Sebagai Guru, Tuhan Yesus memiliki kredibilitas. Pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Guru itu tidak hanya berasal dari pengakuan diri-Nya sendiri (Mat. 23:8). Murid-murid-Nya pun mengakui bahwa Ia adalah Guru (Mat. 26:25, 49). Bahkan, tokoh-tokoh agama menyatakan bahwa Dia adalah Guru (Mat. 8:18, 12:15, 16, 38).
J.M. Price mengungkapkan, “Yesus benar-benar guru yang sempurna, baik dari segi ilahi maupun insani. Memang Ia
‘da-Alkitab dan Mengajar
tang sebagai guru yang diutus Allah’ (Yoh. 3:2). Wewenang-Nya meliputi pelbagai unsur. Ada unsur insani, ada pula unsur-unsur ilahi.”2
Yesus adalah Guru yang berbeda dengan guru-guru lainnya. Dalam banyak hal, Yesus mengajarkan keteladanan yang, jika diikuti, akan memberikan banyak pengertian dan pengalaman mengajar yang baru dan tidak akan ada habisnya bagi kita.
Dalam hal mengajar, Yesus melakukannya secara praktis dan menarik. Ia memulai pengajaran-Nya dengan memerhatikan butuhan para pendengar-Nya (Mat. 9:36), menghubungkan ke-benaran dengan kehidupan (perhatikan khotbah Yesus Kristus di bukit), dan menggunakan banyak perumpamaan (Mat. 13:34).
Yesus Kristus juga memiliki berbagai pola dan pendekatan dalam mengajar. Sasaran dan konteks pengajaran-Nya jelas. Selain itu, Ia pun menggunakan berbagai media untuk me-nyampaikan pengajaran-Nya. Bahkan, sebagai seorang Guru, Ia menyatakan kasih-Nya yang besar (Mat. 9:11–13, 36).
Yesus, Sang Guru Agung, menjadi Guru yang memberi inspirasi dan harus diteladani serta dipercayai. Apalagi, Yesus bukanlah Guru yang membosankan. Ia adalah Guru yang selalu mengajarkan sesuatu yang baru.
Berikut adalah beberapa cara Yesus mengajar yang patut kita teladani.
1. Mengajar Melalui Kehidupan-Nya
Sebagai seorang Guru, Yesus mengajar dengan tidak me-ngenal lelah. Ia terus berjalan dan mengajar di berbagai tempat dan kota. Ketika Ia mengajar, Ia menjadikan diri-Nya sebagai
MENJADI GURU YANG TERAMPIL
CONT
OH
tIDAK UNT
UK
DIPERJUALBELIKAN
teladan. Beberapa teladan dari kehidupan-Nya yang dapat kita pelajari adalah sebagai berikut.
a. Lemah Lembut dan Rendah Hati
Kelemahlembutan dan kerendahhatian Yesus itu mengajar-kan bagaimana kita harus hidup. Tidak hanya itu, kelemah-lembutan dan kerendahhatian-Nya juga menjadi teladan bagi setiap pengajar. Ia menasihati kita agar belajar kepada-Nya karena Ia lemah lembut dan rendah hati (Mat. 11:29–30). De-ngan mengikuti teladan-Nya, seorang pengajar akan memiliki ketenangan hidup dan aktivitas yang terarah.
b. Tidak Membatasi Pengajaran-Nya
Kota Samaria terletak di antara Galilea di bagian utara dan Yudea di bagian selatan. Orang Yahudi sangat membenci penduduk Samaria karena agama dan budaya yang berbeda. Oleh karena itu, telah menjadi kebiasaan bagi orang Yahudi untuk menghindari orang Samaria. Bahkan, mereka berusaha menghindari untuk masuk ke Kota Samaria. Adapun penduduk Samaria sendiri telah berbaur dengan bangsa-bangsa lain, ter-masuk dengan agama-agama mereka (2 Raj. 17:24–21).
Kedatangan Yesus ke kawasan Samaria dan pembicaraan-Nya dengan perempuan Samaria menjadi sesuatu yang menarik. Yesus, seorang Yahudi, mau berbicara dengan orang Samaria yang selama ini dihindari bangsa Israel (Yoh. 4). Itu merupakan sesuatu yang tidak lazim.
Namun, Yesus mengajar perempuan Samaria itu dengan si-kap yang baik dan tulus. Ia tidak peduli dengan latar belakang kehidupannya, tetapi peduli dengan kebutuhannya. Perempu-an tersebut membutuhkPerempu-an pengajarPerempu-an-Nya. Ia perlu mendengar-kan Kabar Baik.
Alkitab dan Mengajar
Perempuan Samaria itu sedang menimba air ketika Yesus bertemu dengannya. Yesus kemudian meminta air kepadanya. Ia memberi tahu perempuan itu mengenai Air Kehidupan, serta menawarkan Air Kehidupan itu kepadanya (Yoh. 4:12–15).
Tentu saja hal itu menimbulkan rasa ingin tahu yang besar dari perempuan Samaria itu. Yesus berkata,
“Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa mi-num air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus me-mancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 14:13–14).
