TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Good Governance
9. Strategic vision
Para pemimpin dan publik harus mempunyai persperktif good governance dan pembangunan manusia yang luas dan jauh kedepan sejalan dengan apa yang diperlukan untuk pembangunan semacam ini.
Pada hakekatnya konsep governance menggambarkan adanya perubahan makna pemerintahan yaitu merujuk pada suatu proses baru dalam memerintah, perubahan kondisi tata aturan, metode baru tentang peran serta masyarakat dalam pemerintah. Pendekatan governance lebih mementingkan tindakan bersama.
Masing-masing aktor akan berinteraksi dan saling memberi pengaruh demi tercapainya kepentingan bersama.
2.2. Otonomi Daerah
Otonomi daerah berasal dari kata otonomi dan daerah. Dalam bahasa Yunani, otonomi berasal dari kata autos dan namos. Autos berarti sendiri dan namos berarti aturan atau undang-undang, sehingga dapat dikatakan sebagai kewenangan untuk mengatur sendiri atau kewenangan untuk membuat aturan guna mengurus rumah tangga sendiri. Sedangkan daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah.
Menurut Wijaya (2004:76) otonomi adalah penyerahan urusan pemerintah daerah yang bersifat operasional dalam rangka sistem birokrasi pemerintahan.
Otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat, sesuai dengan peraturan perundangan-undangan. World Bank Office Jakarta (2004:102) mengatakan Indonesia sedang bergerak dengan cepat dari suatu sistem pemerintahan yang sangat tersentralisasi ke sistem pemerintahan yang sebagian besar terdesentralisasi. Tujuan yang hendak dicapai dalam dalam desentralisasi ini adalah antara lain menumbuh kembangkan daerah dalam berbagai bidang, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, menumbuhkan kemandirian daerah dan meningkatkan daya saing daerah dalam proes penumbuhan.
Otonomi, tidak semata-mata tampak dalam penyerahan urusan akan tetapi lebih jauh lagi yaitu seberapa jauh kewenangan yang dilimpahkan itu memberikan kontribusi terhadap kemampuan mengambil prakarsa sekaligus seberapa jauh pihak legislatif terlibat dalam melakukan pengendalian atas proses pemerintah daerah. Dalam penyelenggaraannya otonomi harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi, yang pada dasarnya untuk memberdayakan daerah termasuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang merupakan bagian utama dari tujuan nasional. Seperti yang dikatakan oleh Wijaya (2002:77) otonomi daerah tidak dipandang semata-mata sebagai hak dan wewenang tetapi lebih merupakan kewajiban dan tanggungjawab.
Dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka otonomi daerah merupakan salah satu upaya strategis yang memerlukan pemikiran yang matang, mendasar, dan berdimensi jauh kedepan. Menurut Wijaya (2004:99) pada dasarnya kebijakan otonomi daerah diarahkan pada:
a. Peningkatan pelayanan publik dan pengembangan kreatifitas masyarakat serta aparatur pemerintah daerah.
b. Kesetaraan hubungan antara pusat dan pemerintah daerah dalam kewenangan dan keuangan.
c. Menjamin peningkatan rasa kebangsaan, demokrasi, dan kesejahteraan masyarakat di daerah.
d. Menciptakan ruang yang lebih luas bagi kemandirian daerah.
Inti dari konsep pelaksanaan otonomi daerah adalah terdapatnya keleluasaan pemerintah daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri atas prakarsa, kreatifitas dan peran serta aktif masyarakat dalam mengembangkan
dan memajukan daerahnya. Tujuan pemberian otonomi kepada daerah menurut Ubaedillah (2015:193):
Visi otonomi daerah di bidang politik adalah sebuah proses untuk membuka ruang bagi lahirnya kepala pemerintahan daerah yang dipilih secara demokratis, memungkinkan berlangsungnya penyelenggaraan pemerintahan yang responsif terhadap kepentingan masyarakat luas, dan memelihara suatu mekanisme pengambilan keputusan yang taat pada asas pertanggungjawaban publik.
Pada dasarnya otonomi daerah menerapkan prinsip demokrasi dalam pengelolaan pemerintahan. Melalui prinsip demokrasi penyelenggaraan pemerintahan di daerah diharapkan akan lebih membukakan kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas politik di tingkat local, baik dalam hal penentuan pemimpin maupun pelaksanaan program pemerintahan di daerah. Dengan pemilihan langsung kepala daerah, masyarakat memiliki kesempatan dan kedaulatan untuk menentukan pemimpin daerah secara bebas, rahasia, dan aman, dalam pencapaian tujuan peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik.
2.3. Konsep Pemekaran Wilayah Kecamatan
Mengkaji tentang pemekaran, tidak lepas dari istilah keruangan. Tanpa ruang maka tidak mungkin ada lokasi. Dalam studi tentang wilayah, yang dimaksud ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan mahluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya, Sitorus dalam Abdullah (2011:28).
