• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil wawancara mendalam mengenai pelaksanaan MTBS dalam penilaian dan klasifikasi balita sakit di Puskesmas Labuhan Deli kepada informan sebagai berikut :

“Kalau dari penilaian dan klasifikasi untuk balita pertama kita tanyakakan apa saja keluhannya, kunujungan pertama atau kunjungan ulang, kalau sudah tau lalu kita lakukan tindakan, kalau batuknya udah

3 hari kita kasih antibiotik dan obat. Kita langsung berikan tindakan medis aja dek” (Informan 2)

“Itu biasanya dokter dek, karena dokter yang memeriksa sekaligus menentukan klasifikasi penyakit dari balita tersebut, saya cuman ngisi sformulir,”(Informan 3)

“Pertama di tanyak dulu keluhan anaknya, tanyak juga kunjungannya yang pertama atau kunjungan ulang, udah tau baru saya bisa menentukan tindakan selanjutnya, kita kasi antibiotik, kalau udah gak normal napasnya kita kasi antibiotiok juga kemudian kita rujuk”

(Informan 4)

“Pertama anak saya ditimbang terus ngukur tinggi badan dan suhu badan, lalu ditanyak keluhannya apa, diperiksa dokter terus dikasih resep obat”(Informan 5)

“Ditanyak keluhan anak saya apa, batuk, demam, terus diperiksa dokter lalu diberi obat”(Informan 6)

“pertama saya keruangan, terus anak saya ditimbang dan di ukur suhu badannya, langsung diperiksa dokter dan diberi obat”(Informan 7)

“Daftar dulu, terus langsung keruangan anak ngukur tinggi badan, berat badan, sama suhu, terus pas diperiksa kata dokternya pernapasan anak saya udah gak normal katanya lebih cepat, jadi dokter ngasih antibiotik untuk satu minggu dan anak saya disuruh rujuk ke RS dan di suruh rontgen” (Informan 8)

Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan informan dapat diketahui bahwa penilaian dan klasifikasi balita sakit belum di lakukan seluruhnya, tenaga kesehatan hanya memeriksa keluhan anak dan tanda bahaya umum, tenaga kesehatan tidak memeriksa status imunisasi, status gizi dan pemberian vitamin A, sedangkan bidan hanya mengisi formulir, mengukur tinggi badan, berat badan, dan suhu badan dan dokter langsung memberi tindakan medis.

Pelaksanaan MTBS dalam penanganan penyakit ISPA di mulai dengan penilaian dan klasifikasi balita sakit yaitu dengan menanyakan kepada ibu mengenai masalah balita, memriksa tanda bahaya umum, penilaian dan klasifikasi

sukar bernapas dan batuk, memeriksa status gizi, memeriksa anemia, memeriksa status imunisasi anak, dan memeriksa pemberian vitamin A (Depkes, 2008).

Penilaian dan klasifikasi penyakit harus melaksanakan pemeriksaan tanda bahaya umum. Tanda bahaya umum dapat terjadi pada penyakit apapun dan tidak dapat membantu menentukan penyakit secara spesifik. Hanya dengan satu tanda bahaya umum saja, belum cukup untuk menunjukkan bahwa penyakit ini berat, sehingga sebelum melakukan penilaian terhadap setiap penyakit, penting memeriksa beberapa tanda bahaya umum seperti tidak bisa minum atau menyusi, memuntahkan semuanya, kejang serta tidak sadar.

Menentukan tindakan dan memberi pengobatan. Berikut hasil wawancara mendalam mengenai pelaksanaan MTBS dalam menentukan tindakan tindakan-tindakan dan memberi obat di Puskesmas Labuhan Deli kepada informan sebagai berikut :

“Kalau dalam menentukan tindakan ya disesuaikan dengan keluhan anak tersebut, kita beri obat sesuai gejala yang diderita anak, kalau demam, batuk, pilek, dan ISPA lainnya yang masih bisa kita tangani di puskesmas akan kita tangani dengan tindakan medis, tapi kalau udah sampek demam kejang-kejang, napas cepat atau sudah pneumonia berat kita rujuk ke rs terdekat” (Informan 2)

“Tindakan itu dokter yang ngasih dek, apa apa aja keluhan pasien, kalau masih bisa ditangani dikasih antibiotik sesuai gejala, nanti kalau tidak ada perbaikan 3 hari kita suruh balik lagi” (Informan 3)

