Simpulan
Pengelolaan hutan rakyat di lokasi FMU karsa Lestari berkembang dengan baik sejak adanya pembinaan kelompok tani dan adanya aturan teknis yang menjadi pedoman pengelolaan hutan rakyat. FMU Karsa Lestari memiliki struktur, pembagian tugas dan wewenang yang jelas untuk mendukung kinerjanya dalam mencapai tujuan. Pemimpin berperan dalam memberikan intruksi, motivasi, informasi dalam mencapai tujuan dan memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi individu ataupun kelompok. FMU Karsa Lestari termasuk kelompok tani didalamnya memiliki aturan formal dan informal yang menjadi pedoman anggotanya untuk bertindak yang secara efektif dipahami dan dipatuhi oleh anggota.
Saran
Perlu adanya fasilitasi temu usaha lebih rutin oleh pemerintah agar terjalin jaringan pasar yang dapat memberikan insentif harga yang lebih tinggi untuk meningkatan kesejahteraan masyarakat. Mekanisme pemasaran kayu satu pintu
secara berkelompok perlu ditindak lanjuti untuk meningkatkan posisi tawar petani. Pertemuan FMU Karsa Lestari dilakukan lebih rutin untuk membahas perkembangan dan kemajuan organisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Attar M. 1998. Hutan Rakyat: kontribusi terhadap pendapatan rumah tangga petani dan perannya dalam perekonomian desa, kasus di Desa Sumberejo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Di dalam: Suharjito D, editor. Hutan Rakyat di Jawa. Bogor (ID): Program Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Masyarakat (PM3KM) IPB.
Anen N. 2012. Modal sosial dalam pengelolaan hutan rakyat lestari di Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah [Tesis]. Bogor (ID): IPB.
Awang S, Suryanto S, Eko BW. 2007. Unit Manajemen Hutan Rakyat: Proses Konstruksi Pengetahuan Lokal. Yogyakarta (ID): Banyumili‐PKHR.
[BPS] Badan Pusat Statistik (ID). 2015a. Kecamatan Palengaan Dalam Angka. Pamekasan.
[BPS] Badan Pusat Statistik (ID). 2015b. Kecamatan Proppo Dalam Angka. Pamekasan.
[BPS] Badan Pusat Statistik (ID). 2015c. Kabupaten Pamekasan Dalam Angka. Pamekasan.
[Ditjen RLPS] Direktorat Jenderal Rehablitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. 2010.
Statistik Pembangunan RLPS Tahun 2010. Jakarta (ID): [Ditjen RLPS]. Daniyati E. 2009. Efektivitas sistem sertifikasi pengelolaan hutan di hutan rakyat
(studi kasus di Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah dan Kabupaten Kulon Progo Provinsi DI. Yogyakarta) [Tesis]. Bogor (ID): Program Pascasarjana IPB.
Djogo, Tony, Sunaryo, Suharjito D, dan Sirait M. 2003. Bahan Ajar Agroforestri 8, Kelembagaan dan Kebijakan dalam Pengembangan Agroforestri. Bogor (ID): ICRAF.
[FMU Karsa Lestari] Forest Managemen Unit Karsa Lestari. 2013. Profil Kelembagaan FMU Karsa Lestari. Kab. Pamekasan (ID): FMU Karsa Lestari. Hindra B. 2006. Potensi dan Kelembagaan Hutan Rakyat. Prosiding Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 "Kontribusi Hutan Rakyat dalam Kesinambungan Industri Kehutanan". Bogor (ID): Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan.
Hardjanto. 2003. Keragaan dan pengembangan usaha kayu rakyat di Pulau Jawa [Disertasi]. Bogor (ID): IPB.
[LP IPB] Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. 1990. Sistem Pengelolaan Hutan Rakyat. Bogor: LP IPB.
Ohorella S, Suharjito D, Ichwandi I. 2011. Efektivitas kelembagaan lokal dalam pengelolaan sumber daya hutan pada masyarakat Rumahkay di Reram Bagian Barat, Maluku. Jurnal Manajemen Hutan Tropika. 17(2):49-55
[Perbup] Peraturan Bupati Pamekasan. 2009. Penata Usahaan Kayu Rakyat. Pamekasan (ID).
