MENUJU PLURALISME AGAMA
SINIS TERHADAP AGAMA
Theosofi sendiri memiliki pandangan yang cukup sinis terhadap eksistensi ajaran agama. Ajaran theosofi senantiasa menekankan urgensi persaudaraan antar manusia tanpa memandang agama, ras, jenis kelamin, dan perbedaan yang bersifat manusiawi lainnya. Agama dalam posisi ini dianggap sebagai salah satu pemantik konflik, bukan hanya konflik antar agama bahkan umat seagama pun juga mengalaminya. Perbedaan
21 Selengkapnya lihat artikel S. Joedosoetardjo. Theosofie itu Bukan Agama. Dalam Majalah
“Brahmawidya-Widya Pramana” terbit 1 Desember 1954 Tahun V. Hal. 1142
22 Lihat Bakta. Babad Theosofie .... Hal. 11
23 Lihat dan baca Sang Harumdjati. Pustaka Radja Mantrayoga. Cetakan IV. (Sadu-Budi,
1 5 3
Dari Theosofi Menuju Pluralisme..., Susiyanto dan Fathurrahman Kamal |
ajaran antar agama maupun perbedaan pendapat antar umat seagama seringkali diposisikan sebagai sumber konflik utama. Babad Theosofie mengungkapkan bahwa salah satu tujuan theosofi adalah sebagai berikut:
Amabeni sawarnining lampah ingkang nyamar, nadyan ingkang nunggil utawi boten nunggil agami, saben sulaya kalayan pamanggihipun kadosta pitadosipun dhateng kaelokan ingkang mrojol sangking wewaton, mangka sampun katitipriksa ngantos salesih bilih tetela manawi kalentu.24
(Menjaga sejumlah tindakan yang mengkhawatirkan, walaupun satu agama maupun berbeda agama, setiap ada konflik dengan pendapatnya seperti kepercayaan terhadap keajaiban yang berada di luar akal, padahal sudah diperiksa dengan teliti bahwa hal itu keliru).
Namun demikian nampaknya Perhimpunan Theosofi sendiri tidak mencoba mawas diri untuk self-evaluation dengan mengaca kepada sejarah perjalanan theosofi itu sendiri. Konflik-konflik yang berkembang di tubuh penganut theosofi seringkali berujung kepada perpecahan serius. Perebutan kedudukan sebagai presiden theosofi antara dua tokoh penting paham ini, yaitu Dr. Annie W. Besant (1847-1933) dari Inggris dan William Quan Judge (1851-1896) dari Amerika telah menimbulkan adanya perseteruan antara keduanya dan merembet pada pengikut masing-masing. Pasca Annie Besant menjadi presiden Theosofi, loge-loge di Amerika tidak mau tunduk lagi kepada kepemimpinan Besant. Gerakan “perlawanan” ini dimotori oleh tokoh theosofi wanita bernama Katherine Tingley, pengarang buku “Theosophy : the Path
of Mistic”. Untuk memperkuat posisinya maka Annie Besant kemudian
menghubungkan theosofi dengan menggandeng gerakan freemasonry, dimana ia sebelumnya telah menjadi anggota dari perkumpulan pendukung zionisme ini.25 Ramalan-ramalan Annie Besant tentang datangnya “Guru Besar” bagi manusia yaitu “Khrisnamurti”, juga menyebabkan penentangan dan perpecahan tersendiri. Rudolf Steiner, pemikir theosofi dari Jerman, merupakan tokoh yang berusaha menyangkal “nubuatan” Besant tersebut.26 Penyangkalan-penyangkalan ini pada masa selanjutnya menyebabkan keorganisasian theosofi dan ajarannya tidak pernah menyatu.
Menanggapi konflik-konflik ini, pengarang Babad Theosofie nampaknya kurang percaya diri untuk menjelaskan kronologis perseteruan yang terjadi antar kubu tersebut. Namun demikian pengarang babad, sebagaimana umumnya penganut theosofi di nusantara, kebanyakan merujuk kepada kepemimpinan dan pemikiran
24 Bakta. Babad Theosofie …Hal. 42
25 Selengkapnya lihat Ir. P. Telder. Theosofi. Dalam Dr. D. C. Mulder, Dr J. Verkuyl, dan Ir. P.
Telder. Geredja dan Aliran .... Hal. 37-40
Annie Besant. Sang pengarang babad berdalih bahwa konflik yang menyebabkan theosofi banyak kehilangan anggota tersebut merupakan hal yang biasa terjadi. Bahkan konflik yang terjadi sangat bermanfaat sebagai mekanisme penyaring untuk memunculkan anggota-anggota yang benar-benar berkualitas. Hal ini diungkapkan oleh sang pengarang secara diplomatis dan apologis sebagai berikut:
Serat-serat pawartosipun theosofi asring nyariyosaken, manawi pakempalan mentas katempuh prahara ageng, pakempalan malah katingal ngrembaka, mila manawi pakempalan kataman pakewet, ngatos wonten warga ingkang medal, punika ingkang kandel manahipun, lajeng sami mungel : Para warga theosofi dipun irigi, dados pundi ingkang alit manahipun inggih dhawah.27
(Tulisan-tulisan berita theosofi sering menceritakan, jika perkumpulan baru saja mengalami prahara besar, maka perkumpulan justru terlihat berkembang, maka jika perkumpulan mendapatkan kesulitan, sampai ada warga yang keluar, biasanya anggota yang teguh hatinya akan mengatakan: Para warga theosofi sedang disaring, jadi siapa yang kecil hatinya akan jatuh ke bawah ...).
