• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGELOLA PAKAIAN DAN KAIN YANG TERKONTAMINASI

Dalam dokumen Pedoman Pelayanan Poli Kia (Halaman 31-41)

SASARAN VI : PENGURANGAN RISIKO PASIEN JATUH Standar SKP VI

MENGELOLA PAKAIAN DAN KAIN YANG TERKONTAMINASI

 Petugas yang menangani linen harus menggunakan alat pelindung diri berupa sarung tangan rumah tangga, sepatu tertutup kedap air, apron, dan kacamata pelindung.

 Kumpulkan dan pisahkan semua pakaian dan kain yang terkontaminasi darah atau cairan tubuh di kantong plastik khusus.

JANGAN PERNAH MENYENTUH BENDA-BENDA TERSEBUT DENGAN TANGAN SECARA LANGSUNG

 Bilas darah maupun cairan tubuh lain dengan air sebelum mencucinya dengan sabun. PEMROSESAN INSTRUMEN

 Untuk instrumen yang dipakai ulang, lakukan 3 langkah pokok yang ada di BAGAN 2: 1. Dekontaminasi

2. Pencucian dan pembilasan

3. Sterilisasi atau disinfeksi tingkat tinggi (DTT)

BAGAN 2. LANGKAH-LANGKAH PEMROSESAN INSTRUMEN

1. DEKONTAMINASI

3. STERILISASI ATAU DTT

BAGAN 3.

Cara membuat larutan klorin

Larutan klorin dapat dibuat dengan mencairkan produk larutan pemutih pakaian yang mengandung klorin. Caranya adalah:

l Periksa kepekatan (% konsentrasi) produk klorin yang digunakan

l Campur 1 bagian konsentrat pemutih dengan jumlah bagian air yang dibutuhkan sesuai rumus dibawah ini:

Jumlah bagian air = % konsentrat produk – 1 % konsentrat yang diinginkan

Contoh:

Membuat larutan klorin 0,5% dari larutan pemutih (klorin 5%) Jumlah bagian air = (5% / 0,5%) – 1 = 10 – 1 = 9

Larutan klorin 0,5% dapat dibuat dengan menambahkan 1 bagian larutan pemutih (klorin 5%) dengan 9 bagian air, misalnya 100 ml Larutan pemutih dengan 900 ml air

u Saat mencuci alat, kenakan sarung tangan tebal/sarung tangan rumah tangga dan berhati-hatilah jangan sampai tertusuk instrumen tajam.

u Jika tidak segera dipakai, instrumen yang sudah disterilisasi harus dijaga agar tidak terkontaminasi.

1. DEKONTAMINASI

Rendam instrumen bekas pakai di dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. (lihat BAGAN 3)

2. PENCUCIAN DAN PEMBILASAN

Cuci alat dengan menggunakan air, kemudian cuci lagi dengan deterjen dan air bersih mengalir.

3.STERILISASI DAN DTT

Sterilisasi: Masukkan alat ke dalam otoklaf selama

20 menit (bila tidak dibungkus) atau 30 menit (bila dibungkus) dalam tekanan 106 kPa dan suhu 1210C. Bila menggunakan metode panas kering, lakukan steriliasi dengan oven selama 60 menit pada suhu 1700C atau selama 120 menit pada suhu 1600C. INGAT! Waktu paparan mulai dihitung ketika

sterilisator mencapai suhu yang diinginkan. Sisakan jarak 7,5 cm antara bahan-bahan yang disterilisasi dan dinding mesin.

