A. Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan
2. Mempersulit Poligami
Masalah poligami merupakan masalah kontroversial dan selalu hangat untuk diperbincangkan.33 Setiap gagasan atau rancangan undang-undang yang berusaha membendung, atau bahkan melarang, praktek poligami biasanya dianggap sesuatu yang tidak Islami, karena diyakini bahwa poligami merupakan ajaran pokok dan penting dalam Islam, dan masalah poligami ini tertuang secara eksplisit dalam Al-Qur`an, yaitu QS. An-Nisa>` (4) ayat 3. Namun sebaliknya, masyarakat muslim umumnya juga setuju, atau setidaknya tidak mempermasalahkan, bahwa perkawinan seorang muslim dengan perempuan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) adalah dilarang. Padahal hal ini bertentangan dengan Al-Qur`an, karena QS.Al-Ma>`idah (5) ayat 5 secara eksplisit membolehkan perkawinan beda agama tersebut. Ketetapan hukum Islam memang dapat berubah sesuai dengan konteksnya, namun ini juga memberi arti bahwa hukum mengenai poligami juga dapat berubah sesuai dengan konteks masyarakatnya.
32 Mah}mu>d ‘Ali al-Shart}a>wi, Sharh} Qa>nu>n al-Ah}wa>l al-Shakhs}iyyah (Ttp.: Da>r al-Fikr, t.t.), 76.
33Bahkan di kalangan sebagian orientalis, poligami yang dilakukan oleh Nabi SAW menjadi pembahasan kritis. Ikram al-Haq mengkaji bahwa poligami yang dilakukan oleh Nabi SAW tidaklah didasarkan pada alasan nafsu seksual. Namun sampai umur 50 tahun hanya beristri satu orang, yaitu dengan Siti Khadijah, bahkan Siti Khadijah ini berumur lebih tua 15 tahun dari Nabi. Nabi menikah lagi setelah mencapai umur 55 tahun dengan berbagai alasan, baik alasan sosial, politik, kemanusiaan, hukum maupun tujuan pendidikan kepada ummatnya saat itu. Ikram al-H}aq, “Ta’addud Azwa>j al-Nabiy S}allalahu ‘alaihi wa Salla>m wa al-Mustashriqu>n”, Al-Qala>m, Desember 2010, 272-281.
Di negara-negara muslim, secara umum memiliki kecenderungan yang sama dalam hal pembatasan praktek poligami, hanya saja masing-masing negara berbeda-beda dalam tingkat ketegasannya. Di Libanon, misalnya, poligami tidak dilarang tetapi perlu dipenuhi beberapa persyaratan termasuk perlakuan adil terhadap isteri-isterinya. Sementara itu, di Yordania dan Maroko terdapat aturan pembatasan poligami melalui pembuatan perjanjian pra-nikah yang antara lain berisi bahwa apabila terjadi poligami, maka isteri yang tidak setuju dapat langsung mengajukan gugat cerai ke pengadilan. Adanya izin isteri pertama dan Dewan Hakam (arbitrasi) juga menjadi syarat poligami di Pakistan, dan apabila suami pelanggarnya diadukan, maka diancam hukuman maksimal 1 tahun penjara atau denda 500 Rupis atau keduanya. Negara muslim yang melarang poligami sama sekali adalah Turki dan Tunisia, bahkan di Tunisia, pelaku poligami diancam hukuman 1 tahun penjara dan denda sebesar 240.000 frank.34
Secara metodologis-Ushul Fikih, perbedaan aturan mengenai poligami di negara-negara muslim tersebut didasarkan pada interpretasi terhadap ayat-ayat poligami yang dipahami secara tekstual atau substansial. Secara substansial dipahami bahwa sebenarnya poligami dibatasi bahkan tidak dikehendaki oleh
34 Gagasan para Tokoh Pembaruan pemikiran Islam juga turut andil dalam pelarangan poligami di Tunisia saat itu. Seperti yang disampaikan oleh pejuang emansipasi wanita di Tunisia yaitu Tahir al-Haddad (1899-1935) dalam bukunya Imroatuna> fi> as-Shari>’ah wa al-Mujtama’, Tahir Hadad mengatakan bahwa poligami merupakan salah satu bentuk kejelekan yang terdapat pada bangsa Arab Jahiliyah terdahulu (sayyi’ah min sayyia>t al-jahiliyah al u>la>). Haddad menggambarkan fenomena para lelaki Arab kala itu yang biasa memperisteri beberapa orang wanita, bahkan tanpa batas. Para isteri itu diperlakukan secara tidak adil dan sewenang-wenang. Kemudia Islam datang untuk memberantas perilaku ini dengan menurunkan aturan secara bertahap (tadarruj fi tasyri’), yaitu mula-mula membatasi jumlah maksimal wanita yang dijadikan isteri hingga 4 orang. Kemudian Islam mensyaratkan sikap adil diantara para isteri, sesuatu yang mustahil dapat diwujudkan oleh seorang suami. Dengan demikian dalam pandangan Haddad, poligami tidak memiliki dasar dalam Islam, bahkan sebenarnya Islam bermaksud memberantas perilaku poligami ini.