Melalui perkataan-Nya itu, Yesus sebenarnya sedang meng-ajarkan kehidupan yang lebih baik dan yang kekal kepadanya. Sesungguhnya, Ia sedang membawa perempuan itu dari cara berpikir, berperilaku, dan bersikap yang lama menuju ke ke-hidupan baru (berpikir, berperilaku, dan bersikap yang memulia-kan Dia).
Dalam mengajar, hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran harus disampaikan. Namun, dalam beberapa peristiwa di be-berapa tempat, demi menjaga pandangan orang lain, kebenaran tersebut malah dikesampingkan. Demikian juga dalam mengajar, kadang-kadang, hanya demi menyenangkan para pendengar, kebenaran yang seharusnya diajarkan sering dikesampingkan.
Keberanian Yesus berbicara dengan perempuan Samaria itu memberi teladan kepada kita agar mau melakukan hal yang sama, tanpa dibatasi pandangan-pandangan yang akan meng-halangi disampaikannya kebenaran Allah. Setiap orang, siapa pun mereka, apa pun statusnya, harus belajar dan menerima pengajaran tersebut.
MENJADI GURU YANG TERAMPIL
CONT
OH
tIDAK UNT
UK
DIPERJUALBELIKAN
c. Memberi Teladan dalam Berdoa
Yesus, sebagai Guru, telah mengajar murid-murid-Nya untuk berdoa (Mat. 6:9–12). Namun, Yesus tidak hanya mengajarkan berdoa, Ia juga menjadi teladan dalam berdoa. Dalam Matius 11:25 dikatakan bahwa Yesus sendiri berdoa kepada Bapa. Sebelum Yesus ditangkap dan disalib, Ia berdoa kepada Bapa untuk memperoleh kekuatan dalam situasi yang sulit (Luk. 22:39–46). Markus juga mencatat bahwa Yesus bangun pagi-pagi benar dan berdoa (Mrk. 1:35). Oleh sebab itu, sebagai pengajar, kita patut meneladani Yesus untuk tetap memiliki waktu berdoa, untuk mencari inspirasi, dan untuk memperoleh hikmat serta kekuatan baru agar dapat mengajarkannya kembali kepada orang lain.
2. Menjadi Guru yang Tidak Membosankan
Ada berbagai macam metode yang digunakan Yesus da-lam mengajar. Ia tidak monoton dengan satu metode saja, te-tapi menggunakan berbagai metode untuk menyampaikan kebenaran-Nya. Yesus mengajar dengan menggunakan per-umpamaan-perumpamaan yang mengandung makna tertentu (Mat. 13:1–9; 13:36–43). Misalnya, Ia menggunakan benih yang sering dilihat dan ditabur petani, lalang, dan gandum yang ada di sekitar pendengar-Nya sebagai ilustrasi atau perumpamaan dalam mengajar. Dengan demikian, pendengar-Nya mengerti kebenaran firman Tuhan.
Contoh lain, ilustrasi tentang anak yang hilang (Luk. 15:13– 24) digunakan-Nya sebagai cara untuk menyampaikan anugerah Allah yang besar. Ia menggunakan cerita yang menarik sehingga orang tertarik mendengarnya.
Yesus juga mengajar dengan menggunakan alat peraga sehingga murid-murid-Nya mengerti isi pengajaran yang
di-Alkitab dan Mengajar
sampaikan-Nya, misalnya tentang garam dan pelita (Mat. 5:13– 16), burung pipit dan jumlah rambut (Mat. 10:29–31), atau buah dan pohon (Mat. 12:33–34; 16:1–4).
“Alat peraga digunakan Yesus dalam pengajaran-Nya walaupun alat peraga tidak menduduki tempat yang terutama dalam kegiatan-Nya. Ia berusaha menjadikan kebenaran secara konkrit dan hidup.”3
Selain alat peraga, Ia juga menggunakan metode peng-amatan. Ia berkata, “Lihatlah burung pipit, bunga bakung” (Mat. 6:26, 28–30).
Ketika Yesus berkhotbah di bukit (Mat. 5:3–12), Ia mengajar dengan cara yang puitis, yang menyentuh hati pendengarnya. Cara yang umum digunakan pada saat ini, seperti ceramah, pernah digunakan-Nya, yaitu ketika mengajar tentang hukum Taurat (Mat. 5:17–48).
Masih banyak metode lain yang digunakan Yesus untuk mengajar serta menyampaikan kebenaran firman Tuhan. Melalui penggunaan berbagai metode itu, Ia patut disebut sebagai Guru yang kreatif dan tidak membosankan.
