FAKTOR-FAKTOR KEMENANGAN PASANGAN EDY RAHMAYADI-MUSA RAJEKSHAH (ERAMAS) PADA PEMILIHAN GUBERNUR (PILGUBSU) SUMATERA UTARA
TAHUN 2018 DI KECAMATAN MEDAN MARELAN
TESIS
Oleh
MUKHAIRA MULIA MIRAZA 177054002/IP
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
FAKTOR-FAKTOR KEMENANGAN PASANGAN EDY RAHMAYADI-MUSA RAJEKSHAH (ERAMAS) PADA PEMILIHAN GUBERNUR (PILGUBSU) SUMATERA UTARA
TAHUN 2018 DI KECAMATAN MEDAN MARELAN
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Ilmu Politik dalam Program Studi Magister Ilmu Politik
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Oleh :
MUKHAIRA MULIA MIRAZA 177054002/IP
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
Judul Tesis
Nama Mahasii1wa Nomor Pokok Program Studi
:t-~aktor-Faktor Kemenangan Puangan Ed}
Rahmayadi-Musa Rajekshah (Eramas) Pada Pemilihan Gubernur (Pilgubsu) Sumatera lltara Tahun 2018 Di Kec•m•t•n Medan Marelan
: Mukhaira Mulia Miraza : 17054002
: Magister llmu Politik
Menyetujui Komisi Pembimbing
r. Heri Kusmanto MA.Ph.D
Ketua (Dr. Warjio,
Anggota·
Dekan
r. M. Arif Nasution MA S.Sos M.Si
Tanggal Lulus: 15 Agustus 1019
Telah diuji pada
Tanggal : 15 Agustus 2019
PANITIA PENGUJI TESIS
KETUA : Dr. Heri Kusmanto, MA, Ph.D Anggota : 1. Dr. Warjio, MA, Ph.D
: 2. Prof. Subhilhar
: 3. Hatta Ridho, S.Sos, MSP
PERNYATAAN
Judul Tesis
Faktor-Faktor Kemenangan Pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Eramas) Pada Pemilihan Gubernur (Pilgubsu) Sumatera Utara Tahun 2018
Di Kecamatan Medan Marelan
Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Ilmu Politik pada Program Studi Magister Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku.
Medan, 15 Agustus 2019 Penulis,
(Mukhaira Mulia Miraza)
FAKTOR-FAKTOR KEMENANGAN PASANGAN EDY RAHMAYADI- MUSA RAJEKSHAH (ERAMAS) PADA PEMILIHAN GUBERNUR (PILGUBSU) SUMATERA UTARA TAHUN 2018 DI KECAMATAN
MEDAN MARELAN
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor kemenangan pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (ERAMAS) pada Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (pilgubsu) pada tahun 2018 yang lalu.
Melalui rekapitulasi suara yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sumatera Utara bahwa pasangan ini menang dengan perolehan suara lebih dari 50 %. Banyak isu-isu yang terjadi selama pemilihan kepala daerah di Sumatera Utara antara lain ada isu agama, isu putra daerah, isu kesukuan namun juga ada faktor lain yaitu faktor figur dari pasangan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif sederhana dengan teknik pengumpulan data melalu kuisioner dengan pendekatan deskriptif yaitu usaha menggambarkan kondisi yang sudah terjadi. Adapun lokasi penelitian yaitu di Kecamatan Medan Marelan sehingga hasil dari penelitian tesis ini adalah analisis terhadap faktor- faktor kemenangan pasangan ERAMAS yaitu faktor agama, putra daerah dan faktor figur. Dari hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa pemilih di Kecamatan Medan Marelan masih menggunakan politik identitas dalam pemilihan kepala daerah, oleh karena itu berdasarkan analisis tersebut faktor-faktor kemenagnan pasangan ERAMAS dapat dikategorikan sebagai pemilih dengan model perilaku pemilih sosiologis yaitu memilih karena ada persamaan agama, suku, dan kesamaan asal usul, serta memilih dengan model psikologi yaitu karena faktor figur dari pasangan ERAMAS tersebut.
Kata Kunci : Pemilihan Kepala Daerah, Politik Identitas, Perilaku Pemilih
THE FACTORS OF THE VICTORY OF ERAMAS (EDY RAHMAYADI AND MUSA RAJEKSYAH) IN PILGUBSU (GENERAL ELECTION FOR
GOVERNOR OF NORTH SUMATERA) IN 2018, IN MEDAN MARELAN SUBDISTRICT
ABSTRACT
The objective of the research was to find out and to analyze the factors of the victory of ERAMAS (Edy Rahmayadi and his running mate, Musa Rekeksyah), in 2018. Based on the recapitulation of the ballots by KPU (General Election Commission) of North Sumatera, ERAMA won the election with more than 50% of votes. Some issues which appeared during the election were religious issue, indigenous man issue, and ethnicity issue, as well as the factor of figures of the candidate governor and his running mate. The research used simple quantitative method. The data were gathered by using questionnaires with descriptive approach to describe the previous condition. The research was done in Medan Marelan Sub-district. The analysis was on the factors which caused ERAMAS to win the election. The result of the research showed that the voters in Medan Marelan Sub-district still used politics of identity in Pilkada (Election for Head of Region). They were categorized as sociological voters who voted based on the similarity in religion, ethnicity, and origin, and as psychological model based on the figures of the ERAMAS.
Keywords: Election for Head of Region, Politics of Identity, Voters’ Behavior
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta kabaikan-Nya pada penulis untuk dapat menyelesaikan tesis ini untuk dapat memenuhi salah syarat kelulusan pada Magister Ilmu Politik Program Magister Ilmu Politik pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Univeristas Sumatera Utara. Penulis telah banyak menerima bimbingan, saran, motivasi serta doa juga bantuan dari berbagai pihak selama penulisan tesis ini. Pada kesempatan ini penulis juga ingin mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang tulus kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH.M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara
2. Bapak Dr. Muryanto Amin, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA, selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Dr. Heri Kusmanto, MA.Ph.D, selaku sekretaris Program Studi Magister Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara serta Dosen Pembimbing saya, yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, pengarahan dan perbaikan dalam menyelesaikan tesis ini.
5. Bapak Dr. Warjio, MA.Ph.D, Bapak Prof. Subhilhar, dan Bapak Hatta Ridho, S.Sos, MSP selaku Dosen Penguji yang telah banyak saran dan masukan hingga selesai penelitian ini.
6. Kedua orang tua saya yang telah memberikan dukungan moril dan doanya juga suami tercinta yang memberikan support moril dan materilnya yang sangat besar bagi saya untuk menyelesaikan tesis ini dengan segera, dan tidak terkecuali juga buat anak saya tersayang Alinkha Tasanee yang juga memberikan semangat dengan tawa dan keceriaannya dalam memberikan saya semangat juga untuk menyelesaikan program magister ini.
7. Para narasumber yang telah bersedia memberikan waktu dan tenaganya untuk menjawab berbagai kuisioner yang telah saya bagikan.
8. Serta seluruh teman-teman dan staff Magister Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang telah membantu serta memberikan dukungan kepada penulis untuk dapat menyelesaikan penulisan tesis ini,
Penulis menyadari bahwa tesis ini juga masih banyak terdapat kekurangan.
Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dalam penyempurnaan tesis ini.
Semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Medan, 15 Agustus 2019 Penulis
Mukhaira Mulia Miraza
RIWAYAT HIDUP
NAMA : Mukhaira Mulia Miraza
TEMPAT, TANGGAL LAHIR : Medan, 10 Agustus 1990
ALAMAT. : Jl KL Yos Sudarso No 148 Lingk IV Titipapan Medan Deli
AGAMA : Islam
NO. HP : 085277211797
EMAIL : [email protected]
JENJANG PENDIDIKAN :
1. SD Negeri 060941 Medan 2. SMP Negeri 11 Medan 3. SMA Negeri 9 Medan
4. Universitas Sumatera Utara Jurusan Ilmu Politik
5. Universitas Sumatera Utara Program Magister Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR TABEL ... ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 8
1.3. Tujuan Penelitian ... 9
1.4. Manfaat Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian terdahulu ... 10
2.2. Pemilihan Umum ... 14
2.3. Fungsi Pemilihan Umum ... 15
2.3.1. Elemen Sistem Pemilihan Umum ... 16
2.3.2. Pemilihan Kepala Daerah ... 21
2.3.3. Kepala Daerah ... 22
2.4. Partisipasi Politik ... 24
2.5. Perilaku Pemilih ... 25
2.6. Demografi Kota Medan ... 29
2.7. Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu)... 33
2.8. Politik Identitas ... 43
2.9. Multikulturalisme ... 47
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian ... 50
3.2. Teknik Pengumpulan Data ... 50
3.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 51
3.4. Ukuran Sampel ... 51
3.5. Teknik Penarikan Sampel ... 52
3.6. Teknik Analisis Data ... 52
3.7. Sistematika Penulisan ... 53
BAB IV PEMBAHASAN DAN ANALISA DATA 4.1. Pembahasan ... 55
4.1.1. Mengikuti Kampanye ... 56
4.1.2. Pendidikan ... 57
4.1.3. Alasan memilih Pasangan ERAMAS ... 58
4.2. Analisa Data ... 60
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 65
5.2. Saran ... 67
DAFTAR PUSTAKA ... 68
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 : Peta Kemenangan Pilkada Sumatera Utara Tahun 2018 ...6 Gambar 2 : Peta Pesebaran Pemilih di Kota Medan Berdasarkan Agama
Tahun 2018 ...36 Gambar 3 : Peta Perolehan Suara Pasangan ERAMAS dan DJOSS di Kota
Medan Tahun 2018 ...37 Gambar 4 : Diagram Jawaban Responden Tentang Keikutsertaan
Menyaksikan Kampanye ...57 Gambar 5 : Diagram Komposisi Responden Berdasarkan Latar Belakang
Pendidikan ...58 Gambar 6 : Diagram Jawaban Responden tentang Alasam Memilih
Pasangan ERAMAS ...59
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 : Komposisi dan Persebaran Penduduk Kota Medan Berdasarkan Suku Tahun 2004 ...31 Tabel 2. 2 : Rekapitulasi Perolehan Suara Pasangan Cagub-Cawagub
Berdasarkan Kecamatan Tahun 2018...34 Tabel 2. 3 : Persentase Perolehan Suara Pasangan ERAMAS dan DJOSS di
Kota Medan Berdasarkan Etnis Pemilih ...39 Tabel 4. 1 ...55 Tabel 4. 2 ...55 Tabel 4.3 : Responden Tentang Keikutsertaan Mengikuti kegiatan
Kampanye ...56 Tabel 4. 4 : Komposisi Responden Berdasarkan Latar Belakang
Pendidikan ...58 Tabel 4. 5 : Jawaban Responden Tentang Alasan Memilih Pasangan
ERAMAS. ...59
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pemilihan kepala daerah ( pilkada) adalah pasar politik tempat individu/
masyarakat berinteraksi untuk melakukan kontrak sosial (perjanjian masyarakat) antara peserta pemilihan umum baik kepala derah, presiden maupun legislatif dengan pemilih (rakyat) yang memiliki hak pilih setelah terlebih dahulu melakukan serangkaian aktivitas politik yang meliputi kampanye, propaganda, iklan politik melalui media massa cetak, audio (radio) serta media lainnya seperti spanduk, pamflet, selebaran bahkan komunikasi antar pribadi yang berbentuk face to face ( tatap muka ) atau lobby yang berisi penyampaian pesan mengenai program, asas, ideologi serta janji-janji politik lainnya guna menyakinkan pemilih/ masyarakat setempat sehingga pada saat pemungutan suara/pencoblosan dapat menentukan pilihannya terhadap salah satu pasangan calon yang menjadi peserta pemilihan umum untuk mewakilinya dalam lembaga legislatif maupun eksekutif.
Pemilihan kepala daerah dimulai pertama kali sejak bulan Juni tahun 2005, dengan adanya perubahan undang-undang pada UU No. 22 Tahun 1999 yang di dasari oleh munculnya amandemen UUD 1945 yang penentuan kepala daerah seperti : Gubernur/Bupati maupun Walikota di tentukan tidak lagi melalui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tetapi melalui pemilihan umum langsung dan juga berdasarkan UU No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan Kedudukan (Susduk) MPR, DPR, DPD, dan DPRD, maka DPRD tidak lagi mempunyai kewenangan untuk memilih Gubernur/Bupati/Walikota. Dua hal tersebut menjadi faktor pendorong munculnya gagasan awal perlunya pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat.
Dalam UU No 12 tahun 2008 yang merupakan perubahan kedua atas UU No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjelaskan bahwa masyarakat suatu daerah memperoleh suatu kebebasan dalam mengatur dan membangun daerahnya. Dengan adanya otonomi daerah, pemerintahan Indonesia di era
2
reformasi ini jelas berbanding terbalik dengan pemerintahan masa orde baru. Jika orde baru menerapkan sistem pemerintahan secara sentralisasi kepada pemerintah pusat maka pada era reformasi sistem pemerintahannya menjadi desentralisasi.
Tujuannya yaitu agar pembangunan dan pembagian kekayaan alam merata di setiap daerah agar kesenjangan sosial antar daerah tidak mecolok dan tidak adanya ketimpangan sosial. Dengan demikian, otonomi daerah di harapkan dapat menjadi solusi terhadap permasalahan seputra ketimpangan pusat dan daerah, disintegrasi nasional, serta minimnya penyaluran aspirasi masyarakat lokal. Salah satu bentuk dari otonomi daerah adalah pemilihan kepala daerah secara langsung.
Dalam proses pemilihan kepala daerah ada beberapa hal yang dapat di jelaskan terkait dengan proses demokrasi yang terjadi, yaitu pertama, masyarakat dapat terlibat dalam arena publik untuk mempromosikan dan menyampaikan tuntutannya kepada siapa saja yang ingin mendengarkan, seperti ikut terlibat dalam berdemonstrasi. Kedua, masyarakat dapat menjadikan lembaga pembuat undang-undang (legislatif) atau lembaga eksekutif sebagai target pesan politik yang ingin disampaikan, misalnya menandatangani petisi dan ketiga, masyarakat dapat terlibat dalam proses seleksi dari orang-orang yang ingin menduduki jabatan publik. Sebagai contoh yaitu dengan memberikan suara pada pemilu atau mencalonkan diri untuk jabatan publik, oleh karena itu pemilu sangat penting dalam proses kebijakan publik.
Di pelbagai provinsi, kota maupun kabupaten pemilihan kepala daerah sangat menjadi kajian penelitian yang menarik, adapun beberapa pemilihan kepala daerah dapat di lihat dari proses demokrasi yang semakin membaik, hal tersebut dikarenakan rakyat telah dianggap mampu untuk menentukan kepala daerahnya sendiri, dan rakyat memiliki legitimasi yang sah untuk dapat menyaring pemimpin di daerahnya masing-masing. Banyak isu yang terkait dengan pemilihan kepala daerah di pelbagai daerah di Indonesia, antara lain seperti isu-isu agama, suku, bahkan juga isu putra daerah.
Setiap daerah mempunyai karakterisktik pemilih yang unik dan berbeda- beda, oleh karena itu proporsi alasan memilih masyarakat bervariasi antar daerah.
Dalam kajian serta penelitian yang sebelumnya yang di lakukan pada Pemilukada
3
Kota Semarang tahun 2010, menemukan bahwa faktor-faktor determinan (penentu) yang menjadi alasan pasangan calon kepala daerah bisa memenangkan Pemilukada Kota Semarang adalah (a) program kerja yang bagus, (b) berasal dari birokrat, (c) jujur/bisa dipercaya, dan (d) berpenampilan fisik menarik. Akan tetapi berdasarkan hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI), kompetensi calon merupakan faktor yang hampir selalu paling kuat dari alasan-alasan lainnya1.
