PENGAWASAN CALON TUNGGAL DI KABUPATEN BONE DAN KABUPATEN ENREKANG TAHUN 2018
| 71 memiliki suatu dinamika yang sangat kompleks karena terdapat
kabupaten/kota yang secara bersamaan menyelenggarakan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati/Walikota dan Wakil Walikota, yang tentu dari tahun 2015 mengalami peningkatan yang sangat signifikan sampai ke tahun 2018.
Dari 12 daerah yang menggelar pilkada di Provinsi Sulawesi Selatan, tiga daerah diantaranya memiliki pasangan calon tunggal dan harus melawan kolom kosong, seperti kota Makassar, Kabupaten Bone dan Kabupaten Enrekang (Fajar, 2018).
Munculnya calon tunggal dalam pentas demokratisasi pemilihan kepala daerah di Kabupaten Bone dan Kabupaten Enrekang dapat di lihat dari beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya :
1.1 Regulasi
Dari sisi regulasi memang tidak dapat dipungkiri bahwa calon tunggal dalam pemilihan kepala daerah menjadi suatu solusi bagi mandegnya demokratisasi di Indonesia yang harus menunda pemilihan kepala daerah jika dalam proses pendaftaran tidak lebih dari satu bakal calon yang melakukan pendaftaran.
Karena, walaupun adanya calon tunggal tidak melanggar esensi demokrasi, bukan berarti hal tersebut dapat dibiarkan berlanjut secara berkesinambungan dalam pesta demokrasi di Indonesia (Nurhalimah, 2017).
Sehingga transformasi kewenangan yang diberikan kepada mahkamah konstitusi mendapatkan momentumnya setelah dikeluarkan Keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 100/PUU-XII/2015 tanggal 29 September 2015 menjadi acuan yang memperbolehkan pelaksanaan pilkada tetap dilangsungkan meskipun hanya calon tunggal, yang kemudian diadopsi didalam Pasal 54C Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada yang
Serial Evaluasi Pilkada Serntak di Indonesia
| 72
mengatakan bahwa pasangan calon tunggal bisa dilaksanakan jika setelah penundaan dan perpanjangan pendaftaran dan tetap ada satu pasangan bakal calon yang mendaftar.
Keputusan Mahkamah Konstitusi tersebut mengakibatkan meningkatkanya jumlah calon tunggal dalam pilkada yang tentu sangat menghawatirkan berjalannya roda kepemimpinan didaerah jika dalam pemilihannya yang memenangkan pemilihan adalah kolom kosong. dikarenakan jabatan kepala daerah akan diambil alih oleh pelaksana tugas yang tentu kewenangannya berbeda dan sangat terbatas, pada akhirnya berimplikasi terhadap perkembangan demokratisasi pemerintahan ditingkat lokal.
Begitupula sebaliknya jika calon tunggal yang menjadi pemenang dalam kontestasi pilkada seperti yang terjadi pada pilkada Kabupaten Bone dan Kabupaten Enrekang, memberi ruang monopoli kekuasaan karena didukung oleh semua partai politik yang ada, Salah satu implikasinya adalah ketidak mampuan DPRD Bone untuk melakukan kontrol terhadap kekuasaan didaerah dan bahkan memungkinkan terjadi kesewenang-wenangan dalam tubuh pemerintah dan didukung oleh DPRD. Salah satu bukti ketika DPRD Bone menetapkan usulan pembangunan tower 10 lantai di Kabupaten Bone yang justru dimasyarakat masih terjadi polemic (Awing, 2020).
1.2 Syarat Dukungan Partai Politik
Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati calon tunggal di Kabupaten Bone bermula dari ditetapkannya Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Dr. H. Andi Fahsar Mahdin Padjalangi, M.Si dan Drs. H. Ambo Dalle, MM melalui Berita Acara KPU Nomor : 34 /PL.03.2-Kpt/7308/KPU-Kab/II/2018 tentang Penetapan Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Sebagai Peserta Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati
| 73 Bone Tahun 2018. Calon Bupati dan Wakil Bupati tersebut mengantongi dukungan 11 partai politik dengan jumlah total 45 kursi.
