• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGOPTIMALKAN KEPUASAN PELANGGAN PADA PRODUK SPRINGBED DENGAN MENGGUNAKAN QFD-ANP DAN GOAL PROGRAMMING

Rosnani Ginting1) , Khawarita Siregar

1) Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Industri Universitas Sumatera Utara 2)

E-mail: [email protected]

2) Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Industri Universitas Sumatera Utara E-mail: [email protected]

Abstrak

Perusahaan-perusahaan sejenis yang semakin banyak dan perjanjian perdagangan regional sampai internasional membuat persaingan bisnis dan pasar yang semakin besar. Persaingan globalisasi yang semakin tinggi menuntut perusahaan untuk meningkatkan kualitas dan mengurangi biaya dalam memproduksi produk sehingga dapat bersaing bahkan menang dalam kompetisi di pasar. Kualitas yang tinggi tentu saja akan memakan biaya yang tinggi pula sehingga pada saat ini kualitas haruslah berorientasi pada pelanggan. Peningkatan kualitas yang sesuai dengan harapan pelanggan akan meningkatkan kepuasan pelanggan secara maksimal dengan biaya yang minimal.PT. XYZ adalah perusahaan yang bergerak di bidang spring bed.

Kata kunci: QFD-ANP,Goal Programming, Perancangan Produk.

Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan usulan rancangan perbaikan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen dimana kebutuhan konsumen diterjemahkan dengan menggunakan Quality Function Deployment (QFD) menjadi karakteristik teknis yang dapat diintervensi oleh perusahaan. Hasil pendekatan metode QFD-ANPdan Goal Programming menunjukkan karakteristik teknis yaitu kecerahan warna matras, kecerahan warna divan, kehalusan permukaan matras, ketebalan matras, dan ukuran pegas merupakan karakteristik teknis yang penting untuk ditingkatkan.

Industri manufaktur baik yang menghasilkan produk maupun jasa saling berkompetisi satu sama lain baik secara global, nasional maupun ragional demi mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin(Karsak, 2002). Produk yang dihasilkan akan dijual dan kemudian akan dibeli oleh konsumen sesuai dengan kebutuhan dan harga yang dikehendaki oleh konsumen. Produk yang berkualitas tinggi akan memakan biaya yang tinggi pula dan belum tentu konsumen membutuhkan produk yang kualitasnya terlalu tinggi. Pandangan inilah yang membuat perusahaan harus berorientasi pada kebutuhan konsumen sehingga dapat memberikan produk sesuai dengan keinginan konsumen dan harga yang murah.

Pendahuluan

Quality Function Deployment (QFD) adalah suatu alat berorientasi konsumen yang digunakan untuk menterjemahkan keinginan konsumen ke dalam bentuk karakteristik teknis sehingga dihasilkan produk yang diinginkan konsumen dengan biaya serendah mungkin. QFD digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antara kebutuhan konsumen dengan karakteristik teknis sehingga dapat dilakukan perbaikan pada bagian paling penting (Karsak, 2002).

QFDmerupakan suatu alat yang populer dan banyak dipakai baik dalam perancangan produk maupun proses dikarenakan kemudahan dan hasilnya yang memuaskan. QFD mempunyai sifat subjektifitas peneliti yang tinggi sehingga tidak jarang hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan yang diharapkan sehingga perlu diintegrasikan dengan Analytic Networking Process (ANP) (Saaty, 2005) yang bertujuan untuk menentukan tingkat kepentingan dan hubungan antara tujuan.

Studi kasus pada penelitian ini dilaksanakan pada pabrik pembuatan produk spring bed di PT. XYZ Sumatera Utara. Penelitian dibuat karena perusahaan ingin meningkatkan kualitas produk spring bed dengan perancangan desain produk sesuai dengan kebutuhan konsumen. Langkah awal yang dapat dilaksanakan dimulai dengan cara mengidentifikasi kebutuhan konsumen terhadap produk spring bed.

Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi atribut rancangan produk dan mengetahui kebutuhankonsumenakan diterjemahkan ke dalam karakteristik teknis produk menggunakan metode QFD.

