Garis perlindungan pertama kita melawan kebohongan musuh adalah Alkitab. Yesus sendiri menggunakan firman Allah untuk melawan serangan Iblis; Paulus membimbing Timotius dan mengatakan, "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik"[1]. Dalam salah satu konfrontasinya dengan orang-orang Saduki, Yesus mengatakan bahwa mereka jatuh kepada kesalahan karena mereka tidak mengetahui Alkitab - - ini tudingan serius untuk orang Yahudi terpelajar mana pun. Bahkan kecaman Yesus, "Tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah kepadamu," lebih keras daripada bantahan yang biasa dikeluarkan oleh para pendebat Yahudi, yang mengatakan kepada lawan-lawan mereka, "pergi dan baca" bagian firman Allah untuk menyudahi suatu argumen. Dalam tudingan-Nya, Yesus tidak hanya
menekankan pentingnya Alkitab dalam kehidupan bangsa pilihan Allah, tetapi Dia juga menyalahkan mereka karena melalaikan tugas mereka kepada Tuhan, yaitu
mempelajari Alkitab[2].
Kecaman Yesus bahkan lebih tepat lagi ditujukan untuk zaman sekarang. Pada orang-orang Kristen, baik kaum Protestan maupun Injili, karena terdapat jurang pemisah yang lebar antara pengetahuan mereka dan Alkitab. Menurut jajak pendapat Gallup,
sekalipun delapan dari sepuluh orang AS mengaku bahwa ia orang Kristen,
pengetahuan dasar Alkitab mereka mencapai titik terendah [di Amerika]. George Gallup, yang memiliki perusahaan untuk melakukan penelitian terhadap tren-tren rohani selama lima puluh tahun terakhir, mengatakan bahwa orang-orang AS tidak tahu apa yang mereka percayai ataupun mengapa mereka percaya. Gallup juga percaya bahwa buta Alkitab adalah masalah rohani, agama, dan kebudayaan yang serius di AS[3]. Thomas Ehrlich, profesor etika dan rektor Universitas Indiana, setuju dengan pendapat tersebut.
46
Dia mengamati bahwa saat ini hanya segelintir mahasiswa saja yang membaca Alkitab sejak kecil[4].
Seburuk-buruknya buta Alkitab, membelokkan (menyalahgunakan) Alkitab adalah masalah yang lebih serius lagi. Tidak memedulikan firman Allah berbeda dengan membelokkan (melakukan distorsi) firman Allah. Tidak memedulikan Alkitab hanya memengaruhi orang yang hidup dalam ketidakpedulian itu sendiri. Tetapi, membelokkan Alkitab memengaruhi semua orang yang mendengarnya -- baik orang yang percaya, lebih buruk lagi orang yang belum percaya -- yang mungkin dipengaruhi oleh
interpretasi yang salah tersebut.
Distorsi Alkitab adalah taktik yang lazim digunakan di antara penulis- penulis buku pengembangan diri, baik penulis Kristen maupun non- Kristen. Salah satu penulis pengembangan diri Kristen menganjurkan kita untuk mendengar firman Allah dengan saksama, dan kita akan mendengar bahwa Allah mengatakan, Dia menyukai diri kita apa adanya[5]. Penulis teologi sukses Kristen lainnya mengutip Perjanjian Lama dan Baru secara acak untuk membuktikan bahwa Yesus adalah penjual ulung yang telah memberikan kita alat untuk meraih kekayaan dan prestasi[6]. Penulis lain mengatakan bahwa tantangan sesungguhnya dari Alkitab bukannya memberi, melainkan menerima kasih[7]. Selain itu, salah satu penulis non-Kristen yang menulis buku pengembangan diri menafsirkan perkataan Yesus "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah" dengan mengartikan bahwa orang yang menyucikan kesadarannya akan melihat diri mereka sendiri sebagai Allah[8]. Hampir semua
pengikut gerakan berpikir positif mengutip Amsal 23:7 untuk membuktikan bahwa, "apa yang engkau pikirkan, demikianlah hal itu terjadi."
"Tindakan memanipulasi Alkitab mengalir seperti sungai di sepanjang sejarah gereja. Tetapi saat ini, pelecehan seperti itu telah berubah menjadi banjir," tulis G. Walter Hansen, seorang pakar Perjanjian Baru. Ia memperingatkan kita, "jika kita
menggunakan Alkitab hanya sebagai cermin untuk melihat diri sendiri, kita akan
berakhir dengan melihat refleksi keinginan diri kita sendiri lebih daripada pengungkapan kehendak Allah"[9].
