BAB V KETERGANTUNGAN PETANI SAYUR TERHADAP
E. Memecahkan Problem Bersama
Dari penjelasan sebelumnya bahwa petani-petani sayur yang berada di Dusun lengki mengalami ketergantungan akan benih sayuran hasil produksi pabrik. Candu mereka membuat diri mereka terbelnggu akan sistem yang mengharapkan agar petani menggunakan benih pabrik sehingga membuat modal dan pengeluaran pada waktu penanaman benih sayur membutuhkan pengeluaran yang cukup besar setiap bulannya. Hal itu tidak sebanding dengan hasil materi yang didapatkan ketika panen tiba.
Untuk menyelesaikan masalah utama tersebut kiranya dibuutkan potensi alternatif yang ada dalam masyarakat sendiri. Diantara potensi tersebut ialah SDM sebagian petani yang ahli dalam budidaya pembenihan benih sayur dan potensi alam sekitar yang menyediakan segala unsur dalam kegiatan tersebut terlebih lagi alam menyediakan tanaman-tanaman sebagai peninjang dalam mengusir dan mencegah adanya hama dengan sebutan PHT (pengendalian hama terpadu).
Gambar 5.7 FGD (focus group discussian) II mrencanakan aksi lanjutan
Sumber: Dokumen Peneliti
Pada proses pendampingan ini, harapan dan capaian dari pendamping sendiri adalah terciptanya kemampuan petani sayur dalam mengatasi ketergantungan petani sayur terhadap benih pabrik yag membuat lemahnya kemandirian petani sayur dalam pembenihan secara mandiri. Jika hal ini berhasil maka pengeluaran petani dapat terkendalikan dan tidak bertambah, sebab petani mampu untuk menciptakan benih sayur secara mandiri . Melalui kegiatan FGD
(focus group discussian) II pada tanggal 13 Juni 2016 pukul 19.00- selesai. FGD
dihadiri 10 petani sayur, kemudian dapat diperoleh sebuah jalan alternatif untuk membangun kemandirian petani sehingga terlepas dari ketergantungan benih pabrik yang selama ini mereka alami. Pada dasarnya semua itu disebabkan oleh tiga hal yaitu faktor manusia, lembaga dan kesadaran. Maka dari itu harapan program dalam penelitian ini adalah:
1. Keahlian petani sayur dalam membuat benih secara mandiri
Sampai saat ini hampir dari 20 keluarga petani sayur dalam proses pertanian sayur mereka dilakukan dengan menggunakan benih pabrik, meskipun demikian masih terdapat salah seorang petani yang tetap membudayakan untuk melakukan pembenihan secara mandiri. Oleh karena itu pendamping akan mengorganisir petani untuk menciptakan benih secara mandiri agar tidak bergantung pada benih pabrik yang membuat mereka semakin lama meninggalkan keahlian pembenihan secara mandiri.
2. Menguatnya persepsi petani bahwa benih hasil pembenihan secara mandiri lebih baik dari pada benih pabrik
Untuk dapat menguatkan persepsi petani dalam penggunanaan benih hasil pembenihan secara mandiri perlu adanya pembuktian hasilnya. Maka dari itu dalam proses pendampingan akan dilakukakn uji coba guna melihat seberapa jauh perbedaan hasil dari benih pabrik dengan benih sayur yang dibuat secara mandiri sehingga nantinya para petani akan tergerak dan menyadari potensi pembenihan yang dilakukan secara mandiri.
3. Terwujudya lokasi uji coba pembuatan benih secara mandiri
Lembaga yang ada pada petani Desa Suruh saat ini hanyalah kelompok petani padi yang mana hanya fokus untuk pengembangan pertanian padi sehingga untuk pertanian sayur sendiri petani terlihat berjalan sendiri-sendiri tanpa ada koordinasi dengan para petani sayur lainnya. Apabila nantinya terbentuk kelompok sayur sendiri, maka diharapkan kelompok sayur itu lebih bermanfaat bagi petani baik dalam menjalin komunikasi antar petani sayur
maupun tukar pikiran dalam penanganan proses pertanian sayur yang lebih baik salah satunya yaitu petani sayur dapat menentukan lokasi uji coba membuat benih yang selanjutnya melakukan penyemaian dalam pembuatan benih secara mandiri.
