• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

PENYUSUNAN

SPESIFIKASI DAN HPS

PENYUSUNAN

(2)
(3)

0.1. Modul Pelatihan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah ... v

0.2. Modul Penyusunan Spesfikasi dan HPS... vi

0.3. Tujuan ... vii

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1. Sistematika Penulisan Modul ... 1

1.2. Pengertian Spesifikasi dan HPS ... 3

1.3. Ketentuan Umum Spesifikasi dan HPS... 4

1.4. Hubungan Total Biaya Kepemilikan dengan HPS ... 6

1.5. Pengadaan I nternasional ... 6

BAB 2 MENYUSUN SPESI FI KASI ... 13

2.1. Umum ... 13

2.2. Menyusun Spesifikasi ... 14

2.2.1. Menyusun Sepsifikasi Mutu Barang/ Jasa ... 15

2.2.2. Menentukan Spesifikasi Jumlah Barang/ Jasa ... 26

2.2.3. Menetapkan Spesifikasi Waktu ... 31

2.2.4. Menyusun Spesifikasi Tingkat Pelayanan Penyedia Barang/ Jasa ... 32

2.2.5. Contoh ... 34

2.2.6. Informasi Lain Yang Perlu Masuk Dalam Spesifikasi ... 37

BAB 3 HUBUNGAN PERENCANAAN PENGADAAN DENGAN

PENYUSUNAN SPESI FI KASI ... 39

3.1. Umum ... 39

3.2. Menentukan Prioritas Pengadaan Barang/ Jasa ... 40

3.3. I mplikasi Fokus Utama Sasaran Pengadaan pada Tipe Spesifikasi ... 47

BAB 4 TOTAL BI AYA KEPEMI LI KAN ... 51

4.1. Umum ... 51

4.2. Komponen Total Biaya Kepemilikan ... 52

4.3. Menghitung Nilai Waktu dari Uang ... 54

4.3.1. Nilai Uang yang Akan Datang ... 55

4.3.2. Nilai Sekarang dari Uang ... 56

4.3.3. Nilai Uang dari Anuitas ... 57

4.4. Pendekatan NPV dalam I nvestasi ... 59

4.5. Menghitung NPV dengan Microsoft Excel ... 61

(4)

5.5. Contoh Perhitungan HPS ... 88

BAB 6 PENUTUP ... 103

6.1. Kesimpulan ... 103

(5)

Gambar 1.1 Kerangka Pikir Penyusunan HPS... 1

Gambar 2.1 Teknik Peramalan Kebutuhan Barang ... 26

Gambar 2.2 Gambar Contoh Tabel Kebutuhan Barang di Tahun 2012 ... 27

Gambar 2.3 Moving Average Dengan Bobot ... 28

Gambar 2.4 Model Regresi Sederhana ... 28

Gambar 2.5 I nteraksi Antara Biaya Pesan dan Biaya Penyimpanan ... 29

Gambar 2.6 Rumus EOQ ... 30

Gambar 2.7 Contoh Penerapan Rumus EOQ ... 31

Gambar 3.1 The Supply Positioning Model... 40

Gambar 3.2 Klasifikasi ABC (konsep pareto) ... 41

Gambar 3.3 The Supply Positioning Model Klasifikasi ABC... 46

Gambar 4.1 Contoh Gambar Komponen Total Biaya Kepemilikan Alat Berat ... 53

Gambar 4.2 I lustrasi Perhitungan Nilai Uang yang Akan Datang ... 55

Gambar 4.3 I lustrasi Perhitungan Nilai Sekarang dari Uang (PV) ... 56

Gambar 4.4 I lustrasi Nilai yang Akan Datang dari Anuitas ... 57

Gambar 4.5 I lustrasi Nilai Sekarang Anuitas ... 58

Gambar 4.6 Rangkuman Rumus dan Simbol ... 59

Gambar 4.7 Pendekatan NPV dalam I nvestasi ... 60

Gambar 4.8 Contoh Soal 1 ... 60

Gambar 4.9 Contoh Soal 2 ... 61

Gambar 5.1 Skema Penyusunan Spesifikasi dan HPS ... 67

Gambar 5.2 Skema Pembagian Barang ... 68

Gambar 5.3 Level Penyedia Barang/ Jasa ... 70

Gambar 5.4 Contoh Analisa Model Bow ... 83

Gambar 5.5 Contoh Analisa Model Bow Lanjutan ... 84

(6)

Tabel 2.1 Contoh Membuat Spesifikasi dari Pekerjaan Konstruksi

Bendungan Kecil ... 18

Tabel 2.2 Contoh

sampel ...

20

Tabel 2.3 Contoh Spesifikasi Teknis ... 22

Tabel 2.4 Contoh Spesifikasi Komposisi... 23

Tabel 2.5 Ringkasan Spesifikasi Barang ... 25

Tabel 2.6 Contoh Barang Lift ... 34

Tabel 2.7 Contoh Spesifikasi Jasa Konstruksi ... 35

Tabel 2.8 Contoh Spesifikasi Jasa Konsultansi ... 36

Tabel 2.9 Contoh Spesifikasi Jasa Lainnya ... 37

Tabel 3.1 Contoh Klasifikasi ABC ... 42

Tabel 3.2 Klasifikasi ABC (2) ... 43

Tabel 3.3 Tabel Rating PI P ... 43

Tabel 3.4 Barang/ Jasa Yang Dibeli ... 44

Tabel 3.5 Kriteria Penggunaan Sasaran Pasokan ... 45

Tabel 3.6 Tabel Rating PI P dan Klasifikasi ABC ... 46

Tabel 3.7 Tabel Supply Positioning Model Berdasarkan Indikator PI P dan ABC ... 46

Tabel 3.8 Tabel Kesimpulan Untuk Supply Positioning Model ... 47

Tabel 3.9 Hubungan Anatara Fokus Utama Sasaran Pasokan dengan Metode Spesifikasi dan Tipe Spesifikasi ... 48

Tabel 3.10 Daftar Periksa Kaji Ulang Spesifikasi ... 48

Tabel 3.11 Daftar Periksa untuk melakukan kaji ulang terhadap spesifikasi yang sudah jadi ... 49

Tabel 4.1 Perhitungan NPV dengan Microsoft Excel ... 62

Tabel 4.2 Menghitung NPV untuk Mobil... 62

Tabel 4.3 Menghitung NPV untuk Mobil Akhir ... 62

Tabel 4.4 TBK dari Penggantian Sistem Pembayaran Gaji Pegawai ... 64

Tabel 5.1 Analisis Persaingan Pasar ... 71

Tabel 5.2 Tabel Rumus ... 74

Tabel 5.3 Tabel Konsultasi Penelitian Kebutuhan Pelatihan - HPS... 78

Tabel 5.4 Tabel Komponan Gedung ... 79

Tabel 5.5 Tabel Komponen Biaya Standar ... 79

Tabel 5.6 Tabel Rumus ... 80

Tabel 5.7 Tabel Biaya Tetap & Biaya Variabel ... 81

Tabel 5.8 Tabel Biaya Langsung & Biaya Tidak Langsung ... 81

Tabel 5.9 Harga Satuan Pekerjaan Galian ... 82

(7)

0.1. Modul Pelatihan Pengadaan Barang/ Jasa

Pemerintah

Kurikulum Pelatihan Berbasis Kompetensi disusun berdasarkan hasil analisis kompetensi jabatan kerja yang melibatkan para ahli yang mempunyai pengalaman kerja (pelaku langsung) di bidang pekerjaan yang dianalisis. Karena unit-unit kompetensi setiap bidang tugas sektor pengadaan barang dan jasa sangat banyak, maka proses analisis kompetensi jabatan kerja difokuskan pada jabatan kerja dan kompetensi yang diprioritaskan.

Dalam rangka meningkatkan kompetensi para pelaku pengadaan barang dan jasa pemerintah, LKPP telah mengembangkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia-Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (SKKNI-PBJP). SKKNI-PBJP ini menggambarkan tingkat kemampuan melaksanakan (Skill), kemampuan memahami dan menganalisa (Knowledge) dan kemampuan untuk menampilkan sikap dan tingkah laku kepada orang lain dalam melaksanakan tugas (Attitude) pengadaan barang dan jasa pemerintah yang dipergunakan sebagai dasar penyusunan kurikulum dan silabus Kurikulum Pelatihan Berbasis Kompetensi (KPBK) Penyusunan Spesifikasi dan HPS.

Pelatihan ini akan memberikan pengetahuan dan kemampuan bagi anggot a PA/ KPA dan anggot a PPK dalam melakukan proses penyusunan spesifikasi dan HPS termasuk pengetahuan mengenai aturan yang berlaku dan melaksanakan budaya kerja yang sesuai dengan tuntutan pekerjaan.

Pada Gambar 0.1 terlihat bahwa saat ini sedang dikembangkan 4 modul sebagai bagian untuk pelatihan tingkat menengah.

1. Modul Pelatihan Pengadaan Barang/ Jasa Pem erint ah

3. Tuj uan 2. Modul

(8)

Gambar 0.1 Desain Modul Pelatihan PBJP

0.2. MODUL PENYUSUNAN SPESI FI KASI DAN

HPS

Modul ini disusun berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Khusus Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah dengan Kode Unit PP.02 tentang Menyusun Dokumen Spesifikasi Barang/Jasa serta PP.03 tentang Menyusun Harga Perkiraan Sendiri (HPS) Pemilihan Penyedia Barang/ Jasa.

Unit ini berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan serta sikap kerja yang diperlukan untuk melakukan kegiatan yang berkaitan dengan Penyusunan Spesifikasi dan HPS Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah.