Pranadji, T. 2003. Menuju Transformasi Kelembagaan dalam Pembangunan Pertanian dan Pedesaan. Bogor (ID). Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.
Singarimbun M dan Efendi S. 1987.Metode Penelitian Survai: Yogyakarta (ID):LP3ES
Suharjito D, Seputro G E. 2008. Modal sosial dalam pengelolaan sumberdaya hutan masyarakat kasepuhan, Banten Kidul. Jurnal Sosial dan Ekonomi Kekutanan.
5(4):317-335
Widiyanti S. 2009. Studi kelembgaan kelompok tani hutan rakyat di wilayah Cianjur Selatan (kasus di Kecamatan Cibinong dan Tanggeung) [Skripsi]. Bogor (ID): Program Pascasarjana IPB.
LAMPIRAN
Lampiran 1 Matrik keterkaitan tujuan penelitian, indikator atau variable yang diukur, cara pengumpulan data dan analisis data.
No Tujuan penelitian Indikator/ variable Cara pengumpulan &
analisis data 1 Mendiskripsikan
sistem pengelolaan hutan rakyat, kendala dan upaya penyelesaiannya
pada Unit
Manajemen Hutan
Rakyat (FMU)
karsa lestari
Identifikasi sistem pengelolaan hutan rakyat meliputi:
Subsistem produksi (kegiatan pengadaan bibit, penanaman, pemeliharaan, pemanenan)
Subsistem pengolahaan hasil (proses menghasilkan bentuk produk terakhir yang dijual oleh petani hutan rakyat atau dipakai sendiri)
Subsistem pemasaran (serangkaian prosees tercapainya tingkat penjualan yang optimal). Aspek pemasaran meliputi sistem distribusi, struktur pasar (market struktur), penentuan harga perilaku pasar (market conduct) dan
keragaan pasar (market
performance).
Mengetahui Kendala dan upaya yang dilakukan terkait sistem pengelolaan hutan, baik dari sub sistem produksi, sub sistem pemasaran, dan sub sistem pemasaran.
Kelestarian hutan rakyat dapat tercapai apabila pengelolaan hutan rakyat direncanakan dengan baik, Kelas diameter menyebar secara merata, adanya pengaturan pananaman yang baik dalam jumlah pohon yang ditanam maupun waktu tanam dan teraturnya kegiatan penebangan baik dalam hal umur tebangan maupun jumlah pohon ditebang.
Wawancara terstruktur dengan bantuan kuisioner kepada petani hutan rakyat, serta melakukan observasi lapang untuk mengetahui sebaran kelas umur atau diameter, serta potensi hutan hutannya.
2 Mendiskripsikan kelembagaan dari Aspek keorganisasian (structural) dan Aspek kelembagaan (kultural/aturan dan penegakan aturan) pada Unit Manajemen Hutan rakyat/ FMU Karsa Lestari.
Sejarah lahirnya kelembagaan melipti: Sejarah berdirinya kelembagaan
yang menguraikan secara ringkas berbagai perkembangan penting kelembagaan semenjak berdiri sampai sekarang.
Tujuan kelembagaan yang meliputi: kejelasan tujuan kelembagaan yang
dirumuskan bersama, Aktor yang terlibat dalam
perumusan tujuan.
Wawancara
semiterstruktur kepada
ketua dan pengurus
Organisasi /FMU Karsa lestari didukung dengan study dokumen terkait kelembagaan yang ada.
Lampiran 1 Matrik keterkaitan tujuan penelitian, indikator atau variable yang diukur, cara pengumpulan data dan analisis data (lanjutan).
No Tujuan penelitian Indikator/ variable Cara pengumpulan &
analisis data Aspek keorganisasian (struktural)
meliputi :
Kelengkapan susunan pengurus,
Mengetahui adanya uraian
kerja/kinerja pengurus (pembagian tugas & wewenang),
Mengetahui Keteraturan waktu pergantian/penyempurnaan
pengurus kelembagaan
Komunikasi dalam kelembagaan antara anggota dan pengurus Mengetahui peran kelembagaan
dalam terjalinya interaksi antar anggota kelompok dan pengurus.
