• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tata Cara Pengajuan Perkara Itsbat Nikah Di Pengadilan

BAB II ITSBAT NIKAH PADA PENGADILAN AGAMA

B. Tata Cara Pengajuan Perkara Itsbat Nikah Di Pengadilan

nasional yang baik dalam bidang ke pidanaan maupun dalam bidang keperdataan, mencerminkan kepribadian jiwa dan pandangan hidup bangsanya.68

Di Indonesia berlaku tiga sistim hukum yaitu hukum adat, hukum Islam dan hukum barat, dengan segala perangkat dan persyaratan siapa saja dan dalam aspek dan esensi apa saja yang harus mematuhi hukum dari ketiga sistim hukum tersebut.69

68 C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum Dan Hukum Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka,

2000), hlm. 80.

Hukum adalah sekumpulan peraturan yang berisi perintah dan larangan yang dibuat oleh pihak yang berwenang sehingga dapat dipaksakan pemberlakuannya berfungsi untuk mengatur masyarakat demi terciptanya ketertiban disertai dengan sanksi bagi pelanggarnya.

Mochtar Kusumaatmadja mengatakan bahawa pengertian hukum yang memadai harus tidak hanya memandang hukum itu sebagai suatu perangkat kaidah dan asas-asas yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat, tapi harus pula mencakup lembaga (institusi) dan proses yang diperlukan untuk mewujudkan hukum itu dalam kenyataan.70

Roscoe Pound mengemukakan bahwa Hukum diartikan sebagai tata hukum dan kumpulan dasar-dasar kewenangan dari putusan-putusan pengadilan dan tindakan administrasi.71

Masyarakat dengan hukum tidak mungkin dipisahkan sehingga muncul sebuah adagium “Ibi Societas Ibi Ius”, dalam bahasa Inggiris disebut “where there is society, there is law” yang berarti dimana ada masyarakat disitu ada hukum. Ungkapan ini tercatat pertama kali diperkenalkan oleh Marcus Tullius Cicero (106-43 SM),72 seorang filsuf ahli hukum dan ahli hukum kelahiran roma, Adagium ini mengungkapkan konsep filosofi Cicero yang menyatakan bahwa hukum tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Kedamaian dan keadilan dari masyarakat hanya bisa

70C.S.T. Kansil,Op.cit,hlm. 73. 71 Ibid.

dicapai apabila tatanan hukum telah terbukti mendatangkan keadilan dan dapat berfungsi dengan efektif.73

Ketertiban adalah tujuan pokok dan pertama dari segala hukum. Kebutuhan terhadap ketertiban ini, syarat pokok (fundamental) bagi adanya suatu masyarakat manusia yang teratur.74

Ketertiban merupakan suatu fakta objektif yang dibutuhkan dan berlaku bagi segala golongan manusia dalam segala bentuk aktifitasnya. Maka dengan demikian manusia, masyarakat dan hukum merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Disamping ketertiban, tujuan lain dari hukum adalah tercapainya keadilan yang berbeda-beda isi dan ukurannya, menurut masyarakat dan zamannya. Untuk mencapai ketertiban dalam masyarakat ini, diperlukan adanya kepastian dalam pergaulan manusia dalam masyarakat. Kepastian hukum disebut juga dengan istilah principle of legal security dan rechtszekerheid. Kepastian hukum adalah perangkat hukum suatu negara yang mampu menjamin hak dan kewajiban setiap warga negara. Kepastian hukum (rechtszekerheid) juga diartikan dengan jaminan bagi anggota masyarakat, bahwa semuanya akan diperlakukan oleh negara/penguasa berdasarkan peraturan hukum, tidak dengan sewenang-wenang.

73 A. Qodri Azizi,Op.cit,hlm. 100.

74 Mochtar Kusumaatmadja,Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan(Bandung:

Dalam perkembangan hak azasi manusia yang dikenal dengan fundamental rightsterdapat moral rightsdanlegal rights.75Setiap individu memiliki hak terhadap hukum dan dijamin oleh UUD 1945 sesuai dengan pasal 27 ayat (1) yang menyatakan bahwa : “Segala waga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada pengecualinya.” Kemudian pada pasal 28D ayat (1) menegaskan kembali :”Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.”