Gambar 0.2 Posisi Modul Penyusunan Spesifikasi dan HPS

Modul ini terdiri dari 5 (lima) bab, dimulai dengan Pengantar yang menjelaskan lingkup Modul Penyusunan Spesifikasi dan HPS, diikuti dengan Pendahuluan, Menyusun Spesifikasi, Perencanaan Pasokan dan Penyusunan Spesifikasi, Total Biaya Kepemilikan dan Menyusun HPS. Ruang lingkup ini dapat dilihat pada Gambar 0.3.

2. Modul Penyusunan Spesifiaksi dan HPS

3. Tuj uan

(9)

Gambar 0.3 Ruang Lingkup Modul Penyusunan Spesifikasi dan HPS

0.3. TUJUAN

Perumusan tujuan pelatihan mengacu kepada pencapaian minimal kompetensi yang ditentukan, dan indikator kompetensi yaitu : Dalam kondisi (K), mampu dan mau melakukan (X), sebanyak (Y) dengan kualitas (Z) selesai dalam tempo (T). Tentang kondisi (K) yang diwarnai oleh variabel-variabel tingkat produktivitas tenaga kerja dan latar belakang/ tingkat/ mutu pendidikan formal serta pengalaman kerja, maka penetapan waktu/ lama dan metodologi pelatihan dapat disesuaikan dengan kondisi peserta pelatihan dan tersedianya sarana pelaksanaan pelatihan.

a.

Tujuan Umum

Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta akan mampu melaksanakan penyusunan spesifikasi dan perhitungan HPS dengan mengikuti pengertian dasar & peraturan, penyusunan proses spesifikasi, Total Biaya Kepemilikan (TBK) dan Metode Penyusunan HPS.

b.

Tujuan Khusus

Berdasarkan diskusi yang sudah dilakukan terdahulu tentang beberapa alternatif penggolongan materi, maka disimpulkan bahwa setelah selesai mengikuti pelatihan, peserta mampu :

2. Modul Penyusunan Spesifiaksi dan HPS

3. Tuj uan

(10)

2. Dapat melakukan identifikasi kebutuhan, penyusunan spesifikasi barang/ j asa, penggunaan st andar int ernal dan ekst ernal, penentuan spesifikasi jumlah, waktu dan tingkat pelayanan. 3. Dapat melakukan perencanaan pasokan dan penyusunan

spesifikasi sesuai dengan analisa pasar, prioritas dan fokus pada tipe.

4. Dapat melakukan perhitungan manfaat suatu barang dengan menggunakan metode Total Biaya Kepemilikan.

5. Dapat menghit ung t eknik perkiraan biaya sebagai dasar penyusunan HPS.

(11)

PENDAHULUAN

1.1. Sistematika Penulisan Modul

Peran Spesifikasi dan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) dalam mendorong pencapaian Prinsip-prinsip Dasar Pengadaan Barang/ Jasa (efisien, efektif, transparan, terbuka, bersaing, adil, akuntabel) sangat menentukan. Dalam banyak hal, spesifikasi dan HPS juga berperan penting dalam membantu promosi dan mendorong penggunaan produk I ndonesia.

Atas dasar itu, penyusunan Spesifikasi dan HPS hendaknya akan mampu menghasilkan barang/ jasa yang

tepat

dalam jumlah, mutu, harga, waktu, lokasi dan dapat dipertanggungjawabkan. Maka, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) tidak hanya dituntut untuk mampu (competence), tetapi juga tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku (com-pliance).

Perkembangan dunia bisnis akhir-akhir ini menunjukkan bahwa membeli barang/ jasa dengan berpedoman yang paling murah belum tentu efisien, bila kemudian terbukti biaya operasi dan pemeliharaan barang/ jasa tersebut sangat tinggi. Atas dasar itu, dalam modul ini ditambahkan pemahaman akan prinsip dasar Total Biaya Kepemilikan.

Penyusunan modul Spesifikasi dan HPS dilakukan melalui pendekatan seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 1.1 Kerangka Pikir Penyusunan HPS 1.2. Pengert ian

Spesifikasi dan HPS

1.3. Landasan Hukum Spesifikasi dan HPS

1.4. Hubungan Tot al Biaya Kepemilikan dengan HPS

1.5. Pengadaan I nt ernasional 1.1. Sist em at ika

(12)

Spesifikasi barang/ jasa yang disusun hendaklah memiliki karakteristik 4 (empat) yaitu : tepat jumlah, tepat mutu, tepat waktu, dan tepat lokasi.

Tepat jumlah

artinya barang/ jasa yang dibeli atau diadakan tidak berlebih atau kurang dari yang dibutuhkan.

Tepat mutu

artinya mutu barang/ jasa yang dibeli tidak terlalu baik sehingga menjadi terlalu mahal, apalagi terlalu jelek sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan pengguna barang/ jasa. Sehingga sasaran pengadaan efektif (berhasil guna) tidak tercapai.

Tepat w aktu

artinya kedatangan barang/ jasa yang dibutuhkan tidak terlambat atau lebih cepat sehingga membutuhkan tempat penyimpanan lebih lama dari yang seharusnya.

Tepat lokasi

artinya barang/ jasa yang diterima tepat pada lokasi yang membutuhkan. Salah pengiriman barang/ jasa ketempat yang tidak membutuhkan akan menimbulkan tambahan biaya yang tidak perlu sehingga sasaran pengadaan efisien (berdaya guna) tidak tercapai.

Akuntabel

artinya dapat dipertanggungjawabkan secara hukum formal. Atau dengan kata lain tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Berdasarkan pada pendekatan di atas, disusunlah alat analisa seperti terlihat pada tabel di bawah ini :

KERANGKA PI KI R

DESKRI PSI

ALAT

Tepat Jumlah Teknik Peramalan Kebutuhan Barang Tepat Mutu SpesifikasiTeknik , Spesifikasi Komposisi ,

SpesifikasiFungsi dan Kinerja , Sample Tepat Waktu Supply Positioning Model

Tepat Lokasi I ncoterm Wajar Sample Analisis Pasar

Wajar Metoda Pelaksanaan Economic Order Quatity Wajar Harga Total Biaya Kepemilikan

Overhead dan Keuntungan Perpajakan

(13)

pada bab satu.

1.2. Pengertian Spesifikasi dan HPS

Spesifikasi

adalah karakteristik total dari barang/ jasa, yang dapat memenuhi

kebutuhan

dan

keinginan

pengguna barang/ jasa yang dinyatakan secara tertulis. Yang dimaksud dengan memenuhi

kebutuhan

adalah bila kriteria tersebut terpenuhi oleh barang/ jasa tersebut, maka kebutuhan minimum (minimum requirement) dari pengguna barang/ jasa tersebut telah terpenuhi.

Sedangkan yang dimaksud dengan memenuhi

keinginan

adalah bila kriteria tersebut terpenuhi, akan memberi nilai tambah barang/ jasa t ersebut dalam pandangan pengguna barang/ j asa t ersebut . Yang dimaksudkan dengan pengertian

secara tertulis

adalah segala kebutuhan dan keinginan tersebut tertuang dengan jelas dalam dokumen kontrak.

Contoh : mobil, untuk memenuhi

kebutuhan

transportasi; sedangkan mobil Mercy, selain untuk memenuhi kebutuhan transportasi juga memberi nilai tambah meningkatkan gengsi penumpang/ pemiliknya.

Contoh di atas merupakan contoh yang salah, karena hanya memenuhi keinginan pribadi Pengguna Barang/ Jasa, bukan keinginan organisasi. Oleh sebab itu, hal yang paling penting dalam penyusunan spesifikasi adalah melakukan identifikasi kebutuhan organisasi yang meliputi aspek: teknis (mutu barang/ jasa), jumlah, lokasi, waktu, dan tingkat pelayanan dari penyedia barang/ jasa tersebut.

Penyusunan

Harga Perkiraan Sendiri ( HPS) ,

merupakan seni memperkirakan kemungkinan besarnya biaya atas pengadaan barang/ jasa sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/ jasa, dikalkulasikan secara keahlian dan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan .

Fungsi HPS

(14)

1) Perpres 54 Tahun 2010 Pasal 66

pengadaan konsultansi yang menggunakan metode Pagu Anggaran; dan

Jaminan penawaran diberikan penyedia barang/ pekerjaan konstruksi/jasa lainnya pada saat memasukkan penawaran yang besarnya antara 1% (satu perseratus) hingga 3% (tiga perseratus) dari total HPS.

Dasar untuk menetapkan besarnya nilai jaminan pelaksanaan bagi penawaran yang nilainya lebih rendah dari 80% (delapan puluh perseratus) nilai total HPS.

Besarnya nilai jaminan pelaksanaan adalah :

o Untuk nilai penawaran terkoreksi antara 80% sampai dengan 100% dari nilai total HPS, jaminan pelaksanaan adalah sebesar 5% dari nilai Kontrak; atau

o Untuk nilai penawaran terkoreksi dibawah 80% dari nilai total HPS, besarnya nilai jaminan pelaksanaan adalah sebesar 5% dari nilai total HPS.

HPS bukan sebagai dasar untuk menentukan besarnya kerugian negara.

1.3. Ketentuan Umum Spesifikasi dan HPS

Ketentuan umum yang mengatur spesifikasi dan HPS telah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010, yang ringkasannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 1.2 Ketentuan Umum Spesifikasi HPS

1.2. Pengert ian

Rencana Umum Pengadaan Barang/ Jasa

1)

Pengguna Anggaran (PA) bertugas menyusun Rencana Umum Pengadaan

PELAKSANA

JENI S KEGI ATAN Rencana Umum

(15)

Di dalam KAK tersebut akan tertuang spesifikasi teknis barang/ jasa yang akan diadakan dan besarnya total perkiraan biaya pekerjaan termasuk kewajiban pajak yang harus dibebankan pada kegiatan tersebut.

