B. Perlindungan Hak-Hak Anak
3. Status Anak Sah
Anak sah dalam fikih klasik adalah anak yang lahir sebagai hasil pembuahan dari suami dan isteri yang didahului terlebih dahulu oleh akad nikah secara sah. Dengan demikian, apabila terjadi hamil terlebih dahulu kemudian baru diadakan akad nikah, maka anak yang lahir tidak dianggap sebagai anak yang sah, tetapi anak zina.96 Ketentuan ini dapat dipandang sebagai tindakan preventif untuk menutup perbuatan zina, dengan tidak mengakui konsekuensinya secara hukum. Namun demikian, dalam waktu yang sama, yang menjadi korban adalah anak yang dilahirkannya, padahal dia tidak bersalah, dan yang bersalah sebenarnya adalah perbuatan orang tuanya. Dengan maksud untuk melindungi hak-hak anak dan sebagai konsekuensi dari dibolehkannya wanita hamil akibat zina menikah dengan laki-laki yang menghamilinya, maka KHI menetapkan definisi anak sah sebagaimana pasal di bawah ini.
Pasal 99 Anak yang sah adalah:
a. Anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah;
b. Hasil perbuatan suami isteri yang sah diluar rahim dan dilahirkan oleh isteri tersebut.97
96Salah satu argumen para ulama adalah bahwa adanya nasab merupakan nikmat, dan nikmat tidak lahir dan muncul dari perbuatan pidana. Abu> Zahrah, Al-Ah}wa>l al-Shakhs}iyyah, 454-455.
Anak sah, dengan demikian, menurut KHI pasal 99 ini adalah
pertama, anak yang lahir setelah adanya akad perkawinan yang sah dari kedua orang tuanya, kemudian hamil dan lahir, kedua, anak yang lahir setelah adanya kehamilan terlebih dahulu, kemudian kedua orang tuanya melakukan akad nikah lalu lahir, ketiga, anak yang lahir setelah adanya akad nikah yang sah, namun sebelum lahir kedua orang tuanya berpisah, baik karena cerai atau ayahnya meninggal, dan keempat adalah anak yang lahir setelah adanya proses bayi tabung dari kedua orang tuanya yang telah sah menikah. Anak sah tipe kedua inilah yang berbeda dengan pandangan fikih mazhab klasik.98
Bahkan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 46/PUU-VIII/2010 yang dikeluarkan pada tanggal 27 Pebruari 2012 menyatakan bahwa Anak yang dilahirkan di luar perkawinan tidak saja mempunyai hubungan perdata dengan ibunya tetapi juga denganbapak biologisnya sepanjang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi atau alat bukti lain menurut hukum bahwa anak tersebut mempunyai hubungan darah dengan bapak biologisnya.99 Dengan putusan MK tersebut, berarti adanya legalitas hukum berupa hubungan darah antara anak yang lahir di luar perkawinan dengan ayah biologisnya. Hubungan yang semula hanya merupakan sebuah realitas berubah menjadi hubungan hukum, sehingga hal ini memiliki konsekuensi dan akibat hukum. Dengan demikian, antara anak dengan bapak biologisnya dan juga keluarga bapaknya secara hukum memiliki hubungan perdata sebagaimana hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya.100
98Tahir Mahmood, Family Reform in the Muslim World (Bombay:Tripathi, 1972), 115.
ةيبرغلما ةرسلأا ةنودم.
http://ar.wikipedia.org/wiki/99 Putusan MK Nomor 46/PUU-VIII/2010, hlm. 29-44.
100Mukti Arto, “Diskusi Hukum Putusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 46/PUU-VIII/2010 Tanggal 27 Pebruari 2012 Tentang Perubahan Pasal 43 UUP”, Makalah, hlm. 5-6.
Konsekuensinya, apabila antara anak dan ibu memiliki hubungan nasab, maka dipahami bahwa dengan bapak biologisnya juga memiliki hubungan nasab, yang berarti anak yang lahir di luar perkawinan tersebut berhak atas nafkah, perwalian dan waris kepada bapak biologis dan keluarga bapaknya tersebut.
