HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3. Pelayanan Umum
4.5.4. Akuntabilitas Kebijakan
4.5.4.1 Mempertanggungjawabkan Kebijakan yang telah diambil
Akuntabilitas kebijakan terkait dengan pertangggungjawaban lembaga publik atas kebijakan-kebijakan yang diambil. Lembaga-lembaga publik hendaknya dapat mempertanggungjawabkan kebijakan yang telah ditetapkan dengan mempertimbangkan dampak dimasa depan. Tata kepemerintahan yang baik dan amanah (good governance) harus terbuka dan proses pengambilan kebijakan yang bebas dari kecurigaan dan bisa dipertanggungjawabkan. Tata kepemerintahan yang semacam itu tidak lain kecuali tujuannya untuk kepentingan rakyatnya.
Kecamatan Pamatang Silimahuta sebagai salah satu instansi penunjang penyelenggaraan pelayanan publik selama ini sudah cukup efisien dalam menanggapi permintaan masyarakat dimana Kecamatan Pamatang Silimahuta selalu bertanggungjawab atas tugas dan fungsi yang dijalankan melalui
program-program dan kebijakan-kebijakan yang ada. Mengenai pertanggungjawaban kebijakan Bapak Drs. Fendi Raya Girsang Camat Pamatang Silimahuta mengatakan bahwa instansi kecamatan cukup bertanggungjawab dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat, tuturnya:
“Sejauh ini kami sudah cukup bertanggungjawab atas semua kebijakan yang kami buat. Setiap kebijakan yang dibuat itu kan ada peraturannya jadi kalo kami gak bertanggungjawab pastinya akan kena sanksi. Baru-baru ini kami dapat sertifikat penghargaan sebagai kategori kecamatan terbaik pertama dalam rangka kegiatan penyampaian Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan dan Perdesaan (SPPT PBB-P2) Tahun pajak 2019. Ini menjadi salah satu bukti dari pertanggungjawaban kami, dimana dari 32 kecamatan di Simalungun Kecamatan Pamatang Silimahuta menjadi terbaik pertama”. (Wawancara, Kamis 20 Juni 2019)
Dari pernyataan di atas dapat kita ketahui bahwasanya instansi kecamatan sudah berupaya bertanggungjawab terhadap kebijakan-kebijakan yang telah dibuat. Hal tersebut didukung dengan berhasilnya Kecamatan Pamatang Silimahuta mendapatkan sertifikat penghargaan sebagai terbaik pertama dalam hal penyampaian Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan dan Perdesaan (SPPT PBB-P2) Tahun pajak 2019.
Gambar 4.24. Penghargaan Pemkab Simalungun kepada Camat Dan Kades Atas Pencapaian PBB
Sumber: Kecamatan Pamatang Silimahuta
Selain dari Camat Pamatang Silimahuta, Lentina Saragih, Kassubag Keuangan juga mengatakan bahwa instansi kecamatan cukup bertanggungjawab dengan kebijakan yang telah dibuat, tuturnya:
“Setiap instansi pasti bertanggungjawab dengan kebijakan yang telah mereka buat begitu juga dengan Kecamatan Pamatang Silimahuta.
contohnya dari bidang saya sendiri pertanggungjawabannya dapat dilihat pada bagian keuangan. Salah satu contoh pertanggungjawaban yang bisa kita lihat yaitu Laporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Tujuan penyusunan laporan ini untuk memberikan gambaran keuangan yang lebih utuh kepada pihak yang memerlukan pertanggungjawaban. Dimaksudkan agar para pengguna laporan mengetahui dan mudah untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan pemerintah daerah untuk kepentingan rakyat.
Dan yang lain contohnya penyusunan Rencana Kerja Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah. Nah di dalam rencana kerja anggaran ini lah instansi kecamatan mempertanggungjawabkan biaya yang dikeluarkan mengenai rincian anggaran belanja langsung menurut program dan kegiatan Satuan. Jadi kebijakan mengenai anggaran ditanggungjawapi setiap tahunnya bagaimana perjalanannya apakah sesuai dengan yang direncanakan atau bagaimana”. (Wawancara, Jumat 21 Juni 2019)
Gambar 4.25. Laporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
Sumber: Kecamatan Pamatang Silimahuta
Gambar 4.26 Rencana Kerja Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah
Sumber: Kecamatan Pamatang Silimahuta
Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa pihak instansi kecamatan sudah berusaha untuk memenuhi tanggungjawabnya dalam bidang kebijakan.
