• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII. KINERJA PENYELENGGARAAN BIDANG URUSAN Penetapan indikator kinerja Dinas Kesehatan mengacu pada tujuan

TUJUAN DAN SASARAN RPJMD

18 Meningkatnya cakupan rawat inap

Puskesmas

% 0,6 0,7 0,8 0,9 1,0 1,5

b. Indikator Kinerja Utama (IKU)

Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Laporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah mewajibkan setiap organisasi pemerintahan, baik di pusat maupun di daerah menyusun laporan keuangan berbasis kinerja. Dalam menyusun laporan keuangan tersebut, diperlukan satuan dan ukuran yang disebut dengan Indikator Kinerja. Perkembangan Indikator kinerja diawali sejak terbitnya Inpres Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah hingga terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah.

Berbagai definisi indikator sering menyulitkan Pemerintah Daerah dalam menyusun laporan keuangan daerah. Secara umum ada dua kelompok indikator kinerja, yaitu : kelompok pertama dikenal dengan sebutan Indikator Kinerja Kunci (IKK), kelompok kedua dikenal dengan sebutan Indikator Kinerja Utama (IKU).

IKK lahir sebagaimana amanat Peraturan Pemerintah Nomor : 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah, sedangkan Indikator Kinerja Utama (IKU) merupakan amanat Peraturan Menteri Negara

VI-14 Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : PER/09/M.PAN/5/2007 tanggal 31 Mei 2007 tentang Pedoman Umum Penetapan Indikator Kinerja Utama.

Dalam penerapannya kedua indikator, baik IKK maupun IKU sering membingungkan pemerintah daerah, apalagi pasal 1 ayat 19 Peraturan Pemerintah Nomor : 6 Tahun 2008 menyatakan: ” Indikator Kinerja Kunci (IKK) adalah indikator kinerja utama yang mencerminkan keberhasilan penyelenggaraan suatu urusan pemerintahan ”. Dengan demikian akan timbul pertanyaan, apakah IKK dalam Peraturan Pemerintah Nomor : 6 Tahun 2008 sama dengan IKU pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : PER/09/M.PAN/5/2007 Agar tidak terjadi kerancuan dalam memilih IKU, maka berikut ini diuraikan sekilas tentang IKU dan cara penyusunan dalam perencanaan strategis dan Penyusunan LAKIP.

Terdapat banyak definisi mengenai indikator kinerja. Indikator kinerja ada yang didefinisikan sebagai nilai atau karakteristik tertentu yang digunakan untuk mengukur output atau outcome. Indikator kinerja juga didefinisikan sebagai alat ukur yang digunakan untuk derajat keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya. Definisi lain menjelaskan bahwa indikator kinerja adalah suatu informasi operasional yang berupa indikasi mengenai kinerja atau kondisii suatu fasilitas atau kelompok fasilitas, dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Indikator kinerja merupakan ukuran yang menjelaskan mengenai kinerja, hal-hal yang direncanakan akan menjadi kinerja suatu organisasi akan diukur keberhasilan pencapaiannya dengan menggunakan indikator kinerja. Indikator kinerja dapat terdiri dari angka dan satuannya. Angka menjelaskan mengenai nilai (berapa) dan satuannya memberikan arti dari nilai tersebut (apa).

Indikator kinerja dapat dinyatakan dalam bentuk pernyataan kualitatif atau kuantitatif. Agar bermanfaat, kedua jenis indikator kinerja tersebut harus memenuhi karakteristik kinerja yang baik. Indikator kinerja kualitatif merupakan indikator kinerja yang dinyatakan dalam bentuk kalimat tanpa ada unsur kuantitatif dan menunjukkan kualitas sesuatu. Indikator kinerja

VI-15 kualitatif ini dipilih jika perencana kesulitan dalam menyatakan indikator kinerja secara kuantitatif. Fenomena ini biasanya timbul pada saat menetapkan indikator tujuan, seperti mengenai kepuasan pengguna jasa.

Dalam mengukur keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan pemerintahan, perlu memperhatikan Indikator Kinerja Utama (IKU) yang sering pula disebut

Key Performance Indicator. Dalam ketentuan umum Peraturan Menteri

Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : PER/09/M.PAN/5/2007 tanggal 31 Mei 2007 tentang Pedoman Umum Penetapan Indikator Kinerja Utama disebutkan Kinerja Instansi Pemerintah adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian sasaran atau tujuan instansi pemerintah yang mengindikasikan tingkat keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program dan kebijakan yang ditetapkan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : PER/09/M.PAN/5/2007 setiap unit kerja mandiri wajib menyusun Indikator kinerja utama.

IKU ditetapkan sebagai acuan ukuran kinerja yang dipergunakan oleh Pemerintah Kabupaten dan masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Daerah. IKU digunakan dasar untuk menetapkan Rencana Kinerja Tahunan, menyusun Rencana Kerja dan Anggaran, menyusun dokumen Penetapan Kinerja, menyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) serta melakukan evaluasi penyampaian kinerja sesuaii dengan dokumen Rencana Pembangunan.

