Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Memberikan informasi status terkini perikanan bulu babi di pantai Semerang.
2. Menjadi bahan masukan dalam pengelolaan suberdaya bulu babi yang
3
Gambar 1 Diagram alir perumusan masalah FISIKA Suhu, kecerahan, kedalaman dan kecepatan arus pH, DO dan salinitas Jenis, kerapatan, tutupan dan sebaran
lamun
BIOTA
PENGELOLAAN SUMBERDAYA BULU BABI
STOK BULU BABI
AKTIVITAS PERIKANAN DINAMIKA POPULASI - laju pertumbuhan - mortalitas - tingkat kematangan gonad - musim pemijahan - ukuran pertama kali
matang gonad (Lm) - ukuran bulu babi
tertangkap nelayan LINGKUNGAN KIMIA BIOLOGI POPULASI BULU BABI JUMLAH NELAYAN HASIL TANGKAPAN INTENSITAS PENANGKAPAN BULU BABI
4
2. TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi bulu babi T. gratilla
Menurut Clark dan Rowe (1971), David dan George (1979), klasifikasi bulu babi jenis T. Gratilla adalah:
Filum : Echinodermata Kelas : Echinoidea Subkelas : Regularia Superordo : Echinacea Ordo : Temnopleuroida Famili : Toxopneustidae Genus : Tripneustes
Spesies : Tripneustes gratilla Linnaeus 1758.
Morfologi T. Gratilla
T. gratilla merupakan salah satu jenis bulu babi yang mempunyai struktur cangkang beraturan dan berbentuk membulat. Spesies ini termasuk sub kelas Regularia (Clark dan Rowe 1971). Struktur cangkang ini merupakan struktur yang melindungi organ bagian dalam, dilengkapi dengan spina yang dapat digerak-gerakkan dan tanpa lengan (arms) (Storer dan Usinger 1965; Reseck 1979). Tubuh bulu babi membulat tanpa lengan atau jejari dan pada permukaan tubuh terdapat spina yang dapat digerakkan. Tubuh diselaputi oleh cangkang yang terdiri atas 10 jajar keping-keping ganda yang bertaut bersama-sama.
Gambar 2 Bentuk morfologi bulu babi T. Gratilla (Brusca dan Brusca 1993) Pada umumnya bulu babi berwarna gelap antara lain hitam, hijau, coklat dan ungu. Meskipun beberapa diantaranya pucat atau mendekati putih namun ada juga yang berwarna merah dan hijau. Biasanya spina dan warnanya menunjukan pewarnaan yang sama walaupun berbeda pada beberapa spesies. Bulu babi yang masih muda mampu merubah warna asal cangkang dan spinanya mejadi abu – abu pucat atau putih oleh kontraksi dari melanofor yang berisi pigmen hitam. Warna bulu babi dibatasi oleh pigmen sel atau mungkin terdapat sebagai kumpulan granula pada dermis (Hyman 1975). T gratilla memiliki warna yang khas bila
5 dibandingkan dengan bulu babi yang lainnya. Pada sisi ambilakralnya berwarna putih dan hitam, dan yang lainnya kadang berwarna kemerahan atau kehijauan. Podia yang menjulur keluar biasanya berwarna putih (David dan George 1979).
Gambar 3 Diagram bulu babi Regularia (Brusca dan Brusca 1993)
Tripneustes gratilla memperlihatkan bentuk umum cangkang yang beraturan. Lempengan yang membentuk cangkang tersebut adalah ambulakrum
dan interambulakrum. Daerah antara ambulakrum disebut daderah
interambulakrum, lebar dan tak mempunyai kaki. Pada keping-keping terdapat rangkaian tentakel yang membulat, terdapat spina, yag terdiri atas kristal CaCO3, mempunyai dasar seperti mangkuk dan di antara spina terdapat pedikelaria yang bercabang tiga.
