PENGEMBANGAN PARAGRAF
6. MENGEMBANGKAN PARAGRAF
Pikiran utama dari sebuah paragraf hanya akan jelas kalau diperinci dengan pikiran-pikiran penjelas. Tiap pikiran penjelas dapat dituang ke dalam satu kalimat penjelas atau lebih. Malahan ada juga kemungkinan, dua pikiran penjelas dituang ke dalam sebuah kalimat penjelas. Tetapi sebaiknya sebuah pikiran penjelas dituang ke dalam sebuah kalimat penjelas. Dalam
sebuah paragraf terdapat satu pikiran utama dan beberapa pikiran penjelas.
Inilah yang dinamakan kerangka paragraf.
Kerangka paragraf :
Pikiran utama : Keindahan alam yang mengecewakan.
Pikiran penjelas :
1. Manusia telah mengubah segala-galanya;
2. Hutan, sawah, dan ladang tergusur 3. Pohon sudah tidak ada;
4. Pagar bunga telah berganti; dan
5. pembangunan gedung-gedung mewah.
Kerangka paragraf di atas dapat dikembangkan menjadi sebuah paragraf
Bernostalgia tentang indahnya alam di batu malang, hanya akan menimbulkan kekecewaan. Dalam kurun waktu 30 hari, dinamika kehidupan anak-anak manusia telah mengubah segala-galanya. Hutan, sawah dan lading telah tergusur oleh berbagai bentuk bangunan yang meluncur dari kota. Ranting dan cabang pohon telah berganti dengan jeruji besi. Pagar tanaman bunga yang bermekaran dengan indahnya, telah diterjang tembok beton yang kokoh. Batu -batu gunung telah menghadirkan gedung plaza megah yang menelan biaya miliaran. Arus modernisasi dengan angkuhnya telah menelan kemesraan desa ini dari berbagai penjuru.
Pengembangan paragraf dapat dibedakan berdasarkan teknik dan isi paragraf.
1. Berdasarkan teknik: a) secara alamiah; (1) urutan ruang, (2) urutan Waktu, b) klimaks dan antiklimaks, c) umum ke khusus
2. Berdasarkan Isi: a) perbandingan dan pertentangan, b) analog, c) contoh-cantoh, d) sebab-akibat, e) definisi luas,f) klasifikasi
Berdasarkan Teknik a) Secara alamiah
Dalam hal ini penulis sekedar menggunakan pola yang sudah ada pada objek atau kejadian yang dibicarakan. Susunan logis ini mengenal dua macam urutan :
1) Urutan ruang (spesial) yang membaca dari satu titik ke titik berikutnya yang berdekatan dalam sebuah ruang. Misalnya gambaran dari depan ke belakang, dari luar ke dalam, dari atas ke bawah, dari kanan ke kiri, dan sebagainya.
2) U r u t an w a kt u ( u ru t a n k r o nol o gi s) ya n g menggambarkan urutan terjadinya peristiwa, perbuatan atau tindakan.
b) Klimaks dan Antiklimaks
Pikiran utama mula-mula diperinci dengan sebuah gagasan bawahan yang dianggap paling rendah kedudukannya. Kemudian berangsur-angsur dengan gagasan-gagasan lain hingga ke gagasan yang paling tinggi kedudukannya atau kepentingannya.
c) Umum ke Khusus, Khusus ke Umum
Cara ini paling banyak digunakan dalam pengembangan paragraf, baik dari Umum ke khusus atau sebaliknya dari khusus ke umum. Dalam bentuk Umum ke khusus, pikiran utama diletakkan pada awal paragraf, kemudian diikuti dengan perincian -perincian. Sebaliknya dari khusus ke umum, dimulai dengan perincian-perincian dan diakhiri dengan kalimat utama.
Karya ilmiah umumnya berbentuk deduktif artinya dari umum ke khusus.
