Penjagaan Ciptaan Allah
A. Menelusuri antara hubungan ekologi dan ekonomi
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM
93
Bab 13
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM
94 dan memeliharanya. Dengan kata lain, maka usaha untuk melakukan housekeeping harus dibarengi naturekeeping.
Berbicara tentang ekonomi dan ekologi, khususnya dari perspektif Indonesia, harus dimulai dengan mengatakan bahwa ia tidak merupakan masalah pilihan “ini atau itu,” seolah-olah dengan bebasnya dapat dipilih antara ekonomi atau ekologi. Atau andai dipaksa untuk memilih, yang harus kita katakan adalah bahwa ini bukanlah pilihan yang mudah atau sederhana. Akar masalahnya memiliki sejarah yang cukup panjang. Selama lebih dari 200 tahun, pertumbuhan industri yang menjadi sakaguru pertumbuhan ekonomi Barat, telah didukung oleh tersedianya bahan bakar yang murah, sumber alam yang melimpah ruah serta lingkungan yang seakan-akan tanpa batas mampu menyerap semua limbah (Daraputera 1996, 120). Keadaan seperti initidak hanya terjadi di Barat. Selama dasawarsa pertama pembangunan di Indonesia, kita juga dibuai oleh asumsi yang sama: persediaan minyak dan gas bumi yang melimpah, simpanan sumber alam yang kaya raya, dan tidaksedikit pun terpikirkan bahwa limbah industri akan menjadi masalah.
Kesadaran bahwa industrialisasi juga menciptakan masalah datangnya amat lambat.
Pengalaman Amerika Serikat memberikan ilustrasi yang menarik. Pada tahun 1960-an, mereka telah mulai menyadari terjadinya degradasi lingkungan yang disebabkan oleh industrialisasi. Namun demikian, pada waktu itu, mereka masih yakin bahwa teknologi pada akhirnya pasti akan mampu memecahkan masalah tersebut. Baru kemudian, sebelum dasawarsaitu berakhir, mereka menyadari bahwawalaupun teknologi mampu membantu dalam menemukan sumber daya alternatif, teknologi menciptakan masalah lingkungan yang amat serius. Oleh karena itu, pada awal tahun 1970-an, disahkanlah beberapa perangkat peraturan untuk mengendalikan polusi serta melindungi kelestarian alam. Pada pertengahan tahun 1970-an, kembali terjadi titik balik. Pada waktu itu, Amerika Serikat menderita akibat embargo minyak dan resesi ekonomi. Menghadapi keadaan seperti itu, banyak orang beranggapan bahwa masalah energi serta pertumbuhan ekonomi jauh lebih penting ketimbang masalah lingkungan. Pada akhir tahun 1970-an, peraturan mengenai lingkungan mulai dikendorkan demi pertumbuhan ekonomi.
Indonesia juga mempunyai cerita yang hampir sama. Selama Pelita I-III, fokus pembangunan Indonesia adalah pertumbuhan ekonomi. Baru kemudian kita terkejut menyadari betapa tingginya harga yang harus dibayar untuk itu: kelestarian ekologi yang telah kita kurbankan demi pertumbuhan ekonomi. Didorong oleh kesadaran ini lahirlah konsep “Pembangunan Berwawasan Lingkungan,”
“Amdal” (Analisis dampak atas lingkungan), dan sebagainya. Belakangan ini, untuk lebih menarik para investor asing ke Indonesia, ada kecenderungan untuk mengendurkan masalah ekologi lagi. Alasan yang paling banyak dikemukakan untuk mengendurkan aturan- aturan mengenai lingkungan hidup
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM
95 adalah ekonomi: demi pertumbuhan ekonomi, penanaman modal asing, industrialisasi, menciptakan lapangan kerja, persaingan global dan sebagainya. Alasan-alasan itu ada benarnya. Namun demikian, harus dipertanyakan alasannya yang paling dasar: apakah memang dapat dibenarkan bila kita mengurbankan ekologi demi ekonomi? Mengurbankan sesuatu hanya sah apabila: kita harus melakukannya demi tujuan yang lebih luhur dan kita yakin bahwa manfaatnya lebih besar daripada yang kita kurbankan.Tampak jelas bahwa di balik isu ekonomi dan ekologi, sesungguhnya ada konflik-konflik kepentingan, konflik-konflik-konflik-konflik kekuasaan, dan konflik-konflik-konflik-konflik nilai- nilai yang pelik. Betapa sulitnya menentukan kebijakan yang secara seimbang sekaligus menjamin baik lingkungan hidup, pertumbuhan ekonomi, tersedianya lapangan kerja, maupun kesehatan manusia.
