SASARAN VI : PENGURANGAN RISIKO PASIEN JATUH Standar SKP VI
MENGELOLA PAKAIAN DAN KAIN YANG TERKONTAMINASI
Petugas yang menangani linen harus menggunakan alat pelindung diri berupa sarung tangan rumah tangga, sepatu tertutup kedap air, apron, dan kacamata pelindung.
Kumpulkan dan pisahkan semua pakaian dan kain yang terkontaminasi darah atau cairan tubuh di kantong plastik khusus.
JANGAN PERNAH MENYENTUH BENDA-BENDA TERSEBUT DENGAN TANGAN SECARA LANGSUNG
Bilas darah maupun cairan tubuh lain dengan air sebelum mencucinya dengan sabun. PEMROSESAN INSTRUMEN
Untuk instrumen yang dipakai ulang, lakukan 3 langkah pokok yang ada di BAGAN 2: 1. Dekontaminasi
2. Pencucian dan pembilasan
3. Sterilisasi atau disinfeksi tingkat tinggi (DTT)
BAGAN 2. LANGKAH-LANGKAH PEMROSESAN INSTRUMEN
1. DEKONTAMINASI
3. STERILISASI ATAU DTT
BAGAN 3.
Cara membuat larutan klorin
Larutan klorin dapat dibuat dengan mencairkan produk larutan pemutih pakaian yang mengandung klorin. Caranya adalah:
l Periksa kepekatan (% konsentrasi) produk klorin yang digunakan
l Campur 1 bagian konsentrat pemutih dengan jumlah bagian air yang dibutuhkan sesuai rumus dibawah ini:
Jumlah bagian air = % konsentrat produk – 1 % konsentrat yang diinginkan
Contoh:
Membuat larutan klorin 0,5% dari larutan pemutih (klorin 5%) Jumlah bagian air = (5% / 0,5%) – 1 = 10 – 1 = 9
Larutan klorin 0,5% dapat dibuat dengan menambahkan 1 bagian larutan pemutih (klorin 5%) dengan 9 bagian air, misalnya 100 ml Larutan pemutih dengan 900 ml air
u Saat mencuci alat, kenakan sarung tangan tebal/sarung tangan rumah tangga dan berhati-hatilah jangan sampai tertusuk instrumen tajam.
u Jika tidak segera dipakai, instrumen yang sudah disterilisasi harus dijaga agar tidak terkontaminasi.
1. DEKONTAMINASI
Rendam instrumen bekas pakai di dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. (lihat BAGAN 3)
2. PENCUCIAN DAN PEMBILASAN
Cuci alat dengan menggunakan air, kemudian cuci lagi dengan deterjen dan air bersih mengalir.
3.STERILISASI DAN DTT
Sterilisasi: Masukkan alat ke dalam otoklaf selama
20 menit (bila tidak dibungkus) atau 30 menit (bila dibungkus) dalam tekanan 106 kPa dan suhu 1210C. Bila menggunakan metode panas kering, lakukan steriliasi dengan oven selama 60 menit pada suhu 1700C atau selama 120 menit pada suhu 1600C. INGAT! Waktu paparan mulai dihitung ketika
sterilisator mencapai suhu yang diinginkan. Sisakan jarak 7,5 cm antara bahan-bahan yang disterilisasi dan dinding mesin.
DTT: Rebus alat dalam panci tertutup (semua alat
terendam 2,5 cm di bawah permukaan air) selama 20 menit, terhitung sejak air mendidih. Sebagai alternatif, rendam dalam larutan klorin 0,5% atau glutaraldehid 2-4% selama 20 menit lalu bilas dengan air DTT dan
BAB VII
KESELAMATAN KERJA
Puskesmas sebagai tempat kerja mempunyai potensi bahaya beragamterhadap kesehatan,terdapat disemua tempat baik didalam maupun diluar gedung yang dapat timbul dari
lingkungan tempat kerja,proses kerja,cara kerja,alat dan bahan kerja yang dapat menimbulkan penyakit akibat kerja.
