1. Pelanggaran terhadap Pasal 11: secara tanpa hak membawa, atau mengedarkan, atau menjual, atau menggunakan NAPZA.
2. Pelanggaran terhadap KUHP karena melakukan tindak krimal berat yang telah divonis hakim secara final dan pasti.
3. Pelanggaran berat terhadap BAB II Sikap dan Tingkah Laku Secara Umum berupa: terlibat secara aktif sebagai pelaku tindak kekerasan/penganiayaan berat, baik fisik (termasuk pelecehan seksual/pemerkosaan) maupun mental, terhadap Dosen Fakultas Kedokteran Unsri, atau Karyawan Fakultas Kedokteran Unsri maupun Karyawan RS/Pusekesmas lahan kegiatan KK, atau sesama Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsri, atau Pasien RS/Puskesmas lahan kegiatan KK. SANKSI
Minimal:
Skorsing selama satu tahun dari Fakultas Kedokteran Unsri. Maksimal:
Dikeluarkan/diberhentikan dari Fakultas Kedokteran Unsri.
PENJELASAN TENTANG SANKSI TENTANG
A. PELANGGARAN RINGAN
Setiap orang suatu saat bisa berbuat khilaf, sehingga tanpa disadarinya telah berbuat melanggar ketentuan suatu aturan. Hal ini manusiawi. Oleh karena itu semua bentuk pelanggaran yang dilakukan
secara tak disengaja/tak disadari, pada prinsipnya tidak perlu diberikan sanksi. Tetapi untuk mendidik si pelanggar agar kelak lebih berhati-hati sehingga tidak terjadi pelanggaran lagi, maka perlu diingatkan (diberi peringatan) supaya dia mengerti dan sadar bahwa dia telah melakukan pelanggaran disiplin.
Bila kesalahan ringan tersebut masih bisa diperbaiki pada saat itu juga setelah mendapat peringatan Dosen/Ketua Bagian atau yang berwenang untuk itu, maka si Pelanggar boleh tetap mengikuti kegiatan yang sedang berlangsung saat itu. Misalnya, seorang/beberapa Mahasiswa mengobrol ketika mengikuti kuliah. Dosen yang memberi kuliah menegur mereka dan mereka memperbaiki kesalahan saat itu juga. Mereka tetap boleh ikut kuliah. Contoh lain, beberapa Mahasiswa asyik mengobrol dan bercanda, saat itu salah seorang Dosen lewat di belakang mereka, mereka tak melihatnya, tanpa sengaja diantara mereka ada yang bergerak ke arah belakang secara mendadak sehingga menabrak sang Dosen. Bila Mahasiswa tersebut langsung meminta maaf atas kehilafannya, Sang Dosen cukup menegur dengan peringatan: “Lain kali hati-hati”, maka kesalahan Mahasiswa tersebut dinilai telah diperbaiki
Bila kesalahan karena memakai pakaian yang terlarang, misal memakai kaus oblong, atau rok mini, atau celana jeans, atau mode rambut berwarna selain dari hitam/warna sama dengan aslinya, kesalahan mana tidak bisa diperbaiki segera saat itu juga tetapi memerlukan waktu, maka si Pelanggar baru boleh ikut kuliah lagi setelah dia memperbaiki kesalahannya. Selama tidak ikut kegiatan intrakurikuler karena kesalahan belum diperbaiki, maka hari-hari tidak masuk tersebut dihitung sebagai hari absen. Apabila kesalahan telah diperbaiki maka boleh masuk kembali.
Perlu direnungkan, bahwa suatu tindak pelanggaran yang hanya dinilai dengan salah atau benar tidak akan menemukan akar permasalahannya. Hendaknya juga dikaji faktor-faktor predisposisi , faktor penyebab dan faktor pencetusnya. Misalnya, ada ketentuan aturan dalam ujian tertulis (biasanya tertera di bagian atas halaman soal) sebagai PETUNJUK : “bekerjalah sendiri dengan tenang”. Karena si
Mahasiswa peserta ujian sedang menghadapi masalah di rumah ( faktor predisposisi ) maka dia tidak dapat belajar dengan optimal sehingga penguasaan materi pelajaran untuk menghadapi ujian sangat minim ( faktor penyebab). Bila ada kesempatan untuk menyontek ( faktor pencetus), maka Mahasiswa tersebut menyontek, terjadilah pelanggaran disiplin terhadap ketentuan dari aturan ujian tersebut. Penilaian bahwa si Mahasiswa tersebut bodoh makanya di menyontek, dan perlu diberi sanksi, akan menambah dia tertekan berlebihan sehingga bisa mengalami depresi. Tindakan PA yang lebih bermanfaat baginya memberikan nasihat atau pembinaan yang agak lebih serius, bila tidak juga berhasil dapat merujuknya ke UBKM. Unit Bimbingan dan Konseling Mahasiswa akan membantu mencari jalan terbaik bagi mengatasi masalah yang sedang dihadapinya. Bila masalahnya cukup kompleks dan
penyelesaiannya membutuhkan waktu agak lama, mungkin disarankan untuk stop out sampai kondisinya memungkinkan untuk mengikuti studi kembali.