Bentuk cangkang yang membulat menempatkan posisi mulut pada salah satu ujung badan bagian bawah (sisi oral) dan posisi anus pada ujung yang berlawanan (sisi aboral). Hewan ini bergerak pindah pada posisi mulut. Hewan ini tidak memiliki bagian depan (anterior), dan dapat bergerak pindah ke semua arah tanpa memutar atau membalikan tubuhnya (Reseck 1979). Meskipun dengan pergerkan yang lambat hewan ini dapat dengan mudah memanjat permukaan yang vertikal karena mempunyai kaki tabung (podia) yang ukurannya lebih panjang dari spinanya (Gonser 1971).
Pertumbuhan dan Reproduksi Bulu Babi T. gratilla
Umumnya bulu babi memiliki jenis kelamin yang terpisah yaitu kelamin jantan dan betina. Pembiakan terjadi secara eksternal di dalam medium air laut. Telur yang telah dibuahi akan berkembang menjadi larva pluteus yang selanjutnya mengalami proses metamorfosis menjadi bentuk muda atau juvenil (Momen 1967).
6
Darsono (1986), menyatakan bahwa ada enam fase perkembangan bulu babi yaitu: (1) Fertilisasi telur, (2) perkembangan menjadi larva pluteus melewati proses blastula dan gastrula, (3) pertumbuhan dan perkembangan larva pluteus, (4) metamorfosis, dan (5) pertumbuhan bentuk menjadi dewasa dan matang kelamin.
Gambar 4 Gambaran skematik struktur testis dan ovary pada tingkat pematangan yang berbeda. Kolom kanan dan kiri memperlihatkan proses yang biasa, kolom tengah proses yang tidak biasa (Yoshida 1952 diacu dalam Darsono 1986).
Gonad bulu babi (Echinoidea) menempel pada lapisan “perivisceral epithelium lempeng interambulakrum mengisi lebih dari separuh rongga badan (body cavity) pada sisi apikal. Gonad tersebut terdiri atas 5 (lima) lobi yang tersusun secara radial. Tiap lobus gonad mempunyai sebuah saluran (gonaduct) bermuara ke arah luar pada lempeng genital (genital plates). Penampang
7 melintang gonoduct berbentuk bulat, berdiameter 800 μ – 1.000 μ. Bila diperha-tikan, organ gonad terlihat 13 – 15 pasangan percabangan “racemose” pada sisi-sisi gonoduct. Percabangan tersebut disebut “acini”, masing-masing berbentuk Y (Y-shaped). Pada hewan contoh dengan diameter cangkang 20 mm – 25 mm, struktur bentuk acini ini masih berkembang dalam ukuran dan dimensinya. Pada ukuran tersebut terlihat 3 atau 4 percabangan, dengan kenampakan superficial gonad yang semi transparan. Percabangan. (ramification) dari pada “acini” gonad pada individu dengan diameter cangkang kecil dari 25 mm meningkat dalam jumlahnya. Pada tingkat ini warna gonad berbeda dengan sebelumnya, warna menjadi coklat kekuningan (yellowish brown) (Darsono 1986).
Fase netral (0), didapatkan pada individu yang masih kecil/muda. Gonad netral adalah kecil, elongated, relatif tipis, semi transparan kenampakannya. Secara mikroskopis irisan melintangnya terlihat dinding lobus yang sangat tipis. Pada fase ini masih sulit dibedakan jenis kelaminnya.
Fase awal (I), (developing virgin atau recovering spent). Pada fase ini terjadi pertumbuhan sel-sel gamet sehingga jenis kelaminnya sudah bisa dilihat di
bawah mikroskop. Kenampakan preparat pada “developing virgin” dan
“recovering spent” adalah sama, hanya terlihat bahwa folikel pada hal yang belakangan lebih besar dari yang pertama. Pada pengamatan mikroskopis terlihat bahwa pada developing virgin dan recovering spent berbeda dimensinya. Yang pertama nampak lebih kecil dan warnanya masih keputih-putihan (whitish),
sedang pada recovering spent gonad berwarna coklat kemerahan (reddish brown).
