BAGIAN II: KUMPULAN TANYA-JAWAB
18. TIDAK MENIKAH DAN BELIEF SYSTEM N = Nurafni
18. TIDAK MENIKAH DAN BELIEF SYSTEM N = Nurafni
N = Selamat siang Pak Leo. Pak, dia lagi OL tuh. Aku sama dia diem2an, biasanya ga gt. Tp, dia udah mau ngobrol, tp ga seperti biasanya. Wah, maaf ya Pak Leo ini mungkin ga penting, nanti saya mau tanya ke Bapa lagi ah. Eh, tapi yg kemarin juga blm dijawab. L = Sure, yang mana?
N = Motivasi org yang ga ingin nikah, yang sdh mencapai tahap universal, klo ga salah. L = Begini mbak, mungkin bukan "motivasi" istilahnya, tetapi KESADARAN.
N = oooooh...
L = Kesadaran (AWARENESS) yang dimiliki oleh tiap orang itu berbeda. Ada yang kesadarannya mutlak 100 % dibentuk oleh BUDAYA. Budaya itu termasuk Tradisi, Agama, Nilai2 Teman2 Sepergaulan, Lingkungan Asal, termasuk Pendidikan.
Kalau Budaya-nya bilang semua orang harus menikah, ya dia itu akan menikah. Biarpun HATI NURANI dia itu gak mau menikah karena dipikirnya dia gak suka harus seperti itu, tetapi karena dia mau KOMPROMI dengan budaya itu, maka menikahlah.
Indonesia kita ini termasuk masyarakat yang ANEH kalau mengikuti jalan pemikiran yang TERCERAHKAN (Enlightened). Menurut kebanyakan orang Indonesia: Menikah adalah PERINTAH TUHAN. ... --Menurut aku itu MASYAALLAH. Masa Tuhan kurang kerjaan suruh orang menikah? Emangnya kalo manusia gak menikah Tuhan jadi
tersinggung? Emangnya "kemuliaan" Tuhan akan berkurang kalau manusia gak menikah? Tapi sudahlah, itu kan manusia yang mengatas-namakan Tuhan. Biar aja. Pedahal,
menurut aku sendiri, kita mau menikah atau tidak menikah is ok2 aja. Tuhan juga ok2 aja.
N = Lalu bagaimana kaitannya dg libido? atau kebutuhan "yg satu itu" ?
L = Nah, Libido kan HORMON. Hormon sex. Rasa kepengen esek2. Kalo kepengen esek2 thok, kan gak harus menikah. Esek2 bisa sendiri, bisa berdua, bisa bertiga,... dan gak harus menikah. Kawin juga esek2, cuma gak pake surat aja.
Dan esek2 itu gak harus menjadi LIAR (or lieur) seperti di masyarakat tidak beradab. We are civilized people. Kita ini masyarakat beradab, tetapi kok memaksakan orang untuk saling menjiret leher satu sama lain dalam JERUJI yang diberi nama PERNIKAHAN, dan dikenakan SANKSI HUKUM, baik "hukum" agama, sanksi2 budaya, tekanan2 lingkungan sekitar, dst,...
N = hmmmm...
L = Jadinya Ribet, ribet sekali. Pedahal, asalnya kan cuma dorongan LIBIDO itu saja. HORMON SEX itu saja. Dan itu kan simpel saja. Untuk release hormon itu, gak perlu
manusia berlainan jenis (bisa juga sesama jenis) sampai akhirnya saling MANIPULASI. Saling adu pinter siapa yang lebih bisa MENGUASAI yang satunya lagi.
N = Lalu bgmnkah sebaiknya dunia ini Pak Leo, dikaitkan dg PERNIKAHAN atau kawin? BUZZ!!!
L = Menurut aku, pernikahan is good, tapi gak perlu sampai di-PAKSA-kan sampai begitu2 amat.
N = Paksakan gmn maksudnya?
L = Kalau ada yang ingin menikah, it's good, silahkan; tapi kalau ada yang gak mau menikah atau belum mau menikah, dengan alasan apapun, seharusnya masyarakat (termasuk keluarga, teman, agama, tradisi, lingkungan, dsb...) tidak me_MAKSA_ orang itu untuk menikah.
N = Ya Pak.. SEPAKAT!