Studi Pustaka

1. Quality Function Deployment (QFD)

Quality Function Deployment(QFD) adalah suatu cara untuk meningkatkan kualitas barang atau jasa dengan memahami kebutuhan konsumen kemudian menghubungkannya dengan karakteristik teknis untuk menghasilkan suatu barang atau jasa pada setiap tahap pembuatan barang atau jasa yang dihasilkan (Ginting, 2010). QFD digunakan untuk membantu bisnis memusatkan perhatian pada kebutuhan para pelanggan mereka ketika menyusun spesifikasi desain dan pabrikasi.

QFD dikembangkan pertama kali pada tahun 1972 oleh Mitsubishi’s Shipyard di Kobe, Jepang. Inti dari QFD adalah suatu matriks besar yang akan menghubungkan apa keinginan pelanggan (What) dan bagaimana suatu produk akan didesaian dan diproduksi agar memenuhi kebutuhan pelanggan (How).

2. House of Quality (HoQ)

The House ofQuality(HoQ)adalah suatu kerangka kerja atas pendekatan dalam mendesain manajemen yang dikenal sebagai Quality Function Deployment (QFD). (Cohen,1995)

TheHouse of Quality memperlihatkan struktur untuk mendesain dan membentuk suatu siklus, dan bentuknya menyerupai sebuah rumah. Kunci dalam membangun HoQ adalah difokuskan kepada kebutuhan pelanggan, sehingga proses desain dan pengembangannya lebih sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pelanggan daripada teknologi inovasi. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi yang lebih penting dari pelanggan.

3.Analytic Network Process (ANP)

Pengambil keputusan telah mencari solusi untuk melakukan pengukuran terhadap hal yang bersifat fisik maupun psikologi. Hal yang bersifat fisik dinyatakan sebagai hal yang berwujud nyata yang dapat diukur secara objektif. Hal yang bersifat psikologi dinyatakan sebagai penilaian yang digunakan dalam mengambil keputusan yang terdiri dari ide subjektif, perasaan, dan kepercayaan baik individu maupun kelompok pengambil keputusan. Analytic Network Process (ANP) merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengukur baik dimensi fisik maupun psikologi.

ANP adalah generalisasi dari Analytical Hierarchy Process (AHP) dimana beberapa faktor dipertimbangkan secara langsung, terdapat sifat ketergantungan dan feedback, dan memerlukan pertukaran numerik untuk mendapatkan kesimpulan sintesis (Saaty, 2005).

4.Goal Programming

Goal programming memiliki beberapa tujuan numerik yang spesifik yang dibangun untuk setiap pembatas, dan solusi didapatkan dengan meminimisasi bobot penjumlahan simpangan dari fungsi tujuan sesuai denga tujuannya masing-masing(Sarker, 2008).

Goal programming memperlakukan terget sebagai tujuan yang akan berusaha dipenuhi dan bukan merupakan kendala mutlak. Goal programming kemudian berusaha untuk mendapatkan solusi optimal sesuai dengan target berdasarkan prioritasnya masing-masing. Model umum goal programming dapat dinyatakan sebagai berikut:

xj, dj

-, dj

Metode Penelitian

1. Tempat dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian di PT XYZyang bergerak di bidangmanufaktur memproduksi produk spring bedberada di Propinsi Sumatera Utara. Waktu penelitiandilaksanakandari bulan September 2013 sampai dengan Desember 2013.

2. Objek Penelitian

Jenis penelitian ini adalah suatu penyelidikan yang dilakukan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala yang ada dan mencari keterangan secara faktual untuk mendapatkan kebenaran (Sinulingga, 2011).Objek penelitian yang diamati adalah responden yang berada di wilayah kota Medan dengan syarat mengunjungi toko spring bed dan mengetahui mengenai spring bed.

3. Variabel Penelitian

Variabel penelitian ditentukan bedasarkan literatur menurut buku Product Design and Development(Ulrich,2008), dan buku Beds And Bedroom Furniture (Taunton,1997) yang menunjukkan kebutuhan konsumen

1. Warna matras , yaitu: 2. Warna divan 3. Bentuk sandaran 4. Motif matras 5. Kenyamanan busa 6. Kenyamanan kain 7. Kenyamanan pegas 8. Perawatan 4. Metode Sampling

Populasi adalah keseluruhan anggota atau kelompok yang membentuk objek yang dikenakan investigasi oleh peneliti (Sinulingga, 2011). Populasi dalam penelitian ini adalah pengguna atau calon pengguna spring bedgaya hidup menengah ke bawah di wilayah Medan.

