Pasir Liat
5. Menggangu Ekosistem Laut a) Terumbu Karang
Pengaruh sedimentasi langsung terhadap hewan karang yaitu akan mematikan langsung karang bila ukuran sedimen cukup besar atau banyak sehingga menutup polip karang. Ekosistem karang yang makin berkurang akan menurunkan pula jumlah makhluk laut lainnya terutama yang dimanfaatkan dalam kehidupan manusia, karena karang dapat dijadikan sebagai sumber makanan dan tempat berlindung dari musuh bagi mahluk hidup laut.
Terumbu karang memiliki fungsi ekosistem yang penting yaitu menyediakan barang dan jasa bagi ratusan juta penduduk khususnya di negara-negara berkembang. Makanan dan pendapatan dari perikanan yang disediakan oleh terumbu karang bagi masyarakat lokal adalah bagian dari nilai penting tersebut. Selain itu keanekaragaman hayati terumbu karang yang luar biasa, memiliki nilai ilmu pengetahuan, farmasi, dan pendidikan. Lebih jauh, terumbu karang memiliki potensi wisata yang menarik serta memiliki fungsi tak ternilai dalam melindungi pesisir dari erosi pantai. Wisata yang berkaitan dengan terumbu karang akan memberikan nilai yang besar, baik pada wisata yang telah berjalan ataupun yang berpotensi.
Gambar 5.30 . Kerusakan Terumbu Karang
Sedimen dapat menyebabkan menutup permukaan koloni karang dan membuat larva karang dan hewan lain yang hidup menetap di dasar sukar
menempel di dasar, menutup permukaan koloni karang dan membuat larva karang dan hewan lain yang hidup menetap di dasar sukar menempel di dasar, Beberapa jenis karang tertentu (yang hidup di dekat muara sungai), dapat beradaptasi dengan baik terhadap perairan berlumpur. Jenis-jenis karang ini beradaptasi, dengan menggunakan sustansi organic yang menempel pada sediment sebagai sumber makanannya. Tetapi hasil penelitian terakhir juga menunjukkan bahwa bila sediment yang halus bercampur dalam perairan yang kaya nutrisi, akan membentuk gumpalan lengket yang dikenal dengan istilah salju laut (marine flocs). Salju laut ini dapat memperbesar dampak yang ditimbulkan sedimennya dan dapat membunuh hewan-hewan kecil dalam waktu satu jam.
b) Biota laut
Sedimentasi di perairan laut dan menutupi dasar laut dengan lumpur, sehingga akan membunuh biota bentos di dasar laut yang menjadi sumber makanan bagi berbagai jenis ikan. Hal ini juga akan mempengaruhi kegiatan manusia dalam penangkapan ikan.
6.
Berpengaruh Dalam Penurunan Penetrasi Cahaya MatahariPengaruh tidak langsung adalah menurunnya penetrasi cahaya matahari yang penting untuk proses fotosintesis zooxanthellae. Selain itu banyaknya energi yang dikeluarkan oleh binatang karang tersebut untuk menghalau sedimen mengakibatkan turunnya laju pertumbuhan karang.
7.
Pendangkalan Badan AirPengendapan sedimen di dasar badan air, akan mengurangi kedalaman badan air itu sendiri. Kondisi ini berpengaruh negatif terhadap proses pemijahan ikan, karena biasanya ikan membutuhkan kedalaman tertentu untuk melakukan pemijahan. Jadi, ketika badan air menjadi dangkal, maka proses pemijahan ikan akan terganggu dan ini akan menghambat proses regenerasi ikan. Apabila kejadian ini berlangsung secara terus menerus, maka tidak menutup kemungkinan jumlah ikan akan berkurang, karena ruang untuk memijah tidak ada lagi. Kekeruhan di dalam air juga memberikan pengaruh buruk terhadap kehidupan ikan. Air yang terlalu keruh akan mengganggu penglihatan ikan dalam air, yaitu jarak pandang ikan menjadi terbatas. Keterbatasan jarak pandang ikan ini, akan memperkecil kesempatan ikan untuk bergerak secara leluasa. Kondisi ini akan menyebabkan ikan mengalami kesulitan
dalam mencari sumber makanan bagi dirinya, sehingga ketika sumber makanan di sekitar ia tinggal telah habis, maka ikan akan mengalami kelaparan dan pada akhirnya akan sakit dan mati. Hal ini tentu saja mempengaruhi dalam hasil penangkapan ikan yang dilakukan oleh manusia.
8.
Memperkeruh Air LautSedimentasi lumpur akan menyebabkan kekeruhan air laut meningkat dan berdampak pada produktivitas primer perairan laut yang menjadi sumber perekenomian masyarakat nelayan dan petambak misalnya terjadi diwilayah di Sidoarjo dan sekitarnya.
Kondisi keruh suatu perairan biasanya disebabkan oleh bahan organik dan anorganik tersuspensi di dalam massa air sebagai hasil dari erosi tanah, limbah pertambangan, pembongkaran sampah dan aliran pembuangan limbah, limbah kertas dan juga sejumlah buangan limbah industri (Alabaster dan Loyd, 1980). Beberapa bahan padatan ini mempunyai kemungkinan beracun seperti berbagai garam – garam dari logam, sedangkan lainnya seperti buangan limbah organik dapat menyebabkan penurunan oksigen di dalam air selama berlangsungnya pemecahan limbah oleh mikroorganisme.