DTT: Rebus alat dalam panci tertutup (semua alat

terendam 2,5 cm di bawah permukaan air) selama 20 menit, terhitung sejak air mendidih. Sebagai alternatif, rendam dalam larutan klorin 0,5% atau glutaraldehid 2-4% selama 20 menit lalu bilas dengan air DTT dan

BAB VII

KESELAMATAN KERJA

Puskesmas sebagai tempat kerja mempunyai potensi bahaya beragamterhadap kesehatan,terdapat disemua tempat baik didalam maupun diluar gedung yang dapat timbul dari

lingkungan tempat kerja,proses kerja,cara kerja,alat dan bahan kerja yang dapat menimbulkan penyakit akibat kerja.

tujuan dari pengenalan potensi bahaya di puskesmas dan masalah yang ditimbulkannya adalah agar petugas puskesmas dapat melakukan pengendalian resiko dengan benar sehingga terhindar dari berbagai masalah yang ditimbulkan akibat pekerjaan

A.Identifikasi Potensi Bahaya di poLI kia/kb/mtbs

Lokasi Potensi Bahaya

Jehis bahaya Masalah

Kesehatan/kecelakaan kerja KIA/KB Kecelakaa n kerja Benda tajam,alat medis Tertusuk,tersayat,ced era biologi mikroorganisme,vir us bakteri dll infeksi hepatitis,tbc,cacar air,influenza,HIV,ebol a, jamur

kimia mercuri,clorin gangguam SSP, ginjal, dermatitis ergonomi posisi janggal musculoskeletal

disorder Psikososial Bekerja yang

monoton

Stres kerja

1. Pengendalian resiko dengan upaya; i. Promotif;

a. Menginformasikan potensi bahaya ditempat kerja kpd seluruh petugas b. Memasang leaflet,brosur budaya kesehatan dan keselamatan kerja. c. Melaksanakan latihan fisik,bimbingan rohani,rekreasi

ii. Preventif

a. Penerapan prinsip pencegahan meliputi cuci tangan pakai sabun,APD,mengganti alat berbahaya,pengaturan shift kerja

b. Vaksinasi hepatitis

Penatalaksanaan limbah poli rawat gig puskesmas

No Jenis Limbah Asal Perlakuan

1 Limbah domestik Kegiatan dapur,kardus obat, plastik lain yang tidak infeksius,terkontaminasi

Ditampung dalam kantong hitam

Selanjutnya di bawa ke TPA 2 Limbah benda

tajam

Materi padat yang memiliki sudut lancip ,dapat menyebabkan luka tusuk ataupun iris ;contohnya ;jarum suntik,kaca sedian,infus set,vial obat

Tidak boleh recapping langsung

Dikumpul dalam safety box atau kontener lain yang tidak bocor

Tidak boleh didaur ulang 3 Limbah infeksius Limbah yang didugaDitampung dalam wadah yang

mengandung patogen dalam jumlah cukup untuk menyebabkan infeksi misalnya limbah kultur,stok agen infeksius dari laboratorium.limbah hasil operasi, limbah pasien dengan penyakit menular

kuat dan tidak bocor,tidak boleh dicampur dengan limbah lain

Penyimpanan di pkm tidak boleh lebih dari 48 jam sejak mulai dari penyimpanan Penyimpanan di ruang

khusus,tertutup,ada

pencatatan jumlah timbulan limbah setiap hari, tidak mungkin binatang pengerta masuk,termasuk pembatasan orang masuk keruang tersebut.

4 Limbah patologis Limbah berasal dari organ tubuh misalnya janin,organ tubuh,darah,muntahan.

Masukkan dalam kontener kuat dan tidak bocor

Perlakuannya sama dengan limbah infeksius

Jika limbah padat maka diolah dengan alat pengolahan limbah padat

Jika cair diolah dengan alat pengolahan limbah cair 5 Limbah Farmasi Limbah yang mengandung

bahan bahan

obat,vaksin,produk farmasi, serum kadaluarsa

 Dapat dikembalikan pada produsannya

 Bila terjadi tumpahan obat dapat menggunakan pasir absorben untk menyerap tumpahan

farmasi,tumpahan farmasi termasuk sampah B3 dan harus dikelola dan diolah oleh pihak yang khusus dapat mengelola limbah farmasi

6 Limbah Kimia Limbah berasal dri zat kimia misalnya formaldehid,zat rontgen,dll,

 Jika jumlahnya kecil pengelolaannya sama dengan limbah infeksius.

