BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Meningkatkan Kesadaran
Menurut Solso dkk (2008), peningkatan kesadaran tidak terjadi dengan sendirinya. Peningkatan kesadaran karena adanya objek atau peristiwa sosial yang diperoleh melalui interaksi dengan lingkungan sekitar yang menimbulkan stimulus, dan stimulus mengenai alat indra (reseptor) yang nantinya akan diteruskan ke pusat kesadaran yaitu otak. Dengan adanya stimulus tersebut diperoleh informasi, pengetahuan dan nilai-nilai yang nantinya digunakan untuk menyimpulkan, mengartikan, dan mengevaluasi konsep diri. Perubahan konsep diri tidak terjadi secara mendadak atau drastis, melainkan terjadi tahap demi tahap melalui aktifitas sehari-hari.
Keadaan lingkungan yang mendukung dalam menciptakan informasi, pengetahuan dan nilai-nilai sebagai bentuk stimulus dalam meningkatkan kesadaran sangat penting adanya. Dengan adanya keadaan lingkungan yang mendukung maka kesadaran dapat ditingkatkan.
2.4 Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Setiap pekerja adalah pribadi yang unik dan yang pastinya setiap masing-masing dari mereka memiliki persepsi yang berbeda akan aspek K3. Mungkin
7
ada yang beranggapan K3 itu penting, K3 itu merepotkan, dan sebagainya.
Disinilah peranan ahli K3 bersama manajemen untuk memberikan pengertian yang paling mendasar akan pentingnya K3 sehingga akan menciptakan kesadaran akan K3. Sistem manajemen K3 memiliki pengertian bervariasi.
Pertama, kombinasi dari perencanaan dan peninjauan ulang, pengaturan manajemen suatu organisasi, pengaturan konsultasi, dan program elemen-elemen khusus yang bekerjasama terintegrasi untuk meningkatkan kinerja keselamatan dan kesehatan kerja (Gallagher, 2000). Kedua, sistem keselamatan dan kesehatan kerja menunjuk pada perlindungan kesejahteraan fisik dengan tujuan mencegah terjadinya kecelakaan atau cedera terkait dengan pekerjaan (Malthis dan Jackson, 2002). Keselamatan dan kesehatan kerja sendiri memiliki beberapa pengertian. Pertama, K3 merupakan sebuah sistem yang dirancang untuk menjamin keselamatan yang baik pada semua personel di tempat kerja agar tidak menderita luka maupun menyebabkan penyakit di tempat kerja dengan mematuhi/ taat pada hukum dan aturan keselamatan dan kesehatan kerja, yang tercermin pada perubahan sikap menuju keselamatan di tempat kerja (Dewi, 2006). Kedua, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menurut Argama (2006) adalah suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja maupun pengusaha sebagai upaya pencegahan (preventif) timbulnya kecelakaan dan penyakit kerja akibat hubungan kerja dalam lingkungan kerja dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan dan penyakit kerja akibat hubungan kerja, dan tindakan antisipatif bila terjadi hal demikian. Miner dalam Sarina (2011) mengemukakan beberapa aspek keselamatan kerja, yaitu: (1) pelatihan keselamatan kerja, pelatihan untuk karyawan baru dan tidak terbiasa melakukan hal-hal yang termasuk dalam isi program keselamatan yang dipertimbangkan. Teknik yang digunakan untuk pelatihan keselamatan misalnya ceramah, peragaan, film, dan simulasi kecelakaan. (2) Kontes dan publisitas keselamatan, publisitas keselamatan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, yakni poster, buklet, nota khusus, dan artikel terbitan
8
perusahaan. (3) Pengontrolan lingkungan kerja, perancangan tempat kerja dan peralatan yang digunakan merupakan pendekatan utama, untuk mencegah kecelakaan dan yang paling efektif. (4) pemeriksaan dan disiplin, Beberapa bentuk pemeriksaan, misalnya dalam menyediakan peringatan awal terhadap kecelakaan dan menyediakan surat panggilan OSHA (Occupational Safety and Health Administration).