Rencana Pelaksanaan Pengadaaan Barang/ Jasa

2)

Berdasarkan rencana umum pengadaan di atas, PPK menyusun dan menetapkan rencana pelaksanaan pengadaan barang/ jasa yang meliputi:

Spesifikasi teknis barang/ jasa;

Harga Perkiraan Sendiri; dan

Rancangan Kontrak.

Usulan Perubahan

3)

Dalam hal diperlukan ULP/ Pejabat Pengadaan dapat mengusulkan kepada PPK:

Perubahan HPS; dan/ atau

Perubahan spesifikasi teknis pekerjaan.

Wew enang Penyusunan, Penetapan dan dan Pengumuman HPS

4)

PPK menetapkan HPS barang/ jasa kecuali untuk kontes/ sayembara.

ULP/ Pejabat Pengadaan mengumumkan nilai total HPS berdasarkan HPS yang ditetapkan oleh PPK.

Nilai total HPS bersifat terbuka dan tidak rahasia.

HPS disusun paling lama 28 (dua puluh delapan) hari kerja sebelum batas akhir pemasukan penawaran

2) Perpres 54 Tahun 2010 Pasal 11 Ayat 1 3) Perpres 54 Tahun 2010 Pasal 17

TOPI K DI SKUSI

Apakah perbedaan antara Biaya dari RUP dengan Biaya pada HPS ?

Peran Spesifikasi dan HPS dalam mencapai sasaran yang tertuang dalam Prinsip Dasar Pengadaan.

(16)

1.5. Pengadaan I nternasional

Pengadaan internasional adalah rangkaian kegiatan untuk memperoleh barang atau jasa dengan cara tertentu, yang transaksinya melintasi batas negara (secara internasional). Sebagai contoh; perusahaan dari I ndone-sia menjual barang kepada perusahaan di Singapura atau sebaliknya perusahaan dari Singapura menjual barang kepada perusahaan di I ndo-nesia.

HPS

Total Biaya Kepemilikan (total cost of ownership) adalah seni untuk melakukan perkiraan biaya suatu barang/ jasa yang meliputi biaya pemilikan (total cost of acquisition) dan biaya operasi (operating costs) Yang dimaksud dengan biaya pemilikan (total cost of acquisition) adalah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang/ jasa (initial cost) dan biaya depresiasi. Biaya perolehan merupakan biaya yang dikeluarkan untuk pembelian, pengiriman, pemasangan, dan pelatihan penggunaan suatu barang/ jasa. Sedangkan biaya operasi (operating costs) merupakan biaya operasi dan biaya pemeliharaan.

Untuk HPS, perhitungan biaya sampai dengan biaya perolehan (biaya yang dikeluarkan untuk pembelian, pengiriman, pemasangan, dan pelat ihan penggunaan) dan t idak t er m asuk biaya Oper asi dan Pemeliharaan.

Analisa total biaya kepemilikan (total cost of ownership) sangat cocok digunakan untuk analisa pemilihan pemasok pada pengadaan barang/ jasa yang bersifat investasi.

TOPI K DI SKUSI

Jenis pengadaan apa saja yang cocok menggunakan pendekatan TBK Apakah Perpres 54 Tahun 2010 mengatur tentang hal ini ?

TOPI K DI SKUSI

Apakah perbedaan antara biaya dari RUP dengan biaya pada HPS?

Peran spesifikasi dan HPS dalam mencapai sasaran yang tertuang dalam Prinsip Dasar Pengadaan.

Peran spesifikasi dan HPS dalam meningkatkan promosi penggunaan produk dalam negeri.

(17)

proses yang dikenal dengan cara I nternational Competitive Bidding (I CB).

Pengadaan internasional digunakan pula untuk pengadaan barang dan jasa instansi pemerintah yang sebagian atau keseluruhannya dibiayai dengan dana pinjaman/ hibah luar negeri seperti dana dari Bank Dunia (I BRD), Bank Pembangunan Asia (ADB) dan sebagainya.

Pertimbangan yang umum digunakan sebagai dasar atau alasan mengapa mesti membeli barang atau jasa dari luar negeri adalah karena faktor-faktor berikut :

Kualitas;

Ketepatan waktu;

Biaya;

Teknologi baru;

Memperluas basis pasokan;

Pertukaran perdagangan (counter trade).

Faktor yang mendorong kecenderungan pengadaan internasional tersebut antara lain adanya :

Kerjasama dan kemitraan dalam pemasokan barang;

Globalisasi perdagangan;

Pengadaan yang berwawasan lingkungan;

Pengukuran kemampuan atau kinerja;

Piranti lunak dalam bidang tata hubungan dengan nasabah;

Pengendalian dan pelaksanaan yang terbaik;

Pengelolaan inventarisasi barang sebagai keuntungan strategis dan bukan semata-mata sebagai pusat pembiayaan.

Lembaga dan peraturan yang biasa muncul dalam perdagangan international adalah : a.

Organisasi Perdagangan Dunia

(World Trade Organisation, WTO) adalah

satu-satunya organisasi internasional yang mempunyai tugas merumuskan hukum perdagangan internasional.

(18)

c.

Komisi PBB untuk Hukum Perdagangan I nternasional

(United Nations Commission on I nternational Trade Law / UNCI TRAL). UNCI TRAL diberi tugas oleh Majelis Umum untuk mengembangkan penyelarasan dan penyeragaman secara progresif atas hukum perdagangan internasional. Dengan menjadi anggota WTO maka kasus-kasus sengketa antara perusahaan dagang di Indonesia dengan perusahaan dagang asing dapat diselesaikan berdasarkan hukum yang direkomendasikan oleh UNCI TRAL.

Beberapa term dari I nternational Commercial Terms (I ncoterms 2000) yang berdampak pada biaya pengadaan barang/ jasa adalah :

a.

Ex Works ( EXW)

: penyerahan barang di gudang penjual. Memperhitungkan semua biaya yang timbul atas perpindahan barang dari gudang penjual sampai gudang pembeli :

Harga barang;

Biaya pengangkutan dan bongkar muat mulai dari pintu gudang penjual, ke pelabuhan, sampai ke gudang pembeli;

Biaya pengurusan administrasi pengeluaran barang dan shipping document serta bea masuk atas barang (bila impor);

Premi asuransi.

b.

Free Carrier ( FCA) ,

hampir sama dengan Ex Works hanya tempat penyerahan barang di gudang pengangkut biaya yang harus diperhitungkan :

Harga barang;

Biaya bongkar muat mulai dari tempat yang disepakati, pengangkutan ke pelabuhan, pengangkutan sampai ke gudang pembeli;

Biaya pengurusan administrasi pengeluaran barang dan shipping document serta bea masuk atas barang (bila impor);

Premi asuransi.

c.

Free Alongside Ship ( FAS)

: barang diterima pembeli di samping kapal di dermaga pelabuhan muat. Biaya yang harus diperhitungkan :

Harga barang;

(19)

Premi asuransi.

d.

Free on Board ( FOB)

: penyerahan barang dilakukan di atas kapal pengangkut.

Biaya yang harus diperhitungkan :

Harga barang;

Biaya pengangkutan dari pelabuhan muat, bongkar muat di

pelabuhan tujuan, pengangkutan dan bongkar muat sampai ke gudang pembeli;

Biaya pengurusan administrasi pengeluaran barang dan shipping

document serta bea masuk atas barang (bila impor);

Premi asuransi.

e.

Cost and Fright ( CFR) :

barang diterima di pelabuhan tujuan. Biaya yang harus diperhitungkan :

Harga barang;

Biaya bongkar dari kapal ke dermaga, pengangkutan dan bongkar

muat dari dermaga sampai ke gudang pembeli;

Bea masuk atas barang (bila impor).

f.

Cost, I nsurance and Freight ( CI F)

: sama dengan CFR kecuali tidak ada kewajiban membayar premi asuransi.

Biaya yang harus diperhitungkan :

Harga barang;

Biaya bongkar dari kapal ke dermaga , pengangkutan dan bongkar

muat dari dermaga sampai ke gudang pembeli;

Bea masuk atas barang (bila impor);

Premi asuransi.

g.

Carriage Paid To ( CPT)

: hampir sama dengan CFR kecuali dalam pengurusan formalitas ekspor dilakukan oleh pembeli.

Biaya yang harus diperhitungkan :

Harga barang;

Biaya bongkar dari kapal ke dermaga, pengangkutan dan bongkar

muat dari dermaga sampai ke gudang pembeli;

Biaya formalitas ekspor (biaya pengeluaran barang dari pelabuhan

penjual);

Bea masuk atas barang (bila impor).

h.

Carriage and I nsurance Paid To ( CI P)

: penerimaan barang sampai dengan pelabuhan tujuan, tinggal membongkar dan mengangkut ke gudang pembeli.

Biaya yang harus diperhitungkan :

Harga barang;

Biaya bongkar dari kapal ke dermaga , pengangkutan dan bongkar

(20)

i.

Delivered at Frontier ( DAF) :

penerimaan barang pada daerah perbatasan kepabeaan (bila impor).

Biaya yang harus diperhitungkan :

Harga barang;

Biaya pengangkutan ke sisi perbatasan;

Biaya pemuatan ke kapal, pengangkutan ke pelabuhan tujuan,

bongkar dari kapal ke dermaga, pengangkutan dan bongkar muat dari dermaga sampai ke gudang pembeli;

Bea masuk atas barang;

Premi asuransi.

j .

Delivered Ex Ship ( DES) :

penerimaan barang di pelabuhan kedatangan.