Sedangkan dalam penelitian yang di lakukan pada saat pemilihan kepala daerah Kabupaten Batang tahun 2011 bahwa kemenangan pasangan calon kepala daerah di sebabkan beberapa faktor antara lain adalah sebagai berikut :
a. Faktor figur dan ketokohan memainkan peran penting dalam membuat keputusan memilih. Adapun kategori dari figur dalam pemilihan kepala daerah di Kabupaten Batang pada pemilihan kepala daerah yaitu pemilih di kabupaten ini lebih menyukai latar belakang profesi calon yang berasal dari militer, menyukai kepala daerah dan wakil kepala daerah berjenis kelamin laki-laik dari pada yang berjenis kelamin perempuan dalam penelitian ini juga di hasilkan bahwa pemilih tidak memilih pasangan calon dari kalangan dengan usia muda (ketika para pemilih di daerah lain lebih suka pemimpin muda malah kabupaten ini tidak) akan tetapi lebih kepada figur, adapun figur yang dimaksud juga harus memiliki sifat/perilaku jujur dan bersih, peduli pada rakyat, cerdas, karismatik dermawan, serta punya visi dan program yang baik.
b. Faktor sosiologis juga turut mempengaruhi seperti kesamaan demografis yakni ciri-ciri identik yang melekat pada diri pemilih seperti daerah asal, agama, dan umur mempunyai peran penting dalam membuat keputusan memilih (primordialisme juga masih ada di kabutapen ini) Sementara ciri-ciri fisik seperti gagah dan cantik tidak menjadi pertimbangan pemilih
c. Faktor psikologis yakni merupakan faktor kedekatan dimana dalam penelitian ini faktor psikologisnya yaitu dekat dengan pemilih dalam pemilukada di representasikan oleh calon. Dalam hal ini pemilih dalam menentukan pilihan melihat daya tarik figur lebih penting dari pada partai politik pengusung, mereka lebih memilih figur yang mereka kenal. Sosialisasi calon berupa kunjungan/pertemuan langsung dengan rakyat pemilih efektif untuk meningkatkan keterkenalan calon.
Sosialisasi melalui media luar ruangan (media below the line) seperti baliho dan spanduk tidak mempengaruhi pemilih.
1Fitiryah, Hermini Susiatianingsih dan Supratiwi, 2011, dalam jurnal : "Faktor Determinan Kemenangan Kandidat Pada Pemilukada Kabupaten Batang 2011"
4
d. Faktor ekonomi yakni visi-misi mengenai tentang perubahan daerahnya, dalam penelitian ini yaitu merujuk pada program yang diusung calon mempunyai peran penting dalam mempengaruhi pilihan pemilih. Masyarakat Kabupaten Batang menginginkan daerahnya berubah menjadi lebih maju dan calon yang di pilih adalah yang di nilai paling bisa memajukan daerahnya.
e. Dalam penelitian ini juga menemukan bahwa pemilih yang menganggap politik uang sebagai hal yang wajar-wajar saja dalam pemilu dan prakteknya semua calon memberikan uang, hanya sebagian kecil pemilih yang jelas-jelas menolak politik uang, namun uang ternyata bukan menjadi faktor utama sebagai pertimbangan dalam memilih seorang calon. Adapun penelitian ini berdasarkan 120 responden di kabupaten tersebut.
Jika pada pemilihan kepala daerah Kabupaten Batang banyak faktor-faktor yang mempengaruhi kemenangan pasangan calon kepala daerah, maka faktor- faktor yang berbeda muncul dari pemilihan kepala daerah di Kabupaten Batubara tahun 2008. Dalam penelitian tersebut di jelaskan bahwa kemenangan pasangan H. OK Arya dan wakilnya di karenakan oleh GEMKARA (Gerakan Masyarakat Kabupaten Batubara), dalam pemilihan ini tidak terdapat ada isu-isu agama, maupun putera daerah. Hal tersebut di laterbelakangi oleh figur dari OK Arya sendiri yang justru maju sebagai calon independen/perseorangan (calon yang tidak didukung oleh partai politik).2
Sedangkan pada penelitian di Kabupaten Siak pada tahun 2015, di jelaskan tentang fakor-faktor penyebab kemenangan pasangan kepala daerah Kabupaten Siak tahun 2015 dengan kepada daerah di Kabupaten Siak pada tahun 2015, karena program pasangan tersebut, selain itu pasangan ini merupakan pasangan calon yang incumbent (petahana), pemilih lebih mengedepankan kesuksesan yang telah diperoleh oleh pasangan ini sebelumnya. Faktor ekonomi sangat melatarbelakangi kemenangan pasangan ini begitu pun dengan calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang memiliki kematangan dan mempunyai emosi yang stabil, serta mempunyai perhatian yang luas terhadap aktifitas- aktifitas sosial di masyarakat. Sehingga masyarakat merasa memiliki kedekatan emosional dan membuat masyarakat yang memilih mempunyai keinginan
2 Yurial Arief Lubis, 2016, Faktor-faktor Penyebab Kemenangan OK Arya Zulkarnain dalam Pilkada Kab. Batubara, Jurnal Politea Vol 8 No 1.
5
menghargai dan di hargai. Karena dengan begitu akan lebih baik jika seorang pemimpin bersedia meminta pandangan dari orang lain dalam bertindak untuk mengambil suatu keputusan yang menyangkut dengan kegiatan masyarakat yang di pimpinnya.
Selain dari penelititan-penelitian yang telah di jelaskan di atas, ada juga penelitian lain yang terkait dengan faktor-faktor kemenangan seorang kepala daerah seperti yang terjadi di Minahasa Selatan. Pemilihan kepala daerah di daerah tersebut di ikuti oleh beberapa calon, yang paling menarik dalam penelitian tersebut adalah bahwa faktor yang paling determinan (menentukan) dalam kemenangan pasangan calon kepala daerah di kabupaten Minahasa Selatan adalah karena putra daerah. Dimana pada pemililiha kepala daerah di Minahasa Selatan pada tahun 2015 yang lalu di ikuti oleh tiga pasangan calon, salah satu pasangan calon adalah Christiany Eugenia Paruntu dan Franky Donny Wongkar yang merupakan pasangan calon yang memiliki marga asli Kabupaten Minahasa Selatan, sementara pasangan yang lain meskipun masih merupakan marga yang berasal dari Provinsi Sulawesi Utara namun bukan merupakan marga asli Kabupaten Minahasa Selatan.
Hal tersebut dapat di lihat dari perolehan suara yang diperoleh oleh pasangan Christiany Eugenia Paruntu dan Franky Donny Wongkar yang sangat signifikan, pasangan tersebut mampu memenangkan perolehan suara sebesar 94%
di beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Minahasa Selatan., selain itu Minahasa Selatan merupakan salah satu yang mengalami pemekaran daerah sehingga ini menarik minat peneliti untuk mengutip jurnal tersebut agar memberikan gambaran tentang faktor-faktor kemenangan pemilihan kepala daerah3.
Sedangkan pada pemilhan Gubernur Sumatera Utara (pilgubsu) pada tahun 2018 yang lalu, di ikuti oleh 2 pasangan calon yaitu pasangan Edy Rahmyadi-Musa Rajeksah (ERAMAS) dengan nomor urut 1 dan pasangan Djarot Syaiful Hidayat-Sihar Sitorus (DJOSS) dengan nomor urut 2. Dan berdasarkan
3 Fransin Kontu, 2017, Primordialisme Dalam Pemilihan Kepala Daerah (Kajian Terhadap Sentimen Kesukuan Dalam Pemilukada Kabupaten Minahasa Selatan Tahun 2015), Jurnal Volume 6 hal 107.
6
hasil rekapitulasi penghitungan suara yang digelar Komisi Pemilihan Umum Provinsi Sumut. Menurut hasil rekapitulasi, pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (ERAMAS) meraih 3.291.137 suara yaitu sebesar (57,57%), sedangkan pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss) meraih 2.424.960 suara sebesar (42,43%).
Pada pemilihan kali ini tingkat partisipasi politik masyarakat di Sumatera Utara meningkat secara signifikan, berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara pada tahun 2014 tingkat pemilih hanya mencapai 47%, sedangkan untuk pemilihan gubernur Sumatera Utara pada tahun 2018 ini tingkat partisipasi meningkan menjadi 61%4. Dan dapat di lihat pada peta kemangan di bawah ini yang mana pasangan ERAMAS memperoleh suara yang lebih besar dibandingkan saingannya DJOSS.
Gambar 1 : Peta Kemenangan Pilkada Sumatera Utara Tahun 2018
Sumber : KOMPAS.com, 2019
4 www.kpud-sumutprov.go.id , diakses pada febuari 2019 pkl 10.00 Wib
7
Dari peta kemenangan tersebut dapat di lihat bahwa hampir di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara pasangan ERAMAS memperoleh suara yang lebih besar dari pasangan DJOSS, namun dalam penelitian ini, peneliti hanya memfokuskan wilayah yang menjadi lokasi penelitian yaitu salah satu kecamatan yang berada di Kota Medan. Adapun alasan peneliti memilih lokasi tersebut karena di lokasi tersebut pasangan ERAMAS berdasarkan rekapitulasi KPU memperoleh suara dengan persentase yang besar yaitu sekitar 80% (dapat di lihat pada tabel 2.3 persentase perolehan suara Pasangan ERAMAS dan DJOSS).
