Pasir Liat
PERKEMBANGAN LUAS TAMBAK DI DELTA MAHAKAM
420 3678 15246 52300 67000 85000 0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 80000 90000 1986 1992 1996 1998 1999 2001 TAHUN L U A S ( H A )
Gambar 5.33. Perkembangan Luas Tambak di Delta Mahakam (Dutrieux, 2001) Kawasan delta ini terletak pada zona intertidal dengan topografi sangat datar (kelerengan 0,1%). Secara umum delta ini didominasi oleh kawasan hutan mangrove seluas lebih dari 100.000 ha, dimana sebagian besar telah terkonversi menjadi kawasan budidaya tambak. Seperti dijelaskan dalam grafik di atas, dari mulai tahun 1986 sampai dengan tahun 2001 telah dikembangkan lahan tambak seluas 85.000 ha. Pada sisi lain pembukaan tambak ini memberikan dampak berupa berkurangnya fungsi yang diemban kawasan hutan mangrove dalam keseimbangan lingkungan perairan di kawasan ini. Gambar berikut ini menggambarkan perkembangan dan permasalahan kawasan mangrove di Delta Mahakam.
Gambar 5.34. Analisis Wilayah Mega Sedimentasi Delta Mahakam Dengan Citra Landsat_MSS 1983 Sebelum Dibuka Untuk Pertambakan
Gambar 5.36. Vegetasi nipah (Nypa fruticans,atas) dan bakau (Rhizopora.sp, bawah) Di Kanal Delta Mahakam
Gambar 5.37. Pengukuran parameter kualitas perairan pada tambak (atas) dan pada kanal (bawah) di Delta Mahakam
Gambar 5.38. Pengukuran Parameter Kualitas Air Tambak
Secara umum permasalahan yang harus segera diatasi di Delta Mahakam adalah degradasi area mangrove menjadi fungsi lain. Hal ini memerlukan upaya penghentian kegiatan tersebut melalui mekanisme perijinan kegiatan, serta upaya-upaya rehabilitasi dengan cara penghijauan nipah dan rhizopora sesuai karakter zona vegetasi ini. Di bidang kegiatan perikanan diarahkan pada optimalisasi kegiatan pertambakan yang telah ada.
Padang Lamun
Padang lamun (seagrass) di wilayah Kab. Pesisir Selatan meliputi dua jenis yaitu Enhalus acroides dan Thallasea hemperinchii. Survei struktur komunitas makrobentos di perairan Teluk Bayur dan Bungus (Sumatera Barat) bertujuan mengungkapkan komposisi jenis, indeks keanekaragaman jenis dan kepadatannya. Pengambilan contoh dilakukan pada bulan Juni dan September 1998 dengan menggunakan grab Smith Mc Intyre (0,05m2) dan disaring dengan saringan 0,5 mm. Dari hasil yang diperoIeh, makrobentos yang dikoleksi dari ke dua perairan tersebut dapat dibagi menjadi 5 grup utama yaitu polychaeta, moluska, krustasea, ekhinodermata dan taksa rendah lain yang digolongkan ke dalarn grup lainnya. Jumlah jenis dari perairan Teluk Bayur pada bulan Juni dan September masing-masing berkisar antara 2 dan 49 jenis dan antara 2 dan 67 jenis. Jumlah jenis dari Teluk Bungus pada bulan Juni dan September masing-masing berkisar antara 4 dan 48 jenis dan antara 5 dan 37 jenis. Indeks keanekaragaman jenis (H) dari perairan Teluk Bayur dan Bungus pada bulan Juni dan September bernilai sekitar 4,00. Indeks kemerataan dari perairan Teluk Bungus lebih tinggi nilainya daripada perairan Teluk Bayur. Kepadatan rata-rata makrobentos dari perairan Teluk Bayur pada bulan Juni dan September masing-masing berkisar antata 43,33 dan 2.973,33 ekor/m2 dan antara 206,67 dan 5.980,00 ekor/m2 dan dari perairan Teluk Bungus masing-masing berkisar antara. 146,67 dan 2.853,33 ekor/m2 dan antara 20,00 dan 1.400,00 ekor/m2. Baik jumlah jenis maupun kepadatan rata-rata makrobentos dari perairan Teluk Bayur dan Bungus pada bulan Juni dan September tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Estuari. Estuari atau perairan payau merupakan badan perairan yang berada di
muara sungai yang masuk ke laut, teluk dan rawa pasang surut. Ciri khas dari perairan ini dasarnya didominasi oleh lumpur dan salinitasnya cenderung berfluktuasi harian dengan arus air yang lambat. Formasi vegetasi di daerah ini dominasi tumbuhan nipah (Nypa fruticans) dan mangrove, perairan ini oleh masyarakat desa-desa pantai digunakan untuk memproduksi molusca (Bivalvia/lokan dan Monovalva/langkitang) dan kepiting bakau. Kawasan estuari umumnya tersedia di setiap desa-desa pantai yang merupakan potensi budidaya perairan payau.