7 Limbah logam berat

Berasal dari alat medis yang mengandung logam berat misalnya dari bocoran tensi air raksa

 Penampungannya ditempat yang tidak bocor dan kuat pengelolaannya

bekerjasama dengan dinas atau lingkugan hidup

d.Deteksi dini melalui medical check up;pemeriksaan pekerja sebelum masuk kerja,pindah,pemeriksaan berkala pada pekerja ,pemeriksaan khusus pada petugas yang terpajan bahan berbahaya seperti petugas lab,radiologi.

iii. Kuratif:

1. Penatalaksanaan kecelakaan kerja seperti tertusuk jarum 2. Penatalaksanaaan kecelakaan akibat kerja

3. Melakukan pengobatan penyakit akibat kerja 4. Melakukan rujukan kasus

BAB VIII

PENGENDALIAN MUTU

A. Bakuan Mutu

Mutu pelayanan medik adalah:Pelayanan kesehatan yang diberikan kepada seorang pasien sebaik-baiknya mealui pengetahuan yang konsisten sesuai dengan pengetahuan terkini,sehingga probabilitas outcome yang diharapkan meningkat (IOM 1990)

Pelayanan individual Yang dilandasi ilmu klinik sebagai kesehatan perorangan meliputi ;aspek pencegahan primer,pencegahan sekundr,pencegahan tersier berupa rehabilitasi medik.

Demi menjamin tercapai dan terpeliharanya mutu dari waktu ke waktu, diperlukan bakuan mutu berupa pedoman/bakuan yang tertulis yang dapat dijadikan pedoman kerja bagi tenaga pelaksana.

1. Tiap pelaksana yang ditunjuk memiliki pegangan yang jelas tentang apa dan bagaimana prosedur melakukan suatu aktifitas.

2. Standar yang tertulis memudahkan proses pelatihan bagi tenaga pelaksana baru yang akan dipercayakan untuk mengerjakan suatu aktifitas.

3. Kegiatan yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur baku yang tertulis akan menjamin konsistensinya mutu hasil yang dicapai.

4. Kebijakan mutu dibuat oleh penanggung jawab poli.

5. Standar Operasional Prosedur dan instruksi kerja dibuat oleh tenaga teknis laboratorium dan disahkan oleh penanggung jawab poli Puskesmas.

6. Indikator mutu pelayanan rawat jalan meliputi;

Input Rincian Kegiatan Target

1 .

Sumber Daya Manusia

SDM memiliki SIK 100 %

SDM menerima pelatihan 20 jam pelatihan 2

.

Alat Ketersediaan alat sesuai standard 90 %

3 .

Sarana Ketersediaan sarana sesuai standard

90 %

4 .

Kebijakan 1. Pola ketenagaan ada

2. Persyaratan kompetensi petugas Poli

ada

3. Tentang penyusunan rencana layanan medis.

ada

4. Tentang layanan klinis

yang menjamin

kesinambungan layanan

ada

5. tentang hak dan kewajiban pasien yang didalamnya memuat hak untuk menolak atau tidak melanjutkan pengobatan.

ada

6. yang mewajibkan

penulisan lengkap dalam rekam medis: semua pemeriksaan penunjang diagnostik tindakan dan pengobatan yang diberikan pada pasien dan kewajban perawat dan petugas kesehatan lain untuk mengingatkan pada dokter jika terjadi pengulangan

yang tidak perlu. Dalam SOP layanan klinis memuat jika terjadi pengulangan pemeriksaan penunjang diagnostik, tindakan, atau pemberian obat, petugas kesehatan wajib

memberitahu kepada dokter yang bersangkutan. 7. tentang penggunaan dan

pemberian obat dan/atau cairan intravena

ada

8. SK penyediaan obat-obat emergensi di unit kerja. Daftar obat emergensi di unit pelayanan

ada

9. Kebijakan penanganan pasien berisiko tinggi

ada

10. tentang jenis-jenis sedasi yang dapat dilakukan di Puskesmas.

