BAB IV AKIBAT HUKUM YANG LAHIR SETELAH PUTUSAN
A. Mendapat Kepastian Hukum Dalam Hal-hal Yang Berkaitan
Perkawinan yang dilakukan masyarakat Indonesia masih banyak yang tidak dilakukan sesuai dengan peraturan Perundang-undangan atau dengan kata lain tidak dicatatkan ke Kantor Urusan Agama setempat. Akibat tidak dicatatkannya perkawinan tersebut menyebabkan permasalahan dikemudian hari karena banyak hal- hal yang berkaitan dengan perkawinan seperti kedudukan anak, waris, harta bersama dan sebagainya.
Maka dengan demikian status perkawinan sebelum di itsbatkan ke pengadilan agama tidak memiliki kekuatan hukum bahkan cenderung dianggap tidak sah sehingga peistiwa-peristia lain yang berkaitan dengan perkawinan tersebut dianggap tidak sah juga. Padahal dalam syariat Islam perkawinan yang telah memenuhi rukun dan syarat perkawinan sudah dinyatakan sah, kemudian Pasal 2 ayat (1) Undang- undang No. 1 Tahun 1974 juga sudah mengakui keabsahan perkawinan tersebut.
Menurut Fyzee, perkawinan menurut pandangan Islam mengandung tiga aspek, yaitu aspek hukum, aspek sosial dan aspek keagamaan.141 Dengan demikian
141 Hukum Islam Dua Negara Indonesia & Malaysia, Pengadilan Tinggi Agama Medan,
ketiga aspek ini saling mendukung dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain.
Fikih munakahat sebagai hukum agama mendapat pengakuan resmi dari undang-undang perkawinan dalam mengatur hal-hal yang berkenaan dengan perkawinan bagi umat beragama Islam. Landasan hukum ini terdapat pada pasal 2 ayat (1) Undang-undang perkawinan yang rumusannya : “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu”. Dengan demikian apa yang dinyatakan sah dalam fikih munakahat adalah sah juga menurut undang-undang.
Bila dihubungkan undang-undang perkawinan kepada fikih munakahat yang selama ini berlaku di Indonesia, yaitu menurut mazhab Syafi’iy, terdapat empat bentuk hubungan yaitu :
1. Undang-undang sudah sepenuhnya mengikuti fikih munakahat bahkan terkesan undang-undang mengutip langsung dari Al-Qur’an. Contoh dalam hal ini umpamanya ketentuan tentang larangan perkawinan dan ketentuan tentang masa tunggu bagi istri yang bercerai dari suaminya yang diajarkan dalam PP.
2. Ketentuan yang terdapat dalam undang-undang sama sekali tidak terdapat dalam fikih munakahat mazhab manapun, namun karena bersifat administratif dan bukan substansial dapat ditambahkan ke dalam fikih. Contonya adalah pencatatan perkawinan dan pencegahan perkawinan.
3. Ketentuan dalam undang-undang tidak terdapat dalam fikih munakahat dalam mazhab manapun, namun dengan pertimbangan kemaslahatan dapat diterima. Contoh batas minimal bagi pasangan yang akan kawin dan harta bersama dalam perkawinan.
4. Ketentuan undang-undang secara lahiriah tidak sejalan dengan ketentuan fikih munakahat dalam mazhab manapun, namun dengan menggunakan reinterpretasi dan mempertimbangkan maslahat tidak salah untuk diterima dalam fikih. Umpamanya keharusan perceraian di pengadilan dan keharusan izin poligami oleh pengadilan serta perceraian harus didasarkan kepada alasan-alasan yang sudah ditentukan.
Pelaksanaan undang-undang perkawinan dan fikih munakahat saling mendukung satu sama lain dengan tujuan untuk kemaslahatan perkawinan tersebut dan agar tercapai tujuan dari perkawinan itu sendiri.
Apabila akad nikah telah berlangsung dan sah memenuhi syarat rukunnya, maka akan menimbulkan akibat hukum. Dengan demikian akan menimbulkan pula hak dan kewajiban selaku suami istri dalam keluarga, jadi bukan semata-mata untuk bersenang-senang saja.