Betina: irisan ovary pada tingkat ini mudah dikenal, karena dapat terlihat sejumlah oogonia dan oocytes muda yang menempel sepanjang lapisan germinal dinding folikel. Oogonium berbentuk sebagai gelondong benang. Cytoplasmanya mengelilingi inti (nucleus) sebagai lapisan tipis yang homogen. Oocyte muda berbentuk bola yang tidak beraturan dan mempunyai inti relatif besar yang dikelilingi oleh lapisan tipis yang berupa akumulasi cytoplasma yang basofilik. Ukuran rata-rata diameter dari pada oocyte adalah sekitar 15 μ, tapi kadang-kadang pada individu muda hanya berukuran sekitar 5 μ. Jantan: Kenampakan karakteristik irisan testis pada fase awal ini adanya kandungan sejumlah spermatogonia dan spermatocytes sepanjang dinding folikel. Spermatocyte dengan spermatogonium cukup mudah dibedakan, yang pertama lebih kecil dalam ukuran dan kurang menyerap warna haematoxylin dari pada yang kedua. Pada tingkat ini aktifitas spermatogenesis masih rendah.
Fase tumbuh (II), (Growing). Gonad pada tingkat ini, secara visual tidak terlihat perbedaan antara testis dan ovary. Gonad berwarna sama yaitu coklat
kemerahan (reddish brown). Betina: masih ditemukan oogonia kecil pada
periphery folikel, tapi jumlahnya lebih sedikit dari pada tingkat I. Sejumlah oocyte muda yang berkait satu sama lain mengisi ke arah tengah folikel. Diameternya sekarang mencapai 40 μ – 60 μ. Sejumlah kecil oocytes yang sudah lebih berkembang mengisi bagian tengah folikel. Ovary berkembang sejalan dengan pertumbuhan oocytes. Jantan: spermatogenesis terlihat lebih nyata, produksi spermatocytes dan spermatogonia berkembang cepat sepan-jang periphery folikel. Dengan demikian irisan folikel jantan terlihat lapisan sejumlah gamet. Tidak ditemukan spermatozoa dalam lumen.
Fase matang awal (III), (Premature). Baik pada gonad jantan maupun betina bertambah besar dimensinya dibanding pada fase II. Secara kasar pada fase
8
ini dapat dibedakan antara gonad jantan dan betina dari perbedaan warna. Gonad jantan umumnya cokelat kekuningan (yellowish brown) dan coklatkemerahan (reddish brown), sedang gonad betina umumnya kuning muda (yellow whitish) atau putih krem (creamy white) . Betina: oogenesis terjadi secara aktif, ditandai oleh perkembangan cepat dari ukuran oocyte secara individual. Sejumlah oocyte besar berbentuk oval mengisi lumen dari folikel, berdimensi sekitar 80 – 140 μ x 40 – 80 μ. Sejalan dengan terbebasnya telur (ova) dari dinding folikel, tumbuh men-capai ukuran sekarang 80 μ – 100 μ. Folikel ovary pada tingkat ini
mempunyai sejumlah oocytes dengan ukuran berkisar 10 μ — 70 μ, dan sebagian
telur matang (ova) yang mengisi lumen folikel. Secara umum boleh dikata-kan bahwa folikel telah siap menampung oocytes primer yang akan mencapai ukuran maksimum. Jantan: proses spermatogenesis nampak makin aktif. Spermatocytes dan spermatid terlihat meningkat dalam jumlahnya. Beberapa spermatozoa mengisi bagian lumen folikel secara sentripetal. Pada beberapa folikel jantan yang lain mungkin sekelompok kecil spermatozoa telah mengisi pusat folikel. Kelompok ini diperkirakan terdiri sel – sel yang terbentuk paling awal.
