• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengikuti Kampanye

Dalam dokumen MUKHAIRA MULIA MIRAZA /IP (Halaman 70-83)

3.7. Sistematika Penulisan

4.1.1. Mengikuti Kampanye

Adapun berdasarkan 100 (seratus) sampel yang menjadi responden dari penelitian ini adalah mereka yang menggunakan hak pilihnya dan memilih pasangan ERAMAS pada pilgubsu 2018. Akan tetapi sebagai indikator juga maka pertanyaan yang di tanyakan adalah para responden yang pernah atau pun yang tidak pernah mengikuti/menyaksikan kegiatan kampanye masing-masing pasangan calon baik ERAMAS maupun DJOSS, adapun hasilnya yaitu sebagai berikut :

Tabel 4.3 : Responden Tentang Keikutsertaan Mengikuti kegiatan Kampanye

Mengikuti Kampanye

Frequency Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Tidak 82 82.0 82.0 82.0

Pernah 18 18.0 18.0 100.0

Total 100 100.0 100.0

57

Gambar 4 : Diagram Jawaban Responden Tentang Keikutsertaan Menyaksikan Kampanye

Dari data tersebut dapat terlihat bahwasanya besaran presentase yang mengikut kampanye lebih sedikit yaitu hanya 18% sedangkan yang tidak ada sebanyak 82%, hal tersebut memang terlihat dari apatisnya masyarakat mengikuti maupun menyaksikan kampanye para calon akan tetapi tidak apatis saat memilih, ada beberapa alasan mengapa mereka tidak mengikut kampanye karena memang di kecamatan ini para calon pemilukada pilgubsu tidak terlalu sering mengadakan kampanye.

“kampanye didaerah ini tidak pernah ada, namun memang para calon termasuk bapak Edy Rahmayadi pernah mendatangi perwiritian namun tidak mengatakan untuk memilih pasangan mereka, karena beliau hanya berbicara-bicara ringan saja seputar tentang kegiatan masyarakat, jadi bisa disebut itu bukan kampanye seperti mengumpul massa, orasi atau mengajak untuk memilih”. (rangkuman jawaban kuisioner semi tertutup) 4.1.2. Pendidikan

Dari responden yang dibagikan kuisioner memiliki pendidikan yang beragam, akan tetapi pendidikan D1-S2 sangat sedikit dari 100 responden yang memiliki pendidikan sampai taraf itu hanya 7 orang saja, akan tetapi ini bukan fokus dari penelitian sehingga tidak terlalu menjadi bagian penting dalam menganalisis penelitian ini.

58

Tabel 4. 4 : Komposisi Responden Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan

Gambar 5 : Diagram Komposisi Responden Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan

Mayoritas penduduk yang ada di Kecamatan Medan Marelan ini memiliki pendidikan yang SMA, hal tersebut berdasarkan yang telah dijelaskan melalui diagram di atas.

4.1.3. Alasan memilih Pasangan ERAMAS

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan 100 responden yang memilih pasangan ERAMAS yang terdiri dari beberapa variabel yang sesuai

Pendidikan

Frequency Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid SD 17 17.0 17.0 17.0

SLTP 32 32.0 32.0 49.0

SMA 44 44.0 44.0 93.0

D1/D3/S1/S

2 7 7.0 7.0 100.0

Total 100 100.0 100.0

59

dengan isu-isu yang selama ini ada di pelbagai media juga yang termuat di beberapa jurnal bahwa variabel-variabel tersebut memang masih mampu menjadi faktor pemenang dari suatu pasangan calon kepala daerah dan itu termasuk di Sumut, yaitu : agama, putra daerah, figur/ketokohan, serta lainnya (termasuk didalamnya visi-misi, suku, serta alasan lain yang tidak termasuk kedalam pilihan-pilihan yang disebutkan). Sehingga dalam tabel di bawah ini diambil 3 jawaban dari opsi/pilihan yang di tawarkan yang paling menentukan (determinan) terhadap faktor-faktor kemenangan pasangan ERAMAS.

