Gugatan penyelesaian sengketa konsumen melalaui pengadilan ini menggunakan hukum acara perdata dengan memperhatikan ketentuan dalam UUPK oleh karena itu ada aturan yang terdapat dalam hukum acara perdata yang dikesampingkan dan mengacu pada ketentuan UUPK.6 Hukum acara perdata adalah peraturan hukum yang mengatur tentang cara-cara ditaatinya hukum perdata materil dengan perantara hakim.7 Proses penyelesaian sengketa konsumen yang menggunakan hukum acara perdata ini dilakukan dengan cara:
3.1.1.1. Gugatan
Gugatan perdata adalah gugatan yang berisi tentang sengketa antara pihak yang berperkara yang pemeriksaan penyelesaiannya diberikan dan diajukan kepada Pengadilan.8 Prof. Sudikno Mertokusumo memberikan istilah gugatan berupa tuntutan perdata tentang hak yang mengandung sengketa dengan pihak lain.9 Dalam mengajukan gugatan terdapat dua macam bentuk gugatan yang dapat diajukan oleh pihak penggugat, yaitu:
1. Gugatan secara lisan
Gugatan secara lisan merupakan gugatan yang diajukan oleh penggugat yang buta huruf secara lisan kepada Ketua Pengadilan Negeri.10 Gugatan secara
6 Ibid., ps. 48.
7 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, ed. 6, (Yogyakarta: Liberty), hal.
2.
8 Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian, dan Putusan Pengadilan, cet. 6, (Jakarta: Sinar Grafika), hal. 47.
9 R. Soesilo, RIB/HIR dengan Penjelasan, (Bogor: Politea, 1985).
10 Ibid., ps.120.
lisan ini hanya diperbolehkan untuk orang yang buta hukum atau kurang memahami hukum dan tidak mampu secara finansial. Hal ini didasarkan oleh penggugat yang mempunyai kemampuan secara finansial tetapi buta aksara dapat membiayai pengacara, sehingga kurang layak untuk mendapatkan bantuan oleh Ketua Pengadilan Negeri.11
2. Gugatan tertulis
Gugatan tertuis adalah gugatan yang dimasukan ke Pengadilan Negeri (PN) dengan surat permintaan yang ditandatangani oleh penggugat atau kuasanya.
Berdasarkan ketentuan ini, yang berhak dan berwenang membuat dan mengajukan gugatan perdata adalah penggugat sendiri dan kuasanya. 12
Perumusan gugatan yang diajukan penggugat ke PN, harus memenuhi syarat formil menurut ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Adapun syarat-syarat formil surat gugatan adalah:
1. Ditujukan kepada PN sesuai dengan kompetensi relatif;
2. Diberi tanggal;
3. Ditandatangani penggugat atau kuasa;
4. Identitas para pihak;
5. Dasar gugatan;
6. Petitum gugatan.
Kompetensi relatif yang diatur dalam Pasal 118 HIR (Herzien indonesis Reglement) adalah kompetensi PN yang berwenang mengadili suatu perkara perdata didasarkan dan diutamakan pada kedudukan tempat tinggal tergugat. Berbeda dengan UUPK yang memberikan kemudahan pada pihak penggugat untuk menggugat tergugat pada kedudukan wilayah hukum PN tempat tinggal Penggugat.13
11 Yahya Harahap., op. cit., hal. 49.
12 R. Soesilo., op. cit., ps. 118 ayat 2
13 Indonesia, op. cit., ps. 23.
3.1.1.2. Jawaban
Jawaban merupakan hak yang dimiliki oleh pihak tergugat terhadap gugatan yang diajukan penggugat, dengan kata lain tidak ada kewajiban tergugat untuk menjawab gugatan yang diajukan penggugat.14 Jawaban tergugat terdiri dari pengakuan dan bantahan. Pengakuan adalah jawaban dari tergugat yang membenarkan isi gugatan penggugat baik untuk sebagian ataupun seluruhnya.
