PERFORMANSI TEKS, KOTEKS, KONTEKS
2. Mencetak Undangan
Selanjutnya simada kerja dibantu oleh perwakilan sangkep nggeluh membuat daftar nama-nama yang akan diundang untuk memastikan tak ada satupun dari kerabat yang tidak mendapat undangan sebelum hari pelaksanaan. Pemberitahuan acara biasanya diberitahukan seminggu sebelumnya dengan cara menyebar undangan atau memberikan kabar secara langsung kepada kerabat. Peranan anak beru merupakan suatu hal yang penting pada setiap acara adat Karo karena sebagian besar persiapan acara juga pelaksanaan acara diatur oleh anak beru. Selanjutnya tugas anak berudibagikan satu per satu, lalu ditunjuk siapakah dari mereka yang akan bertugas menyampaikan berita kepada kuh sangkep.Anak beru merupakan kelompok inti dalam pengaturan juga pelaksanaan keseluruhan acara, persiapan fisik juga tenaga dibutuhkan anak beru selama penyelenggaraan acara.
Setelah musyawarah dilanjukan dengan mencetak undangan dan Membagikan Undangan.Pada tahapan ini pemilik rumah baru atau perwakilan dari sangkep
geluhmencetak undangan ke percetakan hal ini berdasarkan hasil musyawarah yang telah dilaksanakan beberapa minggu sebelum pelaksanaan acara.Jumlah undangan disesuaikan dengan jumlah komsumsi yang disediakan. Pihak yang bertugas menyebarkan undangan adalah pemilik rumah dibantu oleh sangkep nggeluh terutama anak beru. Undangan untuk keluarga terdekat juga rukun tetangga disampaikan secara langsung dengan cara mendatangi rumah mereka satu per satu. Undangan disampaikan secara verbal, biasanya diwakilkan oleh istri pemilik rumah didampingi oleh seorang istri dari sangkep nggeluh,waktu yang tepat untuk menyampaikan undangan dilaksankan di pagi hari atau di sore hariguna memastikan mereka yang diundang berada di rumah. Karena penggunaan telephone yang sudah umum, pada jaman sekarang saudara atau teman yang dengan jarak tempat tinggalnya jauh diundang lewat telepon. Hal itu bukan lagi dianggap kurang sopan karena keterbatasan jarak dan waktu. Semua undangan acara telah tersebar paling lambat satu minggu sebelum hari pelaksanaan acara.
3. Persiapan Acara
Sehari menjelang acara memasuki rumah baru, beberapa sanak saudara yang bertempat tinggal jauh sudah berkumpul di rumah baru. Kehadiran mereka lebih awal untuk mempersiapkan keperluan pesta terutama makanan dan minuman. Anak beru memiliki peran pokok dalam mempersiapkan juga melaksanaan acara seperti memasak makanan, menyediakan tempat duduk dan mempersiapkan segala keperluan pesta lainnya termasuk bertugas mencuci peralatan masak dan kelengkapan makan.
Beberapa hari sebelum pelaksanaan acara semua bahan-bahan keperluan pesta telah dibeli juga dipersiapkan oleh pemilik rumah yang dibantu oleh anak beru. Untuk
persiapan penyediaan konsumsi, anak beru secara bergotong royong meracik, memotong, juga memasak lauk pauk dan memasak nasi. Semua persiapan acara dilaksanakan dari pagi hari sampai larut malam bahkan ada beberapa dari mereka sampai tidak sempat memejamkan mata mereka karena harus mempersiapkan semua keperluan acara untuk esok hari. Saat-saat seperti itu dimanfaatkan untuk berkumpul dengan sanak saudara lain yang mungkin sangat jarang bisa dilakukan karena kesibukan masing-masing. Hal demikian juga merupakan bentuk tanggung jawab yang harus diselesaikan oleh pihak anak beru, merekah yang mempersiapkan semua keperluan makan, namun mereka juga lah yanga akan paling akhir menikmati makanan tersebut.
Untuk menghibur anak beru yang bergadang semalam suntuk, pemilik rumah terkadang menyewa jasa tukang keyboard untuk menghibur mereka. Sembari mempersiapkan keperluan, mereka bekerja diiringi oleh musik keyboard. Beberapa mereka bernyanyi dan menari untuk menghilangkan rasa lelah dan kantuk.
