• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menghitung Laju Pertumbuhan Ikan

5. Melakukan Pencegahan dan Mengobati Ikan

a. Melakukan pencegagan penyakit ikan b. Mengobati ikan

6. Memanen Ikan

a. Memanen ikan

b. Menghitung nilai FCR

c. Menghitung nilai derajat kelangsungan hidup d. Melakukan Pasca Panen

UNIT KOMPETENSI 1

MENYIAPKAN WADAH PEMELIHARAAN IKAN Standar Unit Kompetensi :

Siswa mampu menyiapkan lahan & media budidaya dengan baik dan benar

Indikator Keberhasilan :

Lahan dan media yang disiapkan memiliki kualitas sesuai yang dipersyaratkan dalam SNI

Uraian Materi :

Sebelum memulai kegiatan budidaya persyaratan lokasi budidaya mutlak diperlukan karena berhasil tidaknya kegiatan budidaya yang dilakukan tergantung dari menunjang tidaknya lokasi budidaya. Berikut adalah syarat lokasi budidaya yang baik.

Tabel 1. Syarat lokasi budidaya Persyaratan lokasi untuk kolam

Parameter Kriteria

Lahan Bebas banjir dan bebas dari pengaruh pencemaran

Tanah Tanah stabil, warna kehitaman yang memiliki tekstur 50-60% lempung, lebih kecil 20% pasir dan sisanya serbuk bahan organik

pH tanah >5

Sumber air Tidak tercemar dan tersedia sepanjang tahun Ketinggian lahan 0-1000 m di atas permukaan laut

Persyaratan lokasi untuk KJA

Parameter Kriteria

Lokasi Waduk, danau dengan ketinggian >700 meter di atas permukaan laut Kedalaman Air ≥5 meter dari dasar jaring saat surut terendah

Luas areal

pemasangan jaring Maksimal 10% dari luas areal potensial dan luas jaring 10% dari luas areal pemasangan jaring

kekuatan arus dasar 20-40 cm/detik

Dalam kegiatan budidaya disamping lokasi, wadah budidaya juga merupakan faktor yang sangat penting dalam kegiatan budidaya. Macam, bentuk dan konstruksi wadah yang berbeda akan membedakan pula teknik dan teknologi budidaya yang dapat diterapkan dalam kegiatan budidaya tersebut. Mengingat pentingnya wadah budidaya sebagai faktor yang sangat penting, maka diperlukan syarat-syarat wadah budidaya yang baik agar kegiatan dapat berjalan dengan baik. Tabel 2. Syarat wadah budidaya yang baik untuk budidaya lele

Parameter Kriteria

Konstruksi Tanah atau tembok dengan pematang yang kuat Luas Disesuaikan dengan padat tebar Kedalaman 0,75-1,5

Wadah dapat dikeringkan sempurna

Persiapan lahan bertujuan untuk menyiapkan wadah pemeliharaan untuk mendapatkan lingkungan atau wadah yang subur yang optimal untuk pertumbuhan ikan yang diperlihara.

Wadah pemeliharaan ikan dapat berupa kolam tanah, terpal, Fiber, kolam beton atau Karamba jaring apung (KJA). Persiapan wadah yang terbuat dari beton, terpal, fiber dan KJA (jaring) relatif mudah dibandingkan dengan kolam tanah, ini disebabkan karena pada kolam tanah perlu dilakukan perawatan struktur dan kesuburan tanah agar kondisi tanah tetap baik dan dapat mendukung selama kegiatan pembesaran berlangsung.