L = Gak perlu nakut-nakutin orang dengan alasan jadi Perawan Tua. Jadi Perjaka Tua (eh, laki2 gak ada yang dibilang perjaka tua yah?), dst.... Malah ada istilah Janda Muda,... kalo janda gak boleh muda. Musti kawin lagi sehingga statusnya gak lagi janda.
Emangnya kita ini apa? Itu bukan naluri lho mbak? Segala pemaksaan itu _bukan_ NALURI, dan _bukan_ pula INTUISI. Segala pemaksaan agar orang menikah itu berasal dari BELIEF SYSTEM.
Belief System adalah sistem jadi2an, buat2an orang belaka. Buatan manusia belaka. Mungkin ada gunanya, ada maksudnya ketika belief system itu pertamakali dicanangkan. Misalnya, dulu kan manusia perlu berkembang-biak (kayak hewan peliharaan yang musti dikembang-biakkan, that's true) karena jumlah orang masih sedikit. Tenaga kerja kurang. N = Yah....
L = Di Timur Tengah dulu itu, orang kalo perang, rampasan perangnya berupa manusia. N = Hm..
L = Ribuan manusia akan diangkut ke wilayah kerajaan yang memenangkan perang itu. Jadi, yang menjadi nilai adalah manusia sebagai tenaga kerja. Orang2 Yahudi itu berkali- kali diangkut dari tanah mereka. Sekali angkut ratusan ribu orang sekaligus. Dipindahkan ke tempat pemenang perang. Pernah diangkut ke Babylonia. Lalu dipulangkan kembali. Lalu diusir lagi. Begitu seterusnya. Yang jadi masalah kan manusia sebagai tenaga kerja.
L = Nah, di masa sekarang ini, dimana manusia sudah seabrek-abrek, apa masih perlu Belief System seperti itu? (termasuk Belief System Yahudi yang mengutip Allah sebagai bertitah: "Berkembang-biaklah kamu!").
N = Yah, dunia diciptakan Tuhan bukan utk itu kan Pak Leo?
L = Hm, begini mbak, lebih baik kita berbicara atas nama diri sendiri. Gak usah pakai nama "Tuhan" seperti para orang agamis itu. Kita bisa bicara kok, tanpa perlu mencatut nama "Tuhan".
N = Baiklah.
L = Kita bisa memberikan alasan yang masuk akal. Alasan yang rasional, alasan yang tidak egoistis, dsb. Dan itu bisa dilakukan even tanpa mencatut nama "Tuhan". Kenapa? Sebab konsep "Tuhan" sendiri sebenarnya buatan manusia, itu buatan budaya, itu BELIEF SYSTEM.
Tuhan memang ada, tetapi Tuhan yang asli itu kan cuma bisa dirasakan di dalam diri kita di dalam KESADARAN kita sendiri. Di dalam CONSCIOUSNESS kita.
Dan Tuhan yang kita kenal di dalam diri kita sendiri itu is really full of LOVING KINDNESS. Dan gak diktator, dan gak suka maksain pendapat kayak orang2 yang bawa2 nama "Tuhan" itu.
God is really loving, kenapa tukang catut nama God itu jadi begitu kurang ajar sehingga Tuhan menjadi punya image sebagai ILLAH yang WALLAHUALAM musti disembah en dipuji2 lebih tinggi dari langit en musti dikasih korban ini en korban itu? ... Bener2 konsep yang gak ber-Tuhan, kalao according to my humble opinion.
N = Wah Pak, ku msh blm ngerti ttg konsep Tuhan yg Pak Leo pahami. BUZZ!!! L = Hm, pengertian tentang "Tuhan" itu berbeda-beda di setiap orang. Itu ok saja. N = Yah betul Pak, mmg aku sedang "mencari".
L = Tetapi, apa Tuhan itu beda? Kalau secara teoritis, Tuhan itu sama, gak beda. Berarti apa dong yang beda? Berarti yang beda itu cuma pemahamannya kan? Pemahaman tiap orang itu beda which is ok2 aja. Pemahaman ajaran2 agama itu beda2 which is ok2 aja. Bahkan, di dalam satu agamapun, alirannya gak kehitung.