2.5 Sistem K3, Kesadaran, dan Perilaku
Sistem K3 merupakan rangkaian usaha, untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan (Suma’mur, 2001). Tempat kerja yang baik adalah tempat kerja yang aman. Lingkungan kerja yang menyenangkan dan serasi akan mendukung tingkat keselamatan. Oleh karena itu, kondisi K3 dalam perusahaan adalah pencerminan dari kondisi ketenagakerjaan dalam perusahaan. Menurut Ramli (2010:39), untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian mengenai keselamatan dan kesehatan kerja dilakukan berbagai pendekatan dan program keselamatan dan kesehatan kerja. Sehingga apabila perusahaan dan karyawan sama-sama menyadari pentingnya K3 dalam bekerja, maka potensi terjadinya kecelakaan kerja dapat diatasi. Organisasi perlu menetapkan, menerapkan dan memelihara prosedur untuk membuat orang-orang yang bekerja di bawah kendali sadar akan konsekuensi K3 manfaat-manfaat K3 dari peningkatan kinerja pribadi, peran dan tanggung jawab mereka, prosedur dan persyaratan sistem manajemen K3 serta potensi konsekuensi-konsekuensi dari prosedur-prosedur yang di spesifikasikan
Perilaku merupakan hal yang paling penting dijadikan sebagai landasan untuk mengetahui tentang performance dari karyawan tersebut. Dengan melakukan penilaian demikian, seorang pemimpin akan menggunakan uraian pekerjaan sebagai tolak ukur, bila pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan atau melebihi uraian pekerjaan, berarti pekerjaan itu berhasil dilaksanakan dengan baik. Faktor penentu
9
atau determinan perilaku manusia sulit untuk dibatasi, karena perilaku merupakan resultan dari berbagai faktor, baik internal maupun eksternal (lingkungan).
Menurut (Sunaryo, 2014) perilaku adalah aktivitas yang timbul karena adanya stimulus dan respons serta dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung.
Sedangkan, (Notoatmodjo, 2010) mendefinisikan perilaku adalah tindakan atau perilaku suatu organism yang dapat diamati dan bahkan dapat dipelajari. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku, yaitu: (1) Faktor Pendorong (predispocing factors), yakni faktor-faktor yang mempermudah atau mendahului terjadinya perilaku seseorang, antara lain: pengetahuan, persepsi, pengalaman, kepercayaan, nilai-nilai (norma, tradisi, adat istiadat, dll). (2) Faktor Pemungkin (enabling factors), yakni faktor-faktor yang memungkinkan atau memfasilitasi perilaku. Yang dimaksud dengan faktor pemungkin adalah sarana dan prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku. (3) Faktor Penguat (reinforcing factors), yakni faktor-faktor yang memperkuat atau mendorong pekerja untuk berperilaku dalam bekerja, terwujud dalam bentuk penguat yang dilakukan oleh pengawas dan supervisor.
Kesadaran setiap individu, akan menghasilkan perilaku yang berbeda-beda juga. Misalnya, perilaku pekerja yang pernah mengalami suatu kecelakaan pada saat bekerja akan cenderung membuatnya berhati-hati dalam bekerja dan memperhatikan segala sesuatu yang berhubungan keselamatan dirinya saat bekerja. Namun sebaliknya pekerja yang tidak pernah mengalami kecelakaan pada saat bekerja maka mereka akan memperhatikan/tidak sadar akan hal-hal yang beresiko kecelakaan dalam bekerja, dan perilakunya tidak akan berhati-hati dalam bekerja seperti mereka yang pernah mengalami kecelakaan (Cooper, 2002).
10 BAB 3
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi objek secara alamiah dan dalam penelitian ini peneliti adalah instrument kunci (Sugiyono, 2012). Hal ini berarti peneliti menetapkan fokus, memilih informan data, menganalisis data, serta memberikan kesimpulan.