Tabel 4. 5 : Jawaban Responden Tentang Alasan Memilih Pasangan ERAMAS.

Gambar 6 : Diagram Jawaban Responden tentang Alasam Memilih Pasangan ERAMAS

Alasan Memilih

Frequency Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Agama 45 45.0 45.0 45.0

Putra Daerah 22 22.0 22.0 67.0

Figur 26 26.0 26.0 93.0

Lainnya 7 7.0 7.0 100.0

Total 100 100.0 100.0

60

Berdasarkan data tersebut, dapat di jelaskan bahwa mayoritas memilih karena agama yaitu sebesar 45% (walaupun tidak sampai pada 50%), setelah itu karena faktor figur sebesar 26%, hanya berbeda sedikit dengan alasan memilih karena putra daerah yaitu sebesar (22%), dan lainnya sebesar 18%. Adapun lainnya ini kebanyakkan memilih karena memang sudah menentukan pilihannya sendiri bukan karena alasan-alasan yang ada dalam pilihan (opsi yang sudah ditawarkan pada kusioner), ada juga karena adanya ajakan oleh tim pemenang (tim sukses ERAMAS), serta bagi pemilih yang baru pertama kali menggunakan hak pilihnya memilih pasangan ERAMAS karena pilihan orang tua.

“Di Kecamatan Medan Marelan ini yang terdiri dari 5 keluarahan memiliki satu motto, jika ada masyarakat yang memilih pasangan A maka akan memilih A hal tersebut karena memang mereka lebih kepada mengikuti apa yang dikatakan kebanyakan dari mereka, dan kecamatan ini memang kebanyak perempuan yang merupakan tim pemenang pasangan ERAMAS” (rangkuman jawaban kuisioner semi tertutup).

4.2. Analisa Data

Dari pelbagai penejelasan dalam tabel di atas maka berdasarkan hal tersebut dapatlah dianalisa bahwa memang ada beberapa variabel yang menjadi jawaban para responden yang dianalisa menjadi faktor kemenangan pasangan ERAMAS. Jika menurut identitas itu terkait dengan rasa kepemilikan atau kebersamaan karena adanya kesamaan baik suku, agama, maupun jenis kelamin dapat dikatakan masyarakat di Kecamatan Medan Marelan ini menggunakan politik identitasnya untuk memilih pasangan ERAMAS karena memang sebahagian bahkan hampir seluruh sampel yang digunakan sebagai responden dalam penelitian ini memilih berdasarkan agama dan berdasarkan putra daerah sedangkan visi-misi merpakan salah satu faktor yang terlupakan.

Padahal sebagai suatu bangsa yang besar demokrasi seharusnya menghilangkan batas-batas tersebut namun hal itu tidak berlaku pada saat pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Sumut pada tahun 2018. Isu-isu yang terjadi selama pemilihan juga menyebutkan bahwa memang politik identitas masih menjadi dominasi isu yang menyebabkan kemenangan pasangan calon. Identitas

61

menurut Jeffrey Week adalah berkaitan dengan belonging (kepemilikan) tentang persamaan dengan sejumlah orang dan apa yang membedakan seseorang dengan yang lain. Pendapat Jeffrey Week tersebut menekankan pentingnya identitas bagi tiap individu maupun bagi suatu kelompok atau komunitas sehingga sebagai sebuah politi8k identitas maka faktor-faktor yang paling determinan dalam kemenangan pasangan ERAMAS di Kecamtan Medan Marelan pada pemilihan Gubernur Sumatera Utara tahun 2018 adalah :

1. Agama, hal tersebut berdasarkan data di atas bahwa sebanyak 45 dari 100 responden) memilih karena agama yang sama, lagipula memang masyarakat di kecamatan ini homogen artinya memiliki agama yang sangat mayoritas muslim. Selain itu dikarenakan juga kampanye yang menunjukkan identitas kesamaan agama terlihat dari adanya subuh berjamaah, serta mengundang salah satu ustadz terkenal yaitu ustadz Abdul Somad dan juga menarik perhatian masyarakat di kecamatan ini.