Biaya yang harus diperhitungkan :

Harga barang;

Biaya bongkar dari kapal ke dermaga , pengangkutan dan bongkar

muat dari dermaga sampai ke gudang pembeli;

Bea masuk atas barang (bila impor);

Premi asuransi.

k.

Delivered Ex Quay ( DEQ) :

penerimaan barang di dermaga pelabuhan tujuan.

Biaya yang harus diperhitungkan :

Harga barang;

Biaya pengangkutan dan bongkar muat dari dermaga sampai ke

gudang pembeli;

Bea masuk atas barang (bila impor);

Premi asuransi.

l.

Delivered Duty Unpaid ( DDU) :

penerimaan barang di pintu gudang pembeli.

Biaya yang harus diperhitungkan :

Harga barang;

Biaya bongkar dari alat angkut di depan gudang pembeli sampai

penataan di gudang pembeli;

Bea masuk atas barang (bila impor);

Premi asuransi.

m.

Delivered Duty Paid ( DDP) :

barang telah disusun di gudang pembeli. Biaya yang harus diperhitungkan :

Harga barang;

Tidak mengeluarkan ongkos apapun untuk transportasi, dan

(21)

b. Alat pembayaran : L/ C (letter of credit) atau T/ T (Telegraphic Transfer). c. Komponen Biaya : biaya gudang di negara asal, transportasi lintas negara,

biaya gudang di negara tujuan, asuransi, dan lain-lain.

d. Dokumen seperti Master List, Bill of Lading, dan Packing List hendaknya selaras. e. Mata uang yang digunakan : dolar untuk porsi asing dan rupiah untuk porsi

dalam negeri.

f. Aspek-aspek perpajakan yang terkait dengan kepabeanan (bea masuk, misalnya) maupun yang terkait dengan proyek (tax holiday).

(22)
(23)

1.1. Pendahuluan 2.2. M enyusun

Spesifikasi 2.1. Um um

MENYUSUN SPESI FI KASI

2.1.

Umum

Spesifikasi berfungsi sebagai media komunikasi antara pengguna barang/

jasa

dengan penyedia barang/jasa. Kejelasan spesifikasi barang/jasa,

merupakan

langkah awal dalam upaya meningkatkan efisiensi dan

efektivitas pengadaan barang/jasa.

Dalam spesifikasi barang/jasa, tertuang beberapa informasi tentang

hal-hal berikut ini :

1. Barang/jasa seperti apa yang sesungguhnya dibutuhkan (dalam

hal mutu, tipe, ukuran, kinerja, dan sebagainya).

2. Bagaimana mutu barang/jasa tersebut akan diukur.

3. Berapa banyak barang/jasa tersebut akan diperlukan.

4. Kapan banyak barang/jasa tersebut diperlukan.

5. Dimana banyak barang/jasa tersebut harus diserahkan.

6. Moda transportasi dan cara pengangkutan barang seperti apa

yang harus dipersyaratkan.

7. Persyaratan seperti apa yang harus dimiliki oleh penyedia barang/

jasa agar mampu memasok dengan efektif.

8. Tanggung jawab penyedia barang/jasa yang harus dipenuhi dan

informasi seperti apa yang akan diberikan kepada Penyedia

barang/jasa.

Kegagalan dalam menyusun dan menetapkan spesifikasi barang/jasa yang

tepat akan berdampak serius pada :

1. Operasi bisa terhenti sebagai akibat barang/jasa yang diperlukan

untuk pelaksanaan kegiatan organisasi tidak tersedia.

2. Barang yang dibeli mungkin rusak dan tidak dapat digunakan

lagi sebagai akibat kemasan yang tidak memadai (karena tidak

dipersyaratkan dalam spesifikasi).

(24)

5. Jumlah barang yang dibeli ternyata berlebih dan berdampak pada

peningkatan kebutuhan gudang dan kemungkinan kadaluarsa.

6. Penyedia barang/jasa ternyata tidak memberikan jasa

pemeliharaan dan/atau pelayanan purna jual.

Langkah penting dalam penyusunan spesifikasi barang/jasa adalah

mengenali kebutuhan barang/jasa, yang dalam hal ini tertuang dalam

karakteristik kebutuhan barang/jasa.

2.2.

Menyusun Spesifikasi

Tujuan menyusun spesifikasi barang/jasa yang diperlukan adalah untuk

memberikan informasi yang diperlukan oleh penyedia barang/jasa agar

memasok barang/jasa yang sesuai dengan kebutuhan pengguna barang/

jasa.

Tanpa penyusunan spesifikasi barang/jasa yang tepat, bisa terjadi penyedia

barang/jasa menyerahkan barang/jasa sesuai dengan kesepakatan yang

tertuang dalam kontrak tetapi tidak memenuhi kebutuhan pengguna

barang/jasa.

Pendekatan yang dianjurkan dalam menyusun spesifikasi adalah

menetapkan dulu kebutuhan (performance) pengguna barang/jasa, baru

kebutuhan tersebut diterjemahkan dalam aspek teknis (technical).

Dalam menyusun spesifikasi barang/jasa, terdapat 3 (tiga) hal pokok

(Elemen Spesifikasi) yang harus diperhatikan: Mutu Barang/Jasa, Jumlah

dan Waktu, dan Tingkat Pelayanan.

A.

Mutu Barang/ Jasa

Tingkat mutu untuk barang, misalnya, diterjemahkan ke dalam

fungsi, keandalan, kompatibilitas, dan sebagainya.

Tingkat mutu untuk jasa konsultansi misalnya diterjemahkan ke

dalam bidang gerak konsultan, pengalaman konsultan dalam bidang

tertentu, dan lain-lain. Untuk jasa konstruksi, termasuk dalam mutu

ada metode pelaksanaan pekerjaan.

(25)

dapat diartikan ruang lingkup, waktu penyerahan, dan lokasi penyerahan.

C.

Tingkat Pelayanan dan Pelayanan Purna Jual

Yang dimaksud dengan tingkat pelayanan disini adalah kecepatan respon terhadap

keluhan pengguna jasa. Misalnya, keluhan pelanggan akan ditangani paling lambat

2 x 24 jam setelahnya. Hal yang sama berlaku pula untuk pelayanan purna jual,

ruang lingkup dan tingkat kedalaman pelayanan purna jual perlu ditetapkan dengan

rinci.

2.2.1.

Menyusun Spesifikasi Mutu Barang/ Jasa

Informasi mengenai spesifikasi mutu barang harus diberikan dan dijelaskan kepada penyedia

barang/jasa untuk menghindari multi tafsir atau kesalahpahaman.

Spesifikasi mutu barang/jasa yang terlalu detil (over specifying) akan menyulitkan pejabat

pengadaan mendapatkan barang tersebut. Bahkan, kadang-kadang, jumlah penyedia

barang/jasa yang memenuhi akan terlalu sedikit.

Sebaliknya mutu barang yang terlalu umum akan menimbulkan multi tafsir sehingga

penyedia barang/jasa akan melakukan improvisasi. Bila jumlah penyedia barang/jasa

yang memenuhi terlalu banyak, akan sulit bagi pejabat pengadaan untuk memutuskan

penyedia barang/jasa yang layak dipilih.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, spesifikasi mutu barang didefinisikan dalam

berbagai faktor: kemampuan menghadirkan fungsi tertentu, desain, kapasitas, warna,

keandalan, fleksibilitas, ukuran, keamanan pengguna, dan masih banyak lagi.

Spesifikasi mutu jasa didefinisikan dalam citra jasa tersebut di pasar, fleksibilitas

layanan kepada pelanggan, kecepatan respon,

kenyamanan, dan sebagainya.

(26)

B.

Standarisasi

C.

Sampel

D.

Spesifikasi teknik

E.

Spesifikasi komposisi

F.

Spesifikasi fungsi dan kinerja

Penjelasan atas masing-masing spesifikasi di atas adalah sebagai berikut :

A. Merek

Merek (brand or trade name) merupakan spesifikasi yang paling sederhana dan

paling mudah untuk dikomunikasikan ke penyedia barang/jasa. Penggunaan merek

diperbolehkan bila barang yang diperlukan merupakan paten atau PPK berada

dalam posisi tidak ada pilihan lain. Contohnya : Perbaikan Lift merek X, maka

hanya dapat menggunakan suku cadang dan ahli pemeliharaannya yang berasal

dari perusahaan merek X.

Tiap merek memiliki citra yang berbeda di benak pengguna barang/jasa. Misalnya,

kendaraan merek tertentu (kendaraan mewah) mempunyai citra yang berbeda

dengan kendaraan niaga. Kadang-kadang barang dengan merek yang sama tetapi

dari distributor yang berbeda juga memiliki harga yang berbeda.

Pada umumnya, merek-merek terkenal memiliki harga yang mahal. Dalam hal

tidak ada keharusan untuk menggunakan merek tertentu, sangat dianjurkan untuk

tidak memilih barang yang memiliki merek mahal. Atau digunakan istilah “yang

SETARA” sehingga memungkinkan memberikan alternatif barang.

Kelebihan menggunakan merek terkenal :

Komunikasi dengan penyedia barang/jasa menjadi jelas dan tidak multi

tafsir, karena merek yang sudah terkenal biasanya sudah diketahui oleh

semua penyedia barang/jasa.

Barang mudah digunakan dan mudah tersedia di pasaran.

Mutu barang terjamin.

Kelemahan menggunakan merek terkenal :

Merek terkenal cenderung mahal.

(27)

Kecuali untuk penunjukan langsung dan pengadaan langsung, maka

penyebutan merek dalam spesifikasi DI LARANG dalam Peraturan

Presiden Nomor 54 Tahun 2011.

