a. Pengertian Menghafal Surat-surat Pendek (Juz Amma)
Menghafal berasal dari kata “hafal” artinya telah masuk dalam ingatan atau dapat mengucapkan sesuatu di luar kepala (tanpa melihat buku atau catatan lain). Menghafal adalah berusaha meresapkan ke dalam pikiran agar selalu ingat.53 Hafalan merupakan sebuah nikmat dari Allah SWT yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya. Kemampuan seseorang dalam menghafal memiliki derajat yang berbeda-beda. Hafalan merupakan salah satu karunia yang Allah berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Dia memiliki karunia yang besar.54
Juz „amma merupakan bagian dari Juz ketiga puluh dari kitab suci Al-Qur‟an dan bagian yang paling sering didengar dan paling sering dibaca oleh semua orang muslim. Di dalam juz „amma memiliki jumlah surat yang paling banyak yakni 37 surat yang dimulai dari surat An-Naba sampai yng terakhir yaitu surat An-Naas.
Menghafal surat-surat pendek atau juz „amma adalah mengingat dengan jelas surat-surat yang ada di dalam juz 30 tersebut dengan baik dan benar sampai apa yang dihafalkan benar-benar tertancap di dalam fikiran.
53
Depaertmen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), hal. 381
54 Hamdan Hamud Al-Hajiri, Agar Anak Mudah Menghafal Al-Qur’an, (Jakarta: Darus Sunnah, 2014), hal. 23
b. Kaidah menghafal Al-Qur‟an/Juz „Amma
Menurut Ahmad Salim Badwilan agar setiap perbuatan apapun harus bersandar pada kaidah, sehingga akan membuahkan hasil seperti yang diharapkan, adapun kaidah menghafal Al-Qur‟an/Juz „Amma sebagai berikut:55
1) Ikhlas
Ikhlas merupakan tujuan pokok dari berbagai macam ibadah. Ikhlas pada dasarnya hanya mencari keridhoan Allah SWT. Demikian juga ketika kita berniat untuk menghafal Al-Qur‟an atau Juz „Amma 2) Memperbaiki ucapan dan bacaan
Menghafal Al-Qur‟an atau Juz „Amma harus dipelajari dari guru yang menguasainya dengan baik.
3) Penentuan ukuran atau target hafalan
Menghafal Al-Qur‟an atau Juz „Amma hendaklah memiliki target hafalan dan target hafalan tersebut hendaklah dilakukan dengan keajegan/istiqomah
4) Memperkuat hafalan
Memperkuat hafalan yang telah dilakukan sebelum pindah pada surat yang lain/halaman lain
55 Ahmad Salim Badwilah, Panduan Cepat Menghafal Al-Qur’an, (Jakarta: Diva Pres, 2009), hal. 50
5) Memakai satu mushaf yang digunakan untuk menghafal
Menghafal dengan melihat ama halnya menghafal dengan mendengar. Posisi ayat dalam mushaf akan tergambar dalam benak penghafal, sebab seringnya membaca dan melihat pada mushaf.
6) Mengikat awal surat yang dilihat
Seorang penghafal sebaiknya jangan pindah kesurat lain kecuali kita telah dilakukan pengikatan (pengaitan) antara awal surat yang dihafal dengan akhir surat
7) Mengikat hafalan dengan mengulang dan mengkajinya bersama-sama Pengulangan hafalan dengan penghafal yang lain akan memperkuat hafalan, membantu memperbaiki hafalan yang dilakukan dengan cara salah.
c. Faktor-faktor Pendukung Menghafal Al-Qur‟an atau Juz „Amma
Ada beberapa hal yang dianggap penting sebagai pendukung tercapainya menghafal Al-Qur‟an/Juz „Amma, adapaun faktor-faktor tersebut antara lain adalah sebagai berikut:56
1) Usia
Sebenarnya tidak ada batasan usia tertentu secara mutlak untuk menghafal Al-Qur‟an atau Juz „Amma. Tetapi karena kurikulum yang ada di sekolah, pelaksanaannya sesuai dengan target maka target hafalan juz „amma disesuaikan dengan usia anak dan kelas masing-masing
56 Ahsin W, Bimbingan Prkatis Menghafal Al-Qur’an, (Jakarta: Departemen Agama, 2002), hal. 57
2) Manajemen Waktu
Hafalan juz „amma sebaiknya dilaksanakan pada jam-jam pertama pada proses kegiatan belajar-mengajar
3) Tempat menghafal
Tempat yang ideal untuk menhafal Al-Qur‟an/Juz „Amma ialah sebagai berikut: jauh dari kebisingan, bersih dan suci dari kotoran dan najis, cukup ventilasi, cukup penerangan, mempunyai temperatur yang cukup dengan kebutuhan, tidak meningkatkan timbulnya gangguan yakni jauh dari telfon atau ruang tamu atau tempat biasa untuk ngobrol. Jika proses kegiatan belajar-mengajar hafalan Al-Qur‟an atau Juz „Amma di sekolah maka tempat yang ideal dilakukan di mushola sekolah.