Salah satu kedudukun bahasa Indonesia adalah sebagian bahasa Nasional. Kedudukan ini dimiliki sejak dicetuskannya sumpah Pernuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Kedudukan ini dimungkinkan oleh kenyataan bahwa bahasa Melayu yang mendasari bahasa Indonesia telah menjadi Lingua Franca selama berabad-abad di seluruh tanah air kita. Hal ini ditunjang lagi oleh faktor tidak terjadinya "persaingan bahasa", maksudnya persaingan bahasa daerah satu dengan bahasa daerah yang lain untuk mencapai kedudukannya sebagai bahasa Nasional.
Berdasarkan Isi
a) Perbandingan dan Pertentangan.
Untuk menambah kejelasan sebuah paparan, kadang-kadang penulis berusaha membandingkan atau mempertentangkan. Dalam hal ini penulis menunjukkan persamaan dan perbedaan antara 2 hal tersebut.
Yang dapat dibandingkan adalah dua hal yang tingkatannya sama dan kedua hal itu mempunyai persamaan dan perbedaan.
Perhatiakan paragraf berikut ini!
Ratu Elizabeth tidak begitu tertarik dengan mode, tetapi selalu berusaha tampil di muka umum seperti apa yang diharapkan rakyatnya. Kalau keluar kota paling senang mengenakan pakaian yang praktis. Ia menyenangi topi dan scraf. Lain halnya dengan Margareth Thatcher. Sejak menjadi pemimpin parta konservatif, ia melembutkan gaya berpakaian dan rambutnya. Ia membeli pakaian sekaligus dua kali setahun.
Ia lebih cendrung berbelanja di tempat yang agak murah. Ia hanya memakai topi kepernikahan, ke pemakaman dan upacara resmi pembukaan parlemen.
b) Analogi
Analogi biasanya digunakan untuk mem bandingkan sesuatu yang sudah dikenal umum dengan yang tidak atau kurang dikenal umum. Gunanya untuk menjelaskan hal yang kurang dikenal tersebut.
Perhatikan paragraf berikut ini!
Perkembangan teknologi sungguh menakjubkun. Kehebatannya menandingi kesaktian para satria dan dewa dalam cerita wayang. Kereta-kereta tanpa kuda, tanpa sapi, dan tanpa kerbau.
Jakarta-Surabaya telah dapat ditempuh dalam sehari. Deretan gerbang yang panjung penuh barang dan orang, hanya ditarik dengan kekuatan air semata. Jaringan jalan kereta api telah membelah-belah pulau. Asap yang mewarnai tanah air dengan garis hitam, semakin pudar untuk hilang ke dalam ketiadaan.
Dunia rasanya tidak berjarak lagi, telah dihilangkan dengan kawat.
Kekuatan bukau lagi monopoli gajah dan badak, tepapi telah diganti dengan benda-benda kecil buatan manusia.
c) Contoh-contoh
Sebuah generalisasi yang terlalu umum sifatnya agar dapat memberikan penjelasan kepada pembaca, kadang-kadang memerlukan contoh-contoh yang konkret. Dalam hal ini sumber pengalaman sangat efektif.
Perhatikan paragraph berikut ini!
Masih berkisar tentang pencemaran lingkungan, gubernur Jawa Tengah, Mulyadi, memberi contoh tentang jambu mete di mayong Jepara yang diserang ulat kipat atau cricula Trifenestrata. Ulat ini timbul akibat berdirinya peternakan ayam di tengah-tengah perkebunan tersebut. Menurut Gubernur, izin peternakan ayam di Mayong itu diberikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
d) Sebab-akibat
Hubungan kalimat dalam sebuah paragraf dapat berbentuk sebab akibat.
Dalam hal ini Sebab dapat berfungsi sebagai pikiran utama, dan akibat sebagai pikiran penjelas. Dapat juga sebaliknya. Akibat sebagai pikiran utama dan untuk memahami akibat ini dikemukakan sejumah penyebab sebagai perinciannya.
Perhatikan paragraf berikut ini!
