• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meningkatnya pelestarian lingkungan hidup

AKUNTABILITAS KINERJA

Sasaran 17 Meningkatnya pelestarian lingkungan hidup

5. DAS Silaut

Dari 5 (lima) DAS utama tersebut, terdapat 4 (empat) sub DAS,yang terdiri dari :

1. Sub DAS Batang Merangin Tembesi 2. Sub DAS Batang Tabir

3. Sub DAS Batang Tebo 4. Sub DAS Batanghari

Umumnya sungai dan anak sungai tersebut bermuara di Danau Kerinci. Sungai terbesar di Kabupaten Kerinci adalah sungai Batang Merangin yang mengalir dari Danau Kerinci, dengan debit air yang cukup tinggi dan stabil sepanjang tahun.

Selain itu terdapat 30 (tiga puluh) sungai lain yang terdapat di Kabupaten Kerinci, yakni :

1. Sungai Sikai 2. Sungai Rumpun 3. Sungai Tanduk 4. Sungai Cubadak 5. Sungai Dadap

6. Sungai Simpang Tutup 7. Sungai Siulak Deras 8. Sungai Koto Rendah 9. Sungai Bukit Sembahyang 10.Sungai Dusun Baru

11.Sungai Pendung Mudik 12.Sungai Air Patah 13.Sungai Terung 14.Sungai Semurup 15.Sungai Tutung 16.Sungai Hiang

17.Sungai Batang Sangir 18.Sungai Betung Kuning 19.Sungai Cupa

21.Sungai Talang Kemulun 22.Sungai Lubuk Pagar 23.Sungai Tapan 24.Sungai Air Jernih 25.Sungai Air Terjun 26.Sungai Air Lintah

27.Sungai Talang Kemuning 28.Sungai Rawa Air Lingkat 29.Sungai Lempur

30.Sungah Renah Sako

Selain bermuara di Danau Kerinci, sebagai sungai ini mengalir ke wilayah Provinsi Sumatera Barat, seperti Sungai Air Terjun yang mengalir kearah Kabupaten Solok Selatan dan Sungai Batang Sako yang mengalir kearah Kabupaten Pesisir Selatan.

Air merupakan sumber daya alam yang memenuhi hajat hidup orang banyak sehingga perlu dilindungi agar dapat tetap bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya. Untuk menjaga atau mencapai kualitas air sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan sesuai dengan tingkat mutu air yang diinginkan, maka perlu upaya pelestarian dan atau pengendalian. Pelestarian kualitas air merupakan upaya untuk memelihara fungsi air agar kualitasnya tetap pada kondisi alamiahnya.

Pelestarian kualitas air dilakukan pada sumber air yang terdapat di hutan lindung. Sedangkan pengelolaan kualitas air pada sumber air di luar hutan lindung dilakukan dengan upaya pengendalian pencemaran air, yaitu memelihara fungsi air sehingga kualitas air memenuhi baku mutu air.

Air sebagai komponen lingkungan hidup akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh komponen lainnya. Air yang kualitasnya buruk akan mengakibatkan kondisi lingkungan hidup menjadi buruk sehingga akan akan mempengaruhi kondisi kesehatan dan keselamatan manusia serta kehidupan makhluk hidup lainnya. Penurunan kualitas air akan menurunkan dayaguna, hasil guna,

produktivitas, daya dukung dan daya tampung dari sumber daya air yang pada akhirnya akan menurunkan kekayaan sumber daya alam (natural resources depletion).

Air sebagai komponen sumber daya alam yang sangat penting maka harus digunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Hal ini berarti bahwa penggunaan air untuk berbagai manfaat dan kepentingan harus dilakukan secara bijaksana dengan memperhitungkan kepentingan generasi masa kini dan masa depan. Untuk itu air perlu dikelola agar tersedia dalam jumlah yang aman, baik kuantitas maupun kualitasnya, dan bermanfaat bagi kehidupan dan perikehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya agar tetap berfungsi secara ekologis, guna menunjang pembangunan yang berkelanjutan. Disatu pihak, usaha atau kegiatan manusia memerlukan air yang berdayaguna, tetapi di pihak lain berpotensi menimbulkan dampak negatif, antara lain berupa pencemaran yang dapat mengancam ketersediaan air, daya guna, daya dukung, daya tampung dan produktivitasnya. Agar air dapat bermanfaat secara lestari dan pembangunan dapat berkelanjutan, maka dalam pelaksanaan pembangunan perlu dilakukan pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air.

