• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGANALISIS LAJU PERTUMBUHAN SPAT KEKERANGAN

Dalam dokumen teknik pembesaran kekerangan 4 (Halaman 130-190)

A. Deskripsi

Pertumbuhan kerang sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang berpengaruh antara lain jenis atau spesies yang dibudidayakan, kualitas bibit dan umur spat. Sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh antara lain padat tebar, keadaan fisik dan kimiawi perairan. Namun demikian selain faktor-faktor tersebut ada faktor lain yang sangat menentukan keberhasilan pertumbuhan budidaya kerang yaitu pengelolaan yang dilakukan oleh manusia.

Keberhasilan pemeliharaan tiram mutiara untuk merekayasa hasil mutiara bulat maupun setengah bulat baik kualitas maupun kuantitas sangat ditentukan oleh proses penanganan tiram sebelum operasi pemasangan inti, saat pelaksanaan operasi, pasca operasi dan keterampilan dari teknisi serta sarana pembenihan tiram yang memadai. Bentuk rekayasa ini dikenal dengan istilah grafting atau

seeding atau juga implantation, yaitu dengan menyisipkan inti (nucleus) bersama selembar organ mantel (irisan daging kerang mutiara lain yang dikenal dengan nama saibo ke dalam organ kerang mutiara

B. Kegiatan Belajar

1. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini siswa dapat :

a. Menerapkan teknik sampling pertumbuhan kerang, b. Menerapkan perhitungan laju pertumbuhan kerang, c. Menerapkan perhitungan biomassa kerang,

e. Menerapkan penanaman inti mutiara pada kerang mutiara,

f. Menerapkan penanganan kerang setelah operasi pemasangan inti mutiara.

2. Uraian Materi

Upaya-upaya (manipulasi) yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan kerang antara lain dengan meningkatkan energi yang dikonsumsi, memperkecil terbuangnya energi lewat feses, memperkecil terbuangnya energi ekskresi nitrogen dan memperkecil pembelanjaan energi metabolisme. Oleh karena itu upaya yang dilakukan agar kerang mengkonsumsi pakan secara optimal yakni :

a. Menjaga kondisi kerang tetap sehat

b. Mengupayakan agar kondisi lingkungannya tetap optimal c. Pemberian pakan secara kumulatif

d. Pemberian pakan dengan frekuensi yang tepat didasarkan kapasitas lambung dan laju pencernaan.

e. Pemilihan pakan yang cocok baik ukuran, bentuk maupun warna f. Penambahan atractan apabila diperlukan

Sedangkan upaya untuk memperkecil terbuangnya energi lewat feses : a. Menjaga kondisi ikan agar berada dalam keadaan sehat

b. Dalam penyusunan ransum komposisi kimiawi dan kandungan energinya dikaitkan dengan stadia hidup ikan dan kategori ikan

c. Dalam penyusunan ransum harus dipilih bahan-bahan yang baik terbebas dari bahan-bahan toksik atau berbahaya

d. Ukuran partikel bahan penyusun pakan berukuran kecil sehingga mudah dihidrolisa

e. Mengupayakan optimasi kondisi lingkungan terutama suhu dan oksigen terlarut.

a. Perhitungan laju pertumbuhan

Kegiatan yang banyak dilakukan dalam budidaya kerang adalah pendugaan pertumbuhan dan populasi spesies yang dibudidayakan. Pertumbuhan adalah perubahan ukuran suatu organisme yang dapat berupa berat atau panjang dalam waktu tertentu. Pertumbuhan kerang sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal

Mengamati

 Bentuklah kelompok siswa dalam jumlah 4 – 5 orang

 Lakukan kegiatan mencari informasi dari buku atau bahan ajar, internet, video dan lain-lain sehingga peserta didik bisa menganalisis laju pertumbuhan spat kekerangan (semi intensif, intensif dan monoculture integrated).

 Adapun informasi yang harus peserta didik cari adalah : a. Teknik sampling pertumbuhan kerang,

b.Perhitungan laju pertumbuhan kerang, c. Perhitungan biomassa kerang,

Menanya

 Lakukan diskusi antar kelompok dengan cara setiap kelompok bertukar informasi !

