mengagumi ketampanan tiga pria itu. Saran pejabat kerajaan dilakukan dalam bentuk kalimat interogatif karena terdapat partikel hamzah dan tanda tanya (?). Makna yang terkandung dalam pertanyaan tersebut
adalah makna a’t-tasywi>q yaitu untuk mendorong mitra tutur agar mengikuti atau melakukan sesuatu (Al-Ha>syimi, 1999: 83). Dia menyarankan agar Manat menguji mereka terlebih dahulu untuk mengetahui lebih jauh tentang mereka. Dia tidak ingin hakim baru kerajaan Babilonia ternyata bukan orang yang adil dan berilmu.
(46) NDHM/1/6/5/KL
Mana>t : Ats-tsala>tsatu al-ladzi>na raaitumu>hum fi‘s-su>qi shabacha ams. Ka>na yajibu an taqbidhu> ‘alaihim fata’tu>ni> bihim.
Al-
Muwadhaf : Ma> ka>na na’rifu ‘anhum syaian, fala’allahum la> yashluchu>na lilqadha>’
Manat : “Tiga orang yang kalian lihat di pasar kemarin pagi. Kalian harus menemukan mereka dan membawanya ke hadapanku.”
Pejabat Kerajaan
: “Kita tidak tahu sama sekali tentang mereka, jadi mereka tidak layak untuk menjadi hakim kerajaan.”
commit to user
Dialog di atas terjadi ketika semua kandidat hakim baru kerajaan Babilonia sudah diajukan dan tidak ada satupun yang lolos. Manat teringat dengan laporan pengawal kerajaan bahwa kemarin pagi menemukan tiga pria asing tampan di pasar. Dia langsung menyuruh para pengawal untuk menemukan mereka. Dia ingin melihat secara langsung apakah mereka layak menjadi hakim kerajaan.
Berbeda dengan Manat, seorang pejabat kerajaan langsung menganggap tiga orang asing itu tidak layak menjadi hakim Babilonia. Hal itu terlihat dalam kalimat “fala’allahum la> yashluchu>na lilqadha>’” „mereka tidak layak untuk menjadi hakim kerajaan.‟ Menurutnya, 150 warga Babilonia yang dia kenal saja tidak memenuhi kriteria, apalagi orang asing yang sama sekali tidak dikenal.
Kalimat yang dituturkan pejabat kerajaan itu melanggar maksim kualitas karena tidak disertai dengan bukti yang memadai. Dia belum melihat dan menguji kemampuan mereka secara langsung tetapi seolah sudah mengetahui bahwa mereka tidak layak menjadi hakim. Namun, pelanggaran itu sengaja dilakukan untuk memberi saran pada Manat agar jangan asal dalam memilih hakim kerajaan karena itu adalah posisi yang mulia.
E. Mengelabui
Mengelabui berarti menyesatkan pandangan atau menipu seseorang (KBBI, 2007: 528). Penulis menemukan dua belas (12) data pelanggaran yang bertujuan untuk mengelabui mitra tutur. Sampel data yang digunakan dalam bab ini adalah tiga (3) data.
(47) NDHM/1/13/17/KL
commit to user (Ta’u>du Manat)
Manat : Aina dzahaba zami>lukuma?
(Yartabikul-malaka>ni) ... Aina tsa>litsukuma>?
Ma>ru>t : La> nadri> aina dzahaba.
(Manat kembali)
Manat : “Kemana teman kalian berdua pergi?”
(Kedua malaikat itu tergeragap) ... “Kemana orang ketiga dari kalian?”
Ma>ru>t : “Kami tidak tahu kemana dia pergi.”
Ha>ru>t dan Ma>ru>t melanggar maksim kualitas dengan cara berbohong pada dialog di atas. Hal ini mereka lakukan untuk mengelabui Manat yang menanyakan ke mana Uzrayail pergi. Jika mereka mengatakan yang sebenarnya bahwa Uzrayail kembali ke langit karena tidak mampu menjalankan tugas, maka rahasia bahwa mereka adalah malaikat akan terbongkar. Oleh karena itu, untuk tetap menjaga rahasia tersebut mereka mengelabui Manat dengan berbohong.
Kebohongan ditunjukkan oleh tuturan Ma>ru>t “La> nadri> aina dzahaba.”
„Kami tidak tahu kemana dia pergi.‟ Padahal kenyataannya mereka tahu bahwa Uzrayail kembali ke langit. Hal ini sengaja mereka lakukan untuk menyesatkan pandangan Manat sehingga dia berpikir Uzrayail sedang berjalan-jalan di istana.