Namun sejalan dengan kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan di Kecamatan Pamatang Silimahuta. Masih ada masyarakat yang mengeluhkan tentang pertanggungjawab kebijakan yang dilakukan oleh Instansi Kecamatan Seperti yang dikatakan oleh seorang masyarakat yang saya wawancarai, Hotde Fier Ruma Singap:
“Kalau masalah pertanggungjawaban kebijakan di kantor camat atau pangulu saya kurang tau sih. Karna jarang sekali ada sosialisasi tentang itu, Contohnya itu masalah raskin (beras untuk rakyat miskin) dulu di kampung ini ada pembagian beras untuk rakyat miskin, sekarang gatau entah masih berjalan atau enggaknya. Kan enggak jelas kekgitu ada kebijakan tapi pelaksanaannya gatau kekgimana.
Kasian masyarakat yang memang mengharapkan beras itu untuk menambah kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Harusnya pemerintah harus bertanggungjawab dalam hal itu”. (Wawancara, Minggu 23 Juni 2019)
Melalui penjelasan informan tersebut di atas, kita dapat mengetahui bahwasanya sebagai lembaga pelayanan publik, Kecamatan Pamatang Silimahuta
kurang bertanggungjawab terhadap kebijakan yang telah dibuat, dimana pemerintah kurang bersosialisasi baik dengan masyarakat mengenai suatu kebijakan, bagaimana kebijakan itu berjalan, apa kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kebijakan atau solusi untuk kebijakan yang kurang jelas pelaksanaannya. Sosialisasi di Kecamatan Pamatang Silimahuta masih perlu ditingkatkan agar setiap kalangan masyarakat dapat mengetahui kondisi pelayanan publik yang sedang dijalankan dan masyarakat tidak curiga atau tidak percaya kepada aparat pemerintah karena sosialisasi merupakan hal yang membantu Kecamatan Pamatang Silimahuta dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mewujudkan pelayanan publik yang baik. Hal itu didukung oleh pernyataan beberapa informan Seperti Agri Yanto Tarigan yang mengatakan:
“Saya tidak tau menau soal kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh instansi kecamatan apalagi pertanggungjawabannya. Kalau menurut saya sosialiasi tentang kebijakan itu perlu lah dilakukan, supaya kek saya ini ngerti dan paham apa saja kebijakan dari kecamatan dan para aparat di kecamatan itu tau juga sebenarnya yang dibutuhkan masyarakatnya itu apa, masyarakatnya itu maunya seperti apa. Kalau bisa pemerintah melakukan sosialisasi secara rutinlah biar kami masyarakat ngerti dan mau campur tangan dalam urusan pemerintah.
Kalau bisa sekali sebulan diadakan sosialisasi biar enggak buta kali atau setiap 6 bulan sekali pun enggakpapa. (Wawancara, Minggu 23 Juni 2019)
Begitu juga dengan Lesmania Simanjorang mengatakan:
”Sejauh ini yang saya ketahui pertanggungjawaban kecamatan mengenai kebijakan-kebijakan tidak pernah dilakukan secara langsung kepada masyarakat. Saya tidak tau pertanggungjawaban yang diberikan itu sebenarnya dalam bentuk apa. Atau mereka hanya mempertanggungjawabkan kebijakan yang telah dibuat ke tingkat atasan mereka saja mungkin”. (Wawancara, Minggu 23 Juni 2019) Dari wawancara di atas tidak bisa kita pungkiri bahwasanya kesadaran masyarakat akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara sekaligus sebagai penerima pelayanan publik tertentu sangat dibutuhkan untuk dapat berpartisipasi dalam mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik. Hal ini dikarenakan kurangnya partisipasi dalam penyelenggaraan pemerintah akan menyebabkan kebijakan publik yang diputuskan tidak mampu mengakomodasi berbagai aspirasi
dan kepentingan masyarakat yang dapat mengakibatkan kegagalan dalam pencapaian tujuan kebijakan
Kurangnya pertanggungjawaban pemerintah juga dipaparkan oleh Tuahdon Saragih, beliau mengatakan:
“Soal pertanggungjawaban kebijakan menurut saya kurang baik ya.
Seperti masalah sekolah tadi. Jika program yang dijalankan sudah mengeluarkan anggaran besar dan hasil dari program tersebut dibiarkan begitu saja itu namanya tidak bertanggung jawab.