Jika suami istri sama-sama menjalankan tanggung jawab masing-masing maka akan terwujudlah ketentraman dan ketenangan hati, sehingga sempurnalah kehidupan berumah tangga. Maka akan terwujudlah tujuan hidup sesuai dengan tuntutan agama yaitu sakinah, mawaddah, warahmah. Kemudian juga dengan adanya
perkawinan akan menimbulkan akibat baik terhadap suami istri, harta kekayaan maupun anak yang dilahirkan dalam perkawinan.
Berdasarkan analisis Putusan Pengadilan Agama Stabat Nomor 219/Pdt.G/2011/PA.Stb. maka dapat dilihat beberapa akibat hukum yang timbul dari penetapan itsbat nikah yaitu :
1. Keabsahan perkawinan.
Perkawinan yang dilakukan secara sirri/tidak dicatat tidak selalu merupakan perkawinan yang tidak sah baik dilihat dari aspek hukum positif maupun hukum Islam. Kalau pemikiran dan pendapat yang mengatakan bahwa setiap perkawinan yang telah memenuhi syarat dan rukun nikah sebagaimana di atur dalam hukum Islam dapat disepakati, maka perkawinan itu sah baik hukum Islam maupun hukum positif. Hal itu karena pasal 2 ayat (1) Undang-Undang No 1 tahun 1974 tentang perkawinan pun menyatakan bahwa keabsahan suatu perkawinan apabila dilakukan sesuai dengan ajaran agama yang orang yang melakukan perkawinan . Karena itu, perkawinan siri/ tidak dicatat semacam ini apabilah telah memenuhi syarat dan rukun nikah menurut hukum Islam adalah sah secara hukum Islam maupun hukum positif. Hanya saja perkawinan itu tidak di catat sehingga dikatakan perkawinan di bawah tangan.
Menurut undang-undang perkawinan di Indonesia jika perkawinan yang sah secara syar’i maka sah pula menurut peraturan perundang-undangan. “Perkawinan tidak dicatat” adalah sah menurut peraturan perundang- undangan karena sesuai dengan hukum perkawinan Islam yang berlaku di Indonesia berdasarkan pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 junctopasal 4 Kompilasi Hukum Islam (sebagai ius constitutum) junctopasal
3 RUU Hukum Materil Peradilan Agama Bidang Perkawinan tahun 2007 (RUU-HM-PA-Bperkw).142
Pentingnya pencatatan perkawinan dalam pandangan pemerintah seringkali menganggap perkawinan yang tidak dicatatkan adalah tidak sah dan cenderung mengarah kepada perbuatan yang dapat dipidanakan. Pada pasal 143 RUU-HM-PA- Bperkw dinyatakan mengenai ketentuan hukum pidana bagi orang yang melakukan perkawinan yang sah sesuai Hukum Islam, tetapi tidak atau belum dicatat di Kantor Urusan Agama kecamatan, yang mana ancaman hukuman penjara paling lama (6) bulan atau hukuman denda paling banyak Rp. 6.000.000.00 (enam juta rupiah).143
Kriminalisasi yang dilakukan terhadap pelaku yang tidak mencatatkan perkawinan kelihatannya terlalu berlebihan, jika dibandingkan dengan perbuatan zina yang terdapat pada pasal 284 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang berlaku sejak tahun 1917. Ancaman hukumannya adalah hukuman penjara paling lama 9 bulan , sementara ketentuan pidana ini hanya dapat diberlakukan terhadap pasangan yang masing-masing sudah terikat perkawinan dan merupakan delik aduan.
Hal tersebut tentu akan sangat melukai perasaan umat Islam dan akan mengkebiri hukum Islam itu sendiri. Bahkan akan menimbulkan permasalahan baru bukan menyelesaikan masalah, dan akan menambah rumit permasalahan pernikahan yang tidak dicatatkan ini.
142 Neng Djubaidah, Pencatatan Perkawinan & Perkawinan Tidak Dicatat (Jakarta: Sinar
Grafika, 2010), hlm. 10.