 Bandingkan informasi yang peserta didik peroleh dengan informasi kelompok lain. Adakah

perbedaannya ? Jika ada, sebutkan !

 Tuliskan kesimpulan peserta didik tentang laju pertumbuhan spat kekerangan kepada guru !

kualitas bibit dan umur spat. Sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh antara lain padat tebar, keadaan fisik dan kimiawi perairan. Namun demikian selain faktor-faktor tersebut ada faktor lain yang sangat menentukan keberhasilan pertumbuhan budidaya kerang yaitu pengelolaan yang dilakukan oleh manusia.

1) Teknik sampling kerang

Pertumbuhan merupakan salah satu aspek biologi yang harus diperhatikan. Ukuran (size) spat yang ditebar sangat berpengaruh terhadap laju pertumbuhan. Kecenderungan pertumbuhan kerang tidak sama menurut umur, besar maupun menurut musim yang berbeda- beda. Laju pertumbuhan tertinggi terdapat pada minggu-minggu pertama penebaran, kemudian kecepatannya berkurang dan setelah 8 bulan laju pertumbuhannya menurun.

Teknik sampling adalah bagian dari metodologi statistika yang berhubungan dengan pengambilan sebagian dari populasi. Jika sampling dilakukan dengan metode yang tepat, analisis statistik dari suatu sampel dapat digunakan untuk menggeneralisasikan keseluruhan populasi. Metode sampling banyak menggunakan teori probabilitas dan teori statistika. Penilaian suatu rancangan penarikan contoh yang terpenting adalah seberapa baikkah sampel tersebut mewakili karaktaristik populasinya. Dalam istilah yang lebih terukur, suatu sampel harus bersifat valid. Validitas sampel ini tergantung dua faktor, yaitu ketepatan (accuracy) dan ketelitian (precision)

Proses memilih satuan sampling dari sebuah populasi, atau disebut sampling, bias dikelompokkan ke dalam beberapa tipe, yaitu:

a) Berdasarkan aspek cara memilih dibagi menjadi ; sampling dengan pengembalian dan sampling tanpa pengembalian.

 Sampling dengan pengembalian apabila dalam proses pemilihannya, satuan sampling yang sudah terpilih dikembalikan lagi ke dalam populasi sebelum pemilihan berikutnya sehingga ada kemungkinan terpilih lebih dari sekali.

 Sampling tanpa pengembalian apabila satuan sampling yang sudah terpilih tidak dikembalikan ke populasi sehingga tidak mungkin terpilih lebih dari sekali.

Dalam prakteknya, yang paling digunakan tipe sampling tanpa pengembalian inilah yang digunakan

b) Berdasarkan aspek peluang pemilihannya, sampling dikelompokkan menjadi dua tipe yaitu sampling non peluang atau non probability sampling dan sampling peluang atau probability sampling/random sampling.

 Sampling dikatakan sampling non peluang jika dalam proses memilih satuan-satuan sampling tidak dilibatkan unsur peluang. Proses ini sangat sederhana dan tidak rumit tetapi mempunyai kerugian relatif besar yaitu tidak bisa dilakukan uji signifikansinya, artinya analisis inferensial secara statistik tidak valid.

 Sampling peluang adalah sampling yang dalam proses pemilihan satuan-satuan samplingnya didasarkan pada unsur peluang sedemikian hingga peluang setiap satuan sampling untuk terpilih diketahui besarnya.

Tahapan sampling adalah:

 Mendefinisikan populasi hendak diamati

 Menentukan kerangka sampel, yakni kumpulan semua item atau peristiwa yang mungkin

 Menentukan metode sampling yang tepat

 Melakukan pengambilan sampel (pengumpulan data)

 Melakukan pengecekan ulang proses sampling

Beberapa kegiatan yang perlu diperhatikan dalam budidaya kerang yakni :

 Waktu pelaksanaan sampling idealnya pagi hari jam 07.00 atau sore setelah jam 16.00, diadakan penundaan pemberian pakan kerang sampai setelah sampling dilakukan dengan tujuan supaya kerang tidak mengalami stress saat sampling.

 Sampling dilakukan setiap 7-14 hari sekali,

 Sampling pertama kerang sebaiknya dilakukan pada saat kerang umur 1 bulan.

