• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menghitung Total Biaya Kepemilikan dengan NPV

Dalam dokumen Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa (Halaman 73-98)

BAB 4 TOTAL BI AYA KEPEMI LI KAN

4.6. Menghitung Total Biaya Kepemilikan dengan NPV

Untuk menghitung TBK diperlukan informasi mengenai tingkat bunga,

komponen dan biaya kepemilikan barang/jasa, dan nilai sisa barang/jasa.

Langkah-langkah untuk menghitung Total Biaya Kepemilikan dengan NPV

adalah :

1. Melakukan identifikasi jenis biaya apa saja yang harus di

keluarkan untuk memiliki, mengoperasikan, dan memelihara

suatu barang/jasa selama usia ekonomis.

2. Menentukan besarnya biaya dan waktu pengeluaran biaya dari

masing-masing jenis biaya yang sudah ditetapkan pada tahap

identifikasi biaya.

3. Menentukan tingkat bunga investasi (cost of capital ).

4. Menentukan besarnya nilai depresiasi, untuk mudahnya

digunakan straight line method (metode garis lurus).

5. Menentukan umur ekonomis dan nilai sisa (salvage value ) dari

barang/jasa.

6. Menghitung nilai sekarang dari masing-masing biaya tersebut.

CONTOH

Lembaga non departemen ingin menggunakan sistem pembayaran gaji

pegawai dengan sistem yang lebih canggih dari pada yang sudah ada

selama ini. Komponen biaya utama dari pada sistem yang baru ini adalah

hardware (berupa komputer, dan lain-lain), software (piranti lunak),

ini-tial training (pelatihan awal buat pengguna), other transision cost (biaya

lain yang ditimbulkan adanya sistem baru), subsequent upgrade software

(biaya upgrade software untuk penyesuaian dengan perubahan yang ada),

4.2. Kom ponen Tot al Biaya Kepemilikan 4.3. Menghit ung Nilai Waktu dari Uang 4.4. Pendekat an NPV dalam I nvest asi 4.1. Um um 4.6. Menghit ung Tot al Biaya Kepemilikan dengan NPV 4.5. Menghit ung NPV dengan Microsoft Excel

Latihan soal untuk mempermudah pemahaman mengenai menghitung

NPV menggunakan Microsoft Excel.

biaya operasi dan pemeliharaan. Nilai sisa adalah nol.

Untuk menyederhanakan, maka sisyem baru ini akan digunakan selama 3 (tiga) tahun,

dengan biaya bunga sebesar 15%.

Biaya yang harus dikeluarkan sebagai investasi awal adalah :

- Pembelian hardware Rp. 1.000 Juta

- Pembelian software Rp. 2.000 Juta

- Initial training Rp. 800 Juta

Adapun biaya biaya lain yang muncul pada tahun berikutnya adalah :

- Other transision cost Rp. 800 Juta pada tahun ini

Rp. 400 Juta pada tahun depan

- Subsequent upgrade software Rp. 1.000 Juta pada tahun depan

Rp. 1.000 Juta pada tahun ke dua

Rp. 500 Juta pada tahun ke tiga

- Subsequent training Rp. 200 Juta pada tahun depan

Rp. 200 Juta pada tahun ke dua

Rp. 150 Juta pada tahun ke tiga

- Maintenance and Operation Rp. 500 Juta pada tahun depan

Rp. 600 Juta pada tahun ke dua

Rp. 700 Juta pada tahun ke tiga

Jawaban :

0 1 2 3 Discount Factor 1 0.9325 0.8109 0.7051 Hardware 1,000.00 1,000.00 2,000.00 2,000.00 800.00 800.00 800.00 400.00 1,173.00 1,000.00 1,000.00 500.00 2,095.95 Subsequent Training 200.00 200.00 150.00 454.45 500.00 600.00 700.00 1,446.36 8,969.76 T otal Biaya PV Cost p Deskripsi T ahun ke

Tabel 4.4 TBK dari Penggantian Sistem pembayaran Gaji Pegawai

TBK dari penggantian Sistem Pembayaran gaji Pegaw ai

kendaraan yang dibutuhkan adalah kendaraan berpenumpang paling banyak 6 orang.

Dengan menggunakan TBK, maka PPK dapat melakukan simulasi, apakah membeli atau

sewa.