Kemenangan yang di peroleh pasangan ERAMAS tidak terlepas dari pelbagai isu antara lain isu agama, suku, asal-usul, serta slogan Sumatera Utara bermartabat (SUMUT BERMARTABAT) yang menjadi sangat mudah untuk di ingat para pemilih. Hal tersebut terlihat juga seperti yang di kemukakan oleh salah satu pengamat politik Dadang Darmawan yang termuat dalam media tagar news bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan pasangan calon (paslon) nomor urut 2 kalah dalam pilgub Sumut, salah satu faktor terbesar adalah masih kuatnya politik identitas di Sumut. “Isu agama masih efektif mempengaruhi pemilih di Sumut dan ERAMAS (Edy-Musa) secara konsisten bersandar pada ulama untuk merebut suara pemilih muslim yang mayoritas. Dalam masyarakat di negara demokratis dapat berpartisipasi dalam kehidupan politik, setidaknya dengan tiga cara berbeda”5.
Hal tersebut juga sesuai dengan hasil survei Lingkaran Survey Indonesia (LSI) Denny JA yang termuat dalam REPUBLIKA yang mengemukakakn bahwa isu-isu putra daerah dan agama juga menjadi dasar para pemilih untuk menentukan pemimpinnya. Seperti di Sumatera Utara yang 70 % penduduknya adalah Muslim sehingga pasangan yang menang adalah pasangan calon (paslon) nomor 1 Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah dengan 57,12 % suara. Mereka mengalahkan paslon Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (DJOSS). Salah satu alasan juga adalah karena Djarot berasal dari Jakarta, sedangkan Sihar Sitorus meskipun berasal dari Sumatera Utara adalah beragama non muslim selain itu pesona seorang calon juga menjadi faktor penentu perolehan suara. Semakin
5 https://www.tagar.id/pengamat-politik-identitas-kalahkan-djarot, diakses pada 12 Januari 2019 pkl 10.00
8
mempesona sang calon, maka akan semakin dipilih.6 Begitupun dalam kegiatan kampanye-kampanyenya pasangan nomor urut 1 ini menunjukkan citra Islami, misalnya saat Edy-Musa (ERAMAS) meneruskan gerakan salat subuh berjamaah menjelang hari pemilihan.
Secara umum Kota Medan yang terdiri dari 21 kecamatan, untuk dapat menghasilkan sebuah penelitian yang akurat maka peneliti dalam hal ini memfokuskan wilayah serta lokasi penelitiannya berdasarkan dari kemenangan yang di peroleh oleh pasangan ERAMAS di kecamatan yang ada di Kota Medan, yaitu Kecamatan Medan Marelan dengan kemenangan yang di raih berdasarkan dari rekapitulasi KPU Provinsi Sumatera Utara dari total suara yang sah adalah 80%, sehingga berdasarkan latar belakang tersebut dapat di lihat bahwa faktor- faktor kemenangan pasangan kepala daerah di Indonesia masih terikat dengan begitu banyak isu-isu yang berkaitan dengan agama, suku maupun isu putra daerah, meskipun ada juga yang tergantung dengan figur kandidatnya, dan dipandang sebagai pemilih yang tidak memperhatikan visi-misi dari kandidatnya, begitupun dengan pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Sumatera Utara, isu-isu yang telah dipaparkan sebelumnya masih tetap ada. Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Faktor-Faktor Kemenangan Pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (ERAMAS) pada pemilihan Gubernur (Pilgubsu) Sumatera Utara tahun 2018 di Kecamatan Medan Marelan”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasasrkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah yang akan di jawab pada penelitian ini adalah “Faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab kemenangan pasangan ERAMAS dalam pemilihan Gubernur Sumatera Utara pada tahun 2018 di Kecamatan Medan Marelan?”
6https://www.republika.co.id/berita/nasional/pilkada/18/06/28/pazyek428-tiga-faktor penentu- pemenang-pilkada-serentak-2018) diakses 19:52 20/06/2019
9
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang membuat pasangan ERAMAS menang dalam pemilihan Gubernur Sumatera Utara tahun 2018
2. Untuk mengetahui seberapa besar faktor-faktor tersebut sehingga determininan (menentukan) kemenangan pasangan ERAMAS dalam pemilihan Gubernur Sumatera Utara 2018.
1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah :
1. Secara akademis, penelitian dapat menjadi kajian ilmiah mengenai politik identitas pada pemilihan kepala daerah Sumatera Utara.
2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan menjadi bahan referensi bagi peneliti selanjutnya mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kemenangan pasangan calon kepala daerah khusunya pada pemilihan kepala daerah Sumatera Utara.
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penelitian terdahulu
Sebelum melakukan penelitian, maka peneliti juga perlu melihat penelitian ytang sudah pernah di lakukan yang memiliki penelitian yang sama dengan penelitian peneliti. Adapun salah satu penelitian terdahulu yang juga membahas faktor-faktor yang mempengaruhi kemenangan pasangan calon kepala daerah dalam suatu daerah antara lain :7
1. Koalisi partai politik Menunjukkan bahwa faktor kemenangan pasangan Suharsono-Halim pada pemilukada Kabupaten Bantul tahun 2015 sebagian besar disebabkan karena bentuk koalisi yang dibangun oleh partai politik pendukung dan pengusung pasangan. Penelitian ini membahas tentang pemilihan kepala daerah Kabupaten Bantul tahun 2015, yang di ikuti oleh 2 pasangan calon yaitu Suharso-Halim yang diusung oleh partai PKB, Gerindra, PKS dan Demokrat sedangkan pasangan Sri Suryawidati- Misbakhul Munir diusung oleh partai PDIP, Golkar dan Nasdem yang menjadi pemenangnya adalah pasangan Suharso-Halim dengan perolehan suara sebesar 52,8%.
2. Partisipasi Politik Menunjukkan bahwa partisipasi politik masyarakat sangat berperan penting dalam faktor kemenangan koalisi pasangan Suharsono- Halim dalam pemilukada Kabupaten Bantul tahun 2015 karena tingkat pastisipasi di Kabupaten Bantul meningkat dari pemilukada tahun 2010.
3. Modalitas, adapun modalitas yang dimaksud yaitu bahwa terdiri dari : a. Modal politik
Modal politik yang di miliki oleh pasangan Suharsono-Halim dalam pemenangan pemilukada Kabupaten Bantul meliputi kemampuan mereka membaca isu politik, memahami dinamika politik, dan adanya koalisi partai dan relawan yang konsisten dalam mendukung pasangan Suharsono Halim di pemilukada.
7 Masdiyan Putri, Zuly Qodir, dalam jurnal : Faktor kemenangan koalisi Suharso-Halim dalam pemenangan Kepala Daerah Kabupaten Bantul 2015, sebuah tesis Magister Ilmu Pemerintahan Yogyakarta hal 103.
11
b. Modal sosial
Menunjukkan bahwa faktor kemenangan koalisi pasangan Suharsono- Halim dalam pemenangan pemilukada tahun 2015 disebabkan karena memang pasangan ini memiliki modal sosial meliputi basis massa yang terdiri dari keluarga, organisasi-organisasi masyarakat yang berhasil di rangkul, dan ketokohan yang di miliki, di mana Suharsono dan Halim merupakan bagian dari pengurus dari Nahdatul Ulana (NU) yang menjadi basis masa di Kabupaten Bantul.
c. Modal budaya
Menunjukkan bahwa faktor kemenangan koalisi pasangan Suharsono- Halim dalam pemenangan pemilukada tahun 2015 disebabkan karena memiliki modal budaya, latar belakang pendidikan militer yang dimiliki oleh Suharsono menjadi salah satu modal yang tergolong kuat. Didukung pula oleh riwayat Halim yang merupakan ketua DPC PKB Kabupaten Bantul, dan ia pernah menjabat sebagai anggota DPRD di Provinsi DIY.
d. Modal ekonomi
Menunjukkan bahwa faktor kemenangan koalisi pasangan Suharsono- Halim dalam pemenangan pemilukada tahun 2015 disebabkan karena memang memiliki modal ekonomi. Modal ekonomi ini digunakan untuk biaya operasional kampanye serta memberi bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan, namun bukan dalam bentuk politik uang.