Di satu sisi, tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi dan industri untuk menciptakan lapangan kerja.Indonesia juga membutuhkan teknologi pertanian yang baru untuk memproduksi bahan pangan yang lebih banyak, bahkan teknologi tinggi untuk mampu bertahan dalam persaingan global. Pada sisi lain, kita mengetahui bahwa semua itu juga akan menguras habis sumber daya alam kita, menciptakan polusi terhadap lingkungan hidup kita, serta membahayakan kesehatan manusia, dan sebagainya. Kompleksitas masalah ini penting kita sadari terus-menerus, agar kita tidak terjerembab pada penyederhanaan masalah yang berlebihan. Namun demikian, kita juga tidak boleh hanya berhenti dalam frustasi lalu tidak mampu bertindak apa-apa, sementara tindakan begitu dibutuhkan. Untuk mampu bertindak secara benar dan tepat, kita perlu melakukan analisis biaya dan manfaat. Analisis ini akan membantu Anda untuk mengetahui kerumitan permasalahannya.Namun demikian, analisis ini hanyalah awal saja, yang segera harus diikuti dengan analisis etis. Analisis etis akan membantu menentukan tindakan yang benar, baik dan tepat.
Analisis biaya dan manfaat mengasumsikan bahwa semuanya dapat dihitung dengan pasti. Di dalam beberapa kasus, kalkulasi seperti itu memang mungkin. Misalnya, kita dapat menghitung dengan hampir pasti berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membersihkan air laut dari tumpahan minyak mentah dari sebuah kapal tanker yang tenggelam. Dalam banyak kasus yang lain, terutama apabila polusi itu melibatkan kerugian bagikesehatan manusia atau kematian, kerugian itu tidak pernah dapat diukur dengan angka. Berapakah harga sebuah kehidupan? Masalah pokoknya adalah bagaimana memperkirakan dan menghitung risiko. Penghitungan risiko merupakan masalah karena ada begitu banyak teknologi mutakhir yang tidak pernah dapat kita perkirakan risikonya dengan tepat,baik bagi generasi sekarang maupun bagi generasi yang akan datang. Contohnya penggunaan teknologi nuklir. Persoalan etis mendasar yang harus kita kemukakan sehubungan dengan analisis biaya dan manfaat adalah sebagai berikut. Misalnya diasumsikan bahwa kita dapat membuktikan manfaat dari teknologi tertentu memang jauh lebih besar dari kerugiannya. Apakah ini dengan
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM
96 sendirinya memperbolehkan kita memaksakannya kepada semua orang, termasuk kepada mereka yang berkeberatan? Bagaimana dengan hak-hak moral mereka yang paling dasar? Bukankah setiap orang mempunyai hak untuk diperlakukan atas sesuatu oleh orang lain, hanya setelah ia menyatakan persetujuannya? Bila orang dengan jelas telah menyatakan ketidaksetujuannya, bukankah hak moral dasar mereka itu dilanggar bila dipaksakan juga? Ketika analisis biaya dan manfaat tidak mampu memberikan petunjuk yang pasti mengenai bagaimana harus bertindak, keputusan mengenai hal itu haruslah diserahkan kepada masyarakat yang bersangkutan. Ini tentu saja benar! Namun demikian, di dalam kenyataan, prinsip ini amat sulit diterapkan. Orang akan dapat memberikan persetujuannya hanya apabila ia sebelumnya mengetahui benar apa yang harus disetujuinya dan apa saja risiko dari persetujuannya itu. Harus diingat bahwa teknologi mutakhir itu sering begitu kompleksnya sehingga masyarakat awam tidak mungkin menguasai seluk-beluk persoalannya, apalagi risiko-risiko yang mungkin dapat ditimbulkannya. Bahkan di kalangan para ahli pun, ketidaksepakatan mengenai ini adalah sesuatu yang lazim. Bila kita tidak mampu mengetahui, bagaimana kita harus mengambil keputusan? Kita memerlukan pendekatan yang lain, yakni pendekatan yang tidak sepenuhnya cuma bergantung pada analisis biaya dan manfaat.
