BAB II TINJAUAN TEORITAS
B. Penanaman Kebiasaan Beribadah Siswa
2. Mendidik Anak Agar Mau Berbakti Kepada Orang tua
a. Memperkenalkan agama kepada anak
1) Memperkenalkan Tuhan yang maha esa (Allah) melalui ciptaanya, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, langit dan bumi
2) Harus selalu bersyukur dengan yang dimiliki seperti memiliki anggota tubuh yang lengkap
3) Memperkenalkan sifat-sifat Tuhan, misalnya maha pengasih, penyayang, pemurah, dan lain- lain
b. Memperkenalkan dan menanamkan ibadah kepada anak 1) Melakukan pembinaan dan pembiasaan shalat 2) Melakukan pembinaan dan pembiasaan puasa
26
Muhammad Arifuddin, Mendidik Anak Agar Tidak Durhaka, (Sidoarjo, Buana Pustaka, 2009), cet. 1, h. 88.
3) Mengajarkan anak berzakat dan infaq 4) Mengajak ibadah haji dan umrah 5) Membiasakan membaca Al-Qur’an 6) Mengajak anak untuk gemar bersedekah 7) Sosial
8) Mengajak berdo’a bersama-sama c. Mengajak anak ketempat ibadah
1) Mengajak anak shalat ke mesjid agar terbiasa 2) Mengajak anak tadarus di mesjid saat bulan puasa
3) Mengajak anak menghadiri maulid Nabi Muhammad SAW27
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa anak adalah amanah dari Allah dan kita diperintahkan agar bisa menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya yang dimana penanaman nilai-nilai agama diterapkan dalam kehidupan anak-anak dengan mengajak atau mengajarkan sesuatu yang berhubungan dengan ibadah sehingga dasar-dasar keimanan, akhlak, kepribadiannya serta ketaqwaannya kepada Allah SWT tertanam dalam diri anak tersebut.
Pengertian kebiasaan adalah dapat diartikan sebagai sebuah cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak didik berpikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Kebiasaan dinilai efektif jika penerapannya dilakukan terhadap peserta didik yang berusia kecil. Karena memiliki “rekaman”
27
Said Agil Husin Al-Munawwar, aktualisasi Nilai- Nilai Qur’an Dalam Sistem
ingatan yang kuat dan kondisi kepribadian yang belum matang, sehingga mereka mudah terlarut dengan kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari28.
Kebiasaan selain menggunakan perintah, suri teladan, dan pengalaman khusus, juga menggunakan hukuman dan ganjaran. Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih tepat dan postif dalam arti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (kontekstual). Selain itu, arti tepat dan positif di atas ialah selaras dengan norma dan tata nilai moral yang berlaku, baik yang bersifat religius maupun tradisional dan kultural29.
Hakikat kebiasaan sebenarnya berintikan pengalaman. Kebiasaan adalah sesuatu yang diamalkan. Oleh karena itu, uraian tentang kebiasaan selalu menjadi satu rangkaian tentang perlunya melakukan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan disetiap harinya. Inti dari kebiasaan adalah pengulangan dalam pembinaan sikap, kebiasaan merupakan penanaman kecakapan-kecakapan berbuat dan mengucapkan sesuatu, agar cara-cara yang tepat dapat disukai oleh anak. Kebiasaan pada hakikatnya mempunyai implikasi yang lebih mendalam dari pada penanaman cara-cara berbuat atau mengucapkan.30
Kebiasaan pada pendidikan anak sangatlah penting, khususnya dalam pembentukan pribadi dan akhlak. Kebiasaan agama akan memasukkan unsur-unsur politik pada pertumbuhan anak. Semakin banyak pengalaman agama yang
28
Ibid., h. 110
29
Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), h. 123
30
Muhammad Fadillah dan Lilif Mualifatu Khorida, Pendidikan Karakter Anak Usia
didapat anak melalui kebiasaan, maka semakin mudahlah ia memahami ajaran agama.31
Jika kebiasaan sudah ditanamkan, maka anak tidak akan merasa berat lagi untuk beribadah, bahkan ibadah akan menjadi bingkai amal atau sumber kenikmatan dalam hidupnya karena bisa berkomunikasi langsung dengan Allah dan sesama manusia. Agar anak dapat melaksanakan shalat secara benar dan rutin mereka perlu dibiasakan shalat sejak masih kecil, dari waktu- kewaktu.32
Guru sebagai pendidik dan orang tua di sekolah sangat memiliki peran penting. Karena dalam pelaksanaan penanaman kebiasaan ini pastilah memerlukan dukungan dari siswa. Apabila siswa tidak memiliki minat dan
motivasi dalam mengikuti pelaksanaan penanaman kebiasaan. Motivasi
sangatlah dibutuhkan dalam mendukung pelaksanaan ini agar jiwa keagamaan dan kesadaran peserta didik dapat muncul. Sehingga mereka menjadi generasi muda umat muslim yang selalu menjaga ibadah.
Anak dalam melakukan proses belajar tidak terlepas dari kebiasaan diri yang muncul karena adanya faktor dari luar, bila lingkungan tempat tinggal mendukung dengan segala kebaikan maka sudah barang tentu anak akan tumbuh dan berkembang secara positif. Tetapi sebaliknya bila lingkungan di dominasi oleh hal-hal yang kurang baik maka anak akan tumbuh dan berkembang dalam lingkungan perilaku negatif yang pasti mempengaruhi diri anak sehingga anak cenderung melakukan perbuatan negatif. Oleh karena itu lembaga pendidikan dan
31
Zakiah Darajad, Ilmu Jiwa agama, (Jakarta: Bulan Bintang,1993), h. 64
32
Muchtar dan Heri Jauhari, Fikih Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), h. 18
keluarga harus menciptakan lingkungan yang dapat mendukung proses pembelajaran tersebut.