tujuan dari pengenalan potensi bahaya di puskesmas dan masalah yang ditimbulkannya adalah agar petugas puskesmas dapat melakukan pengendalian resiko dengan benar sehingga terhindar dari berbagai masalah yang ditimbulkan akibat pekerjaan
A.Identifikasi Potensi Bahaya di poLI kia/kb/mtbs
Lokasi Potensi Bahaya
Jehis bahaya Masalah
Kesehatan/kecelakaan kerja KIA/KB Kecelakaa n kerja Benda tajam,alat medis Tertusuk,tersayat,ced era biologi mikroorganisme,vir us bakteri dll infeksi hepatitis,tbc,cacar air,influenza,HIV,ebol a, jamur
kimia mercuri,clorin gangguam SSP, ginjal, dermatitis ergonomi posisi janggal musculoskeletal
disorder Psikososial Bekerja yang
monoton
Stres kerja
1. Pengendalian resiko dengan upaya; i. Promotif;
a. Menginformasikan potensi bahaya ditempat kerja kpd seluruh petugas b. Memasang leaflet,brosur budaya kesehatan dan keselamatan kerja. c. Melaksanakan latihan fisik,bimbingan rohani,rekreasi
ii. Preventif
a. Penerapan prinsip pencegahan meliputi cuci tangan pakai sabun,APD,mengganti alat berbahaya,pengaturan shift kerja
b. Vaksinasi hepatitis
Penatalaksanaan limbah poli rawat gig puskesmas
No Jenis Limbah Asal Perlakuan
1 Limbah domestik Kegiatan dapur,kardus obat, plastik lain yang tidak infeksius,terkontaminasi
Ditampung dalam kantong hitam
Selanjutnya di bawa ke TPA 2 Limbah benda
tajam
Materi padat yang memiliki sudut lancip ,dapat menyebabkan luka tusuk ataupun iris ;contohnya ;jarum suntik,kaca sedian,infus set,vial obat
Tidak boleh recapping langsung
Dikumpul dalam safety box atau kontener lain yang tidak bocor
Tidak boleh didaur ulang 3 Limbah infeksius Limbah yang didugaDitampung dalam wadah yang
mengandung patogen dalam jumlah cukup untuk menyebabkan infeksi misalnya limbah kultur,stok agen infeksius dari laboratorium.limbah hasil operasi, limbah pasien dengan penyakit menular
kuat dan tidak bocor,tidak boleh dicampur dengan limbah lain
Penyimpanan di pkm tidak boleh lebih dari 48 jam sejak mulai dari penyimpanan Penyimpanan di ruang
khusus,tertutup,ada
pencatatan jumlah timbulan limbah setiap hari, tidak mungkin binatang pengerta masuk,termasuk pembatasan orang masuk keruang tersebut.
4 Limbah patologis Limbah berasal dari organ tubuh misalnya janin,organ tubuh,darah,muntahan.
Masukkan dalam kontener kuat dan tidak bocor
Perlakuannya sama dengan limbah infeksius
Jika limbah padat maka diolah dengan alat pengolahan limbah padat
Jika cair diolah dengan alat pengolahan limbah cair 5 Limbah Farmasi Limbah yang mengandung
bahan bahan
obat,vaksin,produk farmasi, serum kadaluarsa
Dapat dikembalikan pada produsannya
Bila terjadi tumpahan obat dapat menggunakan pasir absorben untk menyerap tumpahan
farmasi,tumpahan farmasi termasuk sampah B3 dan harus dikelola dan diolah oleh pihak yang khusus dapat mengelola limbah farmasi
6 Limbah Kimia Limbah berasal dri zat kimia misalnya formaldehid,zat rontgen,dll,
Jika jumlahnya kecil pengelolaannya sama dengan limbah infeksius.