Kuantitas dan kualitas dari material padatan yang terdapat di dalam massa air sebagian besar ada di bawah kontrol dari pergerakan air yang mana mengangkut, memecah dan merubah ciri – ciri dari bahan padatan. Pengendapan bahan ini sangat dipengaruhi oleh gaya tarik bumi, ukuran dan tingkat kepadatan partikel. Semakin besar dan padat suatu material padatan akan lebih mudah diendapkan dibanding dengan partikel yang berukuran kecil dan kurang padat. Barangkali arus laut dapat mencegah partikel dari pengendapan dan mensuspensikan kembali menjadi material yang terendapkan. Senyawa kimia di air dan salinitas, kemungkinan juga mempengaruhi proses penggumpalan dan sedimentasi. Padatan tersuspensi dapat mempengaruhi kerusakan insang dan masuk ke jaringan epithelial (Ellis, 1944; Eller, 1975; Raghavan et al., 1979). Jika kerusakan sangat parah akan mengakibatkan kematian. Kecepatan mortalitas bervariasi dengan species dan juga dengan kondisi alam dari material tersuspensi. Ellis (1944) mempunyai argumentasi bahwa partikel yang lebih besar pada tingkat kesadahan yang besar dan akan lebih besar kemungkinannya dalam merusak jaringan insang. Adanya padatan tersuspensi menunjukkan juga implikasi didalam penyakit seperti fin rot (Myxobacteria) (Herbert
dan Meckens, 1961; Herbert dan Richard, 1963) dan menunjukkan pertumbuhan yang jelek bagi ikan. Beberapa bukti menunjukkan bahwa pengaruh turbiditas dapat menyebabkan peningkatan hilangnya bahan makanan dan akhirnya menghambat pertumbuhan (Sigller et al., 1984). Tingkat kekeruhan di bawah 100 mg/L mempunyai pengaruh yang kecil terhadap kebanyakan ikan (Beveridge, 1991).
9.
Penyempitan LagunaDampak sedimentasi tidak hanya pendangkalan dan penyempitan laguna, tetapi juga hilangnya potensi ikan, udang serta berbagai jenis biota laut di pesisir selatan Pulau Jawa,” Masalahnya, luasan areal laguna yang semakin sempit sehingga berdampak kepada bencana banjir dan hilangnya mata pencaharian warga.
Gambar 6.22. MPT perairan Rembang
Sedimentasi di wilayah perairan P. Karimun - Kepri
Hasil analisa citra menunjukkan bahwa kondisi kawasan perairan Propinsi Kepulauan Riau mempunyai tingkat sedimentasi yang tinggi. Sebaran sedimentasi tertinggi terjadi di Perairan Kabupaten Karimun kemudian diikuti oleh Kota Batam dan Kabupaten kepulauan Riau. Tingginya tingkat sedimentasi di kawasan perairan ini disebabkan oleh adanya sebaran pola arus di Selat Malaka yang membawa massa air dengan kandungan sedimen tinggi dari wilayah perairan Bengkalis dan Sungai Kampr ke wilayah ini. Sebaran sedimentasi berjalan dari Utara di daerah bengkalis Kampar menuju P Karimun Besar ke arah Selatan menuju pulau - pulau di bagian Selatan, seperti P Parit, P Tulang, P Lumut, P Kundur, P Ungar, P Durai dan P Sanglang Besar terus bergerak ke bagian Selatan. Tingginya tingkat sedimentasi ini dapat ditandai oleh tingginya nilai turbidity yang terjadi pada hasil pengamatan lapangan yang dilakukan di berbagai stasiun pengamatan menunjukkan sebesar 20 sampai dengan 25 NTU dengan kisaran nilai total padatan tersuspensi sebesar 53.33
sampai dengan 66.67 mg/L. Didasarkan pada tingkat turbiditas dari masing - masing lokasi wilayah stasiun pengamatan setelah dibandingkan dengan baku mutu kualitas air untuk kepentingan budidaya laut, kesemuanya menunjukkan tingkat kelayakan yang cukup baik. Namun tingkat kekeruhan perairan di wilayah bagian Selatan P Karimun Besar, P Kundur sampai dengan pulau Durai menunjukkan terjadinya tingkat kekeruhan yang lebih tinggi. Di kawasan ini menunjukkan tingkat turbidity pada kisaran nilai antara 15 sampai dengan 25 NTU sedangkan kandungan padatan tersuspensi antara 40 sampai dengan 66.67 mg/L. Sedangkan di kawasan P Sugi menunujukkan tingkat turbidity dan total padatan tersuspensi jauh lebih rendah, yaitu antara 4 sampai dengan 10 NTU dan 10.67 sampai dengan 26.67 mg/L. Kriteria kualitas air untuk kegiatan budidaya laut secara umum diperlukan turbidity pada tingkat di bawah 30 NTU dan total padatan tersuspensi di bawah 80 mg/L (Breveridge, 1991). Padahal rumput laut ini memerlukan cahaya matahari yang cukup untuk melangsungkan proses fotosintesa yang menghasilkan energi untuk kehidupan dan pertumbuhan mereka.
Gambar 5.32. Sedimentasi di Wilayah Perairan Riau Kepulauan
Kawasan Delta Mahakam
Sesuai namanya, kawasan ini merupakan muara Sungai Mahakam. Secara geografis delta Mahakam terletak pada posisi strategis karena berdekatan dengan pusat-pusat kegiatan Prop. Kaltim, yaitu jalur menuju Kota Samarinda, serta tumbuhnya kegiatan industri minyak di sekitar kawasan ini (TotalFinalElf E&P).