Seharusnya pemerintah memiliki satu kebijakan mengenai hal apa yang akan dilakukan untuk program yang sudah terlaksana agar tidak terbengkalai, agar bisa berguna untuk masyarakat banyak . begitu dia. (Wawancara, Minggu 23 Juni 2019)
Dari hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa pemerintah dianggap kurang memiliki tanggungjawab dalam membuat kebijakan yang membantu masyarakat. Melihat kondisi SMP Negeri 1 Sitora yang sudah terbengkalai atau tidak beroperasi lagi, pemerintah seharusnya ambil kebijakan akan diapakan sekolah tersebut. Hal ini menunjukkan lemahnya tanggung jawab para aparat Instansi Kecamatan Pamatang Silimahuta yang kemungkinan besar akan menyebabkan tujuan instansi yang telah disepakati tidak tercapai. Oleh karena itu, letak pengambilan kebijakan atas langkah yang harus dikerjakan ke depan demi terciptanya pelayanan publik yang akuntabilitas perlu dilakukan oleh Camat Pamatang Silimahuta beserta dinas terkait lainnya.
Dalam mengerjakan komitmennya aparat di Kecamatan Pamatang Silimahuta harus memegang beberapa prinsip dalam melayani masyarakat, diantaranya: keterbukaan, tidak berpihak, profesional, bertanggung jawab, dan adil. Komitmen setiap stakeholder di Kecamatan Pamatang Silimahuta hanya dapat diukur dari apa yang terjadi di lapangan. Hal ini dikarenakan tidak semua kesepakatan yang telah diputuskan berlangsung dengan baik. Meskipun sudah ada komitmen, ketika di lapangan ternyata masih ada juga pelanggaran yang terjadi.
Berkaitan dengan masalah pertanggungjawaban mengenai sosialisasi kebijakan itu Bapak Robby Silalahi, SE Sekretaris camat mengatakan:
“Setiap bulannya kita selalu mengadakan harungguan atau evaluasi yang bertujuan untuk memudahkan kita melakukan pencegahan.
Pencegahan terjadinya pelayanan publik yang buruk, pencegahan pelayanan publik yang tidak diinginkan dan terjadi berulang-ulang.
Harungguan yang dilakukan oleh instansi Kecamatan Pamatang Silimahuta itu setiap tanggal 15 setiap bulannya kecuali hari sabtu, minggu, dan libur. Disitu semua dinas, pangulu dan ormas lain yang interest dengan pelayanan pulik di Kecamatan Pamatang Silimahuta bergabung untuk ngasi kritik atau masukan supaya pelayanan publik yang diberikan kedepannya bisa lebih baik lagi sesuai dengan apa yang diharapkan instansi dan juga masyarakat. Jadi dengan adanya evaluasi atau koordinasi intensif yang kita bangun mengenai kebijakan-kebijakan yang telah dibuat, kita berharap tindakan-tindakan penyelewengan dalam pelayanan publik akan semakin terminimalisir. Ya saya kira dengan intensifnya rapat bulanan kita dengan mereka akan memudahkan kita bekerja.. (Wawancara, Kamis 20 Juni 2019)
Dari wawancara di atas dapat kita ketahui bahwanya pemerintah sudah berupaya memberikan pertanggungjawaban kepada masyarakat melalui harungguan yang dilakukan tiap bulannya. Namun mungkin masyarakat kurang informasi mengenai harungguan itu atau perangkat desa di nagorinya tidak pernah melakukan sosialisasi tentang harungguan maupun hal lain yang berkaitan dengan kebijakan di kecamatan pamatang silimahuta maupun di nagorinya.
Berdasarkan hasil wawancara, dokumentasi dan pengamatan yang dilakukan oleh penulis, maka dapat disimpulkan bahwa akuntabilitas kebijakan di Kecamatan Pamatang Silimahuta setelah adanya pemekaran masih kurang memuaskan masyarakat. Instansi memang mempertanggungjawabkan kebijakan yang diambil. Namun masyarakat tidak mengetahui secara jelas pertanggungjawaban seperti apa yang dilakukan oleh instansi kecamatan sehingga berimplikasi pada ketidak ikutsertaan masyarakat dalam menjalankan kebijakan.
Hal ini sangat disayangkan, karena pada dasarnya kebijakan yang dibuat tersebut sepenuhnya dibuat untuk kepentingan masyarakat agar dipenuhi kebutuhannya Dalam hal ini, penting sekali dilakukannya sosialisasi agar informasi mengenai kebijakan pemerintah dapat diketahui masyarakat secara terbuka dan membuat mereka bersimpati untuk ikut berpartisipasi dalam setiap kebijakan yang dibuat oleh instansi kecamatan demi tercapainya tujuan yang diharapkan.
BAB V