Kolam fiber kolam terpal

kolam beton KJA Gambar 1. Wadah pemeliharaan ikan A. Perbaikan Wadah Budidaya

Perbaikan wadah budidaya dilakukan bertujuan untuk mencegah kebocoran. Jenis kerusakan atau kebocoran wadah berbeda-beda tergantung dari jenis wadah yang digunakan. Penyebab kebocorannya pun berbeda seperti kebocoran pematang tanah dapat diakibatkan oleh binatang air seperti

belut, kepiting dan hewan air lainnya, kebocoran pada bak bisa sebabkan bak retak karena terlalu lama dalam pengeringan, retak atau kebocoran pada bak juga bisa disebabkan kualitas dan konstruksi yang kurang kuat sehingga mudah pecah atau retak. Sedangkan kerusakan pada KJA dapat diakibatkan jaring dimakan tikus pada saat penjemuran, di makan ikan buntal, dapat juga dikarenakan penanganan yang salah saat perawatan. Langkah-langkah perbaikan pematang tanah, bak atau KJA adalah sebagai berikut:

1. Perbaikan pematang tanah

a. Amati apakah ada lubang yang ada di dinding pematang

b. Tambal lubang dengan cara menimbun lumpur atau tanah

c. Jika lubang berdiameter besar maka sebelum ditimbun lumpur isi dengan batu tujuannnya agar tambalan lebih kuat menahan tekanan air kemudian baru di tutup dengan lumpur atau tanah

d. Padatkan tambahan dengan cara menginjak atau menekan sehingga tanah tambalan lebih padat

e. Untuk pematang yang rusak terkikis air perbaikan dapat dilakukan dapat dilakukan dengan cara menimbun dengan tanah sehingga pematang lebih tebal dan kuat

Gambar 2. Perbaikan Pematang

2. Perbaikan bak

a. Cari keretakan dengan cara meraba (untuk bak fiber), melihat keretakan secara langsung atau melihat tempat bocor air

b. Buat adukan semen murni (untuk bak beton) dan potong serat fiber sesuai dengan keretakan (untuk bak fiber) c. Untuk bak beton

1) tuangkan adukan semen dengan menggunakan scrap sambil diratakan dan ditekan agar adukan semen masuk ke sela-sela retakan

2) haluskan tambalan dengan menggunakan kain atau kuas

3) Biarkan kering 2-3 hari

4) Bilas dengan air agar sisa kotoran hilang d. Untuk bak fiber

1) bersihkan bagian yang akan ditambal dengan menggunakan amplas halus

2) Lakukan pengelapan dengan kain kering hingga kering dan bersih dari debu

3) Oleskan lem fiber menggunakan kuas 4) Letakkan serat fiber di atas lem

5) Lapisi kembali serat fiber dengan menggunakan lem dengan cara mengoleskan lem berkali-kali dengan kuas sehingga serat menyatu dengan bak

6) Biarkan sampai kering

3. Perbaikan KJA

a. Amati jaring yang sobek dengan membentangkan jaring setiap sisi secara bergantian

b. Kaitkan jaring yang sobek dengan tali PE

c. Rapikan sambungan dengan cara memotong sisa tali PE.

B. Mengolah Lahan Budidaya

Proses pengolahan lahan budidaya dilakukan dalam beberapa tahapan kegiatan yaitu mengeringkan kolam, pembalikan tanah dasar, melakukan pengapuran dan melakukan pemupukan lahan budidaya. Proses pengolahan lahan budidaya ini cenderung mengacu pada jenis kolam tanah sebab untuk pembesaran ikan dibutuhkan kolam dengan kapasitas yang besar.

1. Mengeringkan kolam

Pengeringan dasar kolam bertujuan untuk membunuh hama dan penyakit yang ada di dalam kolam selain itu dapat membuang racun sisa dekomposisi selama budidaya sebelumnya. Proses pengeringan dilakukan dengan cara :

a. Tutup pintu pemasukan air (inlet) dan membuka saluran pembuangan (outlet)

b. Biarkan air keluar dari kolam dengan sendirinya

c. Apabila air tidak bisa terbuang 100% maka pasang pompa air dibagian paling dalam pada kolam

d. Sambungkan selang pada pompa untuk mengalirkan air e. Hidupkan pompa dan biarkan air kolam habis terbuang f. Setelah selesai, bereskan pompa dan peralatan lainnya g. Biarkan kolam kering selama 2-3 hari atau sampai

