• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: HASIL PENELITIAN

2. Memperbesar beban penyusutan

Memilih metode penyusutan yang lebih tepat, tetapi sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku. Selengkapnya dapat dilihat dengan contoh berikut:

Misalkan, PT Barata UUM Medan selama tahun 2006 mempunyai data sebagai berikut:

 Penjualan setahun Rp 54.000.000

 Harga pokok produk terjual setahun Rp 36.540.000

 Pada awal tahun membeli alat kantor dengan masa manfaat 4 tahun seharga Rp 10.000.000 tanpa nilai residu

 Beban usaha diperkenankan mengurangi laba kotor setahun sebelum penyusutan alat kantor sebesar Rp 7.514.000

Penyusutan aktiva tetap metode garis lurus

Penyusutan alat kantor setahun 25% x Rp 10.000.000 = Rp 2.500.000 Perhitungan pajak hasilan sebagai berikut:

Jualan Rp 54.000.000

Harga pokok produk terjual 36.540.000-

Laba kotor 17.460.000

Beban usaha sebelum penyusutan 7.514.000- Laba usaha sebelum penyusutan 9.946.000 Beban penyusutan alat kantor 2.500.000- Laba usaha kena pajak 7.446.000 Pajak hasilan 10% x Rp 7.446.000 744.600- Laba bersih setelah pajak Rp 6.701.400

Metode Penyusutan Aktiva Tetap Metode Saldo Menurun

Penyusutan alat kantor setahun 50% x Rp 10.000.000 = 5.000.000 Perhitungan pajak hasilan sebagai berikut:

Jualan Rp 54.000.000

Harga pokok produk terjual 36.540.000-

Laba kotor 17.460.000

Beban usaha sebelum penyusutan 7.514.000- Laba usaha sebelum penyusutan 9.946.000 Beban penyusutan alat kantor 5.000.000- Laba usaha kena pajak 4.946.000 Pajak hasilan 10% x Rp 4.946.000 494.600- Laba bersih setelah pajak Rp 4.451.400

Dengan metode saldo menurun dapat memperbesar beban penyusutan

dibandingkan metode garis lurus sebesar Rp 25.000.000 Beban penyusutan menurut:

Metode saldo menurun Rp 5.000.000 Metode garis lurus 2.500.000-

Lebih besar Rp 2.500.000

Dengan demikian, pajak hasilan menurut metode saldo menurun lebih kecil daripada metode garis lurus, yaitu dapat mennghemat pajak Rp 250.000 Pajak hasilan menurut:

Metode saldo menurun Rp 494.600 Metodegaris lurus 744.600-

Memperkecil pajak Rp 250.000

3. Pemberian Tunjangan Tidak Dalam bentuk natura

Dalam pasal 9 ayat 1 huruf e menyebutkan bahwa pemberian dalam bentuk natura bukan sebagai biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto, dengan demikian penghasilan kena pajak akan menjadi lebih besar. Berdasarkan kesepakatan antara perusahaan dengan karyawan, PT. Barata UUM Medan mengeluarkan dana untuk keperluan tunjangan bahan pangan sebesar Rp 127.000.000 menjadi unsur biaya admistrasi dan umum.

Jika tunjangan tersebut diberikan dalam bentuk natura, maka perusahaan tidak dapat memasukkannya sebagai unsur biaya operasi. Jika tunjangan tersebut diberikan dalam bentuk uang, maka biaya tersebut dapat dimasukkan kedalam unsur biaya operasi. Peluang ini tercantum dalam pasal 6 ayat 1 huruf a. Selengkapnya dapat dilihat contoh perhitungan pada tabel IV.2

Tunjangan Karyawan Bentuk Natura Diganti uang

TUNJANGAN BENTUK NATURA TUNJANGAN BENTUK UANG Penjualan Rp. 16.479.740.200,06

Biaya operasi:

Biaya pemakaian bahan Rp. 6.481.184.782,20 Biaya upah T. langsung 464.575.445,04 Biaya Mesin langsung 139.425.237,21 Biaya order lainnya 3.537.863.502,00 Biaya Sub kontrak 3.947.879.398,53 Biaya prod. T. Langsung 805.900.220,71 Biaya pemasaran 972.406.921,67 Biaya Adm&Umum 1.827.396.834,37 -Bentuk Natura (127.000.000,00) Biaya bunga 666.283.495,01 Biaya penyusutan 120.803.000,20

