Daftar Singkatan untuk Standard:
MENGHADAPI ADANYA TUDUHAN PENYIKSAAN
Sepanjang wawancara pribadi, anggota-anggota tim kunjungan mungkin menerima adanya tuduhan-tuduhan terjadinya penyiksaan. Hal ini dapat merujuk pada pengalaman-pengalaman perlakuan sebelum kedatangan ke tempat penahanan yang sekarang. Dapat dipahami, sementara masih berada di tempat di mana penyiksaan sedang berlangsung atau telah dilakukan, para tahanan akan akan lebih sulit membuat pernyataan, karena takut akan adanya tindakan pembalasan. Tuduhan mungkin berkaitan dengan kejadian-kejadian individual, seperti siksaan dari petugas, atau kejadian tertentu seperti keributan atau hukuman disipliner. Pelaksana kunjungan tidak boleh lupa bahwa kondisi umum di dalam institusi tersebut dapat juga menambah penyiksaan.
Bagi orang yang telah menjadi subjek penyiksaan atau tindakan yang sewenang-wenang, sering kali sulit membicarakan mengenai pengalaman yang sangat memalukan. Pengumpulan informasi mengenai perlakuan yang sewenang-wenang dengand emikian merupakan suatau tugas yang sangat sensitif bagi pelaksana kunjungan. Pelaksana kunjungan harus menerima pelatihan khusus dalam menangani adanya tuduhan penyiksaan, mengembangkan kepekaan yang baik untuk mengetahui sejauh manna mereka dapat bertanya, atau sebaliknya justru intervensi khusus dibutuhkan. Menjadi sangat sulit untuk menegakkan keseimbangan antara menggali informasi untuk mencari pemulihan yang diperlukan dan menghindari kemungkinan adanya re-traumatisasi.
Untuk perlindungan para tahananan, adalah penting untuk menanyakan bila dan bagaimana Anda dapat mempergunakan tuduhan/pernyataan itu (apakah anda dapat menyebut data per-sonal, menggunakan data hanya secara umum atau tidak menggunakan sama sekali).
99
Perlakuan/
Penting bagi para tenaga medis untuk dapat mendokumentasikan pernyataan-pernyataan/dugaan-dugaan tersebut secepat mungkin melalui pemeriksaan medis yang ditujukan baik untuk bukti-bukti fisik maupun psikis.
Untuk detail informasi mengenai wawancara dengan korban penyiksaan seperti juga dengan pengumpulan bukti-bukti medis, lihat:
Camille Giffard, The torture Reporting Handbook – How to document and respond to allegation of torture within the international system for the pro-tection of human rights, Human Rights Centre, University of Essex, United Kingdom, 2000. Bagian II – Pendokumentasian dugaan-dugaan, hlm. 29-51.
Kantor Komisi Tinggi HAM PBB, Professional Series No. 8, Istanbul Protocol, Manual on the Effective investigation and Documentation of Tor-ture and Other Cruel, Inhuman, or Degrading Treatment or Punishment, New York, Jenewa, 2001, Bab IV – Pertimbangan Umum untuk wawancara.
Bukan merupakan peran dari pelaksana kunjungan untuk memutuskan apakah tindakan yang diduga tersebut merupakan penyiksaan. Dugaan penyiksaan atau tindakan sewenang-wenang harus ditemukan, kecuali apabila terdapat keraguan yang serius berkaitan dengan kebenarannya, ke pejabat yang berwenang yang bertanggung-jawab untuk melakukan investigasi (administratif dan pidana), dengan tindakan-tindakan pencegahan sebagaimana tersebut di atas berkaitan dengan representasi yang dibuat atas nama para individu, dan mengikuti prosedur yang tidak membahayakan orang yang terkait dengan dugaan tersebut. Beban pembuktian, yakni, tanggung jawab untuk membuktikan kebenaran dari dugaan tersebut melalui investigasi yang memadai, terletak ditangan pejabat berwenang yang bertugas, dan bukan pada korban yang dituduh.
Informasi yang dapat dikumpulkan oleh pelaksana kunjungan dalam kasus-kasus dugaan perbuatan sewenang-wenang:
Identifikasi lengkap dari orang tersebut
Tanggal dan tempat di mana dugaan tersebut dicatat Pejabat tempat penahanan yang berwenang
Tanggal dan tempat tindakan sewenang-wenang
Pejabat berwenang yang bertanggung-jawab atas tindakan sewenang-wenang tersebut
Kondisi tindakan sewenang-wenang Saksi dari tindakan tersebut
Deskripsi detail atas tindakan sewenang-wenang (apa, kapan, berapa lama, seberapa sering, siapa pelaku), dampak seketika atau kemudian yang ditimbulkannya terhadap tahanan itu, bekas-bekas yang terlihat
Surat keterangan medis dan bukti-bukti lain seperti foto.
Apabila tim pelaksana kunjungan meliputi tenaga medis, mereka dapat mendokumentasikan:
Bukti-bukti fisik Bukti-bukti psikis
Kebutuhan akan tindakan medis
Tindakan follow up yang ditempuh atau yang mengikuti:
Siapa yang telah diinformasikan mengenai dugaan tersebut dan dengan hasil apa?
Apakah terdapat kemungkinan untuk mendakwa secara admin-istratif atau pidana?
Apakah orang tersebut mengijinkan diteruskannya dugaannya tersebut?