tanah dasar retak-retak

Gambar 3. Pengeringan dasar kolam

2. Melakukan pembalikan tanah dasar kolam

Pembalikan tanah dasar kolam dilakukan pada kolam tradisional dan kolam semi intensif dimana dasar kolam berupa tanah. Tujuan pembalikan tanah dasar kolam adalah mempercepat berlangsungnya proses dekomposisi (penguraian) senyawa-senyawa organik dalam tanah sehingga senyawa-senyawa beracun yang terdapat di dasar kolam dapat menguap. Cara pembalikan tanah dasar kolam adalah sebagai berikut :

a. mencangkul tanah dasar kolam sedalam 10–20 cm

b. Tanah hasil pencangkulan tersebut dibalikan sampai tanah bagian dalam terletak dibagian atas permukaan c. Pencangkulan dilakukan merata diseluruh dasar kolam d. Biarkan kolam kering sampai 3-5 hari biasanya selama

pengeringan tanah dilakukan bersamaan dengan pengapuran

e. Setelah tanah dasar kolam kering, kemudian ratakan tanah dasar menggunakan cangkul

f. Setelah dasar kolam rata, lalu dibuat saluran ditengah kolam. Saluran ini disebut kemalir. Kemalir berfungsi untuk memudahkan pemanenan dan sebagai tempat berlindung benih ikan pada siang hari

Gambar 4. Pembalikan tanah dasar kolam

3. Melakukan pengapuran lahan budidaya

Pengapuran dasar kolam sebaiknya dilakukan setelah pembalikan tanah dasar. Setelah tanah dibalik dan sambil menunggu tanah kering, penebaran kapur dapat dilakukan. Pengapuran merupakan salah satu upaya untuk

mempertahankan kestabilan keasaman (pH) tanah dan air, sekaligus memberantas hama penyakit. Jenis kapur yang digunakan untuk pengapuran kolam ada beberapa macam diantaranya adalah kapur tohor/kapur aktif (CaO), Kaptan (CaCO3) dan Dolomit [CaMg(CO3)2]. Dosis kapur yang digunakan biasanya 100-150 kg/ha. Langkah-langkah dalam pengapuran adalah sebagai berikut :

a. Mengukur luas kolam pemeliharaan yang akan dikapur menggunakan alat ukur

b. Menghitung jumlah kapur yang harus diberikan dengan cara mengalikan luas kolam dengan dosis kapur yang akan diberikan

c. Menimbang kapur sesuai kebutuhan yang telah dihitung menggunakan timbangan

d. Tebarkan kapur tersebut ke dasar kolam secara merata sampai permukaan tanah terkena kapur seluruhnya e. Sebelum di tebar kapur yang masih berbentuk butiran

atau bongkahan dihancurkan terlebih dahulu agar kapur lebih merata dan cepat terserap tanah

f. Biarkan kolam 3-5 hari agar tanah dan kapur pada dasar kolam kering

4. Melakukan pemupukan dan pengisian air

Pemupukan tanah dasar kolam bertujuan untuk meningkatkan kesuburan kolam, memperbaiki struktur tanah dan menghambat peresapan air pada tanah-tanah yang porous serta menumbuhkan phytoplankton dan zooplankton yang digunakan sebagai pakan alami benih ikan. Dosis pupuk kandang juga bergantung kepada

kesuburan kolam ikan, biasanya berkisar antara 100-150 gram/m2, sedangkan untuk kolam yang kurang kesuburannya dapat ditebarkan kotoran ayam sebanyak 300–500 gr/m2. Kolam dapat juga dipupuk menggunakan, TSP dan Urea masing-masing sebanyak 10 gr/m2 dan 15 gr/m2. Langkah-langkah dalam pemupukan yaitu :

a. Jemur kotoran ayam sampai kering

b. Timbang kotoran ayam yang telah kering sesuai dosis yang diinginkan

c. Untuk kolam tanah yang besar maka pemupukan dilakukan dengan menebarkan pupuk secara merata di dasar kolam

d. Untuk pemupukan di kolam beton, terpal, dan fiber masukkan kotoran ke dalam karung dan letakkan pada sudut-sudut kolam

e. Buka pintu pemasukan air (inlet), aliri air sampai ketinggian 10 cm. Biarkan kolam 3-4 hari agar terjadi reaksi antara berbagai macam pupuk dan kapur dengan tanah

f. Pada hari kelima, tambahkan air lagi pada kolam sampai ketinggian 50 cm dan biarkan sehari.