Jumlah biaya operasi Rp. 8.213.669.870,00

Laba/Rugi operasi Rp. 8.266.070.330,00

Pendapatan & biaya lain-lain:

Pendapatan lain-lain Rp. 138.524.952,74 Biaya lain-lain 497.527.094,98

Selisih biaya & pendapatan lain-lain (359.002.142,20)

Laba/Rugi sebelum pajak Rp. 7.907.068.188,00

PPh Badan (tarif pasal 16) :

10 % x Rp 50.000.000 = Rp. 5.000.000 15 % x Rp 50.000.000 = Rp. 7.500.000 30 % x Rp 7.807.068.188 =Rp. 2.342.120.456

PPh terutang (Rp. 2.354.620.456,00) Laba Bersih set. Pajak Rp. 5.552.447.732,00

Penjualan Rp. 16.479.740.200,06 Biaya operasi:

Biaya pemakaian bahan Rp. 6.481.184.782,20 Biaya upah T. langsung 464.575.445,04 Biaya Mesin langsung 139.425.237,21 Biaya order lainnya 3.537.863.502,00 Biaya Sub kontrak 3.947.879.398,53 Biaya prod. T. Langsung 805.900.220,71 Biaya pemasaran 972.406.921,67 Biaya Adm&Umum 1.827.396.834,37 - Bentuk Uang 127.000.000,00 Biaya bunga 666.283.495,01 Biaya penyusutan 120.803.000,20

Jumlah biaya operasi Rp. 8.467.669.370,00

Laba/Rugi operasi Rp. 8.012.070.830,00

Pendapatan & biaya lain-lain:

Pendapatan lain-lain Rp. 138.524.952,74 Biaya lain-lain 497.527.094,98

Selisih biaya & pendapatan lain-lain (359.002.142,20)

Laba/Rugi sebelum pajak Rp. 7.653.068.688,00

PPh Badan (tarif pasal 16) :

10 % x Rp 50.000.000 = Rp. 5.000.000 15 % x Rp 50.000.000 = Rp. 7.500.000 30 % x Rp 7.553.068.688 =Rp. 2.265.920.606

PPh terutang (Rp. 2.278.420.606,00) Laba Bersih set. Pajak Rp. 5.374.648082,00

Maka selisih hutang pajak yang dapat dihemat (Rp. 2.354.620.456 - 2.278420.606) = Rp 76199.850

Rp 2.354.620.456, dengan menggunakan tax planning perusahaan dapat mengatur pemberian tunjangan dalam bentuk natura dialihkan menjadi bentuk nilai uang sehingga terdapat penurunan total hutang pajak penghasilan menjadi Rp 2.278.420.606. Dari kasus diatas maka, PT Barata UUM Medan dapat melakukan penghematan pajak penghasilan sebesar Rp 76.199.850 (2.354.620.456 – 2.278.420.606) atau Rp 76.199.850/Rp 2.354.620.456 x 100% = 3,2%

4. Pemberian Tunjangan Pajak

Pemberian tunjangan pajak kepada karyawan dalam bentuk uang yang dimasukkan ke dalam daftar gaji akan memperbesar biaya operasional, dengan sendirinya akan memperkecil pajak yang terutang. Sebagai contoh, Tuan William adalah wajib pajak dengan status kawin dengan tiga anak, bekerja sebagai karyawan PT. Barata UUM Medan. Gaji yang diperoleh setiap bulan Rp 5.583.000,00 dan membayar iuran pensiun sebesar Rp 8.514,03 dan iuran Taspen Rp 15.811,76 yang ketiganya ditanggung perusahaan. Peluang penghitungan biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto perusahaan tercantum dalam pasal 6 ayat 1 huruf a, selengkapnya dapat dilihat contoh perhitungan pada tabel IV. 3