7 Limbah logam berat
Berasal dari alat medis yang mengandung logam berat misalnya dari bocoran tensi air raksa
Penampungannya ditempat yang tidak bocor dan kuat pengelolaannya
bekerjasama dengan dinas atau lingkugan hidup
d.Deteksi dini melalui medical check up;pemeriksaan pekerja sebelum masuk kerja,pindah,pemeriksaan berkala pada pekerja ,pemeriksaan khusus pada petugas yang terpajan bahan berbahaya seperti petugas lab,radiologi.
iii. Kuratif:
1. Penatalaksanaan kecelakaan kerja seperti tertusuk jarum 2. Penatalaksanaaan kecelakaan akibat kerja
3. Melakukan pengobatan penyakit akibat kerja 4. Melakukan rujukan kasus
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU
A. Bakuan Mutu
Mutu pelayanan medik adalah:Pelayanan kesehatan yang diberikan kepada seorang pasien sebaik-baiknya mealui pengetahuan yang konsisten sesuai dengan pengetahuan terkini,sehingga probabilitas outcome yang diharapkan meningkat (IOM 1990)
Pelayanan individual Yang dilandasi ilmu klinik sebagai kesehatan perorangan meliputi ;aspek pencegahan primer,pencegahan sekundr,pencegahan tersier berupa rehabilitasi medik.
Demi menjamin tercapai dan terpeliharanya mutu dari waktu ke waktu, diperlukan bakuan mutu berupa pedoman/bakuan yang tertulis yang dapat dijadikan pedoman kerja bagi tenaga pelaksana.
1. Tiap pelaksana yang ditunjuk memiliki pegangan yang jelas tentang apa dan bagaimana prosedur melakukan suatu aktifitas.
2. Standar yang tertulis memudahkan proses pelatihan bagi tenaga pelaksana baru yang akan dipercayakan untuk mengerjakan suatu aktifitas.
3. Kegiatan yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur baku yang tertulis akan menjamin konsistensinya mutu hasil yang dicapai.
4. Kebijakan mutu dibuat oleh penanggung jawab poli.
5. Standar Operasional Prosedur dan instruksi kerja dibuat oleh tenaga teknis laboratorium dan disahkan oleh penanggung jawab poli Puskesmas.
6. Indikator mutu pelayanan rawat jalan meliputi;
Input Rincian Kegiatan Target
1 .
Sumber Daya Manusia
SDM memiliki SIK 100 %
SDM menerima pelatihan 20 jam pelatihan 2
.
Alat Ketersediaan alat sesuai standard 90 %
3 .
Sarana Ketersediaan sarana sesuai standard
90 %
4 .
Kebijakan 1. Pola ketenagaan ada
2. Persyaratan kompetensi petugas Poli
ada
3. Tentang penyusunan rencana layanan medis.
ada
4. Tentang layanan klinis
yang menjamin
kesinambungan layanan
ada
5. tentang hak dan kewajiban pasien yang didalamnya memuat hak untuk menolak atau tidak melanjutkan pengobatan.
ada
6. yang mewajibkan
penulisan lengkap dalam rekam medis: semua pemeriksaan penunjang diagnostik tindakan dan pengobatan yang diberikan pada pasien dan kewajban perawat dan petugas kesehatan lain untuk mengingatkan pada dokter jika terjadi pengulangan
yang tidak perlu. Dalam SOP layanan klinis memuat jika terjadi pengulangan pemeriksaan penunjang diagnostik, tindakan, atau pemberian obat, petugas kesehatan wajib
memberitahu kepada dokter yang bersangkutan. 7. tentang penggunaan dan
pemberian obat dan/atau cairan intravena
ada
8. SK penyediaan obat-obat emergensi di unit kerja. Daftar obat emergensi di unit pelayanan
ada
9. Kebijakan penanganan pasien berisiko tinggi
ada
10. tentang jenis-jenis sedasi yang dapat dilakukan di Puskesmas.