Dampak negatif pencemaran air mempunyai nilai (biaya) ekonomik, disampaing nilai ekologik, dan sosial budaya. Upaya pemulihan kondisi air yang tercemar, bagaimanapun juga akan memerlukan biaya yang mungkin lebih besar dibandingkan dengan nilai kemanfaatan finansial dari kegiatan yang menyebabkan pencemarannya. Demikian pula dengan kondisi air yang tercemar dibaiarkan (tanpa upaya pemulihan) juga mengandung ongkos, mengingat air yang tercemar akan menimbulkan biaya untuk menanggulangi akibat atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh air yang tercemar.

Berdasarkan definisinya, pencemaran air yang diindikasikan dengan turunnya kualitas air sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya.

Yang dimaksud dengan tingkat tertentu tersebut diatas adalah baku mutu air yang ditetapkan dan berfungsi sebagai tolok ukur untuk menentukan telah terjadinya pencemaran air, juga merupakan arahan tentang tingkat kualitas air yang akan dicapai atau dipertahankan oleh setiap program kerja pengendalian pencemaran air.

Penetapan baku mutu air selain didasrakan pada peruntukan (designated financial water uses), juga didasarkan pada kondisi nyata kualitas air yang mungkin berada antara satu daerah dengan daerah lainnya. Oleh karena itu, penetapan baku mutu air dengan pendekatan golongan peruntukkan perlu disesuaikan dengan menerapkan pendekatan klasifikasi kualitas air (kelas air). Penetapan baku mut air yang didasarkan pada peruntukan semata akan menghadapi kesulitan serta tidak realistis dan sulit dicapai pada air yang kondisi nyata kualitasnya tidak layak untuk semua golongan peruntukan.

Dengan ditetapkannya baku mutu air pada sumber air dan memperhatikan kondisi airnya, maka akan dapat dihitung beberapa beban zat pencemar yang dapat ditenggang adanya oleh air penerima sehingga air dapat tetap berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Beban pencemaran air ini merupakan daya tampung beban pencemaran air bagi air penerima yang telah ditetapkan peruntukannya.

Pada tahun 2016, target capaian kualitas air permukaiaan di Kabupaten Kerinci berada di Kelas II berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001. Kualitas air Kelas II adalah air yang peruntukannya dapat digunakan untuk sarana/prasarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

Pengukuran target dilakukan dengan cara membandingkan kualitas air dengan baku mutu air Kelas II.

Tabel 3.15.

Hasil Pengukuran Kualitas Air Tahun 2016

No. Parameter Hasil Uji Baku

Mutu 1 2 3 4 1 DHL 67 79 38,5 31,2 (-) 2 TDS 40 48 20 12 1000 3 TSS 45 30 25 7 50 4 pH 6,58 6,40 6,53 6,62 6-9 5 BOD 2,82 2,82 2,82 2,42 3 6 COD 18 20 19 16 25 7 Phosfat 0,05 0,05 0,05 0,029 0,2 8 Nitrat 0,253 0,553 0,273 0,400 10 9 Nitrit 0,027 0,031 0,1010 0,021 0,06 10 Amoniak 0,330 0,326 0,274 0,059 (-) 11 Calcium 27 34 15 8,48 (-) 12 Magnesium 3,34 3,72 1,50 1,20 (-) 13 Natrium 3,57 3,75 4,06 4,15 (-) 14 Cromium < 0,001 < 0,001 < 0,001 < 0,001 0,05 15 Tembaga < 0,008 < 0,008 < 0,008 < 0,008 0,02 16 Besi 0,396 0,213 0,821 0,162 (-) 17 Timbal < 0,03 < 0,03 < 0,03 < 0,03 0,03 18 Mangan < 0,01 < 0,01 < 0,01 < 0,01 (-) 19 Seng < 0,003 < 0,003 < 0,003 < 0,003 0,05 20 Sufat 2,40 3,80 2,00 < 0,4 (-) 21 Sulfida < 0,01 < 0,01 < 0,01 < 0,01 0,002