Berikut adalah ilustrasi perhitungan untuk satu mobil :

0 1 2 3 4 5 Harga Beli 150,000.00 150,000.00 Depresiasi 15,000.00 15,000.00 15,000.00 15,000.00 15,000.00 56,861.80 Nilai sisa 75,000.00 68,181.82 Operasi 6,000.00 6,000.00 6,000.00 6,000.00 6,000.00 22,744.72 Pemeliharaan 1,000.00 2,000.00 3,000.00 4,000.00 5,000.00 10,652.59 308,440.93 Nilai Sekarang Tahun Deskripsi TOTAL Dalam Rp 1

000,-Menghitung NPV untuk Beli Mobil Baru

0 1 2 3 4 5 Harga Beli - 0.00 Depresiasi - - - - - 0.00 Nilai sisa - 0.00 Operasi *) 91,000.00 104,000.00 117,000.00 130,000.00 143,000.00 434,165.02 Pemeliharaan - - - - - 0.00 434,165.02 *) Asumsi, dalam satu tahun 52 minggu dan dipakai hanya 5 hari per minggu

Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5

Tarif per hari 350 400 450 500 550 Tarif per tahun 91000 104000 117000 130000 143000

TOTAL

Menghitung NPV untuk Sewa Mobil

Dalam Rp 1

000,-Deskripsi Tahun Nilai Sekarang

Dengan simulasi diatas, maka PPK dapat melakukan simulasi berikutnya, untuk memilih

mobil baru atau mobil bekas.

Berikut ini adalah simulasi TBK untuk mobil bekas :

0 1 2 3 4 5 Harga Beli 100,000.00 100,000.00 Depresiasi 15,000.00 15,000.00 15,000.00 15,000.00 15,000.00 56,861.80 Nilai sisa 25,000.00 22,727.27 Operasi 6,000.00 6,000.00 6,000.00 6,000.00 6,000.00 22,744.72 Pemeliharaan *) 5,000.00 6,000.00 7,000.00 8,000.00 9,000.00 25,815.74 228,149.53 *) Biaya Pemeliharaan mobil bekas lebih tinggi

Nilai Sekarang

TOTAL

Menghitung NPV untuk Beli Mobil Bekas

Dalam Rp 1

26% bila membeli mobil baru.

Dengan contoh di atas, maka pada saat menyusun/mengkaji ulang spesifikasi dan HPS,

PPK dianjurkan untuk memikirkan beberapa hal berikut ini :

1. Apakah barang/jasa tersebut memang sudah seharusnya dibeli atau cukup si

sewa saja ?

2. Bila diputuskan beli, bisa dipikirkan kembali, apakah harus beli baru atau bisa

membeli bekas barang/jasa tersebut.

3. Bila diputuskan membeli barang/jasa bekas, baru dipikirkan dampak membeli

barang/jasa bekas bagi unit kerja.

5.1. Pendekatan Umum

Untuk dapat menyusun HPS dengan baik, diperlukan pemahaman atas keseluruhan proses pengadaan barang/ jasa sebelumnya.

5.1. Pendekat an Um um 5.5. Cont oh Perhit ungan HPS 5.4. M e t ode Perhit ungan 5.3 Analisis Pasar Penyedia 5.2. Karakteristik Barang/ Jasa

Gambar 5.1.Skema Penyusunan Spesifikasi dan HPS

I t em Menyusun Menyusun

Pekerj aan Spesifikasi HPS

Menyusun HPS Menyusun HPS

Barang Produksi Barang Jadi

Seperti terlihat pada gambar di atas, maka penyusunan HPS dimulai dengan pemahaman yang mendalam atas output barang/jasa yang hendak diadakan. Atas dasar itu, dapat disusun item pekerjaan atau langkah-langkah yang diperlukan untuk mewujudkan barang/ jasa tersebut. Kedua hal di atas, menjadi dasar penyusunan spesifikasi yang telah dibahas pada bab 2 Menyusun Spesifikasi. Dengan demikian, maka HPS yang disusun hendaknya dipastikan akan mampu menghasilkan output barang/ jasa yang sesuai dengan kehendak pengguna barang/ jasa.