Pembicaraan mengenai hukum, ada konsep hak (rights) dan kewajiban (duties) yang tidak dapat dilepaskan. Kedua hal ini sangat penting dalam operasinya hukum di tengah-tengah masyarakat.76

Hak adalah izin dan wewenang yang diberikan oleh hukum terhadap setiap subyek hukum. Hak itu dapat dibedakan antara lain :77

1. Hak mutlak (hak absolut)

Hak mutlak ialah hak yang memberikan wewenang kepada seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan, hak mana dapat dipertahankan terhadap siapapun juga, sebaiknya setiap orang juga harus menghormati hak tersebut. Hak dibagi dalam 3 (tiga) golongan :

75

A. Masyhur Effendi, HAM Dalam Dimensi Dinamika, Yuridis, Sosial, Politik (Bogor: Ghalia Indonesia,2007), hlm. 10.

76C.S.T. Kansil,Loc.cit,Kansil, hlm.87. 77A. Masyhur Effendi,Op.cit,hlm. 57-58.

a. Hak asasi manusia, misalnya hak seseorang untuk dengan bebas bergerak dan tinggal dalam suatu negara.

b. Hak publik mutlak, misalnya hak negara untuk memungut pajak dari rakyat. c. Hak Keperdataan, misalnya : hak marital, yaitu hak seorang suami untuk

menguasai istrinya dan harta benda istrinya, hak/kekuasan orang tua (ouderlijke macht), hak perwalian (voogdij) & hak pengampuan (curatele). 2. Hak nisbi (hak relatif)

Hak nisbi ialah hak yang memberikan wewenang kepada seorang tertentu atau beberapa orang tertentu untuk menuntut agar supaya seseorang atau beberapa orang lain tertentu memberikan sesuatu, melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.

Hak nisbi sebagian besar terdapat dalam hukum perikatan yang timbul berdasarkan persetujuan-persetujuan dari pihak-pihak yang bersangkutan. Contoh dari persetujuan jual beli terdapat hak nisbi/ralatif seperti : hak penjual untuk menerima pembayaran dan kewajibannya untuk menyerahkan barang kepada pembeli.

Kewajiban adalah suatu beban yang ditanggung oleh seseorang yang bersifat kontraktual (asas pact sunt servanda). Hak dan kewajiban itu timbul apabila terjadi hubungan antara dua pihak yang berdasarkan pada suatu kontrak atau perjanjian. Jadi selama hubungan hukum yang lahir dari perjanjian itu belum berakhir, maka pada

salah satu pihak ada beban kontraktual, ada keharusan atau kewajiban untuk memenuhinya.78

Kewajiban tidak selalu muncul sebagai akibat adanya kontrak, melainkan dapat pula muncul dari peraturan hukum yang ditentukan oleh lembaga yang berwenang. Kewajiban disini merupakan keharusan untuk mentaati hukum yang disebut wajib hukum (rechtsplicht) misalnya mempunyai sepeda motor wajib membayar pajak sepeda motor.

Dalam penerapannya hukum memerlukan suatu kekuasaan untuk mendukungnya, sehingga ada slogan yang berbunyi “hukum tanpa kekuasaan adalah angan-angan, kekuasaan tanpa hukum adalah kezaliman”. Kekuasaan diperlukan oleh karena hukum bersifat memaksa. Tanpa adanya kekuasaan maka pelaksanaan hukum di dalam masyarakat akan mengalami hambatan-hambatan. Semakin tertib suatu masyarakat maka peranan kekuasaan semakin berkurang, masyarakat seperti ini disebut masyarakat yang memiliki kesadaran hukum yang tinggi. Indonesia sendiri adalah negara hukum, hal ini ditegaskan di dalam UUD 1945 pada pasal 1 ayat (3) : “Indonesia adalah negara hukum”.