3.2 Lokasi Penelitian
Studi dalam penelitian ini dilakukan di PT. Nindya Karya (Persero) pada pembangunan jalan tol Salatiga-Bawen
3.3 Pengumpulan Data
Jenis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder (Sugiyono, 2012). Data primer diperoleh secara langsung melalui wawancara dan data sekunder berupa data monitoring HSE Objective – K3
Strategi pengumpulan data antara lain:
1. Observasi
Observasi adalah langkah pengumpulan data dengan turun kelapangan untuk mengamati perilaku dan aktifitas individu-individu di lokasi penelitian (Creswell, 2009). Observasi yang peneliti lakukan adalah mengamati perilaku K3 pekerja.
2. Wawancara
11
Melakukan wawancara secara mendalam kepada pimpinan K3 yaitu Bapak Dedi Suprio, staff karyawan K3 yaitu bapak Bayu, 2 (dua) orang pekerja yaitu Bapak Ade sebagai operator alat berat dan Bapak Agus sebagai pekerja pengecoran. Wawancara yang dilakukan kepada Bapak Dedi dilaksanakan ketika melaksanakan tugas di lapangan. Wawancara kapada Bapak Bayu, Bapak Ade, dan Bapak Agus dilakukan ketika jam istirahat.
3.4 Analisis Data
Menurut Creswell (2010) terdapat beberapa langkah dalam menganalisis data sebagaimana berikut ini:
1. Mengolah data dan mengintrepetasikan data untuk dianalisis. Langkah ini melibatkan transkrip wawancara, menscaning materi, mengerti data lapangan atau memilah-milah dan menyusun data tersebut ke dalam jenis-jenis yang berbeda tergantung sumber informasi
2. Membaca keseluruhan data. Dalam tahap ini, menulis catatan-catatan khusus atau gagasan-gagasan umum tentang data yang diperoleh
3. Menganalisis lebih detail dengan mengkoding data. Koding merupakan proses mengolah materi atau informasi menjadi segmen-segmen tulisan sebelum memaknainya
4. Menerapkan proses koding untuk mendeskripsikan setting, orang-orang, kategori, dan tema -tema yang dianalisis
5. Menunjukkan bagaimana deskripsi dan tema-tema ini disajikan kembali dalam narasi atau laporan kualitatif
6. Menginterpretasi atau memaknai data.
Beberapa langkah dalam analisis data kualitatif di atas, diterapkan dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini data yang didapat ditulis dalam transkrip wawancara, lalu dikoding, dipilah tema-tema sebagai hasil temuan, dan selanjutnya dilakukan interpretasi data.
12 BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis akan memaparkan tentang gambaran proses peningkatan kesadaran pekerja dalam penerapan K3 di PT. Nindya Karya (Persero) yang diperoleh penulis melalui hasil temuan peneliti berdasarkan wawancara terhadap karyawan dan pekerja PT. Nindya Karya (Persero) dalam pengerjaan proyek jalan tol Bawen-Salatiga.
4.1 Gambaran umum PT. Nindya Karya (Persero)
PT Nindya Karya (Persero) merupakan perusahaan milik Negara (BUMN) yang memiliki sejarah dan pengalaman panjang pada jalur bisnis utamanya di bidang jasa konstruksi. PT. Nindya karya (Persero) merupakan hasil perusahaan Belanda NV Nederlands Aannemings Maatschappij (NEDAM) Vorheen Firma H.F.Boersma, berdasar PP. 59 tahun 1961. Berdasarkan PP No. 11/1972 dan Kepmenkeu No.
91/MK/IV/3/1973 serta akta notaris Kartini Moeljadi S.H. No. 76 tanggal 15 Maret 1973 PT. Nindya Karya ditetapkan sebagai Perusahaan Persero yaitu menjadi PT Nindya Karya (Persero). PT. NK (Persero) saat ini beroperasi di seluruh wilayah Indonesia meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jambi, Kepulauan Riau, seluruh Kalimantan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT, seluruh Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. Tercatat terdapat total 673 karyawan PT. NK seluruh Indonesia, 568 karyawan merupakan Sarjana S1 dan S2 Teknik dan Non Teknik, 105 karyawan Diploma teknik dan Non Teknik. PT. NK juga mempekerjakan pekerja tidak tetap dalam setiap pengerjaan proyek.