Jalan kebun jati akhir-akhir ini kembali macet dan semerawut. Lebih dari separuh jalan kendaraan kembali tersita oleh kegiatan perdagangan dan kaki lima. Untuk mengatasinya, pemerintah akan memasang pagar pemisah antara jalan kendaraan dengan trotoar. Pagar ini juga berfungsi sebagai batas pemasangan tenda pedagang kaki lima tempat mereka diijinkan berdagang. Pemasangan pagar ini terpaksa dilakukan mengingat pelanggaran pedagang kaki lima di lokasi itu sudah sangat keterlaluan, sehingga menimbulkan kemacetan lalu lintas.
e) Definisi Luas
Untuk memberikan batasan tentang sesuatu, kadang-kadang penulis terpaksa menguraikan dengan beberapa kalimat, bahkan beberapa alinea.
Perhatikan paragraf berikut ini!
Pengajaran mengarang sebagai kegiatan terpadu, biasanya ditunda sampai siswa agak mampu menggunakan bahasa lisan, seperti dalam pelajaran membaca. Pada tahap awal , latihan mengarang itu biasanya digunakan untuk memperkuat kemampuan
dasar seperti : ejaan, pungtuasi, kosa kata, kalimat, dan lain-lain.
Kemudian kemampuan mengarang dijadikan pelajaran tersendiri, yakni pengajaran mengarang. Jadi, mengarang adalah suatu kemampuan yang kompleks yang menggabungkan sejumlah unsur kemampuan yang berlain-lainan.
f) Klasifikasi
Dalam pengembangan karangan, kadang-kadang kita mengelompokkan hal-hal yang mempunyai persamaan. Pengelompokkan ini biasanya diperinci lagi lebih lanjut ke dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil.
Perhatikan paragraf berikut ini!
Dalam karang-mengarang atau tulis-menulis, dituntut beberapa kemampuan antara lai n kemampuan yang ber hub ungan d eng an keb ahas aan d an ke mampu an peng emba ngan at au peny aj i an. Y ang t er mas uk ke mampu an k ebaha s aan adal ah ke mamp uan me ner ap kan ej aan, p ungt uas i , kosa kat a, di ks i , dan kal i m at . Sedang kan y ang di maks ud d en gan ke mamp uan peng emba ngan i al ah k ema mpuan m enat a pa r agr af , ke mampu an m emb edak an po ko k ba has a, s ubp oko k bahas a, da n k ema m puan m emaba gi pok ok bahas a dal am ur ut an y ang s i s t emat i k.
Berdasarkan Tujuan dari Sifatnya, paragraf dibedakan menjadi lima macam, yaitu paragraf deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi (Wiyanto, 2006: 64).
(1) Deskripsi berasal dari verba to describe, yang artinya menguraikan, memerikan, atau melukiskan. Paragraf deskripsi adalah paragraf yang bertujuan memberikan kesan/impresi kepada pembaca terhadap objek, gagasan, tempat,peristiwa, dan semacamnya yang ingin disampaikan penulis. Dengan deskripsi yang baik pembaca dapat dibuat seolah-olah melihat, mendengar, merasakan, atau terlihat dalam peristiwa yang diuraikan penulis.
Contoh:
Wanita itu tampaknya tidak jauh usianya dari dua puluh tahun. Mungkin ia lebih tua, tapi pakaian dan lagak-lagaknya mengurangi umurnya. Parasnya cantik. Hidung bangur dan matanya berkilauan seperti mata seorang india. Tahi lalat di atas bibirnya dan rambutnya yang ikal bergelombang-lombang menyempurnakan kecantikannya itu.
(2) Narasi (narration) secara harafiah bermakna kisah atau cerita. Paragraf narasi bertujuan mengisahkan atau menceritakan. Paragraf narasi kadang-kadang mirip den gan paragraf deskripsi. Bedanya, narasi mementingkan urutan dan biasanya ada tokoh yang diceritakan.
Paragraf narasi tidak hanya terdapat dalam karya fiksi (cerpen dan novel), tetapi sering pula terdapat dalam tulisan nonfiksi.
Contoh:
Supri Menuturkan, siang itu tanggal 6 Mei 2011 ia sedang bersembahyang di dalam bloknya. Tiba-tiba ia mendengar suara gaduh, puluhan orang berhamburan keluar lewat pintu gerbang rutan salemba. Laki-laki yang belum menerima vonis itu langsung ikut kabur.