Pengambilan sampling kerang dilakukan dengan cara mengambil contoh (sampel) beberapa kerang dari dalam wadah/kolektor secara acak. Kerang terambil kemudian diukur berat dan panjangnya. Selain itu, dengan pengambilan sampling bisa juga diperkirakan angka kelangsungan hidup dan bobot rata-rata kerang untuk menentukan biomassa kerang. Selain untuk menentukan dosis pemberian pakan, sampling pertumbuhan juga dapat membantu memprediksi perkembangan pertumbuhan dan kesehatan serta permasalahan yang timbul selama kerang dipelihara. Lebih jelasnya dapat diuraikan kegiatan sampling kerang sebagai berikut :

 Jumlah kerang (ekor/m2) dikalikan luas yang dihuni kerang, sama dengan populasi.

 Sebaiknya pelaksanaan pengambilan sampling dilakukan oleh satu orang dan luas pengambilan harus stabil.

 Dalam proses sampling teknisi harus memperhatikan luas areal budidaya dan meratanya titik pengambilan sampel.

 Hasil sampling kerang yang dibawah ukuran standar sebaiknya disortir dan tidak dimasukkan data.

2) Perkembangan kekerangan

Kerang/tiram merupakan hewan yang sangat lambat. Sebagai contoh pertumbuhan kerang abalone dimana untuk mencapai ukuran diatas 8 cm/ekor dengan berat 30-40gr/ekor, dibutuhkan masa waktu pemeliharaan 12-14 bulan dengan ketersediaan pakan yang selalu cukup. Pada awal pemeliharaan, pertumbuhan panjang cangkang sejalan dengan pertumbuhan berat hingga mencapai ukuran cangkang 4 cm dengan berat 11,5-13,37gr. Setelah mencapai ukuran diatas 4 cm, pertumbuhan lebih mengarah terhadap pertumbuhan berat. Kelangsungan hidup kerang abalone yang dicapai dalam masa pemeliharaan 12-14 bulan sebesar 55-63%.

a) Pendugaan populasi (P) kerang

Populasi merupakan jumlah total atau banyaknya kerang yang ada di wadah budidaya (pada saat sampling).

Contoh menghitung populasi kerang yakni :

 Jumlah pengambilan kerang di 3 titik sapling = 49 + 76 + 70 = 195 ekor

 Kemudian diambil rata-rata = 195/3 = 65 ekor.

Jumlah sampling (ekor)

P = --- x Luas tambak x Faktor koreksi Luas lapang sapling (m²)

65 ekor

P = --- x 50 m² x 0,3 1 m²

P = 975 ekor.

Keterangan : Faktor koreksi (FK) = 0,3 – 0,5 3) Pendugaan dan perkiraan biomassa kerang

Pendugaan populasi kerang yang dipelihara merupakan faktor dengan tingkat kesulitan yang tinggi karena harus dilakukan secara berulang- ulang dan dengan cara yang tepat. Kegiatan ini akan sangat menentukan jumlah pakan yang harus diberikan dan waktu panen. Biomassa merupakan jumlah total berat kerang yang ada di wadah budidaya (pada saat sampling).

a) Data hasil sampling dikelompokkan berdasarkan lokasi titik sampling & hasilnya menentukan homogenitas ukuran populasi. b) Populasi x ABW (berat rata – rata) = total biomassa

c) Bila ukuran kerang terlihat bervariasi, maka kerang dipilah berdasarkan perkiraan ukuran dihitung & ditimbang jumlahnya masing – masing kelompok dan dihitung prosentasenya karena akan menentukan strategi pemberian pakan (frekuensi dosis dan ukuran).

Contoh menghitung Biomassa kerang :

 Biomassa = Jumlah tebar x SR x ABW

 Jumlah penebaran = 10.000 ekor

 SR = 65%

 ABW = 25 gr

Biomassa = 10.000 ekor x 65 % x 25 gr

= 162.500 gr

= 162,5 kg.

b. Perhitungan Laju pertumbuhan (Growth Rate)

Laju pertumbuhan harian merupakan persentase pertambahan bobot badan kerang per hari selama masa pemeliharaan.