Gambar 5 Gonad bulu babi T. gratilla (A. jantan: cokelat kekuningan; B. betina: putih krem)
Fase matang (IV), (Mature). Gonad jantan dan betina pada fase ini telah mencapai puncak perkembangan, dan memperlihatkan ukuran dan volume maksimum. Betina: seluruh ruang lumen dari pada folikel terisi penuh oleh ova dengan ukuran diameter sekitar 80 μ – 100 μ, kadang-kadang pada dinding folikel juga sudah terlihat oocytes muda baru. Ukuran ova (oocytes yang telah matang) ini tidak jauh berbeda sebagai pada fase III, namun tampak ada perubahan kandungan cytoplasmanya, makin homogen dan lebih menyerap warna
haematoxylin. Jantan: perkembangan spermatogenesis telah mencapai
spermatozoa matang. Sementara itu pada dinding folikel tetap berlangsung proses awal spermatogenesis. Seluruh ruang lumen folikel terisi penuh oleh spermatozoa.
Fase pijah (V), (Spent). Gonad yang telah memijah memberi kenampakan
mengecil. Baik gonad jantan maupun betina sering berwarna coklat keputihan (whitish brown). Tidak jelas tanda-tanda visual yang membedakannya. Betina: secara mikroskopis tergantung lamanya waktu setelah memijah, irisan memperlihatkan berbagai kenampakan. Namun secara umum biasanya. Ditandai dengan kosongnya lumen dan beberapa sisa ova yang tertinggal. Pada dinding folikel nampak suatu lapisan yang merupakan perkembangan serabut jaringan penunjang (connective tissue). Sisa ova dalam folikel secara bertahap diserap kembali oleh sel – sel phagocytes, dan lumen (ruang folikel) secara berangsur
9 diisi jaringan penunjang, berupa sel – sel nutritif. Kemudian oogonia dan oocystes muda tumbuh kembali dan tanda-tanda kenampakan berulang seperti pada tingkat I. Jantan: perubahan histologis yang jelas adalah berkurangnya spermatozoa sehingga lumen nampak kosong, kadang-kadang terlihat sisa-sisa sperma pada lumen. Keadaan yang terjadi berikutnya adalah identik dengan pada folikel betina.
Habitat dan Penyebaran Bulu Babi T. gratilla
Padang lamun merupakan salah satu habitat yang penting di perairan danagkal. Selain berperan sebagai produsen, penangkap sedimen, pendaur zat hara, padang lamun juga berperan sebagai habitat biota laut lainnya (Philips and Menez 1998). Bulu babi sebagai salah satu penghuni padang lamun, kerap kali ditemukan di daerah padang lamun campuran. T. Gratilla adalah salah satu jenis bulu babin yang hidup di padang lamun campuran. Kondisi ini terutama disebabkan karena hewan ini bergantung kepada berbagai jenis tumbuhan lamun seperti halnya genus Thalassia, Syringodium, Thalasodendron dan Cimodocea.
Selain itu hewan ini juga menyukai substrat yang agak keras, dengan substrat padang lamun campuran terutama yang terdiri atas pasir dan pecahan karang (Aziz 1994). Lawrence (1975) menjelaskan bahwa kelompok bulu babi herbivora
terutama dari genus Tripneustes, Diadema, Temnopleurus, Echinometrix,
Toxopneustes dan Mespilia, disamping dijumpai pada daerah lamun campuran juga ditemukan di daerah pertumbuhan alga. Hal ini disebabkan karena disamping memakan daun lamun mereka juga memakan alga. Aziz (1995) menyatakan bahwa bulu babi genus Tripneustes, Lytechinus dan Temnopleurus lebih sering dijumpai di padang lamun dibandingkan dengan di daerah pertumbuhan alha.