Selain mempersiapkan makanan, tugas anak beru juga harus mempersiapkan tikar (amak mbelang) untuk tempat duduk semua kerabat yang datang. Tugas lainnya adalah mengambil janur ( lambe ) sejenis janur kuning dari daun pohon enau muda.
Kelompok yang bertanggung jawab mengambil lambeadalahanak beru langkip.
Janur kuning dipasangkan di bagian atas teras juga sekeliling bagian depan rumah sebagai tanda adanya pesta suka cita memasuki rumah baru. Sebagian anak berulain memasang teratak, panggung atau hiasan lain.
Gambar 5.2Anak beru membentangkan tikar untuk tempat duduk
Dahulu persiapan dilaksanakan seminggu sebelum mata kerja atau hari inti.
Kerabat yang jauh sudah berkumpul seminggu sebelum pelaksanaan acara. Anak beru mencari batu penggilingan di sungai, mempersiapkan manok megersing (ayam betina) juga mencari batu kapur atau boroh yang dibentuk menjadi tungku memasak atau daliken yang akan dibawa oleh kalimbubu si majekken daliken pada pelaksanaan inti acara. Daliken dicari dan dibuat oleh anak beru yang akan dijadikan sebagai luah atau kado oleh kalimbubu si majekken daliken.
Sebagian anak beru juga simada kerja pergi ke hutan untuk mencari dan memetik bulung-bulung si melias gelar atau diterjemahkan daun-daun yang memiliki nama-nama yang baik. Daun-daun itu adalah bulung sangketen, padang teguh, sanggar, mbertuk beserta ranting-rantingnya. Kesemuanya kemudian diikat dengan kulit pohon ambat tuahatau sejenis pohon yang kulitnya digunakan sebagai tali.
Menjelang hari acara, anak beru mempersiapkan pakaian adat yang akan di dilengketkan ke tiang-tiang rumah (binangun) dibalut dengan kain arinteneng. Kain arinteneng juga dilengketkan di langit-langit rumah dan digantungkan di dinding
rumah. Anak beru juga mempersiapakan tempat barang-barang berharga (baka), tempat air yang terbuat dari bambu (kandi-kandi), air aren yang dimasak (tengguli) dimasukkan ke dalam kandi-kandi.
Kalimbubu simajekken daliken menyiapkan luah atau oleh-oleh berupa satu setengah kilo beras putih (beras meciho), satu butir telur ayam kampung, satu ekor ayam jantan (manuk megara), satu bulatan gula merah, satu kelapa, juga sesisir pisang emas, tikar beserta kasur. Kalimbubu singosei menyiapkan ose atau kain adat untuk simada kerja. Simada kerja mengenakan pakaian adat lengkap atau ose lengkap. Pakain adat yang dikenakan oleh istri pemilik rumah adalah, kelam-kelam, sertali (aksesoris emas-emas),uis rambu-rambu emas, anting berwarna emas berbentuk janting pisang atau kodong-kodong, cincin tapak gajah atau cincin tumbuk, uis nipes, ragi jenggi. Ose untuk suami yaitu uis nipes dijadikan sebagai kadang-kadangen diletakkan di bahu, sertali, gelang sarong, cincin tapak gajah atau tumbuk, ius arinteneng, sarung(kampoh)ermas-emas, ragi jenggi.
Kalimbubu mempersiapakan beras, telur ayam satu butir, satu ekor ayam, gula, kelapa, kasur beserta tikar pandan juga pisang. Anak beru menyiapkan nasi yang dimasukkan ke dalam periuk nasi (nakan dem) sebagai sarapan di rumah baru besok hari atau ngukati. Kalimbubu si majek daliken (kalimbubu nini) menyiapkan tungku yang terbuat dari tanah kapur (boroh) kemudian dicetak berbentuk kotak disusun tiga yang digunakan sebagai tungku masak (daliken). Selanjutnya anak beru langkip menempelkan daun nira muda (lambe) di sekeliling teras juga di halaman rumah, dan membuat tenda di halaman rumah untuk sebagai tempat untuk berkumpul untuk
mengadakan gendang, ada kalanya pelaksanaan acara dilaksnakan di halaman rumah atau dilaksanakan di los atau aula jika kerabat yang dindang tidak mampu tertampung.
Beberapa persiapan lain yang dilakukan di dalam rumah baru adalah, satu malam sebelum acara mengketrumah, simadakerja juga beserta beberapa keluarga terdekat mengundang dukun atau guru si baso untuk menginap di rumah baru lalu memimpikan dan mengamati gerak-gerik yang terjadi di dalam rumah baru. Jika ada hal-hal yang kurang baik, dukun akan membersihkan semua hal-hal negatif tersebut terlebih dahulu dari rumah sehingga rumah aman dan siap untuk ditempati.