2. Figur/Ketokohan, hal tersebut terlihat dari mayoritas jawaban responden bahwasanya sosok Edy Rahmayadi sangat tegas, juga sangat berwibawa.

Sudah saat nya Sumatera Utara ini dipimpin oleh kalangan dari militer yang sangat tegas dan berwibawa agar tidak terjadi lagi korupsi. Selain itu sosok Edy Rahmayadi meskipun dipasangkan dengan calon yang lain masyarakat tetap memilih Edy Rahmayadi artinya dalam hal ini fungsi dari Musa Rajekshah tidak terlalu menjadi alasan yang penting di masyarakat kecamatan ini. alasan mereka memilih ERAMAS sebagian besar karena memang sosok/figur dari Edy Rahmayadi.

3. Putra Daerah, hal itu juga terlihat cukup besar walaupun tidak sebesar dengan alasan karena agama. Hal itu juga karena Djarot sendiri dianggap tidak mewakili Sumatera Utara meskipun sukunya Jawa akan tetapi mayoritas masyarakat di kecamatan ini tidak begitu mengenal sosoknya lagipula dia berasal dari luar Sumatera Utara, begitupun dengan calon wakil gubernur Sihar Sitorus yang masih asing bahkan tidak dikenal di masyarakat kecamatan ini, sehingga memang putra daerah itu memang menjadi alasan masyarakat memilih pasangan ini.

62

4. Jika kemenangan Suharso dikabupaten bantul dipengaruhi oleh koalisi partai politik, hal tersebut juga terjadi ketika pemilihan gubernur Sumut, hal tersebut tampak dari partai golkar yang diketahui juga ikut kampanye seperti ketua AMPI Mulia Ari Rambe dengan sebutan Bayek yang juga memiliki basis massa di kecamatan ini. Selain itu ada juga Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang memiliki basis massa di kecamatani ini, hal itu membuat masyarakat menjatuhkan pilihannya kepada pasangan ini.

Lagipula, karena ada sosok Prabowo Subianto yang merupakan ketua partai Gerindra yang juga menjadi idola dari para responden baik laki-laki, maupun perempuan dari segala usia.

Dari beberapa faktor di atas terlihat jelas memang visi-misi masih menjadi faktor yang tidak penting dalam menentukan pilihan pada saat pemilihan kepala daerah terkhusus di Kecamatan Medan Marelan. Isu-isu primordial (karena agama, putra daerah) masih menjadi alasan masyarakat memilh. Bahkan jargon saja masyarakat kecamatan ini tidak mengetahui visi-misi akan tetapi masih ada yang mengetahui itupun hanya SUMUT BERMARTABAT, adapun mengetahui hal tersebut karena kalimat itu sering diucapkan oleh para tim sukses juga menjadi ucapan yang sering didengar dari masyarakat di daerah ini.

Salah satu lagi yang juga mempengaruhi kemenangan pasangan ini adalah adanya dorongan dari orang tua terhadap pemilih pemula yaitu rentang usia 18-20 tahun. Mereka masih belum bisa menunjukkan pilihannya, bahkan jika disuruh memilih mereka akan menjawab mengikuti pilihan orang tua. Masyarakat di kecamatan ini memang sangat tertarik terhadap pemilihan kepala daerah karena bagi mereka perubahan bisa terjadi dengan pemilihan kepala daerah. Akan tetapi juga pilihan politik dari masyarakat ini terlihat dari mereka yang menentukan pilihannya pada pilpres 2019 lalu, mereka juga mengatakan mendukung Prabowo karena figurnya tegas dan berasal dari militer.