“Untuk yang demam batuk pilek kita kasih antibiotiknya untuk seminggu sesuai keluhan dan gejala anaknya terus kita suruh kunjungan ulang, kalau udah pneumonia berat kita segera rujuk”

(Informan 4)

Berdasarkan hasil wawancara terhadap informan dapat diketahui, bahwa untuk menentukan tindakan dan memberi pengobatan sesuai dengan keluhan yang dialami oleh balita, dan dilakukan oleh dokter. Balita yang sakit demam, pilek,

batuk, dan gejala ISPA lainnya masih bisa di tangani di puskesmas, dokter memberikan antibiotik dan obat lainnya kepada anak yang sakit dan diminta datang kembali, sedangkan balita yang menderita napas cepat, kejang-kejang dan termasuk pneumonia berat langsung di rujuk ke rumah sakit.

Pelaksanaan MTBS setelah penilaian dan klasifikasi balita sakit, kemudian dilakukan kegiatan untuk menentukan jenis tindakan atau pengobatan yang perlu di lakukan. Tindakan yang dilakukan yaitu merujuk anak jika mempunyai klasifikasi yang berat, seperti anak dengan klasifikasi pneumonia berat atau penyakit sangat berat, benar-benar menderita sakit yang serius dan membutuhkan seperti memberi oksigen kemudian rujuk segera, sebelum anak di rujuk beri dosis pertama antibiotik yang sesuai, untuk membantu mencegah pneumonia berat menjadi lebih parah, serta membantu mengobati infeksi. Kemudian tindakan pengobatan pra rujukan seperti memberi obat yag sesuai, tindakan pengobatan di rumah yang tidak memerlukan rujukan seperti mengajari ibu cara memberikan obat oral di rumah, mengajari ibu cara mengobati infeksi di rumah, serta kunjungan ulang (Depkes, 2008)

Konseling bagi ibu. Adapun yang di lakukan tenaga kesehatan saat memberikan ibu balita konseling yaitu : menggunakan keterampilan komunikasi yang baik, mengajari ibu cara pemberian obat oral di rumah, mengajari ibu cara mengobati infeksi local di rumah, mengajarkan pemberian ASI dan makanan, menasehati ibu tentang masalah pemberian makanan pada anak, menasehati ibu kapan harus kembali (MTBS Modul-4 Depkes, 2008).

“konseling yang kita lakukan kita kasih tau cara pemberian obat dirumah berapa kali sehari, jam berapa saja, terus kita kasih tau juga cara pemberian makanan, mana yang boleh dimakan dan yang

gak boleh, cara memberi ASI nya dek kalau balitanya masih menyusui” (Informan 2)

“Ada, konseling kita lakukan dek, kayak ngasih tau pemberian obat, pemberian makanan, kasih makan-makanan yang bergizi, kasih ASI, minum air putih harus sering, dan istirahat yang cukup” (Informan 3)

“Biasanya konseling kita kasih tau ke ibu balitanya agar lebih memperhatiakan makanan anaknya, kasih ASI yang cukup, minum obat tepat waktu dan obatnya harus di habisin biar anakanya sembuh total” (Informan 4)

“Ada dek tadi dokter ngasih tau waktu minum obat, kasih makanan yang sehat dan bergizi, anaknya di kasih susu, nyuruh anak tidur dan istirahat yang cukup” (Informan 5)

“Ada dek, dokter nyuruh anak nya di kasih susu, kasih makan makanan yang bergizi, terus obatanya di mimum tepat waktu dan teratur, dan dihabisi (Informan 6)

”Dokter tadi ngasih tau cara minum obat, berapa kali terus disuruh istirahat yang banyak, dan kasih makanan yang sehat” (Informan 7)

“Ada dek, ya dikasih taulah cara minum obat. dosisnya seberapa, kapan kapan aja waktunya, dihabisi obatnya, makanannya harus yang bergizi, jangan main main dulu istirahat yang cukup”

(Informan 8)

Berdasarkan hasil wawancara mendalam kepada informan dapat diketahui bahwa petugas kesehatan memberikan konseling kepada ibu balita mengenai MTBS. Dimulai dari cara pemberian obat di rumah, cara pemberian makanan yang bergizi, dan cara pemberian ASI.