Selanjutnya, untuk dapat menysun HPS dengan baik, selain memahami spesifikasi, PPK perlu memahami karakteristik barang/ jasa (sub bab 5.2.). Berdasarkan penggolongan jenis barang/ jasa yang diperoleh dari karakteristik barang/ jasa, maka PPK dalam mencari sumber informasi HPS hendaknya mempertimbangkan level penyedia barang/ jasa dan tingkat persaingan di pasar (sub bab 5.3.) untuk mendapatkan sumber informasi harga yang tepat. Berdasarkan informasi harga tersebut, akan dihitung dengan Metode Perhitungan HPS yang akan dijelaskan dalam sub bab 5.4.

(dua) kelompok besar : Menyusun HPS Barang Produksi dan Menyusun HPS Barang Jadi.

Untuk dapat memahami alasan pengelompokan ini, berikut ini akan diuraikan (untuk memudahkan penyampaian konsep), barang/ jasa dikelompokkan ke dalam 2 (dua) kelompok besar : barang produksi dan barang jadi.

Barang jadi adalah barang yang sudah tersedia di pasar dan bisa langsung digunakan oleh pengguna barang/ jasa. Contohnya : mobil, kertas, printer, dan sebagainya

Barang produksi adalah barang yang untuk dapat digunakan oleh pengguna barang/ jasa harus diproses terlebih dahulu. Termasuk dalam barang produksi adalah jasa konsultansi, jasa lainnya, dan jasa konstruksi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Ba r a n g Ja di Ba r a n g Pr odu ksi

Barang Jasa Konst ruksi Jasa Lainnya Jasa Konsult ansi

Barang ( Mat erial)

Barang Proses

Mat erial + Peralat an + Tenaga Kerj a

Dari gambar di atas, menjadi jelas bahwa baik jasa konstruksi, jasa lainnya, maupun jasa konsultansi pasti membutuhkan material, peralatan, dan tenaga kerja.

Makin ke arah kiri, maka persentase komponen material makin membesar. Sebaliknya, makin ke arah kanan, komponan tenaga kerja makin membesar.

Jasa konsultansi, contohnya, tetap harus menyerahkan laporan (unsur material) dan menggunakan peralatan (komputer) dalam melaksanakan tugasnya. Tetapi unsur tenaga kerja menjadi dominan karena jasa konsultansi merupakan jasa keahlian (brain – otak) yang menjadi fokusnya.

Gambar 5.2. Skema Pembagian Barang

5.5. Cont oh Perhit ungan HPS 5.4. M e t ode Perhit ungan 5.3 Analisis Pasar Penyedia 5.2. Karakteristik Barang/ Jasa

Jasa lainnya, jasa catering misalnya, penyedia barang/ jasa tetap harus menyerahkan ketiga komponen material, peralatan, dan tenaga kerja. Jasa konstruksi, jasa pembangunan gedung misalnya, menjadi sangat jelas kalau memerlukan ketiga komponen material, peralatan, dan tenaga kerja.

5.3 Analisis Pasar Penyedia

Langkah analisis pasar perlu dilakukan agar Penyusun HPS dapat memilih m em ilih level pen yedia bar an g/ j asa yan g t epat , dan j u ga memperhitungkan tingkat persaingan di pasar pada level penyedia barang/ jasa yang sudah dipilihnya.

Contoh

:

Pengadaan kertas A4 sebesar Rp 2,5 Milyar maka sampel harga yang tepat adalah pabrikan. Namun bila pengadaan alat tulis kantor yang di dalamnya ada kertas A4, mengambil sampel harga untuk kertas A4 dari pabrikan bukan merupakan langkah yang tepat, meskipun total pengadaan ATK juga mencapai Rp. 2,5 Milyar. Contoh ini menunjukkan bahwa memilih level penyedia pada saat mengambil sampel harga untuk HPS memerlukan pertimbangan yang mendalam.

Contoh lain :

Pengadaan Jasa Lainnya untuk keperluan rapat Focus Group Discussion. PPK memiliki dua alternatif : menggunakan jasa event or ganizer at au swa kelola dengan bekerjasama dengan pihak hotel. Pada pilihan pertama, menggunakan jasa event organizer, ada kemungkinan pengguna barang/ jasa terkena pajak, overhead, danprofit dua kali, masing-masing dari pihak hotel dan jasa event organizer. Sedangkan jika dipilih swa kelola, hanya terkena pajak, overhead, dan profit satu kali. Dengan demikian, sampel harga yang diam bil adalah h ot el. Con t oh in i sekaligu s menjelaskan bahwa kadang-kadang analisis HPS bisa merubah jenis pemasok yang harus di survei harganya.