Di padang lamun bulu babi dapat tumbuh soliter atau mengelompok, tergantung pada jenis dan habitatnya. Bulu babi jenis Diadema setosum, D. Antillarum, T. Gratilla, T. Ventricosus, Lytechinus variegatus, Temnopleurus toreumaticus dan Strogylocentrotus sp., cenderung hidup mengelompok, sedangkan jenis Mespilia globulus, Toxoneustes pileolus, Pseudoboletia maculata
dan Echinometric diadema cenderung hidup soliter (Aziz 1994). Bulu babi jenis
T. Gratilla dan Temnopleurus toreumaticus seringkali terlihat hidup mengelompok pada suatu habitat lamun dengan tingkat kepadatan tertentu (De Beer 1990).
3. METODE
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di perairan Pantai Semerang Kabupaten Lombok Timur (Gambar 6) selama bulan Februari sampai dengan Juni 2013 dengan dua kali pengambilan sampel setiap bulannya. Perairan pantai Semerang merupakan salah satu daerah penangkapan/pemanenan bulu babi oleh masyarakat. Madaq adalah istilah yang digunakan untuk waktu menangkap atau memanen biota padang lamun pada saat air laut surut. Madaq dilakukan sebanyak 2 periode setiap bulannya pada waktu pasang purnama (spring tide) yaitu pada saat bulan baru dan bulan purnama dimana pada saat itu dihasilkan waktu pasang tinggi yang sangat tinggi dan pasang rendah (surut) yang sangat rendah, sehingga waktu pengambilan sampel juga dilakukan sebanyak dua kali setiap bulannya mengikuti waktu surut air laut.
10
Gambar 6 Peta lokasi penelitian
Pengumpulan Data Pengumpulan Data Parameter Lingkungan
Pengumpulan data parameter lingkungan dilakukan langsung di lapangan (insitu). Parameter lingkungan yang diukur meliputi parameter fisika (suhu, kecerahan, kedalaman dan kecepatan arus), kimia (pH, DO dan salinitas) serta biologi (jenis, kerapatan, tutupan dan sebaran lamun).
Pengambilan Sampel Bulu Babi dan lamun
Sampel bulu babi diproleh dari hasil pengambilan sampel menggunakan metode transek kuadrat pada saat air surut dan dengan bantuan alat snorkling pada saat air mulai pasang. Lima transek dipasang tegak lurus garis pantai menuju tubir dan kuadrat yang digunakan berukuran 2,5 x 10 m. Selain itu, sampel dari hasil tangkapan nelayan juga daiambil pada setiap periode penangkapan bulu babi. Variabel biologi bulu babi yang diukur antara lain: jumlah (individu), diameter cangkang (mm), bobot tubuh (gram), jenis kelamin, bobot gonad (gram) dan tingkat kematangan gonad (TKG) bulu babi.
Selain parameter biologi, dilakukan juga pengamatan parameter ekologi yang meliputi kerapatan dan sebaran jenis bulu babi. Untuk mengetahui variabel lingkungan yang mempengaruhi keberadaan bulu babi dilakukan analisis vegetasi lamun dengan menggunakan kuadrat berukuran 0,5 x 0,5 m yang diletakkan secara acak di dalam kuadrat bulu babi (Gambar 7). Variabel yang diamati meliputi jenis, kerapatan, tutupan dan sebaran lamun di lokasi penelitian.
Penentuan jenis lamun dilakukan secara langsung dengan menggunakan identifikasi lamun menurut Seagrass Watch Northern Fisheries Center Australia,
Lanyon (1986); Mc Kenzie (2003); Mc Kenzie et al. (2003). Data yang diperoleh
digunakan untuk menentukan kerapatan, tutupan dan distribusi jenis lamun
menggunakan software ArcView GIS 3.3.
11
Gambar 7 Metode Transek Kuadrat yang digunakan untuk pengambilan sampel bulu babi dan lamun.