Putusan MK tersebut menuai pro dan kontra. Kelompok yang pro antara lain adalah Komnas HAM dan Komnas Perempuan serta para aktivis gerakan perempuan dan anak. Mereka memandang bahwa keputusan MK tersebut sudah tepat karena bertujuan melindungi hak-hak anak dan juga perempuan. Anak di luar perkawinan umumnya selama ini menjadi tanggung jawab ibunya semata, namun dengan putusan MK tersebut tanggung jawab utama terhadap anak berada di tangan bapak biologisnya. Sementara itu, pihak-pihak yang menolak putusan MK kebanyakan dari kalangan ahli hukum Islam, baik ulama maupun hakim.101 MUI, misalnya, menyatakan bahwa anak hasil zina tidak memiliki hubungan nasab sama sekali dengan bapak biologisnya. Namun demikian, laki-laki pezina sebagai bapak biologisnya, oleh pemerintah dapat dikenakan hukuman ta’zir (jenis dan hukuman yang diberikan oleh pihak yang berwenang) berupa 1) mencukupi kebutuhan hidup anak tersebut dan 2) memberikan harta setelah ia meninggal melalui wasiat wajibah. Hukuman tersebut semata-mata bertujuan melindungi hak anak, bukan untuk mensahkan hubungan nasab antara anak tersebut dengan lelaki yang mengakibatkan kelahirannya.102
Secara metodologis, ketetapan KHI mengenai definisi anak sah tersebut adalah didasarkan pada metode al-istih}sa>n, yaitu mengecualikan anak yang telah dikandung terlebih dahulu sebelum akad nikah kedua orang tuanya sebagai anak sah demi
101 Syamsul Anwar dan Isak Munawar, “Nasab Anak di Luar Perkawinan Paska Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 Tanggal 27 Pebruari 2012 Menurut Teori Fikih dan Perundang-undangan”, Makalah, hlm. 33.
102 http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4f6322acd4b12/fatwa-mui-juga-melindungi-anak-hasil-perzinaan.
mempertimbangkan kemaslahatan dan perlindungan hak-hak anak (h}ifdh an-nafs), khususnya hak nafkah, hak waris dan hak pengasuhan. Ketetapan ini diperkuat oleh QS.Al-An’a>m (6) ayat 164: La> taziru wa>zira>tun wizra ukhra> (seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain), seorang anak yang tidak berdosa sebaiknya tidak menanggung beban perbuatan zina yang telah dilakukan orang tuanya.
Seiring dengan kebolehan menikahi wanita hamil oleh laki-laki yang menghamilinya, maka anak yang dikandungnya dan lahir setelah terjadinya perkawinan tersebut dipandang sebagai anak yang sah dalam aturan perundang-undangan di negara-negara muslim, berbeda dengan ketetapan fikih mazhab klasik yang tidak mengakuinya sebagai anak sah. Kebanyakan Negara-negara muslim menetapkan bahwa anak dianggap sebagai anak sah apabila masa kehamilan selama pernikahannya adalah minimal enam bulan. Hal ini disimpulkan dari dua ayat, yaitu Q.S. Luqman (31) ayat 14 yang menyatakan bahwa umur selesainya menyapih adalah dua tahun dan Q.S. Al-Ahqaf (46) ayat 15 yang menyatakan bahwa masa hamil dan menyusui adalah tiga puluh bulan. Dengan demikian dari dua ayat tersebut dapat dipahami bahwa umur minimal kehamilan adalah tiga puluh bulan dikurangi dua tahun, yaitu enam bulan.103
Lebih dari itu, dalam undang-undang hukum keluarga Maroko dinyatakan bahwa anak yang lahir dalam masa khitbah (peminangan) dapat dianggap sebagai anak sah, apabila memang kedua orang tuanya melangsungkan pernikahan setelahnya. Hal ini didasarkan terutama pada perlindungan terhadap hal-hak anak (li h}ima>yah h}uqu>q al-t}ifl).104 Secara metodologis-Ushul Fikih,
103Mah}mu>d ‘Ali al-Sharta>wi, Sharh} Qa>nu>n al-Ah}wa>l al-Shakhs}iyyah, 541-542.
104 http://ar.wikipedia/mudawwadah al-usrah al-maghribi. Diakses pada 4 Mei 2015.
ketetapan ini sebagaimana ketentuan KHI di atas menggunakan metode al-istih}sa>n hanya saja dalam tingkat yang lebih liberal.105