• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENAWARKAN AJARAN TERSENDIR

Dalam dokumen Abad Muhammadiyah Istiqomah Membendung (Halaman 155-159)

MENUJU PLURALISME AGAMA

MENAWARKAN AJARAN TERSENDIR

Theosofi sendiri juga menawarkan “keyakinan baru” kepada anggotanya yang bersifat majemuk dalam hal keagamaan tersebut. Dengan demikian theosofi tidak sepenuhnya mencoba menguatkan dan memperkaya pemahaman masing-masing anggota dengan ajaran agamanya masing-masing, melainkan juga menawarkan sebuah sistem “agama” yang baru. Tidak jarang pada akhirnya lahir praktik “keagamaan” yang bersifat sinkretis sebagai konsekuensi logis sikap theosofi terhadap entitas agama. Di Jawa nampaknya sempat terjadi “sedikit” masalah dalam awal-awal pengenalan ajaran yang diadopsi oleh theosofi dari sejumlah kebudayaan Timur, terutama dari India. Penganut Agama Islam yang bergabung dalam Perhimpunan Theosofi kurang bisa menerima ajaran tentang karma dan reinkarnasi yang dipublikasikan melalui ceramah-ceramah dalam pertemuan rutin penganut theosofi. Babad Theosofie

10 Lihat Bakta. Babad Theosofie ... Hal. 8 11 Bakta. Babad Theosofie … Hal. 44 12 Bakta. Babad Theosofie …. Hal. 47

1 4 9

Dari Theosofi Menuju Pluralisme..., Susiyanto dan Fathurrahman Kamal |

mengungkapkan tanggapannya terhadap hal tersebut sebagai berikut:

.... ungel kula ingkang maratelakaken manawi theosofi boten purun mengku dhateng tiyang, pikajeng kula ingkang kula tembungaken makaten wau, warga boten kapeksa kedah pitados dhateng ingkang kawulangaken ing pakempalan, tiyang lumebet dados warga boten prelu kedah pitados dhateng piwulang ingkang sapunika sampun kalimrah namapi13 wulang theosofi,

ingkang kedah nyanggemi dhateng pasadherekanipun sadaya manungsa. Sarta niyat tumut ambudi sagedipun kalampahan, ewadene piwulang sarta pamanggih kados punapa kemawon nyumanggakaken anggen jengandika nganggep, ingkang meh sampun boten kenging dipun pisah kaliyan theosofi. Nanging samangke kula pitaken upami boten wonten piwulang, punapa tiyang angraosaken theosofi boten mawi nyangkut bab karma tuwin tumimbal lair, kados boten saged, ewadene miturut pangandikanipun Kolonel Olcott ngatos dumugi warsa 1879 Kolonel Olcott kaliyan HPB, dereng nate mireng prakawis punika. Sanadyan sampun mireng nanging boten anginten bilih punika badhe dados satunggaling bab ingkang yektos nama raos theosofi.14

(Ucapan saya yang menyatakan bahwa theosofi tidak bersedia mengekang manusia, maksud saya adalah warga tidak dipaksa harus percaya kepada apa yang diajarkan dalam perkumpulan, orang yang masuk menjadi warga tidak harus percaya dengan pelajaran yang sudah lumrah diterima dari ajaran theosofi, yang harus bertanggungjawab kepada persaudaraan semua manusia. Serta niat ikut berupaya terlaksananya , namun demikian pelajaran serta pendapat seperti apa pun dipersilakan, yang sudah tidak dapat dipisahkan dari theosofi. Tetapi sekarang saya bertanya jika tidak ada pelajaran, apakah manusia bisa merasakan theosofi tanpa melibatkan bab karma dan kelahiran kembali, sepertinya tidak bisa, meskipun demikian menurut pernyataan Kolonel Olcott sampai tahun 1879 Kolonel Olcott dan Helena Petrovna Blavatsky belum pernah mendengar permasalahan tersebut. Walaupun sudah mendengar namun belum mengira bahwa hal itu akan menjadi salah satu bab yang sesungguhnya menjadi rasa theosofi).

Sang pengarang Babad Theosofi seolah-olah menyerahkan bahwa masalah kepercayaan terhadap ajaran theosofi menjadi pilihan “bebas” bagi anggota untuk

menentukan. Namun ungkapan Nanging samangke kula pitaken upami boten

wonten piwulang, punapa tiyang angraosaken theosofi boten mawi nyangkut

bab karma tuwin tumimbal lair, kados boten saged (tetapi sekarang saya bertanya

jika tidak ada pelajaran, apakah manusia bisa merasakan theosofi tanpa melibatkan bab karma dan kelahiran kembali, sepertinya tidak bisa) di atas merupakan penegasan diplomatis bahwa seseorang tidak dapat merasakan theosofi tanpa mempercayai

13 Mungkin aksara Jawa dari tulisan tersebut salah tulis. Mungkin maksudnya “nampi 14 Bakta. Babad Theosofie … Hal. 49-50

semua aspek dalam sistem ajarannya, termasuk keyakinan tentang karma dan reinkarnasi.