Qur`an yang justru bertujuan untuk melindungi hak-hak perempuan.35 Ayat 3 Q.S. Al-Nisa` cenderung untuk memerintahkan monogami, sehingga kemudian praktek poligami perlu dibatasi, bahkan syarat adil dalam ayat tersebut disebut sebagai sesuatu yang tidak mungkin dilakukan dalam ayat 129 surat yang sama. Atas dasar itu, sebagian negara-negara muslim seperti Turki dan Tunisia melarang sama sekali praktek poligami.36
Mengenai poligami ini, KHI mengambil posisi tengah antara pandangan yang pro dan kontra, yaitu dengan cara membatasinya secara ketat dengan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Dalam KHI, pembahasan mengenai poligami ini dibahas pada pasal 55-59. Pasal-pasal tersebut secara lengkap berbunyi:
Pasal 55
(1) Beristeri lebih satu orang pada waktu bersamaan, terbatas hanya sampai empat isteri.
(2) Syarat utama beristeri lebih dari seorang, suami harus mampu berlaku adil terhadap ister-isteri dan anak-anaknya.
(3) Apabila syarat utama yang disebut pada ayat (2) tidak mungkin dipenuhi, suami dilarang beristeri dari seorang.37
35 M. Atho Mudzhar dan Khairuddin Nasution (Ed.), Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern, 214-215.
36 Mengenai syarat adil dalam pernikahan, termasuk poligami ini, misalnya dibahas dalam Mah}mu>d ‘Ali al-Shart}a>wi>, Sharh} Qa>nu>n al-Ah}wa>l al-Shakhs}iyyah, 247-249. Menurut Al-T}a>hir al-H}ada>d—pemikir modern asal Tunisia—berpendapat bahwa, surat al Nisa (4):3 berhubungan dengan (4):129. Dengan turunnya al Nisa (4): 129 tersebut sudah seharusnya poligami dicegah, sebab menurutnya tujuan pernikahan adalah untuk membina keluarga sakinah, mawadah dan rahmah, sementara pada kanyataannya poligami mengakibatkan sulitnya membina kehidupan keluarga yang harmonis dan tentram antara suami, istri dan anak-anak, apalagi harta yang ditinggalkan si suami ketika ia meninggal sangat terbatas. Al-T}a>hir Al-H}adda>d, Wanita dalam Syari’ah dan Masyarakat terj, (Serabaya: Pustaka Firdaus, 1993),77
Pasal 56
(1) Suami yang hendak beristeri lebih dari satu orang harus mendapat izin dari Pengadilan Agama.
(2) Pengajuan permohonan Izin dimaksud pada ayat (1) dilakukan menurut pada tata cara sebagaimana diatur dalam Bab.VIII Peraturan Pemeritah No.9 Tahun 1975.