Contoh

:

BARANG JASA KONSTRUKSI JASA LAINNYA JASA KONSULTANSI

Mobil : BMW, Toyota

Pembangunan Gedung : PT Pembangunan Perumahan

Transportasi : Blue Bird

Konsultan Perencana: PT Perencana Jaya

B. Standarisasi

Pada saat menyusun spesifikasi, pejabat pembuat komitmen dapat

membuat

standar sendiri (standarisasi internal) atau mengacu pada standar yang sudah ada

(standar eksternal).

Beberapa standar eksternal adalah :

Standar Industri

Standar Nasional

Standar Regional

Standar Internasional

Dalam kategori standar industri, PPK bisa menyusun spesifikasi dengan mengacu

kepada SNI. Meskipun standar ini tidak cukup detil, namun masih mudah bagi

penyedia barang/jasa untuk memahami jenis barang/jasa yang dibutuhkan oleh

pengguna barang/jasa.

Contoh :

(28)

Standar memungkinkan penyedia barang/jasa dan pembeli berkomunikasi dalam

bahasa yang sama, baik melalui istilah, parameter, simbol, maupun terminologi.

Standar akan meliputi :

Standar komposisi, misalnya : kandungan zat tertentu pada minuman.

Standar dimensi, misalnya : ukuran panjang.

Standar kinerja, mutu, dan keamanan produk.

Technical Requirement.

Standar inspeksi dan pengujian.

Peraturan atau pedoman yang terkait.

Oleh sebab itu, sebelum menyusun spesifikasi, sangat dianjurkan Pejabat

Pembuat Komitmen memeriksa apakah barang/jasa yang hendak dibelinya sudah

ada standarnya. Jika sampai dengan standar internasional tetap tidak

didapatkan,dianjurkan menggunakan standar yang digunakan oleh penyedia

barang/jasa, dalam hal tidak memiliki kemampuan untuk menyusun standar sendiri.

Kelebihan menggunakan standar eksternal :

Penyedia barang/jasa familiar menggunakan standar tersebut dalam proses

produksinya.

Meningkatkan kompetisi antar penyedia barang/jasa yang menggunakan

standar yang sama, sehingga memungkinkan mendapatkan harga murah.

Standar eksternal menghilangkan ketidakpastian atas apa yang

sesungguhnya perlu dipenuhi.

Waktu tenggang (lead time) barang/jasa standar eksternal secara umum

lebih pendek dari pada barang/jasa yang dibuat berdasarkan standar

in-ternal.

Bagian Pengadaan lebih mudah memilih penyedia barang/jasa jika mereka

memasok dengan standar yang sama.

Bahan PB M3 0,480

KR (kerikil 2cm/3cm) M3 0,800

Strorox-100 Kg 1,200

Tenaga Kerja

Pekerja OH 2,100 Tukang batu OH 0,350 Kepala tukang OH 0,065 mandor OH 0,105

(29)

dengan industri barang/jasa tersebut. Memenuhi standar eksternal sering

hanya memenuhi kebutuhan pengguna barang/jasa secara minimal.

Standar eksternal merupakan cermin terbaik pada saat standar tersebut

dibuat. Jadi tidak merefleksikan kondisi teknologi terakhir pembuatan

barang/jasa tersebut.

Mengingat standar meliputi berbagai aspek, tidak semua penyedia barang/jasa

familiar dengan semua aspek. Dianjurkan Bagian Pengadaan untuk mendalami

pengalaman penyedia barang/jasa terhadap aspek-aspek yang terkait dengan

standar barang/jasa yang akan dibeli.

Standarisasi I nternal

Mengembangkan standar internal layak bila menghadapi situasi berikut ini :

Barang/jasa yang dibeli sangat khusus dan tidak tersedia di pasar.

Tidak ada standar yang tersedia.

Nilai barang/jasa yang dibeli sangat tinggi sehingga layak untuk

mengalokasikan waktu, tenaga, dan biaya menyusun standar sendiri.

Beberapa alasan yang sering muncul sehingga diputuskan untuk menggunakan

atau menciptakan standarisasi internal adalah :

Perencana atau perancang yang ada dalam unit kerja memutuskan untuk

mengembangkan desain dan spesifikasi ciptaan sendiri.

Sudah tersedia standar internal sebelumnya, sehingga untuk mengikuti

standar eksternal justru memerlukan waktu, tenaga, dan biaya tersendiri.

Tidak tersedia informasi yang memadai di unit kerja mengenai spesifikasi

yang telah dipergunakan di unit kerja.

Standar internal sering tidak ada pada unit kerja yang memiliki cabang dengan

lokasi yang tersebar di berbagai pulau. Ketiadaan standar internal pada kasus

ini biasanya berdampak pada peningkatan biaya pengadaan barang/jasa.

Beberapa manfaat adanya standar internal adalah :

Mengurangi waktu yang diperlukan oleh unit kerja untuk mengembangkan

standar sendiri.

(30)

Membeli dalam jumlah besar, sehingga bisa melakukan negosiasi dengan

sedikit penyedia barang/jasa untuk mendapatkan harga yang lebih baik.

Peningkatan volume dengan sedikit penyedia barang/jasa, akan

meningkatkan saling pengertian dan kedekatan antara pejabat pengadaan

dan penyedia barang/jasa, dengan demikian diharapkan tingkat mutu

barang/jasa yang dipasok akan meningkat.

Menurunkan biaya penyimpanan karena jenis item yang dibeli menurun.

C. Sampel

Sampel sering digunakan bila spesifikasi agak sulit dijelaskan dalam kata-k a t a ,

misalnya warna yang spesifik. Sehingga penyedia barang/jasa sering juga diminta

memberikan sampel sebelum menyerahkan barang yang hendak dipasoknya.

Berdasarkan hal tersebut di atas, sampel sering dijadikan acuan untuk melakukan

pemeriksaan mutu atas barang yang datang dari penyedia barang/jasa.

Kelebihan Sampel :

Memudahkan penyedia barang/jasa untuk memahami kebutuhan dan

keinginan pengguna barang/jasa dalam hal spesifikasi sulit dijelaskan

dengan kata-kata.

Memudahkan PPK untuk memastikan ketersediaan barang/jasa atas

kemampuan penyedia barang/jasa memenuhi kebutuhan dan keinginan

pengguna barang/jasa.

Kekurangan Sampel :

PPK harus mampu memastikan bahwa barang yang dikirimkan oleh

Penyedia barang/jasa sama dengan sampel yang diberikan.

Perbedaan kecil antara barang yang dikirimkan penyedia barang/jasa

dengan sampel mungkin akan sulit diketahui.

Untuk itu diperlukan alat ukur yang tidak mudah.

Contoh:

BARANG JASA

KONSTRUKSI JASA LAINNYA

JASA KONSULTANSI

Kain :

Warna dan corak kain seragam

- - -

(31)

Karakteristik fisik (dimensi, kekuatan, dan sebagainya).

Detil desain.

Toleransi.

Material yang digunakan.

Metode produksi/ pelaksanaan.

Persyaratan pemeliharaan.

Persyaratan operasi.

Untuk mengurangi penjelasan yang terlalu panjang, biasanya spesifikasi teknis dilengkapi dengan gambar desain yang detil dan penjelasan singkatnya.

PPK yang bertanggung jawab menyediakan detil spesifikasi teknis dan penyedia barang/ jasa wajib mengikuti semua persyaratan yang telah ditetapkan dalam dokumen pengadaan. Spesifikasi teknis umumnya hanya dipakai untuk barang yang sangat spesifik dan menuntut tingkat akurasi tinggi.

Spesifikasi teknis tepat untuk digunakan apabila :

PPK memiliki kemampuan untuk membuat desain yang lebih baik dan

rinci dari pada penyedia barang/ jasa.

PPK bermaksud menggunakan desain yang telah disusun oleh konsultan perencana paket pekerjaan tersebut.

Barang atau peralatan yang mau diadakan bersifat kompleks.

Spesifikasi teknis dianjurkan cukup detil dan jelas, sehingga tidak memerlukan interpretasi tambahan dari penyedia barang/ jasa.

Kelebihan menggunakan spesifikasi teknis :

Menjelaskan secara rinci dan jelas barang/ jasa yang ditentukan.

PPK dapat menggunakan spesifikasi teknis sebagai landasan untuk

melakukan verifikasi atas barang/ jasa yang dipasok.

Kekurangan menggunakan spesifikasi teknis:

Memerlukan tenaga ahli untuk menyusun spesifikasi teknis yang sempurna.

Kesalahan penyusunan spesifikasi teknis akan berdampak signifikan.

Makin rinci dan spesifik spesifikasi teknis yang disusun, dapat berakibat

(32)

penyedia barang/ jasa yang mampu.

Dalam kondisi tertentu, penyedia barang/ jasa dapat memenuhi spesifikasi teknis tetapi belum tentu memenuhi hasil kerja yang diharapkan oleh pengguna barang/ jasa.

Contoh :

Tabel 2.3 Contoh spesifikasi teknis

BARANG JASA KONSTRUKSI JASA LAINNYA JASA KONSULTANSI Lift :

Operation Control : Computerized Control – Group

Power Listrik : Max 20 Kw/380 V/3 Ph/ 50 Hz

Automatic bypass (75% loading) Oveload devices, safety door edge Fire emergency return 5. Melakukan Pre Test

(33)

zat suatu barang dengan karakteristik masing-masing unsur pembentuknya.

Spesifikasi komposisi juga sering digunakan pada peralatan yang memerlukan

batasan peraturan lingkungan hidup. Misalnya kadar cat pada mainan anak-anak.

Spesifikasi komposisi sangat dianjurkan disusun oleh ahli yang kompeten di

bidangnya. Spesifikasi komposisi juga harus dites atau di verifikasi pada saat

barang diterima. Tes atau verifikasi harus dilakukan oleh pihak ketiga (ahlinya)

yang independen.

