BAB II. LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN
A. Landasan Teori
3. Mencakapkan
Pada pendidikan anak usia dini, penanaman nilai-nilai agama dimaksudkan agar anak dapat mengenal Tuhan, menirukan gerakan beribadah, mengucapkan doa, mengenal perilaku baik dan buruk, serta membiasakan diri untuk berperilaku baik. Aspek nilai-nilai agama Islam yang dapat diajarkan kepada anak usia dini pada dasarnya dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu nilai keimanan, nilai ibadah, dan nilai akhlak. Nilai keimanan mengajarkan kepada anak untuk percaya akan adanya Allah Yang Maha Esa. Nilai ibadah mengajarkan anak agar setiap perbuatannya senantiasa dilandasi hati yang ikhlas untuk mencapai ridho-Nya. Nilai akhlak mengajarkan kepada anak untuk bersikap dan berperilaku yang baik sesuai norma yang benar. Seperti pada ayat berikut:
ِ نآ ْرُِقْلاِ ةَءا َر قِ ِّ بُح َوِ ه تْيَبِ لْهَأِِّ بُحَِوِْمُكِّ ي بَنِ ِّ بُحٍِلاَص خِ ثَلاَثِىَلَعِْمُكَدَلا ْوَأِا ْوُبِّ دَأ
Artinya :“Didiklah anak – anak kalian tentang tiga hal : mencintai Nabi kalian, mencintai ahli baitnya, dan membaca al – Quran. . . . ( HR. Thabrani )
Guru dalam memberikan materi pembelajaran nilai-nilai agama Islam kepada anak dengan cara menerangkan yang lebih mudah terlebih dahulu kemudian ke yang sulit. Hal ini dilakukan agar anak mudah dalam mempelajari materi yang diberikan guru. Sesuai dengan pendapat dari Ibrahim dan Nana dalam Pramitha yang menyatakan bahwa materi yang diberikan hendaknya ditata dalam urutan yang memudahkan dipelajarinya keseluruhan materi oleh peserta didik.49
perkembangan anak lingkup perkembangan mengungkapkan bahasa pada anak usia 5 – 6 tahun meliputi a)mengerti beberapa perintah secara bersamaan, b)mengulang kalimat lebih kompleks, c)memahami aturan dalam suatu permainan, d)senang menghargai bacaan51.
Mencakapkan atau mengucapkan adalah bagian dari konteks berbicara, dalam arti lain berbicara merupakan kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa untuk mengekspresikan atau menyampaikan pikiran, gagasan atau perasaan secara lisan. Pengertian ini pada intinya mempunyai makna yang sama dengan pengertian yang disampaikan oleh Tarigan yaitu bahwa berbicara berkaitan dengan pengucapan kata-kata.52
Disamping harus memiliki memenuhi syarat-syarat tersebut diatas yang harus dipenuhi anak dalam mencakap doa sehari-hari juga harus memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dalam proses mencakap, diantaranya:
a. Menyuarakan Yaitu proses menghafal dilakukan dengan cara mengeraskan bacaan. Dengan mengeraskan bacaan maka peserta didik akan lebih mudah mengingat obyek yang dihafal. Hal yang demikian perlu dilakukan kalau obyek yang dihafal adalah rumusan yang harus diingat secara tepat, ejaan-ejaan dan nama-nama asing, atau hal-hal yang sukar.
b. Pembagian waktu Proses menghafal memerlukan pembagian waktu yang tepat sehingga obyek yang dihafal lebih mudah untuk diingat.
Menghafal materi yang banyak secara borongan dalam waktu yang lama umumnya kurang menguntungkan.
c. Penggunaan metode yang tepat Pemilihan yang metode yang tepat sangat menentukan keberhasilan proses menghafal. Pemilihan metode juga disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran dan usia anak.