(48) NDHM/2/66/90/KL
Tamara : (Muta’ajibah) Fi> ‘s-sama>i? Akuntuma> fi> ‘s-sama>i?
Ma>ru>t : (Yudriku annahu tawarratha) ...?
Ha>ru>t : (Liyanqudzul-mauqifa) Yaqshudu ya> Tamara annahu takhayyalahunna fakaannahu ra>hin.
Tamara : (Terkejut) “Di langit? Kalian berdua di langit?”
Ma>ru>t : (Sadar dalam posisi sulit) ...?
Ha>ru>t : (Menyelamatkan situasi) “Maksudnya adalah dia mengkhayalkan mereka seolah dia ada di sana.”
commit to user
Pada dialog (48) di atas, Tamara terkejut karena Ma>ru>t mengatakan bahwa dia mengetahui kondisi dan apa yang ada di langit. Ketika Tamara bertanya
“Akuntuma> fi>‘s-sama>i?” „kalian berdua di langit?” Ma>ru>t sadar bahwa dia melakukan kesalahan sebelumnya dengan mengatakan hal tersebut sehingga dia diam tidak bisa berkata apa-apa. Untuk menyalamatkan situasi tersebut, Ha>ru>t menjawab “Yaqshudu ya> Tamara annahu takhayyalahunna fakaannahu ra>hin.”
„Maksudnya adalah dia (Ma>ru>t) mengkhayalkan mereka seolah dia ada di sana.”
Tuturan tersebut melanggar maksim kualitas karena informasi yang disampaikan adalah suatu kebohongan. Kebohongan itu ditunjukkan pada kata “takhayyala”
„mengkhayalkan‟ karena pada kenyataannya Ma>ru>t tidak berkhayal. Mereka berdua mengetahui kondisi langit yang sebenarnya. Namun, kebohongan itu terbukti dapat menjawab pertanyaan Tamara. Ha>ru>t sengaja berbohong dengan tujuan untuk mengelabui Tamara sehingga dia tidak akan berpikir lagi bahwa mereka pernah berada di langit.
(49) NDHM/1/7/9/PL
Mana>t : (Fi>ma> yusybihul-ghazali) Asma>ukum chulwatun ka wuju>hikum.
(Tu>miu lahum an yaqtaribu> fa yaqtaribu>na)
Tara> ayatu Ila>hati min ila>ha>t al-chusna anjabatkum? Man taku>nu ummukum?
Ats-tsalatsah : (Yata’allamu>na fi> irtiba>k) Nachnu ... Nachnu lam tuliduna>
ummun.
Mana>t : (Fi> dahsyin) Lam tulidukum ummun? Kaifa idzan ji#tum ila al-wuju>d?
commit to user
Ats-tsalatsah : (Mustadrikan) Lam tuliduna> ummun wa>chidah
Manat : (Dengan sedikit menggoda) “Nama kalian semanis wajah kalian.”
(Menyuruh mereka mendekat, kemudian mereka mendekatinya)
“Bukankah ini tanda kemuliaan Tuhan? Siapakah ibu kalian?”
Ketiganya : (Terlihat bingung) “Kami ... Kami tidak dilahirkan ibu.”
Manat : (Heran) “Kalian tidak dilahirkan ibu? Lalu bagaimana kalian bisa ada?”
Ketiganya : (Berpikir) “Kami tidak dilahirkan oleh satu ibu.”
Pada penggalan dialog di atas, terdapat dua kalimat yang melanggar maksim pelaksanaan karena taksa dan maknanya kabur. Tuturan seperti itu akan membuat mitra tutur bingung dan sulit memahami informasi yang ingin disampaikan.
Namun dalam kasus ini kalimat tersebut sengaja dituturkan untuk mengelabui mitra tuturnya.