Kelebihan spesifikasi komposisi :

Spesifik dan rinci.

Spesifikasi komposisi dapat digunakan untuk landasan untuk melakukan

verifikasi.

Kelemahan spesifikasi komposisi:

Memerlukan tenaga ahli yang kompeten untuk menyusun nya.

Memerlukan alat pengujian yang spesifik untuk melakukan verifikasi.

Contoh:

BARANG

JASA KONSTRUKSI, JASA LAINNYA, JASA KONSULTANSI Obat untuk meredakan gejala flu

Setiap tablet minimal harus mengandung mengandung :

• Parasetamol 400 mg

• Fenipropanolamin HCl 12,5 mg

• Klofeniramin Maleat 1 mg

-

F. Spesifikasi Fungsi dan Kinerja

Spesifikasi fungsi dinyatakan dalam fungsi-fungsi yang harus dipenuhi oleh

barang/jasa yang dibeli. Spesifikasi kinerja menyatakan tingkat kemampuan

dari fungsi-fungsi barang/jasa tersebut.

Misalnya : kendaraan yang mampu mengangkut barang sebesar 5 metrik ton

(MT) di daerah pegunungan (spesifikasi fungsi) dengan konsumsi bensin

maksimum 11 km per liter (spesifikasi kinerja).

(34)

Apa yang harus dicapai (fungsi).

Tingkat

output yang diinginkan (misalnya : kecepatan maksimum, tekanan

maksimum, dan lain-lain).

Input (misalnya : material, komponen, dan lain-lain).

Lingkungan operasi (misal : tahan terhadap frekwensi suara tertentu).

Detail

interface (misalnya : koneksi dengan sistem yang sudah ada untuk

sistem IT).

Tingkat mutu.

Tingkat keamanan produk bagi pengguna barang/jasa.

Tingkat pemeliharaan dan pelayanan purna jual maksimum.

Lama waktu barang/jasa tersebut tetap dapat beroperasi pada kapasitas normal.

Biaya maksimum yang diperlukan untuk memiliki barang tersebut.

Ketentuan dan/atau peralatan untuk mengukur kinerja barang/jasa tersebut.

Spesifikasi fungsi dan kinerja umumnya jarang menyatakan tentang

bagaimana

cara

(menggambarkan proses) memenuhi spesifikasi.

Kelebihan spesifikasi fungsi dan kinerja :

Penyedia barang/jasa dapat menggunakan semua keahlian dan inovasinya

untuk memenuhi spesifikasi fungsi dan kinerja yang dipersyaratkan.

Lebih mudah menyusunnya dibanding dengan spesifikasi teknis.

Resiko tidak mampu memenuhi kinerja yang dipersyaratkan berada pada

penyedia barang/jasa.

Dibanding dengan spesifikasi teknis, akan lebih banyak penyedia barang/jasa

yang mampu memenuhi persyaratan.

Kelemahan spesifikasi fungsi dan kinerja :

Jika penyedia barang/jasa menggunakan teknologi yang tidak familiar, akan

sulit untuk melakukan verifikasi fungsi dan kinerja dari barang/jasa.

(35)

• Bila mutu lebih penting dari biaya

• Bila merek tersebut akan berdampak signifikan pada peningkatan mutu kerja pengguna barang/jasa

Standar Industri • Barang/jasa yang sederhana

• MemudahkanPejabat Pengadaan untuk memilah penyedia barang/jasa Sampel • Sulit untuk menterjemahkan mutu kedalam kata / kalimat

• Lebih mudah menunjukkan contoh dari pada menjelaskan dalam kata kata Spesifikasi Teknis • Penyedia barang/jasa tidak memiliki kemampuan cukup untuk membuat desain

• Pejabat Pengadaan ingin menggunakan desain yang dimiliki oleh pengguna barang/jasa

• Barang yang dibeli akan memerlukan interface (hubungan) yang kompleks dengan peralatan yang sekarang terpasang

• Pejabat pengadaan siap menanggung resiko jika disain yang dibuat organisasinya tidak mencapai kinerja yang diharapkan

Spesifikasi Komposisi • Untuk produk seperti material, komoditi, dan makanan

• Bila pertimbangan K3 dan persyaratan lingkungan hidup menjadi hal yang penting

• Kinerja sangat bergantung kepada komposisi Spesifikasi Fungsi /

Kinerja

• Penyedia barang/jasa memiliki kemampuan lebih tinggi dari pengguna barang/jasa

• Innovasi penyedia barang/jasa dihargai

• Teknologi yang berkaitan dengan barang yang dibeli berubah sangat cepat

Informasi untuk menyusun spesifikasi barang dapat diperoleh dari berbagai

sumber:

Direktori yang diterbitkan oleh asosiasi industri.

Penyedia barang/jasa.

Pameran.

Hasil riset.

Pengujian dan inspeksi atas barang yang datang diperlukan agar barang tersebut

berfungsi dan berkinerja seperti yang diharapkan.

Pendekatan pengujian dan inspeksi antara lain :

Peninjauan ulang atas desain barang dan sistem jaminan mutu penyedia barang/

jasa.

Pengujian pada saat proses produksi.

Pengujian pada tahap akhir produksi dan pengangkutan.

Pengujian pada tahap penerimaan produk.

Detil inspeksi dan pengujian yang dipersyaratkan paling sedikit meliputi :

(36)

Kriteria dan batas keberterimaan material.

Format laporan hasil uji.

Akan sangat sempurna bila Lembaga yang melakukan uji dan inspeksi tersebut

merupakan pihak ketiga yang independen dan kredibel.

2.2.2. Menentukan Spesifikasi Jumlah Barang/ Jasa

Pengadaan barang harus mempertimbangkan pola konsumsi/penggunaan barang di masa

lalu dan memperkirakan kecenderungan kebutuhan barang tersebut di masa yang akan

datang.

Tipe Kebutuhan Barang

Terdapat 2 (dua) tipe kebutuhan barang :

a.

I ndependent Demand,

merupakan jenis barang yang jumlah kebutuhannya

tidak ditentukan oleh kebutuhan barang yang lain. Misalnya, pembelian kertas

tidak dipengaruhi oleh kebutuhan barang yang lain. Jenis barang ini yang akan

dapat diramalkan kebutuhannya dengan metode yang akan dijelaskan pada

Teknik

Peramalan Kebutuhan Barang.

b.

Dependent Demand,

merupakan jenis barang yang jumlah kebutuhannya

ditentukan oleh kebutuhan barang yang lain. Pembelian ban mobil, misalnya,

dipengaruhi oleh jumlah mobil yang dimiliki oleh kantor yang bersangkutan.

Dengan demikian, kebutuhan barang jenis ini tidak memerlukan teknik peramalan,

tinggal dihitung seperti biasa.

Teknik Peramalan Kebutuhan Barang

Kebutuhan barang dapat diramalkan berdasarkan beberapa pendekatan berikut ini :

TEKNIK PERAMALAN

KUALITATIF KUANTITATIF

DELPHI JUDGEMENT

TIME SERIES

SEBAB AKIBAT

MOVING AVERAGE

REGRESI SEDERHANA

(37)

pakar ini bekerja secara independen dan tanpa saling tahu antar mereka. Biasanya

digunakan untuk meramalkan kebutuhan akan teknologi informasi masa depan, moda

transportasi masa depan, atau kebutuhan akan barang/jasa yang kompleks. Hasil

pendekatan ini sifatnya kualitatif, jadi tidak dapat digunakan dalam praktek, hanya diperlukan

untuk memberikan indikasi peningkatan atau penurunan kebutuhan suatu barang dimasa

yang akan datang.

Pendekatan

Judgement

, bisa berupa

executive judgement

(pendapat para eksekutif

– pelaksana kegiatan) atau

expert judgement

(pendapat para pakar). Pendekatan ini

dipilih bila kebutuhan akan barang/jasa yang sering berubah dan perubahannya sangat

cepat sehingga tidak ditemukan data historis atau data historis tidak mampu mendukung

untuk meramalkan kebutuhan di masa yang akan datang. Misalnya kebutuhan akan

teknologi komunikasi yang bertumbuh sangat cepat akhir akhir ini. Sejalan dengan

pendekatan Delphi, hasil pendekatan ini sifatnya juga kualitatif, jadi tidak dapat digunakan

dalam praktek pengadaan sehari-hari, hanya diperlukan untuk memberikan indikasi

peningkatan atau penurunan kebutuhan suatu barang di masa yang akan datang.

Pendekatan

Moving Average

(rata-rata bergeser), merupakan pendekatan kuantitatif

yang paling mudah dan paling banyak digunakan dalam praktek.

TAHUN KEBUTUHAN (BUAH)

2006 125

2007 120

2008 128

2009 135

2010 139

2011 142

MOVING AVERAGE, 3 TAHUN

135 + 139 + 142 3 = 138,6 MOVING AVERAGE, 4 TAHUN

128 + 135 + 139 + 142 4 = 136

MOVING AVERAGE, 6 TAHUN

= 125 + 120 + 128 + 135 + 139 + 142 6

= 131,5

KEBUTUHAN BARANG di Tahun 2012

(38)

Pendekatan

Regresi Sederhana

juga dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan

di masa yang akan datang.