Mulyanto (2008:2) pengembangan wilayah dilakukan untuk mecapai tujuan yang menguntungkan wilayah itu sendiri yang termuat dalam azaz sosial dan ekonomi dimana usaha pemenuhan kebutuhan dan peningkatan kualitas hidup serta peningkatan kesejahteraan seluruh masyarakat. Pemenuhan sarana dan prasarana yang dapat memacu perkembagan dan pertumbuhan ekonomi.
Wijaya (2005:156) pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih dapat dilakukan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan usia pemerintahan. Batas minimal usia penyelenggaraan usia pemerintahan dalam
ketentuan ini untuk propinsi sepuluh tahun, untuk kabupaten/kota tujuh tahun dan kecamatan lima tahun.
Secara sederhana, penentuan dimekarkannya suatu daerah menjadi dua atau lebih daerah otonom pada dasarnya disebabkan oleh konsep objektif agar fungsi pemerintahan mampu dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dengan mendasarkan pada hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pemekaran daerah yang disertai dengan munculnya profesionalisme pelayanan publik menjadi sangat penting, baik sebagai langkah peyesuaian terhadap perubahan fungsi dan peran pemerintah, maupun sebagai tuntutan keadaan agar birokrasi pemerintah yang dimekarkan semakin efisien dan efektif dalam memberikan pelayanan publik.
Menurut Sabarno (2008:194) penentuan pemekaran daerah didasarkan pada persyaratan yang terukur sebagai berikut:
1. Pemekaran daerah dimaksudkan untuk menguatkan etika profesionalisme dalam pelayanan publik pemerintah daerah kepada masyarakatnya yang akan menciptakan hubungan yang bersifat kesetaraan antara birokrasi dan publik yang dilayani.
2. Pemekaran daerah ditujukan pada penerapan manajemen dan penguasaan teknologi yang dalam birokrasi pemerintah daerah untuk melayani publik, sehingga pelayanan yang diberikan cenderung bersifat cepat, tepat, mudah, padat teknologi, dan padat informasi.
3. Pemekaran daerah dilandasi atas profesionalisme, karna rentang kendali yang lebih sempit sehingga pengawasan penyelenggaraan pemerintahan dapat terjamin kualitasnya.
Sistem birokrasi yang lebih kecil diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan kehidupan demokrasi sehingga masyarakat bersama-sama dengan pemerintah daerah dapat menyumbangkan aspirasinya dalam upaya membangun perekonomian daerah dan percepatan pengelolaan potensi daerah. Selain itu pemekaran wilayah diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan keamanan dan ketertiban serta peningkatan hubungan yang serasi antara pusat dengan daerah.
Menurut hasil kajian yang dilakukan oleh Pusat Kajian Kinerja Otonomi Daerah Lembaga Administrasi Negara (dalam Rachim, 2013:23-24) ada beberapa alasan yang mendasari dilaksanakannya pemekaran daerah:
a. Alasan pelayanan, pemekaran daerah dianggap mampu meningkatkan pelayanan publik kepada masyarakat karena sistem birokrasi yang lebih kecil dibanding daerah induk yang memiliki cakupan pelayanan yang lebih luas.
b. Alasan ekonomi, pemekaran daerah diharapkan dapat mempercepat pembangunan ekonomi daerah melalui pemanfaatan potensi lokal yang selama ini belum dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah induk.
c. Alasan keadilan, pemekaran daerah dianggap mampu mendukung proses pemerataan pembangunan dalam hal ekonomi maupun pengisian jabatan publik sehingga suara masyarakat di daerah yang bersangkutan dapat terakomodasi dan tersampaikan dengan baik.
d. Alasan anggaran, pemekaran daerah diharapkan dapat memberikan anggaran yang besar bagi daerah otonom baru untuk melakukan pembangunan di daerahnya.
e. Alasan historis dan kultural.
Pemekaran daerah tidak lain bertujuan untuk memperpendek rentang kendali pemerintahan, membuka ketimpangan-ketimpangan pembangunan wilayah dan menciptakan perekonomian wilayah yang kuat demi tercapainya kesejahteraan masyarakat, sehingga pemekaran wilayah diharapkan dapat mendekatkan pelayanan kepada masyarakat secara merata, membuka peluang baru bagi terciptanya pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan intensitas pembangunan guna mensejahterakan masyarakat.
2.4. Pelayanan Publik
Pelayanan pada dasarnya adalah cara melayani, membantu menyiapkan, mengurus, menyelesaikan keperluan, kebutuhan seseorang atau sekelompok orang. Menurut Sinambela (dalam Irfan, 2017:31) pelayanan publik di artikan, pemberian layanan keperluan orang ataupun masyarakat yang mempunyai kepentingan terhadap organisasi sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah di tetapkan. Menurut Saiful Arif (2008:3) pelayanan publik merupakan suatu pelayanan atau pemberian kepada masyarakat yang berupa penggunaan fasilitas-fasilitas umum, baik jasa maupun non jasa, yang dilakukan organisasi publik dalam suatu pemerintahan.
Pelayanan publik (masyarakat) secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses atau rangkaian kegiatan untuk memberikan jasa kepada masyarakat, baik berupa pengaturan maupun pelayanan atas dasar tuntutan masyarakat sehingga memudahkan masyarakat untuk melakukan aktifitasnya sehari-hari dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pelayanan publik menjadi ujung tombak interaksi antara masyarakat dan pemerintah.