Apakah telah ada tanggapan resmi terhadap kejadian itu (termasuk tidak adanya tanggapan atau satua tanggapan yang setara dengan tidak ada tanggapan)
101
Perlakuan/
Di mana pengaduan itu diajukan, apa yang menjadi konsekuensinya (bagi pelapor, bagi korban)?
ISOLASI
Standard
“Upaya yang ditujukan untuk menghapuskan pengurungan dalam sel tersendiri sebagai satu hukuman atau untuk membatasi penggunaannya, harus dilakukan dan didorong.” Prinsip 7, BPTP.
“Memperpanjang masa penyekapan dalam sel tersendiri atas tahanan atau pemenjaraan dapat diperhitungkan sebagai satu tindakan pelarangan penyiksaan”, GC No 20/44 dalam pasal 7 ICCPR/ KIHSP.
“CPT memberikan perhatian khusus para para tananan yang ditahan, untuk alasan apa pun (untuk tujuan pendisiplinan; sebagai hasil dari ‘sifat berbahaya’ mereka, atau sifat mereka yang suka ‘mengganggu’; untuk kepentingan investigasi pidana; atas permintaan mereka sendiri), dalam kondisi yang serupa dengan penyekapan dalam sel tersendiri.
Prinsip proporsionalitas mewajibkan bahwa keseimbangan harus dicapai antara kebutuhan perkara dan penerapan sistem pengurungan dalam sel tersendiri, yang dapat memiliki konsekuensi yang sangat berbahaya baik orang yang bersangkutan. Pengurungan dalam sel tersendiri dapat, dalam kondisi tertentu, diperhitungkan sebagai perlakuan yang tidak manusiawi dan merendahkan; dalam kejadian apa pun, semua bentuk pengurungan dalam sel tersendiri haruslah sesingkat mungkin.
Dalam hal sistem semacam itu dipaksakan atau diterapakan atas permintaan, sebuah upaya perlindungan yang penting adalah kapan pun tahanan yang bersangkutan, atau seorang petugas penjara atas nama tahanan itu, meminta seorang dokter, dokter tersebut harus dipanggil tanpa penundaan dengan tujuan untuk melakukan pemeriksaan medis terhadap si tahanan. Hasil dari pemeriksaan ini termasuk catatan atas kondisi fisik dan mental
103
Perlakuan/
tahanan itu, seperti juga, apabila diperlukan, konsekuensi yang terlihat dari isolasi yang berlangsung terus, harsu disebutkan dalam pernyataan tertulis yang disampaikan kepada penjabat berwenang.” CPT, GR2,§ 56.
Lihat juga IDRCPDL, pasal 48.
Komentar
Tim kunjungan harus memberikan perhatian khusus pada para thanan yang ditahan baik untuk alasan apa pun, dalam sistem isolasi (tidak ada komunikasi dengan tahanan lain, terbatas atau tidak ada komunikasi dengan dunia luar).
Menempatkan seorang manusia dalam pengurungan dalam sel tersendiri merupakan sanksi yang serius, yang apabila diterapkan dalam waktu yang diperpanjang dan atau jika diulangi, dapat merupakan tindakan yang tidak manusiaw]i dan merendahkan, atau bahkan merupakan suatu tindakan penyiksaan. Hal ini dapat juga membuat tahanan lebih rentan terhadap perlakuan semacam itu. Isolasi dengan demikian harus merupakan sebuah perkecualian dan dibatasai waktunya sesingkat mungkin. Pengurungan dalam sel tersendiri harud iikuti dengan sejumlah jaminan, seperti sistem peninjauan dan banding. Tim pelaksana kunjungan dapat terlibat dalam kekeliruan sepanjang sistem ini menyediakan perlindungan yang memadai terhadap para tahanan.
Isolasi terkadang mungkin diperlukan untuk dipergunakan sebagai tindakan perlindungan. Dalam kasus ini, sistem yang dimiliki oleh tahanan harus lebih kurang restriktif disbanding dengan yang diterapkan pada seorang tahanan yang diisolasi sebagai satu sanksi pendisiplinan. Sistem pengujian apa pun harus juga diterapkan terhadap narapidana seperti itu.
Pengurungan dalam sel tersendiri seharusnya tidak
Tak tentu Diperpanjang Diulang
Acuan pokok
Berapa lama waktu terpanjang yang dimungkinkan untuk pengurungan dalam sel tersendiri?
Pada tanggal berapa isolasi tersebut dijatuhkan?
Siapa yang memutuskan bahwa pengurungan dalam sel tersendiri dijatuhkan?
Sistem peninjauan kembali dan banding apakah yang tersedia? Apakah orang yang diisolasi masih memiliki setidaknya satu
jam sehari untuk gerak badan di luar?
Perangkat pengaturan apakah yang berlaku bagi narapidana yang diisolasi?
Apakah pemeriksaan medis dilakukan sebelum pengurungan, dan apakah pemeriksaan berfokus pada kesehatan dari narapidana itu?
Seberapa seringkah pemeriksaan semacam itu dilakukan selama masa pengurungan
Apakah tahanan yang berada dalam isolasi memiliki akses pada dokter atas permintaan?
Siapa yang memiliki akses pada tahanan yang diisolasi, dan bagaimana hal ini dicatat?
Apakah terdapat bukti bahwa isolasi tersebut telah secara tidak proporsional diterapkan pada kelompok minoritas tertentu?
105
Perlakuan/