(3) Perkawinan yang dilakukan dengan isteri kedua, ketiga atau keempat tanpa izin dari Pengadilan Agama, tidak mempunyai kekuatan hukum.38
Pasal 57
Pengadilan Agama hanya memberikan izin kepada seorang suami yang akan beristeri lebih dari seorang apabila: a. isteri tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai isteri; b. isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan; c. isteri tidak dapat melahirkan keturunan.39
Pasal 58
(1) Selain syarat utama yang disebut pada pasal 55 ayat (2) maka untuk memperoleh izin pengadilanAgama, harus pula dipenuhi syarat-syarat yang ditentukan pada pasal 5 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 yaitu : a. adanya pesetujuan isteri; b. adanya kepastian bahwa suami mampu menjamin keperluan hidup ister-isteri dan anak-anak mereka.
(2) Dengan tidak mengurangi ketentuan pasal 41 huruf b Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975, persetujuan isteri atau isteri-isteri dapat diberikan secara tertulis atau dengan lisan, tetapi sekalipun telah ada persetujuan tertulis,
38Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, 34 39Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, 34
persetujuan ini dipertegas dengan persetujuan lisan isteri pada sidang Pengadilan Agama.
(3) Persetujuan dimaksud pada ayat (1) huruf a tidak diperlukan bagi seorang suami apabila isteri atau isteri-isterinya tidak mungkin dimintai persetujuannya dan tidak dapat menjadi pihak dalam perjanjian atau apabila tidak ada kabar dari isteri atau isteri-isterinya sekurang-kurangnya 2 tahun atau karena sebab lain yang perlu mendapat penilaian Hakim.40
Pasal 59
Dalam hal istri tidak mau memberikan persetujuan, dan permohonan izin untuk beristeri lebih dari satu orang berdasarkan atas salah satu alasan yang diatur dalam pasal 55 ayat (2) dan 57, Pengadilan Agama dapat menetapkan tentang pemberian izin setelah memeriksa dan mendengar isteri yang bersangkutan di persidangan Pengadilan Agama, dan terhadap penetapan ini isteri atau suami dapat mengajukan banding atau kasasi.41
Ketentuan dalam KHI di atas memberi pengertian bahwa poligami dapat dilakukan dengan beberapa persyaratan, dan apabila syarat-syarat tersebut tidak dapat dipenuhi maka poligami sebenarnya tidak boleh dilakukan.42 Ketetapan KHI ini berbeda dengan pendapat yang berkembang dalam masyarakat Indonesia pada umumnya, yaitu bahwa poligami merupakan hal yang boleh (mubah) dilakukan dan merupakan hak laki-laki untuk berpoligami atau tidak. Pendapat ini sebenarnya merupakan makna al-z}a>hir dari
40Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, 34-35 41Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, 35
42Poligami yang dibolehkan dalam Al-Qur`an pada dasarnya memang sangat terbatas dengan syarat-syarat yang ketat. Abdur Rahman I. Doi, Women in Shari’ah (Islamic Law) (Kuala Lumpur: A.S. Noordeen, 1992), 53-54.
ayat poligami yang dinyatakan dalam QS.An-Nisa>` (4) ayat 3. Dengan makna al-z}a>hir, dapat dipahami bahwa ayat tersebut memberikan kebolehan praktek poligami bagi laki-laki untuk menikahi perempuan sampai dengan empat orang. Makna al-z}a>hir
merupakam makna yang dapat dipahami dan disimpulkan dengan segera dari pengertian secara bahasa, namun sebenarnya makna ini tidak sesuai dengan maksud asli dari konteks ketika ayat itu diturunkan (siya>q al-kalam).43 Makna al-z}a>hir inilah yang banyak diikuti oleh fikih mazhab klasik, sesuai dengan konteksnya saat itu. Pembahasan mengenai poligami umumnya hanya menyangkut perlunya bersikap adil, terutama dalam pembagian waktu bersama antara istri yang satu dan yang lainnya. Sementara hukum poligami sendiri sudah dimaklumi, yaitu sesuatu yang boleh (mubah), dalam arti siapa yang merasa mampu akan berbuat adil secara materi dan waktu, maka dibolehkan.44Para ulama mazhab dalam hal poligami ini memang cenderung untuk memberlakukan kaidah al-‘ibrah bi ‘umūm al-lafz} la bi khus}ūṣ al-sabab, jadi yang diperhatikan adalah keumuman bunyi lafazh, dengan tanpa mengkaitkannya dengan konteks ketika ayat tersebut turun.
