• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mendengarkan Nasihat yang Baik dan Mengikuti yang Terbaik

َبما عيمسلا لجرلا ةروص ف

هــلام ف ةبيصم لكل نطف

#

رــعشي مـل هنيدب باصي اذإو

“Wahai saudaraku, diantara manusia ada bagaikan binatang # Dalam rupa seseorang yang

mampu mendengar nan berwawasan”

“Terasa berat atas setiap musibah yang menimpa harta bendanya # Namun jika musibah

menimpa agamanya tiada terasa.”56

II.3.4. Mendengarkan Nasihat yang Baik dan Mengikuti yang Terbaik

Karakter selanjutnya dari golongan ulul albâb adalah mereka yang mendengarkan nasihat yang baik dan mengikuti hal yang terbaik, karakter ini adalah karakter orang yang mau memperbaiki diri dan terus meningkatkan kualitas diri, dan hal itu tidak mungkin diwujudkan tanpa kesediaan mendengarkan nasihat dan mengikuti yang terbaik di antara nasihat kebaikan tersebut. Hal itu tersurat dalam firman Allah:

                            

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya, mereka

Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az-Zumar [39]: 18)

Bukankah Allah ’Azza wa Jalla pun telah menegaskan dalam ayat-Nya yang agung, yakni QS. Al-’Ashr [103]: 3, bahwa salah satu karakteristik mereka yang tidak merugi adalah seseorang yang mau menasihati orang lain (dakwah) dalam kebenaran dan kesabaran? Di sisi lain mau mendengarkan nasihat dari orang lain. Dan mendengarkan perkataan adalah sarana untuk mendapatkan nasihat dari orang lain.

56Ib Abd al-Bar al-Andalusi, Bahjatul-Majâlis wa Unsul-Majâlis, Beirut: Dâr al-Kutub al-Il iyyah, jilid I,

                              “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mena’ati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr [103]: 1-3)

Ayat ini menjelaskan, bahwa manusia benar-benar dalam keadaan merugi. Pertama, dijelaskan dengan qassam (sumpah) “رصعلا ” (demi masa). Kedua, dijelaskan dengan ta’kid “ إ” (benar-benar). Ketiga, dijelaskan dengan ta’kid “يفل” (sungguh dalam). Ketiga bentuk penjelasan ini, semuanya menguatkan makna pembahasan ayat ini, yaitu kerugian manusia yang sangat luar biasa. Kecuali orang yang beriman, beramal shalih dan saling menasihati dalam kebaikan dan penuh kesabaran, secara terus-menerus, sehingga selamat dari kesalahan. Dalam tinjauan ilmu balaghah, keberadaan semua penegasan (ta’kîd) seperti ini berfaidah menegasikan atau menafikan segala bentuk pengingkaran terlebih keraguan.57

Dalam ayat yang agung tersebut, diungkapkan kata (ا صا ت); yang artinya saling menasihati ( ًضعب م ضعبحصن), menggunakan wazan ( َلَع َفَت) yang menunjukkan interaksi dua sisi, perbuatan satu sama lain, artinya seorang insan yang tidak merugi memiliki karakteristik mau menasihati dan mau mendengarkan nasihat, ini adalah ungkapan yang agung. Berbeda dengan orang yang takabur, dimana ia memiliki karakter menolak kebenaran dan melecehkan manusia, lalu apakah mungkin orang yang takabur mau mendengarkan nasihat?! Apakah layak ia menyandang gelar ulul albâb? Dan karena sifat takabur pula Iblis –la’natuLlâhi ’alayh -terjerembap dalam kehinaan kekal, wal ’iyâdzu biLlâh.

Dr. Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi menjelaskan:

“Sesungguhnya surat ini menjelaskan perkara akidah dan tuntutannya yakni iman (pembenaran yang pasti) dan amal shalih. Setelah itu Allah berfirman: (ا صا ت) Allah tidak mengatakan (ا ص ), apa makna kata (ا صا ت)? Yakni agar setiap orang beriman mengetahui bahwa dirinya adalah bagian dari orang lain, begitu pula saudara seimannya

57 Tim Pakar, Al-Balâghah wa an-Naqd, ‘iyâdh: Jâ i atul I â Muha ad bi Su ud al-Islâmiyyah, Cet. II, 1425 H, hlm. 38-39.

yang lain, terkadang di antara keduanya yang lemah terhadap suatu kemaksiatan sehingga ia melakukannya, akan tetapi yang lainnya tidak lemah terhadap kemaksiatan tersebut, maka dari itu orang yang tidak lemah tersebut sudah semestinya menasihati orang yang lemah (agar menjauhi kemaksiatan tersebut-pen.)”58

Perbuatan terpuji saling menasihati ini pun merupakan pengamalan terhadap hadits Nabi

, dari Abi Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Dâriy  bahwa Nabi

bersabda:

ةَحْي ِصَنلا نْي دلا

“Agama itu adalah nasihat”

Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?” Nabi

bersabda:

، َ ْنِمِل ْس ما ِةَمِئَ َِْو ،ِهِلْو سَرِلَو ،ِهِباَتِكِلَو ،ِِّه

ْمِهِتَماَعَو

Untuk Allah, kitab suci-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya.”(HR. Muslim)59

Apa maknanya? Imam Ibn Daqîq al-‘Iid (w. 702 H) menjelaskan:

:هلوق ىنعمو

"

ةحيصنلا نيدلا

"

ةحيصنلا :هماوقو نيدلا دّع يأ

“Makna sabda Rasulullah

: “Agama itu adalah nasihat” yakni tiang agama dan pondasinya adalah an-nashîhah.”60

Imam Ibn Daqîq al-‘Ied menjelaskan:

ملعأ هاو .كلذ رغ ليقو هتيفص اذإ لسعلا تحصن :لاقي صاخإا :ةغللا ف ةحيصنلاو

“Lafazh an-nashîhah secara bahasa: al-ikhlâsh (kemurnian), dikatakan: nashahtu al-‘asala (saya telah memurnikan madu) jika menyucikannya, dan dikatakan pula makna selainnya. Wallâhu a’lam.”61

58

Prof. Dr. Muhammad Mutawalli asy-Sya awi, Tafsîr asy-Sya awi, Kai o: Maj a al-Buhûts

al-Islâ iyyah Jâ i atul Azha asy-Syarîf, jilid III, hlm. 1.665.

59 Menurut Dr. Muhammad Yusri, hadits dari Abi Ruqayyah Tamim r.a. ini hadits paling shahih dalam bab

i i de ga lafazh te sebut, lihat: D . Abu Abdullah Muha ad Yus i, Al-Jâ i Sya h al-A ba ii a -Nawawiyyah,

Kairo: Dâr al-Yusr, Cet. III, 1430 H.

60 Ibn Daqiiq al-Iid, Syarh Al-A ba ii a -Nawawiyyah, Makkah: al-Maktabah al-Fayshaliyyah, hlm. 32. 61 Ibid, hlm. 34.

Adapun penafsiran terdahap lafazh “an-nashîhah” dan jenis-jenisnya dalam hadits ini, dijelaskan Ibn Daqîq al-‘Ied yang menukil pernyataan Imam al-Khithabi dan para ulama lainnya: “Adapun nasihat untuk kaum muslimin pada umumnya –selain para penguasa-, yakni dengan menunjuki mereka kepada kemaslahatan diri di akhirat dan di dunia, menolong mereka untuk mewujudkannya, menasihati agar mereka menutupi ‘auratnya, menutupi ‘aib mereka, menyingkirkan bahaya dari mereka dan mewujudkan kemaslahatan-kemaslahatan bagi mereka, memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran dengan cara yang lembut dan niat ikhlas, mengasihi mereka, menghormati orang tua dan mengasihi yang kecil di antara mereka, memikat hati mereka dengan nasihat yang baik serta menjauhi sifat culas dan dengki, mencintai kebaikan bagi mereka sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri, dan membenci keburukan terjadi pada mereka sebagaimana ia benci jika hal itu terjadi padanya, membela harta, kehormatan dan lain sebagainya yang menjadi hak mereka dengan perkataan dan perbuatan dan mendorong mereka untuk bertingkahlaku sebagaimana yang telah kami sebutkan dari beragam nasihat ini. WaLlâhu A’lam.”62

Rasulullah

pun menjelaskan bahwa sikap meninggalkan apa-apa yang menurut Islam tak berfaidah merupakan tanda kebaikan Islam pada diri seseorang. Dari Abu Hurairah

, dari Nabi Muhammad

, beliau bersabda:

َا اَم ه كْرَت ِءْرَما ِمَا ْسِإ ِن ْس ح ْنِم

ِهْيِنْعَي

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah ia meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat

baginya.” (HR. At-Tirmidzi, Ibn Majah & Ibn Hibban. Hadits hasan)63

Apa makna hadits ini? Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) menuturkan: “Hadits ini merupakan dasar agung dalam pokok adab, Imam Abu ‘Amru bin ash -Shalah menuturkan dari Abu Muhammad bin Abu Zayd, Imamnya madzhab malikiyyah

pada masanya, bahwa ia mengatakan: “Kumpulan adab-adab kebaikan dan

62 Ibid.

63 Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, Jâ i al-Ulû wa al-Hikam, jilid I, hlm. 287. Dalam catatan kaki kitab

Jâ i al-Ushul wa al-Hikam tah i : Syu aib al-A a uth disebutka bahwa hadits i i hasan li ghayrihi. Hadits ini

diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam al-Jâ i al-Kabiir (2317), Ibnu Majah (3976), Ibnu Hibban (229), ath-Thabrani dalam al-Awsath , Ib u Ady dala al-Kâmil (5/454-455), al-Qadha I dala Musnad asy-Syihab (192), al-Baghawi (4132).