Percakapan itu terjadi ketika Manat bertanya pada Ha>ru>t, Ma>ru>t, dan Uzrayail tentang identitas ibu mereka. Mereka sempat bingung dengan pertanyaan tersebut kemudian mengatakan, “Nachnu lam tuliduna> ummun.” „Kami tidak dilahirkan ibu.‟ Tuturan tersebut melanggar maksim pelaksanaan karena maknanya kabur dan membingungkan. Mereka sengaja melakukan pelanggaran tersebut untuk mengelabui bahwa sebenarnya mereka adalah malaikat yang tidak dilahirkan dari rahim ibu tetapi diciptakan dari cahaya. Jawaban tersebut justru membuat Manat heran dan tidak paham yang dimaksud oleh mereka sehingga ia bertanya lagi. Ha>ru>t mencoba menyelamatkan mereka dengan mengatakan “Lam tuliduna> ummun wa>chidah” „Kami tidak dilahirkan oleh satu ibu.‟ Tuturan tersebut juga melanggar maksim pelaksanaan karena bermakna ganda yaitu mereka tidak dilahirkan dari satu rahim yang sama atau mereka memang tidak dilahirkan dari rahim seorangpun. Pelanggaran itu dilakukan dengan tujuan untuk
commit to user
mengelabui Manat. Dengan mengatakan itu, mereka menggiring Manat untuk berpikir bahwa mereka ingin merahasiakan jatidiri ibunya.
F. Menggoda/Merayu
Beberapa pelanggaran terhadap maksim prinsip kerja sama dilakukan dengan tujuan untuk menggoda atau merayu. Penulis menemukan sembilan (9) data yang menunjukkan suatu pelanggaran dilakukan dengan tujuan tersebut.
Dalam tujuan ini dipaparkan tiga (3) sampel data.
(50) NDHM/2/65/89/KT
:
Tamara : Muba>laghah sakhi>fah. Mandza> ya’lamu ma> fi‘s-sama>i?
Ma>ru>t : Nachnu ya> Tamara na’lamu. Huna>kal-chu>rul-‘ain, wa anti ajmal minal-chu>ril-‘ain.
Tamara : “Kau berlebihan. Siapa yang mengetahui apa yang ada di langit?”
Ma>ru>t : “Kami Tamara, kami tahu. Di sana ada para bidadari dan kamu lebih cantik dari mereka.”
Untuk menggoda Tamara, Ha>ru>t mengatakan bahwa Tamara adalah wanita paling cantik di bumi. Mendengar hal tersebut, Ma>ru>t tidak mau kalah dengan memberanikan diri merayu Tamara juga. Dia menambahi pujian Ha>ru>t dengan mengatakan bahwa Tamara adalah makhluk paling cantik di bumi dan langit.
Namun, Tamara merasa pujian Ma>ru>t terlalu berlebihan. Lagipula dia tidak percaya ada orang yang tahu isi langit. Tamara menyakan hal itu pada Ma>ru>t.
Ma>ru>t menjawab, “Nachnu ya> Tamara na’lamu” „Kami Tamara, kami tahu.‟
Kemudian dilanjutkan dengan tambahan “Huna>kal-chu>rul-‘ain, wa anti ajmal minal-chu>ril-‘ain” „Di sana ada para bidadari dan kamu lebih cantik dari mereka.‟
Rayuan Ma>ru>t dalam kalimat “Huna>kal-chu>rul-‘ain, wa anti ajmal minal- chu>ril-‘ain” termasuk pelanggaran terhadap maksim kuantitas. Topik yang
commit to user
ditanyakan Tamara pada kedua malaikat itu adalah tentang ada tidaknya seseorang yang mengetahui keadaan di langit. Berdasarkan maksim kuantitas, dia belum membutuhkan informasi lainnya. Namun, Ma>ru>t sengaja memberikan informasi lebih untuk menggoda Tamara. Rayuan tersebut ditunjukkan dengan kata pujian
“ajmal min” „lebih cantik dari‟. Suatu rayuan biasa menggunakan kalimat yang maknanya terlalu berlebihan. Hal ini juga ditunjukkan dalam rayuan Ma>ru>t yang mengatakan bahwa Tamara lebih cantik dari bidadari. Dia melakukannya karena tidak ingin didahului Ha>ru>t dalam hal ini sehingga dia menggoda Tamara secara berlebihan.
(51) NDHM/2/68/92/RL
:
Ma>ru>t : Ana> ya> Tamara al-ladzi> katabtu shi>ghatal-chukm.
Walam yaf’al syaian ghaira‘t-tauqi>’i.
Tamara : Shachi>ch?
Ma>ru>t : Wa anti chaqqan ajmal minl-churil-‘i>ni fi>’s-sama>i wa inna ankara huwa hadzihil-chaqi>qah.
Ma>ru>t : “Tamara, akulah yang menulis berkas hukum itu. Dia tidak melakukan apapun selain menandatanganinya. “
Tamara : “Benarkah?”