3. Memulai dari Cara Berpikir Murid-murid-Nya
Dalam memulai pengajaran-Nya, Yesus lebih dahulu me-mahami cara berpikir orang yang menjadi lawan bicara-Nya. Lois E. Lebar mengungkapkan,
“Dia mengenal semua orang secara pribadi dan Dia mengetahui sifat manusia, apa yang ada dalam diri manusia pada umumnya (Yoh. 2:24–25). Dia mengajarkan kepada manusia kebenaran ‘sesuai pengertian mereka’” (Mrk. 4:33).4
3 Ibid., hlm. 106.
4 Lois E. Lebar, Education That Is Christian, terj. Jeffrey Tanalessy, (Malang: Gandum Mas, 2006), hlm. 75.
MENJADI GURU YANG TERAMPIL
CONT
OH
tIDAK UNT
UK
DIPERJUALBELIKAN
Yesus mengajar para murid-Nya dengan terlebih dahulu memahami cara berpikir mereka. Pengertian murid-murid-Nya dijadikan sebagai jembatan dan pintu masuk bagi pengajaran-Nya. J.M. Price menjelaskan,
“... guru yang berpengalaman itu lebih dahulu menyelidiki apa yang dipikirkan oleh muridnya, lalu mulai dengan hal itu.”5
Ketika Tomas meragukan Yesus, Ia mulai mengajarnya de-ngan berangkat dari cara berpikir Tomas (Yoh. 20:29). Ketika Yesus mengajar orang-orang yang memahami pertanian, Ia menggunakan perumpamaan tentang benih. Ketika Ia akan mengajarkan kepada seorang perempuan Samaria tentang Air Kehidupan, Ia mulai dengan meminta air kepada perempuan tersebut.
Sebelum mengajar lebih jauh, Ia selalu memulai dengan cara berpikir murid-murid-Nya. Yesus menggunakan apa saja sebagai pintu masuk pengajaran-Nya sehingga hal itu dapat dipahami pendengar-Nya.
4. Ia Menjalin Hubungan yang Baik dengan Murid-murid-Nya
Hubungan guru dengan murid memengaruhi berhasil atau tidaknya pengajaran. Jika hubungan guru dengan murid tidak baik, hal itu dapat menyebabkan murid enggan untuk sungguh-sungguh mengikuti proses belajar. John M. Nainggolan men-jelaskan,
“Sebagian besar waktu-Nya dihabiskan bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Yesus selalu berada di antara mereka, sehingga Yesus sangat mengenal karakter murid-murid-Nya.”6
5 Price, op. cit., hlm. 89.
Alkitab dan Mengajar
Yesus ingin murid-murid-Nya memaksimalkan saat Ia ber-sama-sama dengan mereka. Bahkan, Yesus sempat menegur murid-murid-Nya ketika mereka tertidur saat diminta berjaga-jaga pada waktu Yesus berdoa (Mat. 26:40). Sebagai Guru Agung, Yesus memiliki hubungan yang baik dengan murid-murid dan para pendengar-Nya. Yesus mengajar dengan membangun hubungan dengan murid-murid-Nya (Yoh. 21:15). Hubungan baik Yesus itu diperlihatkan-Nya dengan cara menegur murid-Nya (Mat. 16:23).
Hubungan baik antara Yesus dan murid-murid-Nya itu juga diperlihatkan-Nya dengan cara memberi pujian (Mat. 8:10; 16:17). Guru yang memiliki hubungan baik dengan murid-muridnya akan membangun persahabatan yang baik pula. Sang Guru Agung telah menunjukkan teladan itu (Mat. 9:9–10, Luk. 19:5).
Yesus, sebagai Guru, melakukan kontak dengan murid-murid-Nya. Dalam hal itu, pengertian murid tidak hanya dibatasi pada kedua belas murid, tetapi lebih luas lagi, yaitu pada setiap pendengar-Nya. Untuk mengajar secara maksimal, Yesus selalu melakukan kontak dengan murid-murid-Nya.
Lois E. Lebar menjelaskan terkait peristiwa itu.
“Yesus meludah di tanah, membuatnya menjadi tanah liat dan mengurapi mata orang buta itu dengan tanah liat. Tindakan untuk kepentingan orang buta ini selain kontak pribadi-Nya pasti telah membangkitkan akal budi dan perasaan orang itu.”7
Tindakan yang dilakukan Yesus memiliki tujuan penting yang bermuara pada pendengar-Nya. Ia ingin setiap pendengar dan murid-Nya memahami dengan baik apa yang diajarkan-Nya itu.
MENJADI GURU YANG TERAMPIL
CONT
OH
tIDAK UNT
UK
DIPERJUALBELIKAN
5. Memiliki Karunia Mengajar
Yesus, sebagai Guru, memiliki karunia mengajar. Sebagian besar kegiatan pelayanan-Nya digunakan untuk mengajar. Ia pun mengajar dengan penuh kuasa (Mat. 7:28). Namun, tujuan-Nya mengajar bukanlah untuk memperoleh pujian bagi diri-tujuan-Nya sendiri, melainkan bagi Allah semata (Mat. 9:8).
“Ia tidak mengemukakan suatu prinsip ilmu jiwa, teori pendidikan, maupun ilmu mendidik; namun Ia menguasai unsur-unsur yang pen-ting dalam semua hal itu dan menggunakan hal-hal itu dengan baik sekali.”8
Yesus mengajar tidak hanya sekadar berteori, tetapi benar-benar disertai kuasa Allah. Hal itu terlihat ketika Ia mengusir se-tan (Mat. 9:32–33).
q