Berdasarkan pandangan tersebut, maka pelaksanaan pelayanan yang dimaksudkan adalah pelayanan terhadap masyarakat, dan tidak selalu bahwa pelayanan itu bersifat kolektifitas, karena melayani kepentingan perorangan asal kepentingan masih termasuk dalam rangka pemenuhan hak dan kebutuhan bersama. Oleh karena itu pelaksanaan pelayanan merupakan suatu kegiatan dari organisasi atau badan yang beriorientasi pada pengabdian masyarakat.
Moenir dalam Muliawan (2016:11) mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang mendukung pelaksanaan pelayanan pada masyarakat, yaitu:
1. Faktor kesadaran, ialah suatu proses berfikir melalui metode renungan, pertimbangan dan perbandingan sehingga menghasilkan keyakinan, ketenangan, ketetapan hati dan keseimbangan dalam jiwanya sebagai pangkal tolak untuk perbuatan tindakan yang akan dilakukan kemudian. Ada kesadaran dapat membawa sese orang pada keikhlasan dan kesungguhan dalam menjalankan atau melaksanakan kehendak.
2. Faktor aturan, adalah seperangkat penting dalam segala tindakan dan perbuatan orang, makin maju dan majemuk suatu masyarakat makin besar peranan aturan dan dapat dikatakan orang tidak dapat hidup layak dan tenang tanpa aturan.
3. Faktor organisasi, adalah mengorganisir fungsi pelayanan dalam bentuk struktur maupun mekanismenya yang akan berperan dalam mutu dan kelancaran pelayanan.
4. Faktor pendapatan, ialah seluruh penerimaan seseorang sebagai imbalan atas tenaga dan pikiran yang telah dicurahkan untuk orang lain atau badan / organisasi, baik dalam bentuk uang, maupun fasilitas dalam jangka waktu tertentu.
5. Faktor kemampuan dan keterampilan yang meliputi, technical skill, konseptual skill, dan human skill.
6. Faktor sarana pelayanan, yang dimaksudkan adalah segala jenis peralatan perlengkapan kerja dan fasilitas yang berfungsi sebagai alat pembantu dalam pelaksanaan pekerjaan, dan juga berfungsi sosial dalam rangka kepentingan orang-orang yang sedang berhubungan dengan organisasi kerja itu.
Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, Islamy (dalam Ainur, 2008:37) menekankan bahwa harus mengedepankan nilai- nilai etis dan kemanusiaan yang terangkum dalam equity, equality and fairness (EEF). Untuk mencapai tujuan dan sasaran tugas-tugas administrasi dalam kepentingan publik maka tiap aparatur harus mengembangkan lima macam prinsip pelayanan:
1. Prinsip aksesibilitas: Ada hakikatnya pada setiap pelayanan harus dijangkau pengguna pelayanan. Jarak tempat lokasi harus benar-benar dapat diakses oleh masyarakat.
2. Prinsip Kontinuitas: Di setiap pelayanan selayaknya harus tersedia terus menerus kepastian atau kejelasan bagi publik.
3. Prinsip Teknikalitas: Pada level pelayanan tertentu mekanisme dan proses pelayanan harus ditangani oleh tenaga profesional yang memahami secara teknis yang berdasar pada sasaran adanya kejelasan, ketepatan, kemantapan sistem, prosedur dan instrument pelayanan.
4. Prinsip Profitabilitas: Proses pelayanan publik pada akhirnya harus dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien, serta memberikn keuntungan ekonomi dan sosial bagi masyarakat luas.
5. Prinsip akuntabilitas: Produk dan kualitas pelayanan yang telah diberikan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau publik. Aparat pemerintah pada hakikatnya mempunyai tugas memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat.
Pada dasarnya tujuan pelayanan publik adalah memuaskan masyarakat.
Untuk mencapai kepuasan itu kualitas pelayanan publik harus berfokus pada (Istanto 2011:120):
1. Fokus pada pelanggan: yaitu mengidentifikasi kebutuhan, keinginan dan harapan mereka, kemudian merancang sistem yang bisa memberikan jasa tertetu yang memenuhi kebutuhan tersebut.
2. Keterlibatan total: manajemen harus memberikan peluang perbaikan kualitas bagi semua karyawan dan menunjukkan kualitas kepemimpinan yang bisa memberikan inspirasi positif bagi organisasi yang dipimpinnya.
3. Pengukuran: menyusun ukuran-ukuran dasar proses dan hasil, mengukur kesesuaiannya dengan tuntutan pelanggan dan mengoreksi penyimpangan dan meningkatkan kerja
4. Dukungan sistematis: manajemen bertanggung jawab dalam mengelola proses kuaitas dengan cara:
Membangun infrastruktur kualitas yang dikaitkan dengan struktur manajemen internal.
Menghubungkan kualitas dengan sistem manajemen yang ada seperti: perencanaan strategis, manajemen kinerja, promosi karyawan dan komuikasi.