g. Selanjutnya kolam diisi air kembali sampai ketinggian yang diinginkan dan benih siap ditebar.

h. Apabila kotoran ayam diperkirakan sudah habis hal tersebut terlihat dari semakin menipisnya produksi pakan alami maka dapat dilakukan pemupukan ulang dengan dosis 250 g/m2 untuk kotoran ayam, 2,5 g/m2 pupuk urea dan 1,25 g/m2 untuk pupuk TSP.

C. Melakukan Pengukuran Kualitas Air

Kualitas air dalam kegiatan pembesaran ikan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam kegiatan pembesaran ikan, berhasil tidaknya kegiatan pembesaran ikan tergantung sesuai tidaknya kualitas air dengan biota yang dibudidayakan. Kualitas air terdiri dari berbagai parameter namun yang pada umunya yang sering diamati adalah suhu, pH, DO, BOD,CO2 bebas, TOM, dan kesadahan.

Tabel 3. Kualitas air untuk ikan lele

Parameter Satuan Nilai

Suhu oC 25-30 pH 6,5-8,5 Ketinggian air cm 50-70 Kecerahan cm 25-35 DO Mg/l >4 Amoniak (NH3) Mg/l <0,01

Pengujian sampel kualitas air sangat penting dalam menentukan hasil yang didapat. Pegujian yang salah akan mengakibatkan data kualitas air yang didapat tidak dapat digunakan karena tidak valid, untuk itu diperlukan tahapan pengujian sampel dengan benar. Parameter dan cara pengukuran kualitas air yang dilakukan sebagai berikut :

1. Suhu

Alat : termometer Cara Kerja :

a. Ambil thermometer dan ujung thermometer bagian atas dikaitkan dengan tali

b. Mencelupkan thermometer ke dalam air kolam pemeliharaan dan biarkan selama 5 menit agar thermometer stabil sesuai dengan suhu air

c. Angkat thermometer dan lihat suhu yang tertera pada thermometer. Melihat thermometer harus cepat agar suhu pada air thermometer tidak berubah mengikuti suhu udara

d. Mencatat suhu air hasil pengukuran

2. pH

Alat : Kertas lakmus Cara Kerja :

a. Ambil sampel air

b. Mencelupkan kertas lakmus ke dalam air sampel c. Warna yang timbul pada kertas lakmus dicocokkan

pada standar warna pengukuran d. Mencatat nilai pH hasil pengukuran

3. D.O (Dissolved Oxygen) Alat : a. Botol Winkler b. Botol erlenmeyer c. Pipet tetes d. Perangkat titrasi e. Pipet volume Bahan :

a. Iodida alkali (perekasi Winkler) b. H2SO4 pekat

c. Larutan Mangan sulfat/ MnSO4 48% d. Natrium tiosulfat 0,025 N

e. Indikator amylum 1%

Cara Kerja :

a. Ambil sampel air menggunakan botol winkler dengan hati-hati kemudian ditutup dengan rapat. Botol sampel harus terisi air dengan penuh dan tidak ada udara yang masuk dalam botol.

b. Buka tutup botol kemudian tambahkan 1 ml MnSO4 dan 1 ml reagen Winkler ke dalam air sampel, lalu botol ditutup kembali kemudian kocok dan ditunggu hingga terbentuk endapan.

c. Tambahkan 2 ml H2SO4 pekat ke dalam botol sampel, kocok hingga endapan larut.

d. Ambil 50 ml sampel tersebut dan masukkan dalam botol erlenmeyer, dititrasi dengan larutan Natrium tiosulfat 0,025 N sampai berwarna kuning muda pucat.

e. Tambahkan inikator amilum (biru).

f. Titrasi kembali dengan larutan Natrium tiosulfat, dari biru sampai menjadi bening.

g. Dicatat berapa ml Natrium tiosulfat yang dipakai.