Sebagai sebuah identitas yang menurut Jeffrey Week (2009), yaitu yang berkaitan dengan belonging (kepemilikan) tentang persamaan dengan sejumlah orang dan apa yang membedakan seseorang dengan yang lain. Adapun cakupan

63

hal tersebut yaitu etnis, agama, ras termasuk asal usul kedaerahan. Sedangkan berdasarkan dari Stuart Hall, identitas seseorang tidak dapat dilepaskan dari

“sense (rasa/kesadaran) terhadap ikatan kolektivitas”. Sehingga dalam hal ini pilihan politik masyarakat Kecamatan Medan Marelan yang memilih pasangan ERAMAS itu terjadi karena menganggap banyak kesamaan yang dimiliki oleh pasangan ini seperti dari agama, dan merupakan kelahiran sumatera dibandingkan dengan pasangan DJOSS yang bukan berasal dari Sumatera Utara bahkan Sihar Sitorus yang juga merupakan suku batak (dimana di Kecamatan Medan Marelan juga suku ini sangat sedikit) dan juga beragama non muslim, sehinnga politik identitas itu memang sangat dominan yang menjadi faktor kemenangan dari pasangan ERAMAS. Selain itu juga bahwa kelompok masyarakat ini merupakan masyarakat yang homogen yaitu mayoritas muslim bahkan 100 orang yang menjadi responden merupakan Muslim.

Sedangkan berdasarkan pada pendekatan pembentukkan identitas, faktor-faktor yang menjadi faktor-faktor kemenangan pasangan ERAMAS tersebut dapat dikategorikan sebagai berikut :

1. Primodialisme. Identitas diperoleh secara alamiah, turun temurun.

2. Konstruktivisme. Identitas sebagai sesuatu yang dibentuk dan hasil dari proses sosial yang kompleks. Identitas dapat terbentuk melalui ikatan-ikatan kultural dalam masyarakat.

3. Instrumentalisme. Identitas merupakan sesuatu yang dikonstruksikan untuk kepentingan elit dan lebih menekankan pada aspek kekuasaan.

Dalam hal ini pembentukan tersebut terjadi dalam politik identitas masyarakat Kecamatan Medan Marelan, karena sebagian besar menjatuhkan pilihan politiknya terhadap calon yang secara identitas (agama, asal usul) itu menjadi faktor yang sangat menentukan hal tersebut justru terlihat dari salah satu jawaban bahwa pasangan ERAMAS lebih islami, dan memperlihatkan sikap-sikap yang sesuai dengan ajaran islam.

Selain itu putra daerah juga sebagai sebuah identitas yang menunjukkan bahwa hanya putra daerah yang bisa menyelesaikan segala persoalan, hal tersebut justru hadir dari pelbagai isu-isu memang sudah ada seperti isu-isu agama, putra

64

daerah, dan suku yang masih mempengaruhi kemenangan pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur pada pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2018.

Selain itu putra daerah sebagai suatu pendekatan pembentukan identitas terlihat dari ikatan-ikatan kultural dari masyarakat khususnya di Kecamatan Medan Marelan apalagi jika di Keluarahan Tanah Enam Ratus, dimana masyarakat yang homogen ini telah membentuk ikatan-ikatan kultural sebagai suatu kesatuan masyarakat yang dalam menentukan pilihan politiknya menggunakan ikatan-ikatan tersebut. Selain itu para pemilih di Kecamatan Medan Marelan ini jika berdasarkan dari prilaku pemilih dikategorikan dalam 3 hal yaitu :

1. Sebagai pemilih yang secara sosiologis masih mengikuti seperti Mazhab Colombia, dimana banyak pemilih yang masih menggunakan kedekatan maupun kesamaan agama, asal-usul (karena pasangan ERAMAS) merupakan pasangan yang berasal dari Provinsi Sumatera, selain itu masyarakat disini memilih masih belum rasional karena mengesampingkan visi-misi para calon sehingga memang ikatan primordialisme sebagai pembentukkan sebuah identitas terjadi dalam masyarakat ini.

