• Tidak ada hasil yang ditemukan

Literatur

Faktor Pertimbangan Hasil Analisis

1 Tempat-tempat bersejarah (untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai sejarah)

Cagar budaya (untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai sejarah pada bangunan atau kawasan bersejarah) 2 Coverage menara (terkait dengan

kualitas sinyal yang diberikan)

Coverage Menara/kualitas pelayanan operator. (untuk memaksimalkan coverage area sehingga dapat mengurangi jumlah menara BTS)

3 Batas ketinggian menara (untuk menghindari banyaknya kerugian karena banyanya bangunan yang tertimpa oleh menara yang roboh serta untuk penyesuaian dengan bangunan sekitar)

Ketinggian menara (batas ketinggian menara untuk menjaga kualitas layanan, keselamatan dan estetika kota)

4 Desain dan jenis menara untuk disesuaikan dengan daerah tertentu

Kamuflase (penyesuaian bentuk dengan lingkungan sekitar untuk menjaga nilai estetika dan keserasian dengan lingkungan sekitar)

5 Kawasan keselamatan penerbangan (KKOP)

Kawasan Keselamatan Penerbangan (agar tidak mengganggu fungsi keselamatan penerbangan KKOP) bersama dan melakukan penataan)

6 Menara bersama (konsep

penggunaan menara bersama untuk mengurangi jumlah menara berdasarkan menara eksisting dan menara yang akan dibangun)

Menara eksisting (untuk menentukan pengaturan menara

Menara bersama (untuk mengurangi jumlah menara sehingga lebih efisien

7 Jarak menara dengan bangunan terdekat (ada jarak tertentu dengan bangunan-bangunan tertentu)

Jarak tertentu dengan bangunan khusus yang berbahaya (untuk menghindari terjadinya hubungan saling mengganggu, misalnya terjadi interferensi bangunan listrik

No Faktor Pertimbangan Hasil Studi Literatur

Faktor Pertimbangan Hasil Analisis

bertegangan tinggi, dan lain-lain)

8 Jarak antarmenara Jarak antarmenara (keteraturan agar terlihat lebih indah dan untuk mengurangi jumlah menara BTS dengan pengaturan jarak yang tidak terlalu dekat)

9 Struktur dan konstruksi menara (untuk menghindari robohnya menara)

10 Ruang terbuka hijau (untuk menjaga nilai estetika kota dan

menjaga visualisasi)

11 Topografi wilayah (untuk

menentukan kekuatan konstruksi

dan jenis menara)

12 Kawasan lindung (perlindungan terhadap kawasan tertentu agar tidak terganggu oleh adanya

pembangunan menara

telekomunikasi) 13 Daerah rawan bencana (banjir,

longsor, gempa)

14 Guna lahan saat ini (kawasan

permukiman, industri dan bisnis)

15 Kawasan Militer (tidak

mengganggu fungsi pengawasan

militer) 16 Jalur lalulintas utama (untuk

menghindari gangguan terhadap fungsi jalan utama, contohnya jika terdapat menara yang roboh)

Berdasarkan perbandingan tersebut, semua faktor yang harus dipertimbangkan dalam penataan dan pembangunan menara BTS di Kota Bandung melalui proses Delphi memiliki kesamaan dengan hasil studi literatur. Semua faktor yang harus

dipertimbangkan di Kota Bandung juga menjadi pertimbangan di kota-kota luar negeri. Faktor-faktor tersebut antara lain:

a) Kawasan Keselamatan Penerbangan (KKOP)

Adanya KKOP ini menjadi pertimbangan penting dalam penataan dan pembagunan menara telekomunikasi di Kota Bandung maupun kota-kota lain. Di kota-kota lain, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pertimbangan KKOP seperti batas ketinggian menara yang biasanya tidak boleh melebihi 45 meter, harus memenuhi standar sudut bahaya navigasi udara, serta memiliki jarak tertentu dengan landasan/kawasan bandara yang biasanya berjarak 3600 meter atau dengan radius 4800 meter. Ketentuan dari adanya pertimbangan KKOP ini juga dapat digunakan dalam penataan dan pembangunan menara BTS di Kota Bandung.