D.Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu merupakan penelusuran pustaka yang berupa hasil penelitian, karya ilmiah ataupun sumber lain yang digunakan peneliti sebagai perbandingan terhadap penelitian yang dilakukan. Dalam skripsi ini penulis akan mendiskripsikan beberapa penelitian yang ada relevasinya dengan judul penulis antara lain:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Siti Fatimah pada tahun 2015 dengan judul “Strategi Peningkatan Kedisiplinan Beribadah Siswa di MTsN Bandung Tulungagung”. Fokus dan hasil penelitian yang menjadi bahasan dalam penelitian ini adalah (1) Gambaran nyata kedisiplinan beribadah siswa di
MTsN Bandung Tulungagung yang nampak pada siswa yaitu shalat dhuhur berjamaah, shalat duha, membaca Al-Qur‟an, melaksanakan infaq dan shadaqah. Kedisiplinan beribadah yang nampak pada siswa di madrasah ini berbeda-beda, kadang ada yang disiplin kadang juga ada yang tidak. Tetapi secara umum sudah terjadwal dan bisa dikatakan sudah baik dan disiplin. Namun, hal tersebut kembali lagi kepada kesadaran siswa masing-masing. Bagi anak yang sudah baik ataupun bagi anak yang belum baik dalam kedisiplinan beribadah semuanya masih memerlukan arahan, pembinaan dan bimbingan dari sekolah terutama para pendidik di madrasah. (2) Strategi yang diterapkan guru PAI untuk meningkatkan kedisiplinan beribadah siswa di MTsN Bandung Tulungagung adalah sebagai berikut: a) Strategi yang diterapkan oleh guru untuk meningkatkan kedisiplinan shalat siswa yaitu membuat jadwal shalat dhuhur berjamaah secara bergantian, membuat jadwal khusus untuk guru terkait shalat berjamaah termasuk guru yang bertugas mengecek di kelas-kelas, kerjsama antara guru PAI maupun dengan guru lain dalam mendisiplinkan siswa, membuat tata tertib dan KDS (Kartu Disiplin Siswa), merubah mindset siswa melalui BK, menggunakan berbagai metode seperti metode nasehat, keteladanan, pembiasaan, memberi perhatian dan hukuman. b) Strategi yang diterapkan sekolah dalam meningkatkan kedisiplinan membaca Al-Qur‟an siswa adalah melalui tata tertib dan pembiasaan yang mewajibkan membaca Al-Qur‟an 15 menit sebelum jam pertama dimulai, membuat program mingguan yaitu qhotmil Qur‟an, memberikan bimbingan khusus kepada siswa yang belum lancar
membaca Al-Qur‟an, bekerja sama dengan guru BK, menerapkan metode penghargaan kepada siswa. c) Strategi yang diterapkan oleh sekolah untuk meningkatkan kedisiplinan infaq dan shadaqah siswa adalah guru menerapkan metode keteladanan yaitu memberi contoh langsung untuk berinfaq dan shadaqah, memberikan bimbingan dan motivasi untuk bersedekah dalam pembelajaran, membiasakan syukuran dengan bersedekah, sosisalisasi pemanfaatan dana infaq kepada siswa. (3) Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat serta solusi peningkatan kedisiplinan beribadah siswa di MTsN Bandung Tulungagung. Faktor yang mendukung yaitu: a) Tersedianya fasilitas ibadah seperti masjid sekolah yang sudah cukup bagus, tempat wudhu yang sudah mencukupi, Al-Qur‟an sudah tersedia, dampar Al-Qur‟an sudah tersedia, b) Bapak dan ibu guru sangat perhatian dan peduli terhadap siswa. motivasi yang diberikan bapak ibu guru terhadap anak sangat tinggi, c) Adanya ketelatenan dan kesabaran dari bapak ibu guru, terutama dalam mengingatkan dan mengoprak-oprak siswa, d) Adanya kerjasama yang baik dari guru dalam menerapkan strategi yang digunakan untuk meningkatkan kedisiplinan beribadah siswa.57
2. Penelitian yang dilakukan oleh Dewi Fatimatuz Zahroq pada tahun 2015 dengan judul “Strategi Peningkatan Kemampuan Membaca Al-Qur‟an Melalui Program Pengembangan Diri Siswa di MTs Al-Huda Bandung Tulungagung”. Fokus dan hasil penelitian yang menjadi bahasan dalam penelitian ini adalah (1) Upaya peningkatan kemampuan membaca