Kehidupan, pada akhirnya, selalu melampaui kalkulasi angka-angka. Dalam hal ini, yang kita butuhkan adalah sebuah komitmen moral. Komitmen moral yang menghormati kehidupan di atas segala-galanya, termasuk melampaui keuntungan ekonomi. Bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa keuntungan ekonomi itu tidak penting bagi kehidupan. Sebaliknya, ekonomi adalah bagian kehidupan yang amat penting. Ekonomi mempunyai fungsi yang amat vital bagi kehidupan, dan oleh karena itu jangan kita meremehkannya. Yang hendak dikatakan adalah ekonomi itu penting sepanjang menopang kehidupan. Oleh sebab itu, persoalan kita bukanlah ekonomi atau kehidupan, melainkan ekonomi untuk kehidupan Walaupun bermanfaat, suatu tindakan tidak dapat digantungkan sepenuhnya pada kalkulasi untung rugi. Ketika biaya atau risiko tidak dapat dipastikan sebelumnya, kehidupan harus ditempatkan di depan, menjadi pertimbangan kita satu-satunya.
Bagaimana menerjemahkan prinsip ini ke dalam tindakan? Ada beberapa kemungkinan.
Beberapa ahli mengusulkan bahwa ketika risiko tidak mungkin diperkirakan dengan pasti, jalan terbaik adalah memilih proyek-proyek yang tidak mengandung risiko kerusakan yang tidak mungkin diperbaiki.
Sekalipun sebuah teknologi baru dapat diharapkan memberikan manfaat yangmaksimum, tetapi bila ia juga mengandung risiko penghancuran yang fatal, proyek ini harus mutlak kita tolak. Beberapa ahli lain mengusulkan cara lain, demi keadilan diidentifikasikan siapa-siapa yang akan paling dibahayakan atau menanggung risiko yang terbesar sekiranya kemungkinan yang paling buruk terjadi, dan kemudian direncanakan langkah-langkah untuk memastikan bahwa mereka terlindungi.
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM
97 Generasi mendatang dan anak-anak, misalnya, termasuk dalam kategori yang mesti dijamin perlindungannya. Pendekatan lain lagi adalah sebagai berikut. Ketika risiko tidak mungkin diperhitungkan dengan pasti sebelumnya, harus diasumsikan kemungkinan yang paling buruk, dan kemudian mempertanyakan apakah dalam situasi yang seperti itu, kehidupan terlindungi. Tentu saja risiko adalah bagian yang tidak terelakkan dari kehidupan. Namun demikian, hidup ini bukan permainan untung-untungan. Ketika yang dipertaruhkan adalah kehidupan itu sendiri, kita tidak punya pilihan lain.
Ketika hidup itu sendirilah yang menghadapi risiko kehancuran, manfaat apa lagi yang masih mungkin kita harapkan? Bisnis memang bertujuan untuk mencari untung. Dan harus diakui bahwa mencari untung tidak haram. Seorang pengusaha bekerja untuk mencari untung. Tujuan hidup (termasuk pengusaha) adalah mencari untung serupa dengan analogi bahwa tujuan hidup adalah bernafas. Kita tidak bisa hidup tanpa bernafas, tetapi agaknya sulit diterima kalau dikatakan bahwa tujuan hidup
“hanya” untuk bernafas.