SGR = Ln Wt – Ln Wo x 100% t SGR Wt W0

: Spesifik Growth Rate

: Berat rata-rata sampel pada akhir pengamatan : Berat rata-rata sampel pada awal pengamatan atau α = t Wt - 1 x 100% Wo Α Wt W0 T

: Laju pertumbuhan bobot rata-rata harian : Berat rata-rata sampel pada akhir pengamatan : Berat rata-rata sampel pada awal pengamatan : Lama waktu pemeliharaan

Pertumbuhan panjang mutlak merupakan ukuran panjang kerang yang diukur dari bagian posterior ke anterior atau pengukuran panjang engsel (anterior). Pengukuran dilakukan setiap 30-45 hari sekali, secara langsung dengan menggunakan pengukur (mistar) dengan ketelitian 1 mm.

Pm = Ḹt–Ḹo (Effendie, 1997) Keterangan :

Pm : Pertumbuhan panjang mutlak (cm) Lt : Panjang rata-rata akhir (cm)

Lo : Panjang rata-rata awal (cm)

1) Perhitungan Sintasan (Survival Rate)

SR (Survival Rate - Kelangsungan Hidup) Adalah perkiraan tingkat kehidupan kerang sekarang dibandingkan saat penebaran.

SR = Nt x 100% No SR No Nt t

: Survival Rate (Derajat kelangsungan hidup) : Jumlah sampel pada awal pengamatan : Jumlah sampel pada akhir pengamatan : Lama waktu pengamatan

2) Tabel isian harian

Sebuah papan pencatatan data harian harus ditulis di papan tulis putih (White board) dengan isi data yang mencerminkan perkembangan kondisi kerang minimal hingga 4 hari ke belakang. Sebagai contoh penulisan hendaknya menggunakan spidol/marker white board hitam

atau hijau sedangkan hal-hal kritis seperti temperatur rendah, gangguan hama penyakit, pencemaran atau sisa pakan dicatat oleh spidol berwarna merah.

Tabel 8. Contoh tabel isian harian

T g l Nafsu makan di wadah Perkiraan Biomas Jumlah pakan makro alga Kecerahan (cm) Warna air p H Suhu air Salinitas Jam Sis a Jam Jm l

Untuk mendapatkan informasi yang akurat terhadap seluruh kegiatan budidaya kerang, maka sangat penting melakukan pencatatan harian kegiatan-kegiatan di lapangan dalam sebuah buku atau laporan. Data- data yang dapat diinformasikan terdiri atas :

 Rincian kegiatan persiapan wadah  Informasi kualitas

benih/spat

 Nama unit pembenihan  Tanggal penebaran  Jenis pakan

Pengamatan dan pengendalian penyakit

Warna air, pH, kecerahan dll Tanggal panen

Kualitas hasil panen

Kegiatan perawatan wadah Pengeluaran atau belanja

masing-masing kegiatan Hasil pendapatan Sampling benih dilakukan dengan mengambil sejumlah contoh benih

digunakan untuk menduga bobot rata-rata dan jumlah benih dalam kolam pemeliharaan. Data yang diperoleh sebaiknya dicatat dengan jelas dan teliti, mengingat data sampling ini memiliki nilai yang tinggi dan selanjutnya dikompilasi.

Tabel 9. Contoh Kompilasi Data Sampling Benih

T g l Umur Pemeliha raan Sampling ke- Bobot Rata- rata P o p u la si Biomassa Jumlah Pakan Habis F CR Kondisi kerang

Keberhasilan kegiatan pemeliharaan benih kerang (spat) ditandai dengan nilai mortalitas yang cukup rendah dari jumlah total kerang yang dipelihara. Dari hasil sampling yang didapatkan dapat digunakan untuk mengetahui tingkat survival rate (SR) kerang selama pemeliharaan.

Mengeksplorasi/Eksperimen

Lakukan eksplorasi/eksperimen terhadap perhitungan laju pertumbuhan kerang berdasarkan stadia perkembangan komoditas kerang yang dibudidayakan. Kegiatan eksplorasi/eksperimen ini terdiri dari 3 (tiga) kegiatan praktek dan dilaksanakan berulang-ulang sehingga diperoleh data pertumbuhan kerang setiap samplingnya.