57 Siti Fatimah, Strategi Peningkatan Kedisiplinan Beribadah Siswa di MTsN Bandung Tulungagung, (Tulungagung: Skripsi tidak diterbitkan, 2015), hal. 173-176
Qur‟an siswa di MTs Al-Huda Bandung Tulungagung yaitu melalui program pengembangan diri siswa kelas tartil, kegiatan ini merupakan kegiatan yang ada di sekolah untuk meningkatkan kemempuan siswanya tentang keagamaan khususnya pada membaca Al-Qur‟an, dalam program pengembangan diri ini untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur‟an, sekolah memberikan kelas tartil yang dilaksanakan oleh sekolah untuk siswa pada hari sabtu pada jam ke 3-4, (2) Metode yang digunakan sekolah untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur‟an siswa di MTs Al-Huda Bandung metode yang digunakan yaitu metode tartil: a) Pemberian materi setiap tatap muka proses belajar mengajar di kelas,seperti: membaca Al-Qur‟an secara tajwid, pertemuan berikutnya hafalan surat-surat dalam juz „amma, pertemuan selanjutnya menemukan hukum bacaan (tajwid) di dalam Al-Qur‟an, kemudian menghafalkan surat yasin secara tartil. b) Semua proses beljar mengajar diserahkan oleh pihak ustadz/ustadzah yang mengajar di dalam kelas tersebut. (3) Dampak dari mengikuti program pengembangan diri di MTs Al Huda Bandung Tulungagung yaitu: a) hampir semua siswa bisa membaca Al-Qur‟an secara tartil (lancar dalam membaca, benar secara tajwid). b) Setelah lulus dalam mengikuti kelas tartil tersebut siswa boleh mengikuti program pengembangan diri lain seperti seni qiro‟ah, seni kaligrafi, seni hadrah dsb. Apabila siswa yng sudah bisa membaca Al-Qur‟an akan tetapi masih ingin menetap dikelas tartil maka dari pihak sekola masih memperbolehkan. Akan tetapi apabila siswa ada yang belum bisa membaca membaca Al-Qur‟an
maka harus mengikut kelas tartil tersebut sampai bisa membaca Al-Qur‟an dan tidk diperbolehkan mengikuti program pengembangan diri lain. Faktor yang menghambat: a) Kurangnya kesadaran siswa dalam beribadah seperti malas dan bandel meskipun sudah dinasehati seperti bercanda ketika melaksanakan shalat berjamaah, b) Adanya kenala dalam penjadwalan guru terutama untuk imam shalat berjamaah karena biasanya terbentur jam mengajar, c) Masjid sekolah yang belum dapat menampung seluruh siswa. sedangkan solusi yang diterapkan untuk mengatasi kendala dalam meningkatkan kedisiplinan beribadah siswa di MTsN Bandung Tulungagung adalah: a) Untuk anak yang bandel dan kurang disiplin, diadakan pembinan khusus yang dilakukan oleh wali kelas. Selain itu, wali kelas juga bekerjasama dengan guru mata pelajaran seperti dengan guru fiqh untuk membina dalam hal shalat, kemudian kepada guru aqidah akhlak dan juga dengan guru lainnya termasuk dengan guru BK. b) Untuk penjadwalan guru yang terbentu dengan jadwl mengajar, koordinator keagamaan sering-sering mengontrol guru lain yang kiranya longgar untuk menggantikan guru yng tidak bisa untuk menjadi imam. Terkadang jika waktu sudah mepet, kepala madrasah juga ikut menggantikan menjadi imam shalat berjamaah. c) Untuk mengatasi masjid sekolah yang belum bisa menampung seluruh siswa untuk berjamaah, sekolah membuat kebijakan dengan membagi jadwal sekolah secara bergantian antara kelas VII, VIII, dan IX.58
58Dewi Fatimatuz Zahroq, Strategi Peningkatan Kemampuan Membaca Al-Qur’an
Melalui Program Pengembangan diri siswa di MTs Al Huda Bandung Tulungagung, (Tulungagung, Skripsi tidak diterbitkan, 2015), hal. 68-69