51 Permendikbud Nomor 137 Tahun 2013 Tentang Standar Nasional Pendidikan anak Usia dini Tahun 2015
52Ningsih, Suwarti. 2014. Peningkatan Keterampilan Berbicara melalui Metode Bercerita Siswa Kelas III SD Negeri 1 Beringin Jaya Kecamatan Bumi Raya Kabupaten Morowali.
Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 2 No. 4.
d. Titian Yaitu menghafal dilakukan secara sistematis supaya bahan yang dihafal mudah dicamkan, misalnya untuk menghafal nadanada pada tanda silang (cross) dipakai cara ABaFiRaWaBa (Allahumma, Bariklana, Fima, Razaatana, Wakina Adza Bannar).
e. Penggolongan secara ritmis Untuk membantu proses hafalan ada baiknya obyek yang akan dihafal dibuat nadhom atau lagu dan menghafalnya dengan cara menyanyikannya. Sehingga proses menghafal menjadi menyenangkan dan materi yang dihafal lebih mudah untuk diingat.
f. Penggolongan kesatuan Materi yang akan dihafal perlu diklasifikasikan menurut karakteristik maupun ciri khusus. Misalnya menggolongkan doadoa yang hampir sama. Dalam hal peneliti menggolongkan materi doa-doa harian berdasarkan kegiatannya melalui materi film yang runtut. Dari beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan hafalan doa-doa harian, dapat disimpulkan bahwa media yang tepat untuk mengadopsi semua faktor-faktor itu adalah media audio visual.53
Mencakapkan juga merupakan konteks Menghafal yang dapat diartikan sebagai kemampuan mengingat sesuatu dengan mudah dan mengucapkannya di luar kepala. Kemampuan menghafal ini berkaitan erat dengan seberapa lama seseorang mampu mengingat sesuatu. Peningkatan kemampuan ini banyak tergantung dari perbaikan metode belajar, motivasi untuk belajar dan aktivitas mengingat-ingat itu sendiri. Ketiga faktor tersebut saling berkesinambungan. Pemilihan metode menghafal yang sesuai dengan keadaan psikologi peserta didik dapat menumbuhkan motivasi mereka sehingga mampu membantu meningkatkan ingatan peserta didik.
Pada proses menghafal anak perlu menerapkan teknik-teknik yang benar sehingga anak lebih mudah dalam mencakap doa sehari-hari di sekolah, terdapat tiga cara yang dapat diterapkan oleh guru dalam proses menghafal anak usia dini diantaranya adalah:
53Wachid, Nur Ahmad, Peningkatan Kemampuan Hafalan Doa-Doa Harian Dengan Media Audio Visual Pada Anak TK A Semester Gasal TK Islam Miftahul Jannah Beringin Indah Ngaliyan Semarang Tahun Pelajaran 2012/2013,(Semarang:IAIN Walisongo, 2013),h.10-12.
a. Cara G (Ganzlern methode) metode keseluruhan, yaitu menghafal dengan cara mengulang-ulang dari awal sampai akhir.
b. Cara T (Teillern methode), yaitu menghafal sebagian demi sebagian.
Masing-masing bagian dihafal sampai bisa baru pindah ke bagian lain.
c. Cara V (Vermittelendelern methode), merupakan metode gabungan antara keseluruhan dan bagian-bagian. Peserta didik menghafal bagian yang sukar dulu baru mempelajarinya secara keseluruhan.
Menurut penelitian yang telah dilakyukan cara V merupakan metode yang paling baik karena dengan cara ini anak mengamati secara keseluruhan lebih dahulu dan memperhatikan kesukaran-kesukarannya lebih dahulu, kemudian dihafalkan lebih dahulu kemudian dihafalkan secara keseluruhan.54
Setiap teknik tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Anak dapat menggunakan salah satu teknik ataupun dengan cara menggabungkan beberapa teknik tersebut. Hal ini disesuaikan dengan tingkat atau kemampuan anak dalam menghafal sesuatu materi. Pemilihan metode yang sesuai dengan kondisi anak akan membantu tercapainya proses pembelajaran.55
Disamping teknik-teknik tersebut diatas, guru juga perlu memperhatikan prinsip-prinsip dalam menghafal diantaranya yaitu :
a. Bahan yang akan dihafalkan hendaknya diusahakan agar dipahami benar-benar oleh anak.
b. Bahan hafalan hendaknya merupakan suatu kebulatan (keseluruhan dan bukan fakta yang lepas).
c. Bahan yang telah dihafal hendaknya digunakan secara fungsional dalam situasi tertentu.
d. Active recall hendaknya senantiasa dilakukan.