Jika melihat hasil dari penelitian yang dilakukan di Kabupaten Bantul pada tahun 2015 kemenangan pasangan calon kepala daerah tersebut tidak terdapat isu-isu seperti yang terjadi di pemillhan Gubernur-Wakil Gubernur Sumatera Utara (pilgubsu) tahun 2018 yang lalu. Kemenangan pasangan calon kepala daerah di kabupaten ini mengandalkan koalisi dari partai politik (padahal pasangan ERAMAS juga di dukung oleh koalisi partai politik yang sangat banyak), dan sebagai salah satu kemenangannya juga tidak ada faktor figur hal tersebut berbeda di pemilihan kepala daerah Kota Malang pada tahun 2013 yang mana hasilnya bahwa kepala daerah yang terpilih memperoleh kemenangan karen, pembentukan figur dan program-program kampanye yang kompleks. Artinya dalam penelitian ini menggunakan sosok figur/ketokohan dari calonnya. Oleh karena itu berdasarkan penjelasan pada penelitian-penelitian sebelumnya banyak memang faktor yang menyebabkan kemenangan pasangan calon kepala daerah
12
seperti koalisi partai politik, modal sosial dan modal ekonomi, juga ada faktor figur/ketokohan dari pasangan kepala daerah8.
Sedangkan penelitian yang berasal dari survei yang di lakukan pada tahun 2009 di sebuah provinsi yang terletak di Turki juga menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi pilihan politik terhadap pasangan calon kepala daerah di negara Turki yaitu di sebuah provinsi Elazig dengan menggunakan metode pendekatan kuantitatif dengan sampel yang kurang lebih 478 pemilih dengan rentang usia 18-25 tahun (hal ini dikategorikan sebagai pemilih muda), sehingga dalam penelitian tersebut di simpulkan adapun faktor yang mempengaruhi kemenangan pasangan calon kepala daerah di provinsi ini memiliki tiga faktor penting yaitu faktor sosiologis, rasional, dan identifikasi psikologis dengan pasangan calon.
Menurut penelitian ini, ketika membuat pilihan pemilih dapat memperoleh manfaat dari faktor sosiologis seperti hubungan kolektif dan sosial karena hubungan emosional yang di kembangkan sejak mereka kecil, dan membuat pemilih dapat mengidentifikasi dirinya sendiri dengan partai politik pasangan calon atau membuat pilihan dengan memeriksa subjek secara rasional dan menyediakan layanan sesuai dengan kepentingannya sendiri. Dalam penelitian ini, peneliti memiliki beberapa temuan tentang faktor-faktor yang memengaruhi pilihan politik pemilih dan sejauh mana pengaruhnya. Dengan prosentasi sebesar 27,9% pemilih berpikir pemilihan umum lebih penting, dan 15,3% mengatakan pemilihan lokal lebih penting9.
Ada kemungkinan karena pemerintahan pusat yang kuat di Turki pemilih memiliki persepsi bahwa pemilihan umum adalah tentang masalah umum Turki, dan keyakinan bahwa pemerintahan Turki di tentukan hanya dalam pemilihan umum yang mungkin menyebabkan orang lebih mementingkan pemilihan umum
8 Muchammad Ichsan Saputra, Bambang Santoso Haryono, Mochammad Rozikin. 2017.
Marketing Politik Pasangan Kepala Daerah Dalam Pemilukada (Studi Kasus Tim Sukses Pemenangan Pasangan Abah Anton Dan Sutiaji Dalam Pemilukada Kota Malang 2013) Volume 2 No. 2 hal 247.
9 Dr. Ihsan Kurtbas, 2015. The Factors Influencing Voting Preferences in Local Elections “An Empirical Study Vol 5 No 9(1), International Journal of Humanities and Social Science hal 203.
13
(hal ini juga terjadi di Indonesia) namun perbedaannya di Indonesia juga merasa penting dalam pemilihan lokal seperti pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Sumatera Utara pada tahun 2018 di mana partisipasi politiknya meningkat pada Sehingga untuk negara Turki hal ini adalah pertanyaan penelitian yang penting karena bahkan sesuatu yang sederhana tidak di sadari tentang pentingnya pemilihan lokal yang akan menghasilkan solusi untuk masalah-masalah lokal memperkenalkan jalan buntu untuk politik.10
Dalam penelitian ini jika dalam perspektif sosiodemografi, orang-orang muda yang memiliki pendidikan tinggi serta tingkat pendapatan yang tinggi merupakan pemilih pertama kali (pemilih pemula) lebih mementingkan pemilihan umum. Di sisi lain, untuk orang yang lebih tua, yang telah memilih lebih dari satu kali pemilihan serta yang memiliki tingkat pendidikan dan pendapatan yang rendah menjawab bahwa pemilihan lokal lebih penting. Untuk sekitar satu dari setiap sepuluh pemilih, suaranya tidak ada arti baginya, bagi negara atau demokrasi. Seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan dan pendapatan, jumlah orang yang menghargai suara mereka berkurang dan ketika tingkat pendidikan dan pendapatan menurun, jumlah orang yang mengatakan bahwa mereka tidak tahu apakah suara mereka penting atau tidak juga meningkat.
Sebagian besar pemilih di provinsi ini yaitu sebesar 48,4%, melakukan melakukan pencarian informasi sebelum pemilihan. Begitupun jika dibandingkan berdasarkan jenis kelamin yang di amati bahwa pria menilai suara mereka sangat penting, terkhusus bagi pemilih berjenis kelamin pria dan memilih lebih dari satu kali, sedangkan untuk pemilih berjenis kelamin perempuan, tidak menganggap bahwa suara mereka dalam pemilihan penting apalagi jika perempuan yang merupakan pemilih pemula. Akan tetapi, seiring bertambahnya usia, tingkat pendidikan dan pendapatan, keinginan untuk meneliti calon / partai sebelum pemilihan juga meningkat. Itu bagian terbesar dari pemilih, sedangkan sebesar 28,7%, mengatakan ideologi kandidat adalah faktor yang paling berpengaruh pada preferensinya dalam pemilihan lokal.
10 Ibid 205.
14
2.2. Pemilihan Umum
Pemilihan umum dapat dikatakan sebagai sebuah aktivitas politik dimana pemilihan umum merupakan lembaga sekaligus juga praktis politik yang memungkinkan terbentuknya sebuah pemerintahan perwakilan. Seperti yang telah dituliskan di atas bahwa di dalam negara demokrasi, maka pemilihan umum merupakan salah satu unsur yang sangat vital, karena salah satu parameter mengukur demokratis tidaknya suatu negara adalah dari bagaimana perjalanan pemilihan umum yang dilaksanakan oleh negara tersebut. Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan oleh rakyat.11
Implementasi dari pemerintahan oleh rakyat tersebut adalah dengan memilih wakil rakyat atau pemimpin nasional melalui mekanisme yang dinamakan dengan pemilihan umum. Jadi pemilihan umum adalah satu cara untuk memilih wakil rakyat.12 Sebagai suatu bentuk implementasi dari demokrasi, pemilihan umum selanjutnya berfungsi sebagai wadah yang menyaring calon- calon wakil rakyat ataupun pemimpin negara yang memang benar-benar memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk dapat mengatasnamakan rakyat.
Selain sebagai suatu wadah yang menyaring wakil rakyat ataupun pemimpin nasional, pemilihan umum juga terkait dengan prinsip negara hukum (rechstaat) dan bukan kekuasaan belaka (machstaat), karena itu melalui pemilihan umum rakyat dapat memilih wakil-wakilnya yang berhak menciptakan produk hukum dan melakukan pengawasan atau pelaksanaan kehendak-kehendak rakyat yang digariskan oleh wakil-wakil rakyat tersebut. Dengan adanya pemilihan umum, maka hak asasi rakyat dapat disalurkan, demikian juga halnya dengan hak untuk sama di depan hukum dan pemerintahan.13
Pemilihan umum ternyata telah menjadi suatu jembatan dalam menentukan pemerintahan dapat dibentuk secara demokratis. Rakyat menjadi penentu dalam memilih pemimpin maupun wakilnya yang kemudian akan mengarahkan perjalanan bangsa. Pemilihan umum menjadi seperti transmision of
11Georg Sorensen, 2003. Democracy and Democratization: Processes and Prospects in a Changing World, hal 1.