(3) Paragraf eksposisi bertujuan memaparkan, menjelaskan, menyampaikan informasi, mengajarkan, dan menerangkan sesuatu tanpa disertai ajakan atau desakan agar pembaca menerima atau mengikutinya. Paragraf eksposisi biasanya digunakan untuk menyajikan pengetahuan/ilmu, definisi, pengertian, langkah-langkah suatu kegiatan, metode, cara, dan proses terjadinya sesuatu.
Contoh:
Dalam tubuh manusia terdapat aktivitas seperti pada mesin mobil. Tubuh manusia dapat mengubah energi kimiawi yang terkandung dalam bahan-hahan bakarnya yakni makanan yang ditelan menjadi energi panas dari energi mekanis. Nasi yang Anda makan pada waktu sarapan akan dibakar dalam tubuh persis sebagaimana bensin dibakar daam silinder mesin mobil.
(4) Istilah argumentasi diturunkan dari verba to argue (Ing) yang artinya membuktikan atau menyampaikan alasan. Paragraf argumentasi bertujuan menyampaikan suatu pendapat, konsepsi, atau opini tertulis kepada pembaca. Untuk meyakinkan pembaca bahwa yang disampaikan itu benar, penulis menyertakan bukti, Contoh, dan berbagai alasan yang sulit dibantah.
Contoh:
Penebangan hutan harus segera dihentikan. Pohon-pohon dihutan harus dapat menyerap sisa-sisa pembakaran dari pabrik-pabrik dan kendaraan bermotor. Jika hutan ditebang habis, maka tidak ada mesin yang bisa menyerap sisa-sisa pembakaran. Sisa-sisa membakaran itu dapat meningkatkan pemanasan global.
Pemanasan global itu akan melelehkan gunung es di kutub.
akibatnya kota-kota di tepi pantai seperti Jakarta, Surabaya, Singapura, Bangkok, dan lain-lainnya akan terendam air laut.
Jika hutan kita terus ditebang demi kepentingan ekonomi, maka akan terjadi bahaya yang luar biasa hebatnya. Oleh sebab itu, hutan harus kita selamatkan sekarang juga.
(5) Persuasi diturunkan dari verba to persuade yang artinya membujuk, atau menyarankan. Paragraf persuasi merupakan kelanjutan atau pengembangan paragraf argumentasi. Persuasi mula-mula memaparkan gagasan dengan alasan, bukti, atau contoh untuk meyakinkan pembaca.
Kemudian diikuti dengan ajakan, bujukan, rayuan, imbauan, atau saran kepada pembaca. Beda argumentasi dengan persuasi terletak pada sasaran yang ingin dibidik oleh paragraf tersebut. Argumentasi menitikberatkan sasaran pada logika pembaca, sedangkan persuasi pada emosi/perasaan pembaca Walaupun tidak melepaskan logika. Dengan kata lain, yang digarap paragraf argumentasi adalah benar salahnya gagasan/pendapat.
Sementara itu, paragraf persuasi menggarap pembaca agar mau mengikuti kehendak penulis.
Contoh:
Praktik berpidato memang luar biasa manfaatnya.
Pengalaman setiap kali praktik merupakan pengalaman batin Yang sangat berharga. semakin sering praktik, baik dalam berlatih maupun berpidato yang sesungguhnya, pengalaman batin itu semakin banyak. Dari pengalamnn itu, pembicara dapat menemukan cara-cara berpidato yang efektif dan memikat.
Semakin banyak daya pikat ditemukan dan semakin sering diterapkan dalam praktik, semakin meningkat pula keterampilan pembicara.
Tidak dapat disangkal bahwa praktik berpidato menjadi semacam obat kuat untuk membangun rasa percaya diri. Bila rasa percaya diri itu suduh semakin besar, pembicara dapat tampil tenang tanpa digoda rasa malu, takut, dan grogi.ketenangan inilah yang menjadi modal utama untuk meraih keberhasilan pidato. Oleh Karena itu, untuk memperoleh keterampilan atau bahkan kemahiran berpidato, anda harus melaksanakan praktik berpidato.
BAB VI PERNALARAN