BAB IV ASPEK TEKNIS PRODUKSI
4.5.1 Mencari atau Menemukan Lokasi Berkumpulnya Ikan Pelagis Kecil
Ciri-ciri adanya gerombolan ikan biasanya ditandai dengan :
- adanya perubahan warna air laut
- ikan melompat dekat permukaan
- adanya buih dekat permukaan laut akibat udara yang dikeluarkan
- burung-burung yang menukik-nukik dan menyambar di permukaan
Proses ini dapat dilakukan secara visual pada senja atau pagi hari, di saat gerombolan ikan aktif naik ke permukaan air.
Pada saat gerombolan ikan ditemukan, perlu diperkirakan arah pergerakan ikan,
kecepatan pergerakan/renang, kepadatan gerombolan, kedalaman perairan, dan arah kecepatan arus serta angin. Penentuan keputusan haruslah cepat mengingat ikan selalu dalam keadaan bergerak
Setelah diketahui jumlah/kepadatan ikan, arah dan kecepatan gerak gerombolan ikan,
maka segera kapal purse seine melakukan pelingkaran jaring dengan menghadang arah renang ikan. Pada waktu melingkari gerombolan ikan, kapal dijalankan secepat mungkin agar gerombolan ikan segera terkepung.
Pada saat prosers pelingkaran gerombolan ikan selesai dan kedua tepi jaring telah
berhasil bertemu, selanjutnya dilakukan penarikan tali karet dengan maksud untuk mencegah ikan agar ikan tidak lari ke arah bawah jaring. Sekarang ini, penarikan tali karet menggunakan roller.
Tubuh jaring dan float line ditarik jika bagian bawah jaring telah tertutup. Proses
penjaringan selesai apabila semua pemberat telah berada di atas kapal. Segera tubuh jaring dan float line diatur kembali di atas kapal seperti semula untuk memulai proses penangkapan berikutnya.
Ikan-ikan yang terkumpul pada bagian kantong jaring segera diserok ke atas kapal dan
dimasukkan dalam lubang penyimpanan dalam palka. 4.5.2. Teknik operasi menggunakan alat bantu cahaya:
Pada malam hari perahu purse seine menyalakan lampu sambil melakukan labuh jangkar. Diperlukan waktu sekitar 4-5 jam, agar banyak ikan yang bergerombol. Setelah diperkirakan banyak ikan bergerombol karena tertarik sinar, maka awak kapal yang ada di perahu/kapal lampu tersebut akan memberikan kode kepada perahu/kapal jaring (kapal lain yang berfungsi sebagai penangkap) untuk menarik jangkar dan siap melakukan proses penangkapan.
Begitu aba-aba untuk proses penjaringan diberikan, dilakukanlah identifikasi arah arus
laut dilokasi itu sehubungan dengan arah hanyutnya jaring pada saat pelingkaran.
Proses selanjutnya adalah penurunan jaring. Pada saat penurunan jarring kecepatan
kapal lebih rendah jika dibandingkan dengan mengejar gerombolan ikan, karena posisi gerombolan ikan tetap berada di sekitar lampu. Selanjutnya sama dengan operasi dengan mengejar gerombolan ikan.
4.5.3. Teknik operasi dengan mengejar gerombolan ikan:
Melepaskan tali rumpon yang diberi pelampung. (Bisa juga melepaskan pelepah daun
kelapa atau dalam bahasa lokal disebuk tendak). Maksud melepas rumpun berpelampung adalah memancing ikan bergerombol di sekitar rumpun dan sekaligus mengidentifikasi arah dan kecepatan arus laut dengan melihat arah gerakan rumpon.
Setelah cukup banyak ikan berkumpul di sekitar rumpon, segera dilakukan proses
penjaringan dengan melingkari gerombolan ikan yang ada di bawah rumpon dengan jaring purse seine.
Setelah proses pelingkaran selesai dan kedua ujungnya sudah dikaitkan, maka segera
dilakukan proses menarik tali kolor dari jaring.
Setelah jarring sebagian di bawah telah tertutup, jaring ditarik ke atas kapal dengan
roller. Bila jaring sudah di atas kapal maka rumpon tadi dikeluarkan dari jarring dan dikembalikan ke tali pelampung seperti semula. Biasanya ada awak kapal purse seine yang khusus bertugas mengeluarkan rumpon dari jaring, mengatur ulang dan menebar rumpon di laut.