Wawancara
semiterstruktur kepada ketua dan pengurus FMU Karsa lestari. Didukung dengan Study dokumen terkait kelembagaan yang ada.
Keanggotaan dalam kelembagaan
meliputi:
pola perekrutan,
kesetiaan dan pengabdian anggota, frekuensi pertemuan
partisipasi anggota.
Wawancara
semiterstruktur kepada ketua kelompok tani dalam gabungan kelompok tani.
Kepemimpinan yang dibahas disini
bukan menekankan pada tipe
kepemimpinan seseorang melainkan peran kepemimpinan dalam kegiatan pengelolaan hutan meliputi :
Pemberian intruksi atau langkah-langkah mencapai tujuan kelompok yang ditetapkan
Memberikan motivasi kepada
anggota kelompok
Memberikan informasi yang
dibutuhkan anggota kelompok Memberikan solusi jika terjadi
konflik dalam kelompok
Wawancara
semiterstruktur didukung dengan kuisioner kepada
masyarakat untuk mengetahui peran kepemimpinan dalam kelembagaan. Peran kepemimpinan diukur menggunakan
proporsi terhadap persepsi responden yang masuk kategori (sering, jarang, tidak pernah) terhadap indikator kepemimpinan. Aspek kelembagaan sebagai Aturan main
dan penegakan aturan, meliputi :
Aturan informal dan formal yang dibuat secara tertulis atau lisan terkait pengelolaan hutan.
Tingkat Kepercayaan terhadap aturan formal maupun informal
pemahaman anggota terhadap
aturan.
mengetahui tingkat kepatuhan terhadap aturan
tingkat pelanggaran yang
dilakukan.
Wawancara semi
terstruktur kepada
ketua/pengurus kelompok tani mengenai aturan informal amupun formal terkait sistem pengelolaan
hutan, dan bentuk
penegakan aturannya.
Pemahaman anggota
terhadap aturan diukur dengan proporsi anggota yang masuk kategori (paham, cukup paham, tidak paham)
Lampiran 1 Matrik keterkaitan tujuan penelitian, indikator atau variable yang diukur, cara pengumpulan data dan analisis data (lanjutan).
No Tujuan penelitian Indikator/ variable Cara pengumpulan &
analisis data
Tingkat kepercayaan
masyarakat diukur dengan proporsi responden yang masuk kategori (percaya ragu-ragu, tidak percaya).
Tingkat pelanggaran
diukur menggunakan
proporsi proporsi
responden yang masuk kategori (sering, jarang, tidak pernah melanggar aturan)
Kepatuhan anggota
terhadap aturan
dipengaruhi kepatuhan orang lain terhadap aturan tersebut maka kepatuhan tersebut diukur dari kepercayaan seseorang terhadap orang lain dalam mematuhi aturan
Lampiran 2 Aturan formal dan informal kelembagaan
Bentuk Aturan Hal yang diatur Aturan Main
AD/ART FMU Karsa Lestari Kepengurusan (ART bab I pasal I) .
1. Pengurus dipilih oleh perwakilan kelompok tani pengelola hutan rakyat dari 4 desa dengan masa bakti empat tahun dan dapat dipilih kembali, khusus untuk ketua setelah dua kali berturut-turut tidak dapat dipilih kembali.
2. Susunan kepengurusan terdiri dari: ketua, sekretaris, bendahara, dan seksi-seksi yang membawahi kepengurusan Gapoktan empat desa.
3. Pengurus tidak digaji dan tidak mendapat upah apapun. 4. Pengurus wajib hadir setiap pertemuan.
5. Pengurus berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kemajuan organisasi Keanggotaan
(AD bab VII pasal 8, ART bab III pasal 3)
1. Kedaulatan organisasi berada ditangan anggota dan dilaksanakan sepenuhnya oleh musyawarah mufakat.
2. Anggota FMU “Karsa Lestari” terdiri dari kelompok tani pengelola hutan rakyat dari desa Rek Kerrek dan Angsanah kecamatan palengaan serta desa Rang Perang Dhaja dan desa Samatan kecamatan Proppo Kabupaten pamekasan.