Dalam Pasal-Pasal yang memuat ketentuan : ikut memelihara perlu dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan ikut memelihara adalah memelihara secara pasif , yaitu paling tidak adalah tidak mengganggu situasi/kondisi, atau ketertiban/ketenangan, atau keindahan/kebersihan yang sudah ada; bila tidak sedang mempergunakan fasilitas, atau peralatan, atau barang milik Fakultas Kedokteran Unsri tersebut, tidak mengotori atau mengganggunya atau yang lebih berat dari itu. Bila sedang menggunakan, gunakan dengan semestinya, dan setelah selesai harus melakukan prosedur pemeliharaan/pengembalian ke keadaan/posisi semula yang baik dan benar (yang berkewajiban memeliharan secara aktif dan kontinu adalah petugas resmi yang ditetapkan oleh fakultas).
Perbuatan melanggar secara tidak sengaja tetapi bersifat kriminal, misalnya berkenaan dengan pelanggaran KUHP seperti bila melanggar Pasal 4 Ayat 1 tentang pelanggaran terhadap UU, atau Pasal 7 tentang larangan membawa senjata di kampus, atau Pasal 8 dan Pasal 38 tentang NAPZA, atau Pasal 25 tentang joki, atau Pasal 40 tentang melanggar KUHP/UU dalam pelaksanaan tugas KK/Residensi, atau Pasal 43/Pasal 44/Pasal 45 tentang pemalsuan dokumen, tak tergolong dalam kategori PELANGGARAN RINGAN (lihat pelanggaran kategori SEDANG, BERAT dan SANGAT BERAT).
B. PELANGGARAN SEDANG
SANKSI MINIMAL
Pelanggaran ringan oleh Mahasiswa yang sama secara tidak sengaja untuk kedua kalinya terhadap Pasal-Pasal yang mengatur tentang penampilan dan kesopanan (bukan kriminal), perlu mendapat peringatan agak serius. Dosen/Ketua Bagian yang menemukan/menghadapi kesalahan Mahasiswa tersebut perlu menginformasikannya kepada PA nya. Pembimbing Akademik (PA) Mahasiswa yang tersebut akan melakukan pembinaan agak serius agar si mahasiswa tersebut tidak melakukan pelanggaran yang serupa lagi dimasa yang akan datang.
Pelanggaran ringan tetapi disadari/disengaja, maka dapat digolongkan pelanggaran sedang, bahkan bila ada indikasi atau pertimbangan yang rasional kuat dapat digolongkan sebagai pelanggaran berat. Misalnya sengaja dan tanpa alasan yang dapat diterima, memakai pakaian terlarang di dalam kampus
saat ikut kegiatan intrakurikuler. Tetapi bila ada alasan yang dapat diterima, misalnya sengaja memakai sandal waktu kuliah karena kakinya cedera dan tidak bisa memakai sepatu, maka dinilai bukan sebagai pelanggaran.
Bila pelanggaran tidak disengaja tapi sampai mengakibatkan kerusakan atau hilangnya peralatan, maka si pelanggar wajib memperbaiki kerusakan itu atau menggantinya dengan yang baru.
Bila ada indikasi/kesan bahwa pelanggaran terjadi mungkin berkaitan dengan masalah kejiwaan, atau masalah pribadi dalam keluarga Mahasiswa yang kompleks, maka dapat dirujuk ke UBKM untuk dilakukan evaluasi serta bimbingan/konseling. Setelah itu UBKM akan memberikan rekomendasi kepada Dekan tentang tindakan apa yang perlu dilakukan terhadap Mahasiswa tersebut. Rujukan ke UBKM dapat dilakukan oleh Dekan/WD/PA untuk semua kategori pelanggaran bila dipandang perlu.
SANKSI MAKSIMAL
Bila menurut pertimbangan Dosen/Ketua Bagian terkait bahwa pelanggaran tersebut mengakibatkan terhentinya kegiatan Fakultas Kedokteran Unsri secara total atau terganggunya fungsi RS/Puskesmas lahan kegiatan KK selama sehari atau lebih, atau ada pertimbangan objektif lain yang kuat, maka dapat dipertimbangkan pemberian skorsing selama 1 (satu) bulan. Sanksi skorsing ini harus atas persetujuan sidang Senat Fakultas, dimana Mahasiswa terancam skorsing tersebut diberi kesempatan untuk membela diri atau memberi penjelasan yang mungkin dapat membatalkan skorsing atasnya itu.
C. PELANGGARAN BERAT DAN D. PELANGGARAN SANGAT BERAT
Pengambilan keputusan skorsing satu tahun, atau dikeluarkan dari Fakultas Kedokteran Unsri, dilakukan di dalam Rapat Senat Fakultas, dengan mempertimbangkan hal-hal yang meringankan dan memberatkan serta buruk-baik putusan tersebut bagi Mahasiswa, bagi institusi Fakultas Kedokteran Unsri/Unsri, maupun bagi masyarakat. Mahasiswa terkait diberi hak untuk membela diri dihadapan sidang Senat, atau memberikan informasi masukan yang mungkin dapat meringankan sanksi yang akan diberikan kepadanya.
Bila si Mahasiswa mendapat hukuman penjara karena pelanggaran berat UU Lalu Lintas berupa menghilangkan nyawa orang karena kelalaian (menabrak orang bukan disengaja sehingga korban