Pajak Penghasilan Diganti Tunjangan Pajak

PAJAK PENGHASILAN DITANGGUNG PERUSAHAAN PAJAK PENGHASILAN DIGANTI TUNJANGAN PAJAK

Gaji Rp 5.583.000,00 Iuran Rp 24.325,79 Dana Kesehatan Rp 8.514,03 Iuran Taspen Rp 15.811,76 Penghasilan Bruto Rp 5.631.951,58 Potongan: Biaya Jabatan Rp 108.000,00 Penghasilan Neto Sebulan Rp 5.523.651,58 Penghasilan Neto Setahun Rp 66.283.818,96 Penghasilan Tidak Kena Pajak Rp 8.640.000,00 Penghasilan kena Pajak Rp 57.643.818,96

Hutang PPh (Pasal 21):

5 % x Rp 25.000.000 = Rp. 1.250.000,00 10 % x Rp 25.000.000 = Rp. 2.500.000,00 15 % x Rp 7.643.818,96 =Rp. 1.146.572,84

Total PPh Pasal 21 Setahun Rp 4.896.572,84 PPh Pasal 21 Sebulan (Rp 4.896.572,84/12) Rp 408.048,00

Penghasilan Bruto Sebulan Rp 5.631.651,58 PPh Pasal 21 Rp 408.048,00 Biaya yang Dikeluarkan Perusahaan Rp 6.039.699,58

Biaya Yang Diperkenankan Pajak Rp 5.631.651,58

Gaji Rp 5.583.000,00 Iuran Rp 24.325,79 Dana Kesehatan Rp 8.514,03 Iuran Taspen Rp 15.811,76 Tunjangan Pajak Rp 408.048,00 Penghasilan Bruto Rp 6.039.699,58 Potongan: Biaya Jabatan Rp 108.000,00 Penghasilan Neto Sebulan Rp 5.931.699,58 Penghasilan Neto Setahun Rp 71.180.394,96 Penghasilan Tidak Kena Pajak Rp 8.640.000,00 Penghasilan kena Pajak Rp 62.540.394,96

Hutang PPh (Pasal 21):

5 % x Rp 25.000.000 = Rp. 1.250.000,00 10 % x Rp 25.000.000 = Rp. 2.500.000,00 15 % x Rp 12.540.394,96 =Rp. 1.881.059,24

Total PPh Pasal 21 Setahun Rp 5.631.059,24 PPh Pasal 21 Sebulan (Rp 4.896.572,84/12) Rp 408.048,00

Penghasilan Bruto Sebulan Rp 5.631.651,58 PPh Pasal 21 Rp 408.048,00 Biaya yang Dikeluarkan Perusahaan Rp 6.039.699,58

Biaya Yang Diperkenankan Pajak Rp 6.039.669,58

Dari perhitungan IV.3, biaya yang dikeluarkan PT. Barata UUM Medan menurut pajak penghasilan pasal 21 adalah sebesar Rp 6.039.699,58 sedangkan biaya yang diperkenankan pajak adalah Rp 5.631.651,58. Apabila perusahaan memberikan tunjangan pajak sebesar Rp 408.048,00/bulan dalam bentuk uang dan dimasukkan dalam daftar gaji, maka biaya gaji yang diperhitungkan oleh perusahaan untuk dikurangkan dari penghasilan perusahaan adalah Rp 5.631.651,58 + Rp 408.048 = Rp 6.039.699,58. Selain bermanfaat sebagai biaya pengurang dari penghasilan perusahaan dalam hal ini tax saving dapat mencapai

shift to lower bracket (dari PPh 21 karyawan = 10 % ke PPh 21 perusahaan =

30%), pemberian tunjangan pajak tersebut tidak akan mengurang penghasilan bersih karyawan.

5. Melakukan Perjanjian Sewa Guna Usaha Untuk Pendanaan Aktiva Tetap (Finance Lease)

Dalam pendanaan aktiva tetap, PT Barata UUM Medan melakukan perjanjian sewa guna usaha sesuai dengan PSAK No. 30 ”Akuntansi Sewa Guna Usaha” yang menyatakan bahwa aktiva sewa guna usaha yang dapat dikapitalisasi, disajikan dalam neraca sebagai bagian dalam aktiva tetap, dinyatakan sebesar nilai tunai dari seluruh pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha ditambah nilai sisa yang harus dibayar pada akhir masa sewa guna usaha. Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis yang sama dengan yang diterapkan untuk aktiva tetap sejenis.