MOVING AVERAGE DENGAN BOBOT

BULAN TOTAL KE BUTUHAN

Januari 10

BOBOT YANG DIGUNAKAN PERIOD

3 Bu lan lalu

2 Dua bulan lalu

1 Tiga bu lan lalu

6 JUML AH BOBOT

MODEL REGRESI SEDERHANA

2007 3 5.700 17.100 9 2008 4 2.500 10.000 16 2009 5 7.300 36.500 25 2010 6 9.200 55.200 36 2011 7 6.300 44.100 49 Jumlah 28 37.100 171.000 140

Y = a + bx Y = Dep endent Variable x = Indepen dent Variable

xy -y

Gambar 2.3 Moving Average dengan Bobot

(39)

menggunakan suatu barang dapat dikelompokkan sebagai berikut :

a. Biaya Pesan (Ordering Cost)

Merupakan biaya yang proporsional dengan frekwensi pemesanan barang tersebut.

Termasuk dalam biaya pesan adalah biaya administrasi, biaya bongkar muat,

biaya pemeriksaan, dan lain-lain.

b. Biaya Penyimpanan

Biaya yang proporsional dengan jumlah barang yang disimpan. Termasuk dalam

biaya ini adalah biaya gudang, biaya modal, biaya kerusakan akibat penyimpanan.

c. Biaya Barang

Biaya yang digunakan untuk membeli barang. Misalnya harga satuan barang

tersebut.

Interaksi antara biaya pesan dan biaya penyimpanan terlihat seperti gambar di bawah ini:

Biaya Tahunan

TC

Biaya

Minimum Biaya Penyimpanan

Biaya Pemesanan

EOQ Jumlah pesanan = Q

Dari gambar di atas terlihat bahwa makin besar jumlah barang yang dipesan pada tiap

kali pesanan akan berdampak pada menurunnya biaya pemesanan, tetapi akan berdampak

kepada meningkatnya biaya penyimpanan barang.

Kondisi sebaliknya, makin sedikit jumlah barang yang dipesan pada tiap kali pesanan

akan berdampak pada meningkatnya biaya pemesanan (karena dalam satu akan terpaksa

pesan beberapa kali untuk memenuhi kebutuhan akan barang tersebut) , tetapi akan

berdampak kepada menurunnya biaya penyimpanan barang.

(40)

Biaya Total = O ( B/ Q) + C ( Q/ 2) + B P

Keterangan :

O

:

Biaya Pemesanan

B

:

Total kebutuhan barang dalam satu tahun

Q

:

Jumlah barang dalam sekali order

i

:

tingkat suku bunga

C

:

Biaya Penyimpanan

Jumlah pesan barang yang ekonomis (EOQ) adalah :

EOQ=

2 B O

C

C = i.p

EOQ = jumlah pesanan ekonomis (unit/tahun)

B = jumlah kebutuhan/tahun (unit/tahun)

O = biaya pesan/pengadaan, (Rp/pesanan)

C = biaya penyimpanan, (Rp/unit/tahun)

i = % biaya penyimpanan, (25%-35%)/tahun

p = harga barang, (Rp/unit)

(41)

Nama item : ORDNER BESAR

Artinya :

Jumlah ORDNER setiap kali pesan = 633 unit

Frekuensi pesan = B / Q = 5000 / 633

= 7,89

8 kali pesan setahun

= pesan tiap 1,5 bulan

EOQ = 2 (5000)(200.000)= 633

(0.25)(20.000)

Kebutuhan (B)

= 5.000 unit/tahun

Harga (p)

= Rp. 20.000,-/ unit

Biaya pemesanan (O)

= Rp. 200.000,-/pemesanan

Prosentase biaya simpan (i) = 25% / tahun

EOQ = 2BO

ip

Contoh Penerapan EOQ

Menyiasati Besarnya Biaya Pemesanan dan Biaya Penyimpanan

Bila dalam perhitungan dihasilkan nilai EOQ yang cukup besar, maka secara otomatis

biaya Penyimpanan akan meningkat. Dengan memecah jumlah pesanan yang besar tadi

ke dalam beberapa kali pengiriman akan menurunkan nilai biaya penyimpanan. Pendekatan

ini sekaligus menurunkan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan.

Berdasarkan pendekatan ini, pengadaan dilakukan dalam satu payung kontrak namun

pengiriman barang dilakukan beberapa kali sesuai dengan estimasi kebutuhan barang

yang sudah dilakukan sebelumnya.

2.2.3.

Menetapkan Spesifikasi Waktu

Termasuk dalam spesifikasi waktu adalah spesifikasi jadwal kedatangan barang/jasa

(de-livery time and schedule), lokasi kedatangan barang (the point’s of de(de-livery), metode

transportasi dan pengepakan (transportation method and packing).

(42)

berbeda dengan paling lama 14 (empat belas) hari, sehingga akan berdampak besar

dalam penawaran harga dari penyedia barang/jasa.

Spesifikasi waktu dianjurkan memuat waktu kedatangan barang/jasa, lokasi kedatangan

barang, dan bila memungkinkan memuat pula lead time (waktu tenggang) antara

penandatanganan kontrak sampai dengan kedatangan barang.

Untuk memastikan penetapan spesifikasi waktu tersebut masuk akal dan dapat dicapai

oleh penyedia barang/jasa, maka informasi mengenai rincian schedule (jadwal) hendaknya

diminta agar disusun oleh penyedia barang/jasa pada saat memasukkan dokumen

penawaran.

Menetapkan Lokasi Kedatangan Barang

Lokasi kedatangan barang akan berdampak kepada biaya pengiriman dan/atau biaya

transportasi, dan lead time (waktu tenggang) sehingga perlu dinyatakan dengan jelas

dalam spesifikasi.

Menetapkan Metoda Transportasi dan Pengepakan

Ketika

lead time (waktu tenggang) perlu diminimalkan, metoda transportasi perlu dinyatakan

dengan jelas dalam spesifikasi, karena akan berdampak besar pada biaya pengiriman.

Pengiriman melalui pesawat udara akan jauh lebih mahal dari pada lewat darat.

Dalam kaitannya dengan pilihan moda transportasi, kemungkinan kerusakan dan

kehilangan barang/jasa hendaknya di antisipasi dalam spesifikasi melalui teknik

pengepakan yang disyaratkan. Terlebih lagi bila barang tersebut kecil, mahal, dan mudah

dibawa.

Beberapa

special transport arrangement harus dinyatakan jelas dalam spesifikasi jika

barang tersebut bisa busuk, rusak, atau pecah. Misalnya, perlu refrigerator untuk makanan,

penahan pecah untuk kaca.

2.2.4. Menyusun Spesifikasi Tingkat Pelayanan Penyedia Barang/ Jasa

(43)

secara spesifik dan terukur, misalnya :

Penyedia barang/jasa hendaknya menetapkan seorang manager yang kompeten

dan didedikasikan khusus untuk melaksanakan pekerjaan ini.

Penyedia barang/jasa, selama masa trial operation hendaknya menyediakan

helpdesk service (jasa bantuan) yang siap selama 24 jam tiap hari.

Pelatihan dan Bantuan Teknik dari Penyedia Barang/ Jasa

Untuk menjamin barang/jasa yang dibeli dapat digunakan dengan baik, dalam spesifikasi

hendaknya dicantumkan beberapa hal, seperti :

Petunjuk mengoperasikan barang/jasa tersebut, bilamana perlu dipersyaratkan

dalam bahasa Indonesia.

Pelatihan penggunaan dan cara memelihara, dan juga dinyatakan jumlah jam

yang harus dialokasikan penyedia barang/jasa dalam melakukan pelatihan.

Jenis jenis pelatihan yang harus dilakukan oleh penyedia barang/jasa.

Bantuan teknis selama waktu tertentu pada masa pengoperasian awal.

Jumlah dan jenis teknisi yang diperbantukan pada pengguna barang/jasa selama

waktu tertentu pada masa pengoperasian awal.

Pemeliharaan

Aspek maintenance dan repair harus dinyatakan dalam ruang lingkup spesifikasi dalam

barang/jasa memerlukan hal tersebut dan/atau tidak ada orang dalam unit kerja pengguna

barang/jasa yang mampu melakukannya.

Pernyataan dalam spesifikasi hendaknya rinci, misalnya :

“Teknisi penyedia barang/jasa harus sudah berada di lapangan paling lambat 48

jam begitu mendapatkan pemberitahuan melalui e-mail dari pengguna barang/

jasa”.

“Spare part yang kritis, langka, dan mudah rusak

harus terdefinisikan dalam dokumen penawaran dan

tersedia di lokasi kerusakan paling lambat 24 jam

begitu mendapatkan pemberitahuan dari pengguna

barang/jasa

melalui e-mail yang

(44)

Contoh Barang : Lift

Tabel 2.6 Contoh Barang Lift

Spesifikasi Contoh

Spesifikasi Fungsi dan Kinerja

Kapasitas : 15 orang Jumlah stop : 9 stop/9 lantai Door type : Center Opening Door open : 900 mm Tinggi pintu : 2100 mm

Spesifikasi Mutu Barang

Travel Height : Lihat Gambar dan Spesifikasi Total Height : Lihat Gambar dan Spesifikasi Ukuran shaft : 2300 x 2300

Pit Dept : 2100 mm

Over Head : Lihat Gambar dan Spesifikasi Operation Control : Computerized Control – Group Power Listrik : Max 20 Kw/380 V/3 Ph/ 50 Hz Automatic bypass (75% loading)

Oveload devices, safety door edge Fire emergency return

Emergency Light

dan seterusnya

Jumlah 2 (dua) buah

Waktu Sudah dapat di operasikan paling lambat tanggal 15 Oktober 20xx

Tingkat Pelayanan - Calon Penyedia Barang/Jasa wajib menyampaikan biaya pengoperasian dan biaya pemeliiharaan sampai dengan 5 (lima) tahun

- Masa Pemeliharaan untuk lift ini adalah selama 1 tahun/365 hari - Dll

Ketentuan khusus - Jaminan Pelaksanaan muka sebesar 5% dari nilai kontrak dari Bank Pemerintah dan bersifat unconditional dan irrecovable .