Untuk mengetahui kejelasannya, akan digambarkan pada uraian singkat Analisis pohon harapan di bawah ini:
Bagan 5.3
Analisis pohon harapan hilangnya ketergantungan benih pabrik sehingga terbangun kemandirian petani sayur
Keuntungan petani
pengeluaran petani dalam proses pertanian tidak
bertambah
terbangunnya keterampilan kemandirian
pembenihan
tidak memilih hal yang instant
menguatnya keahlian petani dalam kemandirian benih
Hilangnya Ketergantungan Petani Sayur Terhadap Benih Pabrik sehingga Terbangun Kemandirian petani sayur
tersedianya lokasi objek dalam uji coba
membuat benih kuatnya persepsi
petani bahwa benih lokal hasil petani
lebih baik adanya keterampilan dalam membuat benih adanya pengetahuan dalam pembenihan melakukan uji coba membuat benih adanya pelatihan petani dalam pembuatan benih yang berkualitas adanya pembuktian benih hasil pembenihan petani lebih baik adanya kesadaran petani untuk memanfaatkan benih petani lokal aktifnya kelompok tani sayur ada inisiatif untuk
mengelola benih unggul hasil kemandirian petani
Dari analisis pohon harapan tersebut, diharapkan masyarakat mampu mandiri dan melepaskan diri dari ketergantungan benih pabrik sehingga petani mampu untuk menciptakan kemandirian benih sayur. Berikut adalah alternatif dalam mengembangkan pertanian sayur yang tujan utamanya adalah mewujudkan kemadirian petani sehingga tidak terlalu bergantung akan faktor luar diantaranya benih produksi pabrik, antara lain adalah sebagi berikut:
1. Mewujudkan Kemandirian pertanian sayur
Tujuan utama dalam kemandirian petani sayur yakni mengubah cara pandang yang awalnya petani sangat bergantung pada produk-produk pabrik dalam proses pertanian sayurnya meliputi: benih, pestisida, pupuk kemudian petani mampu untuk mandiri terbebas dari ketergantungannya terhadap benih maupun pupuk kimia pabrik. Agara terwujud kemandirian petani sayur maka perlu mengorganisir petani sayur dalam menciptakan kemandirian benih sayur dan pengembangan pertanian sayur yang ramah lingkungan dan efisien, diantaranya:
a) Pelatihan pembuatan benih secara mandiri
b) Uji coba menciptakan benih bersama petani sayur lokal yang ahli membuat benih sebelumnya dalam pengembangan pertanian sayur di Dusun Lengki
c) Menciptakan pengendalian hama terpadu sebagai pertanian sayur yang ramah lingkungan
2. Penyadaran tentang keunggulan benih hasil kemandirian petani
Maksud dari penyadaran petani akan potensi benih secara mandiri ini ialah untuk menguatkan persepsi petani yang selama ini menganggap benih lokal hasil pengembangan petani sayur sendiri kurang baik jika dibandingkan benih pabrik, padahal selama ini petani belum pernah melakukan perbandingan. Untuk bisa meujudkan kesadaran petani sendiri dibutuhkan pembuktian dan selain itu dalam proses penyadaran ini penadamping akan memaparkan kalkulasi pengeluaran bila petani sayur mampu melakukan pembenihan secara mandiri maka akan meminimalisir proses pertanian sayur atau menekan biaya pertanian dan meningkatkan hasil pertanian dari sebelumnya.
BAB VI
MELESTARIKAN PENGETAHUAN LOKAL MENUJU KEMANDIRIAN PETANI
A. Membangun Kesadaran Petani Sayur untuk Memecahkan Masalah
Dewasa ini, kecenderungan yang terjadi dikalangan msyarakat umum ialah menggunakan suatu produk yang praktis dan mudah digunakan. Hal itu seperti yang terjadi pada petani sayur yang ada di Lengki. Mereka beranggapan bahwa benih pabrik membuat mereka lebih mudah dalam pertaniannya, akan tetapi disisi lain petani secara tidak langsung mengalami ketergantungan dalam masalah benih dan petani selalu berharap benih pabrik menghasilkan produktifitas hasil yang maksimal ketika panen tiba.
fenomena tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena nantinya akan membenuk karakter petani yang bergantung pada pihak luar dan semakin meninggalkan kemandirian yang sebelumnya mereka miliki. Untuk menuju sebuah perubahan, perlu adanaya musyawarah pada petani dengan berpikir kritis. Aksi yang mendukung untuk membangun kesadran petani sayur dalam meningkatkan kemandirian mereka yakni mensadarkan petani bahwa selama ini petani mampu untuk membut benih sendiri di ladang mereka, tanpa merasa bergantung sepenuhnya terhadap benih pabrik. Melalui kegiatan FGD(focus group
discussian) II pada tanggal 13 Juni 2016 pukul 19.00- selesai. FGD dihadiri 10
petani sayur, kemudian dapat diperoleh sebuah jalan alternatif pemecahan. Dengan diskusi melalui FGD masyarakat mulai mengenali diri mereka sendiri,
yaitu petani yang mempunyai ilmu pengetahuan lokal untuk menciptakan benih sendiri di ladang mereka.