Sehingga biaya yang dibebankan perusahaan dalam pendanaan aktiva tetap tersebut adalah:

Biaya sewa Guna Usaha Dengan Hak Opsi : Rp 5.660.092.482

Biaya penyusutan aktiva sewa Guna Usaha : Rp 3.379.086.456+ Biaya yang dibebankan perusahaan : Rp 9.039.178.938

Sedangkan biaya yang diperkenankan oleh perpajakan adalah:

Biaya Sewa Guna Usaha Dengan Hak Opsi : Rp 5.660.092.482 Biaya penyusutan aktiva Sewa Guna Uasaha : (Rp 3.379.086.456) Biaya yang dapat dikurangkan : Rp 2.281.006.026 Sehingga penghematan pajak yang diperkenankan perpajakan adalah: 30% x Rp 2.281.006.026 = Rp 684.301.807,80

Hal ini terjadi akibat adanya perbedaan peraturan yang diterapkan antara undang-undang perpajakan dengan Standar Akuntansi Keuangan, dimana menurut Standar Akuntansi Keuangan bahwa penyusutan aktiva sewa guna usaha harus dibebankan, sedangkan menurut peraturan perpajakan dana yang boleh dibebankan hanya dana yang dialokasikan untuk biaya sewa guna usaha tersebut. Sekalipun demikian, perusahaan tetap memperoleh penghematan pajak penghasilan karena biaya sewa guna usaha yang dikeluarkan yaitu sebesar Rp 5.660.092.482, lebih besar dari biaya penyusutan apabila dengan pembelian langsung yaitu sebesar Rp 3.379.086.456. dengan demikian terdapat selisih biaya sebesar Rp 2.281.006.026 yang menjadi dasar penghematan pajak penghasilan operasi perusahaan.

B. Analisis dan Evaluasi Hasil Penelitian

Setelah menerapkan tax planning pada PT Barata UUM Medan, tax planner harus melakukan analisa dan evaluasi untuk melihat sejauh mana hasil

suatu pelaksanaan suatu tax planning terhadap: beban pajak, perbedaan laba kotor dan pengeluaran selain pajak atas berbagai alternatif perencanaan.

Analisa dan evaluasi yang dilakukan dilihat dari penerapan tax planning pada PT Barata UUM Medan yang terdiri dari:

1. Maksimalisasi biaya-biaya fiskal

Salah satu pengeluaran yang dilakukan PT Barata UUM Medan yang diperkenankan undang-undang perpajakan, seperti yang tercantum dalam pasal 6 ayat 1 huruf f, adalah melakukan pendidikan dan pengembangan sumber daya daya manusia. Melalui pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia sesuai dengan rencana yang sudah dirancang sebelumnya, PT Barata UUM Medan memperoleh dua keuntungan sekaligus, yaitu penurunan hutang pajak pada tahun tersebut dan peningkatan keahlian dan mutu karyawannya di masa mendatang.

Dari kasus tersebut dapat kita peroleh informasi mengenai penghematan pajak yang diperoleh PT Barata UUM Medan bila melakukan pengeluaran yang diperkenankan oleh undang-undang perpajakan. Apabila perusahaan tidak melakukan pengeluaran yang diperkenankan oleh undang-undang perpajakan maka pajak yang harus ditanggung oleh perusahaan adalah sebesar Rp 21.316.520.456 tetapi dengan mengeluarkan dana sebesar Rp 123.131.773,70 untuk biaya pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia maka pajak

yang ditanggung oleh perusahaan menjadi Rp 2.281.080.924. Dengan demikian penghematan pajak yang diperoleh oleh perusahaan adalah sebesar Rp 1.903.543.953 (Rp 21.316.520.456 - Rp 2.281.080.924)

Manfaat lain yang diperoleh perusahaan dari pengeluaran biaya tersebut adalah meningkatnya mutu sumber daya manusia dimasa mendatang.

2. Memperbesar beban penyusutan

Menurut pasal 11 undang-undang no 17 Tahun 2000 tentang pajak penghasilan, penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian, pendirian, penambahan, perbaikan atau perubahan harta berwujud, kecuali tanah, yang dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara pendapatan yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun, dilakukan selama masa manfaat yang telah di tentukan straigh line method atau declining balance

method.