Dalam satu agama saja bisa ada ratusan aliran, dan itu pemikirannya tentang "Tuhan" berbeda-beda. Lalu, pengertian tentang "Tuhan" yang mana yang mau kita pakai? ... Tiap aliran besar dalam agama "mencatut" nama "Tuhan" dengan seenaknya. Mereka
Itu pemaksaan. Jaman dulu, bahkan juga sampai jaman sekarang di wilayah tertentu, segala perintah2 yang katanya dari "Tuhan" itu memang bisa diimplementasikan dengan Hukum Positif. Hukum manusia. Misalnya, hukum rajam, hukum cambuk, hukum mati. Semua atas nama "Tuhan".
Itu kan gak Illahiah. Tidak berperi-Ketuhanan, kalau menurut aku. Wong itu semua hasil karya manusia, segala pemikiran itu hasil karya manusia, kok nama Tuhan dicatut? Nama Tuhan dicatut untuk memberikan sanksi atas segala budaya manusia.
Tapi mereka yang hidup di waktu itu gak ngerti kan? Mereka gak ngerti bahwa segala perintah2 yang di-atasnama-kan Tuhan itu benar2 dari Tuhan, atau dari Tuhan2an. Dari Tuhan buat2an.
The TRUTH is, apa yang kita sebutkan sebagai dari Tuhan, sebenarnya berasal dari DIRI KITA sendiri. Memang bisa dari KESADARAN TINGGI yang ada di diri kita. Our HIGHER SELF. God is OUR HIGHER SELF. Tuhan kan lebih DEKAT dari URAT LEHER kita. Itu artinya apa? Artinya, kita kan BAGIAN dari TUHAN.
N = Iya...
L = Kita bagian dari Tuhan, berarti Tuhan is OUR HIGHER SELF. Nah, karena Tuhan adalah Our Higher Self tentu saja kita bisa ber-KOMUNIKASI dengan Tuhan. Nah, pengertian yang kita dapat tentu saja berlaku untuk saat itu. Pengertian yang didapat oleh para nabi itu adalah pengertian SAAT ITU.
Salahnya, para penerusnya, menyangka bahwa apa yang sudah di-WAHYU-kan SAAT ITU berlaku selama-lamanya sampai akhir jaman. Itu salah, menurut aku gak gitu. Menurut aku, Tuhan ber-KOMUNIKASI dengan MANUSIA all the time. Setiap saat, sepanjang waktu.
Dan, karena situasi kita berubah terus, maka pengertian2 itu juga BERUBAH. Ada yang berubah, dan Tuhan juga ok2 aja. Tetapi, karena ada SELF INTEREST dari orang2 tertentu untuk mempertahankan WAHYU (Tradisi, Interpretasi,...) yang berasal dari jaman baheula itu,.. maka diteruskanlah UPAYA PEMAKSAAN.
Pemaksaan, my dear, pemaksaan nilai2 yang sudah tidak pada tempatnya. Dan terjadilah clash. CULTURE CLASH. Clash karena apa yang kita pahami sekarang ternyata gak sinkron dengan apa yang DIPAKSAKAN sebagai yang seharusnya kita pahami.
Kita merasa jadi Orang Bego. Sedangkan mereka yang memaksakan Nilai2 Out of Date (Kedaluwarsa) itu minta dihormati sebagai orang yang pinter. Orang2 yang berilmu Ketuhanan or whatever they call it. Jadi itu kan hal2 yang sebenarnya, bukan saja tidak manusiawi, melainkan juga tidak ber-periketuhanan. INHUMAN and UNGODLY. N = Ya Pak.. i c
L = The fact is, kita bisa langsung komunikasi dengan Tuhan. Dan Tuhan itu tidak menghakimi manusia. Seperti hal MENIKAH itu. Kalau mau menikah is ok. Gak mau menikah juga ok. Menurut aku, Tuhan gak keberatan sama orang yang gak menikah. Menikah or gak menikah sama saja buat Tuhan. Tuhan is VERY TOLERANT. Tuhan itu sangat berperi-Ketuhanan.
Yang tidak berperi-Ketuhanan itu adalah mereka yang punya self interest untuk memaksakan pengertian mereka sendiri... --Well, I have to sign out soon. Talk to you later yah? Bye!
N = Yah Pak, thanks, nanti kita diskusi lagi, bye bye,,,
+++
19. MATA KETIGA IS MATA BATIN