22 Minyak & Lemak < 2 < 2 < 2 < 2 1

23 Detergen < 0,03 < 0,03 < 0,03 < 0,03 0,2

24 Fenol < 0,003 < 0,003 < 0,003 < 0,003 0,001

25 Sianida < 0,004 0,009 < 0,004 < 0,004 0,02

26 E. Coli 880 900 700 650 1000

27 Total Coliform 2100 2300 2600 2200 5000

Sumber : Badan Lingkungan Hup Kab. Kerinci Tahun 2016

Berdasarkan hasil pengujian kualitas air, target capaian untuk kualitas air permukaan pada tahun 2016, maka target kualitas permukaan air tahun 2016 di Kelas II, tercapai dengan persentase capaian sebesar 100%. Hal yang sama juga terjadi pada tahun 2015, dimanakualitas air permukaan pada tahun 2015 berada di Kelas II.

Tidak tercapainya target yang ditetapkan pada tahun 2016 ini, diakibatkan oleh beberapa factor antara lain banyaknya usaha pertambangan batuan (sirtu) yang melakukan aktifitas di perairan, masih banyak masyarakat yang melakukan aktifitas MCK di perairan, air limbah domestic yang dibuang ke perairan tanpa diolah di IPAL, serta masih banyaknya masyarakat yang menggunakan pupuk kimia dalam kegiatan pertanian.

Untuk mengatasi permasalaha tersebut kedepannya melalui instansi terkait diharapkan agar dapat menertibkan kegiatan usaha pertambangan batuan (sirtu), melakukan pembinaan masyarakat agar membuat dan memanfaatkan WC di rumah, mengolah limbah domestic sebelum dibuang ke perairan, serta mengarahkan masyarakat untuk menggunakan pupuk organic dalam kegiatan pertanian.

Guna menunjang pencapaian target kualitas air permukaan Kelas II, Pemerintah Kabupaten Kerinci pada tahun 2016 melaksanakan beberapa program pendukung, yakni:

Kerusakan tanah untuk produksi biomassa

Tanah sebagai salah satu komponen lahan, bagian dari ruang daratan dan lingkungan hidup dalam wilayah kedaulatan Republik Indonesia, merupakan karunia Tuhan Yang Maha esa kepada bangsa Indonesia. Tanah memiliki banyak fungsi dalam kehidupan. Disamping sebagai ruang hidup, tanah memiliki fungsi produksi, yaitu antara lain sebagai penghasil biomassa, seperti bahan makanan, serat, kayu, dan bahan obat-obatan. Selain itu, tanah juga berperan dalam menjaga kelestarian sumber daya air dan kelestarian lingkungan hidup secara umum.

Karena itu, bangsa Indones berkewajiban untuk mempertahankan dan meningkatkan fungsi tanah, dengan tujuan melestarikan dan meningkatkan produksi dan pelestariannya. Hal ini berarti bahwa pemanfaatan tanah harus dilakukan dengan bijaksana dengan memperhitungkan kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. Agar tanah dapat bermanfaat secara berkelanjutan dengan

tingkat mutu yang diinginkan, maka kegiatan pengendalian perusakan tanah menjagi sangat penting.

Indonesia adalah negara agraris dengan sebagian besar penduduknya bergantung pada sektor pertanian, termasuk juga masyarakat di Kabupaten Kerinci. Oleh karena itu adanya kriteria baku kerusakan tanah untuk produksi biomassa (pertanian, perkebunan, dan hutan tanaman) sangat diperlukan. Penekanan pada produksi biomassa juga didasarkan pada pertimbangan bahwa kegiatan produksi biomassa sangat mutlak mempersyaratkan mutu tanah sebagai media pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.

Kerusakan tanah untuk produksi biomassa dapat terjadi karena tindakan orang, baik diareal produksi biomassa maupun karena adanya kegiatan lain diluar areal produksi biomassa yang dapat berdampak terhadap terjadinya kerusakan tanah untuk produksi biomassa. Selain dari pada itu, kerusakan tanah dapat pula terjadi akibat proses alam.