Dalam ajaran Islam Menaati Ulul Amr ataupun penguasa adalah rukun dalam penegakan mashlahah siyasiyah (kemaslahatan politik). Mustahil dapat diwujudkan satu pemerintah yang aman dan kuat yang melaksanakan kemaslahatan rakyat tanpa ketaatan dari rakyat itu sendiri. Ini seperti halnya mustahil dapat ditegakkan keamanan tanpa keadilan daripada pemerintah yang menguruskan kehidupan negara dan rakyat. Untuk itu Allah menegaskan dalam Al-Quran, Surah An-Nisa: 58-59 yang artinya :
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu supaya menyerahkan segala jenis amanah kepada ahlinya (yang berhak menerimanya), dan apabila kamu menjalankan hukum antara manusia, (Allah menyuruh) kamu menghukum dengan adil. Sesungguhnya Allah dengan (suruhanNya) itu memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah senantiasa Mendengar, lagi senantiasa Melihat. Wahai mereka yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil Amr dari kalangan kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat dalam sesuatu maka kembalilah kepada Allah (al-Quran) dan ar-Rasul (Sunnah), jika kamu benar beriman dengan Allah dan hari akhirat. Yang demikian itu yang paling utama dan paling baik akibatnya.”
Al Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya menyebut petikan ucapan yang disandarkan kepada Ali bin Abi Thalib: “Tanggung jawab pemerintah ialah berhukum dengan adil dan menunaikan amanah. Apabila dia melakukan yang demikian, wajib atas Muslimin untuk menaatinya karena Allah memerintahkan kita menunaikan amanah dan adil, kemudian memerintah agar menaati pemerintah”.144
Maka, ketaatan kepada para pemerintah ada batasannya. Hak untuk mereka ditaati tidak sama dengan ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Ketaatan kepada
144Al Qurtubi: Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad, Al Jami’ li Ahkam Al Quran(Beirut:
Allah dan rasul-Nya adalah mutlak. Allah dan rasulNya tidak boleh dibantah. Dalam masa yang sama kita tahu segala arahan yang bersifat syariat yang datang dari keduanya adalah untuk kemaslahatan manusia.
Kadangkala ada tindakan pemerintah yang tidak disetujui oleh rakyat bawah sedangkan tindakan itu tidak munkar. Maka sekiranya tindakan itu tidak menyanggahi syara’, tidak membawa mafsadah yang nyata ataupun bukan satu kezhaliman, maka ia termasuk dalam batas-batas ijtihad pemerintah yang diizinkan syara’, dan rakyat mesti taat. Ini karena jika setiap orang mau bertindak mengikut ijtihad sendiri dalam perkara yang melibatkan kepentingan awam, tentu rusak keadaan negara dan musnah kemaslahatan umum. Dalam keadaan seperti ini, ijtihad rakyat hendaklah sesuai dengan bidang kuasa pemerintah dalam perkara yang melibatkan pengurusan kemaslahatan umum.
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sabda baginda: “Dengar dan taat (kepada pemerintah) adalah kewajiban setiap individu muslim dalam perkara yang dia suka atau benci selagi dia tidak diperintahkan dalam perkara maksiat. Apabila dia diperintahkan dalam perkara maksiat maka tiada lagi dengar dan taat.” (Riwayat Al Bukhari dan Muslim)145
Hadis di atas dengan jelas mewajibkan setiap Muslim menaati para pemerintah dalam perkara apapun, selagi tidak berbentuk maksiat kepada Allah. Bahkan di dalam hadis di atas baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
menegaskan bahawa ketaatan kepada para pemerintah mencakup perkara yang disukai atau dibenci selagi ia tidak menyalahi Allah Swt.
Terkait dengan adanya itsbat nikah yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk memperjelas keabsahan perkawinan yang tidak dicatatkan merupakan suatu kebijaksanaan yang mendatangkan mashlahat bagi umat Islam. Dimana dengan adanya itsbat nikah selanjutnya dapat menjadi dasar hukum seperti pengajuan perceraian ke Pengadilan, pembagian harta bersama, pembagian warisan, status anak- anak dan sebagainya.