Alat-alat atau bahan yang harus disediakan :

1. Sarana budidaya kerang (KJA/longline/Pen culture) 2. Sampel Kerang sakit

3. Timbangan

4. Kotak kayu (ukuran 1 x 1 m) 5. Baskom/ember

Mengeksplorasi/Eksperimen 1

Langkah-langkah yang harus peserta didik kerjakan adalah :

1. Pada awal pemeliharaan, kerang dihitung jumlahnya untuk mengetahui jumlah biomassa kerang pada awal penebaran ! Setiap 30-45 hari sekali dilakukan sampling.

2. Tentukan wadah budidaya yang akan diambil sampel kerangnya ! 3. Lakukan pengukuran luas wadah budidaya !

4. Tentukan titik-titik sampling kerang secara acak dan merata ! 5. Letakkan kotak kayu pada titik sampling yang telah ditentukan !

6. Lakukan pengumpulan sampel kerang yang masuk ke dalam kotak kayu secara hati-hati agar tidak terjadi stress maupun mortalitas pada kerang yang disampling !

7. Lakukan perhitungan jumlah populasi kerang dengan rumus berikut : Populasi = jumlah sampel/m2 x luas wadah budidaya

8. Lakukan perhitungan derajat kelangsungan hidup kerang menggunakan rumus berikut:

SR =

Nt

x 100%

No

9. Lakukan analisis hasil perhitungan derajat kelangsungan hidup kerang di areal budidaya !

a) Spesifik Growth Rate (SGR) SGR =

Ln Wt – Ln Wo

x 100%

t

b) Laju pertumbuhan bobot rata-rata harian α = t

Wt - 1 x 100%

Wo

α : Laju pertumbuhan bobot rata-rata harian

c) Pertumbuhan panjang mutlak Pm = Ḹt–Ḹo

Mengeksplorasi/Eksperimen 2

Langkah-langkah yang harus peserta didik kerjakan adalah : 1. Tentukan sampel kerang yang akan diamati !

2. Lakukan penimbangan sampel kerang untuk memperoleh berat rata-rata awal sampel sebelum di tebar pada wadah pemeliharaan !

3. Lakukan pengukuran panjang sampel kerang untuk memperoleh panjang rata-rata awal sampel sebelum di tebar pada wadah pemeliharaan !

4. Lakukan penimbangan kembali sampel kerang setiap 30 hari pemeliharaan untuk memperoleh berat rata-rata akhir sampel !

5. Lakukan pengukuran panjang kembali sampel kerang setiap 30 hari pemeliharaan untuk memperoleh panjang rata-rata akhir sampel !

6. Lakukan pencatatan berat rata-rata kerang dan panjang rata-rata kerang pada awal dan akhir setiap pengamatan !

Tabel 10. Hasil Pengamatan pertumbuhan kerang

Parameter Keterangan

Jenis kerang :

Indokator Pengamatan Pengamatan (Sampling)

I II III IV

a. Umur Pemeliharaan : b. Bobot Rata-rata :

c. Populasi :

d. Biomassa :

e. Jumlah Pakan Habis :

f. FCR :

g. Kondisi kerang :

1. Gambarlah/dokumentasikan seluruh tahapan pengamatan ! 2. Lakukan analisis terhadap proses pertumbuhan biota air ! 3. Buatlah laporan hasil pengamatan pertumbuhan biota air !

Mengeksplorasi/Eksperimen 3

Langkah-langkah yang harus peserta didik kerjakan adalah :

1. Lakukan perhitungan derajat kelangsungan hidup kerang dan berat rata-rata kerang pada setiap sampling sesuai lembar kerja sebelumnya !

2. Lakukan perhitungan jumlah biomassa kerang dengan rumus berikut : Biomassa = Jumlah tebar x SR x ABW

3. Lakukan analisis hasil perhitungan biomassa kerang! 4. Buatlah laporan hasil analisis biomasaa budidaya kerang !

Mengasosiasikan/ Mengolah Informasi

1. Teknik menghitung bobot rata-rata kerang :

……… ……… 2. Teknik menghitung populasi kerang :

……… ……… 3. Teknik menghitung biomassa kerang :

……… ……… 4. Teknik menghitung Jumlah pakan yang habis :

……… ……… 5. Teknik menghitung FCR :

……… ……… 6. Kondisi kerang selama pemeliharaan :

……… ……… ……….