Pada tahun 2016, Pemerintah Kabupaten Kerinci melalui SKPD terkait menargetkan pencegahan dan pemeliharaan tanah untuk produksi biomassa dari pencemaran, sesuai dengan Baku Mutu Lingkungan (BML) sebagaimana dimaksud pada Peraturan Pemerintah Nomor 150 Tahun 2000. Cara mengukur pencapaian target adalah dengan membandingkan hasil pemantauan dengn Baku Mutu Lingkungan (BML). Dengan menggunakan rumus penghitungan tersebut, maka pada tahun 2016 Baku Mutu Lingkungan di Kabupaten Kerinci berada dalam keadaan baik. Dengan demikian, target yang ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja Pemerintah Kabupaten Kerinci Tahun 2016 dapat tercapai, dengan persentase capaian sebesar 100%

Kondisi yang sama juga terjadi pada tahun 2015, dimana target Baku Mutu Lingkungan (BML) juga berada dalam keadaan baik atau dengan capaian sebesar 100%.

Kegiatan pemeliharan dan pencegahan pencemaran maupun kerusakan tanah untuk produksi biomassa ini dilakukan melalui beberapa program antara lain :

1. Program Pemantauan, Pengawasan, dan Pengendalian Lingkungan Hidup, dengan capaian realisasi fisik dan keuangan pada tahun 2016 sebesar 97,37%, dimana dengan program ini telah dilakukan pemantauan kerusakan tanah untuk produksi biomassa di beberapa titik. Masih kurangnya titik pantau karena terbatas dana serta sarana dan prasarana pendukung lainnya.

2. Program Konservasi dan Pelestarian Lingkungan Hidup, dengan realisasi capaian fisik dna keuangan pada tahun 2016 sebesar 99,79%, dimana telah dilakukan penanaman pohok sebanyak 5.200 batang di sepadan sungai dan danau.

3. Program Peningkatan Peran Serta Masyarakat di Bidang Lingkungan Hidup, dengan capaian realisasi fisik dan keuangan mencapai 98,42%, dimana telah dilakukan pembinaan terhadap masyarakat sehingga berbuah beberapa penghargaan seperi Kalpataru, Adiwiyata, dan Proper.

Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU)

Udara merupakan suatu campuran gas yang terdapat pada lapisan yang mengelilingi bumi. Udara merupakan sumber daya alam yang berpengaruh pada kehidupan di bumi, yang harus dijaga dan dipelihara kelestarian fungsinya. Pencemaran udara dapat terjadi apabila terdapat satu atau lebih kontaminan atau substansi fisik, kimia, atau biologi (debu, jelaga, gas, kabut, bau, asap, uap, dan lain sebagainya) di atmosfir dalam jumlah yang dapat membahayakan kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan, juga menggangu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti.

Pencemaran udara dapat ditimbulkan oleh sumber-sumebr alami maupun kegiatan manusia. Beberapa gangguan fisik seperti polusi suara, panasa, radiasi atau polusi cahaya dianggap sebagai polusi udara. Sifat alami udara mengakibatkan dampak pencemaran udara dapat bersifat langsung lokal, regional, maupun global.

Untuk tahun 2016, target Indeks Standar Pencemaran Udara

(ISPU) di Kabupaten Kerinci adalah ≤50 atau kategori baik. Dengan demikian target yang tertuang dalam Perjanjian Kinerja Pemerintah

Kabupaten Kerinci Tahun 2016 dapat tercapai dengan persentase keberhasilan sebesar 100%.

Tabel 3.16.

Hasil Uji Udara Kabupaten Kerinci Tahun 2016

No. Parameter Hasil Uji Baku Mutu

1. SO2 7,59 9,31 900

2. NO2 0,73 0,97 400

3. O3 33,9 39,6 235

4. Debu 78,3 84,6 230

Sumber : Badan Lingkungan Hidup Kab. Kerinci, Tahun 2016

Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan capaian pada tahun 2015, dimana pada tahun sebelumnya kualitas udara di Kabupaten Kerinci juga berada dalam kategori baik.