Pelaksanaan MTBS setelah menentukan tindakan dan memberi pengobatan yaitu memberi konseling kepada ibu balita. Konseling yang di berikan dengan menggunakan keterampilan komunikasi yang baik, salah satu untuk mengetahui cara penanganan balita sakit di rumah yaitu dengan memberikan konseling kepada ibu balita. Konseling merupakan pendekatan komunikasi interpersonal yang sering

di gunakan dalam peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap serta perilaku dalam bidang kesehatan (Nurhayati dkk, 2011).

Puskesmas Labuhan Deli sudah melaksanakan konseling kepada ibu balita.

Konseling yang dilaksanakan di Puskesmas Labuhan Deli sudah sesuai dengan modul MTBS. Beberapa hal yang di sampaikan kepada ibu balita yaitu cara pemberian obat di rumah, menasehati ibu tentang pemberian makan pada anak dan menasehati ibu cara pemberian ASI, sedangkan cara mengobati infeksi local di rumah tidak di sampaikan oleh petugas kesehatan dan dalam pemberian konseling petugas tidak menggunakan KNI.

Tindak lanjut. Setiap anak harus kembali ke petugas kesehatan setelah 2 hari untuk kunjungan ulang dengan syarat, jika frekuensi panas atau nafsu makan tidak membaik, beri antibiotik pilihan ke dua untuk pneumonia, sebelum petugas memberi antibiotik ke dua tanya apakah anak minum antibiotiknya selama 2 hari terakhir, dan jika anak melanjutkan pengobatan antibiotiknya sehingga seluruhnya 3 hari, pastikan ibu mengerti pentingnya menghabiskan obat tersebut walau dalam keadaan anak membaik (Depkes, 2008).

Berikut hasil wawancara kepada informan mengenai pelaksanaan MTBS dalam menentukan tindakan-tindakan dan memberi obat di Puskesmas Labuhan Deli :

“Tindak lanjutnya kita beri penanganan juga untuk pasien, pasien udah diperiksa dan dikasih penanganan terus dikasih resep obatnya dan atibiotiknya, nanti kita suruh kembali berobat, tapi ada juga yang gak balik mungkin udah sembuh anaknya,biasa yang balik kalau obatnya udah habis dan anaknya belum sembuh juga dan itu kita ganti antibiotiknya. kalau yang batuk udah lebih dari 2 minggu terus kejang napas cepat kita rujuk”(Informan 2)

“Tindak lanjut diberikan sama dokter ya dek, sesuai klasifikasi

penyakitnya tadi, kalau masih bisa ditangani ya kita kasih obat dan antibiotiknya terus kita suruh kembali berobat, kalau udah sampek pneumonia kita rujuk itu kita rujuknya ke rs tipe c” (Informan 3)

“Pertama kita periksa tanda bahayanya, gejalanya, kemudian kita klasifikasikan penyakitnya kalau udah tau sakitnya apa baru kita buat tindakan, kita kasih antibiotik dan obatnya kita suruh habiskan terus kita suruh kembali berobat setelah beberapa hari, kalau anak udah parah sampek pneumonia pertama kita kasih oksigen dan antibiotik yang sesuai baru kita rujuk” (Informan 4)

“Kata dokter kalau obat udah habis tapi belum sembuh disuruh balik lagi, saya kesini baru pertama kali” (Informan 5)

“Tadi dokter bilang disuruh kembali dan minta obat lagi kalau anak belum sembuh juga, saya berobat selalu kesini terakhir kemrin anak saya diare dkasih obat sembuh, cocok sama obatnya, jadi gak balik lagi lah dek karena udah sembuh”(Informan 6)

“Ada dek disuruh balik sama dokternya kalau gak ada perbaikan, tapi kalau udah sembuh ya saya gak balik dek” (Informan 7)

“Ya itulah dek setelah dikasih obat amoxilin anak, terus saya langsung dikasih rujukan ke RS tapi karena belum ada biaya jadi belum saya rujuk dek, saya kasih obat aja dari dokter itu, dan sembuh dek, obatnya cocok, saya udah 3 kali kesini yang pertama kali anak saya ISPA, terus sembuh minum obat dari puskesmas, ada disuruh dokternya balik ke puskesmas 2 hari setelah kunjungan, tapi saya gak balik karena udah sembuh ”(Informan 8)

