Bergaul yang baik
A. Menelusuri konsep bergaul
Manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa hubungan dengan orang lain. Oleh sebab itu, adanya individu-individu lain merupakan suatu keharusan. Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang selalu akan hidup dalam suatu hubungan keterikatan dengan individu lainnya. Seorang manusia selalu membutuhkan pergaulan dengan manusia lainnya agar dapat mencapai taraf tingkah laku manusia.
Dalam perkembangan usia, pola hubungan seseorang juga berkembang. Pola itu jelas pada usia remaja dan terus bertahan sampai usia lanjut. Pola itu terdiri atas lima dimensi (Ismail 2007, 109).
Pertama, dimensi persamaan. Kita memilih teman yang mempunyai persamaan dalam kepribadian, nilai-nilai hidup, perilaku, minat dan latar belakang. Kedua, dimensi timbal balik. Kita mencari teman yang bisa saling mengerti, saling percaya, saling tolong, saling mengakui keunggulan dan saling memaklumi kelemahan masing-masing. Ketiga, dimensi kecocokan. Kita berteman karena merasa cocok dan senang berada bersama dia. Keempat, dimensi struktur. Kita mencari teman yang berjarak dekat, mudah dihubungi dan bisa langgeng. Kelima, dimensi model. Kita berteman karena kita respek dan mengagumi kualitas kepribadiannya.Sejalan dengan berkembangnya kemampuan, kematangan dan kebutuhan, pola hubungan antarorang berkembang dalam tujuh tahap. Adapun ketujuh tahap tersebut adalah: tahap bayi, tahap anak kecil (3-6 tahun), tahap anak besar (6-12 tahun), tahap remaja dan pemuda (12-25 tahun), tahap dewasa muda (25-40 tahun), tahap dewasa (40-65) dan tahap usia lanjut.
Tahap bayi. Bayi berusia setahun terheran-heran melihat bayi lain. Biasanya ia melihat orang dewasa, tiba-tiba ia melihat makhluk kecil. Ia tertarik padatemannya dengan cara meraba, menyentuh atau memukul. Ia ikut menangis ketika temannya menangis. Menjelang usia dua tahun ia bisa menghibur temannya dengan cara membelai atau memberikan mainan. Bayi yang sekali-kali didekatkan pada bayi lain belajar berteman.
Tahap anak kecil (3-6 tahun). Pada tahap ini anak hanya melihat dari sudut pandang dan kepentingannya sendiri. Ia mengukur teman dari faktor kebendaan. Katanya, “Si Daniel temanku, ia punya sepeda merah.” Pada usia ini perangai mulai tampak. Anak yang menerima cukup kehangatan, pujian, dan perlakuan baik dari orang tuanya akan lebih terbuka dan berprakarsa mendekati teman.
Sebaliknya, ada anak yang malu dan ragu-ragu, bahkan bermasalah, misalnya merasa terancam, curiga, iri, merampas, menjerit, mengejek atau membentak.
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM
122 Tahap anak besar (6-12 tahun). Keberhasilan atau kegagalan berteman pada tahap ini akan mewarnai hidup kita seterusnya. Pergaulan dengan teman pada tahap ini membentuk kepribadian kita.
Ketika ada teman yang lebih pandai, apakah kita ikut bangga ataukah mendengki? Di sinilah letak faedah utama bersekolah. Anak yang mendapat ilmu secara pribadi di rumah,mungkin akan menjadi orang dewasa yang hipersensitif terhadap ejekan, kelakuan iseng dan persaingan, atau menjadi orang dewasa yang cuma mau menang sendiri, sulit bergaul dan sulit bekerja sama.
Tahap remaja dan pemuda (12-25 tahun). Pada tahap ini kita membentuk jati diri sambil menjauhkan diri dari pengaruh orang tua, sehingga pengaruh teman menjadi dominan. Tanpa teman kita merasa kurang percaya diri. Demi memelihara persahabatan, kita meniru perbuatan teman dan menaati seluruh suruhannya. Akibatnya kita kurang kritis dalam memilih teman. Kita mengalami sejumlah ambivalensi. Di satu pihak kita merasa mandiri, di lain pihak kita merasa bergantung, terutama pada teman. Di satu pihak, kitatidak mau diatur oleh orang tua, tetapi pada kenyataannya kita justru diatur oleh teman.
Tahap dewasa muda (25-40 tahun). Jumlah kawan kita memuncak pada usia ini karena teman di lingkungan perumahan, kantor, gereja dan sesama orang tua anak di sekolah. Biasanya pada usia ini kita sulit mempunyai intimasi karena tidak mau mencampuri urusan pribadi teman. Pergaulan yang sehat ditandai oleh teratasinya kesulitan itu, sehingga kita bisa intim dengan kawan, namun tidak mencampuri urusan pribadinya. Mereka yang sudah menikah juga akan menikmati “persahabatan ganda,” yaitu dua pasang suami-istri yang cocok satu sama lain.
Tahap dewasa (40-65 tahun). Pada tahap ini kita cenderung sibuk dengan kepentingan sendiri, karena kita berada pada puncak karier. Kita tidak mendapat banyak teman baru, kecuali tetangga atau teman organisasi.
Tahap usia lanjut. Pada usia ini biasanya jumlah teman berkurang namun mutu persahabatan menjadi lebih matang dan murni. Dengan teman segolongan usia, kita bisa saling ikut merasakan dan saling menopang dalam suka maupun duka. Sedangkan dengan teman yang lebih muda kita bisa menjadi sumber hikmat dan bijak dalam menghadapi persoalan sehari-hari, karena kita telah mengalami semua itu.
Manusia selalu akan terlibat dalam pergaulan. Pergaulan bila disorot secara khusus akan memberikan gambaran yang berbeda-beda dari segi kualitas waktu, misalnya, pergaulan yang hanya bersifat sementara, meliputi jangka waktu yang pendek dan yang meliputi jangka panjang. Demikian pula, sifat pergaulan tidak selalu sama. Ada pergaulan yang menggambarkan hubungan reaktif saja, seolah-olah antara dua individu atau lebih hanya terjalin hubungan bagaikan tanya jawab saja. Ada
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM
123 pula pergaulan yang individu-individunya aktif dan kreatif menciptakan hubungan, masing-masing individu saling memajukan taraf kehidupannya, dan saling menyempurnakan martabatnya.
Pergaulan merupakan suatu hubungan yang meliputi tingkah lebih dari seorang individu (Gunarsa dan Gunarsa 1997, 36). Pergaulan merupakan suatu hubungan antarmanusia yang tidak dapat dihindarkan. Pergaulan ini acap kali menimbulkan persoalan sehingga justru menimbulkan kesulitan bagi orang yang bersangkutan. Pergaulan yang mengakibatkan timbulnya kesulitan, kurang membantu kelancaran hidup bahkan menimbulkan keguncangan jiwa yang menghambat dan merugikan perkembangan individu yang bersangkutan. Pergaulan yang sebenarnya diperlukan demi penyempurnaan martabat manusia, tidak selalu mengarah ke kehidupan yang positif dalam rangka pembangunan mental, akan tetapi sebaliknya sering berakibat negatif dan menghambat kelancaran hidup sosial. Pergaulan yang matang, dewasa dan positif membantu kelancaran kehidupan sosial tidak mudah dicapai.Seni bergaul adalah cara bagaimana membuat diri kita disukai oleh sesama (Selan 1991, 103). Keinginan untuk disukai merupakan kodrat manusia. Oleh sebab itu, manusia mencurahkan segenap akal budinya untuk menemukan cara- cara yang jitu agar dirinya disukai oleh banyak orang.
Faktor utama dalam memupuk seni bergaul adalah pengertian dari kita sendiri tentang pribadi orang lain. Sering terjadi kita tidak menyenangi seseorang, karena kita salah mengerti motif, kemampuan, sikap dan kepribadian orang tersebut.
Hubungan antarpribadi yang baik akan meningkatkan nilai dan arti dari seseorang. Hubungan tersebut akan menghasilkan kepuasan bagi mereka yang tahu seni bergaul. Untuk meningkatkan seni bergaul, Anda perlu memerhatikan empat belas pedoman berikut ini (Selan 1991, 104-105). Pertama, dalam pergaulan pada setiap individu perlu adanya keterbukaan diri: melalui pertimbangan menerima apa yang diberikan oleh orang lain dalam bentuk pendapat dan pandangan. Keterbukaan mengharuskan kita berhubungan dengan orang lain tanpa bersembunyi di balik topeng. Keterbukaan merupakan kunci menuju persahabatan (Kesler 1994, 975). Kedua, melihat seseorang sebagaimana Tuhan memandangnya. Ketiga, mengenal individu lain sebagai seorang individu yang lain yang tidak sama dengan diri kita sendiri. Mengenal individu lain berarti berusaha mengetahui sifat-sifat, sikap, pandangan dan latar belakangnya yang telah membentuk individu lain itu dan yang mendasari kepribadiannya maupun tingkah lakunya. Sering kali usaha mencari latar belakang sebab-sebab yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan tidak tercapai. Usaha membuka tabir rahasia yang menyelubungi seseorang tidak selalu dan tidak sepenuhnya berhasil. Keempat, mengerti bahwa individu lain memiliki ciri khas, sifat khusus dan latar belakang masing-masing. Adanya perbedaan ini tidak berarti bahwa perbedaan tersebut perlu diubah dengan maksud agar orang lain
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM
124 dipaksa menyamakan dirinya dengan diri kita. Kita perlu menerima individu lain dengan kekhususannya, dalam arti masih dalam batas-batas wajar dan dapat diterima oleh umum. Kelima, memerhatikan orang lain dalam berbagai keadaan. Keenam, ambillah waktu untuk bersahabat dengan dia dan membiarkan dia berbicara tentang hobinya serta problemnya, teman-temannya dan pokok-pokok yang menarik baginya. Ketujuh, memahami faktor psikologis yang mendorong kelakuannya.
Mengapa seseorang bertindak demikian? Dengan mengerti keadaan psikologisnya, kita lebih dapat menerima orang lain sebagaimana adanya. Kedelapan, berusaha untuk menghindari sifat atau sikap yang kurang menyenangkan seseorang. Kesembilan, perbuatlah apa yang menurut pendapat Anda harus diperbuat orang lain kepada Anda. Kesepuluh, setiap orang mendambakan pujian. Usaha
manusia yang terbesar adalah untuk mendapatkan pujian. Alasannya, tentu saja, adalah bahwa pujian yang tulus membuat kita merasa diterima, menambah keyakinan diri kita dan membantu menghilangkan keragu-raguan kita. Pujian adalah ungkapan penghargaan yang diberikan secara tulus, tanpa pamrih untuk kepentingan pribadi. Memberikan pujian selalu lebih efektif daripada kritik. Pujian menghasilkan banyak perbuatan baik daripada keluhan. Manusia bertindak lebih baik sebagai reaksi terhadap pujian yang positif daripada terhadap ucapan yang negatif. Pujian sebaiknya jangan dimentahkan dengan kata tetapi, “Pekerjaan Anda bagus sekali, dan saya sangat menghargainya, tetapi ada satu hal yang tidak Anda lakukan secara benar.”
Kata “tetapi” ini menghilangkan semua kegembiraan dan menghilangkan efektivitas pujian.
Orang yang tidak menerima diri sendiri, atau yang sebenarnya tidak menyukai diri sendiri, sulit untuk memberikan pujian (Osborne 1996,13). Kesebelas, hindarilah perbantahan. Ini bukan berarti menjadi, yes-man, melainkan bahwa Anda terlalu bijaksana untuk terseret dalam perbantahan yang sia-sia, yang tidak seorang pun akan menang. Keduabelas, jangan merusak kesenangan orang lain. Salam yang hangat,pujian atau penghargaan dapat memberikan kesenangan dan membuat seseorang merasa enak sepanjang hari. Ketigabelas, bersahabatlah dengan pemuda atau pemudi yang akan membawa Anda ke hidup yang baik, jangan yang jahat. Keempat belas, pupuklah rasa humor. Rasa humor dapat membuat suasana gembira dan santai. Banyak konflik dan ketegangan dalam pergaulan dapat diatasi dengan sikap yang suka humor. Humor haruslah yang sopan, dan tidak berkesan menghina, menyindir, atau mengejek orang lain.
Humor yang sehat dapat mempererat persahabatan, tetapi humor yang kasar dapat merusak pergaulan yang baik (Fances 1993, 84). Hati-hatilah! Seorang sahabat adalah dia yang menerima kita sebagaimana adanya. Ia menyelami kelemahan kita dan rela menolong kelemahan itu. Sekaligus ia mengagumi keunggulan kita dan mau memetik pelajaran dari keunggulan itu. Hanya orang yang berjiwa besar bisa bersikap bersahabat. Ia bersih dari iri dan dengki. Ia sama sekali tidak punya pikiran
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM
125 untuk menjegal dan menjatuhkan kita. Ia beriktikad baik. Yang diinginkannya terjadi pada kita adalah hal yang terbaik untuk kepentingan kita.
Mendapatkan sahabat bukanlah perkara yang mudah. Oleh sebab itu, kita perlu mengetahui cara mendapatkan sahabat dengan mudah. Bagaimanakah Anda mendapatkan sahabat dengan mudah? Berikut ini ada beberapa hal praktis yang dapat menolong Anda mendapatkan sahabat dengan mudah:
1) Memusatkan perhatian Anda pada orang lain. Pikirkanlah tentang bagaimanakah Anda dapat menolong mereka.Jika berbicara dengan orang lain, janganlah berbicara diri Anda.
Tunjukkanlah bahwa Anda menikmati kehadiran mereka.
2) Menghargai orang lain. Belajarlah untuk membuat orang lain berharga. Perlakukanlah mereka sebagai gambar dan rupa Allah yang sama dengan Anda. Penampilan, kedudukan sosial dan keadaan ekonomi bukanlah dasar penghargaan kita. Hargailah mereka sebagai ciptaan Allah.
3) Mengubah cara berpikir tentang orang lain. Kecurigaan adalah senjata yang ampuh untuk melumpuhkan atau memutuskan tali persahabatan. Berpikiran negatif tentang orang lain akan mendorong tindakan yang negatif pula.
4) Mencari orang yang terlantar dan sedih. Dunia penuh dengan orang yang tidak mempunyai teman, orang yang menderita kesakitan dan yang menjadi korban kekejian orang lain sehingga mereka penuh dengan dendam.
Dengan menerapkan keempat hal di atas, tentu kita dapat mendapatkan sahabat dengan mudah. Bagaimana bersahabat dengan seteru? Benyamin Franklin pernah berkata, “Kasihilah musuhmu sebab ia yang menunjukkan kesalahan- kesalahanmu. Tuhan Yesus Kristus mengajar para pengikut-Nya: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44).
Bagaimanakah perintah ini dapat terwujud dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai pengikut-pengikut Yesus Kristus? Berikut ini beberapa hal praktis yang dapat menolong Anda bersahabat dengan seteru:
1) Pusatkan perhatian Anda pada bagaimana Anda dapat menolong mereka. Hal yang pasti mereka butuhkan adalah seorang sahabat. Salah satu kebutuhan yang mendasar dari manusia ialah untuk bersosialisasi, yaitu bergaul dengan sesama. Bantulah musuh Anda dan lakukanlah itu seperti Anda melakukannya bagi Tuhan. Pikirkanlah tentang yang sedang dikerjakan oleh Tuhan dalam hidupnya. Selanjutnya, pikirkanlah tentang bagaimanakah Anda dapat memupuk persahabatan dan bagaimana musuh Anda dapat memanfaatkan persahabatan Anda dan bukan berpikir tentang manfaat atau keuntungan yang Anda harapkan dari persahabatan Anda dengan dia.
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM
126 2) Daftarkanlah kebaikan-kebaikan yang Anda lihat dari orang yang kurang menyenangkan hati
Anda. Setiap manusia yang diciptakan Tuhan mempunyai kebaikan. Sejahat-jahatnya seseorang, di dalam lubuk hatinya tersimpan kebaikan yang belum sempat dinyatakan.
3) Bawalah mereka yang pernah menyakiti hati Anda kepada Tuhan dalam doa. Mengucap syukurlah kepada Tuhan atas apa yang menyenangkan dalam pribadi mereka serta memohon berkat dan pertolongan Tuhan bagi mereka. Kemudian, nikmatilah sukacita dariTuhan. Anda telah taat kepada firman Tuhan untuk mengasihi musuh Anda.
B menjadi sahabat sejati
Simaklah kisah persahabatan antara Andar Ismail dan Syarif yang dikisahkan oleh Andar Ismail dalam bukunya yang berjudul Selamat Panjang Umur (Ismail 1995, 49-53). Andar Ismail menceritakannya sebagai berikut.
Apa yang dapat diperbuat seseorang untuk memelihara kenangan tentang seorang sahabat lama yang sudah sekian tahun hilang jejaknya? Yang saya perbuat adalah mengabadikan nama sahabat itu pada nama anak sendiri. Begitulah ketika anak kami lahir, tanpa ragu-ragu kami menamakan dia Syarif, yaitu nama seorang sahabat saya di kelas 5 Sekolah Dasar Kristen di Bandung.
Sebenarnya ada banyak perbedaan antara Syarif dengan saya. Syarif tinggal di rumah besar, berlantai dua, terbuat dari tembok dan terletak di tepi jalan raya. Sebaliknya rumah saya kecil, terbuat dari bilik bambu dan terletak pinggir gang. Syarif anak keluarga dokter dan bergelar raden, sebaliknya orang tua saya orang bersahaja. Syarif beragama Islam, saya beragama Kristen. Syarif orang Jawa, saya orang Cina.
Segala perbedaan itu tidak kami rasakan. Tiap hari Syarif dan saya bermain dan membuat pekerjaan rumah bersama. Kami berdua menjadi ketua dan wakil ketua kelas. Kala menghadapi ulangan berhitung, Syarif yang mengajar saya karena dia juara kelas. Bila belajar sejarah dan ilmu bumi sayalah yang mengajar dia. Hasil ulangan cepat-cepat kami bandingkan. Kalau saya mendapat nilai buruk untuk berhitung (dalam kenyataannya memang hampir selalu begitu), Syarif tampak kecewa. Ketika saya menjadi juara untuk sejarah dan ilmu bumi, ia menepuk pundak saya dan memuji, “Hoe kan je nou zoveel weten?” (‘Bagaimana kamu bisa tahu sebanyak itu?’).
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM
127 Syarif sering datang ke rumah saya, kadang-kadang kami makan bersama. Saya masih ingat bagaimana dia mengerinyutkan dahi sambil memerhatikan makanan di piring lalu bertanya dengan nada gurau, “Zit er een varkentje in deze soep?” (‘Apa ada anak babi di sayur ini?’).
Lalu kami tertawa terbahak-bahak. Ibu saya pun ikut tertawa, sebab di piring itu sama sekali tidak ada daging apa-apa. Keluarga kami memang hampir tidak pernah makan daging, sebab harganya terlalu mahal. Saya pun sering datang ke rumah Syarif dan menginap di situ. Kami tidur seranjang dan mengobrol sampai larut malam. Dengan berbisik kami saling bertanya siapa teman perempuan yang kami senangi. Lalu kami tertawa bercekikikan dan cepat-cepat menaruh jari telunjuk di bibir sebagai janji saling menyimpan rahasia ini.
Pada suatu hari Syarif mendapat seekor anak ayam yang sangat mungil. Bulu ayam itu kuning dan terasa sangat halus, siang malam kami sibuk membuat kandang dan mengurus ayam itu.
Yang sulit adalah menyambung kawat dan memasang lampu untuk menghangatkan ayam itu.
Kalau ayam itu kedinginan, segera kami dekatkan lampu pada ayam itu. Kemudian ketikaayam itu kegerahan, kami jauhkan lampu itu. Beberapa hari kemudian kami mendapatkan ayam itu sudah kaku dan mati. Kami tersentak dan saling memandang. Lama kami duduk di depan kandang itu dengan kepala tertunduk. Syarif terdiam, saya pun begitu. Kami saling berpegangan. Lalu kami menangis bersama-sama.
Persahabatan menyatukan perasaan. Kita senang bersama dan sedih bersama. Persahabatan tumbuh dari keterbukaan dan rasa percaya. Kita merasa dekat. Kita saling mengagumi, tetapi ita berani berterus terang menegur kesalahan masing-masing. Kita saling membutuhkan, tetapi tidak saling memanfaatkan. Sahabat tidak membujuk, tetapi juga tidak menuntut. Antara sahabat tidak ada iri dan dengki. Keberhasilannya menjadi kebanggaanku, kegagalannya menjadi kekecewaanku. Sahabat saling mau mendengarkan, menyelami dan mengerti.
Sahabat saling peduli. Untuk bersahabat kita perlu berjiwa besar dan berhati ikhlas. Terhadap sahabat kita boleh mengeluarkan perasaan sebagaimana adanya, tanpa pura-pura ramah dan memasang senyum buatan. Persahabatan dipupuk oleh iktikad dari kedua belah pihak. Dalam persahabatan ada kedekatan. Atau dengan kata-kata Amsal: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” (Ams. 17:17)
Sahabat adalah sebuah kata yang tidak asing dalam hidup manusia. Kata ini mempunyai makna yang sangat mendalam. Setiap orang pasti membutuhkannya dan senantiasa berusaha mendapatkan sahabat, bahkan bila orang tersebut telah memilikinya, ia akan senantiasa memeliharanya. Menjadi sahabat bagi orang lain dan mempunyai seorang sahabat adalah sesuatu yang sangat berarti dan berharga dalam hidup seseorang, karena memang Sang Pencipta menata
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM
128 manusia untuk hidup bersama dengan orang lain. Bagi orang Inggris, arti seorang sahabat diungkapkan dalam sebuah pepatah: afriend in need is a friend indeed, artinya sahabat yang sejati ialah sahabat yang selalu siap menolong ketika seseorang memerlukannya (Chandra 2006, 97).
Alasan utama mengapa orang sulit menjalin persahabatan adalah kenyataan bahwa mereka tidak pernah benar-benar menerima diri mereka sendiri. Jika kita tidak menerima diri kita sendiri, kita akan mendapatkan kesulitan untuk menerima orang lain, dan kebiasaan negatif ini akan tercermin dalam hubungan kita. Untuk membangun persahabatan ada tujuh prinsip berikut ini yang perlu diperhatikan. Pertama, perhatikan setiap orang baru di sekitar Anda. Kedua, kembangkan ekspresi yang membuat suasana ceria. Ketiga, berlatih menyapa orang dengan nama. Keempat, ajukan pertanyaan yang tepat. Kelima, menjadi pendengar yang baik. Keenam, jangan congkak dan merasa lebih baik dari orang lain. Apakah Anda pernah bertemu dengan orang yang gila hormat? Ia tentu ingin dikenal sebagai orang istimewa dan penting, bukan orang sembarangan. Pasti selalu ingin mendapat kesempatan menceritakan kehebatan, kekayaan dan lain- lain yang lebih meninggikan dirinya. Setelah beberapa saat, pasti ia tidak berkesempatan lagi. Setiap orang mulai menghindari sejauh-jauhnya. Dari pengalaman itu, bersikaplah biasa. Meskipun mungkin Anda merasa memiliki kemampuan-kemampuan yang lebih daripada biasanya, hendaknya jangan congkak dan merasa lebih baik dari orang lain.
Ketujuh, hendaknya sopan santun dalam tingkah laku.
Persahabatan yang baik berawal dari perkenalan dengan orang yang memiliki suatu persamaan dengan kita. Ada daya tarik timbal balik. Anda senang berada bersama-sama dengannya.
Anda merasa orang yang lain itu menyegarkan, memberi dorongan dan menyenangkan. Anda melihat dia mau mendengarkan Anda, memberi dorongan yang tepat kepada Anda.
Persahabatan pun tumbuh. Persahabatan itu memerlukan waktu. Anda mungkin bertemu seseorang dan segera berhubungan. Sebelum hubungan itubisa tumbuh menjadi persahabatan yang sungguh, Anda harus saling mengenal selama suatu jangka waktu. Persahabatan jangan seluruhnya bergantung pada perasaan. Perasaan memang penting, tetapi jengkel atau kecewa terhadap seseorang jangan sampai merusak hubungan itu. Kita hendaknya tidak membuang atau mematikan persahabatan hanya karena ternyata tidak semuanya menyenangkan. Jika Anda berpikir untuk menjalin persahabatan, ketahuilah bahwa tidak semua orang ingin menjadi sahabat Anda. Orang mempunyai kebebasan untuk membuat pilihan itu. Jikalau Anda berusaha memaksakan persahabatan, akan timbul masalah. Persahabatan harus tercipta dengan sukarela. Adapun ciri-ciri persahabatan yang baik adalah sebagai berikut.
Pertama, persahabatan yang baik tidak mementingkan diri sendiri. Amsal 17:17 mengatakan bahwa “seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu.” Seorang sahabat yang berkata, “Aku
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM
129 mengasihimu jika ...” atau “Aku mengasihimu bila ...” bukan sahabat seperti yang dilukiskan oleh Alkitab.Sahabat sejati akan berkata, “Aku mengasihimu setiap waktu.” Kasihku tidak bersyarat dan tidak mementingkan diri sendiri.
Kedua, persahabatan sejatibersifat teguh. Jika Anda ingin sungguh-sungguh mengetahui berapa banyak sahabat yang Anda miliki dan siapa mereka, buatlah kesalahan dan lihatlah apa yang terjadi. Setelah Anda mengalami kesulitan, coba lihat berapa banyak sahabat Anda yang masih setia kepada Anda? Persahabatan sejati itu teguh.
Ketiga, persahabatan sejati bersedia berkorban. Kalau Anda ingin menjadi sahabat, Anda harus hidup dengan bersedia berkorban bagi orang yang menerima persahabatan Anda. Keempat, persahabatan sejati bersifat menyucikan. Amsal 27:17 berkata, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” Seorang sahabat sejati akan menjadikan Anda orang yang lebih baik.
Persahabatan sejati membuat hidup Anda lebih maju, mempertajam kecerdasan Anda dan membuat Anda lebih giat. Anda akan menjadi orang yang lebih baik dan lebih berguna karena persahabatan itu.
Persahabatan sejati tidak akan menumpulkan kerohanian Anda. Seorang sahabat sejati adalah orang yang cukup peduli sehingga ia akan menegur Andabila Anda salah. Alkitab berkata dalam Amsal 27:6, “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.”
Kita harus membangun persahabatan dengan orang-orang non-Kristen juga. Ini hendaknya tidak merupakan hubungan dengan maksud penginjilan (persahabatan demi satu jiwa), melainkan persahabatan karena kita benar-benar mengasihi orang-orang tersebut. Bila Anda mempunyai sahabat orang-orang non- Kristen, Anda perlu bertanya kepada diri Anda sendiri, apakah persahabatan ini memungkinkan Anda tetap dekat dengan Tuhan atau dapat memisahkan Anda dari Tuhan. Jikalau Anda mulai melihat bahwa persahabatan Anda dengan seorang non-Kristen tertentu menjauhkan Anda dari Tuhan, Anda harus melakukan sesuatu.
Pertama, sahabat sejati adalah sahabat yang bersedia mendengarkan segala macam cerita dan keluh kesah sahabatnya. Oleh sebab itu, jadilah pendengar yang baik untuk sahabat-sahabat Anda. Jika mereka membutuhkan masukan, berilah pendapat Anda secara perlahan-lahan tanpa bersikap menggurui.
Kedua, belajarlah menghargai segala macam perbedaan sifat sahabat Anda. Ingat setiap orang memiliki berbagai macam kepribadian yang berbeda. Cobalah mengerti bagaimana karakter sahabat Anda. Jika Anda mengalami perbedaan pendapat, selesaikanlah masalah tersebut dengan baik-baik.
Sebab, semua masalah pasti ada jalan keluarnya.