2. Model pemilih Psikologis, dalam hal ini jika dianalisis sebagai sebuah prilaku pemilih, masyarakat di kecamatan ini menggunakan pilihannya dengan alasan bahwa mereka melihat sosok/figur seorang Edy Rahmayadi yang sangat tegas, sekalipun sebelumnya masyarakat disini tidak mengenali sosok Edy Rahmayadi sebelum adanya Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Sumatera Utara tahun 2018. Faktor psikologis ini berdasarkan dari jawaban responden yang telah dianalisa oleh karena itu faktor-faktor identitas maupun sosiologis masih lebih kuat sedangkan faktor psikologis juga turut menjadi faktor kemenanangan pasangan ERAMAS pada pilgubsu tahun 2018.

65

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Pemilihan kepala daerah merupakan amanat dari undang-undang, dan hal tersebut dianggap sebagai suatu pendewasaan dalam proses berdemokrasi. Kepala daerah merupakan pemimpin di daerah tersebut dan diharapkan dapat menjadikan daerah yang dipimpinnya menjadi sebuah daerah yang maju dan berkembang.

Dalam pelbagai penelitian memang isu-isu kesukuan, kesamaan keyakinan masih saja terjadi namun hal tersebut bukan merupakan satu-satunya alasan, itu hanya salah satu dari begitu banyak alasan memilih pemilih terhadap pasangan kepala daerah. Salah satu pemilihan yang sangat membuat para pemilih sangat antusias adalah pemilihan kepala daearah serentak di beberapa daerah pada tahun 2018, selain dari pemilihan presiden yang terjadi pada 2019.

Pada tahun 2018, Sumatera Utara juga melaksanakan pemilihan Gubernur yang diikuti oleh 2 pasangan calon dan menurut dari rekapitulasi suara oleh Komisi Pemilhan Umum (KPU) Sumatera Utara bahwa pasangan Edy Rahyamadi dan Musa Rajekshah telah menjadi pemenang dan telah dilantik untuk memimpin Sumatera Utara untuk masa bakti 5 (lima) tahun kedepan. Adapun partisipasi masyarakat Sumatera Utara (Sumut) meningkat daripada pemilihan kepala daerah pada tahun tahun sebelumnya. Banyak isu yang terjadi selama proses kampanye Gubernur Sumut dimulai dari isu agama, isu asal usul (putra daerah), suku/etnis, dan isu-isu lainnya termasuk didalamnya sosok figur Edy Rahmayadi yang sangat tegas, dan berwibawa. Dari penelitian dan kuisioner serta pembahasan ada beberapa faktor yang menyebabkan kemenangan dari pasangan ERAMAS ini terkhusunya di Kecamatan Medan Marelan ada 3 faktor yang sangat determinan (menentukan) dari beberapa variabel yang telah di paparkan pada bab-bab sebelumnya yaitu :

1. Faktor Agama, isu-isu yang telah terjadi pada tahun 2017 pada masa pemilihan Gubernur DKI Jakarta masih sangat terasa di kecamatan ini, hal

66

tersebut terlihat dari mayoritas masyarakat yang memilih jawaban/opsi agama sebagai alasan utama memilih pasangan ERAMS, hal tersebut juga karena pasangan ini menggunakan pendekatan agama seperti melakukan subuh berjamah, mengundang pemuka agama (ustadz somad) selain itu ada juga ajakan untuk memilih pasangan yang seaqidah.