12 Farid Mashudi,1993. Panduan Evaluasi Dan Supervisi Bimbingan dan Konseling. hal. 2.
13 Mahfud. MD, 1993. Pergaulan Politik dan Hukum di Indonesia. hal 23.
15
belt, sehingga kekuasaan yang berasal dari rakyat dapat berubah menjadi kekuasaan negara yang kemudian menjelma dalam bentuk wewenang-wewenang pemerintah untuk memerintah dan mengatur rakyat. Dalam sistem politik, pemilihan umum bermakna sebagai sarana penghubung antara infrastruktur politik dengan suprastruktur politik, sehingga memungkinkan terciptanya pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat.14
2.3. Fungsi Pemilihan Umum
Sebagai sebuah aktivitas politik, pemilihan umum pastinya memiliki fungsi-fungsi yang saling berkaitan, adapun fungsi-fungsi dari pemilihan umum itu sendiri adalah :
a. Sebagai sarana legitimasi politik
Fungsi legitimasi ini terutama menjadi kebutuhan pemerintah dan sistem politik. Melalui pemilihan umum, keabsahan pemerintahan yang berkuasa dapat ditegakkan, begitu pula program dan kebijakan yang dihasilkannya. Dengan begitu, pemerintah berdasarkan hukum yang disepakati bersama tak hanya memiliki otoritas untuk berkuasa, melainkan juga memberikan sanksi berupa hukuman dan ganjaran bagi siapapun yang melanggarnya. Menurut Ginsberg, fungsi legitimasi politik ini merupakan konsekuensi logis dari pemilihan umum.
Paling tidak ada tiga alasan kenapa pemilihan umum dapat menjadi suatu legitimasi politik bagi pemerintahan yang berkuasa.
Pertama, melalui pemilihan umum pada dasarnya pemerintah sebenarnya bisa meyakinkan atau setidaknya memperbaharui kesepakatan-kesepakatan politik dengan rakyat. Kedua, melalui pemilihan umum pemerintahan dapat pula mempengaruhi perilaku rakyat atau warga negara. Dan ketiga, dalam dunia modern para penguasa dituntut untuk mengadakan kesepakatan dari rakyat ketimbang pemaksaan (coercion) untuk mempertahankan legitimasinya. Gramsci (1971) menunjukkan bahwa kesepakatan (consent) yang di peroleh melalui hegemoni oleh penguasa ternyata lebih efektif dan bertahan lama sebagai sarana
14 Farid Mashudi, Op.cit hal 23.
16
kontrol dan pelestarian legtimasi dari otoritasnya dari pada penggunaan kekerasan dan dominasi.
b. Fungsi Perwakilan Politik
Fungsi ini terutama menjadi kebutuhan rakyat, baik untuk mengevaluasi maupun mengontrol perilaku pemerintahan dan program serta kebijakan yang dihasilkannya. Pemilihan umum dalam kaitan ini merupakan mekanisme demokratis bagi rakyat untuk menentukan wakil-wakil yang dapat dipercaya yang akan duduk dalam stuktur pemerintahan.
c. Pemilihan Umum Sebagai Mekanisme Bagi Pergantian atau Sirkulasi Elit Penguasa.
Keterkaitan pemilihan umum dengan sirkulasi elit di dasarkan pada asumsi bahwa elit berasal dari dan bertugas mewakili masyarakat luas atau rakyat. Secara teoritis, hubungan pemilihan umum dengan sirkulasi elit dapat di jelaskan dengan melihat proses mobilitas kaum elit atau non elit yang menggunakan jalur institusi politik, dan organisasi kemasyarakatan untuk menjadi anggota elit tingkat nasional, yakni sebagai anggota kabinet dan jabatan yang setara. Dalam kaitan itu, pemilihan umum merupakan sarana dan jalur langsung untuk mencapai posisi elit penguasa. Dengan begitu maka melalui pemilihan umum diharapkan bisa berlangsung pergantian atau sirkulasi elit penguasa secara kompetitif dan demokratis.
d. Sebagai Sarana Pendidikan Politik Bagi Rakyat
Pemilihan umum merupakan salah satu bentuk pendidikan politik bagi rakyat yang bersifat langsung, terbuka dan massal, yang diharapkan bisa mencerdaskan pemahaman politik dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang demokrasi.15
2.3.1. Elemen Sistem Pemilihan Umum
15 Harris, Syamsudin. 1998. Menggugat Pemilihan Umum Orde Baru. hal 7-10.
17
Terdapat pelbagai macam sistem pemilihan umum. Sistem pemilihan umum merupakan serangkaian peraturan di mana suara dari para pemilih di konversikan (di ubah) menjadi kursi-kursi keterwakilan politik masyarakat.16
Sistem pemilihan umum yang umumnya dikenal dalam ilmu politik adalah a. Single Member Costituency (suatu daerah pemilihan memilih satu wakil;
biasanya disebut sistem distrik).
Sistem ini merupakan sistem pemilihan yang paling tua dan di dasarkan atas kesatuan geografis. Setiap kesatuan geografis (yang disebut dengan distrik) mempunyai satu wakil dalam dewan perwakilan rakyat. Untuk itu negara di bagi kedalam sejumlah besar distrik dan jumlah wakil rakyat dalam dewan perwakilan rakyat ditentukan oleh jumlah distrik. Calon yang dalam satu distrik memperoleh suara yang terbanyak akan menang, sedangkan suara-suara yang ditujukan kepada calon lain dalam distrik itu dianggap hilang dan tidak di perhitungkan lagi, seberapa besar atau kecilnya selisih kekalahan.
Dikenal ada dua macam distrik dalam sistem pemilihan umum, yaitu : 1. Seluruh Negara menjadi satu distrik.
2. Daerah Negara dibagi ke dalam beberapa distrik.
Didalam sistem satu distrik, daftar calon-calon di jadikan satu saja untuk seluruh daerah negara, dan sedikit kemungkinan suara yang terbuang percuma.
Dalam sistem banyak distrik maka tiap-tiap satu distrik menetapkan calon- calonnya sendiri dan hanya di pilih oleh pemilih dari distrik itu saja. Dalam sistem ini bisa saja terjadi banyak suara yang terbuang percuma.17 Sistem Distrik ini memiliki beberapa kelebihan, yaitu :
1. Karena kecilnya distrik, maka wakil yang terpilih dapat dikenal oleh penduduk distrik, sehingga hubungannya dengan penduduk distrik tersebut dapat terjalin lebih erat. Kedudukan wakil tersebut akan lebih bebas
16 http://www.geocities.com/benjuinotm/artikel/sistem_pemilu/index.html, diakses pada Febuari 2019.
17 Kansil. 1986. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. hal 17-18.
18
terhadap partainya, karena pemilihan ini faktor personalitas dan kepribadian seseorang sangat penting.18
2. Sistem ini lebih mendorong kepada integrasi partai-partai politik, karena kursi yang diperebutkan dalam distrik pemilihan hanya satu. Partai partai politik akan mencoba untuk mengesampingkan perbedaan. Disamping itu juga dalam hal kecenderungan untuk membentuk partai-partai baru akan menurun atau dibendung, dan dapat di lakukan penyederhanaan partai politik tanpa paksaan.19
3. Pelaksanaan sistem distrik ini sederhana dan mudah dilakukan. Disamping itu juga biaya yang di butuhkan dalam pelaksanaannya relatif murah. 20 4. Parlemen hasil pemilihan umum sistem distrik ini akan lebih efektif dan
bertaggung jawab terhadap pemilihnya. Dan sistem distrik ini juga lebih mampu menciptakan pemerintahan yang efektif dan bertanggung jawab.21
Sistem pemilihan umum distrik selain memiliki kelebihan-kelebihan, juga memiliki kelemahan-kelemahan. Adapaun kelemahan-kelemahan dari sistem ini adalah:
1. Sistem ini kurang memperhitungkan adanya partai-partai kecil dan golongan minoritas, apalagi jika golongan ini terpencar ke dalam beberapa distrik.
2. Sistem ini kurang representatif, dalam arti bakal calon yang kalah dalam suatu distrik akan kehilangan suara-suara yang telah mendukungnya. Hal ini berarti bahwa ada sejumlah suara yang tidak di perhitungkan sama sekali kalau ada beberapa partai yang mengadu kekuatan, maka jumlah suara yang hilang dapat mencapai jumlah yang besar. Hal ini akan dianggap tidak adil bagi golongan-golongan yang dirugikan.22
18 Mariam Budiardjo 2008, Dasar-Dasar Ilmu Politik.. hal 178
19 Ibid.
20 Hermawan Kertajaya. 2001. Marketing plus 2000 : Siasat memenangkan persaingan global. hal 78.
21 M. Dhuroradin. 2004. Andai Aku Jadi Presiden, Menuju Format Indonesia Baru. hal 91.
22 Miriam Budiardjo. Op.cit, hal 177.
19
3. Terjadinya fenomena over representation dan under representation yaitu adanya ketidakseimbangan antara jumlah suara yang diperoleh dan jumlah kursi yang diperoleh partai-partai politik pada tingkat nasional. Over representation adalah dimana partai politik tertentu dapat memperoleh kursi yang lebih banyak dari pada partai lain yang sebenarnya suaranya lebih banyak, sehingga partai tersebut dipandang memperoleh berkah over representation, sebaliknya partai politik yang suaranya lebih banyak, tapi jumlah kursinya pada tingkat nasional lebih sedikit disebut menderita under representation.23
b. Multy Member Constituency (satu daerah pemilihan memilih beberapa wakil;
biasanya dinamakan proportional representation atau sistem perwakilan berimbang.