Sedangkan bantahan adalah sebaliknya yaitu jawaban tergugat yang tidak membenarkan gugatan yang diajukan penggugat.15
Dalam mengajukan jawaban atas gugatan penggugat tidak ada syarat yang harus dipenuhi oleh tergugat yang diatur dalam HIR, tetapi sudah selayaknya jawaban tergugat haruslah diberikan alasan karena dengan adanya alasan-alasan tersebut maka semakin jelaslah duduk perkaranya. Jawaban yang tidak cukup beralasan dapatlah dikesampingkan oleh hakim.16
3.1.1.3. Pembuktian
Hukum pembuktian (Law of Evidence) dalam suatu perkara merupakan suatu bagian yang sangat kompleks dalam litigasi. Keadaan kompleksitasnya semakin bertambah rumit karena dalam pembuktian membutuhkan kemampuan yang lebih dalam merekonstruksi kejadian di masa lalu sebagai suatu kebenaran. Kebenaran yang dicari dalam proses peradilan perdata adalah kebenaran yang tidak bersifat absolut tetapi kebenaran yang bersifat relatif atau bahkan cukup bersifat kemungkinan, namun untuk mencari kebenaran yang demikian masih tetap menghadapi kesulitan.17
Pembuktian sengketa perdata mempunyai prinsip-prinsip sebagai berikut:18 1. Pembuktian mencari dan mewujudkan kebenaran formil;
14 Ibid., ps.121 ayat 2.
15 Mahkamah Agung Republik Indonesia. 27 Oktober 1971 No. 858K/Sip/1971, Yurisprudensi Jawa Barat 1969-1972, hal. 108.
16 Supomo, Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, (Jakarta: Fasco, 1958), hal. 66.
17 John J. Cound, Civil Procedure: Cases and Material, (St. Paul Minnesota:West Publishing, 1985), hal. 867.
18 Yahya Harahap., op. cit., hal. 497.
2. Pengakuan mengakhiri pemeriksaan perkara;
3. Pembuktian perkara tidak bersifat logis;
4. Adanya fakta-fakta yang tidak perlu dibuktikan;
5. Adanya pembuktian yang diberikan oleh lawan (tergugat);
6. Adanya persetujuan pembuktian (menyepakati jenis alat bukti yang dapat diajukan).
Dalam hukum acara perdata di lingkungan peradilan umum, beban pembuktiannya berada pada pihak penggugat, tetapi berbeda dengan UUPK yang menerangkan bahwa beban pembuktian dalam sengketa konsumen berada pada pihak tergugat saja (pelaku usaha).19 Dalam hal demikian, PN yang menyidangkan perkara sengketa konsumen menggunakan ketentuan yang ada pada UUPK.
Hukum acara peradata telah mengatur mengenai alat bukti yang dapat diajukan dalam persidangan. Alat bukti tersebut, antara lain:20
1. Alat bukti surat yang terdiri dari:
a. Akta otentik;
b. Akta bawah tangan;
c. Akta sepihak atau pengakuan.
2. Alat bukti saksi 3. Alat bukti pengakuan 4. Alat bukti persangkaan 5. Alat bukti sumpah
3.1.1.4. Putusan
Putusan adalah wewenang yang dimiliki oleh Majelis Hakim karena jabatannya untuk menentukan putusan yang akan dijatuhkan dalam hal pemeriksaan perkara telah selesai. Putusan yang dimaksud adalah putusan yang dikeluarkan oleh peradilan tingkat pertama yang berisi penyelesaian perkara yang disengketakan.21
19 Indonesia, op. cit., ps 22.
20 R. Subekti, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, cet. 34, (Jakarta: Pradnya Paramita, 2004), ps. 1866.