5.1. Pendekat an Um um 5.5. Cont oh Perhit ungan HPS 5.4. M e t ode Perhit ungan 5.3 Analisis Pasar Penyedia 5.2. Karakteristik Barang/ Jasa

di pedalaman. PPK memiliki dua pilihan : beli lewat Pertamina atau lewat perusahaan transportir minyak. Jika lewat Pertamina maka akan menghadapi situasi monopoli dan masih repot memilih penyedia barang/ jasa transportir minyak tersebut ke pedalaman. Sebaliknya, jika memilih penyedia barang/ jasa transportir minyak, pemasoknya banyak –

pasar persaingan sempurna

, dengan demikian ada kemungkinan mendapatkan harga minyak premium ditambah dengan ongkos angkut yang lebih bagus. Karena, keuntungan dan overhead yang maksimum 15% pada

pasar persaingan sempurna

dapat menyusut menjadi 8% dalam kasus ini, tingkat persaingan di pasar perlu di pertimbangkan oleh PPK dalam menyusun HPS.

Atas dasar contoh-contoh di atas, dalam analisa pasar penyedia ini akan dibahas dua hal:

a. Analisa Level Penyedia. b. Analisa Persaingan Pasar.

5.3.1. Analisa Level Penyedia Barang/ Jasa

Level penyedia barang/ jasa yang menjadi tempat PPK mengambil sampel harga akan sangat menentukan harga barang/ jasa yang diperoleh. Untuk lebih jelasnya, lihat gambar di bawah ini :

Gambar 5.3. Level Penyedia barang/jasa

+ Keunt ungan + Keunt ungan + Keunt ungan

Sum ber Sum ber Sekunder

Utam a

Pabrikan Dist ribut or Pengecer Pengguna Barang/ Jasa

Gambar di atas memperlihatkan rantai pasokan barang/ jasa mulai dari pabrikan sampai dengan pengecer. Tiap posisi, mulai dari pabrikan sampai dengan pengecer dinamakan dengan level penyedia barang/ jasa. Pada saat pengguna barang/ jasa membeli barang/ jasa dari pengecer (Sumber Sekunder) maka akan dikenai 3 (tiga) kali pembebanan keuntungan dan overhead :

„

Keuntungan dan overhead dari pengecer ke pengguna barang/ jasa.

Dari uraian di atas, menjadi jelas bahwa harga yang terendah didapatkan dari pabrikan. Namun, tidak selalu PPK harus mengambil sampel harga HPS dari pabrikan. Anjuran umum yang dapat diberikan adalah pembelian dalam jumlah besar dianjurkan lewat pabrikan, sedangkan dalam jumlah kecil lebih dianjurkan mengambil sampel harga HPS dilakukan langsung ke pengecer.

Contoh : Pengadaan Semen

Pilihan yang tersedia adalah berhubungan dengan toko material atau pabrik semen. Bila kebutuhan semen sangat besar, misalnya untuk keperluan beton bagi konstruksi jalan raya sekian kilometer, maka mendapatkan harga dari pabrikan layak untuk dilakukan. Sebaliknya bila pembelian semen hanya merupakan bagian kecil dari pekerjaan rehabilitasi satu lokal sekolah, maka dianjurkan untuk mendapatkan harga semen dari toko material di dekat lokasi pekerjaan tersebut.

5.3.2. Analisa Persaingan Pasar

Spesifikasi barang/ jasa sangat dipengaruhi oleh tingkat persaingan di pasar. Ketika penetapan spesifikasi menghasilkan jenis barang/ jasa yang hanya mampu di pasok oleh satu satunya penyedia barang/ jasa, (kasus monopoli) maka posisi pejabat pembuat komitmen tidak cukup kuat karena tidak terjadi persaingan di pasar penyedia barang/ jasa. Atas dasar itu, pejabat pembuat komitmen perlu melakukan analisis pasar.