Tidak hanya itu, proses penyadaran pada petani sebelumnya kurang berjalan maksimal. Dikarenakan petani yang selama ini kurang mempunyai akses informasi dalam pengetahuan budidaya benih merasa kemampuan mereka kurang terasahdalam budidaya pembenihan. Untuk mendukung kesadaran yang akan timbul perlu mengajak beberapa petani yang ahli dalam pembenihan, tujuannya yaitu menyalurkan pengalaman mereka sebagai pendorong dalam aksi berikutnya. Selanjutnya petani bersama pendamping berdiskusi kecil untuk mengakalkulasi pengeluaran jika petani membeli banih dari produksi pabrik. Dari sinilah mulai ada titik terang, selama diskusi berlangsung petani mengkalkulasi setiap benih pabrik yang digunakan setiap masa tanam, dalam setiap masa tanam setidaknya minimal petani menggunakan benih pabrik dengan 3 jenis tanaman. Dan itu pun lebih dari 2 Kg setiap jenisnya. Maka jika semua petani yang ada di dusun Lengki yaitu berjumlah 20 KK menggunakan benih produksi pabrik, didapatkan keseluruhan benih yang dibeli dari total 20 KK yang ada di Lengki minimal mencapai Rp. 7.500.000.
Penuturan Naim menambah jelas tentang pengeluaran total dari seluruh petani yang ada di Dusun Lengki yakni kebutuhan benih pabrik petani sayur dari 20 petani di Dusun Lengki sendiri mencapai 50-70 kg setiap bulannya meliputi setiap tanaman seperti kangkung, bayam, sawi, kenikir. Sedangkan pada saat ini benih pabrik mencapai Rp.30.000- Rp. 50.000 perkilonya.62 Jika petani
62
seluruhnya menanam tiga macam sayuran (bayam, kangkung, sawi) maka total pengeluaran benih setiap bulannya Rp.50.000 x 50 kg x 3 = Rp. 7.500.000 untuk keseluruhan petani sayur yang ada di Dusun Lengki. Jumlah tersebut belum termasuk biaya yang dikeluarkan dalam proses pengerjaan lahan dan perawatan. Dari hasil perhitungan tersebut maka, jika seluruh petani tidak menggunakan benih pabrik melainkan menggunakan benih hasil kemandirian petani lokal maka petani mampu memangkas jumlah uang tersebut sehingga total jumlah uang Rp. 7.500.000 tersebut tidak keluar dari Lengki, dengan kata lain petani mampu menahan uang itu tidak keluar dari daerahnya.
Dengan mengetahui jumlah kalkulasi yang dikeluarkan hanya untuk pembelihan benih, para petani mulai menyadari akan besarnya dampak pengeluarannya. Disisi lain petani memiliki pengetahuan lokal sebagaimana beberapa petani memiliki ilmu dan pengalaman dalam pembenihan secara mandiri. Dengan potensi yang dimiliki, petani sayur Lengki mulai terbangun kesadaran dalam pembenihan yang dilakukan secara mandiri yang tujuan utamanya ialah keluar dari bayang-bayang ketergantungan benih pabrik yang selama ini mereka alami.
Gambar 6.1 Aksi membangun kesadaran petani secara persuasif
Sumber: Dokumen Peneliti
Aksi untuk menciptakan kesadaran kepada petani tidak semudah memberi informasi kepada seseorang. Perlu upaya lanjutan kepada petani lain dalam pendekatan secara persuasif. Pendekatan yang dilakukan oleh pendamping diantaranya menanamkan motivasi bahwa petani ialah petani yang mandiri. Pendamping bersama Jono pada pagi hari, selasa tanggal 21Juni 2016 setelah menjalankan kegiatan pertanian berdiskusi kecil untuk menggugah pengalaman lokal dalam pembenihan. Bapak Jono pun menyadari akan ketidakberdayaan dikala harga jual benih melambnug, disisi lain seharusnya petani mampu untuk melakukan pembenihan sendiri. Dari sinilah sudah mulai terlihat pemikiran kritis untuk menciptakan perubahan sosial selanjutnya.