Kepercayaan yang diadopsi dari Agama India, yaitu Hindhu dan Budha berupa ajaran tentang karma dan reinkarnasi memang menjadi salah satu ajaran khas yang dimiliki oleh theosofi.15 Oleh karenanya, kepercayaan terhadap kedua hal ini tidak dapat ditinggalkan oleh penganut ajaran theosofi. Warga theosofi yang menganut agama Islam, tidak ada pilihan lain kecuali terikat pula kepada doktrin tersebut. Padahal ajaran tentang keberadaan karma dan reinkarnasi, jelas tidak mendapatkan justifikasi maupun legitimasi dari sumber-sumber hukum Islam. Menjadi anggota theosofi sekaligus seorang muslim kaffah adalah pilihan yang mustahil. Sebab pada tataran ini, menampakkan dua sistem ajaran yang berbeda secara diametral. H. P. Blavatsky, penggagas mula-mula theosofi, sendiri sejak awal telah melakukan kajian yang cukup mendalam terhadap eksistensi karma dan reinkarnasi sebagai “jiwa” theosofi.16

Ajaran tentang karma dan reinkarnasi hanya sebagian kecil dari pengajaran theosofi yang bertentangan dengan nilai keislaman. Di luar itu masih terdapat ajaran lain yang tidak dapat disejajarkan dengan praktik ritual keislaman, misalnya ajaran theosofi menyangkut kehidupan setelah mati. Juga ritual pemanggilan makhluk halus yang sering dipraktikkan di loge-loge theosofi. Babad Theosofie mengambarkan bahwa pada awal-awal pendirian theosofie di Amerika Serikat ritual pemanggilan setan ini sudah mulai diperkenalkan. G. H. Felt, seorang pakar tentang mistik dan proporsi bangunan Mesir kuno, telah mencoba memperkenalkan ritual tersebut kepada anggota theosofi.17 Meskipun upaya pemanggilan makhluk halus ini gagal dilaksanakan dan sempat membuat theosofi ditinggalkan anggotanya, namun pada masa-masa selanjutnya menjadi ritual penting. Keberadaan upacara memanggil arwah atau setan ini tidak jauh berbeda dengan ritual yang dilakukan oleh pengikut freemasonry. Keberadaan ritual pemanggilan makhluk halus (setan) menyebabkan loge (dijawa

15 Lihat buku-buku tentang ajaran theosofi, misalnya William Q. Judge. The Ocean of Theoso-

phy. Edisi Kedua. (The Theosophical Publishing Society, London, 1893). Hal. 60-69, 89-98. Juga Irving S. Cooper. Theosophy Simplified. (The Theosophical Book Concern, California, 1915). Hal. 46-55. Juga Dr. Rudolf Steiner. Theosophy: An Introduction to the Supersensible Knowledge of the World and the Destination of Man. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dari Bahasa Jerman oleh E. D. S. (Rand McNally & Company Publishing, Chicago- New York, 1910). Hal. 59-86. Juga L. W. Rogers. Elementary Theosophy. (Theosophical Book Concern, Los Angeles, 1917). Hal. 103-166

16 Lihat selengkapnya karya H.P. Blavatsky. The Key to Theosophy : Being a Clear Exposi-

tion, in the Form of Question and Answer, of the Ethics, Science, and Philosophy for the Study of Which the Theosophical Society has been Founded. (The Theosophical Publish- ing Company Limited, London– New York, tth). Hal 197-223

1 5 1

Dari Theosofi Menuju Pluralisme..., Susiyanto dan Fathurrahman Kamal |

disebut loji) milik theosofi, terutama di Jawa, sering dicap dengan atribut sebagai “gedung setan” atau “rumah setan”. Oleh karena itu theosofi yang dewasa ini berkembang di Indonesia tidak lagi menyebut tempat ritualnya sebagai loji, melainkan dinamakan “sanggar”.18 Praktik-praktik ritual theosofi ini sudah tentu tidak dapat dijalankan oleh seorang muslim yang memiliki komitmen keislaman yang kuat. Seorang pengabdi Allah, pada saat bersamaan tidak seharusnya menjalankan kemusyrikan dengan menjadi pemuja setan. Mengadopsi kedua entitas tersebut secara bersamaan jelas akan melahirkan perilaku dan praktik keagamaan yang paradoksal.