3. Anggota mematuhi aturan yang telah digariskan bersama 4. Anggota berhak mendapatkan pelayanan dari pengurus 5. Anggota berkewajiban menjaga nama baik organisasi
6. Anggota memberikan usul dan saran dalam rapat dan berkontribusi aktif untuk kemajuan organisasi. Hak dan Kewajiban
Anggota (ART bab IV pasal 4)
1. Anggota wajib mematuhi aturan dan pelaksanaan keputusan FMU 2. Menghadiri pertemuan yang diselenggarakan FMU
3. Melaksanakan rencana kegiatan dan keputusan FMU
4. Mengingatkan dan menegur pengurus bila terjadi penyimpangan-penyimpangan 5. Menjaga nama baik FMU
Sifat dan Fungsi (AD bab VI pasal 7)
1. Menampung serta mengghimpun potensi dan masalah serta merumuskan dan memusyawarahkan berbagai hal yang dihadapi petani untuk melahirkan kesepakatan untuk disampaikan pada pihak yang berwenang dan terkait. 2. Mengembangkan sumberdaya petani yang berkenaan dengan peningkatan pengetahuan, penerapan teknologi
pertanian modern yang meliputi pra panen dan pasca panen serta pemasaran dan penguasaan manajemen perusahaan.
3. Mengupayakan lapangan kerja disektor pertanian dan kehutanan, pada kegiata pra panen dan pasca panen serta pemasaran, serta pada usaha industri yang mengolah hasil-hasil pertanian dan kehutanan, guna menampung tenaga kerja dan mengatasi pengangguran.
AD/ART Kelompok
Tani
Kepengurusan (AD bab VI pasal 11)
1. Pengurus dipilih berdasarkan musyawarah dan mufakat dengan masa jabatan lima tahun. 2. Pengurus yang sudah habis masa jabatannya dipilih kembali untuk masa jabatan berikutnya.
AD/ART Kelompok
Tani
Keanggotaan (AD bab IV pasal 6)
1. Anggota merupakan petani, pekebun, peternak, dan pelaku usaha diwilayah dusun yang sudah memiliki NIK dan terdaftar dalam buku anggota kelompok tani.
2. Mempunyai kesinambungan dengan kegiatan usaha poktan.
3. Membayar simpanan pokok Rp 10 000 dan iuran lainnya yang ditentukan oleh rapat anggota 4. Menyetujui AD/ART yang berlaku.
Hak dan Kewajiban Anggota (AD bab IV pasal 8 &
9)
Hak 1. Memperoleh pelayanan yang ada dalam kelompok
2. Menghadiri rapat dan mengajukan pendapat dalam rapat 3. Memilih dan dipilih sebgai pengurus
4. Mengajukan pembiayaan untuk usaha tani kepada poktan yang besarnya Rp 500 000 Kewajiban
1. Membayar simpanan pokok
2. Berpartisipasi dalam kegiatan usaha kelompok
3. Mentaati keputusan AD/ART, keputusan rapat dan keputusan lainnya yang berlaku. 4. Memelihara dan menjaga nama baik organisasi
5. Peminjam dana PUAP dikenakan biaya bagi hasil sebesar 1% dari total pinjaman untuk setiap satu bulan masa peminjaman
Informal Kesepakatan
Kelompok
1. Jadwal pertemuan yang diadakan sebulan, dua minggu sekali baik Gapoktan dan maupun kelompok tani. 2. Mengadakan arisan sebesar Rp 50 000
3. Setiap pertemuan mengadakan Tahlilan/Sholawatan Aturan
Lokal dalam pengelolaan hutan rakyat dan lingkungan
1. Masyarakat melakukan penebangan apabila memiliki kebutuhan mendesak saja kemudian memilih pohon yang sudah masak tebang dan memiliki diameter yang cukup sesuai kebutuhannya.
2. Masyarakat melakukan kerja sama dan saling mengawasi lahan-lahan sesama anggota dari gangguan yang dapat menyebabkan kerusakan hutan (bencana alam, gangguan pengembalaan dan perbuatan manusia).