Analisis Data
Hubungan Diameter Cangkang dengan Bobot Tubuh Bulu Babi
Hubungan diameter cangkang dengan bobot tubuh bulu babi menggunakan uji regresi dengan rumus sebagai berikut (Effendi 2002):
=
Keterangan:
W = bobot tubuh bulu babi (gram)
D = diameter cangkang bulu babi (mm)
a dan b = konstanta
Hubungan parameter diameter cangkang dengan bobot tubuh bulu babi dapat dilihat dari nilai b yang dihasilkan. Nilai b sebagai penduga kedekatan hubungan antara kedua parameter, yaitu:
Nilai b=3, menunjukan pola pertumbuhan isometrik (pola pertumbuhan panjang sama dengan pola pertumbuhan berat)
Nilai b≠3, menunjukan pola pertumbuhan allometrik.
Parameter pertumbuhan dan umur (K, D∞, to)
Penghitungan pertumbuhan bulu babi dilakukan dengan pendekatan metode Plot-Walford untuk menduga parameter pertumbuhan D∞ dan K dari persamaan von Bartalanffy sebagai berikut (King 1995):
= ∞( 1− [ ( ) ]
)
Keterangan:
Dt = diameter cangkang pada umur t (satuan waktu)
D∞= diameter maksimum secara teoritis (diameter asimtotik)
K = koefisien pertumbuhan (per satuan waktu)
12
pendugaan umur dilakukan dengan pendekatan berdasarkan pengalaman Pauly (1983) dalam mnganalisis data frekuensi panjang, yang kemudian dikenal dengan rumus empiris Pauly:
( – ) = 0.3952−0.2752 ( ∞) −1.038 ( K)
Parameter pertumbuhan dan umur tersebut (K, D∞, to) dapat diduga dengan menggunakan metode ELEVAN 1 yang terakomodasi dalam software FISAT II (FAO 2002).
Mortalitas
Estimasi laju mortalitas total (Z), menggunakan metode kurva hasil tangkapan yang dikonversi ke panjang/diameter (Spare dan Venema, 1999) dan menggunakan rumus Beverton dan Holt (1957):
= ( − )
( − )
Metode lain jika ′ diketahui dapat digunakan rumus berikut:
= ( − )
( − ′)
Keterangan:
K = Indeks kurva pertumbuhan von Bertalanffy
D∞ = diameter infiniti
= diameter rata-rata bulu babi ukuran D’ Dc = diameter pertama tertangkap
D’ = diameter terkecil dalam sampel dengan jumlah sudah dapat
diperhitungkan/ representatif
Mortalitas alami dapat diduga dengan menggunakan rumus empiris Pauly (1983,1984). Pauly menjelaskan bahwa ada pengaruh suhu tahunan terhadap laju mortalitas, berdasarkan pengamatan empirisnya. Rumus empiris Pauly adalah sebagai berikut:
= −0.0066−0.279 log ∞+ 0.6543 log + 0.4638 log
Ukuran Pertama Kali Matang Gonad
Analisis perhitungan ukuran pertama kali matang gonad (Dm) dihitung dengan pendekatan formula kurva logistik seperti yang diperkenalkan oleh King (1995) sebagai berikut:
= 1
( 1 + exp (− ( − ) )
Keterangan:
P = proporsi ukuran matang gonad
r = slove kurva
D = diameter rata-rata (mm)
13
Intensitas Tangkapan
Analisis intensitas tangkapan per upaya (CPUE) sebagai indeks kelimpahan stok dilakukan dengan pendekatan:
=
∗
Keterangan:
C = intensitas tangkapan (ekor/orang/jam) N = jumlah hasil tangkapan bulu babi (ekor) B = jumlah nelayan (orang)
T = lama waktu penangkapan (jam)
Status Dan Tingkat Pemanfaatan Bulu Babi
Variabel pengukuran dan pengumpulan data sama dengan aspek dinamika populasi yang telah dijabarkan sebelumnya. Penghitungan tingkat pemanfaatan diperoleh dari nilai-nilai dugaan mortalitas alami (M) dan mortalitas penangkapan (F). Pendekatan rumus dari nilai-nilai tersebut digunakan persamaan berikut:
= +
Dijelaskan lebih lanjut apakah suatu stok sudah mengalami kelebihan tangkap atau belum, dengan asumsi bahwa nilai E optimal (Eopt) adalah 0,5. Penggunaan E~0,5 sebagai nilai optimal untuk rasio pengusahaan suatu stok didasarkan pada asumsi bahwa hasil berimbang adalah optimal bila F=M (Gulland 1983).