Dari penjelasan di atas dalam hal ini dapat berakibat kurangnya respon masyarakat terhadap pencatatan perkawinan, karena kalaupun ada persoalan di belakang hari yang terkait dengan akibat hukum perkawinan mereka masih bisa diselesaikan melalui Pengadilan Agama kendatipun telah diatur terhadap keadaan yang boleh diajukanitsbat nikah(penetapan nikahnya).
Untuk menjawab pemasalahan banyaknya perkawinan yang tidak dicatatkan maka pemerintah sudah memberikan solusi dengan mengajukan permohonan itsbat nikah ke Pengadilan Agama yang sesuai dengan wilayah hukum masing-masing. 2. Hak dan kewajiban suami istri.
Perkawinan ialah perjanjian suci membentuk keluarga antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Dimana juga perkawinan merupakan suatu peristiwa yang penting dalam kehidupan bersama antara sesama manusia yang berlainan jenis untuk mewujudkan kesatuan rumah tangga dalam kehidupan suami istri.
Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan sejahtera berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa. Bangsa Indonesia sebagai negara yang telah merdeka dan berdaulat penuh, menciptakan suatu sistem hukum nasional yang berorientasi dan berkiblat pada Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945.
Kehadiran Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, maka kedudukan suami-isteri lebih diperhatikan terutama dalam hak dan kewajiban yang seimbang. Apabila seorang perempuan dan seorang laki-laki sepakat untuk melakukan perkawinan satu sama lain ini berarti mereka saling berjanji akan taat pada peraturan-peraturan hukum yang berlaku mengenai kewajiban dan hak-hak masing-masing pihak selama dan sesudah hidup bersama itu berlangsung, dan mengenai kedudukannya dalam masyarakat dari anak-anak keturunannya.
Kalau seorang perempuan dan seorang laki-laki berkata sepakat untuk melakukan perkawinan satu sama lain ini berarti mereka saling berjanji akan taat pada peraturan-peraturan hukum yang berlaku mengenai kewajiban dan hak-hak masing-masing pihak selama dan sesudah hidup bersama itu berlangsung, dan mengenai kedudukannya dalam masyarakat dari anak-anak keturunannya. Juga dalam menghentikan perkawinan, suami dan isteri tidak leluasa penuh untuk menentukan sendiri syarat-syarat untuk penghentian itu, melainkan terikat juga pada peraturan hukum perihal itu.146
146 Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perkawinan di Indonesia (Bandung: Sumur Bandung,
Dengan demikian, dalam perkawinan harus ada persamaan cita-cita yang tinggi yang diilhami oleh keyakinan batin sebagai dasar susila. Unsur-unsur agama yang penuh dengan nilai-nilai rohani dan kejiwaan banyak berguna bagi landasan pendirian serta tujuan hidup mereka.147
Bagi umat Islam di Indonesia selain berlakunya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan maka diberlakukan juga Kompilasi Hukum Islam sebagai sumber hukum materil yang mengatur perkawinan.
Menurut Hukum Adat pada umumnya di Indonesia perkawinan itu bukan saja berarti sebagai “perikatan perdata”, tetapi juga “perikatan adat” dan sekaligus merupakan perikatan kekerabatan dan ketetanggaan.148
Jadi terjadinya suatu ikatan perkawinan bukan semata-mata membawa akibat terhadap hubungan-hubungan keperdataan, seperti hak dan kewajiban suami-istri, harta bersama, kedudukan anak, hak dan kewajiban orang tua, tetapi juga menyangkut hubungan-hubungan adat istiadat kewarisan, kekeluargaan dan ketetanggaan serta menyangkut upacara-upacara adat dan keagamaan.
Ter Haar menyatakan sebagaimana dikutip oleh Hadikusuma bahwa “perkawinan itu adalah urusan kerabat, urusan keluarga, urusan masyarakat, urusan martabat dan urusan pribadi dan begitu pula menyangkut urusan keagamaan”. Juga menurut Van Vollenhoven yang juga dikutip oleh Hadikusuma, bahwa dalam hukum
147Napoleon Hill,Pedoman Dalam Perkawinan(Bandung: Indah Jaya,1982), hlm. 19. 148 H. Hilman Hadikusuma,Hukum Perkawinan Indonesia (Bandung: Mandar Maju, 2003),
adat banyak lembaga-lembaga hukum dan kaidah-kaidah hukum yang berhubungan dengan tatanan dunia di luar dan di atas kemampuan manusia.149
Akad adalah salah satu rukun perkawinan dalam Islam, setelah diucapkannya akad maka perkawinan tersebut dinyatakan sah yang kemudian menimbulkan hak dan kewajiban dalam menjalankan kehidupan berumah tangga. Hak dan kewajiban tersebut diatur dan dilindungi oleh peraturan agama, adat dan peraturan perundang- undangan.