Ketatanegaraan di Indonesia menganut ajaran trias politica dari Montesquien yang membagi kekuasaan negara menjadi tiga bagian yaitu :

a. Badan Legislatif yaitu badan yang berwenang membentuk undang-undang. b. Badan Eksekutif yaitu bertugas melaksanakan undang-undang.

c. Badan Yudikatif yaitu bertugas mengawasi pelaksanaan undang-undang, memeriksa dan mengadilinya.

Pelaksanaan ketatanegaraan Republik Indonesia diserahkan kepada lembaga- lembaga negara yang terdiri dari :

1. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). 2. Presiden.

3. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPD) 5. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). 6. Mahkamah Agung (MA).

7. Mahkamah Konstitusi (MK).

Menurut pasal 24 ayat (1), (2) dan (3) serta pasal 24A ayat (1) Undang- Undang Dasar 1945 , Dalam hal ini Mahkamah Agung merupakan Lembaga negara yang melakukan kekuasaan kehakiman yang merdeka, yaitu kekuasaan yang menyelenggarakan peradilan untuk menegakkan hukum dan keadilan, berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peaturan perundang-undangan di bawah Undang-undang dan wewenang lain yang diberikan Undang-undang.di bawahnya terdapat badan-badan peradilan dalam lingkungan Peradilan Umum, lingkungan Peradilan Agama, lingkungan Peradilan militer dan lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN), badan-badan lain yang yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan

kehakiman diatur dalam Undang-undang seperti : Kejaksaan, Kepolisian, Advokat/Pengacara dan lain-lain.

Hadir dan diakuinya Peradilan Agama di lingkungan pengadilan Indonesia merupakan suatu hal yang menggembirakan bagi umat Islam. Walaupun masih bercampur dengan hukum perdata khususnya dalam bidang hukum formil/acaranya. Sedangkan untuk hukum materilnya memakai Kompilasi Hukum Islam dengan Inpres Nomor 1 Tahun 1991 dan kitab-kitab fiqih yang ada. Jika kita melihat hirarki perundang-undangan di Indonesia Pasal 7 UU No. 12 Tahun 2011 tentang pembentukan peraturan Perundang-undangan menyatakan bahwa jenis dan hirarki peraturan perundang-undangan terdiri atas:

1. UUD 1945 2. Ketetapan MPR 3. UU/Perppu

4. Peraturan Pemerintah 5. Peraturan Presiden

6. Peraturan Daerah Propinsi

7. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota

Dengan demikian keberadaan Inpres perlu diperhatikan supaya ditingkatkan menjadi sebuah undang-undang. Pertimbangannya adalah bahwa jika kita tinjau hirarki perundang-undangan di atas maka terdapat perubahan formasi dimana Instruksi Presiden (Inpres) tidak ditemukan maka dari segi legalisasi/kekuatan hukum

Inpres tersebut cukup mengkhawatirkan. Sementara itu hakim di pengadilan agama masih menjadikan Kompilasi Hukum Islam sebagai salah satu dasar rujukan untuk memutuskan perkara-perkara yang berkaitan dengan umat Islam.

Istilah Kompilasi diambil dari bahasa latincompilatioyang berarti “kumpulan yang terdiri dari kutipan-kutipan buku-buku lain”. 79 Istilah ini kemudian dikembangkan dalam bahasa Inggris menjadi compilation yang artinya “ Kumpulan atau Himpunan”. 80 Atau dalam bahasa Belanda menjadi compilatie yang artinya kutipan, pengutipan, kompilasi. Kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi Kompilasi.81

Menurut kamus besar bahasa Indonesia kompilasi berarti “kumpulan yang tersusun secara teratur (tentang daftar informasi, karangan dan sebagainya).”82 Adapun sebagai istilah hukum kompilasi adalah tidak lain sebuah buku hukum atau buku kumpulan yang memuat uraian atau bahan-bahan hukun tertentu, pendapat hukum atau juga aturan hukum. 83Dengan demikian baik kebahasaan ataupun istilah kompilasi dapat diartikan secara sama dan mencapai titik temu sebuah buku hukum atau kumpulan bahan-bahan hukum tertentu yang tersusun secara teratur.