Namun, sebelum kita menyalahkan [para pendukung] gerakan pengembangan diri untuk pelecehan ini, kita perlu menanyakan diri kita sendiri apakah kita juga bersalah. Berapa banyak kelas-kelas pedalaman Alkitab yang Anda hadiri yang pembinanya menanyakan, "Apa makna ayat ini 'bagi Anda'?" Atau berapa kali Anda sendiri telah memimpin kelas dan menanyakan pertanyaan tersebut? Kesalahan dari pertanyaan ini adalah ia gagal memberikan perbedaan mendasar antara kepentingan pribadi dan artinya. Walt Russell, seorang pakar Alkitab, menjelaskan perbedaannya: "Arti dari sebuah tulisan tidak pernah berubah. Sebaliknya, kepentingan tulisan tersebut bagi saya atau orang lain sangat tak tetap dan fleksibel. Dengan membingungkan kedua aspek proses interpretasi ini, orang-orang Injili, memahami Alkitab dengan "interpretive relativism". Jika [sebuah tulisan] memiliki satu arti tertentu bagi Anda tapi berlawanan dengan yang saya mengerti, maka tidak ada lembaga tinggi apapun untuk bisa naik
47
banding. Kita tidak akan pernah dapat menetapkan dan memvalidasikan interpretasi mana yang benar"[10].
Relativisme? Saya merasa tidak ada serangan lain yang lebih menjijikkan di mata orang-orang Injili daripada keyakinan relativisme. Memang benar, orang-orang Injili sering menyerang relativisme masyarakat modern, moralitas modern, etika modern, dan kebenaran modern. Akan tetapi, simaklah statistik-statistik dari jajak pendapat Barna Reseacrh Group berikut ini. Saat ditanyai tentang kebenaran absolut, 66 persen orang AS dewasa (dan jumlah mengejutkan sebanyak 72 persen orang AS antara umur 18 sampai 25 tahun) menganggap bahwa tidak ada yang namanya kebenaran absolut. Sebagian besar orang AS saat ini percaya bahwa orang dapat membantah kebenaran dan tetap merasa betul[11]. Jika kita memerhatikan jumlah orang AS yang menyatakan diri sebagai orang Injili, tampak jelas bahwa pasti ada satu atau dua orang yang
menolak kebenaran absolut, dan logikanya, ia menolak pernyataan Yesus yang mengaku diri sebagai Kebenaran yang absolut itu.
Dalam kerinduan mereka untuk membuat Alkitab bermakna bagi setiap individu, dan untuk menemukan aplikasi hidup yang langsung dan pribadi, kaum Injili cenderung mengabaikan konteks sejarah, kebudayaan, dan kesusastraan dari perikop atau pasal atau kitab dari Alkitab. "Pada saat kita memercayai bahwa firman Allah berbicara kepada kita secara langsung, maka kita mengabaikan bahwa firman Tuhan berbicara tentang kebutuhan kita MELALUI konteks historis dan konteks tulisan dari penulis-penulis Alkitab," ujar Walt Russel[12]. Thomas Olden, seorang teolog, telah
menggemakan pandangan ini dan mengamati bahwa beberapa orang-orang Injili "telah terpaku pada 'aku dan Alkitab, dan terutama aku,' sehingga pembacaan Alkitab
terutama hanyalah untuk keinginan dari perasaan dalam diri"[13].
Jadi, bagaimana seharusnya kita mempelajari Alkitab? Pertama, kita perlu mempelajari Alkitab untuk kepentingan Alkitab itu sendiri, bukan untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan yang kita rasakan. Kita perlu bertanya, "Apa yang Alkitab katakan?" bukan, "Apa yang Alkitab katakan kepadaku?" Jika saya mempelajari Alkitab untuk mencari bukti bahwa Allah menginginkan saya bahagia, atau sukses, atau puas, yakinlah bahwa saya akan menemukannya, karena pola pikir saya akan menentukan interpretasi saya terhadap Alkitab. Ketika saya membaca Alkitab dengan kebutuhan-kebutuhan yang saya rasakan dalam pikiran saya, saya berarti telah melucuti Alkitab dari segala kebenaran obyektifnya. Yang tersisa hanyalah relativisme cair yang berubah sesuai dengan keadaan, temperamen, dan kebutuhan-kebutuhan saya. Membaca Alkitab secara subyektif, akan meninggikan konteks saya di atas konteks Alkitab. Perspektif ini, tegas Russel, berbahaya karena "perspektif ini memberikan praduga pada cara
pandang eksistensialis dan yang berfokus pada manusia"[14].
Akan tetapi, inilah praduga yang mendasari pemikiran pengembangan diri, keyakinan bahwa saya ada untuk diri saya sendiri, dan kalau Allah ada, maka Dia ada untuk membantu saya melihat diri saya dengan lebih jelas dan dengan pandangan yang lebih positif. Tepatnya, inilah anggapan yang didukung Robert Schuller ketika dia
48
cara pandangan dunia yang merendahkan Allah menjadi Penolong supranatural dari keinginan eksistensial kita dan Injil menjadi resep bagi kemajuan dan pencerahan serta pemenuhan kebutuhan pribadi kita. Dalam konteks pengembangan diri, Alkitab tidak dipercaya sebagai pewahyuan Allah akan diri-Nya kepada kita. Alkitab ada untuk membantu kita mengerti diri kita sendiri.