Berdasarkan hasil wawancara mendalam mengenai pelaksanaan MTBS dalam tindak lanjut di ketahui bahwa petugas kesehatan menganjurkan balita untuk melakukan kunjungan ulang atau kembali setelah obat habis dan tidak ada perbaikan, namun ada 3 ibu balita yang tidak kembali ke puskesmas karena menganggap anak sudah sembuh jadi tidak perlu melakukan kunjungan ulang, hal ini dapat disebabkan dari rendahnya pengetahuan ibu, status ekonomi, ataupun tidak adanya waktu ibu untuk membawa anaknya kembali kepuskesmas, kemudian satu ibu balita yang baru pertama kali berobat ke puskesmas, dan ada ibu balita yang anaknya menderita pneumonia, dimana ibu balita tidak

menghabiskan obat, tidak kembali puskesmas karena ibu balita merasa anaknya sudah sembuh dengan hanya minum obat selama 3 hari, dan tidak langsung melakukan rujukan hal ini disebabkan karena belum ada biaya untuk merujuk anak ke rumah sakit.

Pelaksanaan MTBS setelah pemberian konseling dilanjutkan dengan tindak lanjut. Tindak lanjut yang dilaksanakan di Puskesmas Labuhan Deli ketika balita tidak sembuh yaitu dengan mengganti atau meningkatkan dosis yang diberikan dan mengganti antibiotik yang sesuai, menyarankan ibu balita untuk kunjungan ulang, memberikan edukasi kepada ibu balita pentingnya menghabiskan obat, dan melakukan rujukan. Selain tindak lanjut yang diberikan di puskesmas, kader kesehatan juga harus memantau perkembangan balita di rumah, namun di puskesmas Labuhan Deli kader kesehatan lebih melihat balita ketika ada posyandu, kader kesehatan belum melakukan pemantauan kepada balita yang sakit di rumah, hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman kader kesehatan tentang MTBS dan kader kesehatan yang belum mendapatkan pelatihan MTBS. Dalam tindak lanjut hendaknya petugas lebih memberi edukasi ataupun pemahaman kepada ibu balita bahwa pentingnya untuk melakukan kunjungan ulang, karena dalam tindak lanjut dapat diketahui apakah si anak benar benar sudah sembuh total atau tidak.

Kepatuhan ibu dalam pelaksanaan MTBS di Puskesmas Labuhan Deli.

Berikut hasil wawancara mendalam dengan informan di Puskesmas Labuhan Deli mengenai kepatuha ibu dalam pelaksanaan MTBS sebagai berikut :

“Kalau kepatuhan beda beda setiap ibu dek, ada yang respon dengan pembinaan yang kami berikan, rajin memberi ASI, ada yang saat kita konseling gak ngerti sama yang kita sampaikan, misalnya kita suruh

habiskan obatnya tapi gak dihabiskan karena merasa anaknya udah sembuh. Saya lihat banyak disini yang seperti itu dek, anak-anak nya kurang di perhatikan masalah kesehatan dan makanan nya juga”

(Informan 2)

“Kepatuhan ibu ada ibu yang patuh dek kita suruh kembali lagi ada sebagian ibu yang udah habis obatnya kembali lagi ke puskesmas untuk melakukan pemeriksaaan kembali, ada juga yang enggak, mungkin yang enggak karena anaknya udah sembuh kali ya”

(Informan 3)

“Kepatuhan ibu kalau saya tanyak banyak disini dek yang ibunya gak kembali lagi, dan obat pun gak dihabisi mungkin merasa anaknya udah sembuh, dan itu tadi dek mungkin rendah pengetahuan juga, ada juga yang alasannya sibuk kerja jadi gak

“kalau anak udah sembuh saya gak balik dek, karena obat saya kasih sampek habis dan cocok sama obatnya, saya kasih obat setelah makan, ASI saya kasih selalu”(Informan 6)

“Obat kadang dihabiskan dek tapi kadang juga enggak, tergantung lah dek kadang anak saya 2 atau 3 kali minum obat aja udah sembuh, setelah itu gak saya kasih obat lagi, terus anak saya susah kalau minum obat dek kadang di muntahkannya, sebelum saya kasih saya icip obatnya kalau manis dia mau dek” (Informan7)

“Obat gak saya habiskan dek, karena gak sampek seminggu anak saya udah sembuh batuk demamnya udah hilang napas nya pun mulai normal jadi yaudah saya stop minum obatnya, kalau kembali lagi ke puskesmas setelah sembuh gak ada dek, kalau ASI saya kasih sampek dia usia 3 bulan aja, seterusnya susu formula saya seling gitu lah dek, anak saya juga imunisasimya gak lengakp dek”