Ma>ru>t : “Engkau benar-benar lebih cantik dari para bidadari di langit. Namun dia justru mengingkari kenyataan ini.”
Ma>ru>t membanggakan diri di depan Tamara dengan mengatakan bahwa dialah yang membuat surat keputusan pengadilan untuk memenangkannya dalam suatu kasus. Tamara bertanya “shachi>ch?” „benarkah‟ untuk memastikan apakah yang dikatakan Ma>ru>t benar. Namun, Ma>ru>t menjawab dengan “Wa anti chaqqan ajmal minl-churil-‘i>ni fi>’s-sama>i wa inna ankara huwa hadzihil-chaqi>qah.”
commit to user
„Engkau benar-benar lebih cantik dari para bidadari di langit. Namun dia justru mengingkari kenyataan ini.‟ Pernyataan tersebut tidak berhubungan dengan pertanyaan Tamara sehingga termasuk pelanggaran terhadap maksim relevansi.
Pelanggaran ini sengaja dilakukan dengan tujuan untuk menggoda Tamara. Apa yang ada di pikiran Ma>ru>t saat itu hanya cara bagaimana agar dia bisa mendapatkan Tamara sebelum Ha>ru>t.
(52) NDHM/1/9/12/PL
Ma>ru>t : Nasykuruki ya> Sayyidati> ‘ala> chusni shani>’iki.
Manat : (Taqrushu khadduha>) Ayyuha>l-fata>nul-jami>l la> tasykurni>
bilisa>nik!
Ma>ru>t : “Terima kasih atas segala kebaikan Paduka.”
Manat : (Tersenyum membelah pipinya)
“Hei pemuda tampan, jangan kau berterimakasih padaku dengan lisanmu!”
Pada penggalan dialog di atas, Ma>ru>t berterimakasih pada Manat atas segala kebaikannya menerima dirinya, Ha>ru>t, dan Uzrayail menjadi hakim baru Babilonia. Ucapan “syukran” „terimakasih‟ biasanya dibalas dengan “afwan”
„sama-sama‟ atau “asy-syukru li’l-La>h” „terimakasih untuk Allah‟. Namun, mendengar ucapan terimakasih dari Ma>ru>t, Manat justru menjawab “jangan kau berterimakasih padaku dengan lisanmu!” Jawaban Manat melanggar maksim pelaksanaan karena maksud yang terkandung di dalamnya kabur atau tidak jelas.
Hal ini sengaja dilakukan Manat untuk menggoda Ma>ru>t dan teman-temannya.
Selain itu, tujuan Manat menggoda mereka didukung dengan kramagung yang menunjukkan gerakan yang dilakukannya yaitu “(Taqrushu khadduha>)”
„(tersenyum membelah pipinya)‟. Senyum itu dapat diartikan senyum genit atau menggoda.
commit to user G. Menunjukkan Kekhawatiran
Salah satu tujuan dilakukan pelanggaran terhadap maksim prinsip kerja sama yaitu menunjukkan rasa khawatir dan takut dari dalam diri penutur. Dalam naskah drama ini ditemukan enam (6) data yang menunjukkan hal tersebut. Salah satu contohnya adalah sebagai berikut:
(53) NDHM/1/12/16/KT
Ma>ru>t : Na’u>du ila‘s-sama>`i?
Uzrayail : Fi> l-cha>l qabla an taltahimana>l-fitnata fil-ardhi.
Ma>ru>t : “Kembali ke langit?”
Uzrayail : “Saat ini juga, sebelum kita terjerumus dalam dosa di bumi.”
Pada penggalan dialog di atas, ditemukan pelanggaran terhadap maksim kuantitas. Hal tersebut ditunjukkan dalam tuturan Uzrayail ketika menanggapi pertanyaan Ma>ru>t. Dia bertanya, “Na’u>du ila‘s-sama>’i?” „Kembali ke langit?‟
Informasi yang dibutuhkan adalah penjelasan tentang apa yang dimaksud kembali ke langit oleh Uzrayail. Namun, Uzrayail menjawab “fi>l-cha>l” „saat ini juga‟ yang merupakan keterangan waktu. Informasi ini belum dibutuhkan oleh mitra tutur (Ma>ru>t dan Ha>ru>t) sehingga termasuk pelanggaran terhadap maksim kuantitas.