Peristiwa perebutan kekuasaan di atas hanya merupakan sebagian kecil saja konflik yang terjadi dalam tubuh theosofi. Kehadiran theosofi nyatanya juga melahirkan konflik baru bagi agama-agama yang telah ada baik dalam internal agama maupun dengan agama lainnya. Sejarawan M.C. Ricklefs menggambarkan bahwa gerakan-gerakan intelektual yang bersifat anti Islam yang sempat berkembang di Indonesia pasca tahun 1900 umumnya memiliki kaitan dengan gerakan dan paham theosofi. Ricklefs menggambarkan bahwa paham theosofi ini berusaha mengkombinasikan antara budi dan buda. Budi merepresentasikan sifat intelektual dalam pemikiran ilmiah Barat. Sedangkan Buda merupakan ajaran yang berkembang sebelum masuknya Islam.28 Kemunculan kombinasi tersebut tidak lepas dari upaya menyingkirkan eksistensi dan peran Islam dari kehidupan masyarakat “intelektual” di Hindia Belanda. Munculnya oknum-oknum anti-Islam dari tubuh theosofi ini jelas memberikan “pekerjaan rumah” baru bagi umat Islam di Indonesia.
Ajaran theosofi yang menganggap bahwa ia berada di atas agama, bukannya tanpa problem. Theosofi yang berusaha menghilangkan batas-batas antar agama, pada gilirannya tidak jarang melahirkan pola hubungan antar agama yang justru kurang harmonis. Dalam tahapan ini pandangan theosofi hanya menciptakan keruwetan baru bagi hubungan antar agama yang sebelumnya tidak selalu diwarnai konflik. Sekaligus membuktikan bahwa ajaran theosofi yang menekankan urgensi persaudaraan antar
27 Bakta. Babad Theosofie … hal. 35
28 M.C. Ricklefs. Sejarah Modern Indonesia. Cetakan II. Diterjemahkan dari “A History of
1 5 5
Dari Theosofi Menuju Pluralisme..., Susiyanto dan Fathurrahman Kamal |
manusia hanya merupakan jargon belaka. Sebab sebagaimana kehadiran paham pluralisme agama, praktik theosofi justru melahirkan keruwetan-keruwetan baru bagi eksistensi sebuah agama dan pola hubungannya dengan agama lain. Alih-alih menciptakan kerukunan dan persaudaraan antar sesama manusia, yang terjadi justru menjadi bahan bakar dan sekaligus pemantik konflik.
PENUTUP
Sebagaimana pluralisme yang menganggap bahwa semua agama memiliki kebenaran yang sama, theosofi juga memiliki cara pandang serupa. Pluralisme saat ini telah berkembang menjangkau negeri-negeri berpenduduk muslim termasuk In- donesia dengan menawarkan pemahamannya. Demikian juga theosofi saat ini mulai memperlihatkan tanda-tanda kebangkitannya kembali. Meskipun keduanya memiliki tujuan untuk mempersatukan semua agama dalam suatu persaudaraan universal, namun kedua paham tersebut tetap berpijak pada suatu agenda, kepentingan, dan cara pandangnya sendiri. Agenda yang digulirkan bukan dalam rangka memperbaiki kehidupan keagamaan, melainkan bersifat destruktif terhadap sejumlah ajaran agama yang paling mendasar.
Agama dalam pandangan theosofi, juga dalam pluralisme, hanyalah merupakan suatu alat justifikasi dan legitimasi bagi kokohnya sebuah argumentasi dan kepentingan. Tujuan theosofi yang berusaha menciptakan suatu pola hubungan dan persaudaraan antar manusia tanpa memandang suku, ras, agama, jenis kelamin, dan perbedaan alamiah hanya berhenti saja sebagai jargon. Sebab praktik-praktik theosofi yang berkembang justru paradoksal dengan ungkapan tersebut. Theosofi pada satu sisi merupakan paham yang bersifat merusak agama. Pada sisi yang lain juga menimbulkan keresahan akibat sejumlah ajarannya yang kontroversial dan menyimpan potensi konflik bagi praktik keagamaan yang ada.
Sejatinya Theosofi merupakan hasil perpaduan secara sinkretis antara spiritualisme Timur dan Barat dengan menggunakan kaca mata Barat. Hakikatnya, proses tersebut tidak murni sebagai usaha mengangkat dan menghidupkan kembali “budaya” atau “spiritualitas” Timur, melainkan merupakan bagian dari mekanisme pembaratan yang sedang berjalan. Demikian juga pluralisme seringkali memanfaatkan dan menggunakan “kearifan lokal” sebagai unsur pembangun argumentasinya. Namun demikian tetap saja worldview Barat sukar dipisahkan dari entitas ajaran tersebut. Sebab argumentasi yang bersifat demikian hanya sekedar mencari “akar” dan tidak pernah benar-benar “mengakar”.