Selain daripada itu Muhammad Baqir al-Habsyi menyatakan bahwa dengan adanya perkawinan maka antara suami istri berlaku hukum pewarisan segera setelah adanya akad nikah.150 Apabila perkawinan tersebut sudah sempurna dengan memenuhi rukun dan syarat perkawinan walaupun antara suami dan istri belum melakukan hubungan seksual namun salah satu diantara keduanya meninggal dunia maka yang masih hidup merupakan ahli waris dan berhak untuk memperoleh bagian yang sesuai dengan porsinya dalam hukum waris.151
Adapun mengenai hak dan kewajiban suami istri dapat kita lihat dalam pasal 30 UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 yang berbunyi sebagai berikut : “Suami - isteri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat”.
149
Ibid,hlm.9.
150Muhammad Baqir al-Habsyi,Fiqih Praktis, Menurut al-Qur’an, As Sunnah dan Pendapat
Para Ulama( Bandung: mizan, 2002), hlm.128.
Hak dan kewajiban antara suami-istri adalah hak dan kewajiban yang timbul karena adanya perkawinan antara mereka. Hak dan kewajiban suami istri diatur dalam pasal 30 sampai dengan pasal 34 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 serta pasal 77 sampai dengan pasal 84 Kompilasi Hukum Islam. Pada dasarnya antara Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 dengan Kompilasi Hukum Islam saling mendukung satu sama lain.
Dengan adanya perkawinan suami isteri itu di letakkan suatu kewajiban secara timbal balik, dimana laki-laki sebagai suami memperoleh hak-hak tertentu beserta dengan kewajibannya, begitu sebaliknya perempuan sebagai isteri memperoleh hak- hak tertentu beserta dengan kewajibannya.
Suami dan isteri itu mempunyai kewajiban untuk saling setia tolong menolong dan bantu membantu untuk kelancaran serta jalannya bahtera rumah tangga yang mereka bina. Hak yang diperoleh suami seimbang dengan kewajiban yang dipikul dipundaknya, demikian juga hak yang diperoleh isteri seimbang dengan kewajiban yang dipikul dipundaknya, demikian juga hak yang diperoleh isteri seimbang dengan kewajiban yang dipikulnya. Adanya hak suami dan isteri untuk mempergunakan haknya adalah kewajibannya dan dilarang untuk menyalahgunakan haknya.
Mengenai hak-hak suami isteri, pasal 31 dalam Undang-Undang Perkawinan mengatakan adalah sebagai berikut :
(1) Hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat. (2) Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum.
(3) Suami adalah kepala keluarga dan isteri adalah ibu rumah tangga.
Kedudukan isteri adalah seimbang dengan kedudukan suami dalam lingkungan kehidupan keluarga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat dimana masing-masing berhak untuk melakukan perbuatan hukum.
Suami adalah kepala rumah tangga dan isteri adalah ibu rumah tangga, suami isteri mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam beberapa hal, hanya kelebihan suami atas isteri adalah hak untuk memimpin dan mengatur keluarga. Karena suami adalah kepala rumah tangga, maka ia bertanggung jawab terhadap keselamatan keluarganya dan kesejahteraan dari pada rumah tangga.
Oleh Karena itu isteri harus patuh kepada suami, mencintai suami dengan sepenuh jiwa, isteri wajib mengakui bahwa suami adalah pemimpin dalam rumah tangga tangganya oleh sebab itu isteri harus menghormatinya, dalam hal Isteri mematuhi suami haruslah berdasarkan cara dan tujuan yang baik dan Isteri adalah sebagai ibu rumah tangga maka tugas utama adalah melayani suami dan mengatur kebutuhan hidup sehari-hari, karena isteri adalah pengemudi dan pengendali belanja sehari-hari.