Sampel merupakan bagian dari populasi yang diteliti. Penelitian inimenggunakan teknik convinience sampling. Convinience sampling adalah teknik sampel dimana penentuan sampel didasarkan atas kebetulan yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.

5. Instrumen dan Jumlah Sampel

Penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner. Kuesioner yang digunakan didasarkan pada bentuknya ialah kuesioner terbuka, tertutup, dan ANP. Kuesioner terbuka digunakan sebagai survei awal untuk membantu penentuan atribut kebutuhankonsumen terhadap produk spring bed dengan jumlah responden sebanyak 30 orang.Kuesioner tertutup yang digunakan adalah kuesioner dengan menggunakan skala likert yang didasarkan pada modus kuesioner terbuka dimana terdiri dari 97 orang.Kuesioner ANP yang merupakan skala perbandingan dengan jumlah responden sebanyak 1 orang.

6. Prosedur Pelaksanaan Penelitian Tahapan-tahapan dalampenelitian yaitu :

1. Studipendahuluanuntukmengetahuikondisiperusahaan, proses produksi, daninformasipendukung yang diperlukansertastudiliteratur

tentangmetodepemecahanmasalah yang digunakandanteoripendukunglainnya.Tujuannya agar mempermudah didalam

3. Menentukan derajat kepentingan karakteristik teknis(Cohen, 1995) dengan menggunakan ANP(Saaty, 2005)

4. Membangunmatriks house of quality (HoQ)(Cohen, 1995).

5. Mengoptimalkan alternatif dengan menggunakan Goal Programming. Hasil dan Pembahasan

Konsumen mempunyai kebutuhan yang ingin dipenuhinya dengan mengorbankan biaya yang minimal. Kebutuhan konsumen dibagi dalam dua dimensi yaitu kebutuhan ergonomis dan kebutuhan estetika (Ulrich, 2008). Kebutuhan konsumen spring bed berdasarkan hasil kuesioner terbuka terdiri dari 8 atribut yaitu warna matras coklat, warna divan hitam, bentuk sandaran minimalis, motif matras bunga, kriteria busa padat, kriteria pegas kuat, kriteria kain dingin, dan kemudahan perawatan matras..

Data hasil kuesioner tertutup yang memiliki skala likert(ordinal) diubah menjadi skala interval dengan menggunakan MSI( Method of Successive Interval) sehingga didapatkan skala baru yang dapat digunakan dalam pengolahan data selanjutnya. Data hasil kuesioner tertutup tersebut kemudian diuji validitas dari variabel 1 hingga variabel 8 dengan menggunakan persamaan korelasi product moment (Pearson) terhadap tingkat kepentingan konsumen. Hasil pengujian validitas data menunjukkan bahwa seluruh variabel dinyatakan valid dikarenakan koefisien korelasi product moment bernilai lebih besar dari nilai r tabel (Sinulingga, 2011). Hal ini berarti tidak perlu diadakan pergantian variabel pertanyaan dalam kuesioner karena keseluruhan variabelnya valid. Hasil pengujian reliabilitas data diketahui bahwa seluruh variabel dinyatakan reliabel dikarenakan nilai koefisiennya lebih besar dari nilai batas koefisien reliabel (0,7529>0,7). Hal ini berarti tidak perlu ada pergantian sampel kuesioner karena jawaban responden reliabel (Sinulingga, 2011).

Data hasil kuesioner ANP dilakukan uji konsistensi untuk melihat tingkat konsistensi jawaban responden. Jawaban responden dinyatakan konsisten apabila indeks ketidakkonsistenan setiap perbandingan tidak melebihi 0,1. Hasil pengujian konsistensi kuesioner ANP menunjukkan bahwa kuesioner ANP konsisten dengan indeks ketidakkonsistenan untuk setiap perbandingan bernilai kurang dari 0,1(Saaty, 2005).