Pemilihan metode ini berpengaruh pada kondisi cash flow yang berasal dari penyusutan. Yang jelas, penyusutan adalah beban non kas yang akan membedakan antara laba dalam fiskal dan laba komersial. Dalam hal metode penyusutan, PT Barata UUM Medan menggunakan straigh line method untuk seluruh jenis aktiva tetapnya dengan menggunakan persentase yang tetap dari harga perolehannya, dimana metode ini telah digunakan secara konsisten dari tahun ke tahun. Alasan perusahaan menetapkan kebijakan untuk menggunakan metode ini adalah karena sederhana dan mudah dalam mengimplikasikannya serta lebih mudah dalam menentukan tarif penyusutannya.

Dari kasus diatas, jika perusahaan memilih metode penyusutan dengan declining

balance method dapat memperbesar beban penyusutan sebesar Rp 2500.000 dan

menghemat pajak Rp 250.000

3. Pemberian Tunjangan Tidak Dalam Bentuk Natura

Pada saat perusahaan memberikan tunjangan bahan pangan kepada karyawan dalam bentuk natura, total hutang pajak yang harus dibayar menurut perusahaan adalah sebagai berikut:

Penjualan Rp 16.479.740.200,06 Biaya Operasi (Rp 8.340.669.870,00) Biaya pegawai:

Bentuk Natura (Rp 127.000.000,00) Pendapatan dan beban lain-lain

Pendapatan lain-lain Rp 138.524.952,74 Beban lain-lain (Rp 497.527.094,98)

Selisih (Rp 359.002.142,20) Penghasilan kena pajak Rp 7.653.068.188,00 PPh Badan (Pasal 25): 10 % x Rp 50.000.000 = Rp 5.000.000 15 % x Rp 50.000.000 = Rp 7.500.000 30 % x Rp 7.553.068.188 = Rp 2.265.920.456 PPh Terutang (Rp 2.278.420.456,00) Laba Bersih Setelah Pajak Rp 5.374.647.732,00 Total Hutang Pajak (tarif pasal 25) Rp 2.278.420.456,00

Ternyata menurut fiskal, pengeluaran yang dapat dilakukan perusahaan untuk tunjangan karyawan dalam bentuk natura tidak diperkenankan untuk dikurangkan dari pendapatan usaha perusahaan, sehingga akan dilakukan koreksi sebesar Rp 127.000.000. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam pasal 9 ayat 1 huruf e yang menyebutkan bahwa pemberian dalam bentuk natura bukan sebagai biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto sehingga total hutang pajak penghasilan yang harus dibayar perusahaan menjadi sebagai berikut:

Penjualan Rp 16.479.740.200,06 Biaya Operasi (Rp 8.340.669.870,00) Biaya pegawai:

Bentuk Natura Rp 127.000.000,00 Pendapatan dan beban lain-lain

Pendapatan lain-lain Rp 138.524.952,74 Beban lain-lain (Rp 497.527.094,98)

Selisih (Rp 359.002.142,20) Penghasilan kena pajak Rp 7.907.068.188,00 PPh Badan (Pasal 25):

10 % x Rp 50.000.000 = Rp 5.000.000 15 % x Rp 50.000.000 = Rp 7.500.000 30 % x Rp 7.807.068.188 = Rp 2.342.120.456

PPh Terutang (Rp 2.354.620.456,00) Laba Bersih Setelah Pajak Rp 5.552.447.732,00 Total Hutang Pajak (tarif pasal 25) Rp 2.354.620.456,00

Dengan menggunakan tax planning PT Barata UUM Medan dapat mengatur pemberian tunjangan bahan pangan sesuai kesepakatan antara perusahaan dengan karyawan dalam bentuk natura dialihkan menjadi bentuk nilai uang maka perusahaan dapat menghemat pajak seperti terlihat dalam perhitungan berikut ini:

Penjualan Rp 16.479.740.200,06 Biaya Operasi (Rp 8.340.669.870,00) Biaya pegawai:

Bentuk Natura (Rp 127.000.000,00) Pendapatan dan beban lain-lain

Pendapatan lain-lain Rp 138.524.952,74 Beban lain-lain (Rp 497.527.094,98)