3. Penelitian yang dilakukan oleh Siti Ma‟rifatul Asrofah pada tahun 2015 dengan judul “Upaya Guru Dalam Meningkatkan Hafalan Al-Qur‟an di MTs Al Huda Bandung Tulungagung”. Fokus dan hasil penelitian yang menjadi bahasan dalam penelitian ini adalah (1) Upaya guru dalam meningkatkan hafalan Al-Qur‟an di MTs Al Huda Bandung Tulungagung yaitu: a) Membetulkan bacaan anak didiknya ketika menyetorkan hafalan, yakni panjang pendek dan makhrojnya. b) Memberikan contoh ketika hafalan anak didiknya itu ada yang salah. c) Agar aat-ayat yng telah dihafal tetap teringat dalam otak kita, maka kita tidak malas-malas untuk terus mengulang hafalannya. d) Diberikannya jadwal kegiatan setiap harinya, untuk hari senin dan selasa yaitu tadarus bersama atau menambah materi baru dan mengulang hafalan yang telah dihafalkan. e) Mewajibkan setoran hafalan, guru tidak membatasi surat yang dihafal melainkan seberapa kemampuan masing-masing. Hal ini dilakukan pada hari rabu dan sabtu. f) Latihan menulis surat pendek tanpa melihat contoh pada hari kamis. (2) Faktor yang menghambat pelaksanaan guru dalam meningkatkan hafalan Al-Qur‟an di MTs Al Huda Bandung Tulungagung yaitu kemempuan membaca dan menghafal setiap anak yang berbeda, alokasi waktu yang kurang, beberapa anak yang kurang semangat karena alasan tertentu. Selain faktor penghambat ini terdapat juga faktor yang mendukung yaitu motivasi/semangat anak-anak yang kuat, pertemuan antara guru dan murid
yang sangat intensif dan rasa tanggung jawab anak dalam menjalankan tugas.59
Demikian penelitian-penelitian terdahulu yang menurut peneliti relevan dengan penelitian yang akan penulis lakukan. Letak kesamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan penulis lakukan yaitu dengan pendekatan atau penelitian kualitatif dan metode pengumpulan data yaitu metode observasi, wawancara dan dokumentasi serta beberapa kesamaan teori seperti beribadah shalat, membaca Al-Qur‟an dan menghafal surat-surat pendek (juz „amma). Sedangkan perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan penulis lakukan yaitu terletak pada konteks serta tujuan penelitian.
E.Paradigma Penelitian/Kerangka Berfikir
Menurut Sugiyono, paradigma penelitian merupakan pola pikir yang menunjukkan hubungan antar varibel yang akan diteliti yang sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian, teori yang digunakan untuk merumuskan hipoteis dan teknik analisis statistik yang akan digunakan.60 Paradigma penelitian juga disebut sebagai kerangka berfikir. Kerangka berfikir adalah serangkaian konsep dan kejelasan hubungan antar konsep tersebut yang dirumuskan oleh peneliti berdasar tinjauan pustaka, dengan meninjau teori yang disusun. Digunakan
59Siti Ma‟rifatul Asrofah, Upaya Guru Dalam Meningkatkan Hafalan Al-Qur’an di
MTs Al Huda Bandung Tulungagung, (Tulungagung, Skripsi tidak diterbitkan, 2015), hal. 105-106
60 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, (Bandung: Alfa Beta, 2007), hal. 36
sebagai dasar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang diangkat agar peneliti mudah dalam melakukan penelitian.61
Paradigma pada penelitian ini adalah tergambar sebagai berikut:
Dalam penelitian ini, strategi yang dilakukan oleh guru PAI dalam meningkatkan keterampilan keagamaan (beribadah shalat, membaca Al-Qur‟an, menghafal surat-surat pendek) di SMK Sore Tulungagung yaitu dengan melakukan perencanaan pembelajaran, melakukan pelaksanaan pembelajaran dan melakukan evaluasi pembelajaran. Dengan strategi-strategi tersebut maka diharapkan keterampilan keagamaan dapat dilaksanakan dan dicapai oleh peserta didik dengan baik.
61 Husaini Usman, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hal. 3 Strategi Guru PAI Merencanakan Pembelajaran Melaksanakan Pembelajaran Mengevaluasi Pembelajaran Keterampilan keagamaan Beribadah Shalat Membaca Al-Qur‟an Menghafal surat-surat pendek