(nindyakarya.co.id)
Segenap pimpinan dan karyawan PT. Nindya Karya (Persero) bertekad meningkatkan Kinerja Perusahaan yang berkelanjutan untuk menjadi Perusahaan Jasa Konstruksi Lima Besar di Indonesia, mencapai pertumbuhan di atas rata-rata,
13
membangun SDM unggul dan tangguh, mewujudkan kinerja terbaik, tumbuh bersama mitra kerja, peduli kepada lingkungan, melalui penerapan: sistem manajemen mutu secara konsisten, sistem manajemen risiko dalam pencapaian hasil usaha, sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk mencegah kecelakaan dan penyakit akibat kerja, sistem manajemen lingkungan untuk menciptakan proses kerja yang ramah lingkungan, sistem manajemen perlindungan informasi untuk menjaga kerahasiaan dan menyediakan informasi yang handal, pedoman tata kelola perusahaan berdasarkan prinsip-prinsip good corporate governance (GCG) dan ketaatan dalam memenuhi peraturan perundangan yang berlaku. (nindyakarya.co.id)
Berkaitan dengan pengelolaan K3 PT. NK memiliki bagian organisasi khusus K3.
Di bawah ini merupakan gambar Struktur Organisasi K3 PT. NK :
Bagan di atas menunjukkan bahwa bagian tertinggi dari struktur organisasi K3 di PT. NK adalah kepala bagian general affairs yang memiliki tanggung jawab mengurus semua bentuk perizinan perusahaan, mengurus semua kebutuhan operasional perusahaan dan ketenagakerjaan. di bawah kepala bagian general affair terdapat pimpinan K3 yang memiliki tugas membuat perencanaan dan program pelaksanaan K3 di proyek, melakukan sosialisasi K3, dan ikut melakukan pengawasan pelaksaan K3 oleh pekerja. Sedangkan di bawah pimpinan K3 terdapat bagian pemadam kebakaran yang bertanggung jawab mengecek APAR, penyemprotan jalan berdebu dan siap siaga ketika terjadi kebakaran, di bawah pimpinan K3 juga terdapat bagian P3K yang bertugas mengecek kotak P3K, memberikan pertolongan jika terdapat kecelakaan kerja ringan dan melakukan tindak
Kepala Bagian GA
Pimpinan K3
Bagian Pemadam Kebakaran
Bagian P3K Bagian Keamanan Bagian Evakuasi
14
tanggap darurat bilamana terdapat korban yang memerlukan tindakan medis lanjut.
Bagian keamanan yang bertugas menjaga lingkungan proyek dari tindak kriminal atau kejahatan dan bagian evakuasi yang bertugas membantu menangani jika terjadi kecelakaan kerja.
4.2 Kondisi/Statistik K3 PT Nindya Karya (Persero) dalam pengerjaan proyek jalan tol Bawen-Salatiga
Di PT. NK status kecelakaan kerja dibagi menjadi tiga yaitu: ringan, berat dan fatal. Status kecelakaan pada tingkat ringan yaitu kecelakaan kerja yang penanganannya masih bisa diatasi oleh P3K dari PT. NK, contohnya: cidera karena terpeleset atau tersandung, tangan terkena pecahan, tangan terkena besi, terpukul alat pukul, terkena alat kerja, ini ditunjukkan dari pernyataan “kalo kecelakaan ringan itu pekerja tangannya terkena batu atau besi, itu paling bisa ditangani sama P3K nya kita, gak sampai masuk rumah sakit,”(Bapak Dedi, 27/02/2017). Untuk status kecelakaan pada tingkat berat yaitu kecelakaan kerja yang penanganannya harus dibawa ke rumah sakit, contohnya: terluka karena terkena alat kerja pembesian, terinjak atau tertusuk benda tajam, tertimpa material. Sedangkan kecelakaan fatal yaitu kecelakaan yang sampai menyebabkan kematian, contohnya: tersengat listrik, terjatuh dari ketinggian, terserempet atau tertabrak alat bantu kerja. Hal ini dapat dilihat dalam penjelasan berikut “kecelakaan yang sampai fatality itu terjadi sekali bulan 9 [September] kemarin, pekerjanya tertabrak dump truck yang mundur” (Bapak Dedi, 27/02/2017).