Sehingga menutup ruang pencalonan Bupati dan Wakil Bupati dari calon lain melalui syarat dukungan partai politik atau gabungan partai politik, sehingga mengakibatkan Dr. H. Rizalul Umar, Sp.B.MARS dan Drs. H. Mappamadeng Dewang, M.Si maju sebagai calon perseorangan (Jumria, 2020).
Adapun Kabupaten Enrekang untuk penetapan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Enrekang yakni Drs. H. Muslimin Bando, M.Pd dan Asman, SE yang berdasarkan berita acara Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Enrekang nomor : 45/PL.03.2-BA/7316/KPU-Kab/II/2018 tentang Penetapan Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Enrekang Tahun 2018, tanggal 12 Februari 2018.
Hasil wawancara dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) kabupaten Enrekang, menjelaskan bahwa pasangan calon tunggal lahir di Kabupaten berdasar pada putusan Mahkamah Konstitusi nomor:100/PUU-XVIII/2015 dan dimplementasikan kedalam Pasal 54 huruf C Undang-Undang Nomor 10 tahun 2016 Tentang Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati serta Wali kota dan Wakil Walik kota.
Hal tersebut kemudian tidak membatasi Pasangan calon untuk mendapatkan dukungan dari semua partai sebagai partai pengusung.
Sehinggah untuk lingkup Kabupaten Enrekang sebagian besar partai dan kursi yang ada kecuali PKS dan PBB menjadi pengusung Bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Enrekang Drs. H. Muslimin Bando, M.Pd dan Asman, SE. sekalipun di detik-detik akhir pendaftaran, PKS ikut memberikan berkas syarat dukungan kepada bakal calon dengan status pendukung.
Serial Evaluasi Pilkada Serntak di Indonesia
| 74
KPU Kabupaten Enrekang kemudian melakukan perpanjangan pendaftaran namun sampai batas akhir pendaftaran dan sesuai dengan hasil verifikasi berkas syarat dukungan maka KPU Kabupaten Enrekang melalui rapat Pleno menetapkan pasangan Drs. H. Muslimin Bando, M.Pd dan Asman, SE sebagai pasangan calon tunggal pada Pilkada Kabupaten Enrekang tahun 2018 (Haslipa, 2020).
1.3 Syarat Dukungan Calon Perseorangan
Pengajuan calon perseorangan dalam pilkada memberikan kesulitan bagi para calon seperti syarat dukungan KTP Elektronik, hal tersebut dibuktikan dengan tidak lolosnya Pasangan Dr. H. Rizalul Umar, Sp.B.MARS dan Drs. H. Mappamadeng Dewang, M.Si karena tidak mampu memenuhi syarat dukungan Syarat minimal dukungan paslon perseorangan dalam Pilkada Bone 2018 sebanyak 41.980 dukungan. sementara hasil Verifikasi Faktual Dokumen Dukungan Umar-Madeng dari 27 kecamatan yaitu, memenuhi syarat 21.801 tidak memenuhi syarat 22.317.
Bawaslu Kabupaten Bone menemukan beberapa temuan pencalonan diantaranya:
1. Untuk temuan verifikasi administrasi KPU Kabupaten Bone tidak memberikan tanda terima penyerahan berkas dukungan, dan tidak melakukan penghitungan karena di sebabkan KPU lebih terfokus kepada kesalahan form yang dibuat oleh pasangan calon yang menyebabkan pasangan calon kehilangan waktu untuk memperbaiki atau menambah dukungan yang kurang.
2. Untuk temuan verifikasi faktual melalui media Video Call tetapi orang/pendukung bukan lagi menjadi penduduk di kecamatan tersebut (Bawaslu Kabupaten Bone, 2019).
| 75