Kemudian istilah kompilasi ini dipergunakan dalam usaha besar untuk menghimpun Yurisprudensi Hukum Islam di Indonesia. Hukum Islam yang semula

79K. Prent. C,Kamus Latin Indonesia(Semarang: Jajaran Kanisius, 1969), hlm.160. 80E. Pino,Kamus Inggris - Indonesia(Jakarta: PT. Pratnya Paramitha, 1980), hlm. 79. 81Sudjito Danusaputro,Kamus Belanda-Indonesia dan Indonesia-Belanda(Den Haag:G.B.

Van Goor Zonen’s Uitgeversmaatschappij N.V, 1996), hlm. 60.

82

Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan,kamus Besar Bahasa Indonesia(Jakarta: Balai Pustaka), hlm. 156.

83Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia(Jakarta: C.V. Akademika Pressindo,

masih tersebar dalam karya-karya fiqh klasik, fatwa-fatwa ulama dan sebagainya. Kemudian dikompilasikan dalam sebuah buku hukum yang disebut dengan Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Hukum Islam dalam makna fiqh Islam adalah hukum yang bersumber dan disalurkan dari hukum syari’at Islam yang terdapat dlam Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad Saw. Kemudian dikembangkan melalui Ij’tihad oleh para ulama atau ahli fiqh Islam (hukum Islam) yang memenuhi syarat untuk berij’tihad dengan cara-cara yang telah ditetapkan.84

Membicarakan hukum Islam di Indonesia, dapat dilihat mengenai kedudukan hukum Islam itu sendiri dijajaran perundang-undangan di Indonesia. Sesuai dengan hirarki perundang-undangan yang ada maka Kompilasi Hukum Islam yang terbentuk atas Inpres No. 1 Tahun 1991 tidak memiliki kedudukan yang signifikan. Padahal hukum Islam itu telah hidup dan berkembang yang merupakanliving law bagi umat Islam di Indonesia sebelum dan sesudah Indonesia merdeka. Hukum Islam merupakan bahan dalam pembinaan hukum nasional.

Hukum dan Agama tidak dapat dipisahkan, hukum yang mempunyai nilai ketuhanan. Hukum yang tidak mempunyai nilai ketuhanan hanya terdapat dinegara sekuler, yaitu terdapat pemisahan yang ketat antara negara (state) dan agama (religion).85

84Moh. Daud Ali,Asas-Asas Hukum Islam(Jakarta: Rajawali Press,1990), hlm. 190.

85Mohammad Daud Ali,Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum Dan Tata Hukum Islam Di

Indonesia bukanlah negara sekuler, masyarakatnya memiliki agama dan nilai- nilai agama tersebut hidup di tengah-tengah masyarakatnya. UUD 1945 menegaskan dan bahkan melindungi agama-agama serta pemeluk-pemeluknya seperti yang terdapat pada pasal 29 ayat (1) dan ayat (2) yang berbunyi : “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa”. Serta “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”

Menurut Weiss saling menyatunya antara hukum dan teologi telah dilihat sebagai sesuatu yang apa adanya, bukan ditumbuhkan, tetapi dipulihkan.86 Hukum dan agama dalam praktek lembaga peradilan dan dalam kehidupan lebih luas lagi tidak dapat dipisahkan. Dalam kehidupan umat Islam adat kebiasaan pasti mengandung nilai-nilai Islam sebagai hukum positif. Akan tetapi penegakan hukumnya (law enforcement) terhadap pelanggaran hukum diperlukan alat negara untuk menjalankannya.