4. Berangkat ke Rumah Baru (Berkat ku Rumah Mbaru)
Pada mata kerja atau hari pelaksanaan acara, sebelum matahari naik atau sekitar jam 6.00 WIB beberapa anak beru, kalimbubu, senina, juga rukun tetangga berkumpul di halaman rumah baru untuk acara membuka kunci rumah. Bagipemilik rumah yang beragama Kristen atau katolik, pelaksanaan acara adalah dengan mengundang beberapa jemaat gereja beserta seorang pendeta untuk melaksanakan acara liturgi.Acara liturgi ini dipimpin oleh seorang pendeta.Liturgi dilaksanakan sebagai bentuk ucapan syukur, doa juga terima kasih kepada Tuhan YME untuk pemilik rumah (simada kerja) sebagai seorang yang beragama Kristen ataupun Katolik hal itu karena simada kerja telah mampu membangun tempat tinggal. Setelah liturgi, pendeta mempersilahkan simada kerja memotong pita yang ada di pintu lalu mempersilahkan semua yang hadir memasuki rumah. Selanjutnya pendeta
memercikkan air suci ke seluruh bagian rumah agar semua energi negatif keluar dari rumah.
Untuk pemilik rumah yang beragama Islam acara juga dimulai sekitar jam 6.30. Pemilik rumah yang beragama Islam tidak mengadakan acara buka pintu, hanya dengan mengadakan pengajian dan melantunkan doa-doa selamat yang dipimpin oleh ustat.Pengajian dimulaisetelah semua anak beru, kalimbubu dan senina berkumpul di rumah baru.Untuk acara pengajian, pemilik rumah menyertakan anak yatim, kelompok pengajian atau perwiritan.
Dahulu waktu yang tepat untuk memulai acara adalah sebelum matahari terbit atau sebaiknya dilakukan sebelum lalat dan burung-burung keluar dari sarangnya Waktunya berkisar jam lima atau jam enam pagi. Acara dimulai di titik kumpul rumah yang lama. Sebelum acara dimulai di rumah yang baru, beberapa anak beru bertugas menyangkutkan uisarinteneng di dinding rumah untuk dijadikan tirai di rumah yang baru. Kemudian anak beru membentangkan tikar di seluruh lantai rumah untuk semua tamu yang akan datang (persikapen amak mbelang).
Sementara itu acara di rumah lama atau rumah pemberkaten dimulai dengan persiapan kalimbubu si ngosei meletakkan atau ngampeken bulung-bulung beka buluh atau tutup kepala kepada suami pemilik rumah. Ose untuk simada kerja atau pemilik rumah adalah ose lengkap renas-emas (aksesoris emas-emas) layaknya pakain adat pengantin. Ose dibawakan oleh kalimbubu singosi sebagai luah atau kado kepada pemilik rumah. Sukut yang terdiri saudara laki-laki beserta istrinya juga mengenakan ose, tapi tidak mengenakan emas-emas. Sebelum acara ose dimulai,
terlebih dahulu kalimbubu sierkimbang membentangkan tikar pandan putih untuk pihak sukut. Setelah itu pihak sukut berkumpul dan duduk di atas tikar lalu acara ose bisa dimulai. Pihak yang pertama diberi ose adalah pemilik rumah baru. Pihak suami pemilik rumah baru diberi ose oleh kalimbubu singosei, sedangkan pihak istri diberi osei oleh kalimbubu si erkimbang. Untuk suami pemilik rumah baru, ose yang akan diberikan berupa uis nipes, sertali, gelang sarung, cincin tapak gajah (tumbuk), ius arinteneng, uis nipes, uis emas-emas, ragi jenggi. Setelah suami pemilik rumah baru mengenakan kemeja atau setelan jas lalu dia siap untuk diberi ose. Kalimbubu singosei (pemberi ose) memasangkan bulang atau penutup kepala kepada suami pemilik rumah baru. Kain untuk osebulang-bulang ini adalah uis nipes, lalu meletakkan sertali untuk hiasan di bulung-bulung. Sertali dijadikan sebagai kalung.