Beberapa factor pendorong tercapainya target kinerja untuk indicator Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) ini adalah telah tersedianya alat uji lingkungan (udara) di Laboratorium Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kerinci dan didukung oleh personil yang handal, serta tidak lepas dari keberadaan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang mengelilingi kawasan Kabupaten Kerinci yang mencakup lebih 50% dari total wilayah Kabupaten Kerinci.

Pengelolaan Persampahan

Jumlah penduduk di Indonesia yang besar seiring dengan tinggakt pertumbuhan yang tinggi mengakibatkan bertambahnya volume sampah. Disampaing itu, pola konsumsi masyarakat memberikan kontribusi dalam menimbulkan jenis sampah yang semakin beragam, antara lain sampah kemasan yang berbahaya dan/atau sulit diurai oleh proses alam. Selama ini sebagian masyarakat masih memandang sampah sebagai barang sisa yang tidak berguna, bukan sebagai sumber daya yang perlu dimanfaatkan. Masyarakat dalam mengelola sampah masih bertumpu pada pendekatan akhir (end of pipe), yaitu sampah dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ketempat pemrosesan akhir sampah. Padahal, timbunan sampah dengan volume yang besar di lokasi tempat pemrosesan akhir sampah berpotensi

melepas gas metan (CH4) yang dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca dan memberikan kontribusi terhadap pemanasan global. Agar timbunan sampah dapat terurai melalui proses alam, diperlukan jangka waktu lama dan diperlukan penanganan dengan biaya yang besar.

Paradigma pengelolaan sampah yang bertumpu pada pendekatan akhir sudah saatnya ditinggalkan dan diganti dengan paradigma pengelolaan sampah. Paradigma baru memandang sampah sebagai sumber daya yang mempunyai nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan, misalnya untuk energi, kompos, pupuk, ataupun untuk bahan baku industri. Pengelolaan sampah dilakukan dengan pendekatan yang komprehensif dari hulu, sejak sebelum dihasilkan suatu produk yang berpotensi menjadi sampah, sampai ke hilir yaitu pada fase produk sudah digunakan sehingga menjadi sampah, yang kemudian dikembalikan ke media lingkungan secara aman.

Pengelolaan sampah dengan paradgima baru tersebut dilakukan dengan kegiatn pengurangan dan penanganan sampah. Pengurangan sampah meliputi kegiatan pembatasan, penggunaan kembali, dan pendauran ulang, sedangkan kegiatan pemilahan sampah meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir.

Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 memberikan hak kepada setiap orang untuk mendapatkan lingkungan hidup yang sehat dan bersih. Amanat Undang-Undang Dasar tersebut memberikan konsekuensi bahwa pemerintah wajib memberikan pelayanan publik dalam pengelolaan sampah. Hal itu memberikan konsekuensi hukum bahwa pemerintah merupakan pihak yang berwenangdan bertanggungjawab di bidang pengelolaan sampah meskipun secara operasional pengelolaannya dapat bermitra dengan badan usaha. Selain itu organisasi persampahan dan kelompok masyarakat yang bergerak di bidang persampahan dapat juga diikutsertakan dalam kegiatan pengelolaan persampahan.

Pada tahun 2016, Pemerintah Kabupaten Kerinci menargetkan pengelolaan sampah mencapai 45%. Dengan volume sampah per hari di Kabupaten Kerinci mencapai 368,70m3, target tahun 2016 hanya dapat

dicapai sebesar 40%, artinya tingkat capaian pengelolaan sampah di Kabupaten Kerinci tahun 2016 sebesar 88,89%. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan tahun 2015, dimana capaian kinerja pengolahan sampai hanya 35% dari target 40% yang ditetapkan atau dengan tingkat capaian sebesar 87,5%.