Praktek peradilan agama telah ada sebelum Indonesia merdeka bahkan sebelum datangnya Belanda ke Indonesia. Perkembangan peradilan agama seiring dengan perkembangan kesadaran pada waktu itu, kemudian dalam perkembangan selanjutnya hukum memperoleh tempat dalam kerajaan-kerajaan Islam, seperti kerajaan di Aceh, Banten, Mataram, Demak dan sebagainya. Hal ini dapat dimaklumi

karena jabatan Qadhi (hakim) menurut syari’at Islam, merupakan Fardhu Kifayah dalam pelaksanaan syariat Islam.87

Dalam suatu kelompok masyarakat, jabatan hakim dapat dilakukan dengan cara “tahkim” yakni menunjuk seorang hakim jika mereka berselisih pendapat dan dapat pula dengan cara bai’at oleh Ahlul Hilli wal aqdi yaitu pengangkatan atas seorang untuk menjadi hakim, pengadilan tersebut dialakukan oleh majelis orang-orang terkemuka dalam masyarakat, dapat juga dilaksanakan dengan “tauliyah”, yaitu pemberian kuasa dari sultan atau kepala negara kepada seseorang untuk melaksanakan tugas sebagai hakim.88

Sebagai konsekwensi pluralitas hukum yang berlaku dan sekaligus diakui di Indonesia, sejak masa pemerintahan kolonial Belanda telah diikuti sekaligus telah didirikan lembaga peradilan agama. Dalam sejarahnya, jenis peradilan ini merupakan kelanjutan dari “peradilan serambi” pada masa kerajaan Islam sebelum penjajahan. Kelembagaan tersebut sebagai realitas pelaksanaan hukum Islam secara formal yang diakui dalam sistim hukum negara.89

Sejarah singkat peradilan agama dimulai pada tahun 1882, dimana perintah Belanda membentuk Pengadilan Agama di Jawa dan Madura atas dasar Stb. 1882 NO. 152, JO. Stb. 1937 No. 116 dan 610. Stb. 1882 No. 152 yang dinyatakan berlaku mulai tanggal 1 Agustus 1882 berisi 7 pasal sebagai berikut :90

87M. Hasballah Thaib, Hukum Islam Di Indonesia (Medan: Sekolah Pasca Sarjana Ilmu

Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, 2006), hlm. 33.

88Ibid.

89A. Qodri Azizi,Op.cit,hlm. 136. 90M. Hasballah Thaib, Op.cit, hlm. 35-36

1. Pada tempat yang ada Landraad (Pengadilan Negeri) di tanah Jawa dan Madura disitu didirikan Raad (pengadilan) Agama yang mempunyai daerah hukum yang sama.

2. Pengadilan Agama terdiri atas seorang Peghulu yang diangkat bagi para Landraad sebagai ketua dan sekurang-kurangnya tiga orang dan sebanyak- banyaknya delapan orang ulama Islam sebagai anggota.Mereka diangkat dan diberhentikan oleh Residen, yakni di Tanah Gubernemen di tanah Jawa dan Madura dan oleh Gubernur di Gubernemen Surakarta dan Yogyakarta.

3. Pengadilan Agama baru boleh mengambil keputusan jika banyaknya anggota yang bersidang sekurang-kurangnya tiga orang, termasuk ketuanya, dan dalam keadaan pertimbangan suasana, maka suara ketua yang menentukan.

4. Keputusan Pengadilan harus dinyatakan dalam surat yang memuat pertimbangan-pertimbangan dan alasan-alasan secara singkat serta ditandatangani oleh anggota-anggota yang turut bersidang, begitu juga dicatat biaya perkara yang dibebankan kepada yang berperkara dan keterangan dari tiap-tiap pihak dan saksi.

