• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memerangi Kemiskinan: Peluang dan Tantangan

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang (Halaman 52-55)

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Desa Jagoi

4.3. Temuan dan Pembahasan

4.3.3. Memerangi Kemiskinan: Peluang dan Tantangan

Kemiskinan merupakan masalah multidimensi karena berkaitan dengan ketidakmampuan akses secara ekonomi, sosial budaya, politik dan partisipasi dalam masyarakat. Bagi Indonesia sendiri, kemiskinan masih merupakan persoalan yang menjadi beban berat, terutama dikaitkan dengan isu kesenjangan yang semakin melebar antara yang kaya dan miskin. Sebagai bagian dari anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Indonesia tentunya berkomitmen untuk mengatasi persoalan kemiskinan seiring dengan deklarasi SDGs (Sustainable Development Goals)/Tujuan Pembangunan berkelanjutan. Itu artinya Indonesia juga dituntut untuk mewujudkan target yang ditetapkan dalam deklarasi PBB tersebut (Raharjo, 2015).

Pemerintah daerah dengan kemampuan anggaran yang dimiliki dapat memerangi kemiskinan yang dialami oleh Ibu Manenek seperti jenis lantai terluas terbuat dari kayu murahan, tanah, bambu dan Jenis dinding bangunan (tembok tanpa plester, bambu, rumbia) kebijakan yang dilakukan pemerintah adalah dengan membuat program bedah rumah terhadap rumah tangga Ibu Manenek, sehingga dengan kebijakan nyata tersebut kemiskinan dalam rumah tangga Ibu Manenek dapat diatasi dan diharapkan Ibu Manenek dapat keluar dari lingkaran kemiskinan menuju pada tingkat kesejahteraan. Sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Eny Hikmawati & Tri Gutomo (2016) bahwa salah satu upaya pengentasan kemiskinan melalui Program Bedah Rumah (PBR).

Kemudian kemiskinan yang dialami oleh Ibu Sengan masuk dalam 14 indikator yang dikeluarkan oleh BPS salah satunya seperti sumber penerangan utama bukan listrik dalam mengatasi persolan sumberdaya listrik ini pemerintah daerah dengan kemampuan anggarannya dapat menggambil kebijakan dengan melakukan subsidi listrik kepada rumah tangga Ibu Sengan, sehingga ibu Sengan dapat keluar dari kondisi kemiskinan. Kondisi ini sejalan dengan studi yang dilakukan Nugraheni & Priyarsono (2012) mengemukakan bahwa pembangunan infrastruktur terutama listrik, air bersih, dan jalan penting dilakukan secara merata ditiap daerah karena peran infrastruktur yang signifikan dalam mengatasi permasalahan kemiskinan.

Bentuk kemiskinan di Indonesia ada berbagai ragam faktor penyebabnya, tentunya sangat mempengaruhi rumusan kebijakan yang dibuat. Dari kebijakan dan program yang ada dirasakan masih kurang efektif dalam upaya menurunkan jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan, perihal ini terbukti dengan adanya kecenderungan peningkatan jumlah penduduk miskin dari tahun ke tahun. Tentunya rumusan kebijakan dan program perlu diperbaiki dan dilakukan rumusan kebijakan sesuai dengan langkah-langkah yang diambil, dalam merumuskan kebijakan tersebut harus diperhatikan dan dipahami karakteristik kemiskinan di daerah masing-masing (Nurwati, 2008). Persoalan kemiskinan juga terpotret di Desa Jagoi, Desa yang ada di batas antara Indonesia dengan Malaysia.

Potret kemiskinan itu diterangkan oleh Kepala Desa Jagoi (Dedeng, 30) mengungkapkan bahwa masih ada pendapatan warganya masih dibawah rata-rata. Berikut kutipan wawancara dengan Kepala Desa Jagoi:

“Kalau yang miskin kita memiliki data itu 135 kepala keluarga yang beban penghasilan dibawah rata-rata. Tapi sampai detik ini karena kita di wilayah perbatasan setidaknya jangkauan pekerjaan juga mudah jadi tidak juga terlalu sulit untuk masalah kemiskinan.

Kebanyakan pekerjaan dikebun sawit sebagian yang berumah tangga berladang berpindah. Kalau jalan sih bagus, gang-gang juga sudah dibuat, kalo untuk yang kita punya rata-rata dari pusat pak. Kemudian tahun ini seperti jembatan dan sebagainya akan dibangun, kita prioritas dipusat kita sendiri pak. Kalau bantuan saya pikir pemerintah sudah berupaya dengan mengadakan pelatihan, kerajinan, pelatihan bagaimana mengelola lahan itu sudah dilakukan upaya-upaya supaya ekonomi masyarakat rumah tangga lebih baik”. (wawancara tanggal 22 Oktober 2018)

Dari penuturan Bapak Dedeng tegambarkan bahwa masyarakat Desa Jagoi masih mengalami kondisi miskin namun kemiskinan yang dimaksud oleh Kades Jagoi merupakan kemiskinan dibawah rata-rata dan menurut Badan Pusat Statistik (2019), kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi Penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan. Untuk mengatasi masalah kemiskinan di Desa Jagoi Pemerintah setempat sudah berupaya dengan mengadakan pelatihan. Tujuan pelatihan adalah untuk meningkatkan kemampuan mengelola lahan pertanaian dan perkebunan untuk meningkatan pendapatan sehingga diharapakan dapat mensejahterakan masyarakat Desa Jagoi itu sendiri.