54Sulistyonoingsih, Upaya meningkatkan kemampuan hafalan doa sehari-hari melalui metode reading aloud di kelas B RA Gebang Anom kecamatan Semarang Timur kota Semarang tahun pelajaran 2010/2011.
55Ibid.
e. Metode keseluruhan atau metode bagian yang digunakan tergantung pada sifat bahan.56
Disamping harus memiliki memenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi anak dalam menghafal doa sehari-hari, guru juga harus memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dalam proses menghafal, diantaranya:
a. Menyuarakan, yaitu proses menghafal dilakukan dengan cara mengeraskan bacaan. Dengan mengeraskan bacaan maka anak akan lebih mudah mengingat obyek yang dihafal. Hal yang demikian perlu dilakukan kalau obyek yang dihafal adalah rumusan yang harus diingat secara tepat, ejaan-ejaan dan nama-nama asing, atau hal-hal yang sukar.
b. Pembagian waktu, pada proses menghafal anak memerlukan pembagian waktu yang tepat sehingga obyek yang dihafal lebih mudah untuk diingat. Menghafal doa yang banyak secara borongan dalam waktu yang lama umumnya kurang efektif terhadap kemampuan anak.
c. Penggunaan metode yang tepat, merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan proses menghafal doa sehari-hari anak.
Pemilihan metode juga disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran dan usia anak.
d. Titian, yaitu menghafal dilakukan secara sistematis supaya bahan yang dihafal mudah dicamkan, misalnya untuk menghafal nadanada pada tanda silang (cross) dipakai cara ABaFiRaWaBa (Allahumma, Bariklana, Fima, Razaatana, Wakina Adza Bannar).
e. Penggolongan secara ritmis, untuk membantu anak pada proses hafalan ada baiknya obyek yang akan dihafal dibuat nadhom atau lagu dan menghafalnya dengan cara menyanyikannya. Sehingga proses menghafal menjadi menyenangkan dan materi yang dihafal lebih mudah untuk diingat.
56Ibid.
f. Penggolongan kesatuan, materi yang akan dihafal oleh anak perlu diklasifikasikan menurut karakteristik maupun ciri khusus. Misalnya menggolongkan doadoa yang hampir sama.
Berdasarkan beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan hafalan doa-doa harian anak usia dini, dapat disimpulkan bahwa media yang tepat untuk mengadopsi semua faktor-faktor itu adalah media audio visual.57
Dari paparan tersebut di atas dapat ditarik benang merah bahwa hafalan adalah aktivitas yang menitik beratkan pada daya ingatan (memorytype of learning). Jadi maksud dari menghafal adalah suatu cara belajar dengan menggunakan daya ingatan yang tajam untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan.58 Sesuai dengan ayat pada surat Al-Kahf ayat 46 sebagai berikut:
ُْلاَمۡلٱ
َْو ْ
َْنوُنَبۡلٱ
ُْةَني ِز ْ
ْ اَيۡنُّدلٱِة َٰوَيَح ۡلٱ
َْو ْ
ََْٰبۡلٱ
ََْٰيِق
ََّْٰصلٱُت
ُْت ََٰحِل
ْ
َْثْ َكِ ب َرَْدنِعْ رۡي َْخ
ْ ر ۡيَخ َوْاٗبا َو
ْ ٗلَمَأ
ْ ٤٦
ْ
ْ
Artinya: Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan (QS. Al-Kahf : 46)