Pengelolaan sampah dihitung dengan menggunakan rumus :

Belum tercapainya target tahun 2016 ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :

a. Kurangnya armada kebersihan (dump truck dan amroll), dimana saat ini hanya terdapat 8 (delapan) unit dump truck yang harus mengangkut sampah dari 16 (enam belas) kecamatan lingkup Kabupaten Kerinci.

b. Masih minimnya dana operasional untuk pengelolaan persampahan. c. Kurangnya TPS sampah.

d. Belum adanya TPA yang sesuai standar (sanatary landfill)

Guna mengatasi permasalah tersebut, maka perlu kiranya diadakan penambahan armada kebersihan, penambahan dana operasional untuk pengelolaan persampahan, penambahan pengadaan TPS sampah, serta pembuatan TPA yang sesuai standar (sanatary landfill), dan program dan kegiatan khusus yang menunjang pengelolaan persampahan.

Pada tahun 2016, khusus untuk pengelolaan persampahan dilakukan melalui Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan dengan dukungan anggaran sebesar Rp 2.022.649.800. Dari anggaran tersebut dapat terealisasi sebesar 99,51% antara lain digunakan untuk penambahan TPS sampah sebanyak 33 unit dan dilaksanakannya kegiatan pengelolaan bank sampah dengan prinsip 3R yang bertujuan untuk mengurangi volume sampah.

Upaya pencapaian sasaran ke-17 dengan 4 (empat) indikator capaian kinerja, ditopang oleh beberapa program pembangunan, yakni antara lain: a. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan, dengan

b. Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH), dengan anggaran sebesar Rp 183.120.000,-

c. Program Konservasi dan Pelestarian Lingkungan Hidup, dengan anggaran sebesar Rp 260.775.500,-

d. Program Pemantauan, Pengawasan, dan Pengendalian LH, dengan anggaran sebesar Rp 370.834.500,-

e. Program Peningkatan, Pengendalian Sumber Dalam Alam (SDA), dengan anggaran sebesar Rp 195.045.000,-

f. Program Mitigasi dan Adaptasi Dampak Perubahan Iklim, dengan anggaran sebesar Rp 148.444.000,-

g. Program Peningkatan Peran Serta Masyarakat di Bidang Lingkungan Hidup, dengan anggaran sebesar Rp 2.268.195.250,-

h. Program Perlindungan Hutan dan Rehabilitasi Hutan dan Lahan, dengan anggaran sebesar Rp 2.833.200.323,-

i. Program Penertiban Hasil Hutan Kayu dan Hasil Hutan Bukan Kayu, dengan anggaran sebesar Rp 90.913.000,-

j. Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi, dengan anggaran sebesar Rp 134.600.669,-

k. Program Peningkatan Kualitas Jasa Pelayanan Sarana dan Prasarana Energi, dengan anggaran sebesar Rp 3.456.150,-

l. Program Pembinaan dan Pengawasan Bidang Pertambangan, dengan anggaran sebesar Rp 22.387.400,-

Pada tahun 2015 yang merupakan tahun pertama pelaksanaan RPJMD Kabupaten Kerinci 2014-2015, terdapat 79 Program dalam RKPD Tahun 2015, dari keseluruhan program tersebut, 76 program terdapat dalam RPJMD Kabupaten Kerinci 2014-2015 dan hanya 3 program yang tidak terdapat dalam RPJMD (diagram 3.1.). Hal ini disebabkan karena berdasarkan ketentuan dan peraturan yang berlaku, Pemerintah Daerah harus melaksanakan program tersebut mulai tahun 2015, meskipun tidak terdapat dalam RPJMD. Hal yang sama terjadi pada Tahun 2016, sebagai Tahun

Sasaran 18 : Meningkatnya kualitas perencanaan

pembangunan daerah

kedua pelaksanaan RPJMD Kabupaten Kerinci Tahun 2014-2019, dimana penjabaran program RPJMD dalam RKPD telah mencapai 96,2 persen dari target semula dalam RPJMD pada tahun 2016 sebesar 80 persen, atau dengan capaian sebesar 120,25 persen (Diagram 3.2.).

Diagram 3.2.

Diagram Venn, Irisan Program pada RKPD Tahun 2015 dengan Program RPJMD Tahun 2014-2019

Sumber : RPJMD Kabupaten Kerinci Tahun 2014-2019 dan RKPD Kabupaten Kerinci Tahun 2015, Bappeda Kab. Kerinci, 2016

Grafik 3.10.

TARGET DAN REALISASI PENJABARAN PROGRAM RPJMD

Dokumen terkait