Berdasarkan data kecelakaan bulan Agustus 2016 hingga bulan Februari 2017, tercatat kecelakaan-kecelakaan kerja yang pernah terjadi PT.NK sebagai berikut:
15 Tabel 4.1
Monitoring HSE PT. Nindya Karya (Persero)
No Bulan Tahun
Sumber: Data Perusahaan PT. Nindya Karya (Persero)
16
Tabel di atas menunjukkan bahwa terdapat tren penurunan jumlah kecelakaan, dari kasus 3 korban pada bulan Agustus yaitu, 2 pekerja mengalami kecelakaan tangan terkena batu dan 1 orang mengalami kecelakaan tangan terkena besi lalu pada bulan September terdapat 2 kecelakaan kerja yaitu, 1 kecelakaan kerja fatal pekerja tertabrak dump truck dan 1 pekerja cidera karena terpeleset, sedangkan pada bulan Oktober terdapat 1 kecelakaan kerja yaitu, pekerja terkena alat kerja, dan pada bulan November 2016 hingga Februari 2017 tidak terdapat kecelakaan kerja. Dari total 6 kasus kecelakaan kerja 4 kasus merupakan kecelakaan ringan, 1 kecelakaan berat dan 1 kecelakaan fatal. Hal ini diperkuat dalam pernyataan berikut “ kecelakaan yang terjadi itu hanya kecelakaan ringan. Paling pekerjanya terkena batu atau terpukul alat pukul (Bapak Ade, 28/02/2017) juga dalam pernyataan berikut, “pekerja yang
Untuk memahami lebih jelas kondisi K3 PT.NK terkait dengan kecelakaan-kecelakaan kerja selama ini [Agustus 2016 hingga Februari 2017], maka penulis melakukan wawancara kepada beberapa informan. Wawancara ini lebih terkait upaya-upaya PT. NK dalam meningkatkan kesadaran K3 pekerja. Hasil wawancara disajikan secara tematik di bawah ini:
4.3 Sosialisasi
Upaya PT. NK dalam meningkatkan kesadaran K3 salah satunya melalui sosialisasi. Sosialisasi ini disampaikan oleh pimpinan K3 kepada para mandor setiap pagi sebelum aktivitas kerja di proyek dimulai dan nantinya setiap mandor akan menyampaikan setiap informasi yang diterima kepada para pekerjanya.
17
“Kami kasih briefing ke mandor sebelum kerja. Jadi nanti mandor yang bantu urus pekerjanya. Briefingnya itu dilakukan sebelum aktivitas dimulai, ya tentang pengarahan berkaitan tentang peralatan kerja dan keselamatan para pekerja hari ini mau kerjain apa, resikonya seperti apa, dan cara pengendaliannya bagaimana atau safety talk namanya.
Kalo ada pekerja baru kita juga lakukan safety induction sama kita kasih alat pelindung diri.”
Untuk memberikan gambaran visual proses sosialisasi, berikut merupakan dokumentasi pelaksanaan briefing:
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Berdasarkan pengamatan peneliti ketika melakukan observasi di proyek, selain sosialisasi melalui briefing, ketersedian rambu-rambu, dan slogan yang bertuliskan tentang pentingnya K3 juga dipasang sebagai bentuk sosialisasi agar pekerja dapat lebih berhati-hati ketika bekerja. Rambu-rambu ini dipasang di sepanjang akses jalan lokasi proyek, rambu-rambu tersebut berupa penunjuk arah jalan, jumlah panjang jalan pengerjaan proyek dan rambu jalur pejalan kaki.