Sistem ini dimaksudkan untuk menghilangkan beberapa kelemahan yang ada pada sistem distrik. Gagasan pokoknya adalah bahwa jumlah kursi yang di peroleh oleh suatu golongan atau partai adalah sesuai dengan jumlah suara yang di perolehnya. Untuk keperluan ini di tentukan suatu perimbangan, misalnya 1:400.000, yang berarti bahwa sejumlah pemilih tertentu (dalam hal ini 400.000 pemilih) mempunyai satu wakil dalam dewan perwakilan rakyat. Jumlah total anggota dewan perwakilan rakyat ditentukan atas dasar perimbangan (1:400.000) tersebut.24
Sistem menghitung semua suara, dalam arti bahwa suara lebih yang di peroleh suatu partai politik atau golongan dalam suatu daerah pemilihan dapat di tambahkan pada jumlah suara yang di terima oleh partai politik atau golongan itu dalam daerah pemilihan lain. Sistem perwakilan berimbang ini juga sering di kombinasikan dengan beberapa prosedur lain, antara lain dengan sistem daftar (list system). Dalam sistem daftar setiap partai politik atau golongan mengajukan satu daftar calon dan si pemilih memilih salah satu daftar darinya, dan dengan demikian memilih satu partai politik dengan semua calon yang diajukan oleh partai itu untuk bermacam-macam kursi yang sedang diperebutkan.
23 Hermawan, Op.cit hal 224-225
24 Miriam Budiardjo, Loc.cit
20
Sistem perwakilan berimbang ini ada beberapa keunggulan di bandingkan dengan sistem lain, yaitu : 25
1. Tidak ada suara yang terbuang percuma, karena perhitungan dilakukan atau digabungkan secara nasional, dan kelebihan suara dapat dipindahkan kepada calon lain. sistem ini umumnya sangat disenangi oleh partai-partai kecil, dan sebaliknya umumnya tidak menyukai sistem ini.
2. Parlemen yang terpilih akan bersifat nasional dan tidak bersifat kedaerahan.
3. Sistem ini di anggap representatif karena jumlah wakil partai politik yang terpilih dalam suatu pemilihan umum sesuai dengan jumlah suara yang diperolehnya.
4. Mengakomodir semua golongan maupun partai-partai politik yang kecil untuk dapat memiliki wakil di parlemen.
Kelebihan-kelebihan yang ada pada sistem perwakilan berimbang memang menjadi suatu tersendiri dari sitem ini, akan tetapi disamping kelebihan-kelebihan tersebut sistem ini juga memiliki kelemahan-kelemahan juga seperti:
1. Untuk melaksanakan pemilihan umum dengan sistem perwakilan berimbang membutuhkan biaya yang besar dan mahal.
2. Hubungan yang terjalin antara wakil dan yang diwakilinya (pemilih) kurang erat, karena dalam pemilihan umum para pemilih hanya memilih partai politiknya saja, sehingga terkadang para pemilih tidak mengetahui siapakah wakil yang berasal dari daerahnya yang duduk di parlemen.
Kemudian wakil yang terpilih dalam pemilihan umum tersebut lebih memiliki keterikatan terhadap partai politik yang mengusungnya dari pada loyalitas terhadap daerah yang memilihnya.
3. Banyaknya partai politik yang memiliki wakil di parlemen akan mempersulit terbentuknya pemerintahan yang stabil, karena pembentukan pemerintahan tersebut didasarkan pada koalisi dua partai atau lebih. Dan
25 Mashudi, Op.cit hal 29.
21
hal ini juga akan mempersulit perumusan dan pengambilan kebijakan maupun keputusan di parlemen.26
4. Sistem ini mempermudah fragmentasi partai politik dan timbulnya partai- partai politik baru. Sistem ini menjurus kepada mempertajam perbedaan- perbedaan yang ada di antara golongan maupun partai-partai politik.
Karena itu sistem ini kurang mendorong partai-partai politik untuk bekerjasama apalagi berintegrasi.
5. Sistem ini kemudian memberikan kedudukan yang sangat kuat kepada pimpinan partai politik dalam penentuan calon-calonnya.
2.3.2. Pemilihan Kepala Daerah
Pemilihan Kepala Daerah di Indonesia berawal pada saat munculnya Undang-Undang (UU) No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan pada prinsipnya pemilihan kepala daerah secara langsung baru di selenggarakan sejak di atur oleh undang-undang tentang pemerintah daerah, hal tersebut di karenakan untuk melakukan desentralisasi terhadap sentraliasi yang telah terjadi selama masa orde baru. Banyak peristiwa yang terjadi tentang pemilihan kepala daerah secara langsung di Indonesia, salah satunya memang korupsi di daerah yang sangat massif (besar) dan tersangkanya merupakan yang berasal dari kepala daerah yang di pilih langsung oleh masyarakat.
Pilkada secara langsung memang memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan pemilihan melalui lembaga perwakilan (DPRD). Kelebihan- kelebihan itu adalah: (1) mengurangi arogansi DPRD melalui klaim sebagai satu- satunya lembaga resepresentasi rakyat, karena pemilihan kepala daerah langsung akan memposisikan kepala daerah juga sebagai representasi masyarakat lokal; (2) membatasi pengaruh konfigurasi politik DPRD kepada kepala daerah, karena akuntabilitas publik kepala daerah tidak semata-mata ditentukan oleh DPRD, tetapi oleh masyarakat lokal, (3) lebih menjamin terciptanya legitimasi pemerintahan daerah, sehingga pemerintahan daerah menjadi lebih efektif, (4)
26 Bintan Regeh, Saragih, 1998. Lembaga Perwakilan dan Pemilihan Umum di Indonesia. hal 180.
22
mengurangi praktek money politics dalam proses pilkada dan proses laporan pertanggungjawaban kepala daerah.
Dengan pemilukada secara langsung oleh rakyat, peran partai politik dan DPRD memang menjadi berkurang cukup signifikan. Hal tersebut karena pemilih yang menggantikan peran dominan kedua lembaga tersebut. Partai Politik (parpol) memang masih memainkan peranan dalam mengusung calon, namun bukan lagi satu-satunya pintu karena dengan lahirnya UU No. 12/2008 yang adalah revisi UU 32/2004, pencalonan melalui jalur perseorangan diberlakukan.
Pada pemilukada pemilih yang menentukan keterpilihan seorang kandidat, terkait dengan perilaku pemilih, August Campbel mengatakan bahwa identifikasi kepartaian/fanatisme terhadap partai merupakan temuan penting dalam pemilu, namun identifikasi kepartaian bukanlah faktor tunggal dari faktor lain yang berperan utama dalam memahami perilaku pemilih, karena faktor pemahaman terhadap isu-isu yang berkembang dalam masyarakat, citra dan poster kandidat serta situasi sosial yang sedang berjalan juga akan berpengaruh pada pemenangan kandidat. Demikian juga yang disampaikan Hugh A. Bone & Austin Ranney, yaitu bahwa “bukan hanya identifikasi kepartaian tetapi juga orientasi terhadap isu dan orientasi terhadap calon merupakan determinan yang paling penting terhadap perilaku pemilih”27. Hal ini dapat diukur melalui figur dan popularitas yang dimiliki seorang kandidat.
2.3.3. Kepala Daerah
Menurut UU No. 32 tahun 2004, pemerintahan daerah adalah pelaksanaan fungsi pemerintahan daerah yang dilakukan oleh lembaga pemerintahan daerah yaitu Pemerintahan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Hal ini berarti di dalam Pemerintahan Daerah haruslah memiliki kepala pemerintahan yang di pilih secara langsung oleh masyarakat dan di tetapkan sebagai kepala pemerintahan daerah, baik itu di Provinsi maupun di Kabupaten.