kehancurannya (kebalikannya) terbagi dalam empat hadits: Pertama, sabda Nabi

: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau

diamlah.” Kedua, sabdanya: “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah ia

meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya”. Ketiga, dan sabdanya yang meringkas wasiat: “Jangan marah”.Keempat, sabdanya: “Orang beriman itu mencintai

untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya”.”64

Al-Hafizh Ibnu Rajab pun merinci bahwa di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah sikapnya meninggalkan apa-apa yang tak bermanfaat baginya baik berupa perkataan maupun perbuatan, dan menyedikitkan diri pada hal-hal yang tidak bermanfaat baik berupa berbagai perkataan dan perbuatan, dan makna kata (هي عي): bahwa hal yang penting itu berkaitan dengan dirinya maka jadilah hal itu termasuk tujuan dan tuntutan dirinya. Kata (ةي علا): kuatnya perhatian pada sesuatu, dikatakan: هي عي – ع yakni jika seseorang memerhatikan dan mencarinya. Namun yang dimaksud (dalam hadits ini) bukan berarti bahwa ia meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya dan tidak dikehendakinya berdasarkan standar hawa nafsu dan tuntutan jiwa, akan tetapi berdasarkan standar hukum syara’ dan Islam. Oleh karena itulah ia termasuk “di antara kebaikan keislaman”, maka jika “baik keislaman seseorang” ia akan meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya dalam Islam baik berupa perkataan-perkataan atau perbuatan-perbuatan. Karena Islam menuntutnya melaksanakan berbagai kewajiban sebagaimana telah dijelaskan dalam syarh hadits Jibril a.s.65

Begitu pula meninggalkan berbagai keharaman, sesungguhnya perbuatan tersebut bagian dari ajaran Islam yang sempurna nan terpuji, sebagaimana sabda Rasulullah

:

ِهِدَيَو ِهِنا َسِل ْنِم نْو مِل ْس ما َمِل َس ْنَم ملسما

Seorang muslim itu ia yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.66

64 Ibid, hlm. 288.

65 Ibid.

66 HR. Ahmad (II/379), at-Tirmidzi (2627), an-Nasa i VIII/ -105), Ibnu Hibban (180), al-Hakim (I/10) dari jalur Abu Hurairah  Dan diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud (2481), Ibnu Hibban (196) dari jalur Abdullah bin Amru bin al-Ash. Da di iwayatka pula oleh ath-Thayalisi (1777), Ahmad (III/372), Muslim, Ibnu Hibban (197) dari jalur Jabir bin Abdullah.

Dan jika baik ke-Islaman (pada diri seseorang) maka hal itu mendorongnya untuk meninggalkan apa-apa yang tak bermanfaat secara keseluruhannya dari berbagai keharaman, syubhat dan kemakruhan, bahkan hal-hal yang mubah yang tidak dibutuhkan. Karena sesungguhnya ini semua tidak bermanfaat bagi seorang muslim apabila telah sempurna keislamannya, dan telah sampai pada derajat ihsan yakni menyembah Allah  seakan-akan ia melihat-Nya, dan jika ia seakan tak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatnya.

Ini merupakan karakteristik yang agung, yang tidak mungkin ada pada orang yang terjangkit virus takabur, dimana orang yang takabur tidak akan sudi mendengarkan nasihat terlebih dari orang yang ia anggap remeh. Dan karena sifat yang buruk inilah Iblis –

la’natuLlâhi ’alayh- terjerembab ke jurang kehinaan yang abadi.

Rasulullah

bersabda:

ْرِك ْنِم ةَرَذ لاَقْثِم ِهِبْلَق ِف َناَك ْنَم َةَنَ ْجا ل خْدَي َا َلاَق

“Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari ketakaburan.”

Seorang laki-laki bertanya: “Sesungguhnya seorang pria itu senang jika baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?" Beliau

menjawab:

ِساَنلا طْمَغَو قَْحا رَطَب ْرِكْلا َل ََّ ْجا بِ ح ليِ َم ها َنِإ

“Sesungguhnya Allah itu indah menyukai keindahan, ketakaburan itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)67

Al-‘Allamah Muhammad Nawawi al-Bantani pun menjelaskan:

.سانلا رقتح نأو ،هرغ نم رخ هنأ هسفن ف ىري نأك :ىاعت ها دابع ىع ركتلا

“Takabur terhadap hamba-hamba Allah : yakni ia memandang dirinya lebih baik daripada orang lain dan merendahkannya.”68

Dan kita berlindung kepada Allah dari sifat takabur, dimana ia merupakan sifat keji yang menjerumuskan Iblis ke dalam jurang kehinaan yang amat dalam, wal ’iyâdzu biLlâh.

67 Lihat pula hadits yang diriwayatkan Imam al-Tirmidzi dalam Sunan-nya dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya.

68Muha ad Nawawi bi U a al-Jawi Bantani, Bahjatul Wasâ-il bi Syarh Masâ-il, Jakarta: Dâr

Dokumen terkait