b) Batas Ketinggian menara

Berdasarkan hasil studi literatur, batas ketinggian menara BTS biasanya menggunakan interval 22,5 - 75 meter atau mengikuti standar ketinggian yang berlaku di kota masing-masing. Di Kota Bandung, sebagian besar menara BTS yang berdiri di atas tanah juga memiliki ketinggian antara 20 - 75 meter dan sebagian masyarakat merasa khawatir dengan bangunan menara yang terlalu tinggi. Dalam Perwal Kota Bandung, ketinggian menara yang akan dibangun di atas gedung dibatasi maksimum 25 meter dan untuk menara yang akan dibangun di atas tanah dibatasi maksimum 75 meter.

c) Cagar budaya

Di kota-kota lain, pertimbangan Cagar budaya ini menjadi hal penting yang harus diperhatikan. Dimana adanya perlindungan bangunan dan tapak/tanah yang memiliki nilai kebudayaan dan sejarah yang harus dilestarikan seperti monumen-monumen, tapak bekas tanah lombong, dan lain-lain. Hal ini juga penting dilakukan di Kota Bandung untuk menjaga nilai-nilai estetika dan kebudayaan seperti gedung pemerintahan (Gedung Sate), gedung yang

dibangun setelah puluhan tahun (Hotel Savoy Homann) dan rumah-rumah yang memiliki nilai arsitektur tinggi (RTRW Kota Bandung, 2013).

d) Coverage menara

Jika melihat hasil studi literatur, pengaturan coverage menara telekomunikasi biasanya digunakan untuk menghindari terjadinya overlapping cakupan area, menggunakan standar-standar tertentu seperti peraturan menteri komunikasi dan informatika, disesuaikan dengan kebutuhan, dan memaksimalkan coverage area dengan mengatur ketinggian menara. Saat ini belum ada standar coverage manara di Kota Bandung dan diserahkan kepada pemilik menara BTS masing-masing. Oleh karena itu, untuk Kota Bandung sebaiknya ada pengaturan coverage menara BTS untuk menghindari terjadinya overlapping sehingga dapat mengurangi jumlah menara BTS.

e) Menara bersama

Penggunaan menara bersama ini sudah dilakukan hampir di semua kota yang ada pada studi literatur. Biasanya dilakukan dengan memanfaatkan menara yang sudah ada, atau membuat aturan bagi menara yang akan dibangun harus mampu menampung minimal 3 kebutuhan operator/provider. Semakin banyaknya bangunan menara di Kota Bandung dan diprediksikan akan terus meningkat, maka ketentuan penggunaan menara bersama yang ada pada kota-kota lain juga dapat diterapkan di Kota Bandung yaitu menggunakan menara bersama yang mampu mengakomodasi 2 - 4 kebutuhan operator bagi menara yang akan dibangun sebagaimana yang terdapat dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 02 Tahun 2008 dan Peraturan WaliKota Bandung Nomor 812 Tahun 2007.

f) Kamuflase

Pertimbangan kamuflase bangunan menara ini telah banyak dilakukan di kota-kota luar negeri. Pada umumnya mereka menggunakan menara jenis monopole yang disesuaikan dengan lingkungan sekitar, seperti bentuk pohon di kawasan tertentu, menggunakan struktur menara alternatif (papan iklan, menara gereja,

dll), menggunakan warna netral untuk mengurangi visual effect, dan lain-lain. Sedangkan untuk Kota Bandung, saat ini alternatif seperti di atas belum banyak dilakukan, khususnya di kawasan-kawasan tertentu untuk mengurangi visual effect.

