• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Paru

2.3 Tinjauan Tentang Terapi Pneumonia dan Evaluasi Terapi Pengobatan pneumonia terdiri atas pemberian antibiotika dan Pengobatan pneumonia terdiri atas pemberian antibiotika dan

2.4.2 Menghambat Sintesis Protein Bakteri .1 Aminoglikosida

(1) Mekanisme Kerja

Mekanisme kerjanya adalah aminoglikosida berikatan dengan reseptor pada subunit 30S protein ribosom bakteri. Sintesis protein ribosom dihambat oleh aminoglikosida dihambat melalui tiga cara yaitu menganggu kompleks inisiasi pembentukan peptida, menyebabkan kesalahan pembacaan mRNA yang menyebabkan penggabungan asam amino yang salah ke dalam peptida, dan menguraikan polisom menjadi monosom yang tidak berfungsi (Deck & Winston, 2015). Aminoglikosida bersifat bakterisida, aktif terhadap banyak bakteri gram negatif dan beberapa bakteri gram positif (Neal, 2012).

(2) Farmakokinetika

Aminoglikosida diabsorbsi dalam jumlah yang sangat sedikit dari saluran cerna yang utuh, hampir seluruh jumlah obat yang masuk peroral diekskresikan ke dalam feses. Setelah suntikan intramuskular, aminoglikosida diabsorbsi dengan baik dan mencapai kadar puncak di dalam darah dalam waktu 30-90 menit. Aminoglikosida biasanya diberikan secara intravena dalam infus selama 30-60 menit, setelah fase distribusi singkat terlampaui, aminoglikosida akan mencapai kadar dalam serum yang mendekati kadar aminoglikosida serum yang dicapai pada pemberian intramuskular. Waktu paruh normal untuk aminoglikosida dalam serum adalah 2-3 jam, yang meningkat 24-48 jam pada pasien dengan gangguan ginjal cukup berat (Deck & Winston, 2015).

Tabel II.11 Antibiotika Aminoglikosida untuk Terapi Pneumonia (McEvoy, 2011)

Antibiotika Dosis dan Klirens Kreatinin

Gentamisin  Dosis: IM/IV 3-5 mg/kg/hari dalam dosis terbagi  Adjustment dosis :

- ClCR >60: 7mg/kg/hari - ClCR 30-60: 7mg/kg/36jam Amikasin  Dosis: IV 20 mg/kg/hari

 Adjustment dosis:

- ClCR >60: 20 mg/kg/hari - ClCR 30-60: 20 mg/kg/36jam 2.4.2.2 Tetrasiklin

(1) Mekanisme Kerja

Mekanisme kerjanya adalah menghambat ikatan antara tRNA dan asam amino. Bersifat bakteriostatik dan memiliki spektrum antibakteri yang luas. Tetrasiklin berikatan secara reversibel pada subunit 30S ribosom bakteri, mencegah ikatan aminoasil-tRNA pada lokasi reseptor di kompleks mRNA ribosom yang mencegah penambahan asam amino ke peptida yang sedang terbentuk. Tetrasiklin bekerja aktif terhadap banyak bakteri gram positif, gram negatif, Chlamydia (uretritis non spesifik, trakoma, psittakosis), rickettsia (Q-fever), mikoplasma, dan protozoa (Neal, 2012). Doksisiklin, minosiklin, dan tigesiklin memiliki ketahanan resistensi yang lebih baik dibanding tetrasiklin lainnya (Deck & Winston, 2015).

Absorpsi doksisiklin setelah pemberian peroral adalah 95-100%. Tigesiklin oral memiliki absorpsi yang buruk maka harus diberikan melalui rute intravena. Absorpsi tetrasiklin terganggu oleh adanya makanan (kecuali doksisiklin dan minosiklin), produk susu, antasid, dan pH alkali (Deck & Winston, 2015). Dosis pemberian tetrasiklin 1-2 g sehari dalam 2-4 dosis terbagi. Durasi pengobatan biasanya 1-4 minggu (McEvoy, 2011).

(3) Efek Samping

Efek yang tidak diinginkan yang paling umum adalah gangguan saluran pencernaan (mual, muntah, dan diare). Efek ini disebabkan oleh iritasi lokal langsung di saluran cerna dan dapat ditangani degan memberikan obat bersama dengan makanan. Selain itu, tetrasiklin juga dapat merubah flora normal usus, karena golongan ini merupakan chelating agent Ca2+ , tetrasiklin dapat terdeposit pada tulang dan gigi, menyebabkan perubahan warna dan kadang-kadang hipoplasia pada gigi dan deformitas tulang. Golongan ini sebaiknya tidak diberikan kepada anak-anak, wanita hamil atau ibu menyusui (Rang et al., 2012).