Kebiasaan ibadah siswa merupakan perbuatan yang diulang-ulang terus-menerus sehingga mudah dikerjakan bagi seseorang, seperti kebiasaan berjalan, berpakaian, berpidato, mengajar dan lain sebagainya. Siswa akan terbiasa melaksanakan ibadah jika ada kebiasaan pada dirinya.
Dalam kebiasaan beribadah dapat dilakukan oleh orang tua apabila anak berada di rumah, dan dapat dilakukan oleh guru atau pendidik serta siswa berada di sekolah. Menurut Jamaludin dalam bukunya Psikologi anak dan Remaja Muslim, menegaskan bahwa islam menekankan kepada kaum muslimin untuk memerintahkan anak-anak mereka menjalankan ibadah ketika mereka berumur tujuh tahun. Hal itu dimaksud agar mereka senang melakukannya dan sudah terbiasa semenjak kecil33.
Ibadah yang diterapkan sejak anak masih kecil akan melahirkan pengalaman-pengalaman yang baik terhadap anak, hal itu berpengaruh positif, sedangkan pengalaman yang buruk akan memberikan pengaruh negatif terhadap perkembangan agama anak ketika berusia dewasa. Ibadah-ibadah yang akan bahas dalam hal ini adalah ibadah sholat, wudhu, puasa, do’a, dan hafalan surat-surat pendek34.
33
Jamaluddin, Psikologi Anak dan Remaja Muslim, (Jakarta: Pustaka Muslim, 2001), cet. 1, h. 128
34
M. Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998), h. 255
a. Shalat
Shalat merupakan ibadah yang wajib dikerjakan oleh setiap muslim. Sebagai salah satu dari rukun islam, shalat menjadi dasar yang harus ditegakkan sesuai dengan syarat-syarat dan ketentuan. Dalam pendidik wajib memerintahkan atau pun mengajari anak shalat. Dalam surah Luqman ayat 17 disebutkan:
ِزىُهُ ۡلۡٱ ِم ۡز ع ۡيِه كِل َٰ ذ هىِإ َۖ ك با ص أ ٓا ه َٰى ل ع ۡسِب ۡصٱ و ِس كٌُوۡلٱ ِي ع هًۡٱ و ِفوُس ۡع وۡلٱِب ۡسُهۡأ و ة َٰى لهصلٱ ِنِق أ هي ٌُبَٰ ي Terjemahnya :
”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.35
Shalat mempunyai kedudukan yang istimewa dalam agama islam, keistimewaan itu antara lain:
1). Shalat diperintahkan langsung oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW 2). Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang meninggalkannya maka ia
menghancurkan agama.
3). Berbeda dengan ibadah lainnya, shalat dikerjakan lima waktu dalam sehari36 Praktek kebiasaan shalat dibagi menjadi 2 macam, yaitu praktek kebiasaan shalat fardhu lima waktu dilaksanakan pada shalat duhur dan praktek shalat dhuha dimulai pas munculnya matahari dan sebelum tiba shalat duhur.
b. Wudhu
Sebelum menjalankan shalat wajib maupun shalat sunnah maka diwajibkan bagi setiap muslim untuk mengambil air wudhu terlebih dahulu yang
35
Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, h. 605
36
berfungsi untuk menghilangkan kotoran yang dapat menghalangi sahnya shalat.37
c. Do’a
Do’a sebaiknya diajarkan pada peserta didik sejak usia dini, hal ini sangat perlu dilakukan agar anak dapat mengawali aktivitasmya dengan awalan yang baik. Dalam surah Al-Ghafir ayat 60:
ييِسِخا د نهٌ ه ج ىىُلُخ ۡد ي س يِت دا بِع ۡي ع ىوُسِب ۡك ت ۡس ي ييِرهلٱ هىِإ ۡۚۡنُك ل ۡبِج ت ۡس أ ٓيًِىُع ۡدٱ ُنُكُّب ز لا ق و
Terjemahnya:
Dan Tuhanmu berkata: “Berdoalah kepadaku, niscaya akan aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembahku akan masuk ke nerakan jahanam dalam keadaan hina dina". 38 d. Menghafal surat pendek
Kebiasaan menghapal surat-surat pendek bertujuan agar siswa selalu ingat dengan surat-surat yang telah dipelajari dan dihafalkan tersebut. Kegiatan ini dilakukan berulang-ulang sehingga anak didik hafal dengan bacaan surat tersebut.39
e. Hikmah ibadah shalat
Shalat mengandung makna pembinaan pribadi, yaitu dapat menghindari dari perbuatan dosa dan kemungkaran. Orang yang melakukan shalat hidupnya akan terkontrol dengan baik, sebab setiap waktu shalat, ia menghadapkan dirinya kehadapan Allah, meminta ampunan dan petunjuknya melalui bacaan shalat yang diucapkannya, sehingga setelah usai shalat ia dapat kembali kedalam kegiatan rutinnya dengan jiwa yang sudah bersih, semangat baru dan harapan yang segar.
37
M. Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998), h. 225
38
Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, h. 159
39