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Kondisi Fisika dan Kimia Perairan Pantai Semerang
Lokasi penelitian berada di bagian luar Teluk Seriwe dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Kondisi ini menyebabkan perairan pantai Semerang memiliki kondisi fisika dan kimia perairan yang dinamis. Kondisi fisika dan kimia yang diamati meliputi suhu, kecerahan, kecepatan arus, pH, DO dan salinitas perairan. Data hasil pengamatan kondisi fisik dan kimia perairan pantai Semerang disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Kondisi fisika dan kimia pantai Semerang
Parameter Hasil Pengamatan
FISIKA Suhu (°C) 27 – 30,5 Kecerahan (%) 100 Kecepatan arus (m/s) 0,013 – 0,033 Kedalaman (cm) 0 – 90 KIMIA pH 7,0 - 8,0 DO (ppm) 7,2 - 7,9 Salinitas (‰) 28 - 30
14
Kondisi Vegetasi Lamun di Pantai Semerang Komposisi jenis lamun
Berdasarkan hasil pengamatan, ditemukan 6 jenis lamun di pantai
Semerang yaitu Cymodocea rotundata, Cymodocea serullata, Syringodium
isoetifolium, Halophila ovalis, Halodule uninervis, dan Thalassodendron ciliatum. Tipe vegetasi lamun di lokasi penelitian adalah vegetasi campuran yang memiliki komposisi 2 – 4 jenis lamun (Gambar 8).
Gambar 8 Peta distribusi jenis lamun Pantai Semerang
Kerapatan lamun
Kerapatan lamun yang menyusun vegetasi di Pantai Semerang ditemukan tidak merata (Gambar 9). Secara keseluruhan jenis lamun yang paling luas sebarannya adalah jenis C. rotundata, S. isoetifolium dan H. ovalis dengan kerapatan jenis berturut-turut antara 273 – 1246 individu/m2, 321 – 1809 individu/m2 dan 73 – 1173 individu/m2. Jenis lamun H. uninervis dan T. ciliatum
merupakan jenis yang sebarannya terbatas dengan kerapatan masing-masing sebesar 0 – 1131 individu/m2 dan 0 – 514 individu/m2.
Gambar 9 Kerapatan minimum dan maksimum jenis lamun di pantai Semerang (CR=Cymodocea rotundata; CS=Cymodocea serulata; SI=Syringodium isoetifolium; HO= Halophila ovalis; HU=Halodule uninervis; TC= Thalassodendron ciliatum)
273 251 321 73 266 514 1246 1220 1809 1173 1331 514 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 2000 CR CS SI HO HU TC K e ra p a ta n ( in d iv id u / m 2) M IN M AX
15
Tutupan lamun
Distribusi tutupan lamun di Pantai Semerang disajikan pada Gambar 10. Pada gambar tersebut terlihat bahwa distribusi tutupan lamun tidak merata dan cenderung membentuk fragmentasi sebaran lamun. Fragmentasi ini kemungkinan disebabkan oleh sebaran substrat dan variasi kedalaman pada lokasi tersebut. Tutupan lamun pada lokasi penelitian berkisar antara 0 – 90%.
Gambar 10 Peta distribusi tutupan lamun Pantai Semerang
Distribusi dan Kepadatan Bulu Babi (T. gratilla) di Pantai Semerang
Jumlah individu bulu babi yang ditemukan berkisar antara 1–6 individu/kuadran (25m2). Secara keseluruhan kepadatan T. gratilla berkisar antara 1,07 – 6,32 individu/100m2 (Gambar 11).