Perhitungan : 8000 x ml Na 2S 2O 3 X N Na 2S 2O 3 Kadar O 2 (mg/L) = ml sampel

4. CO2 BEBAS Alat :

a. Tabung reaksi b. Botol erlenmeyer

Bahan :

a. Indikator Phenol ptalein b. Natrium bikarbonat

Cara Kerja :

a. Masukkan 50 ml sampel air ke dalam botol erlenmeyer.

b. Tambahkan 3-5 ml indikator PP.

c. Titrasi menggunakan larutan Natrium bikarbonat standart tetes demi tetes sampai berwarna merah muda.

d. Catat ml Natrium bikarbonat standar yang terpakai.

Perhitungan :

5. BOD (Biochemical Oxygen Demand) Alat :

a. Botol Winkler b. Pipet tetes c. Pipet volumetri

1000 X ml Na-bikarbonat X Na-bikarbonat X BA Na-bikarbonat Kadar CO

2 =

50

d. Erlenmeyer e. Buret dan statif

Bahan : Lihat bahan pemeriksaan O2 (DO)

Cara kerja :

a. Saring 100 ml sampel air dari lumpur.

b. Diambil 75 ml sampel air yang telah disaring, diencerkan dengan aquadest 100X dan masukkan ke dalam 2 botol Winkler.

c. Simpan dalam keadaan gelap (dibungkus dengan kertas karbon atau plastik hitam) dan ditempat yang gelap. Dicatat suhu air dan jam penyimpanan. Hitunglah kadar O2 nya setelah 5 hari kemudian. d. Terhadap sampel juga dihitung kadar O2 sesaat. e. Dicatat kadarnya.

Perhitungan :

6. TOM (Total Organic Mater) Alat : a. Perangkat titrasi b. Termometer c. Erlenmeyer d. Hot plate e. Pipet volume f. Pipet Mohr Bahan : a. H2SO4 6 N b. KMnO4 0,01 N c. H2C2O4 0,01 N

Kadar BOD (mg/l) = (DO sesaat – DO5) X pengenceran

Cara kerja :

a. Ambil 25 ml sampel air menggunakan pipet, masukkan ke dalam erlenmeyer.

b. Tambahkan 0,5 ml H2SO4, beberapa teter KMnO4 0,01 N sampai berwarna merah muda sedikit agar semua senyawa organik yang tingkatnya rendah dioksidasi menjadi tingkat tinggi.

c. Ambil 10 ml larutan KMnO4 0,01 N dengan pipet kemudian masukkan ke dalam erlenmayer. Warna larutan akan berwarna merah.

d. Dididihkan larutan tersebut, catat jamnya. Warna larutan akan lebih muda, biarkan mendidih selama 10 menit lalu diangkat.

e. Turunkan suhu sampai 80oC, tambahkan 10 ml asam oksalat 0,01 N dengan pipet khusus. Larutan akan menjadi bening pada oksalat berlebih.

f. Dalam suhu 70-80oC titrasi larutan dengan KMnO4 0,01 N sampai berwarna pink.

g. Hitung menggunakan rumus :

Keterangan : a = titrasi KMnO4 b = N KMnO4 c = NH2C2O4 0,1 N d = sampel air (ml)

h. Catat hasil perhitungannya

(10 + a) b – (10 x c) 31,6 x 1000

7. KESADAHAN TOTAL Alat : a. Pipet volume 10,0 ml b. Erlenmeyer c. Buret Bahan : a. Larutan EDTA b. Larutan Buffer pH 10 c. Indikator EBT Cara kerja :

1) Ambil 10 ml air sampel menggunakan pipet dan masukkan ke dalam erlenmeyer.

2) Tambahkan indikator EBT hingga larutan menjadi merah muda.