21 Subekti, Hukum Acara Perdata, (Bandung: Bina Cipta, 1977), hal 122.
Dalam memutuskan suatu perkara perdata, hakim harus memperhatikan asas-asas putusan, antara lain:
1. Memuat dasar alasan yang jelas dan rinci;
2. Wajib mengadili seluruh bagian gugatan;
3. Tidak boleh mengabulkan melebihi tuntutan;
4. Diucapkan di muka umum.
Adapun putusan yang dibuat oleh Majelis Hakim harus berisi dan mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Memuat secara ringkas dan jelas pokok perkara, jawaban, pertimbangan dan amar putusan, yang terdiri dari:
a. Dalil gugatan;
b. Mencantumkan jawaban tergugat;
c. Uraian singkat ringkasan dan lingkup;
d. Pertimbangan hukum;
e. Ketentuan perundang-undangan;
f. Amar putusan.
2. Mencantumkan biaya perkara.
Ada berbagai macam jenis-jenis putusan akhir dalam proses persidangan perdata, antara lain: 22
1. Putusan Condemnatoir
Putusan yang bersifat menghukum pihak yang dikalahkan untuk memenuhi prestasi. Di dalam putusan ini diakui hak penggugat atas prestasi yang dituntutnya. Hukuman semacam itu hanya terjadi berhubung dengan perikatan yang bersumber pada persetujuan atau undang-undang, yang prestasinya dapat terdiri dari memberi, berbuat dan tidak berbuat. Pada umumnya putusan ini berisi untuk membayar sejumlah uang.
2. Putusan Constitutif
22 Sudikno Mertokusumo, op. cit., hal. 221.
Adalah putusan yang meniadakan atau menciptakan suatu keadaan hukum, misalnya pemutusan perkawinan, pengankatan wali, pemberian pengampuan, pernyataan pailit, pemutusan perjanjian.
3. Putusan Deklaratoir
Adalah putusan yang isinya bersifat menerangkan atau menyatakan apa yang sah, misalnya anak yang menjadi sengketa adalah anak yang dilahirkan dari yang sah. Juga setiap putusan yang menolak gugatan merupakan putusan yang bersifat deklaratoir.
3.1.1.5. Upaya Banding
Apabila salah satu pihak dalam suatu perkara perdata tidak menerima suatu putusan PN karena hak-haknya terserang oleh adanya putusan itu atau menganggap putusan itu kurang benar atau kurang adil maka ia dapat mengajukan perkara yang telah diputuskan itu untuk dimintakan pemeriksaan ulang. Upaya untuk mengajukan pemeriksaan ulang itu dikenal dengan nama upaya banding. Pengajuan upaya banding ini dilakukan kepada badan pengadilan yang tingkatnya lebih tinggi dari PN, dalam hal ini yaitu Pengadilan Tinggi.23
Berdasarkan putusan Mahkamah Agung tanggal 2 Desember 1970 dinyatakan bahwa permohonan banding itu hanya terbatas pada putusan Pengadilan Negeri yang merugikan pihak yang mengajukan upaya banding. Jadi upaya banding ini hanya diperuntukkan bagi pihak yang dikalahkan atau merasa dirugikan pada penyelesaian perkara pada tingkat PN, dan tidak selayaknya disediakan bagi pihak yang dimenangkan. Upaya banding selambat-lambatnya diajukan dalam jangka waktu 14 hari terhitung mulai pada hari berikutnya setelah hari pengumuman putusan kepada yang berkepentingan, atau diberitahukannya putusan kepada pihak yang bersangkutan.24
Pada asasnya semua putusan akhir pada pengadilan tingkat pertama dapat dimintakan pemeriksaan ulang kecuali ditentukan lain oleh Undang-Undang. Bahwa