ada
11. tentang tenaga kesehatan yang mempunyai
kewenangan melakukan sedasi
ada
12. Kebijakan dan SOP
penanganan pasien berisiko tinggi
ada
13. SK tentang kewajiban tenaga klinis dalam peningkatan mutu klinis dan keselamatan pasien. 14.SK penanganan KTD,
KTC, KPC, KNC
15.SK tentang standar dan SOP layanan klinis, bukti monitoring pelaksanaan standar dan SOP, hasil
monitoring dan tindak lanjut
16. SK tentang
penetapan dokumen eksternal yang menjadi
acuan dalam
penyusunan standar pelayanan klinis
17. SK tentang
indikator mutu layanan klinis
18. SK semua pihak yang terlibat dalam
upaya peningkatan mutu pelayanan klinis
dan keselamatan
pasien, dengan uraian tugas berdasarkan peran dan fungsi masing-masing dalam tim
19. Uraian tugas dan
tanggung jawab masing-masing anggota tim 20. SK tentang petugas yang bertanggung jawab untuk pelaksanaan kegiatan yang direncanakan 21. SK tentang petugas yang berkewajiban melakukan pemantauan pelaksanaan kegiatan 22. SK dan SOP penyampai informasi hasil peningkatan mutu layanan klinis dan keselamatan pasien
Pedoman Pelayanan Klinis Kalibrasi alat
Proses
Pelayanan sesuai protap dan standar mutu
1. SOP pengkajian awal klinis CR 90 % 2. SOP pelayanan
OBSTETRI,
CR 90 %
3. SOP asuhan keperawatan 4. SOP pembentukan tim
interprofesi bila dibutuhkan (termasuk pelaksanaan perawatan kesehatan masyarakat/home care CR 90 % 5. SOP pendelegasian wewenang CR 90 %
6. SOP penyusunan rencana layanan medis. SOP penyusunan rencana layanan terpadu jika diperlukan penanganan
secara tim.
7. SOP layanan terpadu CR 90 % 8. SOP pemberian informasi
tentang efek samping dan risiko pengobatan CR 90 % 9. SOP pendidikan/penyuluhan pasien CR 90 %
10. SOP informed consent CR 90 % 11. SOP evaluasi informed
consent, hasil evaluasi, tindak lanjut
CR 90 %
12. SOP rujukan CR 90 %
13. SOP persiapan pasien rujukan
CR 90 %
14. SOP identifikasi dan penanganan keluhan
CR 90 %
15. SOP layanan klinis yang menjamin kesinambungan layanan
CR 90 %
16. SOP pemberian anestesi lokal dan sedasi di Puskesmas
CR 90 %
17. SOP tentang penolakan pasien untuk menolak atau tidak melanjutkan pengobatan
CR 90 %
18. SOP alternatif penanganan pasien yang memerlukan rujukan tetapi tidak mungkin dilakukan
CR 90 %
19. SOP penyediaan obat-obat emergensi di unit kerja. Daftar obat emergensi di unit pelayanan
CR 90 %
20. SOP penyimpanan obat emergensi di unit pelayanan
CR 90 %
21. SOP monitoring
penyediaan obat emergensi di unit kerja. Hasil
monitoring dan tindak lanjut.
CR 90 %
22. SOP penanganan pasien berisiko tinggi
CR 90 %
23. SOP identifikasi dan penanganan keluhan
CR 90 %
24. SOP dan bukti pelaksanaan pendidikan/penyuluhan pada pasien
CR 90 %
pendidikan/penyuluhan pada pasien 26.SOP penanganan KTD, KTC, KPC, KNC. 27. SOP tentang penyusunan indikator klinis dan indikator
perilaku pemberi
layanan klinis dan penilaiannya
28. SOP=SOP
pelayanan klinis yang menunjukkan adanya acuan referensi yang jelas
29. SOP penyampai
informasi hasil
peningkatan mutu
layanan klinis dan keselamatan pasien
Out put
Kematian Ibu akibat
pendarahan/Eklamsi,Pre Eklamsi dan Infeksi 0 % Out come Kepuasan pelanggan 90 %