- Jaminan diserahkan paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah tanggal penandatanganan kontrak.

- Masa berlaku Jaminan pelaksanaan sampai dengan 2 (dua) bulan setelah Berita Serah Terima I

(45)

Pekerjaan Pondasi

I tem Spesifikasi Deskripsi

Lingkup Pekerjaan 1. Pekerjaan pondasi yang akan dilaksanakan adalah pondasi plat setempat untuk pondasi tangga

2. Ukuran, elevasi kedalaman, dan spesifikasi teknis yang tidak tertuang disini dapat dilihat dalam gambar teknis terlampir

Persyaratan bahan 1. Untuk tulangan pondasi plat setempat digunakan tulangan polos diameter 12 mm jarak 150 mm

2. Beton K 300

Pedoman Pelaksanaan 1. Sebelum pondasi dipasang, terlebih dahulu diadakan pengukuran pengukuran untuk As Pondasi sesuai dengan gambar konstruksi dan dimintakan persetujuan Direksi/Konsultan Pengawas tentang Kesempurnaan Galian

2. Pemasangan pondasi harus rapi dan sesuai dengan Gambar Teknis terlampir

Contoh Spesifikasi Jasa Konsultansi

Penyusunan Modul Pelatihan

I tem Spesifikasi Deskripsi

Maksud Kegiatan Maksud kegiatan jasa konsultansi ini adalah memperoleh materi pelatihan barang/jasa yang berkualitas, dalam rangka meningkatkan mutu

penyelenggaraan pelatihan.

Tujuan Kegiatan Adapun tujuan dari diselenggarakannya kegiatan ini adalah tersedianya modul pelatihan Penyusunan Spesifikasi dan HP

Uraian Kegiatan 1) Melaksanakan persiapan penyusunan modul pelatihan Penyusunan Spesifikasi dan HPS berbasis kompetensi antara lain:

 Melakukan review, identifikasi, dan analisa terhadap modul pelatihan pengadaan yang sudah ada,

 Mengkaji peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan metode yang menunjang penulisan modul pelatihan berbasis kompetensi.

 Mempelajari literatur/referensi best practice tentang Penyusunan Spesifikasi dan HPS, baik di lingkungan pemerintah maupun swasta. 2. Menyusun materi-materi dalam modul pelatihan.

3. Melaksanakan koordinasi dengan tenaga ahli lainnya dalam penyusunan modul pelatihan.

4. Melaksanakan rapat pembahasan dan FGD dengan Tim Penyusunan Materi Pelatihan LKPP.

5. Menyusun laporan kegiatan 6.

Indikator Kinerja 1) Tersedianya metodologi penyusunan modul

2) Terlaksananya rapat-rapat pembahasan kegiatan 3) Tersedianya modul pelatihan berbasis kompetensi

4) Tersedianya laporan kegiatan

Indikator Keluaran Laporan Kegiatan

Keluaran 1) 1 Laporan Pendahuluan

2) 1 Laporan Antara

(46)

Tabel 2.8 Contoh Spesifikasi Jasa Konsultansi

untuk Konsultan penyusunan modul pelatihan spesifikasi dan HPS adalah 3 bulan, yang mencakup kegiatan-kegiatan antara lain:

Mengiventarisasi semua undang-undang, peraturan-peraturan pemerintah, Peraturan Presiden, Keputusan Presiden, Peraturan Menteri, Standar, dan sebagainya yang mengatur tentang penyelenggaraan pelatihan.

Mengiventarisasi semua referensi best practices kurikulum/sylabus pelatihan-pelatihan yang terkait dengan materi Penyusunan Spesifikasi dan HPS.

Melakukan kajian dan pembahasan dengan Tim Penyusunan Materi Pelatihan tentang metode pelaksanaan penyusunan modul.

Menyusun modul pelatihan Penyusunan Spesifikasi dan HPS berbasis kompetensi.

Melaksanakan rapat-rapat pembahasan dengan Tim Penyusunan Materi Pelatihan.

Menyusun laporan kegiatan.

Pelaporan Konsultan diwajibkan membuat dan menyerahkan Laporan yang mencakup: Laporan Pendahuluan memuat latar belakang, maksud dan tujuan disusunnya modul pelatihan, lingkup, tahapan dan metodologi pekerjaan penyusunan modul pelatihan.

Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 2 minggu sejak SPK diterbitkan, sebanyak 3 buku laporan.

Laporan antara memuat draft final modul Pelatihan Penyusunan Spesifikasi dan HPS.

Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 2 bulan sejak SPK diterbitkan, sebanyak 3 buku laporan.

Laporan Akhir memuat hasil akhir dari seluruh kegiatan penyusunan modul pelatihan, termasuk perbaikan dari revisi hasil pembahasan dengan Tenaga Ahli lainnya.

Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya akhir bulan ketiga sejak SPK diterbitkan sebanyak 3 buku laporan

Kualifikasi Penyedia Jasa

a. Konsultan perorangan yang akan dilibatkan dalam kegiatan ini harus memiliki pengalaman bekerja selama 10 tahun dan berpendidikan S-1 serta mempunyai pengalaman kerja menyusun/mengajar/mengevaluasi Spesifikasi dan HPS minimal sebanyak 3 kali sesuai dengan aturan yang berlaku.

b. Pada saat acara negosiasi dan klarifikasi, calon konsultan perorangan diminta untuk mempresentasikan metode pelaksanaan yang terkait dengan kegiatan yang diusulkan.

(47)

Pelatihan Penyusunan HPS

I tem Spesifikasi Deskripsi

Maksud Kegiatan Maksud kegiatan melaksanakan pelatihan Penyusunan Harga Perkiraan Sendiri

Tujuan Kegiatan Meningkatkan kompetensi peserta pelatihan dalam menyusun Harga Perkiraan Sendiri

Uraian Kegiatan 1. Melakukan analisis kebutuhan pelatihan 2. Menyusun sasaran dan pokok bahasan 3. Menyusun bahan pelatihan

4. Melaksanakan pelatihan

5. Melakukan Pre Test dan Post Test 6. Melaporkan Pelaksanaan Pelatihan

Indikator Kinerja 1. Tersedianya analisis kebutuhan pelatihan, sasaran dan pokok bahasan, dan bahan pelatihan

2. Terlaksananya pelatihan

3. Terlaksananya Pre Test dan Post Test

4. Tersedianya laporan Pelaksanaan Pelatihan

Indikator Keluaran Tingkat kepuasan dan kelulusan Peserta Pelatihan diatas 75% Keluaran Laporan Pelaksanaan Pelatihan

Kualifikasi Penyedia Jasa

1. Instruktur dalam kegiatan ini harus memiliki pengalaman bekerja selama 10 tahun dan berpendidikan minimal S-1 serta mempunyai pengalaman kerja menyusun/mengajar/mengevaluasi Spesifikasi dan HPS minimal sebanyak 3 kali sesuai dengan aturan yang berlaku.

Jadwal Kegiatan Waktu pelaksanaan kegiatan adalah selama 3 hari, dilaksanakan bulan Desember tahun 20xx

2.2.6. I nformasi Lain yang perlu masuk dalam spesifikasi

Berikut ini merupakan beberapa informasi tentang Unit Layanan Pengadaan (ULP) yang

penting untuk diberikan kepada penyedia barang/jasa.

a.

Contact Person

Untuk meningkatkan komunikasi yang efektif dan efisien antara penyedia barang/

jasa dengan pejabat pembuat komitmen dan/atau pejabat pengadaan.

Misalnya : pengguna barang/jasa.

Fungsi

Contact Person

ini untuk menciptakan akses informasi yang mudah

bagi penyedia barang/jasa memahami kebutuhan barang/jasa.

b. Latar belakang pengadaan barang/jasa

Gambar

Tabel 2.3 Contoh spesifikasi teknis
Tabel 2.5 Ringkasan Spesifikasi Barang
Gambar 2.2 gambar contoh tabel kebutuhan barang di tahun 2012
Gambar 2.4 Model regresi sederhana
+7

Referensi

Dokumen terkait

SPESIFIKASI TEKNIS PENDUKUNG RUANG MONITORING DAN DOKUMENTASI LOKASI : LEMBAGA SANDI NEGARA -

identifikasi kebutuhan barang/jasa untuk memenuhi kebutuhan riil yang dilakukan.. oleh SKPD sebagai tim identifikasi dari Pimpinan SKPD (Pengguna

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah tentang Perubahan

Pengadaan untuk barang/jasa yang diatur dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan lainnya meliputi Pengadaan Barang/Jasa yang telah diatur ketentuannya dalam

DOKUMEN SPESIFIKASI TEKNIS PENGADAAN BARANG/JASA PERSIAPAN PENGADAAN BARANG/JASA MELALUI PENYEDIA DENGAN METODE PENGADAAN LANGSUNG 2 Berdasarkan hal tersebut diatas, diperlukan

DOKUMEN SPESIFIKASI TEKNIS PENGADAAN BARANG/JASA PERSIAPAN PENGADAAN BARANG/JASA MELALUI PENYEDIA DENGAN METODE PENGADAAN LANGSUNG 2 Berdasarkan hal tersebut diatas, diperlukan

Identifikasi Kebutuhan Jasa Lainnya Identifikasi kebutuhan Jasa Lainnya yang diperlukan Kementerian/Lembaga/Perangkat Daerah, dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal, terdiri

13 Tulisan Hukum [Tim UJDIH Perwakilan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung] 1 melakukan reviu atas spesifikasi teknis/KAK yaitu menyesuaikan spesifikasi teknis/KAK hasil Perencanaan