Di samping itu, ada batasan moral mengenai keuntungan, sebab jual beli manusia, jual beli obat terlarang, jual beli minuman keras, jual beli pornografi, sekalipun mungkin amat menguntungkan;
jelas-jelas bertentangan dengan moral masyarakat. Termasuk di dalamnya menipu pajak, memperkerjakan anak-anak, menindas buruh, memanipulasi peraturan; semuanya bisa menguntungkan, akan tetapi bukan itu bisnis yang bercorak etis.Dalam kaitan dengan ekologi, ekonomi sering berjalan sendiri. Ekonomi sering dikelola dengan naluri atau dorongan ketamakan, ketidaksabaran, kerakusan, kebodohan dan kecerobohan. Kalangan bisnis sering menganggap bahwa alam ini adalah suatu aset modal yang didapat dengan gratis.
Di pihak lain, tenaga manusia yang melimpah menyebabkan sumber daya manusia itudihargai seminimal mungkin, ditekan serendah mungkin sebagai “faktorproduksi.” Bisnis dijalankan seolah-olah
“tidak ada hari esok,” mengeruk dan mengeruk keuntungan, seolah-olah manusia tidak mempunyai anak-anak yang harus tetap hidup. Bisnis dilakukan seolah-olah perusahaan sedang mengalami likuidasi. Cara kita mengeksploitasi alam dan sesama manusia, bagaikan menjelang mengalami proses kebangkrutan, sehingga dilakukan pengurasan habis-habisan terhadap sumber daya alam dan sumber daya manusia. Kebebasan dalam berbisnis, ternyata ada batas-batasnya. Kebebasan itu berakhir ketika ia mengancam kehidupan orang lain, dan sekarang ini dengan amat nyata ditambahkan aspek baru yang sangat menonjol yaitu kelestarian lingkungan. Hubungan antara ekonomi dan ekologi berkenaan dengan batas-batas ini. Kebebasan kita berakhir ketika kebebasan itu sudah mulai mengancam hak hidup orang lain. Menyangkut soal lingkungan, lebih fundamental lagi, karena yang dipertaruhkan bukan hanya kehidupan orang lain belaka, akan tetapi seluruh umat manusia dalam seluruh sejarahnya.
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM
98 Untuk menghadapi destruksi alam dan kemanusiaan di masyarakat, pendekatan etika ekologis dimulai dari asumsi mengenai keterikatan yang menyatu antara semua unsur kehidupan di muka bumi.
Kehidupan ini bukanhanya kehidupan untuk manusia (lebih-lebih bukan untuk segelintir orang), akan tetapi semuanya merupakan sebuah komunitas, yaitu “komunitas biotik.” Kita perlu mencari keseimbangan antara kebebasan individu yang merupakan asumsi dari dunia bisnis, dengan seluruh lingkungan biotik, baik dalam bentuk alam lingkungan dan masyarakat. Dilihat dari perspektif ekologis, setiap individu berada dalam suatu jaringan kehidupan yang saling bergantung satu dengan yang lain.
Keseluruhan kehidupan itu merupakan satu kesatuan organis yang memberikan kepada setiap
“warganya” hak yang sama untuk hidup. Ada “kodeterminasi” yang dinamis antara individu dan masyarakat, ada saling ketergantungan antara ekonomi dan ekologi, antara manusia dan alam, antara buruh dan majikan.
Pada akhirnya, segala persoalan yang kita hadapi berkaitan dengan kerusakanlingkungan, adalah bertemu dengan musuh terbesar kita, yaitu diri kita sendiri. Manusia yang batil, serakah dan yang tidak mempedulikan alam serta sesama. Manusia berada di dalam sistem, struktur serta institusi yang ia ciptakan sendiri, yang menguras sesamanya dan alam sekitarnya. Dalam segala upaya kita untuk memperbaiki kualitas lingkungan, kita juga bertemu dengan partner yang terbaik dan terpercaya, yaitu diri kita sendiri. Manusia merindukan perbaikan dirinya dan percaya pada kebaikan, baik sebagai lawan maupun sebagai kawan. Kita disadarkan bahwa alam lingkungan sekitar kita dan mereka yang menjadi korban dari penganiayaan adalah tanggung jawab seluruh warga masyarakat bersama. Etika haruslah kritis terhadap segala keputusan yang kena-mengena dengan manusia dan menyangkut integritas alam. Kelemahan-kelemahan manusiawi dalam dirinya maupun institusinya haruslah tetap ditempatkan di bawah kritik etika terus-menerus.
Etika lingkungan menuntut agar kita belajar untuk menghormati alam. Kita juga harus membatinkan suatu perasaan tanggung jawab khusus terhadap lingkungan lokal kita sendiri. Kita harus merasa bertanggung jawab terhadap kelestarian biosfer. Etika lingkungan memuat larangan keras untuk merusak, mengotori dan meracuni. Selain itu, sikap solidaritas dengan generasi-generasi yang akan datang juga dituntut oleh etika lingkungan. Kita harus menolak pandangan bahwa bila diperlukan kita harus mengurbankan ekologi demi ekonomi, seolah-olah ekonomi itu lebih luhur daripada ekologi.
Sebaliknyalah, dalam mempertimbangkan situasi ekologissecara global sekarang ini, kita harus mengatakan ekonomilah yang harus melestarikan ekologi! Apabila kita mesti mengurbankan ekologi, pengurbanan ini hanya dapat dibenarkan apabila itu benar-benar diperlukan demi kehidupan itu sendiri.
Kehidupan adalah sesuatu yang lebih luhur ketimbang ekonomi ataupun ekologi. Kehidupan itu lebih dari sekadar “ada” secara fisik. Yang kita maksudkan dengan “kehidupan” adalah apa yang dijanjikan
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM
99 oleh Yesus “hidup dalam segala kepenuhannya.” Dengan demikian, jelaslah bahwa baik ekonomi maupun ekologi adalah bagian-bagian yang penting dari kehidupan. Pentingnya masing-masing ditentukan oleh sumbangan masing-masing, baik kuantitatif maupun kualitatif bagi hidup dalam segala kepenuhannya itu.
B. Manusia dan alam
Simaklah renungan yang berjudul Maka Alam Menjadi Murka berikut ini (Ismail 2002, 120-122).
Maka Alam Menjadi Murka Sengsara. Semua orang jadi sengsara. Banjirnya makin lama makin gawat.
Di rumah ini seumur-umur belum pernah banjir, 10 tahun lalu banjir 5 cm, lima tahun lalu 40 cm, eh sekarang 80 cm! Di sana lebih parah lagi, tinggi air dalam rumah sampai 140 cm! Ranjang, meja makan dan lemari pakaian terendam air lumpur. Orang mengungsi naik perahu. Rumah yang tidak kena banjir juga ikut sengsara. Listrik padam. Telepon putus. Air bersih tidak ada. Tidak bisa keluar rumah. Jalan jadi sungai. Mobil mogok. Lalu lintas macet. Sampah berserakan. Kantor tutup. Pasar tutup. Toko tutup. Ekonomi lumpuh total.Penduduk desa lebih sengsara lagi. Bukit longsor. Rumah tertimbun. Bendungan jebol. Pohon tumbang. Jembatan roboh. Sawah membusuk. Ternak mati. Ikan hanyut. Penyakit merajalela.Pokoknya, semua orang merasa sengsara. Kalau alam menjadi murka kita semua menderita. Mengapa alam menjadi murka?
Cobalah bermawas diri dan lihat apa yang telah kita perbuat terhadap alam. Kita mulai dengan perkara kecil yaitu sehelai kantong plastik yang kita buang di sembarangan tempat. Kantong plastik itu masuk ke got, lalu terbawa ke kali lalu bertumpuk di waduk. Got jadi mampat, kali jadi dangkal dan pompa waduk jadi macet. Akibatnya meluaplah air. Lihat contoh lain. Tanah terbuka kita lapisi semen dan beton. Taman dan situ kita timbun, lalu di atasnya kita bangun rumah, kantor, sekolah, dan sebagainya.
Padahal wilayah itu adalahdaerah resapan air atau tempat parkir bagi air. Akibatnya air hujan jadi liar dan menggenangi kita. Lihat juga apa yang kita perbuat terhadap alam di pedalaman. Hutan digunduli.
Bukit digaruk. Akibatnya semua air hujan langsung masuk ke sungai. Terjadilah longsor. Terjadilah banjir.
Pokoknya kita telah menggerayangi gunung, menyakiti hutan, mencekik sungai, melukai danau, mencemari waduk dan membekap tanah. Kita telah mengusik alam, maka sekarang alam mengusik kita. Kita telah memusuhi alam, maka sekarang alam memusuhi kita.Padahal sebenarnya alam adalah sahabat dan mitra kita. Baik alam maupun kita adalah sama-sama ciptaan Allah. Tuhan menempatkan kita di tengah alam supaya kita hidup bersama dengan alam.
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM
100 Hal itu sudah ditulis sejak halaman pertama dalam Alkitab. Dalam Kitab Kejadian terdapat dua cerita penciptaan. Cerita pertama terdapat dalam Kejadian 1:1 sampai dengan 2:4a, ditulis oleh para pengarang kelompok imam pada abad ke-5 sM. Menurut cerita pertama ini manusia bertugas menguasai dan menggarap alam. Istilah yang digunakan adalah “taklukkanlah ... berkuasalah” (1:28).
Cerita kedua terdapat dalam Kejadian 2:4b sampai dengan 25, ditulis oleh para pengarang kelompok Yahwist empat abad sebelum cerita pertama. Menurut cerita kedua tugas manusia adalah
“mengusahakan dan memelihara” (Kej. 2:15). Dalam bahasa Ibrani abad (menghambakan diri, melayani) dan shamar (menjaga, merawat, melestarikan).Kemudian dengarkan pengakuan pemazmur:
“Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya” (Mzm.
24:1) dan “Punya-Mulah langit, punya-Mulah juga bumi, dunia serta isinya Engkaulah yang mendasarkannya” (Mzm. 89:12).
Alam ini bukan milik kita, melainkan milik Tuhan. Kita hanya menumpang tinggal, tanpa bayar sewa atau kontrak. Kita punya tugas memelihara gunung, hutan, sungai, laut, waduk, danau, serta tanah kepunyaan Tuhan ini, bukan merusaknya.Kita telah merusak dan mengotori alam ini. Kita kurang ramah terhadap alam. Kita makin serakah dalam menggaruk alam. Akibatnya alam murka. Makin lama ia makin murka dan kita makin menjadi sengsara.
Bukankah lebih baik kita berdamai dengan alam? Sebetulnya alam bisa bersahabat dengan kita, kalau kita juga mau bersahabat. Lebih baik kita bersahabat dengan alam supaya hidup kita di tengah alam bukan menjadi sengsara melainkan sejahtera. Setelah menyimak renungan di atas yang berjudul Maka Alam Menjadi Murka dan paparan di bawah ini, Anda diberi kesempatan untuk menanya sebanyak-banyaknya pertanyaan kritis yang berkenaan dengan tugas manusia dalam alam.
Skala pencemaran lingkungan pada abad ke-21 ini menjadi semakin besar. Pada masa lampau masalah lingkungan itu nyata di kota-kota besar saja, misalnya dalam hal pencemaran udara dan air. Jumlah perusahaan dan industri memang masih sangat terbatas. Sementara dalam abad ke-21 ini pengaruh pencemaran lingkungan memang meningkat dengan sangat pesat dan bukan hanya terjadi di kota-kota besar saja.
Di samping itu, laju perkembangan produksi sintetis-organis dari bahan- bahan kimia tidak dapat dibendung, dan merupakan suatu hal yang baru. Semakin meningkatnya jumlah kebutuhan produksi kimia ikut mendorong agar penanganan atas masalah lingkungan dilakukan pada tingkat internasional. Masalah lingkungan juga semakin rumit: bukankah rumah kaca untuk pembibitan tanaman juga mengandung berbagai macam bahan kimia yang dapat merusak kesehatan, belum lagi robeknya lapisan ozon, hujan asam, peracunan udara, air dan dasar bumi dan sebagainya. Penyebab utama krisis ekologi adalah keserakahan manusia yang pernah diungkapan sebagai mendapat laba
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM
101 ekonomis melalui rugi ekologis. Mahatma Gandhi menyatakan,“Bumi ini mempunyai cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, namun tidak cukup untuk memenuhi keserakahan semua orang.”
Sumber-sumber alam secara global cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar semua orang, apabila dimanfaatkan secara bijak dan didistribusikan secara adil. Kecukupan bagi semua orang harus didahulukan ketimbang kelimpahan bagi segelintir orang (Darmaputera 1996, 128).
Perusakan lingkungan hidup mempunyai banyak sebab. Polusi dari industri dan kendaraaan bermotor merupakan salah satu sebab yang ditemukan di mana-mana. Ada juga sebab yang berlaku khusus untuk suatu wilayah tertentu. Sampai sekarang kita mendapat kesan bahwa persoalan spesifik bagi Indonesia di bidang lingkungan hidup adalah penebangan hutan tropis (dengan izin maupun liar) dan kebakaran hutan yang hampir setiap musim kemarau terjadi di beberapa tempat. Tanah air kita sebagai negara kepulauan dulu dianggap diganggu oleh penebangan hutan bakau yang secara alamiahmelindungi keutuhan pantai di belakangnya. Kini kita menyadari bahwa ada sebab lebih dahsyat lagi, yaitu pengerukan pasir laut yang menghilangkan ratusan hektar tanah dari tujuh pulau kecil di Kalimantan Timur dan merusak seluruh ekosistem di sekitarnya sehingga para nelayan pun banyak dirugikan, karena menangkap ikan menjadi semakin sulit (Bertens 2004, 213-214). Sekaligus kita dengar bahwa cara merusak ini sudah berlangsung lama dan tidak sebatas Kalimantan Timur saja.
Di Kepulauan Riau rupanya sebelumnya sudah terjadi hal yang sejenis. Tenggelamnya Pulau Nipah disebut sebagai contohnya. Di daerah perbatasan ini akibat perusakan jelas lebih parah lagi sebab selain pengaruh destruktif atas lingkungan hidup, hilangnya pulau,timbulnya persoalan territorial.
Sebuah pulau berperanan pula sebagai titik pangkal penentuan batas RI dengan negara-negara tetangga.
Pada bulan Juni 1992, di Rio de Janairo, Brazilia, diselenggarakan KTT Bumiyang dihadiri oleh hampir seluruh Kepala Negara di dunia. KTT tersebut mencetuskan tekad untuk menyelamatkan bumi dari malapetaka yang bakal datang oleh ulah manusia. Bersamaan dengan KTT tersebut, diselenggarakan pula pertemuan tokoh-tokoh agama yang terkenal di dunia: Katolik, Protestan, Islam, Buddha dan Yahudi. Tokoh agama tersebut secara bersama-sama mengaku dosa mereka atas kealpaan mereka selama ini. Mereka mengaku bahwa selama ini mereka sibuk dengan pertentangan dan pertengkaran di antara mereka untuk memperebutkan anggota-anggota, sedangkan masalah bumi yang tercemar sangat diabaikan. Mereka bertekad untuk memperbarui komitmen. Mereka sepakat untuk bekerja sama seerat-eratnya untuk mencari jalan bagaimana caranya menyelamatkan “Ibu Bumi”
yang setia mengayomi dan merangkul anak-anaknya, kendati anak-anaknya telah memperkosanya selama bertahun-tahun.