Uzrayail sengaja melanggar maksim kuantitas untuk menunjukkan kekhawatirannya pada Ha>ru>t dan Ma>ru>t. Dia khawatir akan jatuh dalam dosa di bumi. Hal ini ditunjukkan dalam kata “taltahimanal-fitnah” „terjerumus dalam fitnah‟. Dia mengatakan hal tersebut agar teman-temannya juga menyadari bahwa hidup di bumi sebagai manusia sangat berat dan berbeda dengan hidup di langit sebagai malaikat. Sebagai malaikat, Uzrayail tidak pernah khawatir akan terjerumus dalam dosa karena mereka hanya diberi ketaatan tanpa nafsu.
commit to user
Selain contoh tersebut, data berikut ini juga menunjukkan pelanggaran terhadap maksim prinsip kerja sama digunakan untuk menunjukkan kekhawatiran.
(54) NDHM/1/35/57/PL
(Tusmi’al-ashwa>tul-mu>si>qi> wal-ghina>`u min da>khilil- qashr)
Hermes : La> chaula wala> quwwata illa> bi’l-Lah. Ma> ka>na yanbaghi an nalbatsa fil-qashri chatta>l-an. Hayya> bina> nakhruju.
Al-malaka>ni : Ma> hadza> ya> sayyidi>?
Hermes : La’ibat biruu>sihim al-khamru fabadau> yalahhu>na wa yu’arbidu>na.
Al-malaka>ni : Yalahhu>na wa yu’arbidu>na?
(Terdengar suara musik dan lagu dari dalam istana) Hermes : ‚La> chaula wala> quwwata illa> bi’l-La>h. Kita tidak
seharusnya tetap di sini saat ini. Ayo kita keluar.”
Dua Malaikat : “Apa itu, tuan?”
Ha>ru>t : “Arak telah bermain di kepala mereka. Sekarang mereka mulai bersolek dan berkelakuan buruk.”
Dua Malaikat : “Bersolek dan berkelakuan buruk?”
Pada penggalan dialog di atas, Hermes sedang berbincang dengan Ha>ru>t dan Ma>ru>t setelah Ratu Ellat dan yang lain pergi ke pesta yang digelar oleh Uzza.
Hermes mengajak untuk tidak menghadirinya agar mereka tidak terpengaruh oleh keburukan dunia. Namun, suara berisik pesta tetap terdengar di telinga mereka.
Ha>ru>t dan Ma>ru>t tidak tahu sama sekali tentang suara berisik yang mereka dengar kemudian bertanya pada Hermes. Hermes menjawab “La’ibat biruu>sihim al- khamru fabadau> yalahhu>na wa yu’arbidu>na.” „Arak telah bermain di kepala mereka. Sekarang mereka mulai bersolek dan berkelakuan buruk.‟ Dia menjawab dengan tuturan yang kabur dan membingungkan sehingga Ha>ru>t dan Ma>ru>t
commit to user
kurang bisa memahaminya. Mereka berdua tidak tahu apa yang dimaksud Hermes dengan arak yang bermain di kepala manusia, bersolek, dan berkelakuan buruk di sana. Oleh karena itu, tuturan tersebut termasuk dalam pelanggaran terhadap maksim pelaksanaan. Hermes menuturkan kalimat tersebut untuk menunjukkan rasa khawatir agar Ha>ru>t dan Ma>ru>t tidak tertarik ke sana. Hal ini juga dipengaruhi oleh latar belakang Hermes yang selalu mengatakan suatu kebenaran dengan logis dan jelas bahkan cenderung tidak singkat. Namun pada percakapan di atas, Hermes menjawab dengan kalimat yang maknanya tidak dapat secara langsung diterima oleh Ha>ru>t dan Ma>ru>t. Sebenarnya dia dapat mengatakan dengan jelas bahwa itu adalah suara musik pesta dan di sana para pria dan wanita dipenuhi nafsu untuk saling menggoda dalam kemaksiatan. Namun, dia takut kedua malaikat itu akan terpengaruh dan tergoda untuk mengikutinya.
H. Menunjukkan Keheranan
Beberapa tokoh dalam drama ini sengaja melanggar maksim prinsip kerja sama dengan tujuan untuk menunjukkan rasa heran mereka atas apa yang disampaikan mitra tutur. Tujuan pelanggaran ini ditemukan dalam lima (5) data berupa pelanggaran terhadap maksim relevansi. Salah satu contohnya terdapat dalam dialog berikut:
(55) NDHM/102/109/RL
Ellat : A>manti al-an ya> Manat?
Manat : A>mantu ya> maulati>.
Ellat : (Fi> nasywah) Ila> ayyi kaukabin taftarichina an ash’uda?