Sedangkan untuk slogan dipasang dibeberapa tebing sepanjang lokasi proyek.
Kita juga buat rambu-rambu K3 yang dipasang di area proyek jadi truk atau alat transportasi yang lewat tahu mana daerah berbahaya,
18
jangan lewat mana, harus lewat mana. Rambu-rambu yang lain kita juga buat biar aman
Berikut contoh bentuk visual rambu-rambu dan slogan yang dipasang di sekitar area proyek:
Sumber: Dokumentasi Perusahaan
4.4 Peraturan dan Sanksi
Peraturan juga dibuat oleh PT. NK sebagai bentuk tanggung jawab kepada pekerja. Dalam penerapan peraturan juga disertai sanksi bagi pekerja yang tidak menjalankan peraturan yang ada. Beberapa peraturan K3 di PT. NK dapat dilihat dari hasil wawancara dengan Bapak Dedi Suprio:
“Untuk SOP kita sudah ada, kalau untuk standar alat pelindung diri itu kita juga sudah ditentukan dari TMJ [Trans Marga Jateng] atau dari sini itu kita juga sudah bikin standar APD [Alat Pelindung Diri]. Alat pelindung diri yang disediakan dan wajib untuk digunakan berupa helm, safety shoes, sarung tangan, sesuai jumlah pekerja dan resiko kerjanya. Jika bekerja di ketinggian juga wajib menggunakan body harnest agar aman. Jadi kalau di sini, ya ada punishment untuk penggunaan alat pelindung diri kalau sudah keterlaluan diomongi sekali dua kali gak bisa baru dikasih sanksi. Sanksinya itu kita beri denda untuk pekerja yang gak pakai APD lengkap, kalau gak pakai
19
helm denda Rp.50000, gak pake rompi denda Rp.50000 juga kalau gak pake sepatu boot denda Rp. 100000 tapi ya tergantung mandornya mau kasih denda apa tidak, tapi hampir 80 persen pekerja NK pakai APD.”
Berdasarkan keterangan Bapak Dedi di atas secara umum PT. NK sudah memiliki system peraturan dan sanksi yang tergolong baik, hanya pada penjelasan terakhir terdapat pernyataan bahwa pemberian denda diserahkan pada keputusan mandor yang bisa saja dalam penerapannya tidak tegas sesuai dengan sanksi yang ada, yang berarti kurang ketegasan di dalam penerapannya sehingga bisa berakibat pada besarnya pelanggaran oleh para pekerja.
4.5 Pengendalian dan Pengawasan
Di samping pemberian sosialisasi dan penerapan peraturan dan sanksi, pengendalian dan pengawasan juga merupakan upaya PT. NK untuk meningkatkan kesadaran K3. Pernyataan mengenai pengendalian dan pengawasan dapat dilihat dari hasil wawancara dengan Bapak Bayu:
“Tugas kami dari pelaksana K3 itu mulai dari keluar kantor, sebelum aktivitas kerja proyek dimulai pelaksana K3 melakukan pengecekan, mulai dari pemeriksaan isi kotak P3K, pengecekan rambu-rambu K3 setelah semua terpenuhi nanti pak Dedi pimpinan K3 melakukan briefing kepada para mandor sedangkan kami para karyawan K3 melakukan pengecekan alat berat, pengecekan APAR (alat pemadam api ringan) yang berada di exavator, dan alat-alat kerja lain memastikan semuanya memenuhi standard. Setelah semua selesai kita keliling lapangan untuk pengawasan penggunaan APD sama kerjain tugas yang lain.”
Pernyataan tersebut didukung oleh Bapak Dedi yang menyatakan:
20
“Kita ada 5 orang dari K3, nanti dibagi tugas untuk keliling area proyek.