Tabel II.12 Antibiotika Tetrasiklin Untuk Terapi Pneumonia (McEvoy, 2011)

Antibiotika Dosis

Tigesiklin  Dosis inisial 100 mg, kemudian dilanjutkan dengan 50 mg setiap 12 jam, selama 5-14 hari Doksisiklin  Dosis oral : 100 mg setiap 12 jam pada hari

pertama diikuti 100 mg setiap 12-24 jam.  Dosis IV : 200 mg pada hari pertama diikuti

2.4.2.3 Makrolida

Makrolidaadalah sekelompok senyawa yang saling terkait erat dan memiliki ciri khas adanya cincin lakton makrosiklik (biasanya mengandung 14 atau 16 atom) tempat melekatnya gula deoksi (Deck & Winston, 2015). Bisa digunakan sebagai alternatif untuk penderita yang sensitif terhadap penisilin, terutama infeksi yang disebabkan oleh streptokokus, stafilokokus, pneumokokus, dan klostridia (Neal, 2012). Obat prototipe golongan ini, eritromisin, yang tersusun dari 2 gugus gula yang melekat pada cincin lakton 14-atom. Klaritromisin dan azitromisin adalah turunan semisintesis eritromisin (Deck & Winston, 2015).

Klaritromisin diturunkan dari eritromisin melalui penambahan satu gugus metil dan memiliki stabilitas asam serta absorpsi oral lebih baik daripada eritromisin. Mekanisme kerjanya sama dengan eritromisin, yakni inhibitoris atau bakterisidal. Inhibisi sintesis protein terjadi melalui ikatan dengan RNA ribosom 50S, yang mencegah reaksi translokasi aminoasil dan pembentukan kompleks inisiasi. Klaritromisin dan eritromisin hampir identik dalam hal aktivitas. Streptokokus dan stafilokokus yang resisten terhadap eritromisin juga resisten terhadap klaritromisin (Deck & Winston, 2015).

Azitromisin merupakan senyawa cincin makrolida lakton 15-atom, turunan dari eritromisin melalui penambahan nitrogen termetilasi ke dalam cincin lakton. Spektrum aktivitas dan penggunaan klinisnya hampir identik dengan klaritromisin. Azitromisin efektif terhadap M. avium kompleks dan

T. gondii. Azitromisin sangat aktif terhadap klamidia (Deck & Winston, 2015).

Tabel II.13 Antibiotika Makrolida untuk Terapi Pneumonia (McEvoy, 2011)

Antibiotika Dosis

Klaritromisin  Dosis:

- Tablet atau suspensi oral 250 mg tiap 12 jam selama 7 hari untuk H. influenza atau 7-14 hari untuk S. pneumoniae, C. pneumoniae

atau M. pneumonia

- Tablet extended-release 1 g 1 kali sehari selama 7 hari

Azitromisin  Dosis:

- Tablet atau suspensi oral 500 mg dosis tunggal dalam hari pertama, diikuti 250 mg tiap hari untuk hari ke-2 sampai ke-5 - Suspensi oral lepas lambat 2 g dosis tunggal - IV kemudian oral: inisiasi dengan IV 500

mg sekali sehari untuk ≥ 2 hari, kemudian sulih terapi oral 500 mg sekali sehari sampai lengkap 7-10 hari terapi.

2.4.2.4 Oksazolidinon

Linezolid adalah anggota oksazolidinon, suatu golongan antibakteri sintesis baru. Obat ini aktif terhadap organisme gram positif termasuk stafilokokus, streptokokus, enterokokus, kokus anaerob gram positif dan batang gram positif. Obat ini merupakan agen bakteriostatik, kecuali pada

streptokokus akan bersifat bakterisidal. Linezolid menghambat sintesis protein dengan mencegah pembentukan kompleks ribosom yang mengawali sintesis protein. Lokasi ikatannya yang unik yaitu pada RNA ribosomal 23S pada subunit 50S, menyebabkan tidak memiliki resistensi silang dengan obat golongan lainnya (Deck & Winston, 2015).

Bioavailabilitas linezolid setelah pemberian peroral adalah 100% dan waktu paruhnya 4-6 jam. Obat ini dapat menjadi pilihan untuk terapi infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram positif yang resisten terhadap banyak obat. Dosis oral linezolid yakni 400 mg setiap 12 jam selama 10-14 hari (McEvoy, 2011). Efek samping yang tidak diinginkan termasuk trombositopenia, diare, mual, dan pusing (Rang et al., 2012).

2.4.3 Menghambat Sintesis RNA Bakteri

Dokumen terkait