B. Budidaya Benih sebagai Wujud Kemandirian
Sebagai proses untuk menuju kemandirian petani sayur dalam budidaya benih agar terlepas dari ketergantungan terhadap benih pabrik. Salah satu langkah untuk mewujudkannya ialah turun langsung melakukan uji coba budidaya benih
untuk mengahsilkan benih dikalangan petani sayur. Setelah petani terbangun memiliki kesadaran untk berubah maka kegiatan pembenihan dapat dilaksanakan. Pada kegiatan yang termediasi melalui Diskusi kecil FGD (focus group
discussian)ke III pada tanggal 18 Juni 2016, terdapat beberapa petani sayur yang
berkeinginan untuk melakukan pembenihan sendiri. Melalui ilmu yang ditularkan sebelumnya oleh petani ahli yakni bapak Tomo salah satunya, kemudian terdapat 4 orang KK yang berniat untuk membudidaya benih sendiri. Pada kesempatan awal ini petani hanya bisa membudidaya beberapa jenis tanaman saja diantaranya bayam, kenikir dan kengkung saja. Dikarenakan pada musim pancaroba ini petani hanya berani membuidayakan tanaman tertentu karena jika mereka menanam sawi untuk diambil benihnya, dikhawatirkan akan mengalami kegagalan. Sawi tidak akan bisa tumbuh maksimal bahkan rusak jika ditanam saat musim penghujan. Namun jika ditanam saat musim kemarau, sawi akan mengalami peteumbuhan yang baik.
Kegiatan pembenihan ini dilakukanoleh 4 orang KK dari 10 petani yang mengikuti pendampingan , empat orang tersebut ialah said (56), Kabol (58), Edy (45) dan Naim (59). Kegiatan ini dilakukan bersama-sama oleh sebagian petani di ladangnya masing-masing. Pendamping yang memiliki keterbatasan ilmu pertanian tidak begitu tau tentang cara pembenihan yang seharusnya. Namun pendamping berusaha untuk ikut serta dalam melukukan pembenihan ini, melalui pengalaman dan ilmu yang sebelumnya didapat oleh petani lain yang sebelumnya ahli dalam budidaya pembenihan.
Gambar 6.2 Membersihkan lahan sebelum ditanami benih
Sumber: Dokumen Peneliti
Bapak Tomo sebagi ahli pembenihan melakukan beberapa arahan kaitannya dengan langkah-langkah mendapatkan benih sayur bayam yang maksimal. Proses mendapatkan benih bayam sendiri tidak begitu rumit, kerena hanya ada dua cara yang dipakai. Dua cara tersebut yaitu membiarkan sebagian tanaman dengan menyisakan saat panen atau berniat langsung menanam tanaman dengan tujuan sepenuhnya dijadikan benih.
Gambar 6.3 Proses persiapan lahan uji coba pembenihan
Hal yang menjadi langkah awal ialah memilih lahan untuk dijadikan tempat penebaran benih sayur. Benih sayur sendiri awalnya dipinjamkan oleh Bapak Tomo kepada petani yang bermaksud untuk melakukan pembenihan, selanjutnya benih dapat ditebarkan rata pada area yang sudah ditentukan.Ada yang unik dalam proses penebaran benih ini. Petani menggunakan media pasir untuk mempermudah dalam penebaran benih tanaman sayur.
Gambar 6.4 Menyebar benih secara tradisional
Sumber: Dokumen peneliti
Setelah benih disebar maka cukup menunggu hasil benih yang diinginkan dengan perawatan yang sederhana yaitu cukup menyiraminya saja. Proses untuk melakukan pembenihan ini relatif cukup lama yakni 75 hari. Mungkin karena waktu yang relatif lama ini membuat sebagian petani enggan untuk melakukan pembenihan sendiri.
Dengan keterbatasan waktu, maka pendamping hanya melakukan aksi sampai proses pertumbuhan saja. Karena waktu yang dibutuhkan untuk menuai benih dari tanaman bayam yakni berumur 75 hari, akan tetapi respon dari bapak Naim selaku petani yang berusha melakukan pembenihan secara mandiri merasa
bersyukur melihat tanaman bayam yang berumur satu bulan lebih ini yang nantinya akan diambil benihnya tumbuh dengan baik.