Guru Mata Pelajaran Kelompok …….

Mengamati

 Bentuklah kelompok siswa dalam jumlah 4 – 5 orang

 Lakukan kegiatan mencari informasi dari buku atau bahan ajar, internet, video dan lain-lain sehingga peserta didik bisa menerapkan penanaman inti mutiara pada kerang mutiara.  Adapun informasi yang harus peserta didik cari adalah :

a. Teknik penanganan kerang sebelum operasi pemasangan inti mutiara,

b. Teknik penanaman inti mutiara pada kerang mutiara,

c. Teknik penanganan kerang setelah operasi pemasangan inti mutiara.

Menanya

 Lakukan diskusi antar kelompok dengan cara setiap kelompok bertukar informasi !

 Bandingkan informasi yang peserta didik peroleh dengan informasi kelompok lain. Adakah

perbedaannya ? Jika ada, sebutkan !

 Tuliskan kesimpulan peserta didik tentang penanaman inti mutiara pada kerang mutiara kepada guru !

c. Penanaman inti mutiara pada kerang mutiara

Keberhasilan pemeliharaan tiram mutiara untuk menghasilkan mutiara bulat maupun setengah bulat baik kualitas maupun kuantitas sangat ditentukan oleh proses penanganan tiram sebelum operasi pemasangan inti, saat pelaksanaan operasi, pasca operasi dan keterampilan dari teknisi serta sarana pembenihan tiram yang memadai. Pada umumnya tiram mutiara yang akan dioperasi inti mutiara bundar maupun setengah bulat berasal dari hasil penangkapan dialam dan hasil pembenihan kerang (breeding). Beberapa pertimbangan dalam menentukan jenis tiram mutiara yang akan dioperasi berdasarkan tempat pengambilan tiram tersebut yakni:

1) Tiram hasil tangkapan di alam diperoleh dari kolektor dan nelayan sehingga tidak perlu dilakukan kegiatan pembenihan. Namun ukuran cangkang tiram dari alam terdiri dari macam-macam ukuran menyebabkan tiram harus disortir terlebih dahulu menurut ukuran besarnya mutiara, hal inilah yang menjadi penyebab sehingga tidak dapat melaksanakan operasi pemasangan inti dalam jumlah yang banyak.

2) Tiram hasil pembenihan dari hatchery dapat diperoleh ukuran yang relatif seragam ukurannya sehingga dapat dilakukan operasi pemasangan inti mutiara dalam jumlah yang banyak. Namun produksi benih spat hasil pembenihan relatif tidak stabil dan jumlah petani pembenih kerang masih terbatas. Sehingga umumnya kedua kegiatan diatas masih dilakukan.

1) Prinsip pembentukan mutiara

Proses terjadinya mutiara diawali dengan masuknya benda asing ke dalam lapisan tubuh tiram hidup. Tiram akan memberi respon untuk menolak rasa sakit dan berusaha mengeluarkan benda asing tersebut

dari tubuhnya, sampai mengeluarkan lendir conchiolin hingga menutupi benda asing tadi. Lendir ini disebut lapisan mutiara (nacre) yang terbentuk dari zat Kalsium Karbonat yang dihasilkan oleh tiram hidup. Kemudian proses pelapisan yang terjadi selama bertahun-tahun akan menghasilkan suatu benda mengkilat yang dinamakan mutiara. Jadi mutiara merupakan suatu benda yang tidak utuh namun suatu benda mengkilat yang mempunyai inti dari lapisan nacre.

Pada dasarnya inti mutiara yang disebut pig toe memiliki sifat-sifat mutiara dalam beberapa segi antara lain ; coefisient of expansion

(koefisien untuk berkembang), kekerasan, daya adhesivenya (kemampuan merekatnya) dan daya tembus terhadap cahaya. Pada budidaya mutiara benda asing yang dimaksud adalah berupa inti yang terbuat dari kulit kerang air tawar yang ditemukan di sungai Missisipi (Amerika Serikat), yang kemudian dibuat sesuai bentuk dan ukuran yang diinginkan sebelum disisipkan ke dalam tubuh tiram mutiara. Nantinya diharapkan akan dapat terbentuk lapisan indung mutiara (nacreous) di sebelah luarnya.