2. Faktor Figur/Ketokohan, karena sosok dari Edy Rahmayadi yang latar belakang Tentara sangat menarik perhatian, karena selama ini sumut belum pernah memiliki calon yang sangat tegas juga berwibawa. Selain itu, sosok Edy Rahmayadi sangat bersih dimata masyarakat tidak ada cela, hal tersebut juga karena masyarkat pada umumnya menginginkan kepala daerah/pemimpin yang bersih (selama ini hampir seluruh kepala daerah Sumut yang melalui pemilihan langsung justru tertangkap kasus korupsi), sehingga berharap pada sosok Edy Rahyamadi, hal tersebut sangat beralasan karena ketika Edy Rahmayadi dipasangkan dengan calon wakil Gubernur Sihar, masyarakat tetap memilih Edy karena figur nya. Inilah yang disebut sebagai faktor psikologis.

3. Putera Daerah, faktor ini bukan saja isu yang telah dibahas sebelumnya akan tetapi untuk Kecamatan Medan Marelan hal ini terjadi. Sebagai pemilih memang masyarakat lebih memilih pasangan yang memang berasal dari daerah pemilihannya, meskipun sebelum adanya pilgubsu masyarakat tidak begitu mengenal sosok Edy Rahyamadi, justru yang dikenal adalah Musa Rajekshah. Akan tetapi karena ada isu tentang putra daerah, masyarakat menjadikan faktor tersebut sebagai alasan untuk memilih pasangan ERAMAS.

Adapun faktor-faktor tersebut menjadi faktor penentu kemenangan pasangan ERAMAS, akan tetapi memang pemilihan kepala daerah selalu mendapatkan isu-isu identitas dan hal tersebut tidak terkecuali juga di pelbagai daerah di Indonesia dan terjadi tanpa isu-isu identitas tersebut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor sosiologis dan faktor psikologis mempengeruhi kemenangan pasangan ERAMAS

67

5.2. Saran

Pemiilihan kepala daerah sebagai langkah untuk dapat memberikan keleluasan kepada masyarakat di daerah dianggap sebagai salah satu indikator kemajuan suatu daerah terlihat dari alasan para pemilih memilih kepala daerahnya masing-masing. Meskipun isu-isu agama, putra daerah, masih dianggap sebagai suatu isu yang masih sangat mewarnai dalam pemilihan kepala daerah bahkan DKI yang merupakan kota besar dan ibu kota juga masih ada isu-isu primordialisme, hal itu juga menjalar ke pelbagai daerah tidak terkecuali Sumatera Utara. Akan tetapi hal yang juga menarik adalah bahwa masih ada masyarakat yang menggunakan hak pilihnya karena sosok figur/ketokohan dari para kandidat. Hal itu juga bisa dikatakan pendewasaaan terhadap pemilih yang tidak hanya memilih berdasarkan kedekatans secara agama maupun karena putra daerah. Oleh karena itu penting untuk memahami bahwa faktor-faktor dalam penentu kemenangan suatu pasangan calon dapat menjadii indikator dari calon tersebut untuk dapat melakukan pendekatan terhadap isu-isu yang dapat menarik perhatian dari pemilih.

Penting untuk mengetahui visi-misi pasangan kepala daerah, hal tersebut untuk dikerjakan sebagai rencana strategis (rensra). Seharusnya masyarakat yang menggunakan hak pilihnya harus memahami betapa pentingnya visi-misi dalam pembangunan suatu daerah, karena kepala daerah dapat membangun daerahnya berdasarkan visi-misi yang akan dituangkan dalam rencana strategi sehingga tujuan pembangunan dapat tercapai sehingg masyarakat memang benar memilih sesuai dengan kepasitas serta kapabilitas seorang kepala daerah.

68

DAFTAR PUSTAKA

Amarveer Singh dan Jai Pal Singh. 2014. “The influence of socio-economic status of parents and home environment on the study habits and academic achievement of students”. Educational Research (ISSN: 2141-5161) Vol.

5(9) pp. 348-352, November, 2014.

Ardial. 2014. Paradigma dan Model Penelitian Komunikasi. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Bambang Prasetyo, Lina Miftahul Jannah. 2005. Metode Penelitian Kuantitatif:Teori dan Aplikasi. Jakarta: Penerbit PT.Raja Grafindo Persada.