Pihak suami dipakaikan gelang pada tangan sebelah kanan, nama gelang ini adalah gelang sarung. Setelah itu suami dipakaikan cincin tapak gajah (tumbuk). Pihak suami lalu dipakaikan sarung, nama sarungnya adalah uis arinteneng. Tidak lupa diberikan uis emas-emas sebagai selempang. Uis nipes diletakkan di pundak dan yang terakhir pihak suami pemilik rumah baru mengenakan ragi jenggi sebagai ikat pinggang.
Pihak istri mengenakan kebaya dan sarung lengkap dengan ose yang terdiri dari tudung kelam-kelam sebagai penutup kepala, di atas tudung diletakkan uis rambu-rambu dengan posisi rambu-rambu diletakkan di bagian depan sehingga tampak terjuntai, agar tudung tampak lebih cantik diletakkan hiasan sertali yang berwarna emas. Sertali ini juga dijadikan sebagai kalung, aksesoris lain adalah
anting-anting kodong yang berbentuk jantung pisang berwarna emas diletakkan pada sisi kiri dan kanan tudung. Untuk hiasan cincin digunakan cincin tapak gajah. Uis nipes dibuat menjadi selempang dan ragi jenggi dijadikan sebagai ikat pinggang.
Pada jaman dahulu semua aksesoris yang melekat pada pakain adat laki-laki dan wanita terbuat dari dari emas murni tapi sekarang tidak lagi, bentuknya masih sama tapi bahannya sudah dibuat dari mitasi, semua aksesoris tersebut disebut dengan emas-emas karena warnanya menyerupai emas.
Pihak sukut tidak mengenakan ose lengkap, hanya berupa tanda-tanda saja.
Untuk sukut yang laki-laki berupa beka buluh yang diletakkan di bahu. Sementara pihak istri dari sukut mengenakan tudung, kebaya, dan kain sarung di tambah dengan uis nipes dan ragi jenggi sebagai ikat pinggang. Pihak sukut tidak mengekan emas-emas. Setelah pemilik rumah diberi osei, pemilik rumah memberikan rokok kepada kalimbubu si ngosei laki-laki dan memberikan kampil atau tempat sirih yang berisi sirih, pinang, gambir, kapur beserta tembakau kepada kalimbubu si erkimbang perempuan. Hal itu dilakukan sebagai bentuk kehormatan juga rasa berterimakasih pihak sukut kepada kalimbubu si erkimbang juga kalimbubu singosei.
Jika pemilik rumah baru memiliki anak anak laki-laki atau anak laki-laki dari pihak sukut ada kalanya mereka juga diberi ose juga,kemudian anak laki-laki mereka dipasangkan dengan anak gadis dari pihak kalimbubu. Anak gadis itu disebut beru singumban atau impal karena anak gadis mereka memiliki beru yang sama dengan ibu anak laki-laki dari pihak simada kerja atau sukut. Secara adat anak-anak mereka boleh dipersatukan sebagai suami-istri jika kelak mereka dewasa. Pihak yang
memberikan ose kepada anak laki-laki sukut atau anak laki-laki pemilik rumah adalah pihak sukut sendiri. Setelah pihak sukut, anak beru, kalimbubu, juga teman si meriah atau rukun tetangga, selesai mempersiapkan segala keperluan untuk acara di rumah baru, lalu semua siap-siap bergegas untuk berangkat ke rumah baru.
Adapun keperluan-keperluan yang dibawa oleh kalimbubu berupa luah atau kado yang terdiri dari beras meciho atau beras putih, naruh manok mbentar (telur ayam kampung), amak tayangen (kasur juga tikar), gula tualah ras galuh (gula, kelapa dan pisang), manok megara (satu ekor ayam jantan). Sementara itu anak beru membawa makanan yang terdiri dari beras berna-bena (beras yang direndam di air santan yang ditambah gula merah serta lada hitam), bermacam-macam kue (cimpa) yang terdiri dari cimpa lepat, cimpa rambe-rambe, cimpa unung-unung, nakan dem (seperiuk penuh nasi) lengkap dengan lauknya berupa gulai ayam, nurung sebakut (ikan lele) gulai kurung atau jangkrik.
Perlengkapan-perlengkapan lain yang dibawa cerek tempat air minum dibawa oleh anak beru, gendang-gendang (tempat untuk menyimpan pakaian) dibawa oleh anak beru atau kalimbubu, tempat beras atau busan dibawa oleh anak beru atau kalimbubu, amak tanyangen (tikar dan kasur) bisa dibawakan oleh siapa saja.