Gambar 6.5 Tanaman bayam untuk pembenihan umur 50 hari
Sumber: Dokumen Peneliti
Dalam waktu 75 hari nantinya tanaman akan mengeluarkan biji dari bunganya. Setelah tanaman betina umur 60-80 hari, benih sudah bisa dipanen. Biji itulah yang nantinya akan dijadikan benih untuk melakukan kegiatan tanam selanjutnya. Untuk mengeluarkan benih atau memisahkan benih dari bunga tahap selanjutnya ialah pengeringan selama 2-3 hari. Jika bunga tanaman bayam dirasa kering maksimal, maka hasil bayam yang sudah kering tadi digeblok atau dupukul
menggunakan kayu agar terpisah antara biji dan tanaman. Selanjutnya, bunga- bunga tersebut diayak untuk memisahkan biji dengan kelopak dan pembungkus biji. Biasanya petani juga memilih untuk menggilinya pada penggilingan padi yang lewat disekitar wilayah Lengki.
Melihat begitu banyaknya bunga yang mekar pasti petani senang kerena otomatis biji bayam juga akan melimpah. Dengan bukti hasil yang didapatkan pasti nantinya akan membangun kesadaran terhadap patani lain untuk ikut
melakukan budidaya benih sendiri tanpa harus menggantungkan benih dari pihak luar yaitu pabrik penghasil benih unggul. Sesuai pengalaman yang terjadi, benih budidaya lokal ini cukup lama ketahananya yakni tiga kali pembenihan atau biasa disebut generasi ketiga. Benih generasi ketiga tersebut masih mengahsilkan tanaman yang cukup baik. Hasilnya pun tidak kalah jauh berbeda dengan benih hasil pabrik.
Dengan melestarikan pengetahuan lokal petani, sejatinya setiap problem yang ada pasti dapat diselesaikan karena pengetahuan lokal tersebut didapat dari hasil pengamatan, pengalaman, dan kebiasaan masyarakat yang terjadi pada kegiatan pertanian sehari-hari. Seperti halnya budidaya benih ini, pasti semua petani mampu untuk melakukannya, dengan syarat petani tersebut bangga akan pengetahuan lokal yang dimiliki dan mau untuk kembali mempraktekannya.
C. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Sebagai Pengganti Pestisida Kimia
Hama merupakan musuh bagi para petani. Tapi umumnya para petani memilih menggunakan pestisida kimia untuk mematikan hama. Secara tidak langsung hal tersebut akan menambah permasalahn baru, semisal tanah akan menjadi rusak karena unsur senyawa kimia yang ada, dan selain itu hewan pemangsa alami hama atau disebut predator hama akan ikut mati sehingga musuh alami hama penyakit juga akan hilang.
Untuk menaggulangi pemakaian pestisida kimai para petani mulai menggunakan alternatif dari bahan alami yang ramah lingkungan. Hal tersebut juga dilakukan oleh sebgian petani sayur Lengki. Melalui kesadaran yang timbul,
petani lengki bersama pendamping di lapangan mulai menerapkan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang bahannya tebuat dari tanaman dan berad disekitar lahan sayur Lengki. Pada tahap awal ini yaitu pada tanggal 23 Juni 2016 pendamping berdiskusi bersama Bapak Tomo selaku lokalider dan merupakan petani sayur senior yang memiliki pengalaman di bidang pertanian khususnya sayur. Pendamping memiliki usul agar pertanian sayur yang ada di Lengki menggunakan konsep PHT sebagai alternatif pencegahan serangan hama diantaranya hama ulat, walang sangit, dan tungau yang biasa menyerang daun berbagai jenis tanaman sayur seperti bayam, kangkung, sawi dan lain sebagainya.
Awalnya bapak Tomo kurang memahami apa yang dimaksud konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) kareana beliau tidak pernah mengikuti pelatihan pertanian. Kemudian setelah dijelaskan oleh pendamping yang dimaksudkan PHT ialah tanama-tanaman yang selama ini menjadi musuh hama diantara cirinya ialah daunnya tidak pernah terserang ulat. Selain itu dampak yang ditimbulkan tidak bereaksi pada tanaman itu sendiri, tanah dan tidak mematikan predator alami hama yang ada pada area semprotan.