Pengawasan untuk penggunaan APD dan lingkungan kerja, namanya safety patrol. Bagian K3 juga ada yang bertugas semprot jalan pakai air, biar gak berdebu, kan kalau kena mata sama kehirup bikin gak sehat.”
Para pelaksana K3 selalu ada di proyek dalam rangka melakukan pengawasan kepada pekerja. Hal ini juga disampaikan oleh Bapak Ade:
“K3 itu kan yang kasih pengawasan kita yang di proyek sama yang ngatur-ngatur terus ya pasang rambu, jadi ya kerjaannya pada negur-negur sama ngatur lalu lintas. Kalo orang-orang K3 ya gak ada berhentinya dilapangan, muter terus".
Begitu juga yang disampaikan oleh Bapak Agus:
“Kalo pas K3 lewat ada yang tidak pakai APD sesuai biasanya ya ditegur, APD nya mana, misal helmnya mana gitu. Sama mandor biasanya juga negur ya nanti APD nya langsung pada dipakai.”
4.6 Pembahasan
Merujuk tabel 4.1 temuan penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kesadaran pekerja akan K3 tetapi itu tidak terjadi dengan sendirinya dan dalam waktu yang singkat. Hal ini dijelaskan dengan adanya sistem K3 yang dibangun oleh PT. NK serta dijalankan setiap mengerjakan proyek. Sistem yang dijalankan oleh PT. NK dalam meningkatkan kesadaran akan K3 tersebut berupa pemberian sosialisasi mengenai K3 kepada pekerja khususnya pekerja baru, pembuatan peraturan dan pemberian sanksi, serta melakukan pengendalian dan pengawasan dalam pelaksanaan K3 oleh pekerja. Pada bagian sebelumnya sudah dikemukakan bahwa ada statistik yang menjelaskan terjadi 6 kecelakaan kerja dengan
21
1 pekerja meninggal, statistik juga menunjukkan tingkat kecelakaan kerja menurun.
Penelitian Khayati (2012) juga menunjukkan bahwa untuk meningkatkan kesadaran siswa SMP dalam mengendarai sepeda motor di bawah usia belum diperbolehkan dan merupakan larangan serta melanggar peraturan sekolah maupun lalu lintas butuh bimbingan sehingga kesadaran itu bisa dibentuk. Dengan dilakukan bimbingan jumlah siswa yang megendarai sepeda motor ke sekolah mengalami penurunan.
Kesadaran akan K3 diwujudkan dari perilaku pekerja dalam bekerja. Pekerja yang pernah mengalami suatu kecelakaan pada saat bekerja maka akan lebih berhati-hati dalam bekerja dan memperberhati-hatikan segala sesuatu yang berhubungan dengan keselamatan dirinya saat bekerja dibanding dengan pekerja yang belum pernah mengalami kecelakaan pada saat bekerja. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Fikriyah (2016) yang menyatakan siswa yang pernah mengalami kecelakaan ketika mengendarai sepeda motor akan lebih berhati-hati dengan menerapkan safety riding dan mentaati peraturan lalu lintas dibanding dengan siswa yang belum pernah mengalami kecelakan ketika berkendara. Hal tersebut juga didukung oleh pernyataan Cooper (2002), orang sering berperilaku tidak aman karena orang tersebut belum pernah cidera saat melaksanakan pekerjaanya dengan tidak aman.
Dalam usaha meningkatkan kesadaran pekerja akan penerapan K3 PT. NK memberikan sosialisasi secara rutin yang dilaksanakan setiap pagi oleh pimpinan K3 kepada para mandor atau yang disebut dengn safety talk, tujuan dari safety talk adalah untuk mengingatkan pekerja akan potensi-potensi bahaya di tempat kerja dan
Dalam usaha meningkatkan kesadaran pekerja akan penerapan K3 PT. NK memberikan sosialisasi secara rutin yang dilaksanakan setiap pagi oleh pimpinan K3 kepada para mandor atau yang disebut dengn safety talk, tujuan dari safety talk adalah untuk mengingatkan pekerja akan potensi-potensi bahaya di tempat kerja dan