Mekanisme berfikir untuk melakukan analisis pasar dapat dilihat pada tabel berikut ini :

ANALISIS PERSAINGAN PASAR

JUMLAH PENYEDIA BARANG/JASA

BANYAK SEDIKIT HANYA

SATU

JUMLAH PENGGUNA BARANG/JASA

BANYAK Persaingan

Sempurna Oligopoli Monopoli

SEDIKIT Oligopsoni Oligopoli / Oligopsoni Monopoli terbatas HANYA SATU Monopsoni Monopsoni terbatas Monopoly / Monopsony Tabel 5.1. analisis persaingan pasar

Dalam pasar monopoli, penyedia barang/ jasa merupakan satu-satunya yang mampu memasok barang/ jasa tersebut dan tidak ada penyedia barang/ jasa lain, baik yang sifatnya subtitusi maupun yang mirip atau setara. Penyedia barang/ jasa memiliki kuasa dalam menentukan jumlah maupun harga barang/ jasa yang tersedia di pasar dengan tanpa perlu mempertimbangkan pesaing di pasar. Satu satunya faktor yang bisa mengatur adalah peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal tertentu, hak paten juga dapat menciptakan situasi monopoli.

Pada pasar monopoli, harga barang/ jasa sangat ditentukan oleh penyedia barang/ jasa. Keuntungan dan overhead yang biasanya maksimal 15% bisa benar-benar terjadi.

Dalam menghadapi situasi monopoli, PPK diminta menyiasati dengan berhubungan dengan penyedia barang/ jasa yang terletak di hilir atau di hulu level penyedia dari penyedia barang/ jasa. Misalnya : pengadaan bensin premium yang harganya sudah ditetapkan oleh pemerintah, agar terjadi persaingan maka membelinya pada perusahaan di tingkat transportir minyak. I ni yang disebut daerah hilir dari penyedia barang/ jasa bensin pre-mium.

Oligopoli :

Terdapat sedikit penyedia barang/ jasa yang mampu menyediakan barang/ jasa tersebut, baik yang sifatnya subtitusi maupun yang mirip atau setara. Bila penyedia barang/ jasa tersebut bekerjasama diantara mereka dalam membentuk harga di pasar, maka akan terjadi situasi monopoli. Tetapi kebanyakan sulit terjadi karena adanya peraturan pemerintah atau persaingan di antara mereka sendiri. Makin banyak jumlah penyedia barang/ jasa yang masuk di pasar ini dengan masing masing penyedia barang/ jasa tersebut independen dalam membentuk harga, makaakan terjadi situasi persaingan sempurna.

Monopsoni

Merupakan situasi kebalikan dari situasi monopoli. Hanya satu pengguna barang/ jasa dengan banyak penyedia barang/ jasa. Pada pasar ini, posisi pengguna barang/ jasa kuat sekali dalam menentukan harga dan jumlah barang/jasa di pasar. Pemerintah sesungguhnya memiliki posisi ini, namun karena posisinya sebagai pengayom masyarakat, tidak digunakan untuk menekan penyedia barang/ jasa.

Kondisi pasar yang merupakan kebalikan dari oligopoli. Hanya sedikit pengguna barang/ jasa sementara banyak penyedia barang/ jasa di pasar. Dalam hal pengguna barang/jasa bersekutu menentukan harga dan jumlah barang/ jasa di pasar, maka akan terbentuk pasar monopsoni.

Contoh :

Pengadaan bensin premium dalam jumlah banyak untuk kendaraan dinas di daerah terpencil di pedalaman. PPK memiliki dua pilihan : beli lewat Pertamina atau lewat perusahaan transportir minyak. Jika lewat Pertamina maka akan menghadapi situasi monopoli dan masih repot memilih penyedia barang/ jasa transportir minyak tersebut ke pedalaman. Sebaliknya, jika memilih penyedia barang/ jasa transportir minyak, pemasoknya banyak –

pasar persaingan sempurna

, dengan demikian ada kemungkinan mendapatkan harga gabungan antara bensin premium ditambah dengan ongkos angkut yang lebih bagus. Karena, keuntungan dan overhead yang maksimum 15% pada

pasar persaingan sempurna

dapat menyusut menjadi 8% Dalam kasus ini, tingkat persaingan di pasar perlu di pertimbangkan oleh PPK dalam menyusun HPS.

5.4. Metode Perhitungan

Pada 2 (dua) sub bab terdahulu telah dijelaskan pada level penyedia barang/ jasa dan tingkat persaingan pasar yang mana PPK seharusnya mengambil sampel harga untuk HPS. Misalnya untuk yang paling murah adalah di pabrikan yang berada pada pasar persaingan sempurna.