(Informan 8)

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat diketahui masih ada ibu balita yang tidak menghabiskan obat yang di beri oleh petugas kesehatan karena merasa anak sudah sembuh jadi tidak dikasih lagi, dan ada ibu balita yang menghabiskan

obat yang di berikan oleh petugas kesehatan. Beberapa ibu balita tidak kembali berobat, Pada umumnya ibu balita memberi ASI, namun ada ibu balita yang tidak selalu memberi ASI karena ASI nya sedikit dan ditambah dengan susu formula.

Kepatuhan didefinisikan sebagai sejauh mana perilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh professional kesehatan (Niven, 2008).

Tingkat kepatuhan ibu dalam kunjungan ulang pada program MTBS sangat mempengaruhi tingkat kesembuhan balitanya sehingga hal ini perlu dijelaskan lebih dalam lagi tentang pentingnya melakukan kunjungan ulang pada program MTBS kemungkinan dipengaruhi oleh pengertian tentang tingkat kesembuhan, bila gejala yang diderita sudah hilang maka penyakit dianggap sudah sembuh. Jika hal ini terjadi maka penyakit yang diderita balita tersebut akan lebih mudah kambuh lagi karena belum sembuh secara optimal.

Analisis Komponen Keluaran (Output)

Keluaran adalah hal yang di hasilkan oleh proses (Notoadmojo, 2011).

Output dapat dilihat dari capaian pelayan MTBS dengan tujuan untuk menganalisis sistem penerapan MTBS yang ada dan tercapainya angka cakupan sesuai dengan standar yang telah di tentukan. Puskesmas dikatakan sudah menerapkan MTBS apabila memenuhi kriteria melaksanakan pendekatan MTBS minimal 60%.

Berikut hasil wawancara yang dilakukan kepada informan terhadap capaian pelayanan MTBS :

“Kayak mana ya dek kalau capaian masih rendah lah, dari jumlah petugasnya aja kita disini kurang, dibandingkan sama jumlah pasien yang banyak, kalau cuman berdua yang melakukan gak cukup waktu kita dek, terus peralatan juga belum lengkap dan ada sebagian yang udah rusak, jujur aja ya dek utuk formulir MTBS pun sangat jarang

kita isi, karrtu nasihat ibu pun gak ada, dalam sehari ada 10 pasien balita paling yang kita tangani dengan MTBS hanya 2 atau 3 balita aja gak seluruhnya, karena kan petugas nanti tiba tiba ada kelapangan atau ada pertemuan lain jadi mana yang saat itu petugas ada semua di ruangan baru kita tangani sesuai pedoman, terus ibuk balitanya kebanyakan gak patuh sama konseling yang kita berikan.

Rendahlah dek capaiannya paling 30-40% ” (Informan 2)

“Capaian pelayanan saya rasa belum berhasil dek mencapai 50%

pun kayakanya belum, kayak yang adek lihat lah ruangannya masih bergabung, dari alat-alatnya pun belum lengkap dan petugasnya masih kurang sementara pasien setiap harinya banyak. Pasien kita tangani sesuai alurnya tapi kalau sesuai pedoman masih belum dek, dan kartu MTBS jarang kita isi. terus dari ibu balitanya juga dek mungkin karena faktor pengetahuan dan ekonomi ya mereka itu ada sebagian yang kalau kita kasih konseling gak patuh gitu” (Informan 3).

Dari hasil wawancara tersebut dapat di peroleh informasi bahwa cakupan pelayanan MTBS di Puskesmas Labuhan Deli masih rendah, sebagai penanggung jawab dan tenaga kesehatan MTBS mengaku bahwa capaian keberhasilan MTBS sekitar 30-40% hal ini dapat dilihat dari jumlah kunjungan balita yang cukup banyak dalam sehari pasien balita sebanyak 10-15 orang balita, untuk yang menderita ISPA dalam sehari bisa mencapai 10 balita, namun pelayanan MTBS tidak diberikan seluruhnya kepada balita, tenaga kesehatan MTBS masih kurang, sarana dan prasarana yang belum memadai, ketersediaan sarana dan prasarana yang belum memadai, dan ibu balita yang tidak patuh.