3. Larangan melakukan penebangan pada hari rabu untuk pohon bamboo. Kepercayaan masyarakat bila menebang pada hari rabu akan menyebabkan kematian pada tanaman lainnya.
4. Larangan melakukan penebangan pada hari jum’at, kepercayaan masyarakat apabila melakukan penebangan pada hari jum’at akan menimbulkan kecelakaan pada pelaku penebangan.
5. Larangan melakukan penebangan daerah perlindungan sumber-sumber air. Pada daerah aliran sungai dilarang menebang pohon bambu yang dipercaya masyarakat sebagai pengendali longsor dan banjir.
6. Masyarakat diwajibkan menanami kembali pohon yang ditebang sejumlah 3 pohon pengganti dan dipelihara sampai hidup.
7. Masyarakat melakukan pembersihan lahan dari serasah dan bahan bakar lainnya serta membuat sekat bakar saat menjelang musim kemarau untuk menghindari terjadinya kebakaran hutannya
Lampiran 2 Aturan formal dan informal kelembagaan (lanjutan)
Bentuk Aturan Hal yang diatur Aturan Main
8. Larangan melakukan pembakaran yang tidak terkontrol saat musim kemarau yang dapat menimbulkan kebakaran hutan dan kerusakan pada areal sekitarnya, jika kedapatan melakukan pembakaran yang mengakibatkan kerusakan pada tanaman akan ditangkap dan mengganti seluruh kerugian yang di timbulkan.
SOP pengelolaan
hutan
Penanaman 1. Perencanaan dilakukan dengan menentukan lokasi yang akan ditanami ( Blok, No ID Lahan, pemilik, Luasan, dan Jenis Tanaman, waktu penanaman ).
2. Pelaksanaan dilakukan persiapan lahan yaitu pembuatan lubang tanam, pemberian ajir untuk memudahkan pemantauan, pemberian pupuk pada lubang tanam serta penyediaan bibit.
3. Pengaturan jarak dibuat menyesuaikan kondisi arealnya. 4. Pemantauan berkala saat musim kemarau
Pemeliharaan 1. Pemupukan sebelum penanaman sebagai asupan makanan bagi bibit yang mau tumbuh menggunakan pupuk kandang dan kimia secara berimbang.
2. Pemberian pupuk kandang pada tahun ke-2 hingga tahun kelima
3. Pengembangan pupuk organic ditingkat lahan dengan mengumpulkan serasah, sisa daun dibiarkan membusuk. 4. Penjarangan dilakukan 2 kali selama masa daur (25 tahun), pada saat berumur 7 tahun dan tahun ke 14.
5. Pruning memangkas ranting dan cabang pada tegakan berumur dibawah 5 tahun agar mendapat tegakan yang lurus. 6. Penyiangan secara incidental untuk memberikan ruang dan mengurangi persaingan hidup dengan tanaman lain. 7. Menanam tanaman pangan (talas, ubi, gembili) pada lahan yang masih memungkinkan masuknya sinar matahari.
Serta menggunakan tanaman empon-empon dan memanen selambat-lambatnya selama 2 musim.
8. Monitoring/pemantauan dilakukan 2 kali dalam setahun dengan mengisi form pemantauan dan diserahkan serta dianalisa oleh seksi budi daya dan konservasi.
Pemanenan dan pemasaran
1. Kayu yang ditebang merupakan pohon jati atau rimba yang menunjukan cukup diameter minimal. Berdasarkan Perbub No.19 tahun 2009 tentang penata usahaan kayu rakyat, ukuran diameter yang boleh ditebang 16 cm dan sudah mendapatkan izin tebang dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Pamekasan dan penetapan penggantian pohon yang ditebang sebanyak 3 pohon pengganti.
2. Pemotongan menjadi sortimen mengacu pada standart kebutuhan industri secara umum.
3. Pemasaran kayu rakyat ekolabel dilakukan melalui mekanisme satu pintu yakni seksi pengembangan modal dan jaringan sebagai satu-satunya jalur bagi penjual kayu sertifikasi yang di organisir oleh FMU Karsa Lestari. 4. Pemasaran hasil hutan dikoordinasikan dengan dinas terkait.
Lampiran 3 Peta administrasi wilayah kerja FMU Karsa Lestari