Budiarjo, Mariam, 1993, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Dr. Kurtbas, . Ihsan 2015. The Factors Influencing Voting Preferences in Local Elections “An Empirical Study Vol 5 No 9(1), International Journal of Humanities and Social Science Volume 5 No 9 (1).

Emilia Yustiningrum, RR, dan Wawan Ichwanuddin, 2015, Partisipasi Politik Dan Perilaku Memilih Pada Pemilu 2014, Pusat Penelitian Politik, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2 (1).

Harris, Syamsudin. 1998. Menggugat Pemilihan Umum Orde Baru. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Haste, H. & Hogan, A. (2006). Beyond conventional civic participation, beyond the moral-political divide: Young people and contemporary debates about citizenship. Journal of Moral Education, 35(4), 473-493

Hermawan Kertajaya. 2001. Marketing plus 2000 : Siasat memenangkan persaingan global, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ichsan, Muchammad Saputra, dkk, 2017, Marketing Politik Pasangan Kepala Daerah Dalam Pemilukada (Studi Kasus Tim Sukses Pemenangan Pasangan Abah Anton Dan Sutiaji Dalam Pemilukada Kota Malang 2013) Volume 2 No. 2 hal 247. (Jurnal Administrasi Publik).

Kemala Chandakirana. 1989. “Geertz dan Masalah Kesukuan”.Jakarta. Prisma No. 2/1989.

Liddle, R. William dan Saiful Mujani. 2007. “Leadership, Party, and Religion:

Explaining Voting Behavior in Indonesia”. Comparative Political Studies 40(7).

Lubis, Yurial Arief, 2016, Faktor-faktor Penyebab Kemenangan Pasangan OK Arya Zulkarnain pada Pemilihan Kepala Deaerah Kabupaten Batubara, Jurnal Politea, Volume 8 No 1.

Mahfud. MD, 1999. Pergaulan Politik dan Hukum di Indonesia. Gama Media.

Yogyakarta

Masri Singarimbun. 2011. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES.

69

Mujani, Saiful, William R. Liddle, dan Kuskridho Ambardi. 2012. Kuasa Rakyat:

Analisis tentang Perilaku Memilih dalam Pemilihan Legislatif dan Presiden Indonesia Pasca-Orde Baru. Jakarta: Mizan Publika.

Putri, Masdiyan dk, dalam jurnal : Faktor kemenangan koalisi Suharso-Halim dalam pemenangan Kepala Daerah Kabupaten Bantul 2015, Tesis : Magister Ilmu Pemerintahan process proceeding.

Rahman, A.H.I, 2007. Sistem Politik Indonesia,Yogyakarta: Graha Ilmu.

Regeh, Bintan Saragih, 1988, Lembaga Perwakilan dan Pemilihan Umum di Indonesia , Jakarta, Gaya Media Pratama.

Roth, Dieter. 2009. Studi Pemilu Empiris: Sumber, Teori-teori, Instrumen dan Metode. Jakarta: Lembaga Survei Indonesia.

Setyaningrum, Arie. 2005.”Memetakan lokasi bagi politik identitas dalam wacana politik poskolonial dalam “Politik perlawanan” Yogyakarta:

IRE.

Sorensen, Georg. 1993. Democracy and Democratization: Processes and Prospects in a Changing World. Aarhus : Westview Press.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: ALFABETA.(cet. 15)

Ubed, Abdilah. 2002. Politik Identitas Etnis. Magelang. IndonesiaTera.

Widayanti, Titik. 2009. Politik Subaltern: Pergulatan Identitas Waria.

Yogyakarta: Research Center For Politics and Goverment Jurusan Politik dan Pemerintahan UGM.

Dalam dokumen MUKHAIRA MULIA MIRAZA /IP (Halaman 70-83)

Dokumen terkait