Selanjutnya, untuk memudahkan menjelaskan teknik perhitungan HPS dapat dilihat penggolongan jenis barang/ jasa dari tabel berikut ini : 5.1. Pendekat an Um um 5.5. Cont oh Perhit ungan HPS 5.4. M e t ode Perhit ungan 5.3 Analisis Pasar Penyedia 5.2. Karakteristik Barang/ Jasa

TOPI K DI SKUSI

• Apa usul Anda untuk meningkatkan pengaruh pengguna

JENIS BARANG YANG DIADAKAN

LEVEL PENYEDIA BARANG/JASA

SUMBER INFORMASI PABRIKAN DISTRIBUTOR / AGEN/TOKO Barang Jadi Barang/Jasa Proses Produksi

Barang tersedia di Pasar

Barang Produksi Konstruksi Jasa Standar Jasa Lainnya Konsultansi

Dari tabel di atas terlihat bahwa terdapat dua kelompok besar dalam menghitung HPS barang/ jasa : barang yang sudah tersedia di pasar dan barang/ jasa hasil proses produksi.

5.4.1. Menghitung HPS Barang yang Sudah Tersedia di Pasar

Untuk menghitung HPS barang yang sudah tersedia di pasar, tersedia dua pilihan pendekatan: Rumus dan Teknik Perkiraan Biaya. Pendekatan pertama merupakan pendekatan yang dianjurkan karena lebih mendekati harga sebenarnya yang terjadi di pasar bila sampel harga diperoleh paling lambat 28 hari sebelum pemasukan penawaran. Pendekatan kedua boleh dipilih bila data yang tersedia untuk melakukan p en d ek at an rumus tidak cukup tersedia

Pendekatan Rumus

Harga jual yang tertuang pada rumus di bawah ini merupakan harga yang tersedia di pasar pada level penyedia dan tingkat persaingan pasar yang dapat diterima oleh PPK, pada saat survey harga paling lambat 28 hari sebelum pemasukan harga penawaran. Harga jual tersebut juga sudah merupakan harga yang telah dikurangi potongan harga (discount) jika membeli banyak atau membeli pada suatu sesi/ musim promosi tertentu. Dalam hal sampel harga yang diperoleh dari berbagai sumber dengan spesifikasi yang sama ternyata berbeda maka harga rata rata yang akan digunakan dalam perhitungan HPS. RUMUS Harga Jual A Quantity/Jumlah B --- Sub Total - I C = A x B

Transportasi D (bila ada)

Asuransi E (bila ada)

--- Sub Total - II F = C+D+E Total (termasuk PPN) G = F+ (10% x F)

sudah tersedia di pasar (distributor, agen, dan pengecer) juga dapat digunakan untuk menghitung HPS jasa konstruksi, jasa lainnya dan jasa konsultansi yang bersifat

standar. Misalnya, metode parametrik dapat dipakai untuk menghitung HPS jasa transportasi dari penggunaan taksi (jasa lainnya).

a. Metode Analogy

Perkiraan biaya dengan cara membandingkan dengan pengadaan barang/ jasa sejenis. Asumsi yang digunakan adalah pengadaan bar ang/ j asa yang sam a persis akan membutuhkan biaya yang sama pula.

Metoda analogi umum digunakan pada tahap awal (misalnya saat penyusunan Rencana Umum Pengadaan Barang/ Jasa oleh KPA/ PA) dalam hal tidak tersedia informasi biaya yang memadai sehingga kesulitan untuk melakukan analisis biaya yang agak rinci.

Jika metode analogi digunakan untuk perhitungan HPS, harap konsultasikan hasil perhitungan dengan pakar terkait untuk mendapatkan saran jika terdapat perbedaan yang cukup banyak.

Pendekatan ini cocok untuk :

„

Pengadaan barang/ jasa yang baru pertama kali dilakukan.

„

Pengadaan sistem atau teknologi baru yang sulit dimengerti.

„

Waktu yang tersedia untuk melakukan perkiraan biaya sangat mendesak, dan akan dilakukan kajian biaya lagi.

Kelebihan pendekatan ini :

„

Tidak mahal.

„

Mudah dirubah.

„

Berbasis pengalaman nyata (actual experience). Kelemahan pendekatan ini :

„

Sangat subyektif.

„

Penuh ketidakpastian.

„

Pengadaan barang/ jasa yang betul betul mirip sulit ditemukan

„

Pengetahuan akan detail teknis barang/ jasa yang akan dianalogikan sangat diperlukan.

„

Tetapkan jenis barang/ jasa yang mau diadakan.