g) Jarak antarmenara

Berdasarkan hasil studi literatur, jarak antarmenara biasanya di atur berdasarkan jenis dan ketinggian dari menara yang akan didirikan. Untuk jenis menara monopole yang kurang dari 22,5 meter harus berjarak 225 meter dengan menara lain, jenis monopole lebih dari 22,5 meter harus berjarak 450 meter dengan menara lain, jenis lattice dan guyed harus berjarak 1500 meter dengan menara lain, atau 225 - 6400 meter dengan menara lain yang memiliki ketinggian di atas 22,5 meter. Sedangkan melihat kondisi saat ini di Kota Bandung yang sebagian besar berdiri menara rangka, belum ada ketentuan jarak antarmenara BTS berdasarkan ketinggian maupun jenis menara. Jarak terdekat antarmenara BTS rata-rata 213 - 480 meter, sedangkan jarak rata-rata di beberapa kelurahan yang memiliki menara terpadat rata-rata 517 - 864 meter. Dalam Perwal Kota Bandung Bab IV pasal 10 tentang penentuan grid rencana lokasi menara BTS yaitu berdasarkan jarak perhitungan antar grid yang berdekatan maksimal sejauh 750 meter dengan radius satiap grid sebesar 200 meter maka perlu ada pengaturan jarak antarmenara BTS. Melihat keterbatasan lahan di Kota Bandung, maka sebaiknya jenis menara yang akan didirikan bentuk monopole dengan jarak antara 480 - 750 meter (antarmenara BTS).

h) Menara eksisting

Menara eksisting di kota-kota luar negeri biasanya digunakan sebagai pertimbangan untuk melakukan penataan, dengan cara mengurangi jumlah menara atau menyesuaikan jenis dan bentuk menara yang sudah ada dengan lingkungan sekitar. Biasanya menara yang sudah ada ini digunakan sebagai menara bersama yang mampu menampung kebutuhan tiga operator atau lebih.

menara bersama juga dapat dimanfaatkan untuk bisa menampung tiga atau lebih kebutuhan operator untuk mengurangi jumlah menara.

i) Jarak tertentu dengan bangunan berbahaya

Pertimbangan ada jarak tertentu dengan bangunan berbahaya di Kota Bandung dilakukan untuk menghindari terjadinya hubungan saling mengganggu antara bangunan menara dengan bangunan berbahaya tersebut. Jarak tertentu ini dapat mengacu pada jarak yang biasa digunakan di kota-kota lain yaitu menggunakan interval antara 3 - 234 meter atau sempadan menara dengan bangunan tersebut sebesar 50% - 125 % dari ketinggian menara.

Selain itu, dari perbandingan tersebut dapat dilihat ada beberapa faktor yang penting dipertimbangkan di kota-kota luar negeri namun tidak dipertimbangkan di Kota Bandung. Faktor-faktor tersebut antara lain:

a) Struktur dan konstruksi menara (untuk menghindari robohnya menara)

b) Ruang terbuka hijau (untuk menjaga nilai estetika kota dan menjaga visualisasi) c) Topografi wilayah (untuk menentukan kekuatan konstruksi dan jenis menara) d) Kawasan hutan lindung (perlindungan terhadap kawasan tertentu agar tidak

terganggu oleh adanya pembangunan menara telekomunikasi) e) Daerah rawan bencana (banjir, longsor, gempa)

f) Guna lahan saat ini (kawasan permukiman, industri dan bisnis) g) Kawasan Militer (tidak mengganggu fungsi pengawasan militer)

h) Jalur lalulintas utama (untuk menghindari gangguan terhadap fungsi jalan utama, contohnya jika terdapat menara yang roboh).

Perbedaan faktor-faktor tersebut disebabkan oleh pandangan para responden terhadap faktor yang perlu/harus dipertimbangkan terhadapa penataan dan pembangunan menara BTS dengan melihat kondisi Kota Bandung saat ini seperti keterbatasan lahan, kepadatan pengguna fasilitas telekomunikasi, kekhawatiran akan terjadinya hutan menara, dan lain-lain.

4.3.2 Faktor-Faktor yang Harus Dipertimbangkan untuk Penataan dan Pembangunan Menara BTS di Kota Bandung

Berdasarkan perbandingan faktor tersebut, maka terdapat 9 (sembilan) faktor yang harus dipertimbangkan dalam penataan dan pembangunan menara BTS di Kota Bandung. Adapun pendapat peneliti mengenai faktor-faktor tersebut dapat dilihat pada Tabel IV.8.

TABEL IV.8

PENDAPAT PENELITI TERHADAP FAKTOR-FAKTOR YANG HARUS

Dokumen terkait