Setelah memperoleh penjelasan tersebut Bapak Tomo menyadari bahwa sebagian tanaman yang ada di tegalan sayur beberapa diantaranya tidak pernah terserang ulat daun. Daun yang dimaksudkan Tomo (60tahun) ialah kenikir, kemangi, daun sirsak, dan daun pepaya. Semua itu merupakan ilmu lokal yang dimiliki petani.
Berangkat dari diskusi tersebut, maka selanjutnya Bapak Tomo yang dianggap oleh pendamping sebagai lokalider penggerak perubahan mulai berpikir
tentang konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Kemudian melalui informasi yang didapat dari internet, pendamping dan bapak Tomo berinisiatif membuat pestisida cair alami yang didapat dari alam sekitar. Selain itu, akan ditanam beberapa tanaman yang tidak disukai hama di sekitar area tegal sayur yang tujuan utamanuya ialah mengusir hama tersebut.
Untuk tanaman yang dijadikan pengendalian hama terpadu ialah tembelekan, kenikir dan kemangi. Tanaman tersebut ditanam disekitar area tegalan. Dengan baunya yang khas, hama walang sangit dan kepik akan pergi dari area tersebut. Kemudian penadmping bersama bapak Tomo mulai mengekstrak tanaman-tanamn yang dianggap sebagai pengendali hama, selanjutnya akan disemprotkan pada area yang terserang hama.
Pestisida nabati dari kenikir, tembakau, daun kemangi, daun pepaya, daun sirsak dan sedikit bawang putih dibuat dengan menghaluskan semua campuran berbagai jenis bahan tersebut, campuran masing-masing daun ±500 gram , kecuali tembakau penggunaannya satu genggam. Semua bahan dihaluskan dan dicampur dengan menggunakan blender atau ditumbuk. Campuran ini kemudian dilarutkan dalam air satu liter atu sesuai yang diinginkan asalkan tidak terlalu kental. Larutan didiamkan selama satu malam/24 jam. Saring larutan yang telah didiamkan satu malam tersebut. Larutan hasil saringan ditambah sedikit detergen. Detergen berfungsi sebagai pengempulsi larutan. Larutan pestisida ini diaplikasikan dengan mengencerkan 500 ml larutan kedalam 10 liter air, baru kemudian digunakan.
Gambar 6.6 Petani mengekstrak bahan PHT
Sumber: Dokumen Peneliti
Larutan hasil dari campuran bahan-bahan tersebut dapat mengsuir hama tanaman diantaraanya kepik, walang sangit, ulat daun, wereng dan tungau. Penggunakan konsep PHT ini sekali lagi tidak mematikan predator alami dari hama tanaman. Dengan adanya konsep PHT yang murah ini, memberikan kemudahan bagi para petani. Petani memiliki alternatif pencegahan hama tanpa sepenehunya menngunakan bahan kimia yang merusak lingkungan.
BAB VII REFLEKSI
A. Kemandirian Petani Terbebas dari Ketergantungan
Benih merupakan kebutuhan utama dan menjadi faktor penentu dalam prodiktifitas hasil pertanaian. Benih syuran produksi pabrik kini telah menjadi candu tersendiri di kalangan masyarakat petani. Sebagaimana yang terjadi di Dusun Lengki, awalnya meskipun mereka mengakui akan harga benih yang tinggi dan membuat mereka merasa dipermainkan oleh harga pasaran pabrik. Para petani tetap menggunakannya, mereka seakan candu, ketergantungan terhadap benih pabrik dan mereka seakan tidak mempunyai pilihan untuktidak menggunakannya. Sistem yang membelenggu mereka membuat petani sulit untuk keluar dari lingkaran sistem tersebut. Terlebih lagi fenomena ini juga tidak lepas dari program Revolusi Hijau BIMAS (bimbingan masyarakat) yang diterapkan di
Indonesia yang mana program tersebut tujuannya ialah dengan meningkatkan pertanian melalui benih-benih unggul hasil rekayasa genetik, pupuk, dan pestisida kima untuk penaggulanagn hama. Dengan adanya gebrakan itu para petani menyambut antusias dengan membeli produk-produk pertanian pabrik yang kemudian lambat laun meninggalkan kearifan lokal yang dimiliki petani dalam hal pertanian mereka.
Akhirnya melalui kemandirian yang dibentuk oleh petani dalam pembenihan mandiri dan menciptakan konsep PHT (pengendalian hama terpadu) petani mulai membangun kemandiriannya. Sesuai dari martabat manusia yang