Pemilihan Indikator kinerja pada pemerintah kabupaten/kota sebaiknya menggunakan indikator kinerja pada tinggkat outcome dan menggambarkan keberhasilan instansi pemerintah secara keseluruhan organisasi. Keberhasilan instansi pemerintah merupakan keberhasilan bersama dari beberapa unit kerja yang ada di lingkungan instansi pemerintah tersebut, dengan kata lain, pemilihan indikator kinerja pada pemerintah daerah bukan sekedar gabungan dari berbagai indikator kinerja pada unit kerja pendukungnya.

VI-17 Tabel 6.2

Rincian Indikator Kinerja Utama Dinkes Kabupaten Mura Tahun 2016-2021

1 Cakupan rawat jalan Puskesmas (%)

Jumlah Kunjungan pasien br rawat jalan di puskesmas dlm kurun waktu ttu

x 100 %

% Dinas

Kesehatan Jumlah penduduk disatu wilayah dalam kurun waktu yg sama

2 Cakupan rawat inap Puskesmas (%)

Jumlah Kunjungan pasien br rawat inap di puskesmas dlm kurun waktu ttu

x 100%

% Dinas

Kesehatan Jumlah penduduk disatu wilayah dalam kurun waktu yg sama

3 Umur harapan hidup (Tahun )

Secara ideal, Angka Harapan Hidup dihitung berdasarkan Angka Kematian Menurut Umur (Age Specific Death Rate/ASDR) yang datanya diperoleh dari catatan registrasi kematian selama

bertahun-tahun yang memungkinkan dibuat Tabel Kematian. Tetapi karena sistem registrasi penduduk di indonesia belum berjalan dengan baik maka untuk menghitug Angka Harapan Hidup digunakan cara tidak

langsung dengan menggunakan program Mortpak Lite.

tahun Dinas Kesehatan

42 Angka kematian bayi Jmlah kematian bayi sejak lahir hingga usia

Per 1000

Dinas Kesehatan

VI-18

1 tahun oleh karena proses persalinan atau penyakit

x 1000

kelahi ran hidup Jmlah kelahiran hidup di satu wilayah kerja dalam kurun waktu yg

sama

43

Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan

Jmlah balita gizi buruk mendapat perawatan disarana %

Dinas Kesehatan pelay.kes. disatu wil,kerja pd kurun waktu tertentu

x 100 %

Jmlah seluruh balita gizi buruk yg ditemukan disuatu

wilayah kerja dalam waktu yg sama 44 Rasio posyandu per satuan

balita per 10000 penduduk (%) Jumlah Posyandu x 10.000 Bh/10 .000 Pddk Dinas Kesehatan Jumlah balita

45 Rasio Rumah Sakit per

satuan penduduk Jumlah Rumah Sakit

x 10.000 Bh/10 .000 Pddk Dinas Kesehatan Jumlah Penduduk

VI-19 46 Rasio Dokter per satuan

penduduk Jumlah dokter x 10.000 Org/10.000 Pddk Dinas Kesehatan Jumlah penduduk 47

Rasio tenaga medis per satuan penduduk

Jumlah tenaga Medis

x 10.000 Org/1 0.000 Pddk Dinas Kesehatan Jumlah Penduduk 48 Cakupan pelayanan

kesehatan dasar masyarakat miskin

Jumlah kunjungan pasien miskin di sarana kesehatan strata 1

x 100%

% Dinas

Kesehatan

Jumlah seluruh masyarakat miskin di kabupaten

49 Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin

Jumlah kunjungan pasien di sarana kesehatan strata 1

x 100%

% Dinas

Kesehatan

Jumlah seluruh miskin Kabupaten / Kota

50

Cakupan pemberian

makanan pendamping ASI pada anak usia 6 - 24 bulan keluarga miskin

Jumlah anak usia 6-24 bln keluarga miskin yg mendapat MP-ASI

x 100%

% Dinas

Kesehatan

Jumlah seluruh anak usia 6-24 bln keluarga miskin

51

Persentase Sistem

penyediaan air minum yang memenuhi standar kualitas

Jumlah Sistem penyediaan air minum yg diawasi yg memenuhi standar kualitas kesehatan

% Dinas

VI-20

kesehatan x 100 %

Jumlah seluruh system penyediaan air minum yg diawasi

52 Pesentase Tempat-Tempat Umum (TTU) yang

memenuhi syarat kesehatan

Jumlah tmpt umum yg diawasi yg memenuhi syarat hygiene sanitasi

x 100% %

Dinas Kesehatan

umum yg diawasi Jlh tempat

53 Persentase tempat

pengelolaan makanan yang memenuhi syarat kesehatan

Jumlah tmp pengelolaan makanan yg diawasi yg memenuhi syarat kesehatan x 100% % Dinas Kesehatan

Jumlah seluruh tempat pengelolaan makanan yg diawasi

54

Persentase rumah sehat

Jumlah Rumah yang memenuhi persyaratan sanitasi disuatu wilayah

x 100%

%

Dinas Kesehatan

Jumlah rumah disuatu wilayah

55

Persentase data program kesehatan yang up to date, valid, lengkap dan

terintegrasi

Jumlah laporan yg masuk

x 100%

% Dinas

VI-22 6.2. Kondisi yang diharapkan

Pembangunan kesehatan yang diharapkan di Kabupaten Musi Rawas dapat meningkatkan status kesehatan masyarakat. Kinerja Dinas kesehatan Kabupaten Musi Rawas diharapkan antara lain :