Gambar 4.3 Purse Seine dengan Rumpon Daun Kelapa 4.5.4. Teknik operasi menggunakan echo sounder
Teknik operasi penangkapan yang menggunakan alat bantu echo sounder tidaklah jauh berbeda dengan operasi yang menggunakan alat bantu lainnya. Perbedaannya hanya terletak pada pencarian gerombolan ikannya. Proses penangkapan ikan besar ini selengkapnya disajikan dalam gambar berikut:
Gambar 4.4 Proses Penangkapan Ikan Pelagis Kecil dengan Alat Bantu Echosounder
Persiapan alat Menyalakan
echo sunder Identifikasi gerombolan ikan dan kepadatannya Mendekati lokasi gerombolan ikan Pelingkaran jaring pada gerombolan ikan Menarik tali jaring agar menutup.
Menarik jaring ke atas kapal dan menyimpan hasil tangkapan
4.6. Kendala Produksi
Kendala produksi terdiri dari alam, persaingan dan biaya produksi.
1. Faktor alam yang menjadi kendala produksi antara lain cuaca buruk yang terjadi pada saat angin barat.
2. Persaingan yang menyebabkan hasil tangkapan per unit upaya (catch per unit effort/CPUE) atau produktivitas rata-rata per kapal purse seine menurun akibat berkurangnya sumberdaya ikan. Menurunnya CPUE di laut Jawa disebabkan oleh over fishing.
3. Biaya produksi. Faktor biaya produksi menjadi kendala terutama karena mahalnya bahan bakar. Pada setiap trip sebuah kapal purse seine rata-rata membelanjakan 8.000 liter solar dan 900 liter minyak tanah untuk keperluan memasak. Nilai solar adalah Rp4.315 x 8.000 liter = Rp34.520.000,- dan nilai minyak tanah Rp2.350,- x 900 liter = Rp2.115.000,-
Perkembangan nilai perbekalan karena kenaikan BBM sebesar 100% pada tahun 2005 dapat ditunjukkan pada tabel berikut:
Tabel 4.3 Perkembangan Biaya Perbekalan Menurut Data Trip, 2004 - 2006
Tanggal/Tahun Trip Perbekalan (Rp)
12/16/04 40.749.325
10/30/05 47.763.950
12/27/06 70.581.600
Sumber : Data primer.
Data yang ada menunjukkan bahwa telah terjadi lonjakan biaya perbekalan setekah terjadi kenaikan harga BBM 2005/2006. Besarnya lonjakan ini mencapai 48,93% dari nilai tahun 2005.
BAB V
ASPEK KEUANGAN
5.1. Pola Usaha
Pola usaha penangkapan ikan pelagis kecil dengan purse seine dilakukan dalam periode jangka panjang (5 tahun atau lebih). Periode usaha yang panjang disebabkan investasi yang diperlukan cukup besar, untuk 1 unit kapal purse seine dibutuhkan dana untuk investasi dan modal kerja sebesar Rp1 milyar atau lebih.
Kapal purse seine beroperasi sekitar 30 – 45 hari, dengan jumlah awak kapal 28 orang. Setiap tahunnya rata-rata dilakukan 7 trip penangkapan. Untuk setiap trip penangkapan diperlukan perbekalan rata-rata senilai Rp75.000.000,- Urutan elemen biaya perbekalan menurut besarnya jumlah biaya adalah: biaya BBM, disusul biaya persiapan melaut (penyiapan/perbaikan jaring, penyediaan spare part mesin dan alat tangkap), pembelian bahan makanan dan bahan pengawet ikan di laut (es dan garam). Sistim pengupahan yang dilakukan pada usaha ini adalah sistim bagi hasil 50% untuk ABK dan 50% untuk pemilik kapal. Jumlah yang dibagi adalah hasil lelang setelah dikurangi dengan biaya perbekalan, biaya persiapan melaut dan cadangan biaya perbaikan (docking).
Sumber dana usaha purse seine ini berasal dari dana modal sendiri dan kredit bank. Modal sendiri dan kredit kredit yang diperoleh dipergunakan untuk membiaya investasi kapal dan perlengkapannya serta pembiayaan operasi melaut (modal kerja). Faktor pengalaman usaha, kerjasama antara pemilik dan ABK, keterkaitan dengan sistem penangkapan ikan (penyedia perbekalan, pembeli ikan dan stake holder lain), dan sistem pendukungan operasi yaitu radio komunikasi dan peralatan pembantu penangkapan ikan sangat berpengaruh pada keberhasilan usaha.
5.2. Asumsi dan Parameter Keuangan
Dalam kajian keuangan ini asumsi dan parameter keuangan disusun untuk kapal purse seine, jumlah awak 28 orang, operasi 30 – 45 hari per trip penangkapan.
Tabel 5.1 Asumsi dan Parameter Keuangan
5.3. Komponen Biaya Investasi dan Biaya Operasional