• Tidak ada hasil yang ditemukan

| 1452.Metode Penelitian Dan Kajian

Dalam dokumen Sebagai sebuah upaya menghadirkan rekam jejak (Halaman 152-156)

dan Kabupaten Sidrap)

| 1452.Metode Penelitian Dan Kajian

2.1 Jenis Kajian

Penelitian ini merupakan penelitian Kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan dengan metode kualitatif deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan subjek atau objek penelitian seseorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Menurut Lexy Moleong (2012:410) Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada.

Adapun teknik pengumpulan datanya melalui wawancara serta penelusuran terhadap sumber-sumber tertulis. Sumber pokok hasil pengawasan, hasil penindakan dan hasil persidangan, dokumen-dokumen dan buku-buku literatur, tulisan ilmiah serta laporan yang memuat konten-konten yang terkait dengan kajian ini, dan juga bersumber dari wawancara dari pihak-pihak yang berkaitan dengan fokus penelitian.

2.2 Teknik Pengumpulan Data

Sudjarwo & Basrowi (2009:3560) menyatakan bahwa data yang dikumpulkan pada penelitian ini didasarkan pada data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang didapatkan dari sumber pertama, baik dari individu maupun perseorangan seperti hasil wawancara. Data primer diperoleh dari penelitian

lapangan, termasuk wawancara dan observasi dengan pihak GAKKUMDU Kabupaten Pinrang dan Kabupaten Sidrap secara langsung baik terhadap lembaga/institusi maupun individu.

Serial Evaluasi Pilkada Serntak di Indonesia

| 146

Data-data yang dijaring, dikodifikasikan dan dideskripsikan adalah bersumber dari jawaban para informan terhadap pertanyaan yang diajukan dalam wawancara. Selain itu tidak menutup kemungkinan akan menggunakan memoing (membuat memo) untuk mencatat ide-ide, pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasan yang akan muncul sewaktu-waktu saat peneliti berada di lapangan.

Sedangkan data sekunder adalah merupakan data kedua yang didapat dengan cara tidak langsung dilapangan. Data sekunder adalah jenis data tambahan yang tidak diperoleh dari sumber utama, tetapi sudah melalui sumber kesekian. Artinya, orang-orang tersebut tidak merasakan secara langsung fenomena yang sedang diteliti, tetapi mendapatkan informasinya dari sumber-sumber primer lainnya.

Memperoleh jenis data ini sangatlah mudah hanya perlu melakukan studi pustaka, melihat berita, dan mewawancarai para ahli untuk mengetahui pendapat mereka. Kegunaannya adalah untuk mendukung dan memperkuat informasi primer yang sebelumnya telah didapatkan.

2.3 Perspektif Teori a. Politik Uang

1. Defenisi Politik Uang

Lesmana (2011) mendefinisikan politik uang sebagai uang yang ditujukan dengan maksud tertentu contohnya untuk melindungi kepentingan bisnis dan politik tertentu, bisa juga terjadi ketika pihak penyandang dana berkepentingan bisnis maupun politik tertentu.

Bentuknya bisa berupa uang, namun bisa pula berupa bantuan-bantuan sarana fisik pendukung kampanye pasangan kandidat tertentu.

| 147 Wahida, Siti Nurul Isnaini , dkk (2020) menyatakan bahwa politik uang diartikan juga sebagai biaya yang ditujukan dengan maksud melindungi bisnis atau kepentingan politik tertentu atau untuk membeli dukungan parpol atau membeli suara pemilih dengan imbalan yang bersifat finansial. Definisi ini menujuk kepada praktik dalam kehidupan politik secara umum, baik dalam pemilu maupun di luar pemilu. Nampak dalam definisi ini tidak mengaitkan tindakan politik uang dengan norma hukum politik uang dalam peraturan perundang-perundangan pemilu. Iradhad Taqwa (2020) menyatakan juga bahwa selain itu praktik Politik uang terbukti ampuh dalam menarik suara pemilih. utamanya dengan tipikal pemilih mengambang (floatingg mass) yang bersikap pragmatis dan tidak memiliki kedekatan emosional dan ideologis yang kuat dengan partai politik kemudian Pemilih dengan klasifikasi seperti inilah yang kerapkali menjadi sasaran empuk bagi Pasangan Calon untuk melakukan kampanye politik yang efektif berbasis uang.

Menurut Wahyudi Kumorotomo (2009) ada beragam cara untuk melakukan politik uang dalam pilkada langsung, yakni: (1) berbentuk pembayaran tunai dari "tim sukses" calon tertentu kepada konstituen yang potensial, (2) sumbangan dari para bakal calon kepada parpol yang telah mendukungnya, atau (3) "sumbangan wajib" yang disyaratkan oleh suatu parpol kepada para kader partai atau bakal calon yang ingin mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota.

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Politik Uang.

Hasunacha (2020) mengungkapkan bahwa Jika dilihat dari fenomena kehidupan masyarakatnya, ada beberapa faktor mengapa banyak rakyat yang terlibat dalam politik uang, antara lain:

a. Kemiskinan

Sebagaimana kita ketahui, angka kemiskinan di Indonesia

Serial Evaluasi Pilkada Serntak di Indonesia

| 148

cukup tinggi. Kondisi miskin tersebut seperti memaksa dan menekan sebagian masyarakat untuk segera mendapat uang.

Politik Uang pun menjadi ajang para masyarakat untuk berebut uang. Mereka yang menerima uang terkadang tidak memikirkan konsekuensi yang akan diterima yaitu, tindakan suap dan jual beli suara yang jelas melanggar hukum.

b. Rendahnya Pengetahuan Masyarakat Tentang Politik

Tidak semua orang tahu apa itu politik, bagaimana bentuknya, serta apa yang ditimbulkan dari politik. Itu semua bisa disebabkan karena tidak ada pembelajaran tentang politik di sekolah-sekolah ataupun masyarakatnya sendiri yang memang acuh terhadap politik di Indonesia. Politik uang pun dianggap tidak masalah bagi mereka. Mereka tidak menyadari adanya permainan politik yang sebenarnya justru merugikan diri mereka sendiri.

c. Kebudayaan

Uang dan segala bentuk politik uang dari peserta pemilu dianggap sebagai rejeki bagi masyarakat yang tidak boleh ditolak.

Dan karena sudah diberi, secara otomatis masyarakat harus memberi sesuatu pula untuk peserta pemilu, yaitu dengan memilih, menjadi tim sukses, bahkan ikut menyukseskan politik uang demi memenangkan peserta pemilu tersebut.

Dari beberapa pemaparan terkait prespektif teori diatas jika dikaitkan dengan kondisi praktik politik uang yang telah terjadi di kabupaten pinrang dan kabupaten Sidrap merupakan fakta dilapangan sebab faktor yang mempengaruhi terjadinya praktik politik uang salah satunya kemiskinan masyarakat menerima politik uang sesungguhnya

| 149

Dalam dokumen Sebagai sebuah upaya menghadirkan rekam jejak (Halaman 152-156)