Ukuran kinerja karakteristik teknis diperoleh dengan menghitung tingkat kesulitan, derajat kepentingan, dan perkiraan biaya. Tingkat kesulitan dan perkiraan biaya yang tinggi tidak menjamin karakteristik teknis tersebut memiliki derajat kepentingan yang tinggi pula. Karakteristik teknis yang memiliki tingkat kesulitan dan perkiraan biaya tertinggi adalah laju pendinginan akan tetapi derajat kepentingan laju pendinginan cukup rendah. Karakteristik teknis yang memiliki nilai kepentingan paling tinggi berdasarkan hasil QFD adalah ketebalan matras dengan derajat kepentingan sebesar 23,83%.House of Quality penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.

Konsep dasar optimisasi adalah menemukan solusi terbaik yang memungkinkan berdasarkan model atau permasalahan yang ada (Sarker, 2008). Karakteristik teknis yang perlu ditingkatkan berdasarkan hasil optimasi adalah kecerahan warna matras, kecerahan warna divan, ketebalan matras, dan ukuran pegas. Hasil yang didapat merupakan solusi optimal dimana jumlah nilai devisiasi perkiraan biaya dan derajat kepentingan berdasarkan bobotnya masing-masing adalah sebesar 0,3113 dengan menggunakan model matematika sebagai berikut:

Min :0,3333d1+ + 0,6667d2 Subject to : -0,1667x1+0,0556x2+0,1667x3+0,1667x4+0,1667x5+0,2776x6 + d1 - - d1 + 0,2033x = 0 1+0,1007x2+0,1177x3+0,2383x4+0,2342x5+0,1058x6 + d2 - - d2 + X = 1 1≤1, X1≥ 0, X2≤1, X2 ≥ 0, X3≤1, X3 ≥ 0, X4≤1, X4 ≥ 0, X5 X ≤1 5≥ 0, X6≤1, X6 d ≥ 0, 1 - ≥0, d1 + d ≥0 2 - ≥0, d2 +≥0

Warna Matras Coklat

Warna Divan hitam

Bentuk sandaran minimalis

Motif matras bunga

Kriteria busa padat

Kriteria pegas kuat

Kemudahan perawatan matras Derajat Hubungan :

V = Hubungan poitif kuat =4 √ = Hubungan positif sedang =3 x = Hubungan negatif sedang =2 X = Hubungan negatif kuat =1 - = Tidak ada hubungan = 0

Tingkat Kesulitan Perkiraan Biaya Derajat Kepentingan 3 1 3 3 3 5 16,67 5,55 27,77 20,33 Customer Requirement Technical Requirement

Kriteria kain dingin

0,7380

Kecerahan warna matras Kecerahan warna divan Kehalusan permukaan matras Ketebalan matras Ukuran pegas Laju pendinginan

V V Importance Weight 0,2500 0,1397 0,8000 0,1676 0,0944 0,7500 1,0000 0,2000 0,8000 0,2000 0,2244 0,0976 0,0661 0,6119 0,1667 0,8333 0,3873 0,2748 0,1982 2,783 2,007 2,007 2,007 4,454 3,505 4,454 3,505 V V -- -0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 16,67 16,6716,67 10,07 11,7723,83 23,42 10,58

Gambar 1. House of Quality (HOQ)

Dari Gambar 1 dapat dilihat importance weight menunjukkan total tingkat kepentingan responden terhadap suatu atribut perancangan produk(Cohen, 1995). Atribut perancangan produk spring bed yang memiliki relative weight tertinggi adalah pada jenis kriteria busa padat dan kekuatan pegas pada matras dengan nilai 4,454.

Ukuran kinerja berupa tingkat kesulitan, derajat kepentingan dan perkiraan biaya dapat dihitung berdasarkan karakteristik teknis produk. Hasil pendekatan metode QFD dan Goal Programming menunjukkan karakteristik teknis yaitu kecerahan warna matras, kecerahan warna divan, kehalusan permukaan matras, ketebalan matras, dan ukuran pegas merupakan karakteristik teknis yang penting untuk ditingkatkan. Hal ini dapat menjadi prioritas pertama pihakperusahaan sebagai acuan perbaikan rancangan produk spring bed.

Kesimpulan

QFD dapat mengintegrasikan antara keinginan konsumen dengan kemampuan perusahaan

Dokumen terkait