BAB II TINJAUAN PUSTAKA
E. Menetapkan Tujuan Laba
Menurut Carter dan Usry (2005:4-5), Pada dasarnya, tiga pendekatan yang berbeda dapat diikuti dalam menetapkan tujuan laba. Dalam metode priori, tujuan laba mendominasi perencanaan. pertama-tama manajemen menentukan tingkat pengembelian yang diinginkan dan berusaha untuk merealisasikannya melalui perencanaan. Dalam metode posteriori, tujuan laba berada dibawah perencanaan dan didentifikasikan sebagai hasil dari perencanaan. Dalam metode pragmatis, manajemen menggunakan suatu standar laba yang telah diuji dan dibuktikan melalui pengalaman.Dalam menentukan tujuan laba, manajemen sebaiknya mempertimbangkan faktor-faktor berikut:
a. Laba atau rugi yang diakibatkan dari volume penjualan tertentu.
b. Volume penjualan yang diperlukan untuk menutup semua biaya plus menghasilkan laba yang mencukupi untuk membayar dividen serta menyediakan kebutuhan bisnis masa depan.
c. Titik impas.
d. Volume penjualan yang dapat dicapai dengan kapasitas operasi sekarang.
e. Kapasitas operasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan laba.
f. Pengembalian atas modal yang digunakan.
Publik dan tanggung jawab sosial mengharuskan perusahaan untuk mempertimbangkan konsekuensi sosial dari tujuan laba yang semakin banyak tindakan yang dievaluasi dalam mempertimbangkan komsumsi dalam sumber daya ekonomi.
F. Laba kontribusi ( marjin kontribusi)
Laba kontribusi merupakan kelebihan pendapatan penjualan diatas biaya variabel, informasi laba kontribusi memberikan gambaran jumlah yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan untuk menghasilkan laba semakin besar kontribusi semakin besar kesempatan yang diperoleh perusahaan yang menutup biaya tetap dan untuk menghasilkan laba. Laba kontribusi perunit merupakan laba kontribusi laba dibagian volume penjualan dalam perusahaan yang menghasilkan lebih dari semacam produk. Jika informasi laba kontrribusi perunit dihubungkan dengan penggunaan sumber daya yang langkah dan manajemen yang akan memperoleh informasi kemampuan berbagai macam produk untuk menghasilkan laba.
Informasi ini memberikan landasan bagi manajemen dalam pemilihan produk yang mampu menghasilkan laba tertinggi dalam memanfaatkan sumber daya yang langkah.
Konstribusi margin merupakan analisis biaya-volume-laba bagian dari manajemen akuntansi terhadap margin keuntungan dalam penjualan per unit dan berguna dalam melaksanakan berbagai perhitungan atau digunakan sebagai ukuran kepengaruhan operasional.
Laba kontribusi atau Margin kontribusi adalah selisih antara pendapatan penjualan dengan semua biaya variabel. Margin kontribusi dihitung dengan cara mengurangkan biaya variabel, baik produksi maupun nonproduksi, dari penjualan.
Dalam perhitungan biaya langsung, margin kontribusi dapat dihitung secara total untuk perusahaan secara keseluruhan, atau terpisah untuk masing-masing lini
produk, teritori penjualan, divisi operasi dan lain-lain “(Carter dan Usry, 2005:257-258)”.
Contribution Margin menurut Bustami dan Nurlela (2006:211) menyatakan bahwa margin kontribusi adalah pengurangan total penjualan dengan total biaya variabel.
Menurut Carter dan Usry (2005:257-258), Marjin kontribusi adalah selisih antara pendapatan penjualan dengan semua biaya variabel. Marjin kontribusi dihitung dengan cara mengurangkan biaya variabel baik produk maupun non-produksi dari penjualan. Dalam perhitungan biaya langsung. Marjin kontribusi dapat dihitung secara total untuk perusahaan secara keseluruhan atau terpisah untuk masing-masing lini produk, teritori penjualan, divisi operasi dll. Sebagai alternatif, margin kontribusi juga dapat dihitung dengan dasar per-unitPerhitungan biaya langsung menfokuskan pada biaya yang diakibatkan oleh aktivitas produksi dan tingkatannya yang berubah-ubah. Fokus ini diarahkan dalam dua cara : untuk penggunaan internal dari hubungan biaya tetap variabel dan konsep margin kontribusi dan untuk penggunaan eksternal dalam perhitungan biaya persediaan, dalam menentukan laba, dan dalam pelaporan keuangan.
Menurut Rusdi Akbar (2012:285), Hubungan antara biaya, volume dan laba disebut dengan marjin kontribusi. Marjin kontribusi adalah selisih antara pendapatan dan penjualan di atas biaya variabel. Marjin kontribusi dapat digunakan untuk menutup biaya tetap perusahaan. kelebihannya dapat ditambahkan secara langsung pada pendapatan operasional perusahaan.
G. Volume Penjualan
Volume penjualan merupakan faktor yang mempengaruhi besarnya modal kerja maupun komponen-komponen modal kerja. Dari defenisi di atasdapat disimpulkan bahwa suatu perusahaan menanamkan sebagian daridananya dalammodal kerja karena modal kerja diperlukan untuk menunjangkegiatan operasional yang bertumpuh pada penjualan. Dalam penjualan itu dipengaruhi oleh beberapa faktorsebagai berikut:
1. Kondisi dan Kemampuan Penjual.
Transaksi jual-beli atau pemindahan hak milik secara komersial atasbarang dan jasa itu pada prinsipnya melibatkan dua pihak, yaitu penjual sebagai pihak pertama dan pembeli sebagai pihak kedua. Disini penjual harusdapat menyakinkan kepada pembelinya agar dapat berhasil mencapai sasaran penjualan yang diharapkan. Untuk maksud tersebut penjual harus memahami beberapa masalah penting yang sangat berkaitan, yakni:
a. Jenis dan karakteristik barang yang ditawarkan.
b. Harga produk.
c. Syarat penjualan, seperti pembayaran, penghantaran, pelayanan sesudah penjualan, garansi, dan sebagainya.
2. Kondisi Pasar
Pasar, sebagai kelompok pembeli atau pihak yang menjadi sasaran dalam penjualan, dapat pula mempengaruhi kegiatan penjualannya. Adapun faktor-faktor kondisi pasar yang perlu diperhatikan adalah:
a. Jenis pasarnya.
b. Kelompok pembeli atau segmen pasarnya.
c. Daya belinya.
d. Frekuensi pembelian.
e. Keinginan dan kebutuhan.
3. Modal
Akan lebih sulit bagi penjualan barangnya apabila barang yang dijual tersebut belum dikenal oleh calon pembeli, atau apabila lokasi pembeli jauh dari tempat penjual. Dalam keadaan seperti ini, penjual harus memperkenalkan dulu membawa barangnya ketempat pembeli. Untukmelaksanakan maksud tersebut diperlukan adanya sarana serta usaha, seperti: alat transport, tempat peragaan baik didalam perusahaan maupun diluar perusahaan, usaha promosi, dan sebagainya.
Semua ini hanya dapat dilakukan apabila penjualan memiliki sejumlah modal yang diperlukan untuk itu.
4. Kondisi Organisasi Perusahaan.
Pada perusahaan besar, biasanya masalah. penjualan ini ditangani oleh bagian tersendiri (bagian penjualan) yang dipegang orang-orang tertentu/ahli dibidang penjualan.
5. Faktor lain.
Faktor-faktor lain, seperti: periklanan, peragaan, kampanye, pemberian hadiah, sering mempengaruhi penjualan. Namun untuk melaksanakannya, diperlukan sejumlah dana yang tidak sedikit. Bagi perusahaan yang bermodal kuat, kegiatan ini secara rutin dapat dilakukan. Sedangkan bagi perusahaan kecil
yang mempunyai modal relatif kecil, kegiatan ini lebih jarang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi volume penjualan antara lain:
a. Kualitas barang.
Turunnya mutu barang dapat mempengaruhi volume penjualan, jika barang yang diperdagangkan mutunya menurun dapat menyebabkan pembelinya yang sudah menjadi pelanggan dapat merasakan kecewa sehingga mereka bisa berpaling kepada barang lain yang mutunya lebih baik.
b. Selera konsumen.
Selera konsumen tidaklah tetap dan dia dapat berubah setiap saat, bilamana selera konsumen terhadap barang-barang yang kita perjualkan berubah maka volume penjualan akan menurun.
c. Pelayanan terhadap pelanggan
Merupakan faktor penting dalam usaha memperlancar penjualan terhadap usaha dimana tingkat persaingan semakin tajam. Dengan adanya pelayanan yang baik terhadap para pelanggan sehingga dapat meningkatkan volume penjualan.
6. Persaingan menurunkan harga jual.
Potongan harga dapat diberikan dengan tujuan agar penjualan dan keuntungan perusahaan dapat ditingkatkan dari sebelumnya. Potongan harga tersebut dapat diberikan kepada pihak tertentu dengan syarat-syarat tertentu pula.
Ada beberapa usaha untuk meningkatkan volume penjualan, di antaranya adalah :
a. Menjajakan produk dengan sedemikian rupa sehingga konsumen melihatnya.
b. Menempatkan dan pengaturan yang teratur sehingga produk tersebut akan menarik perhatian konsumen.
c. Mengadakan analisa pasar
d. Menentukan calon pembeli atau konsumen yang potensial.
e. Mengadakan pameran
f. Mengadakan discount atau potongan harga.
H. Analisis biaya volume laba
Analisis biaya volume laba (cost volume profit analysis/CVP) berkaitan dengan Penentuan volume penjualan dan bauran produk yang diperlukan untuk mencapai tingkat laba yang diinginkan. Analisis ini merupakan alat yang menyediakan informasi bagi manajemen mengenai hubungan antara biaya, laba bauran produk, dan volume penjualan. CVP didasarkan pada asumsi berikut ini:
bahwa semua biaya dapat dipisahkan menjadi bagian yang variabel dan bagian yang tetap, dan bahwa total biaya tetap adalah konstan sepanjang rentang analisis, dan total biaya variabel berubah secara proporsional terhadap perubahan dalam volume (biaya variabel perunit adalah konstan sepanjang tentang yang relevan)”(Carter dan Usry 2005: 271-272)”.
Analisis biaya volume laba merupakan alat bantu untuk memahami hubungan timbal balik antara biaya volume dan laba dalam organisasi. Oleh karena itu, untuk menggunakan analisis ini diperlupakan informasi berupa data
biaya dan harga jual. Melalui kombinasi harga jual, volume yang dijual dan pengklasifikasian biaya, maka analisis biaya volume laba dapat dilaksanakan.
Manfaat Analisis Biaya-Volume-Laba dapat digunakan untuk Menurut, Bustami dan Nurlela (2006:207):
a. Mengetahui jumlah penjualan minimal yang harus diperahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugiaan.
b. Mengetahui jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh tingkat keuntungan tertentu.
c. Mengetahui seberapa jauh berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak menderita rugi.
d. Mengetahui bagaimana efek perubahan harga jual, biaya dan volume penjualan.
e. Menentukan bauran produk yang diperlukan untuk mencapai jumlah laba yang ditargetkan.
Analisis titik impas digunakan untuk menentukan tingkat penjualan dan bauran produk yang diperlukan hanya untuk menutup semua biaya yang terjadi selama periode tersebut. Titik impas adalah titik dimana biaya dan pendapatan adalah sama. Tidak ada laba maupun rugi pada titik impas. Karena CVP menentukan tingkat penjualan dan bauran produk yang diperlukan untuk mencapai target laba, maka analisis titik impas adalah kasus khusus CVP. Untuk mencapai titik impas, target laba adalah nol.
Meskipun manajemen biasanya merencanakan laba, titik impas menjadi pertimbangan. Jika penjualan jatuh dibawah titik impas, kerugian terjadi.
Manajemen Harus menentukan titik impas untuk menghitung margin pengaman, yang mengindikasikan berapa banyak penjualan dapat turun dari tingkat yang ditargetkan sebelum perusahaan mengalami kerugian. Margin pengaman adalah kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi kecukupan penjualan yang direncanakan. Tetapi data untuk CVP tidak dapat diambil langsung dari laporan laba rugi berdasarkan perhitungan biaya penyerapan penuh, karena dampak dari aktivitas atas biaya tidak dapat ditentukan secara langsung.
1. Membuat bagan titik impas
Titik impas dapat disajikan secara grafis dalam bagan titik impas, dimana garis biaya dan garis penjualan saling berpotongan pada titik impas. Data yang diperlukan untuk membuat bagan adalah penjualan, biaya tetap dan biaya variable”(Carter dan Usry,2005:275)”.
2. Analisis biaya volume laba untuk pengambilan keputusan
Data akuntansi yang terlibat, asumsi yang dibuat, cara data diperoleh, dan cara data yang dinyatakan adalah keterbatasan yang harus dipertimbangkan dalam CVP. Bagan titk impas pada dasarnya adalah analisis statis. Jumlah biaya tetap dan biaya variable, beserta kemiringan garis penjualan, hanya berarti dalam rentang aktivitas yang didefisikan dan harus didefisikan kembali untuk aktivitas diluar rentang yang relevan (Carter dan Usry,2005:278).
Margin kontribusi per dol penjualan, juga disebut sebagai rasio margin kontribusi (contribusition margin ratio-C/M) adalah bagian dari setiap dolar penjualan yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan menghasilkan laba”(Carter dan Usry,2005:273)”.
I. Kerangka Pikir
Pada PT. Suraco Jaya Abadi Motor Cab. Pallangga sebagai perusahaan swasta di daerah makassar Sul-Sel khususnya didaerah gowa yaitu cabangnya.
Perusahaan ini adalah perusahaan yang menjalankan usaha dalam bidang penjualan motor (dialer motor). Perusahaan ini hanya cabang dari makassar yang memiliki banyak cabang di berbagai kota di Makassar dan diluar kota Makassar.
KERANGKA FIKIR PT. SURACO JAYA ABADI
MOTOR
Volume penjualan
hh
Kontribusi margin
Laba Harga pokok penjualan (HPP)
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat Dan Waktu Penelitian
Untuk Memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, maka penulisan perusahaan industri PT. SURACO JAYA ABADI MOTOR CAB.
PALLANGGA Sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk penelitian selama kurang lebih dua bulan.
B. Metode Pengumpulan Data
Metode Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian lapangan (field research), yaitu kegiatan penelitian lapangan, dimana penulis mencari data yang menjadi objek penelitian, untuk itu penulis melakukan pengamatan setempat dan wawancara langsung dengan pimpinan serta beberapa karyawan perusahaan yang disajikan mengumpulkan informasi yang diperlukan.
2. Penelitian pustaka (libraryresearch), yaitu penulis mengumpulkan data yang berhubungan dengan teori tentang penentuan dan pencatatan penilaian persediaan barang dagangan pengendalian perluasan usaha dari buku literatur dan catatan perkuliahan. Disamping itu penulis mengumpulkan yang ada kaitannya dengan permasalahan yang akan dibahas dan dapat mendukung penulisan ini. Dengan penelitian pustaka akan diperoleh gambaran dalam menganalisis penentuan HPP yang diterapkan oleh perusahaan yang akan digunakan penyusunan Skripsi ini.
27
Disamping itu penulis mengumpulkan data yang ada kaitannya dengan permasalahan dengan melalui cara sebagai berikut:
a. Pengamatan langsung (Observasi)
Yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan mengamati secara langsung objek penelitian dengan melihat kegiatan yang ada hubungannya dengan objek yang terkait dengan informasi pada perusahaan.
b. Wawancara (interview)
Yaitu tanya jawab secara langsung dengan bagian yang terkait dengan objek yang sedang diteliti yang ada didalam perusahaan tersebut.
Dalam wawancara tersebut penulis melakukan konsultasi dan tanya jawab langsung dengan orang yang berwewenang dalam instansi yang bersangkutan dari wawancara tersebut akan diperoleh data mengenai Harga pokok penjualan laba yang dimiliki oleh perusahaan, sejarah dan perkembangan perusahaan, struktur organisasi berikut uraian tugas serta pendapat mereka mengenai penentuan harga pokok penjualan laba dan laba kontribusi terhadap volume penjualan motor Yamaha dan biaya yang berkaitan dengan pemeliharaan volume penjualan motor Yamaha. Data yang diperoleh akan dianalisis untuk kemudian disimpulkan.
c. Kuesioner
Merupakan teknik pengumpulan data dengan cara membuat pertanyaan-pertayaan tertulis yang berkaitan dengan masalah yang diteliti kemudian diajukan penulis kepada pihak-pihak yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Kuensioner berisi pertanyaan mengenai penentuan
harga pokok penjualan (HPP) laba dan laba kontribusi terhadap volume penjualan motor Yamaha yang diterapkan oleh perusahaan yangakan digunakan untuk penyusunan Skripsi.
Data yang diperoleh akan diolah, dianalisis, dan diproses lebih lanjut dengan dasar-dasar teori yang telah dipelajari, sehingga akhirnya dapat disimpulkan yang menjawab permasalahan. Hal ini dilakukan untuk menyederhanakan analisis agar lebih mudah dipahami dan ditindak lanjuti.
C. Jenis Dan Sumber Data
1. Jenis data
a. Data Kualitatif yaitu data yang diperoleh dari hasil perusahaan baik dalam informasi secara lisan tertulis.
b. Data Kuantitatif yaitu data yang diperoleh dari perusahaan yang diteliti dalam bentuk angka-angka masih memerlukan pengelolaan kembali dan dapat digunakan untuk pembahasan lebih lanjut.
2. Sumber Data
a. Data primer yaitu data yang diperolah dengan cara mengadakan pengamatan langsung pada perusahaan industri PT. SURACO JAYA ABADI MOTOR CAB. PALANGGA mengadakan wawancara langsung yang membidangi tentang harga pokok penjualan yang mengenai tentang harga pokok penjualan dan laba kontribusi terhadap volume penjualan motor dengan kaitannya dengan penulisan Skripsi ini.
b. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari perusahaan industri PT. SURACO JAYA ABADI MOTOR CAB. PALLANGGA pada dokumen-dokumen dan buku literatur serta laporan tertulis dari luar yang ada hubungannya dengan penulisan Skripsi ini.
D. Metode Analisis
Dalam menganalisis masalah dan pembuktian hipotesis digunakan metode analisis deskriptif kuantitatif, yaitu Analisis yang melakukan perhitungan dengan angka-angka, yaitu dengan membandingkan tentang bagaimana pengaruh peningkatan harga pokok penjualan terhadap laba kontribusi dan penentuan harga pokok penjualan dan laba kontribusi terhadap volume penjualan yang ditetapkan oleh perusahaan PT. SURACO JAYA ABADI MOTOR CAB. PALLANGGA.
Dengan menggunakan perhitungan dalam penentuan harga pokok penjualan (HPP) dan laba kontribusi terhadap volume penjualan motor menggunakan rumus sebagai berikut ini:
1. Rumus perhitungan laba I = Yr - Ye
Ket :
I : Laba
Yr : Jumlah total penghasilan penjualan Ye : Jumlah total biaya
Sumber: Rudianto (2009,112)
2. Perhitungan harga pokok penjualan sebagai berikut:
TABEL 1 Harga Pokok penjualan
Pada PT.xxx
Harga Pokok Penjualan
Penjualan x Volume Penjualan...Rp xxx Persediaan awal... Rp xxx Pembelian... Rp xxx
Biaya angkut pembelian... Rp xxx + Rp xxx Retur pembelian... Rp xxx
Potongan pembelian... Rp xxx +
Rp xxx –
Pembelian bersih... Rp xxx + Barang yang tersedia untuk dijual... Rp xxx Persediaan akhir... Rp xxx – Harga pokok penjualan... Rp xxx
Sumber: Rudianto (2009,102)
3. Contribution marjin ratio : Contribution margin penjualan
Sumber: Rudianto (2009,111)
BAB IV
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
A. Sejarah Singkat PT. Suraco Jaya Abadi Motor Makassar
PT. Suraco Jaya Abadi Motor Makassar adalah suatu perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang penjualan kendaraan bermotor roda dua. Didirikan pada tanggal 1 Februari 1990 sesuai dengan Akte Pendirian Nomor 10 dari Kantor Notaris Ny. Pudji Redkji Irawati, SH dan Akte Perubahan Notaris Mahmud Said, SH Nomor 118 tanggal 22 September 1997. Dimana perusahaan berbentuk Perseroan Terbatas (PT) dengan komposisi saham Rizal Tandiawan 65% dan Jacky Purnama 35%. Sejak didirikan PT. Suracojaya Abadi Motor Makassar dengan status perusahaan sebagai main dealer untuk penjualan kendaraan bermotor roda dua merek Yamaha dengan wilayah pemasarannya meliputi hampir seluruh wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo. PT. Suracojaya Abadi Motor Makassar dalam pemasarannya mampu bersaing dengan dealer-dealer lain yang menjadi distributor kendaraan bermotor roda dua lainnya.
PT. Suracojaya Abadi Motor Makassar pada saat pertama didirikan berlokasi di jalan Sulawesi Nomor 84-86 Makassar dan pada tahun 1996 kantor tersebut telah resmi menjadi kantor cabang, kemudian pada tahun 1996 tersebut PT. Suracojaya Abadi Motor Makassar pindah ke kantor barunya di jalan andi Pangeran Pettarani. Dimana tersebut berfungsi sebagai kantor pusat sekaligus
32
show room untuk semua jenis kendaraan bermotor. Di kantor inilah seluruh penjualan dan service dilakukan.
PT. Suraco Jaya Abadi Motor adalah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan otomotif, yang memasarkan / mendistribusikan sepeda motor Yamaha ke berbagai wilayah di Sulawesi Selatan dan Barat. Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) di Indonesia PT. Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (PT. YIMM) dalam memasarkan produknya ke berbagai daerah di seluruh wilayah Nusantara memerlukan perpanjangan tangan , maka di tiap area ditunjuk satu agen yang kemudian disebut sebagai Main Dealer yang tujuannya untuk memasarkan produk YAMAHA.
Di area Sulawesi Selatan telah ditunjuk PT. Suraco Jaya Abadi Motor sebagai Main Dealer untuk mendistribusikan produk Yamaha di berbagai Kabupaten, di seluruh wilayah Sulawesi Selatan dan Barat.
Sebagai Main Dealer PT. Suraco Jaya Abadi Motor memiliki dealer-dealer sebanyak 63 dealer yang secara terus menerus dibina dan dipantau perkembangannya baik dalam hal penjualan maupun aktivitas promosi guna meningkatkan brand image dan juga image toko.
Saat ini PT. Suraco Jaya Abadi Motor berkantor pusat di Jl. A.P. Pettarani No. 18 Makassar, selain dealer yang disebut di atas kami juga memiliki anak cabang milik PT. SJAM (Main Dealer Group) sebanyak 28 (dua puluh delapan) cabang yang tersebar di berbagai daerah di seluruh Sulawesi Selatan dan Barat.
Dan PT. Suraco Jaya Abadi Motor masih akan terus mengembangkan cabangnya
sesuai dengan tuntutan pasar yang semakin lama semakin bertambah besar sehingga target cabang sebanyak 30 cabang terpenuhi.
PT. Suraco Jaya Abadi Motor berdiri sejak tahun 1965. Wilayah Pemasaran PT. Suraco Jaya Abadi Motor memasarkan/mendistribusi produk Yamaha di wilayah Sulawesi Selatan dan Barat. Bertekad ingin memberikan yang terbaik dalam bisnis ini, kami selalu berpijak pada nilai-nilai Profesionalisme dengan terus meningkatan kwalitas Sumber Daya Manusia serta pengembangan teknologi sebagai dasar memberikan layanan terbaik.
Untuk itu dengan tidak henti-hentinya PT. Suraco Jaya Abadi Motor terus meningkatkan skill frontliner sebagai ujung tombak keberhasilan penjualan dengan melaksanakan pelatihan-pelatihan baik pelatihan teknis maupun non teknis, dengan demikian dari berbagai segi baik Sales, Service maupun Spare Part semua dapat terlayani dengan baik. Pada akhirnya di tahun – tahun mendatang PT.
Suraco Jaya Abadi Motor akan terus melakukan terobosan-terobosan, sehingga mampu bersaing menembus pasar global.
B. Visi dan Misi Perusahaan Pada PT. Suraco Jaya Abadi Motor
PT. Suraco Jaya Abadi Motor memiliki visi dan misi dalam menjalankan usahanya Yaitu:
Visi :
PT. Suraco Jaya Abadi Motor berusaha untuk menjadi dealer motor yang terbaik di indonesia.
Misi :
1. PT. Suraco Jaya Abadi Motor berkomitmen untuk memberikan kualitas pelayanan yang terbaik dalam waktu yang cepat dan singkat kepada konsumen.
2. PT. Suraco Jaya Abadi Motor berkomitmen untuk mengutamakan kunci keberhasilan perusahaan dan perkembangan perusahaan dimasa yang akan datang dengan mengutamakan kepuasan konsumen.
C. Struktur Organisasi Perusahaan
Salah satu persyaratan yang cukup penting bagi suatu perusahaan agar dapat berjalan lancar sebagaimana yang diharapkan, yaitu apabila terdapat pembagian tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang dinyatakan dengan jelas, maka diharapkan dapat mendorong kerja sama yang baik untuk meningkatkan produktivitas pekerja serta keinginan untuk melakukan sesuatu dengan sempurna sehingga dapat memperlancar pekerjaan dalam perusahaan, sangatlah diperlukan suatu struktur organisasi yang baik dapat menimbulkan suasana dimana keputusan yang perorangan maupun golongan dalam perusahaan dapat terwujud.
Hal ini penting karena tanpa adanya struktur organisasi yang baik akan menimbulkan kesimpangsiuran dalam pelaksanaan kegiatan perusahaan. Dengan kata lain, garis komando dalam struktur organisasi haruslah digambarkan dengan jelas agar setiap bagian dapat mengkoordinir semua bagiannya masing-masing dengan baik sehingga kemungkinan kerja sama yang baik akan mencapai tujuan
yang diinginkan oleh perusahaan. Untuk menjalin kerja sama yang baik dan
yang diinginkan oleh perusahaan. Untuk menjalin kerja sama yang baik dan