5. (1) Orang yang berkepentingan haruslah diberikan salinan surat keputusan yang lengkap dan ditandatangani oleh Ketua. Kecuali kalau salinan keputusan itu tidak mungkin diberikan sebelum lewat sebulan sesudah keputusan itu, sebab orang yang berkepentingan itu tidak dapat dicari menurut surat keterangan seorang Kepala Polisi di tempat kediamannya maka keputusan itu diberitahukan dengan jalan menempelkan surat pengumuman di tempat rapat

Pengadilan Agama. (2) Dibagian sebelah atas tiap-tiap salinan diterangkan, bahwa keputusan itu dapat dimintakan banding pada Ketua Pengadilan Agama dan diterangkan dalam juga lamanya waktu keputusan itu masih dapat minta banding. (3) Tanggal memberikan salinan itu atau tanggal menempelkan surat pengumuman itu dicatat dalam daftar yang disebut dalam pasal 6.

6. Keputusan Pengadilan Agama harus dimuat dalam suatu register yang setiap tiga bulan sekali harus disampaikan kepada kepala daerah setempat (Bupati atau lainnya) untuk memperoleh penyaksian (visum) daripadanya.

7. Keputusan-keputusan Pengadilan Agama yang melampau batas kekuasannya atau tidak memenuhi ketentuan ayat 2, 3 dan 4 di atas dapat dinyatakan tidak berlaku.

Dalam pasal-pasal tersebut tidak ditentukan kekuasaan atau wewenang Pengadilan Agama. Oleh karena itu, wewenang Pengadilan Agama mengacu kepada ketentuan yang lebih awal yaitu Stb. 1835 No. 58, meskipun ketentuan lebih awal ini belum mengatur keberadaan Pengadilan Agama. Dengan demikian Pengadilan Agama berhak memeriksa perkara yang sejak dahulu diserahkan kepadanya atau Pengadilan Agama menetapkan sendiri yang dipandang masuk kekuasannya, yang pada umumnya ialah perkara-perkara yang ada hubungannya dengan nikah, talak, ruju’ dan segala jenis yang ada hubungannya dengan nikah, perwalian, warisan dan wakaf dan segala yang dipandang erat hubungannya dengan agama Islam.

Kewenangan yang diberikan oleh Stb. 1835 No. 58 demikian luas meliputi wakaf , hibah, warisan dan lainnya diputuskan berdasarkan hukum Islam, inilah yang kemudian dikenal denganreceptio in complexu.

Melihat perkembangan hukum Islam melalui Pengadilan Agama tersebut menyebabkan pemerintah kolonial Belanda membatasi wewenang Pengadilan Agama dengan dikeluarkannya Stb. 1937 No. 116, sebagai revisi Stb. 1882 No. 152 berupa pasal 2a yang terdiri dari 5 ayat. Pasal 2a ayat (1) berbunyi sebagai berikut :

Raad Agama semata-mata berwenang untuk memeriksa perselisihan antara suami istri yang beragama Islam dan perkara-perkara lain yang berkenaan dengan nikah, talak, ruju’, dan perceraian antara orang Islam yang semestinya diperikasa oleh hakim agama, demikian juga memutuskan perkara perceraian dan mempersaksikan bahwa syarat ta’lik sudah berlaku. Dalam perselisihan dan perkara ini pun segala tuntutan penyerahan benda-benda atau barang- barang yang sudah ditentukan harus diperiksa oleh hakim biasa, kecuali tentang tuntutan pembayaran maskawin (mahar) dan tuntutan nafkah perempuan, yang harus diputuskan oleh Pengadilan Agama sama sekali.91 Tokoh Islam tidak dapat menerima keputusan pemerintah Belanda dan menolak Stb. 1937 No. 116. Akan tetapi protes tokoh Islam ini tidak ditanggapai oleh pemerintah kolonial Belanda akan tetapi justru mengeluarkan Stb. 1937 No. 610 yang intinya mendirikan Mahkamah Islam Tinggi sebagai lembaga banding dalam Peradilan Agama. Sedangkan wewenang Peradilan Agama tetap berlandaskan Stb.1937 No. 116. Wewenang Peradilan Agama hanya terbatas pada nikah, talak, cerai dan ruju’ (NTCR).92

91Djamil Latif, Kedudukan dan Kekuasaan Peradilan Agama Di Indonesia(Jakarta: Bulan

Bintang, 1983), hlm. 16.