Kemudian Hermawan (2012) mengemukakan bahwa sektor pertanian berperan penting terhadap upaya pengurangan kemiskinan di wilayah perdesaan dibandingkan wilayah perkotaan. Sedangkan di wilayah perkotaan, industri pengolahan berperan penting dalam upaya mengurangi kemiskinan. Melalui konsep agribisnis, petani sebagai subjek program kemiskinan yang utama harus pula diberdayakan dari sisi internal petani sehingga pada suatu saat nanti dapat mengembangkan usaha dan kehidupannya. Lebih lanjut sektor pertanian menjadi kunci dan dapat sebagai leading sector dalam mengurangi kemiskinan secara agregat, mengingat kemiskinan terbesar terdapat di wilayah perdesaan. Kebijakan pemerintah diharapkan mampu langsung menuju pada pusat di mana kemiskinan tersebut berada. Wilayah perdesaan yang sarat dengan kegiatan usaha tani sebaiknya menjadi titik awal yang penting untuk melindungi dan memberdayakan petani, khususnya petani kecil.

Pengelolaan lahan untuk mengatasi kemiskinan dinyatakan oleh Sumarti (2007), menerangkan bahwa fenomena kemiskinan di sektor perkebunan memasuki dimensi baru, sejak adanya krisis ekonomi yang ikut sedikit banyak mempengaruhi sektor ini. Wilayah kajian baru tersebut adalah pola penyesuaian nafkah petani perkebunan skala kecil (plasma) dalam menyiasati krisis ekonomi. Dengan mengkaji dua kasus di Provinsi Riau, diperoleh gambaran strategi adaptasi nafkah yang menarik. Studi ini menyimpulkan bahwa strategi nafkah ganda menjadi perilaku atau tindakan ekonomi yang menonjol digunakan oleh petani perkebunan miskin di kedua daerah penelitian. Strategi adaptasi nafkah yang diimplementasikan biasanya tetap disesuaikan pada konteks sosial budaya lokal.

Ibu Manenek bekerja sebagai petani tradisonal untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Karena penghasilan seorang petani tidak bisa di prediksi berapa sebulannya karena hasil panen hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dilihat dari persoalan itu, Solusi kemiskinan juga tidak selalu berkaitan dengan eksistensi sektor pertanian, tetapi terkait dengan sektor lainnya. Oleh karena itu, untuk memaksimalkan upaya pengurangan kemiskinan maka, pertimbangan lainnya juga perlu dilihat adalah seperti keberpihakan pemerintah, kelembagaan keuangan, perdagangan internasional, hingga perubahan iklim (Hermawan, 2012).

Dalam memerangi kemiskinan tertuang didalam Indikator Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan 1 (satu) dari indikator yang dimaksud oleh SDGs adalah menghapus segala bentuk kemiskinan dalam indikator pertamnya menyatakan bahwa proporsi penduduk dengan daya beli di bawah $1,25 Per hari (PPP). Proporsi penduduk dengan daya beli di bawah $1,25 per hari (PPP) merupakan sebagai presentase penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan internasional, yaitu mereka yang rata-rata konsumsi hariannya kurang dari $1,25 per orang per hari, diukur pada harga internasional tahun 2005, disesuaikan dengan paritas daya beli (PPP). Ambang batas $1,25 merupakan ukuran kemiskinan ekstrim yang dapat dijadikan standar perbandingan antar negara ketika dikonversi dengan paritas daya beli (PPP) nilai tukar untuk konsumsi. Semakin rendah daya beli masyarakat maka semakin tinggi jumlah penduduk miskin. Oleh karena itu, dengan adanya daya beli masyarakat yang rendah berakibat pada ketidakmampuan masyarakat dalam mencukupi kebutuhan pokok. Berkaitan dengan indikator yang dimaksud oleh SDGs diatas ditemukan juga pada rumah tangga Ibu Sengan dimana rata-rata konsumsi hariannya kurang dari $1,25 per orang per hari bila dilihat dari indikator kemiskinan dari BPS pendapatan Ibu Sengan kurang dari Rp.600.000,- per rumah tangga per bulan adalah masuk dalam indikator BPS dan SDGs.

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang (Halaman 52-55)

Dokumen terkait