2) Cara Kerang Menghasilkan Mutiara

Kerang termasuk kedalam fillum mollusca merupakan hewan triploblastik selomata yang bertubuh lunak. Ke dalamnya termasuk semua hewan lunak dengan maupun tanpa cangkang, seperti berbagai jenis siput, kiton, kerang-kerangan, serta cumi-cumi. Hewan ini memiliki ciri tubuh tidak bersegmen. Simetri bilateral. Tubuhnya terdiri dari "kaki" muskular, dengan kepala yang berkembang beragam menurut kelasnya. Kaki dipakai dalam beradaptasi untuk bertahan di substrat, menggali dan membor substrat, atau melakukan pergerakan. Kerang dikenal sebagai penghasil mutiara melalui rekayasa inti mutiara (nucleus).

Bentuk rekayasa ini dikenal dengan istilah grafting atau seeding atau juga implantation, yaitu dengan menyisipkan inti (nucleus) bersama selembar organ mantel (irisan daging kerang mutiara lain yang dikenal dengan nama saibo ke dalam organ kerang mutiara. Organ mantel ini

diambil oleh individu kerang mutiara yang lain dan berperan sebagai donor. Berdasarkan bebera penelitian, pemilihan donor yang baik akan menentukan kualitas mutiara yang dihasilkan terutama dari segi warna, bentuk dan kilau mutiara. Inti dan irisan mantel ini ditempatkan di dalam gonad kerang setelah sebelumnya dibuat irisan kecil pada dinding gonad. Irisan daging mantel akan membentuk kantung mutiara (pearl sac) dan nantinya akan memproduksi nacre. Proses ini dikenal sebagai biomineralisasi, sama halnya dengan proses pembentukan tulang pada manusia dan hewan bertulang belakang lainnya. Nacre

adalah bagian permukaan yang berkilau dari mutiara atau juga dinding bagian yang berkilau dalam kerang. Pada bagian dalam kerang, nacre

diistilahkan sebagai Mother of Pearl (ibu dari mutiara) sedangkan nacre

yang melekat di inti disebut mutiara. Kualitas nacre yang dihasilkan menjadi penentu kualitas mutiara secara keseluruhan. Proses penyisipan merupakan bagian kecil dari rangkaian proses budidaya yang panjang sejak penentuan lokasi budidaya sampai pada penanganan pasca panen. Prinsip proses penyisipan ini didasarkan atas bagaimana terbentuknya mutiara secara alami dimana kerang akan membungkus benda asing yang masuk ke dalam organ dalam dengan lapisan nacre. Prinsip kerja ini sama bila kerang mengalami kerusakan cangkang, mereka akan segera menutup lubangnya dengan nacre

sehingga mencegah tubuh lunaknya terekspos. Namun sejauh ini belum ada bukti bahwa mutiara alami terbentuk karena masuknya butir pasir ke dalam tubuh kerang. Asumsi kuat yang menunjang terbentuknya lapisan nacre ini adalah adanya virus seperti yang ditemukan pada beberapa jenis kerang mutiara yang dibudidayakan.

3) Penanganan pra pemasangan inti

Sebelum proses penanganan tiram mutiara (Pinctada maxima) untuk pemasangan inti mutiara, harus dilakukan beberapa proses kegiatan budidaya yaitu :

a) Seleksi bibit

Benih tiram mutiara dari hasil penyelaman (natural) maupun dari hasil pembenihan (breeding) diseleksi untuk mencari tiram yang telah siap untuk dioperasi pemasangan inti. Persyaratan benih siap operasi untuk pemasangan inti mutiara (Sutaman, 1993) yakni :

 tiram yang kondisinya sehat, tidak cacat,

 telah berumur 2-3 tahun jika benih itu di dapat dari usaha

Dalam dokumen teknik pembesaran kekerangan 4 (Halaman 130-190)

Dokumen terkait