ada

11. tentang tenaga kesehatan yang mempunyai

kewenangan melakukan sedasi

ada

12. Kebijakan dan SOP

penanganan pasien berisiko tinggi

ada

13. SK tentang kewajiban tenaga klinis dalam peningkatan mutu klinis dan keselamatan pasien. 14.SK penanganan KTD,

KTC, KPC, KNC

15.SK tentang standar dan SOP layanan klinis, bukti monitoring pelaksanaan standar dan SOP, hasil

monitoring dan tindak lanjut

16. SK tentang

penetapan dokumen eksternal yang menjadi

acuan dalam

penyusunan standar pelayanan klinis

17. SK tentang

indikator mutu layanan klinis

18. SK semua pihak yang terlibat dalam

upaya peningkatan mutu pelayanan klinis

dan keselamatan

pasien, dengan uraian tugas berdasarkan peran dan fungsi masing-masing dalam tim

19. Uraian tugas dan

tanggung jawab masing-masing anggota tim 20. SK tentang petugas yang bertanggung jawab untuk pelaksanaan kegiatan yang direncanakan 21. SK tentang petugas yang berkewajiban melakukan pemantauan pelaksanaan kegiatan 22. SK dan SOP penyampai informasi hasil peningkatan mutu layanan klinis dan keselamatan pasien

Pedoman Pelayanan Klinis Kalibrasi alat

Proses

Pelayanan sesuai protap dan standar mutu

1. SOP pengkajian awal klinis CR 90 % 2. SOP pelayanan

OBSTETRI,

CR 90 %

3. SOP asuhan keperawatan 4. SOP pembentukan tim

interprofesi bila dibutuhkan (termasuk pelaksanaan perawatan kesehatan masyarakat/home care CR 90 % 5. SOP pendelegasian wewenang CR 90 %

6. SOP penyusunan rencana layanan medis. SOP penyusunan rencana layanan terpadu jika diperlukan penanganan

secara tim.

7. SOP layanan terpadu CR 90 % 8. SOP pemberian informasi

tentang efek samping dan risiko pengobatan CR 90 % 9. SOP pendidikan/penyuluhan pasien CR 90 %

10. SOP informed consent CR 90 % 11. SOP evaluasi informed

consent, hasil evaluasi, tindak lanjut

CR 90 %

12. SOP rujukan CR 90 %

13. SOP persiapan pasien rujukan

CR 90 %

14. SOP identifikasi dan penanganan keluhan

CR 90 %

15. SOP layanan klinis yang menjamin kesinambungan layanan

CR 90 %

16. SOP pemberian anestesi lokal dan sedasi di Puskesmas

CR 90 %

17. SOP tentang penolakan pasien untuk menolak atau tidak melanjutkan pengobatan

CR 90 %

18. SOP alternatif penanganan pasien yang memerlukan rujukan tetapi tidak mungkin dilakukan

CR 90 %

19. SOP penyediaan obat-obat emergensi di unit kerja. Daftar obat emergensi di unit pelayanan

CR 90 %

20. SOP penyimpanan obat emergensi di unit pelayanan

CR 90 %

21. SOP monitoring

penyediaan obat emergensi di unit kerja. Hasil

monitoring dan tindak lanjut.

CR 90 %

22. SOP penanganan pasien berisiko tinggi

CR 90 %

23. SOP identifikasi dan penanganan keluhan

CR 90 %

24. SOP dan bukti pelaksanaan pendidikan/penyuluhan pada pasien

CR 90 %

pendidikan/penyuluhan pada pasien 26.SOP penanganan KTD, KTC, KPC, KNC. 27. SOP tentang penyusunan indikator klinis dan indikator

perilaku pemberi

layanan klinis dan penilaiannya

28. SOP=SOP

pelayanan klinis yang menunjukkan adanya acuan referensi yang jelas

29. SOP penyampai

informasi hasil

peningkatan mutu

layanan klinis dan keselamatan pasien

Out put

Kematian Ibu akibat

pendarahan/Eklamsi,Pre Eklamsi dan Infeksi 0 % Out come Kepuasan pelanggan 90 %

Dalam dokumen Pedoman Pelayanan Poli Kia (Halaman 31-41)

Dokumen terkait