23 Ibid.,hal. 225.
24 Ibid.,hal. 226.
dalam pemeriksaan banding ini terjadi pemeriksaan ulang atas perkara, maka dibolehkan adanya penambahan dalam gugatan.25
Pengadilan tinggi memeriksa perkara secara judex factie yaitu memeriksa perkara berdasarkan berkas-berkas yang ada, dengan kata lain memeriksa ulang penerapan hukum yang diputuskan oleh Majelis Hakim pada tingkat PN. Pengadilan Tinggi memeriksa perkara banding dengan majelis yang terdiri dari tiga orang hakim, dan kalau diperlukan juga dengan mendengar sendiri para pihak. Hakim pada tingkat banding tidak diperbolehkan mengabulkan lebih daripada yang dituntutkan atau memutuskan hal-hal yang tidak dituntut.26
3.1.1.6. Upaya Kasasi
Terhadap putusan-putusan yang diberikan dalam tingkat akhir oleh pengadilan-pengadilan di luar Mahkamah Agung, demikian pula terhadap putusan pengadilan yang dimintakan banding dapat diupayakan adanya kasasi kepada Mahkamah Agung oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Kasasi itu sendiri merupakan pembatalan putusan atau penetapan pengadilan-pengadilan dari semua lingkungan peradilan dalam tingkat peradilan akhir. Kasasi hanya mungkin dan diizinkan terhadap putusan yang diambil dalam lingkungan peradilan umum biasa.
Permohonan kasasi dapat diajukan dalam tenggang waktu 14 hari sesudah putusan atau penetapan yang akan dimintakan diperiksa pada tingkat kasasi diberitahukan kepada pihak yang bersangkutan.27
Hal-hal yang digunakan sebagai alasan hukum dalam pengajuan upaya kasasi kepada Mahamah Agung adalah karena:28
1. tidak berwenang atau melampaui batas wewenang;
2. salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku;
25 Ibid.,hal. 228.
26 Ibid.
27 Ibid.,hal. 230-231.
28 Ibid.,hal. 234.
3. lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan.
Dari alasan-alasan tersebut di atas dapat diketahui bahwa di tingkat kasasi ini tidak diperiksa kembali tentang duduk perkara atau fakta, melainkan hukum yang diterapkan, sehingga tidak ada tindakan mengenai pembuktian atas perkara yang terjadi. Penilaian dalam hasil pembuktian tidak dapat dipertimbangkan dalam pemeriksaan melalui upaya kasasi ini. Mahkamah Agung selaku pihak yang berwenang, terikat pada peristiwa yang telah diputuskan dalam tingkat terakhir.
Pemeriksaan atas penerapan hukum meliputi bagian daripada putusan yang merugikan pemohon kasasi maupun bagian daripada putusan yang menguntungkan pemohon kasasi.29
3.1.1.7 Peninjauan Kembali
Putusan yang telah dijatuhkan dalam tingkat terakhir dan tidak lagi terbuka kemungkinan untuk mengajukan perlawanan dapat ditinjau kembali atas permohonan orang yang pernah menjadi salah satu pihak di dalam perkara yang telah diputus dan dimintakan peninjauan kembali. Permohonan peninjauan kembali dapat diajukan baik secara tertulis maupun lisan oleh para pihak sendiri kepada MA melaui Ketua PN yang memutus perkara dalam tingkat pertama. Permohonan peninjauan kembali tidak menangguhkan atau menghentikan pelaksanaan putusan pengadilan dan dapat dicabut selama belum diputus serta hanya dapat diajukan satu kali.30
Hal-hal yang dijadikan sebagai alasan dalam melakukan peninjauan kembali adalah:31
1. apabila putusan didasarkan pada suatu kebohongan atau tipu muslihat pihak lawan yang diketahui setelah perkaranya diputus atau didasarkan pada bukti-bukti yang kemudian oleh hakim pidana dinyatakan palsu;
29 Ibid.,hal. 234-235.
30 Ibid.,hal. 236.
31 Ibid.,hal. 236-237.
2. apabila setelah perkara diputus, ditemukan surat-surat bukti yang bersifat menentukan yang pada waktu perkara diperiksa tidak dapat ditemukan;
3. apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih daripada yang dituntut;
4. apabila mengenai sesuatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan sebab-sebabnya;
5. apabila antara pihak-pihak yang sama mengenai suatu soal yang sama, atas dasar yang sama oleh pengadilan yang sama atau sama tingkatannya telah diberikan putusan yang bertentangan satu dengan yang lain;
6. apabila dalam suatu putusan terdapat suatu kekhilafan Hakim atau suatu kekeliruan yang nyata.