Amak beru-beru atau amak mbentaratau tikar pandan panjang lebih kurang 1,5 meter dijinjing oleh sukut atau sembuyak yang wanita. Kandi-kandi tempat air terbuat dari dari bambu berisi nira dibawa oleh anak gadis.Gundur atau buah kundur dibawa oleh anak gadis dengan cara menggendongnya dengan uis arinteneng. Tebu dibawa oleh anak gadis. Rudang simelias gelar (tumbuh-tumbuhan) yang memiliki
nama yang baik dibawakan oleh seorang anak perempuan. Batu gilengan beserta anak gilingan dibawakan oleh kalimbubu, kayu bakar tiga buah dalam ikatan tiap-tiap ikatan dijinjing oleh beberapa anak gadis. Anak gadis yang menjinjing kayu bakar pada posisi depan dan belakang harus seorang anak yang memiliki nama yang bermakna bagus.
Paman atau saudara kandung laki-laki dari ibu memerintahkan kalimbubu si majekken daliken (kalimbubu bapak pemilik rumah baru) untuk bertugas mendirikan tungku memasak atau daliken di rumah baru, juga memerintahkan senina si pemeren (sepupu dari pihak ibu) untuk menyiapkan daliken sebagai kado untuk dari pihak kalimbubusimbabadaliken. Daliken dibawa ke rumah baru dijinjing di kepala dengan dialasi oleh uisarinteneng, atau dengan cara digendong menggunakan uisarinteneng.
Setelah semua persiapan untuk berangkat ke rumah baru telah selesai, satu dari anak beru diutus untuk melihat situasi jalan apakah ada hambatan atau tidak di perjalanan. Setelah melihat situasi jalan, anak beru bergegas kembali melaporkan, jika semuanya aman atau tidak ada hal-hal yang akan mengganggu rombongan di sepanjang perjalanan, semua robongan siap untuk berangkat.
Selanjutnya, rombongan menyusun barisan untuk berangkat ke rumah baru.
Baris pertama adalah pemilik rumah dan posisi yang paling depan adalah istri pemilik rumah. Ada istilah tudung arakken bulung-bulung yang berarti si istri diikuti oleh suami dan anak-anak. Terkadang barisan pertama adalah kalimbubu pihak perempuan atau disebut si njujung batupenggilingen (kalimbubu pembawa batu penggilingan).
Diikuti oleh kalimbubusimajekkendaliken kemudian kalimbubusi erkimbang (orang
tua istri),kalimbubusi enterem, sembuyak, senina, anak beru. Setelah ada perintah mereka bersama-sama bergerak menuju rumah baru. Protokol berkata
” man banta kerina, enggo mari sipersikap perberkatan ta?”
(Kepada kita semua, marilah kita mempersiapkan keberangkatan kita ?) lit denga nge gia si tading ras si lupa? (Masih sesuatu yang tertinggal?)
“enggo!” (sudah). Adi la na lit, ras-ras berkat kita kerina, sibenaken dage wari si mehuli enda, ngelakonken kerja nta enda(kalau tidak ada lagi yang perlu dipersiapkan, kita bersama-sama berangkat, kita mulailah hari yang baik ini, untuk melaksanakan acara kita ini)
Jika semua kuh sangkep sudah bersiap, selanjutnya rombongan akan berjalan beriringan menuju rumah baru
Setelah semua rombongan sampai di rumah yang baru, rombongan berhenti sejenak di depan teras, atau tangga rumah. Mereka disambut oleh anak beru yang sebelumnya telah menunggu di rumah baru. Anak beru menyiapkan tepung tawar yang terbuat dari getah bunga kamboja dan dicampur dengan air sirih yang sudah dilengkapi dengan pinang dan gambir lalu diaduk dengan batang daun singkong sehingga warnanya berubah menjadi merah tua. Anak beru menyematkan tepung tawar dengan cara erputar atau berputar di kening suami, istri dan anak-anaknya.
Selanjutnya kalimbubu si erkimbang pertama sekali ke dalam rumah lalu membentangkan tikar pandan putih, untuk tempat duduk pemilik rumah beserta istri dan anaknya. Berikut pemilik rumah masuk ke dalam rumah. Mereka masuk ke dalam rumah dengan terlebih dahulu melangkah masuk dengan kaki sebelah kanan lalu disediakan lak-lah galoh stabar atau kulit batang pisang kepok sebanyak 11 buah (lebarnya kurang lebih 3 jari) juga besi berani, juga batang kempawa (sejenis tumbuhan pinang-pinangan) lalu dipijak satu per satu. Setelah hal-hal tersebut
dilakukan simadakerja melangkah masuk ke dalam rumah diikuti oleh rombongan lainnya.