3) Tambahkan larutan buffer pH 10 sebanyak 1-1,5 ml. 4) Titrasi dengan larutan EDTA hingga menjadi biru

muda.

5) Catat volume EDTA yang dipakai. 6) Hitung menggunakan rumus :

7) Catat hasil penghitungannya.

ml EDTA X faktor EBT X 10 mg/L CaCO3= ________________________

ml sampel

UNIT KOMPETENSI 2 PENEBARAN BENIH Standar Unit Kompetensi :

Siswa mampu memilih dan menebar benih dengan baik dan benar

Indikator Keberhasilan :

Benih yang dipilih memiliki kualitas sesuai dengan SNI.

Uraian Materi : A. Memilih Benih

Benih yang siap tebar adalah benih yang berukuran 3-5 cm dan 5-8 cm, benih ditebarkan dengan kepadatan per m2 bervariasi tergantung jenis biota yang akan dipelihara. Agar hasil dari kegiatan pembesaran memuaskan maka benih yang dipilih adalah benih yang unggul.

Ciri-ciri benih yang baik yaitu : 1. Mempunyai ukuran yang seragam 2. Sehat dan tidak cacat atau luka 3. Bergerak aktif dan lincah

Cara menguji respon benih yang sehat yaitu:

1. Alirkan air ke wadah pemeliharaan atau penampungan kemudian amati, benih yang sehat akan bergerak melawan arus

2. Saat pemberian pakan benih yang sehat akan responsive yaitu dengan menghampiri pakan dengan cepat saat pakan diberikan

3. Benih yang sehat akan menyebar atau menjauhi sumber gangguan jika ada gangguan

Tabel 4. Kriteria Benih lele yang baik menurut SNI: 01-6484.2-2000

Kriteria Satuan Pendederan I Pendederan II Pendederan III Pendederan IV Lama

pemeliharaan Hari 20 40 54 75

Panjang Total Cm 0,75-1 1-3 3-5 5-8

Bobot Minimal Gram 1 2,5 5 10

Keseragaman

Ukuran % >75 >75 >75 >75 Keseragaman

Warna % 100 >90 >90 >90

B. Aklimatisasi

Sebelum benih ditebar ke dalam kolam maka perlu dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu. Tujuannya yaitu untuk menyesuaikan suhu dalam kantong dengan suhu kolam pemeliharaan agar benih ikan yang ditebar tidak stress karena terjadi perbedaan suhu yang mendadak. Proses aklimatisasi suhu adalah sebagai berikut:

1. Meletakkan kantong packing yang berisi benih ke dalam kolam tempat benih akan ditebar.

2. Biarkan kantong packing mengapung di permukaan air selama 10-15 menit atau sampai kantong berembun.

3. Jika kantong sudah berembun itu merupakan tanda bahwa suhu kantong dan suhu kolam relatif sama dan tutup kantong dapat dibuka.

C. Penebaran Benih

Penebaran benih dilakukan saat suhu air rendah kolam masih rendah yaitu pada pagi hari antara pukul 06.00 – 07.00 atau pada sore hari di atas pukul 16.00. Tujuannya agar benih

tidak stres akibat suhu tinggi. Benih yang ditebar terlalu siang dapat menjadi stres akibat kepanasan. Berikut adalah cara benebaran benih;

1. Membuka tutup kantong packing benih yang sudah berembun

2. menggulung kantong plastik packing sampai mendekati permukaan air kantong

3. Percikkan air kolam sedikit demi sedikit ke dalam kantong dengan menggunakan tangan

4. Miringkan kantong packing sampai sebagian kantong tenggelam

5. Biarkan benih keluar dengan sendirinya. Setelah terlihat benih berani berenang keluar kantong sendiri itu merupakan tanda bahwa kondisi air pada kantong sudah relative sama dengan air pada kolam.

Pada awal pemeliharaan, ketinggian air dipertahankan minimal 70 cm, dan bila masa pemeliharaan telah telah mencapai dua bulan ketinggian air dinaikan, sehingga menjelang pemeliharaan empat bulan ketinggian diusahakan mencapai 1,5 m.