27 H. Haste & Hogan, A. 2006. Beyond conventional civic participation, beyond the moral- political divide: Young people and contemporary debates about citizenship. Journal of Moral Education, Vol 35 No 4 hal 473-474
23
Kepala daerah adalah kepala pemerintahan daerah yang dipilih secara demokratis pemilihan secara demokratis terhadap kepala daerah tersebut di selenggarakan dengan mengingat bahwa tugas dan wewenang DPRD menurut Undang-undang No. 22 Tahun 2003 tentang susunan dan kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, menyatakan antara lain bahwa DPRD tidak memiliki tugas dan wewenang untuk memilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
Kepala Daerah dalam melaksanakan tugasnya di bantu oleh seorang Wakil Kepala Daerah dan perangkat Kepala Daerah. Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dipilih secara langsung oleh rakyat yang persyaratan dan tata caranya ditetapkan dalam peraturan perundang- undangan. Pasangan calon dapat diajukan baik oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu yang memperoleh sejumlah kursi tertentu dalam DPRD, dan atau memperoleh dukungan suara dalam pemilu legislatif dalam jumlah tertentu.28
Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di pilih secara langsung oleh rakyat yang persyaratannya di tetapkan di dalam peraturan perundang-undangan.
Dalam hal ini Kepala Daerah baik di Provinsi maupun di Kabupaten berfungsi sebagai wakil pemerintah di daerah dalam arti untuk menjembatani dan memperpendek rentang kendali pelaksanaan tugas dan fungsi pemerintah termasuk dalam pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggaraan urusan pemerintahan di Provinsi, Kabupaten, maupun Kota. Adapun tugas dan fungsi kepala daerah yaitu:
1. Menyelenggarakan pemerintahan di daerah kewenangannya.
2. Membuat peraturan daerah.
3. Membuat dan menetapkan APBD.
28 Daniel S. Salossa, Mekanisme Persyaratan dan Tata Cara Pilkada, (Yogyakarta: Media pressindo, 2005) hlm15
24
4. Memberikan keterangan serta pertanggungjawaban kepada DPRD sekurang-kurangnya sekali setahun agar DPRD dapat selalu mengikuti dan mengawasi jalannya pemerintahan daerah.
2.4. Partisipasi Politik
Sebagai definisi umum dapat dikatakan bahwa partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, antara lain dengan jalan memilih pimpinan negara dan secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kebijakan pemerintah (public policy). Kegiatan ini mencakup tindakan seperti memberikan suara dalam pemilihan umum, rapat umum, mengadakan hubungan atau lobbying dengan salah satu gerakan sosial dengan direct actionnya dan sebagainya.29.
Jika membahas hal yang terkait dengan pemilihan umum maupun pemilihan tingkat lokal dalam hal ini pemlihan kepala daerah pasti tidak dapat di lepaskan dari partisipasi politik mayarakat. Partisipasi politik merupakan salah satu aspek penting dalam pelaksanaan demokrasi adapun definisi dari partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kegiatan politik, seperti memilih seorang pemimpin atau upaya-upaya yang dilakukan untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah. Kegiatan tersebut antara lain mengajukan tuntutan, membayar pajak, melaksanakan keputusan, mengajukan kritik dan koreksi atas pelaksanaan sebuah kebijakan, dan mendukung atau menentang calon pemimpin tertentu, mengajukan alternatif pemimpin, dan memilih wakil rakyat dalam sebuah pemilihan umum.30
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam proses politik salah satunya kesadaran politik dan kepercayaan kepada pemerintah (sistem politik). Berdasarkan tinggi rendahnya kedua faktor tersebut, maka partisipasi politik dapat dibagi menjadi empat tipe. Adapun tipe tersebut antara lain :31
1) Partisipasi Cenderung Aktif merupakan kondisi yang dimiliki oleh seseorang
29 Miriam Budiardjo, 2008, Dasar-dasar Ilmu Politik, hal 367.
30 Rahman, 2007, Sistem Politik Indonesia, hal 285
31 Masdiyan Putri, Zuly Qodir, Op.Cit hal 97.
25
yang memiliki kesadaran politik dan kepercayaan kepada pemerintah yang tinggi.
2) Partisipasi Cenderung Pasif - Apatis (tertekan) merupakan kondisi dimana seseorang atau masyarakat yang memiliki kesadaran politik dan kepercayaan kepada pemerintah rendah.
3) Militan Radikal, yakni kondisi yang dimiliki seseorang atau masyarakat apabila kesadaran politik tinggi tetapi kepercayaan kepada pemerintah sangat rendah.
4) Partisipasi Tidak Aktif (pasif), kondisi ini terjadi apabila kesadaran politik sangat rendah tetapi kepercayaan kepada pemerintah sangat tinggi.
2.5. Perilaku Pemilih
Dalam pemilihan kepala daerah tidak terlepas dari perilaku pemilih, secara umum perilaku pemilih merupakan sikap pemilih dalam menentukan pilihan politiknya dalam hal ini ada beberapa model dari perilaku pemilih yang dapat di lihat sebagai alasan dari pemilih dalam menentukan pilihan politiknya, menurut dari beberapa ahli, yaitu :
1. Model Sosiologis
Penjelasan perilaku memilih dengan menggunakan analisis sosiologis pertama kali dikembangkan oleh sarjana Universitas Columbia sehingga pendekatan ini dikenal juga dengan sebutan Mazhab Columbia. Asumsi dasar dari pendekatan ini adalah bahwa setiap manusia terikat di dalam pelbagai lingkaran sosial, seperti keluarga, tempat kerja, lingkungan tempat tinggal, dan sebagainya.
Setiap individu didorong untuk menyesuaikan diri sehingga perilakunya dapat diterima oleh lingkungan sosialnya. Konteks ini berlaku dalam soal pemberian suara dalam pemilu.
Menurut pendekatan ini, memilih sebenarnya bukan sepenuhnya merupakan pengalaman pribadi, melainkan suatu pengalaman kelompok. Perilaku memilih seseorang cenderung mengikuti arah predisposisi politik lingkungan
26
sosial dimana ia berada.32 Dari pelbagai ikatan sosial yang ada di tengah masyarakat, banyak sarjana ilmu politik biasanya menunjuk tiga faktor utama sebagai indeks paling awal dari pendekatan ini, yaitu: status sosial-ekonomi, agama, dan daerah tempat tinggal. Kajian mengenai perilaku memilih di Indonesia yang menggunakan pendekatan sosiologis dikenalkan pertama kali oleh Afan Gaffar. Dalam buku Javanese Voters, ia menunjukkan adanya kencenderung perilaku pemilih atau preferensi politik sosio relijius maupun sosio personal.
Sosio relijius sendiri melihat bahwa partisipasi politik dan perilaku memilih lebih didasarkan pada konteks politik aliran sedangkan yang sosio personal menitikberatkan pada konteks bapakisme berdasarkan pada hubungan paternalistik.
2. Model Psikologis
Ada tiga pusat perhatian dari pendekatan psikologis, yang pertama kali dikenalkan oleh sarjana Ilmu Politik dari Universitas Michigan, yaitu: (1) persepsi dan penilaian pribadi terhadap kandidat; (2) persepsi dan penilaian pribadi terhadap tema-tema yang diangkat; dan (3) identifikasi partai atau partisanship.
Menurut pendekatan ini, yang berpengaruh langsung terhadap pilihan pemilih bukan struktur sosial, sebagaimana dianalisis oleh pendekatan sosiologis (Mazhab Columbia), melainkan faktor-faktor jangka pendek dan jangka panjang terhadap pemilih. Orientasi terhadap isu atau tema merupakan konseptualisasi pengaruh jangka pendek yang diperkenalkan oleh pendekatan psikologis.
Isu-isu khusus hanya dapat mempengaruhi perilaku pemilih apabila memenuhi tiga persyaratan berikut ini: (1) isu tersebut dapat ditangkap oleh pemilih; (2) isu tersebut dianggap penting oleh pemilih; (3) pemilih dapat menggolongkan posisinya terhadap isu tersebut, baik positif maupun negatif.
Liddle dan koleganya, Mujani dan Ambardi, termasuk yang berpendapat bahwa faktor-faktor psikologis, terutama kepemimpinan dan identifikasi partai,
32 Dieter Roth, 2009, Studi Pemilu Empiris: Sumber, Teori-teori, Instrumen dan Metode, hal 24- 25.