Bahkan pedalaman Alkitab yang berfokus pada pemuridan dapat berubah menjadi kegiatan yang hanya sekadar melayani diri sendiri dan berpusat pada diri sendiri. Sebagai orang Kristen, kita perlu membaca Alkitab apa adanya, bukan untuk mencari sesuatu yang dapat dilakukan Alkitab untuk kita. Kita mempelajari Alkitab karena itu adalah firman Allah, karena firman Allah berasal dari Yang Esa, objek dari kerinduan terbesar kita, keinginan kita yang terkuat.
Saya teringat kasih yang tampaknya membanjiri saya ketika masing- masing anak saya lahir. Ketika mereka bertumbuh, saya akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk melihat mereka, mempelajari setiap gerakan mereka, mempelajari sifat kepribadian mereka yang mulai terbentuk, perubahan pola pikir mereka yang menonjol, dan ekspresi pemikiran mereka yang khas. Saya ingin mengenal anak-anak saya, bukan karena apa yang bisa mereka berikan kepada saya, bahkan bukan karena saya ingin menjadi ibu yang lebih baik, tetapi benar-benar hanya karena saya mencintai mereka. Kasih kita kepada Allah harus jauh lebih besar lagi. Keinginan kita kepada-Nya
harusnya menjadi hasrat yang membara bahwa kita ingin tahu segala sesuatu yang bisa kita ketahui tentang Dia. Betul, kita mempelajari Alkitab untuk belajar tentang pemuridan, tetapi belajar seperti itu tak ubahnya seperti tulang-tulang yang kering jika dibandingkan dengan mempelajari dengan penuh hasrat Kekasih kita, karena kita mencintai-Nya dan kita rindu berada di dekat-Nya.
Jadi, dalam pemahaman Alkitab, tujuan kita adalah sebisa mungkin menjauhkan keinginan diri kita. Kita perlu ingat bahwa Firman Allah adalah kebenaran, bahwa Allah ingin mengungkapkan Diri-Nya kepada kita, dan bahwa semua kitab memunyai arti sesuai dengan yang Penulis inginkan. Untuk menemukan kebenaran itu, untuk mengerti pewahyuan Allah itu, kita perlu mempelajari Alkitab secara obyektif, termasuk di
dalamnya penelusuran dan penelitian eksegese ke dalam konteks kebudayaan,
sejarah, dan kesusastraan Alkitab. Saat kita mendekati setiap kitab dalam Alkitab, kita perlu tahu sebisa mungkin segala hal tentang sang penulis kitab yang diberi inspirasi oleh Allah -- kehidupannya, jamannya, tujuannya menulis kitab tersebut, dan
pembacanya. Kita perlu mengetahui apakah buku itu adalah buku nubuatan, sejarah, atau syair. Kita perlu mengerti bagaimana buku tersebut disatukan dan apa tema-tema besarnya.
Karena kita tidak memunyai naskah asli Kitab Suci (dan kalau adapun hanya sebagian kecil orang yang bisa membacanya), maka kita membaca Alkitab hanya dari
terjemahannya. Terjemahan yang Anda pilih mungkin tergantung dari selera dan latar belakang pribadi Anda. Ingatlah bahwa terjemahan-terjemahan Alkitab memunyai kelebihan dan kekurangan mereka masing-masing. Kadang kita mendapatkan
49
pemahaman baru dengan membaca terjemahan yang lain. Dalam hal ini ingatlah: "Masalah-masalah yang muncul sebenarnya bukanlah disebabkan karena orang-orang membaca Alkitab dengan terjemahan yang berbeda-beda; masalah yang paling serius adalah karena banyak orang tidak membaca Alkitab!"[15]
Terjemahan apa pun yang Anda pilih akan membantu Anda "mempelajari" versi terjemahan tersebut. Pendalaman Alkitab biasanya termasuk informasi tentang latar belakang penulis seperti yang digambarkan di atas. Anda juga perlu memunyai konkordansi yang lengkap, yang akan menolong Anda melakukan eksegese yang mendalam, dan Anda perlu tafsiran Alkitab sebanyak mungkin, milik Anda sendiri atau pinjaman dari perpustakaan, teman, atau pendeta.
Sekilas tentang tafsiran. Sepanjang sejarah, kaum Injili telah menunjukkan bias melawan otoritas. Karena gerakan Injili berakar pada masyarakat yang demokratis, maka mereka sering menekankan kemampuan setiap orang dalam menafsirkan Alkitab. Walaupun pedalaman Alkitab secara mandiri dapat memberikan keuntungan, saya yakin membaca karya pakar-pakar Alkitab yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk mempelajari teks tertua yang ada akan lebih menjelaskan makna dan kebenaran Alkitab. Allah telah memanggil para pakar Alkitab untuk tugas mulia ini, dan saya percaya mengabaikan pekerjaan mereka adalah perbuatan konyol yang membuang-buang waktu.