Adapun kewajiban-kewajiban suami isteri terdapat dalam pasal 34 Undang- Undang Perkawinan No.1 tahun1974 yang menentukan :
(1)Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan berumah tangga sesuai dengan kemampuannya.
(2)Isteri wajib mengatur rumah tangga sebaik-baiknya.
(3)Jika suami atau isteri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada pengadilan.
Adapun maksud dari pasal 34 ayat 1 ini tampaknya suamilah yang membiayai kehidupan rumah tangga dan wajib memberi nafkah kepada isteri. Tapi dalam hal ini ada pengecualian, yaitu didalam suami memberikan keperluan untuk rumah tangganya harus sesuai dengan kemampuannya. Adapun maksud dengan kata kemampuannya berarti menurut keadaan suami jadi besarnya nafkah yang akan diberikan tergantung dari kekayaan suami, apabila suami itu kaya maka didalam memberikan segala sesuatu harus sesuai dengan kekayaannya. Begitu juga didalam suami memberikan tempat tinggal untuk isterinya, dalam hal ini suami harus memberikan tempat tinggal yang pantas dan sesuai dengan kemampuannya.
Seandainya rumah tempat tinggal merupakan tempat tidak layak, maka isteri berhak menentukan tempat tinggal mereka, karena sesuai dengan pasal 32 UU Perkawinan No.1 tahun 1974 dalam ayat (1) dan ayat (2) menyatakan bahwa :
(1)Suami isteri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap.
(2)Rumah tempat tinggal yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini ditentukan oleh suami isteri secara bersama.
Jadi suami harus mempunyai tempat tinggal tetap, dan didalam menentukan tempat tinggal harus ditentukan oleh suami isteri.
Suami diwajibkan melindungi isterinya artinya suami bertanggung jawab atas keselamatan jiwa raga isterinya, suami wajib membimbing dan memimpin isterinya secara baik, menjaga jangan sampai isterinya menyeleweng dari tujuan perkawinan itu, dan suami menjaga martabat dan harkat isterinya dimata masyarakat.
Jadi didalam hal suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya, karena ini sesuai dengan tujuan perkawinan itu ialah untuk membina suatu rumah tangga yang bahagia diliputi oleh suasana kasih sayang.
Adapun maksud dari pada pasal 34 ayat 2, yaitu adalah isteri wajib mengatur rumah tangga sebaik baiknya, karena isteri merencanakan dan melaksanakan segala sesuatu yang dibutuhkan di dalam rumah tangga. Isteri harus mempunyai kecakapan dan keahlian dalam mendidik anak-anak, agar supaya anak-anak menjadi harapan Nusa dan Bangsa. Adapun isteri yang bijaksana adalah yang ikut berpartisipasi dalam pembinaan rumah tangga yang sejahtera dan bahagia
Undang-Undang memperkuat apa yang merupakan hal yang sepatutnya menjadi kewajiban suami isteri. Suami yang lalai memberikan hal-hal yang perlu kepada isterinya, itu dapat dipaksakan dengan melalui pengadilan. Isteri yang meninggalkan rumah tanpa alasan-alasan yang sah, maka ia kehilangan hak untuk pemberian nafkah. Jika suami/isteri melalaikan kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugatan.
Kompilasi Hukum Islam juga mengatur mengenai hak dan kewajiban suami istri, yang mana pasal 77-79 secara eksplisit sama dengan ketentuan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974. Sedangkan kewajiban suami terdapat pada pasal 80 Kompilasi Hukum Islam yang berbunyi sebagai berikut :
(1)Suami adalah pembimbing terhadap istri dan rumah tangganya, akan tetapi mengenai hal-hal urusan rumah tangga yang penting-penting diputuskan oleh suami istri bersama.
(2)Suami melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya.
(3)Suami wajib memberikan pendidikan agama kepada istrinya dan memberi kesempatan belajar pengetahuan yang berguna dan bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa.
(4)Sesuai dengan penghasilannya, suami menanggung : a. Nafkah, kiswah dan kediaman bagi istri.
b. Biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi istri dan anak.