Gambar 11 Kepadatan bulu babi T. gratilla di Pantai Semerang
Distribusi bulu babi T. gratilla pada padang lamun pantai Semerang tidak merata (Gambar 12). Distribusi bulu babi tidak tergantung pada kerapatan lamun. Bulu babi T. gratilla baru bisa dijumpai pada jarak sekitar 200 m dari garis pantai. Sebaran bulu babi seperti ini diduga terkait dengan komposisi jenis lamun yang menjadi makanannya. Bulu babi banyak dijumpai pada jarak 200 – 500m yang merupakan daerah dengan tutupan lamun yang relatif rendah dengan komposisi jenis lamun S. isoetifolium, H. uninervis dan C. rotundata.
4.83 6.00 6.32 5.33 1.07 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 1 2 3 4 5 K e p a d a ta n ( in d / 1 0 0 m 2 ) Transek
16
Gambar 12 Peta distribusi bulu babi T. gratilla di pantai Semerang
Dinamika Populasi Bulu Babi T. gratilla
Hubungan Diameter Cangkang dengan Bobot Tubuh Bulu Babi T. gratilla
Diameter cangkang dan bobot tubuh bulu babi yang dianalisis dalam penelitian ini berkisar anatara 28,6 mm – 85,6 mm dan 12 gr – 286 gr. Kurva hubungan diameter cangkang dengan bobot tubuh bulu babi (gabungan) disajikan pada Gambar 13. Nilai R2 yang diperoleh menunjukan bahwa antara diameter cangkang dan bobot tubuh bulu babi terdapat hubungan yang sangat erat. Hal serupa juga terjadi pada bulu babi T. gratilla jantan (Gambar 14) dan betina (Gambar 15).
Gambar 13 Hubungan diameter cangkang dengan bobot tubuh bulu babi
T. gratilla di Pantai Semerang
W = 0.001 D2.818 R² = 0.939 n = 1201 0 50 100 150 200 250 300 350 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 B o b o t T u b u h ( g r) Diameter (mm)
17
Gambar 14 Hubungan diameter cangkang dengan bobot tubuh bulu babi T. gratilla jantan di Pantai Semerang
Gambar 15 Hubungan diameter cangkang dengan bobot tubuh bulu babi T. gratilla betina di Pantai Semerang
Berdasarkan hasil analisis tersebut, persamaan hubungan diameter cangkang dengan bobot tubuh bulu babi T. gratilla adalah sebagai berikut:
Gabungan : = 0,001 ,
Jantan : = 0,001 ,
Betina : = 0,0001 ,
Parameter pertumbuhan dan umur (D∞, K, to)
Selama 4 bulan pengambilan sampel terlihat pergeseran modus data diameter bulu babi dari bulan Maret yang modusnya terletak pada 65,5 mm bergeser menjadi 70,5 mm pada bulan April. Bulan Mei modus data masih di 70,5 mm akan tetapi individu dengan diameter 75,5 semakin bertambah sehingga pada
W = 0.001 D2.810 R² = 0.947 n = 617 0 50 100 150 200 250 300 350 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 B o b o t T u b u h ( g r) Diameter (mm) W = 0.000 D2.825 R² = 0.930 n = 584 0 50 100 150 200 250 300 350 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 100.0 B o b o t T u b u h ( g r) Diameter (mm)
18
bulan Juni modus data bergeser ke diameter 75,5 mm. Dengan demikian, tejadi pergeseran modus data diameter panjang dari 65,5 – 75,5 selama waktu
pengamatan. Pergeseran modus diameter ini memperlihatkan adanya
kecenderungan petumbuhan bulu babi rata-rata sebesar 0,25 mm setiap bulannya.
Gambar 16 Kurva plot von Bertalanffy dan frekuensi panjang (diameter)