Pada sisi yang lain, theosofi seringkali menampakkan diri sebagai ajaran tasawuf di Jawa.19 Hal ini merupakan bagian dari upaya yang dilakukan oleh gerakan theosofi untuk merangkul pengikut dan menarik simpati, terutama dari kalangan elit Jawa yang umumnya beragama Islam. Pendekatan dengan mengidentikkan ajarannya sebagai tasawuf ini dapat dilihat secara gamblang dalam kitab-kitab resmi ajaran theosofi berbahasa Jawa seperti Serat Weddasatmaka dan Serat Makrifat. Kedua kitab ini berusaha mengetengahkan konsepsi theosofi dengan meminjam sejumlah terminologi dan sistem yang berasal dari ajaran tasawuf. Hasilnya, jelas bukan tasawuf yang mendasarkan pandangannya kepada sumber-sumber Islam berupa Al Quran dan Sunnah, melainkan bersifat kontradiktif dan tidak jarang antinomis terhadap ajaran Islam itu sendiri. Serat Weddasatmaka sebagai contoh, mengakui bahwa eksistensi tujuh langit sebagaimana dalam konsepsi Islam (Qs. Albaqarah :29). Hanya saja serat ini kemudian mendefinisikan sendiri ketujuh langit tersebut dengan menggunakan keyakinan yang lain. Definisi langit ketujuh, misalnya, dalam buku tersebut dianggap bukan langit dalam makna yang sesungguhnya (harfiah). Langit ketujuh secara alegoris dimaknai sebagai alam yang ada dalam diri manusia dan wujud halusnya (roh).20

Dengan memahami keberadaan sejumlah ajaran seperti di atas, maka dapat diketahui bahwa munculnya paham pluralisme yang menganggap semua agama sama dalam theosofi, bukan dalam rangka memperbaiki dan memperkaya nilai-nilai agama apalagi mempertinggi kualitasnya. Demikian juga anjuran untuk memperbandingkan semua bentuk ajaran agama. Tidak lain hal itu lebih sebagai upaya pendekatan yang dilakukan oleh theosofi untuk bersentuhan dengan pemeluk agama dan memenangkan “keunggulan” ajarannya sendiri. Theosofi bukan saja mengambil semua “Kebenaran” dari agama, melainkan bermaksud mengokohkan posisinya berada di atas agama

18 Artawijaya. Gerakan Theosofi .... Hal.12. Bandingkan Ridwan Saidi dan Rizki Ridyasmara.

Fakta dan Data ....Hal. 4 -5. Juga Herry Nurdi. Jejak Freemason dan Zionisme di Indonesia. Cetakan III. (Cakrawala Publisihing, Jakarta, 2007). Hal. 17

19 Ridwan Saidi dan Rizki Ridyasmara. Fakta dan Data ... Hal. 63

20 Lihat Noname. Serat Weddasatmaka utawi Pepakeming Tiyang Agesang. Jilid III. (H. A.

dan merusak sistem ajaran yang ada di dalam agama yang bersangkutan.

S. Joedosoetardjo, seorang penganut theosofi dari Semarang, dalam majalah “Brahmawidya”, salah satu terbitan berkala theosofi, mengungkapkan bahwa theosofi sendiri bukanlah agama. Hal ini didasarkan kepada beberapa alasan. Diantaranya, theosofi tidak memiliki “syahadat” yang mengikat manusia untuk percaya kepada sistem ajaran dalam theosofi. Theosofi juga tidak memiliki Nabi, ajarannya tidak

diwiridkan saja namun diamalkan guna mencapai kemajuan. Theosofi juga

mengajarkan bahwa manusia tidak hanya hidup sekali saja melainkan berkali-kali sehingga manusia tersebut dapat mencapai kesempurnaan Tuhan dan sejumlah argumentasi lainnya.21 Tulisan Joedosoetardjo tersebut nampaknya berusaha untuk mendefiniskan bahwa theosofi adalah “kehidupan kebatinan” yang berbeda dari agama, utamanya Islam.

Buku “Babad Theosofie” mengakui bahwa kaum theosofi telah melakukan sejumlah upaya untuk mempengaruhi spiritualisme di dunia timur dimana salah satunya adalah dengan memasukkan unsur-unsur ajaran theosofi dalam kitab-kitab primbon.22 Maka tidak mengherankan bila terdapat kitab-kitab primbon kebatinan di Jawa yang mengedepankan ajaran mistik dan klenik, ternyata kental pula dengan pandangan theosofi. Contoh primbon yang dimaksud masih dapat dijumpai misalnya dalam buku

Pustaka Radja Mantrayoga” yang dikarang oleh “Sang Harumdjati”,23 yang

dimungkinkan sebagai nama samaran. Oleh karena itu tidak mengherankan jika terdapat kitab-kitab primbon yang memiliki “jiwa Islam” namun tidak murni lagi karena masuknya sinkretisme ajaran yang dipopulerkan oleh kaum theosofi, yang seringkali mengambil apa yang disebut sebagai “kebijaksanaan” dari semua agama. Hal ini merupakan cara yang cukup halus dalam menghilangkan ajaran Islam dari kehidupan “batin” masyarakat Jawa.

Dalam dokumen Abad Muhammadiyah Istiqomah Membendung (Halaman 155-159)