Sampai di dalam rumah mereka disambut dengan ralep-ralap dengan bersorak-sorai “alep-alep” sebanyak 11 kali sambil disirami dengan beras page si tunggong. Upacara ini kerap kali diarahkan untuk bersyukur kepada roh para leluhur, yang berperan besar dalam kesuksesan manusia. Selain bersyukur karena apa yang diharapkan sudah terkabul, ada juga tujuan yang diharapkan. Adapun makna menyiramkan beras dari hitungan satu sampai dengan sebelas kali itu adalah;
1. “Alep-alep !”, “Gelah ersada tendi ku rumah” (bersatu roh ke rumah (ke
5. “Alep-alep!”, Ertima tendi i rumah”( menunggu roh di rumah)
6. “Alep-alep!”, Gelem bekas latih gelem kini bayaken” (pegang hasil jerih payah, pegang kekayaan)
7.“Alep-alep!”, “ Pitut perukuren-perukuren si la mehuli pitut bahan-bahanen nulak si la mehuli pitut liah-liah” ( tertutup pikiran yang tidak baik, tertutup perbuatan tidak baik terhadap orang lain, tertutup nasib sial).
8. “Alep-alep!”, “Erngaruh ku sinterem, erngaruh ku sangkep geluh, erngaruh ku kade-kade” (beramal kepada khalayak ramai, beramal kepada sangkep geluh dan beramal kepada keluarga.)
9. “Alep-alep!”, “Nilah krina pinakit, nilah entem nu begu, nilah gerek-gereken si la mehuli” ( tersingkir semua penyakit, tersingkir maksud setan, tersingkir pertanda tidak baik. )
10. “Alep-alep!”, “Bunuh musuh, bunuh singgas-gasi, bunuh perukuren si lamehuli”( bunuh musuh, bunuh yang menganggu, bunuh maksud jahat )
11. “Alep-alep!”, “Ersada tendi i rumah, ersada ukurta kerina ku simehuli”(bersatu semua yang baik dan bersatu semua keingingan kita kepada hal yang baik)
Masyarakat Karo cukup peka terhadap siapa saja yang datang ke desa atau rumah mereka. Tamu yang datang akan disambut dengan upacara ini yaitu
menghamburkan beras piher di atas kepala tamu yang datang. Ungkapan-ungkapan yang mau disampaikan tergantung pada orang yang menghamburkan beras itu.
Biasanya untuk orang yang datang diungkapkan harapan-harapan, supaya ia memenuhi apa yang dikehendaki, oleh orang yang memintakan upacara itu diselenggarakan.memakai perumpamaan orang yang menanak nasi (seperti air dengan beras) yang sudah menyatu juga agar menjadi orang yang harmonis dengan sesama, seimbang dalam hidupnya dan selalu jujur. Memberikan pengaruh di mana ia berada, pengaruh yang baik. Berwibawa dan menjunjung persatuan. Serta bersyukur kepada Tuhan
Sedangkan orang yang berangkat jauh juga diletakan beras piher di atas kepala mereka, supaya mereka semakin semangat dan memiliki ikatan yang dekat dan kuat dengan keluarga yang ditinggalkannya hal ini dapat digambarkan dengan memakai perumpamaan orang yang menanak nasi (seperti air dengan beras) yang sudah menyatu juga agar menjadi orang yang harmonis dengan sesama, seimbang dalam hidupnya dan selalu jujur. Memberikan pengaruh di mana ia berada, pengaruh yang baik. Berwibawa dan menjunjung persatuan. Serta bersyukur kepada Tuhan.
Sedangkan orang yang berangkat jauh juga diletakan beras piher di atas kepala mereka, supaya mereka semakin semangat dan memiliki ikatan yang dekat dan kuat dengan keluarga yang ditinggalkannya hal ini dapat digambarkan dengan memakai perumpamaan orang yang menanak nasi (seperti air dengan beras) yang sudah menyatu juga agar menjadi orang yang harmonis dengan sesama, seimbang dalam hidupnya dan selalu jujur. Memberikan pengaruh di mana ia berada, pengaruh yang baik. Berwibawa dan menjunjung persatuan. Serta bersyukur kepada Tuhan.