„

Perkirakan komponen biaya untuk dianalogikan.

„

Temukan barang/ jasa sejenis dan komponen yang setara

„

Hitung/ perkirakan biaya berdasarkan perbedaan komponen biaya.

Contoh :

Pengadaan sistem pembayaran gaji untuk 5.000 orang dan 100 line rincian. Lembaga lain sudah pernah melakukan untuk 100 line bagi 2000 orang seharga Rp. 20 Milyar. Ahli I T di kantor mengatakan bahwa sistem yang akan dibangun 25% lebih rumit dibanding sistem di lembaga tersebut.

Jaw aban :

Perkiraan biaya untuk sistem baru (dari sisi kerumitan) : (125% x Rp. 20 Milyar) = Rp. 25 Milyar

Perkiraan biaya sistem baru (dari sisi jumlah pengguna 5000 orang) : (5000/ 2000) x Rp. 25 Milyar = Rp. 62,5 Milyar

b. Metode Parametrik

Pendekatan yang dipakai dalam metode ini adalah mencoba hubungan

matematis antar dua variabel (independent variable dengan dependent vari-able), yang intinya mengaitkan biaya dengan karakteristik tertentu dari objek (volume, luas, berat, tenaga/ watt, panjang, dan lain-lain), misalnya:

„

Jumlah jam lokakarya dengan biaya total lokakarya.

„

Meter persegi luas lantai rumah dengan biaya pembangunan rumah.

„

Kapasitas pembangkitan dengan biaya pembangunan unit pembangkit. Biasanya berbentuk kurva atau rumusan matematis:

y = ax atau

y = ax + b

Contoh

Dinas Pendidikan akan membangun gedung laboratotium SLTA seluas 20

m2. Harga satuan Bangunan Gedung Negara yang dikeluarkan Pemda Kabupaten A per meter2 adalah Rp. 4 Juta. Berapa perkiraan harga untuk pembangunan gedung laboratorium tersebut ?

tertinggi rata-rata per m2 untuk bangunan laboratorium SLTA adalah 1,15 dari standar harga bangunan.

Hal ini berarti bahwa harga satuan bangunan laboratorium adalah :

y = ax

= 1,15 x Rp. 4 Juta = Rp. 4,6 Juta

Biaya yang diperlukan untuk pembangunan laboratorium seluas 20 m2 adalah 20 x Rp. 4,6 Juta menjadi Rp. 92 Juta.

Bila terdapat biaya tetap Rp. 20 Juta (harga tanah lab misalnya) maka biaya pembangunan laboratorium berikut tanahnya menjadi :

y = ax + b = Rp. 112 Juta

c. Metode I ndeks Harga

Pendekatan ini mendasarkan pada pendapat bahwa data harga

barang/ jasa di masa lalu dan masa kini secara konsisten dapat di indeks. Korelasi harga barang/ jasa di masa lalu terhadap tingkat harga saat ini dapat ditemui dalam penerbitan berkala sebagai indeks harga.

I ndeks harga adalah angka perbandingan antara harga pada suatu waktu (tahun tertentu) terhadap harga pada waktu (tahun) yang digunakan sebagai dasar. Terdapat banyak jenis indeks harga, seperti untuk harga-harga peralatan industri, upah tenaga kerja, bahan bangunan, dan komoditi yang lain.

I ndeks harga merupakan angka perbandingan antara harga pada suatu waktu (bulan/ tahun) tertentu terhadap harga pada waktu (bulan/ tahun) yang digunakan sebagai dasar:

Harga saat A = Harga saat B x ——————————— I ndeks harga saat B

Contoh :

Harga pembelian sebuah kompresor multi guna adalah USD 1500 pada tahun 2006. Perkirakan harga barang tersebut pada tahun 2011, jika diketahui indeks harga peralatan tersebut pada tahun 2006 adalah 790 dan indeks harga peralatan sejenis pada tahun 2011 adalah 904.

Jaw aban :

Harga kompresor multi guna pada tahun 2011 adalah :

= 1500 x (904/ 790)

= USD 1716

Contoh lain :

Harga Satuan Harga Satuan

(Rp) (Rp)

Tahun 1998 2004/1998 Tahun 2004 (Rp)

I BIAYA LANGSUNG PERSONIL

TENAGA AHLI

Dalam dokumen Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa (Halaman 73-98)

Dokumen terkait