Penerapan MTBS di puskesmas secara bertahap dilaksanakan sesuai dengan keadaan pelayanan rawat jalan di tiap puskesmas, setiap puskesmas perlu memperkirakan kemampuanya menegenai seberapa besar balita sakit yang akan ditangani pada saat awal penerapan dan kapan dicapai cakupan 100 %.

Sebagai acuan dalam pentahapan penerapan adalah sebagai berikut :

a. Puskesmas yang memiliki kunjungan balita sakit 10 orang per hari pelayanan MTBS dapat diberikan langsung kepada seluruh balita sakit.

b. Puskesmas yang memiliki kunjungan balita sakit 11-20 orang perhari, berikanlah pelayanan MTBS kepada 50% kunjungan balita sakit pada tahap awal dan setelah 3 bulan pertama diharapkan seluruh balita sakit mendapatkan pelayanan MTBS.

c. Puskesmas yang memiliki kunjungan balita sakit 21-50 orang per hari, brerikanlah pelayanan MTBS kepada 25% kunjungan balita sakit pada tahap awal dan setelah 6 bulan pertama diharapkan seluruh balita sakit mendapatkan pelayanan MTBS.

Keterbatasan Penelitian

Pada penelitian ini peneliti mengalami beberapa kendala yaitu sulitnya untuk mendapatkan data dari puskesmas dikarenakan proses perizinan yang panjang dan lama, kemudian selama proses wawancara responden sedikit kurang terbuka, namun peneliti berusaha menanyakan lebih dalam.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai analisis implementasi manajemen terpadu balita sakit dalam penanganan penyakit infeksi saluran pernapasan akut di Puskesmas Labuhan Deli Tahun 2019 diperoleh kesimpulan bahwa pelaksanaan MTBS dalam penanganan penyakit ISPA di Puskesmas Labuhan deli belum terlaksanan dengan baik hal ini dapat dilihat dari ketersediaan tenaga kesehatan, sarana dan prasarana, cakupan pelayanan MTBS, hingga kepatuhan ibu balita.

1. Dalam ketersediaan sumber daya manusia, tenaga kesehatan di puskesmas labuhan deli hanya berjumlah 3 orang, 1 orang bidan sebagai penanggung jawab MTBS, 1 orang bidan dan dokter namun belum mendapatkan pelatihan dan kurangnya pemahaman tenaga kesehatan terhadap MTBS, sehingga pelayanan MTBS tidak diberikan seluruhnya kepada balita.

2. Dari sisi Pendanaan tidak ada penganggaran dana yang di khususkan untuk MTBS, karena pendanaan untuk MTBS sudah digabungkan ke dalam pendanaan untuk pelayanan poli anak.

3. Dari sisi ketersedian sarana dan prasarana belum memadai, hal ini dapat dilihat dari beberapa alat pemeriksaan yang tidak ada ataupun rusak seperti timer ISPA, tensimeter, manset anak, dan belum diganti dengan alat yang baru. Ketersediaan obat-obatan yang terdaftar dalam DOEN belum seluruhnya teresedia, Kartu Nasihat Ibu (KNI), dan ruang khusus untuk MTBS belum tersedia di Puskesmas Labuhan Deli.

4. Alur pelaksanaan MTBS dalam penanganan penyakit ISPA belum sesuai standar MTBS. banyak ibu balita yang tidak mengisi formulir MTBS, hal ini di sebabkan karena pengisian formulir MTBS membutuhkan waktu yang lama dan kurangnya tenaga kesehatan yang hanya 2 orang dan pasien yang sangat banyak sehingga waktu tunggu pasien sangat lama. Puskesmas memiliki kunjungan balita sakit 10-15 pasien per harinya namun pelayanan MTBS tidak diberikan kepada seluruh balita sakit. Penilaian dan klasifikasi

4. Alur pelaksanaan MTBS dalam penanganan penyakit ISPA belum sesuai standar MTBS. banyak ibu balita yang tidak mengisi formulir MTBS, hal ini di sebabkan karena pengisian formulir MTBS membutuhkan waktu yang lama dan kurangnya tenaga kesehatan yang hanya 2 orang dan pasien yang sangat banyak sehingga waktu tunggu pasien sangat lama. Puskesmas memiliki kunjungan balita sakit 10-15 pasien per harinya namun pelayanan MTBS tidak diberikan kepada seluruh balita sakit. Penilaian dan klasifikasi

Dokumen terkait