Estuari di Kabupaten Padang Pariaman
Terdapat 5 sumber air dari daratan (sungai) yang terus mengalir ke laut yaitu: Batang Sungai Limau yang mengalir ke pantai Desa Tanjung, Batang yang mengalir ke pantai Desa Malai Bawah, Batang Naras yang mengalir ke pantai Desa Padang Birik-Birik, Batang Anai dan Batang Ulakan Tapakis yang mengalir ke pantai Sunur kecamatan Nan Sabaris dan pantai Desa Tiram Kecamatan Ulakan Tapakis yang mengakibatkan terbentuknya muara di sepanjang pantai tersebut. Umumnya muara yang terbentuk dan banyak dijumpai adalah muara daratan pesisir serta muara laguna. Luas dari muara masing-masingnya belum diketahui. Pemanfaatan kawasan muara/estuaria disepanjang aliran sungai belumlah maksimal, karena orientasi masyarakat masih kepada kegiatan penangkapan. Muara/estuaria merupakan tempat penangkapan kepiting bakau, kerang, udang dan dapat juga sebagai daerah wisata.
Estuari di Kota Padang
Terdapat 21 sungai yang mengalir di kota Padang, tetapi hanya 4 yang terus mengalir ke laut. Sedangkan yang lainnya merupakan anak sungai dari yang empat tersebut. Sungai-sungai yang mengalir ke laut tersebut adalah : Batang Kuranji, Sungai Banjir Kanal, Batang Arau dan Batang Kandis. Umumnya muara yang terbentuk di sepanjang pantai adalah muara daratan pesisir dan muara laguna. Walaupun muara/estuaria begitu penting sebagai media bagi organisme terutama ikan dan kepiting, tetapi dengan meningkatnya pertumbuhan pabrik yang memanfaatkan aliran sungai sebagai daerah pembuangan limbah industri sehingga kawasan muara/estuaria akhir aliran menjadi tercemar. Warna air kuning karena terlalu banyak menampung limbah daratan. Kawasan muara/estuaria di sepanjang aliran sungai belum dimanfaatkan secara maksimal, karena orientasi masyarakat masih tertuju kepada kegiatan penangkapan. Sedangkan muara/estuaria merupakan tempat penangkapan kepiting bakau, kerang, udang dan dapat juga sebagai daerah wisata.
Estuari di Kabupaten Pesisir Selatan
Di Kabupaten Pesisir Selatan terdapat 18 sungai yang terdiri dari 11 buah sungai besar dan 7 buah sungai kecil. Dari semua sungai tersebut hanya 6 (enam) sungai yang terus mengalir ke laut yaitu : Batang Tarusan, Batang Kapas, Batang Surantih, Batang Air Haji. Batang Air Muara Sakai dan Batang Silaut yang mengakibatkan terbentuknya muara di sepanjang pantai tersebut. Umumnya muara yang terbentuk dan banyak dijumpai adalah muara daratan pesisir serta muara laguna.
Organisme Berasosiasi dengan Substrat Dasar
Gambar . Sebaran spasial substrat dasar (%-silt) dan asosiasi jenis udang (perikanan demersal) di perairan Semarang (A.Hartoko & P Wibowo)
Gambar 6.3. dan 6.4. Ikan demersal
Gambar 5.40 . Jenis sumberdaya perikanan (atas) dan jenis-jenis Moluska demersal perairan Semarang (Photo : P Wibowo)
Gambar . Biota endemik demersal Portunus.sp di pantai selatan Jawa (atas) dan Nephrops.sp di pantai barat Sumatra
Gambar 6.9. Bulubabi pada substrat pasir
Gambar 5.41. Jenis Subtrat Terumbu Karang Perairan Pantai Palu
Oseanografi dan Sumberdaya Perikanan – Kelautan Indonesia
Tabel 5.8. Peningkatan kelimpahan Polychaeta dan penurunan Gastropoda pada substrat tambak dengan perlakuan polimer Chitosan (Hartoko, 2009d)
Kelimpahan Bentos (Ind/m2)
Tambak Dengan
Kitosan Tambak Tanpa Kitosan
Bl-1. Polychaeta Gastropoda 755 456 110 598 Bl-2. Polychaeta Gastropoda 849 457 141 550 Bl-3. Polychaeta Gastropoda 912 440 125 583