Khusus penebaran benih di KJA benih di tebar di dalam hapa untuk memudahkan pengontrolan dan pada umumnya mata jaring KJA berukuran besar sehingga jika langsung dilepas maka ikan akan lolos dari jaring.

Tabel 5. Standar penebaran ikan lele Padat

Tebar Satuan P I P II P III P IV PB 1 PB 2

Lele ekor/m2 100 50 25 20 10-15 3-5 Ukuran

minimum cm 0,75-1 1-3 3-5 5-8 10-15 100-150

Cara mengukur panjang total ikan menurut SNI: 01-6484.4-2000 yaitu dengan membentangkan tubuh ikan kemudian ukur ikan mulai dari ujung mulut sampai ujung ekor menggunakan jangka sorong atau penggaris yang dinyatakan dalam satua centimater atau millimeter.

UNIT KOMPETENSI 3

MEMBERI DAN MENYIMPAN PAKAN Standar Unit Kompetensi :

Siswa mampu menyimpan, menimbang dan memberi pakan dengan tepat

Indikator Keberhasilan :

Ikan hasil panen memiliki nilai FCR maksimal 1,1

Uraian Materi :

Pakan merupakan faktor yang sangat penting dalam usaha pembesaran ikan. Untuk mendapatkan pertumbukan ikan yang maksimal, kualitas dan kuantitas pakan harus diperhatikan. Apabila kandungan gizi pakan yang diberikan tidak baik dan jumlah yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan konsumsi ikan, maka ikan tidak akan bisa tumbuh dengan baik atau kuntet, namun jika pakan yang diberikan melebihi kebutuhan konsumsi ikan, maka sisa pakan yang tidak termakan akan merusak kualitas air media pemeliharaan. Selain itu, ukuran pakan yang diberikan harus disesuiakan dengan bukaan mulut ikan, karena apabila terlalu besar pakan yang diberikan tidak akan termakan, sebaliknya jika pakan terlalu kecil maka dibutuhkan jumlah yang besar untuk memenuhi konsumsi ikan dan pakan akan banyak terbuang karena terlalu kecil bagi ikan.

A. Menghitung kebutuhan pakan

Jumlah pakan yang diberikan disesuaikan dengan biomasa ikan. Dosis jumlah pakan yang diberikan berkisar

5% dari biomasa ikan namun dalam pengaplikasiannya perlu dilakukan pengamatan jika nafsu makan ikan tinggi bisa menggunakan dosis maksimal, namun jikan kurang sebaiknya menggunkan dosis yang jangan terlalu tinggi karena nantinya pakan tidak akan dimakan. Secara berkala jumlah pakan yang diberikan disesuaikan dengan biomasa ikan, data biomasa ikan didapatkan dengan monitoring ikan dengan cara

sampling. Cara menghitung jumlah pakan yaitu:

1. Menghitung biomasa ikan keseluruhan dengan cara mengambil sampel beberapa ekor benih secara acak, kemudian menimbang beratnya untuk mencari berat rata-rata per ekor benih

2. Mengkalikan berat rata-rata benih dengan jumlah populasi benih maka diperoleh biomasa ikan

3. Menghitung jumlah pakan dengan mengkalikan biomasa dengan dosis pakan yang akan diberikan

4. Mencatat hasil perhitungan pakan yang harus diberikan pada ikan

B. Menimbang pakan

Setelah jumlah pakan yang akan diberikan sudah diketahui maka pakan dapat ditimbang. Pakan ditimbang berdasarkan jumlah pakan yang akan diberikan dalam satu hari. Penimbangan pakan harus dilakukan dengan benar agar tidak terjadi kesalahan dalam jumlah pakan yang diberikan. Langkah-langkah dalam penimbangan pakan yaitu:

1. Mengambil timbangan yang akan digunakan

2. Meletakkan timbangan pada tempat yang datar dan rata 3. Memasukkan pakan ikan pada timbangan sedikit demi

sedikit sampai jumlahnya sesuai dengan kebutuhan ikan

Dokumen terkait