Selanjutnya pemerintah kolonial Belanda mendirikan lembaga peradilan Agama di Kalimantan Selatan dan Timur. Tepatnya di Banjarmasin, Martapura, Kandangan, Barabai, Amuntai dan Tanjung. Pembentukan ini didasarkan kepada Stb. 1937 No. 638 jo. No. 639, yang terdiri dari 19 pasal. Lembaga ini diberi nama Kerapatan Qadi untuk pengadilan tingkat pertama dan Kerapatan Qadi Besar untuk pengadilan tingkat banding. Wewenangnya tidak berbeda dengan pengadilan Agama di Jawa dan madura.93

Setelah Indonesia merdeka, maka lahirlah Undang-undang No. 22 tahun 1946 tentang pencatatan Nikah, Talak dan Ruju’ yang berlaku hanya untuk wilayah Jawa dan Madura. Selanjutnya diubah dengan Undang-undang No. 32 Tahun 1954 yang berlaku diseluruh wilayah Indonesia. Kemudian lahir Peraturan Pemerintah (PP) No. 45 tahun 1957 yang merupakan unifikasi pembentukan Pengadilan Agama diwilayah selain Jawa dan Madura, kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan sedangkan tekhnis pendirian Pengadilan Agama dilakukan dengan Keputusan Menteri Agama.

Kemudian disusul dengan lahirnya Undang-undang No. 14 Tahun 1970 Tentang Pokok-pokok Kekuasaan Kehakiman, walaupun undang-undang ini tidak menyebutkan kekuasan Pengadilan Agama namun memberi kekuatan hukum kedudukan Pengadilan Agama dilingkungan pengadilan lainnya.

Lahirnya Undang-undang No. 1 Tahun 1974 dan Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 semakin memperkuat kedudukan Pengadilan Agama, hal tersebut dapat

dilihat di dalam pasal 2 ayat (1) disebutkan :” Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu”.

Titik kulminasi kedudukan Pengadilan Agama terjadi ketika lahirnya Undang- undang No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama (UUPA) karena terjadi perubahan yang fundamental dari segi kelembagaan dan segi kekuasaan (wewenang). Pada pasal 49 :

(1) Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara-perkara ditingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang:

a. Perkawinan;

b. Kewarisan, wasiat, dan hibah, yang dilakukan berdsarkan hukum Islam; c. Wakafdanshadaqah.

(2) Bidang perkawinan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) huruf a ialah hal-hal yang diatur dalam atau berdasarkan undang-undang mengenai perkawinan yang berlaku.

(3) Bidang kewarisan sebagaiman ayang dimaksud dalam ayat (1) huruf b ialah penentuan siapa-siapa yang menjadi ahli waris, penentuan mengenai harta peninggalan, penentuan bagian masing-masing ahli waris, dan melaksanakan pembagian harta peninggalan tersebut.

Pasal 52 ayat (2) : ”Selain tugas dan kewenangan sebagai mana yang dimaksud dalam pasal 49 dan 51, pengadilan dapat diserahi tugas dan kewenangan lain oleh atau berdasarkan Undang-undang “.

Kehadiran dan berlakunya UUPA ini semakin diperkuat dengan lahirnya Kompilasi Hukum Islam (KHI) pada tahun 1991. KHI merupakan fikih dalam bahasa undang-undang yang mencakup Bab, Pasal, dan Ayat. Ditinjau dari isinya cukup terperinci yang mencakup persoalan-persoalan yang berkaitan dengan perkawinan, kewarisan, dan perwakafan..

Peradilan Agama adalah peradilan bagi orang-orang yang beragama Islam, kemudian Pengadilan Agama dibagi atas Pengadilan Agama sebagai pengadilan tingkat pertama dan Pengadilan Tinggi Agama sebagai Pengadilan Tingkat banding. Kedua pengadilan ini merupakan tempat pencari keadilan bagi yang beragama Islam

Dokumen terkait