Selisih (Rp 359.002.142,20) Penghasilan kena pajak Rp 7.653.068.188,00 PPh Badan (Pasal 25):

10 % x Rp 50.000.000 = Rp 5.000.000 15 % x Rp 50.000.000 = Rp 7.500.000 30 % x Rp 7.553.068.188 = Rp 2.265.920.456

PPh Terutang (Rp 2.278.420.456,00) Laba Bersih Setelah Pajak Rp 5.374.647.732,00

Penghematan pajak yang diperoleh PT Barata UUM Medan adalah Rp. 2.354.620.456– Rp.2.278.420.456 = Rp.7.200.000 atau (7.200.000/2.354.620.456) x 100% = 3,2%

Selain memperoleh penghematan pajak, perusahaan juga tidak direpotkan oleh biaya operasional sedangkan bagi karyawan memungkinkan untuk memilih makanan yang lebih hemat dan disukainya.

4. Pemberian Tunjangan Pajak

Pada saat suatu perusahaan hendak membayar gaji karyawannya tentu akan memotong pajak penghasilan pasal 21, pembayaran pajak tersebut tergantung pada kesepakatan awal atau kebijakan perusahaan, apakah akan dibayar karyawan atau ditanggung oleh pemberi kerja, apabila ditanggung karyawan tentunya akan mengurangi pendapatan karyawan itu sendiri. Namun apabila ditanggung oleh pemberi kerja (perusahaan) ternyata biaya pajak tersebut tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto perusahaan, seperti terlihat pada perhitungan berikut ini:

Penghasilan Bruto (Rp 5.631.951,58 x 12) Rp 67.583.418,96 Total PPh Pasal 21 Setahun Rp 4.896.572,84 Biaya yang dikeluarkan perusahaan Rp 72.479.991,80 Biaya yang diperkenankan pajak Rp 67.583.418,96 Dengan menggunakan tax planning, biaya yang dikeluarkan perusahaan

akan sama dengan besarnya biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto perusahaan, seperti perhitungan dibawah ini:

Penghasilan Bruto (Rp 5.631.951,58 x 12) Rp 67.583.418,96 Total PPh Pasal 21 Setahun Rp 4.896.572,84 Biaya yang dikeluarkan perusahaan Rp 72.479.991,80 Biaya yang diperkenankan pajak Rp 72.479.991,80 Dengan memberikan tunjangan pajak Rp 4.896.572 (Rp 408.048/bulan) dalam bentuk uang dan dimasukkan dalam daftar gaji, perusahaan dapat

memperhitungkan gaji karyawan untuk dikurangkan dari penghasilan bruto

perusahaan, yaitu Rp 72.476.382,00 sama dengan penghasilan bruto karyawan dan selisih pajak yang dapat dihemat, terlihat dalam perhitungan berikut ini:

Pajak penghasilan yang ditanggung perusahaan: Biaya pengurang bagi perusahaan

(Pasal 25;30% x Rp 57.643.818,96) Rp 17.293.145,68 Pajak penghasilan (pasal 21) Rp 4.896.572,00 Pajak yang dihemat Rp12.396.573,68 Pajak penghasilan diganti tunjangan pajak:

Biaya pengurang bagi perusahaan

(Pasal 25;30% x Rp 62.540.394,96) Rp 18.762.118,48 Pajak penghasilan (pasal 21) Rp 5.631.059,24 Pajak yang dapat dihemat Rp 13.131.059,48

Selisih pajak yang dapat dihemat Rp 1.468.971,60

Namun perlu diingat bahwa, terjadi peningkatan atas pajak yang harus dibayar perusahaan Rp 5.631.059,24 - Rp 4.896.572,84 = Rp 734.486,40. Agar penghasilan karyawan tidak turun, maka peningkatan pajak tersebut ditutup dari selisih pajak yang dapat dihemat Rp 1.468.971,60. Jadi dengan memberikan tunjangan pajak dalam bentuk uang dan dimasukkan ke dalam daftar gaji, perusahaan akan memperoleh keuntungan pajak sebesar Rp 1.468.971,60 – Rp 734.486,40 = Rp 734.485,20. Hal tersebut akibat perusahaan memperoleh ekstra pajak 30% sementara hanya membayar pajak tambahan atas tunjangan pajak bagi pajak penghasilan karyawan pada tarif pajak 15%. Sedangkan bagi karyawan tidak ada ruginya karena penghasilan neto yang dibawa pulang tidak berubah, seperti perhitungan berikut ini:

1. Pajak penghasilan ditanggung perusahaan: PKP = Rp 57.643.818,96 Hutang Pajak = Rp 4.896.572,84 Penghasilan bersih = Rp 52.747.246,12

2. Pajak penghasilan diganti tunjangan pajak: PKP = Rp 62.540.394,96 Hutang Pajak = Rp 5.631.059,24 Penghasilan bersih = Rp 56.909.335,72 –(12 bln x Rp 408.048) + Rp 734.485,20 = Rp 56.909,335,72 – Rp 4.896.572 + Rp 734.485,2 = Rp 52.747.246 (dibulatkan)

pemberian tunjangan pajak yang dimasukkan dalam daftar gaji memang dapat menghasilkan tax saving bagi perusahaan, namun sebaiknya pajak penghasilan karyawan tersebut di- gross up dan pajaknya dibayarkan oleh karyawan, tidak diberi dalam tunjangan pajak, seperti terlihat dalam perhitungan berikut ini: Tunjangan Pajak Gross up Gaji Rp 5.583.000 Rp 5.631.651,48 Iuran Pensiun 24.325,79 - Dana Kesehatan 8.514,03 - Iuran Taspen 15.811,76 Tunjangan Pajak 408.048,00 408.048 Potongan (108.000,00) (108.000) Penghasilan kena pajak Rp 5.931.699,58 Rp 5.931.699,58

Dari perhitungan diatas terlihat bahwa biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan apabila di gross up akan sama dengan pemberian tunjangan pajak. Namun keuntungan yang diperoleh perusahaan apabila di gross up adalah pada saat terjadi kenaikan gaji, perusahaan tidak harus menanggung tunjangan pajak yang ikut meningkat, sehingga rencana penganggaran perusahaan tidak terganggu.

Sedangkan bagi karyawan, penghasilan neto yang dibawa pulang tetap tidak berubah sama halnya dengan apabila pajak penghasilan karyawan tersebut diberikan dalam bentuk tunjangan pajak.

Dari semua perhitungan tersebut dapat diperoleh informasi mengenai keuntungan perusahaan apabila memberikan tunjangan pajak penghasilan bagi karyawan yang ditambahkan ke dalam penghasilan karyawan. Namun PT Barata belum melakukan perencanaan ini, sehingga pada saat pihak fiskus melakukan koreksi fiskal terhadap laporan keuangan perusahaan, maka tunjangan pajak penghasilan tersebut tidak dapat menjadi faktor pengurang terhadap penghasilan bruto perusahaan karena tidak dimasukkan ke dalam daftar gaji karyawan.

5. Perjanjian Sewa Guna Usaha Dalam Pendanaan Aktiva Tetap (Finance

Lease)

Dalam pendanaan aktiva tetap, PT Bararata UUM Medan melakukan perjanjian sewa guna usaha sesuai dengan PSAK No 30 “Akuntansi Sewa Guna Usaha” yang menyatakan bahwa aktiva sewa guna usaha yang dapat dikapitalisasi, disajikan dalam neraca sebagai bagian dalam aktiva tetap, dinyatakan sebesar nilai tunai dari seluruh pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha ditambah nilai sisa yang harus dibayar pada akhir masa sewa guna usaha. Penyusutan dihitung dengan menggunakan straight line method berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis yang sama dengan yang diterapkan untuk aktiva sejenis.