Manat : Al-an?
commit to user Ellat : “Apa kau percaya sekarang Manat?”
Manat : “Hamba percaya, Yang Mulia.”
Ellat : (Dalam kesombongan) “Kau ingin aku pergi ke planet mana?”
Manat : “Sekarang?”
Percakapan ini terjadi ketika Ratu Ellat berniat memamerkan kekuatan baru yang didapatkan dari malaikat Ha>ru>t dan Ma>ru>t. Saat ini tidak ada orang lain yang mempunyai kekuatan serupa sehingga dia menganggap dirinya adalah Tuhan. Dia ingin meyakinkan Manat bahwa dia punya kekuatan luar biasa. Dengan sombong dia bertanya pada Manat “Ila> ayyi kaukabin taftarichina an ash’uda?” „Kau ingin aku pergi ke planet mana?‟ Tuturan tersebut membutuhkan jawaban berupa informasi tentang tempat. Namun, Manat menanggapi pertanyaan itu dengan mengatakan “al-an?” „sekarang?‟ Tuturan Manat ini melanggar maksim relevansi karena informasi yang diberikan tidak berhubungan dengan yang dibutuhkan mitra tuturnya (Ratu Ellat). Dia sengaja melanggar maksim relevansi karena ingin menunjukkan rasa herannya pada Ratu Ellat. Pelanggaran itu didukung dengan bentuk tuturannya yaitu hanya menggunakan zharaf zama>n „adverbia penunjuk waktu‟ “al-an” „sekarang‟ dan tanda tanya (?). Hal ini menunjukkan bahwa dia tidak menduga akan mendapat pertanyaan tentang terbang ke planet saat itu sehingga dia memberikan jawaban dalam bentuk pertanyaan singkat. Jika tidak ada maksud menunjukkan keheranan, Manat dapat bekerjasama secara langsung dengan menggunakan kalimat deklaratif untuk menyebutkan nama salah satu planet sesuai yang dibutuhkan mitra tuturnya (Ratu Ellat).
Contoh lain terdapat dalam dialog berikut:
(56) NDHM/1/31/50/RL
Ellat : La’allahu kariha an tawalla>l-qadha>’, fa‘nsalla kha>rijan
commit to user wa‘nsharafa.
Manat : Al-‘Aji>b ya> Maulati> annal-charsa wal-junu>da ‘ala> abwa>b, wa lam yara>hu minhum achadun.
Ellat : “Barangkali dia tidak suka menduduki posisi hakim, jadi dia menyelinap keluar dan kabur.”
Manat : “Anehnya Yang Mulia, para penjaga dan pengawal ada di setiap pintu tapi tidak ada satupun yang melihatnya.”
Pada dialog di atas, terdapat pelanggaran terhadap maksim relevansi. Hal tersebut ditunjukkan dalam tuturan Manat “Al-‘Aji>b ya> Maulati> annal-charsa wal- junu>da ‘ala> abwa>b, wa lam yara>hu minhum achadun.” „Anehnya Yang Mulia, para penjaga dan pengawal ada di setiap pintu tapi tidak ada satupun yang melihatnya.‟ Tuturan tersebut tidak berhubungan dengan topik tentang Uzrayail tidak mau menjadi hakim. Manat sengaja melanggar maksim relevansi untuk menunjukkan rasa heran. Keheranan Manat ditunjukkan dengan penggunaan kata
“al-‘aji>b” „anehnya‟ pada awal kalimat. Kata “al-‘aji>b” dalam bahasa Arab bermakna “ma> yad’u> ila>l-‘ajab” „yang menunjukkan keheranan, ketakjuban, atau kekaguman‟ (Majma‟ Al-Lughah, 2004: 584).
I. Membuat Penasaran
Selain tujuan-tujuan di atas, pelanggaran-pelanggaran terhadap maksim prinsip kerja sama digunakan untuk membuat mitra tutur penasaran. Penasaran adalah ketika seseorang sangat ingin hendak mengetahui sesuatu (KBBI, 2007:
848). Penutur seharusnya memberikan informasi yang jelas kepada mitra tutur.
Akan tetapi karena hal-hal tertentu, penutur justru dengan sengaja menanggapi mitra tutur dengan tuturan yang memunculkan rasa penasaran. Peneliti menemukan empat (4) data yang menunjukkan bahwa pelanggaran maksim dilakukan untuk tujuan tersebut. Salah satu contohnya adalah berikut: