• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengadopsi Teknologi Komunikasi Society 5.0

Dalam dokumen ICT FOR EMPOWERMENT OF COUNTRIES (Halaman 45-57)

Society 5.0 atau Masyarakat 5.0 adalah istilah yang digunakan dalam Rencana Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kelima yang

4. Mengadopsi Teknologi Komunikasi Society 5.0

Teknologi Komunikasi Society 5.0 garapan Jepang memang membawa dampak bagi seluruh dunia. Dari teknologi yang dibuat oleh Jepang, banyak negara di dunia yang mengembangkannya kembali untuk memperbarui atau sekedar melengkapi teknologi yang sudah ada. Beberapa teknologi Jepang yang diadopsi oleh negara-negara di dunia:

Kereta Cepat.

Kereta cepat awalnya dibuat oleh ilmuwan Jepang pada tahun 1964 dengan kecepatan 200 km/jam. Negara yang mengadopsinya antara lain, kawasan Eropa, Australia, Amerika Serikat, hingga dari kawasan Asia.

Peralatan Rumah Tangga Elektronik.

Tahun 1949 Jepang telah mulai mengekspor secara besar besaran beberapa jenis peralatan elektronik yang pada masa itu dapat dikatakan cukup canggih karena negara lain masih belum dapat memproduksi beberapa peralatan elektronik seperti produk dari Jepang tersebut. Beberapa produk peralatan elektronik yang telah diekspor ke negara-negara lain adalah kipas angin, radio saku, hingga kamera foto.

38

Mobil Listrik

Indonesia merupakan salah satu negara yang mengadopsi teknologi mobil listrik yang dari Jepang. Teknologi di bidang transportasi ini hemat energi dan dapat mengurangi angka polusi. Indonesia sendiri negara yang memiliki tingkat polusi yang tertinggi di dunia. Dengan adanya adopsi teknologi ini dapat diharapkan adanya pengurangan efek emisi gas dari kendaraan bermotor.

Mengapa Jepang Sangat Maju di Bidang Teknologi ?

Hal ini tak terlepas dari sejarah panjang yang dialami oleh Jepang.

Kemajuan teknologi Jepang dimulai ketika zaman Restorasi Meiji (Meiji Restoration) pada 1868-1912. Ini adalah awal dari modernisasi Jepang yang mana ini menjadi tonggak menuju negara industri.

Tujuan dari pemerintahan Meiji pada saat itu adalah sebagai berikut :

⇨ Industrialisasi atau modernisasi perekonomian

⇨ Modernisasi sistem politik

⇨ Modernisasi militer

Selain itu, Jepang memiliki prinsip yang dinamakan Monozukuri. Apa itu Monozukuri? Secara etimologis Monozukuri berasal dari kata Mono berarti Produk dan Zukuri berarti pembuatan, penciptaan atau produksi (manufaktur). Secara harfiah Monozukuri adalah semangat menciptakan dan memproduksi produk-produk unggul, diimbangi kemampuan untuk terus menyempurnakan proses dan sistem produksi di dalamnya. Filosofi ini menekankan proses produksi yang penuh ketelitian, ketangguhan, dan kesungguhan.

Disamping itu, Jepang juga terus melakukan inovasi tanpa henti untuk selalu mendatangkan atau membuat teknologi terbaru dengan menerapkan sistem riset yang sangat dalam dan melihat kebutuhan yang sedang dibutuhkan saat ini serta menyempurnakan teknologi yang sudah ada dan menciptakan teknologi yang belum ada.

39

Dari pembahasan mengenai Teknologi Komunikasi Society 5.0 di Jepang, maka kemajuan teknologi memang diperuntukkan untuk memudahkan segala aspek kehidupan dan aktivitas manusia.

Penerapan Teknologi Society 5.0 di Jepang dengan menggunakan IoT, AI, Robotik dan Blockchain dirasa sudah memenuhi tujuan dari diadakannya teknologi itu tersendiri yakni populasi anak muda yang menggantikan generasi tua yang telah pensiun sehingga ketika saatnya tiba, anak-anak muda harus siap dengan prospek kerja yang ada dengan didukung fasilitas yang mumpuni.

Dengan adanya teknologi, hal-hal yang bersifat konvensional berubah menjadi modern. Pekerjaan manusia semua digantikan oleh mesin sehingga pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Jepang sebagai pelopor dari Teknologi komunikasi Society 5.0 memang pantas disebut sebagai negara maju dengan julukan Macan Asia sebab Jepang unggul dalam berbagai bidang teknologi komunikasi maupun teknologi lainnya yang dapat meningkatkan kekuatan ekonomi negaranya.

(Penulis: Fajar Rizali Rakhman)

40

Korea Selatan merupakan negara di kawasan Asia Timur yang dikenal karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasinya (information communication technology), yang turut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Korea Selatan sejak tahun 2000an. Pada tahun 1960an, Korea Selatan menjadi salah satu negara termiskin di kawasan Asia Timur, dan merupakan negara yang sangat terdampak oleh krisis moneter Asia pada tahun 1997.

Namun, Korea Selatan mampu bangkit dengan inovasi dan teknologi, menjadi negara dengan perekonomian yang di dukung teknologi tinggi serta sumber daya manusia yang memiliki keterampilan tinggi, hingga menjadi negara di urutan ke-13 dengan tingkat perekonomian terbesar pada tahun 2014 berdasarkan Bank Dunia.

Korea Selatan juga merupakan negara yang menempati peringkat satu sebagai negara paling inovatif di dunia, dengan terobosan konsep teknologinya, sehingga saat ini disebut sebagai global leader dalam hal teknologi informasi dan komunikasi. Korea Selatan mengembangkan beberapa bidang ICT dengan cepat, seperti layanan broadband, video games, telekomunikasi wireless, dan smartphone beserta aplikasinya.

Smartphone (telepon pintar) adalah salah satu teknologi mediasi sosial yang paling berpengaruh di abad ke-21. Meskipun terdapat beberapa teknologi media baru lainnya di masa modern-society, namun pengaruh smartphone tampak paling signifikan, dikarenakan fungsi smartphone yang dapat mengonversikan beberapa media dan teknologi, serta memberi kemudahan pada aktivitas di kehidupan sehari-hari. Cepatnya pertumbuhan smartphone di tengah masyarakat, telah mengubah pola komunikasi antar individu.

42

Smartphone sendiri di definisikan sebagai perangkat yang memiliki bidang yang lebar, memiliki layar sensitif (meskipun BlackBerry merupakan perangkat smartphone yang sempat eksis dengan keyboard), memiliki fitur akses internet, memiliki fungsi Personal Digital Assistant (PDA), berfungsi juga sebagai telepon seluler (BellSouth-IBM Simon, 1994; Jin, 2017).

Pengertian smartphone lainnya juga diutarakan oleh Zheng dan Ni (2006; Jin, 2017), yang menyatakan bahwa kata ’smartphone’

awalnya dibentuk oleh strategis marketing tidak dikenal, yang merujuk pada ‘new-class’ dari telepon seluler yang dapat menghadirkan fasilitas akses data dan pemprosesan seperti komputer.

Smartphone memungkinkan masyarakat terhubung dengan mudah, tidak hanya dapat difungsikan sebagai telepon, namun masyarakat juga dapat berkomunikasi menggunakan beberapa aplikasi pesan instan (instant mobile messenger), seperti WhatsApp, Line, dan Kakao Talk. Smartphone juga berfungsi sebagai sumber daya baru untuk perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang media dan telekomunikasi, yang mengembangkan bisnisnya melalui platform digital seperti Facebook dan Twitter. Smartphone dan aplikasinya telah membentuk budaya baru pada masyarakat dalam berkomunikasi, terhubung, dan mendapatkan hiburan.

Meningkatnya penggunaan smartphone dan aplikasinya, membuat banyak negara, baik negara-negara Barat maupun negara non-Barat mulai menciptakan dan mengembangkan smartphone dan aplikasinya sendiri. Begitupun Korea Selatan yang menjadi pusat teknologi smartphone dan ekonomi digital. Meskipun Korea Selatan pernah tertinggal dalam penetrasi smartphone dan aplikasinya, namun Korea Selatan mampu menjadi salah satu powerhouse pada teknologi informasi dan komunikasi global.

43

Perkembangan Perangkat Komunikasi Mobile di Korea Selatan Industri telekomunikasi di Korea Selatan dimulai pada tahun 1980an, dimana pada saat itu terdapat permintaan yang tinggi untuk perangkat komunikasi tanpa kabel di seluruh dunia. Merespon hal tersebut, pemerintah Korea Selatan membentuk Korea Mobile Telecommunication Service Corp (KTMSC). Pemerintah Korea bekerja sama dengan perusahaan teknologi lokal Samsung, dalam memproduksi perangkat yang disebut ‘car phone’. Namun model ini tidak dapat menarik banyak minat konsumen.

Gambar 1. Samsung Car Phone

Sumber: https://i-cdn.phonearena.com/images/articles/149861-gallery/samsung-1.JPG.jpg, 2020

Kemudian Samsung mengembangkan ponsel pertamanya yang diberi nama SH-100. Namun ponsel ini tidak dapat memenuhi ekspektasi konsumen dan secara popularitas kalah oleh ponsel produksi Motorola dan Nokia, dua perusahaan telekomunikasi yang berjaya saat itu. Selain itu, kualitas ponsel Samsung juga tidak baik secara konektivitas, karena tidak dapat menjangkau jaringan secara luas di Korea Selatan yang daerahnya didominasi oleh pegunungan.

44

Gambar 2. Samsung SH-100

Sumber: https://i-cdn.phonearena.com/images/articles/149860-image/samsung-sh-100.jpg, 2020

Pada tahun 1994, Samsung memproduksi produk ‘Anycall’, dan dipromosikan secara masif melalui televisi dengan tema “Strong in Korea’s unique terrain” (Kuat di Medan Korea yang Unik). Produk ini ternyata mampu membawa Samsung menjadi produser ponsel terbesar di pasar domestik elektronik Korea Selatan. Pada tahun 1996, LG Electronics, perusahaan elektronik domestik lainnya, ikut bergabung dalam industri ponsel Korea Selatan.

Pada tahap awal evolusi perangkat komunikasi telepon genggam ini, turut berperan pemerintah, beberapa berusahaan, dan sejumlah ahli. Pemerintah berinisiasi mengembangkan sistem komunikasi tanpa kabel (wireless), Pertumbuhan bisnis mencakup teknisi dan perancang untuk mengembangkan teknologi perangkat mobile. Pemasaran yang dilakukan secara signifikan menumbuhkan bisnis teknologi mobile di Korea Selatan. Telepon genggam rancangan Korea Selatan ini didukung dengan teknologi CDMA (code division multiple access service, yang secara fundamental mengubah industri ponsel di Korea Selatan

45

Pada tahun 1997, smartphone pertama yang disebut dengan IBM Simon dirilis oleh perusahaan terknologi Amerika Serikat, diikuti oleh Apple inc, yang satu dekade kemudian meluncurkan sebuah produk smartphone yang mempengaruhi pasar smartphone saat ini, produk tersebut dikenal dengan nama iPhone. iPhone merupakan sebuah inovasi, dimana Apple mengombinasikan produk popularnya, iPod music player dan smartphone, yang menggunakan sistem operasi komputer Macintos dalam bentuk ponsel. Dalam satu minggu sejak peluncurannya iPhone telah menjadi produk yang hype di tengah masyarakat, dan terjual sebanyak satu juta unit.

Gambar 3. iPhone Gen 1

Sumber: https://image.cnbcfm.com/api/v1/image/104556364-original-iPhone.jpg?v=1529475531, 2020

Di Korea Selatan, Apple iPhone diperkenalkan dua tahun setelah perilisan resminya, yakni pada November 2009.

Keterlambatan debut iPhone di Korea selatan dikarenakan kebijakan pemerintah terkait privasi telekomunikasi dan kekhawatiran akan bisnis perusahaan telekomunikasi lokal akan terdampak. Namun, sesaat setelah diperkenalkan pada pasar smartphone Korea Selatan, iPhone dapat diterima dengan cepat dan diberitakan secara luas. Sesaat setelah harganya diumumkan, ada sekitar 40.000 orang yang melakukan pre-order sebelum penjualannya secara resminya.

Lebih dari 100 perangkat terjual dalam 10 hari dan dalam satu tahun terjual 2 juta perangkat.

46

Pemerintah Korea Selatan dan perusahaan telekomunikasi terkejut melihat bagaimana pertumbuhan iPhone, dan membentuk kembali strategi untuk pemasaran smartphone lokal. Penerimaan iPhone yang cepat secara global dan nasional, membuat pemerintah dan perusahaan telekomunikasi Korea mempertanyakan apa teknologi yang mereka lewatkan, dan apa yang harus dilakukan kedepannya.

Hadirnya iPhone memicu pertumbuhan smartphone di Korea Selatan. Hingga Desember 2015, pengguna smartphone mencapai 74.1% dari total pengguna ponsel. ”Efek iPhone” di Korea Selatan juga mengubah industri wireless domestik, dengan kompetisi yang menekan produsen perangkat wireless. Kesuksesan iPhone secara nasional dan global membuat produsen ponsel lokal seperti Samsung Electronics dan LG Electronis untuk menyadari apa yang mereka lewatkan dan apa yang perlu dipersiapkan. Pengaruh kehadiran iPhone di Korea Selatan ini disebut juga dengan “iPhone Shock”, karena tidak hanya memberikan pengaruh pada industri dan perusahaan telekomunikasi di Korea, namun juga mempengaruhi pengguna (konsumen) (D. Lee, 2012; Jin, 2017).

Meskipun dapat dikatakan bahwa era smartphone di Korea Selatan hadir lebih terlambat, Korea merupakan pendatang yang komparatif dalam revolusi smartphone. Dengan masuknya iPhone ke Korea Selatan, dua produsen lokal Samsung dan LG juga mulai memasarkan produk smartphone-nya. Samsung memulai pengembangan smartphone Omnia dan Omnia II pada 2009. Namun, baik Omnia maupun Omnia II tidak berhasil di pasaran, sebab masyarakat cenderung memilih iPhone.

47

Gambar 4-5. Samsung Omnia dan Omnia II

Sumber: https://www.cellcityonline.com/wp-content/uploads/2019/05/Samsung-Omnia-i900-8GB-4.jpg,

https://images.samsung.com/is/image/samsung/id_GT-I8000EKAXSE_001_Front?$L2-Thumbnail$, 2020

Adaptasi sistem operasi Android pada smartphone lokal, merupakan awal dari berhasilnya produksi smartphone Korea Selatan. Samsung memutuskan untuk menggunakan Android dan mulai memproduksi ‘Galaxy A’, karena sistem operasi yang mereka kembangkan tidak dapat berjalan dengan baik. Samsung juga memperkenalkan AMOLED, yang saat itu disebut sebagai generasi baru layar ponsel, yang dibentuk dengan mempertimbangkan penggunaan sehari-hari masyarakat (remaja-dewasa muda) Korea Selatan, yang hanya 20% menggunakan smartphone untuk menelepon. Sementara kegiatan lainnya, seperti mengirim pesan, game, menonton, mengambil foto, dan penggunaan internet sebanyak 60%, Dengan display AMOLED diyakini Samsung dapat memberikan kenyamanan pada pengguna.

Begitu juga dengan LG Electronics yang turut mengembangkan perangkat smartphone, dengan sistem operasi Android sama seperti yang digunakan Samsung. Dengan desain dan inovasi yang dinilai dapat memuaskan konsumen, perangkat baru produsen smartphone lokal Korea Selatan siap bersaing dengan iPhone.

48

Terbukti, tidak butuh waktu lama bagi produsen smartphone Korea Selatan untuk mengambil alih pasar, dan menjangkau pangsa Apple iPhone dalam pasar smartphone global. Secara global, smartphone asal Korea Selatan seperti Samsung Galaxy S Series, LG Optimus dan LG G Series dapat bersaing dan meningkatkan penjualan global mereka, hingga menjadi salah satu produsen smartphone terbesar di dunia. Keberhasilan perdagangan ini secara langsung turut mempengaruhi situasi ekonomi-politik Korea Selatan dalam sektor teknologi informasi dan komunikasi. Namun, Samsung dan LG memiliki kekurangan, yaitu tidak memiliki sistem operasinya sendiri dan bergantung pada Android, berbeda dengan iPhone yang menggunakan sistem operasinya sendiri yaitu iOs.

Fenomena banyaknya penggunaan smartphone dan fungsi dari smartphone itu sendiri telah mempengaruhi budaya dan ekonomi digital. Pengguna smartphone mengandalkan berbagai aplikasi, agar dapat berkomunikasi, bermain game, mencari berita dan informasi, serta berbagi gagasan dengan individu lain dalam komunitas online. Secara garis besar, dapat dikatakan bahwa saat ini setiap kegiatan dapat dihubungkan dengan aplikasi, Kita benar-benar hidup di tengah ekonomi aplikasi saat ini (Chambers, 2013; Jin, 2017).

Smartphone memungkinkan mudahnya konektivitas antar individu, salah satunya melalui aplikasi pesan instan (instant mobile messenger application). Korea Selatan juga mengembangkan aplikasi pesan instan, yaitu Kakao Talk dan Line, yang secara luas digunakan oleh masyarakat. Kakao Talk merupakan aplikasi pesan instan yang paling banyak digunakan di Korea Selatan, yang memungkinkan penggunanya untuk mengirimkan dan menerima pesan, video dan foto secara gratis. Korea Selatan juga dikenal sebagai negara yang paling aktif menggunakan online game.

49

Seiring dengan perkembangan smartphone yang pesat, Korea Selatan siap melangkah untuk menjadi “mobile game wonderland”.

Kakao Talk yang pada awalnya hanya berfokus menjadi aplikasi layanan pesan instan, kemudian bertransformasi menjadi platform yang mendistribusikan konten lainnya, seperti mobile game, dimana penggunanya dapat bermain game melalui platform perpesanan.

Kakao Talk yang menawarkan layanan pesan dan panggilan telepon gratis, serta platform untuk layanan mobile, menjadi salah satu aplikasi yang memberikan pengaruh paling signifikan dalam mobile game.

Penggunaan smartphone juga tidak terlepas dari penggunaan web portal atau mesin pencari (search engines). Dalam hal ini, Korea Selatan juga mengembangkan teknologi mesin web portal, seperti Naver, Daum, dan Nate. Web portal merupakan platform yang krusial untuk sebagian besar masyarakat Korea Selatan, yang menggunakannya untuk membaca artikel berita, bermain game, mendengarkan musik, dan menikmati webtoon (komik web).

Diantara ketiga web portal lokal, Naver adalah yang memiliki pengaruh besar dalam portal market. Naver menempati peringkat pertama dengan market share 81,6% pada 2014, diikuti Daum 14,9%, sedangkan Google berada pada peringkat ke-3 dengan persentase 1.9%.

Tidak dapat dipungkiri, posisi Google sebagai web portal tidak dapat berperan besar, meskipun secara Global, Google lah yang mendominasi. Hal ini disebabkan beberapa kelemahan, diantaranya:

1. Google tidak memiliki cukup banyak data dalam bahasa Korea

Dalam dokumen ICT FOR EMPOWERMENT OF COUNTRIES (Halaman 45-57)