Oleh karena itu, dalam Ushul Fikih, di samping makna al-z}a>hir, terdapat makna al-nas}s}, yaitu makna yang dimaksud oleh suatu ayat karena makna tersebut sesuai dengan konteks ketika ayat itu diturunkan.45 Dengan makna al-nas}s}} ini, ayat poligami di atas dapat dipahami sebagai perintah untuk membatasi pelaksanaan poligami hanya sampai empat orang perempuan, bahkan mendorong untuk tidak melakukannya, karena praktek poligami ini dipandang
43H}asaballah, Us}ūl al-Tashri’,265.
44 Misalnya Taqiyyuddi>n al-H}usaini>, Kifa>yah Akhya>r fi> H}alli Ghayar al-Ikhtis}a>r (Pekalongan: Mat}ba’ah Raja Murah, t.t.), II: 38-39.
45 Sa’d Ibn Nas}i>r al-Shat}ari>, Al-Qat}’ wa al-Z}ann ‘Inda al-Us}u>liyyin (Riyad}: Da>r al-Habi>b, 1997), II: 364. ‘Ali> Jum’ah, Aliyyat al-Ijtiha>d, (Kairo: Da>r ar-Risa>lah, 2004), 55.
dapat memberi kemadaratan bagi istri-istri.46 Apabila di lihat dalam konteks masyarakat Arab saat itu, praktek poligami merupakan hal yang lazim, bahkan seorang laki-laki dapat memiliki belasan atau puluhan istri. Dengan ayat 3 QS. An-Nisa>` di atas, Islam datang untuk membatasi praktek poligami yang berlaku saat itu. Oleh karena itu, maksud utama ayat poligami di atas sebenarnya adalah untuk membatasi praktek poligami, bukan membolehkan apalagi menganjurkan praktek poligami.47
Dengan ketentuan yang membatasi poligami ini, secara metodologis-Ushul Fikih, KHI mengartikan ayat poligami dengan menggunakan makna al-nas}s}, yang merupakan makna yang lebih kuat karena makna itulah maksud asli dari ayat tersebut. Di samping itu, ketentuan poligami dalam KHI ini sesuai dengan kaidah yang memandang bahwa konteks masyarakat saat ayat tersebut turun merupakan hal yang penting sebagai acuan untuk memahami ayat. Kaidah tersebut adalah al-‘ibrah bi khus}ūṣ al-sabab la> bi ‘umūm al-lafz}, pertimbangan yang dipegangi dalam menafsirkan ayat adalah kekhususan sebab, bukan keumuman makna lafazh. Sementara itu, syarat-syarat yang dikemukakan dalam pasal-pasal KHI di atas merupakan upaya kontekstualisasi maksud ayat dengan konteks masyarakat Indonesia sekarang. Dengan demikian, ketentuan mengenai poligami dalam KHI ini tidak saja berusaha menyesuaikan dengan keadaan dan kondisi masyarakat Indonesia saat ini, tetapi juga memiliki dasar metodologis yang kuat.
46Hasaballah, Us}ūl al-Tashri’, 265-267.
47Dalam berbagai riwayat dinyatakan bahwa para sahabat yang masuk Islam dan memiliki istri lebih dari empat, maka harus membatasi hanya pada empat istri serta menceraikan yang lainnya. Misalnya Ghailan yang memiliki sepuluh orang isteri dan Naufal Ibn Mu’awiyah yang memiliki lima orang isteri. Taqiyyuddi>n, Kifa>yah al-Akhya>r, II: 38.