Sehingga biaya yang dibebankan perusahaan dalam pendanaan aktiva tersebut adalah:

Biaya Sewa Guna Usaha Dengan Hah opsi: Rp 5.660.092.482 Biaya penyusutan aktiva Sewa Guna Usaha: Rp 3.379.086.456 Biaya yang dibebankan perusahaan : Rp 9.039.178.938 Sedangkan biaya yang diperkenankan oleh perpajakan adalah: Biaya Sewa Guna Usaha dengan Hak Opsi : Rp 5.660.092.482 Biaya penyusutan aktiva Sewa Guna Usaha :(Rp 3.379.086.456) Biaya yang dapat dikurangkan : Rp 2.281.006.026 Sehingga penghematan pajak yang di perkenankan pajak adalah: 30% x Rp 2.281.006.026 = Rp 684.301.807,80

Hal ini terjadi akibat adanya perbedaan peraturan yang diterapkan antara undang-undang perpajakan dengan standar akuntansi keuangan, dimana menurut Standar Akuntansi Keuangan bahwa penyusutan aktiva sewa guna usaha harus dibebankan, sedangkan menurut peraturan perpajakan dana yang boleh dibebankan hanya dana yang dialokasikan untuk biaya sewa guna usaha tersebut. Sekalipun demikian, perusahaan tetap memperoleh penghematan pajak penghasilan karena biaya sewa guna usaha yang dikeluarkan yaitu sebesar Rp 5.660.092.482, lebih besar dari biaya penyusutan apabila dengan pembelian langsung yaitu sebesar: Rp 3.379.086.456. Dengan demikian terdapat selisih biaya sebesar Rp 2.281.006.026 yang menjadi dasar penghematan pajak penghasilan operasi perusahaan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil uraian pembahasan penerapan dan evaluasi tax planning di PT Barata UUM Medan pada bab sebelumnya, penulis membuat kesimpulan dan saran yang diharapkan dapat membantu perusahaan serta dapat dijadikan pertimbangan dalam menetapkan kebijaksanaan yang berkaitan dengan masalah efesiensi PPh Badan.

A. Kesimpulan

Dari penelitian dan analisis yang telah diuraikan, maka dapat diatarik beberapa kesimpulan:

1. Tax planning bagi PPh badan, setidak-tidaknya harus memenuhi berbagai

ketentuan dan persyaratan yang berkaitan dengan perhitungan penghasilan kena pajak. Hal ini mencakup begitu banyak pos dan perlakuan perpajakan, yang diatur juga dengan sekian banyak ketentuan perpajakan. Oleh karena itu, perlu diberikan pengelompokan yang sifatnya fleksibel dan cukup akurat, untuk membedakan berbagai cara atau pendekatan yang bisa memungkinkan tercapainya efesiensi PPh badan.

2. Hingga saat ini PT Barata UUM Medan telah berupaya menerapkan tax

planning untuk meminimalkan beban pajak yang harus dibayar

perusahaan, namun ternyata masih terdapat cara tax planning yang dilakukan PT Barata UUM Medan, yang belum efektif dan efisien diantaranya adalah: metode penyusutan yang digunakan PT Barata yaitu

straight line method ternyata memperbesar jumlah pajak terutang, lebih

efesien jika digunakan Declining Balance Method. Kasus lain yang belum dilaksanakan oleh perusahaan adalah pemberian tunjangan pajak penghasilan kepada karyawan tidak dimasukkan ke dalam daftar gaji karyawan, sehingga tunjangan ini tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto perusahaan.

3. Penerapan tax planning pada PT Barata UUM Medan, telah didukung oleh sistem admistrasi yang tertib, rapi dan teratur sehingga dapat berjalan lancar sesuai dengan rencana untuk menghasilkan penghematan pajak guna mendukung strategi perusahaan secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kinerja. Semakin baik faktor-faktor pendukung tax

planning, maka semakin optimal beban pajak yang dapat dihemat serta

semakin kecil resiko sanksi atau denda pajak yang akan diderita oleh perusahaan.

4. Penerapan tax planning pada PT Barata UUM Medan bertujuan untuk mengelola kewajiban perpajakan secara lengkap, benar dan tepat waktu. Sedangkan manfaat yang dapat diperoleh dari penerapan tax planning pada PT Barata UUM Medan, apabila diterapkan secara benar adalah: (1) Dapat meminimalisasi beban pajak sebagai unsur biaya sehingga dapat menghemat arus kas yang keluar dan (2) Dapat mengestimasi kebutuhan kas untuk membayar beban pajak terutang serta menentukan waktu pembayaran yang tepat sehingga perusahaan dapat menyusun anggaran kas secara akurat. Dengan demikian harapan yang ingin dicapai PT Barata

UUM Medan untuk meningkatkan kinerja perusahaan dapat dilakukan

Dokumen terkait